Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Evaluation of Physical Stability of Carbopol Gel Containing Curcumin under Temperature Variations Najwa Athifah Tsamarah Umar; Mohamad Aprianto Paneo; Nurain Thomas; Fika Nuzul Ramadhani; Lisa Efriani Puluhulawa
Jurnal Farmasi Teknologi Sediaan dan Kosmetika Vol. 3 No. 2 (2026): Volume 3 Nomor 2 Tahun 2026
Publisher : Jurnal Literasi Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70075/jftsk.v3i2.307

Abstract

Inflammation is a biological response to tissue damage characterized by swelling, redness, pain, and increased local temperature. Curcumin is known to possess anti-inflammatory activity by inhibiting inflammatory mediators such as tumor necrosis factor-alpha (TNF-α). This study aimed to develop a Carbopol-based curcumin gel formulation and evaluate its physical characteristics and stability under various temperature conditions. This research employed a laboratory experimental method including gel base optimization, formulation of curcumin gel with concentration variations (1%, 2%, and 3%), physical evaluation, and stability testing using a temperature stress test at low and high temperatures. The results showed that Carbopol 0.5% was the optimal gel base. All formulations met the required physical characteristics, including homogeneity, pH, viscosity, spreadability, and adhesiveness. Stability testing indicated that the formulations were organoleptically stable and relatively stable chemically, although viscosity decreased at higher temperatures. Therefore, Carbopol-based curcumin gel has potential as a stable and effective topical preparation.
Gambaran Penerapan Metode Pengelolaan VVM, FIFO, FEFO, dan BUD untuk Mengurangi Kerugian di Puskesmas Kota Barat: Overview of the Implementation of VVM, FIFO, FEFO, and BUD Management Methods to Reduce Losses at West City Community Health Center Salyatulwalidaini Putri Hakim; Robert Tungadi; Mohamad Reski Manno; Hamsidar Hasan; Fika Nuzul Ramadhani; Riduansyah Buchari
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - July 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i7.11695

Abstract

Vaksin merupakan sediaan biologis yang sensitif terhadap suhu sehingga memerlukan pengelolaan yang tepat untuk mencegah penurunan mutu dan kerugian vaksin (vaccine wastage). Penelitian ini bertujuan menggambarkan penerapan metode pengelolaan Vaccine Vial Monitor (VVM), First In First Out (FIFO), First Expired First Out (FEFO), dan Beyond Use Date (BUD) untuk mengurangi kerugian vaksin di Puskesmas Kota Barat. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif melalui observasi langsung dan dokumentasi dengan instrumen lembar checklist yang dianalisis secara deskriptif persentase dan dibandingkan dengan Pedoman Pengelolaan Vaksin Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2021. Hasil penelitian menunjukkan bahwa indikator penyimpanan vaksin maupun ketersediaan dan pendistribusian vaksin memperoleh tingkat kesesuaian 100% sehingga dikategorikan baik. Tidak ditemukan kasus vaksin kedaluwarsa, over stock, maupun stock out selama enam bulan terakhir. Dapat disimpulkan bahwa penerapan metode VVM, FIFO, FEFO, dan BUD di Puskesmas Kota Barat telah dilaksanakan sesuai standar dan terbukti efektif menekan kerugian vaksin hingga titik nol. ABSTRACT Vaccines are temperature-sensitive biological preparations that require proper management to prevent quality deterioration and vaccine wastage. This study aimed to describe the application of Vaccine Vial Monitor (VVM), First In First Out (FIFO), First Expired First Out (FEFO), and Beyond Use Date (BUD) management methods to reduce vaccine wastage at Kota Barat Public Health Center. A descriptive quantitative approach was used through direct observation and documentation with a checklist instrument, analyzed using descriptive percentages and compared with the 2021 Vaccine Management Guidelines of the Indonesian Ministry of Health. The results showed that both the vaccine storage indicators and the vaccine availability and distribution indicators reached a 100% compliance level and were categorized as good. No cases of expired vaccines, overstock, or stockout were found during the last six months. It can be concluded that the application of the VVM, FIFO, FEFO, and BUD methods at Kota Barat Public Health Center complied with the standards and was proven effective in reducing vaccine wastage to zero.
Formulation of 70% Ethanol Extract Cream of Ketapang Leaf (Terminalia catappa L.) and Efficacy Test for Cut Wound in Mice (Mus muscullus) Nurain Thomas; Fika Nuzul Ramadhani; Nur Rasdianah; Mohamad Aprianto Paneo; Kadaria Toana
Journal of Experimental and Clinical Pharmacy (JECP) Vol 6, No 1 (2026): February 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52365/jecp.v6i1.1458

Abstract

A laceration (vulnus scissum) is characterized by straight, regular wound edges, typically resulting from sharp object trauma. Ketapang leaves (Terminalia catappa L.) contain bioactive compounds, including flavonoids, saponins, tannins, sterols, alkaloids, and terpenoids, which possess anti-inflammatory properties and the potential to accelerate wound recovery. This study aimed to evaluate the effectiveness of an extract cream derived from T. catappa leaves on laceration healing in mice (Mus musculus). The extract was obtained via maceration using 70% ethanol, followed by phytochemical screening. The cream base was optimized to meet pharmaceutical standards, with evaluations encompassing organoleptic properties, pH, dispersibility, adhesion, viscosity, and freeze-thaw stability. Three formulations were developed with varying extract concentrations: F1 (15%), F2 (20%), and F3 (25%). The in vivo efficacy test involved five groups of mice. Results indicated that all three formulations met the criteria for physical stability. In terms of healing duration, the negative control group required 21 days, while the positive control group achieved healing in 10 days. Among the treatment groups, F1 (15%) and F2 (20%) showed healing times of 18 and 16 days, respectively. Notably, F3 (25%) exhibited the highest efficacy with a healing time of 10 days, comparable to the positive control. Statistical analysis using One-Way ANOVA confirmed these findings with a p-value < 0.05.
Efek Ekstrak Metanol Daun Jarak Cina (Jatropha Multifida Linn) terhadap Kadar Gula Darah Mencit (Mus Musculus): Effect of Methanol Extract of Jatropha Leaves (Jatropha Multifida Linn) on Blood Sugar Level in Mice Juliyanty Akuba; Fika Nuzul Ramadhani; Sukmawati Damiti
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 7 No. 7: July 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v7i7.5532

Abstract

Diabetes melitus merupakan suatu kondisi dimana ketika kadar gula darah meningkat karena tubuh tidak dapat memproduksi atau menggunakan insulin secara efektif. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui efektifitas dan dosis (konsentrasi) efektif dalam menurunkan kadar glukosa darah pada mencit yang diinduksi aloksan. Metode penelitian yang digunakan metode eksperimental laboratorium dengan subjek penelitian mencit jantan (Mus musculus). Hewan uji dibagi menjadi 5 kelompok perkaluan yaitu kontrol negatif (Na-CMC 1%), kontrol positif (Glibenclamid® 5 mg/KgBB), kelompok ekstrak metanol daun Jarak Cina dosis 100, 200 dan 300 mg/KgBB secara intraperitonial. Perlakuan diberikan secara peroral dengan waktu pengamatan 30, 60, dan 90 menit dan diukur menggunakan alat glukometer. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian ekstrak metanol daun Jarak Cina pada dosis 100 dan 300 mg/KgBB secara signifikan mampu menurunkan kadar glukosa darah pada mencit.
Pengenalan Bentuk Sediaan Obat pada Anak PAUD : Drug Dosage Forms Introduction for Preschool Children Fika Nuzul Ramadhani; Umi Yuminarti
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 7 No. 11: November 2024 - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v7i11.6267

Abstract

Pembelajaran pada anak usia dini dapat dimulai dengan segera karena ada masa peka atau sensitif di mana anak-anak mudah menerima berbagai pengaruh serta rangsangan dan dari luar diri melalui panca indranya. Sejak dini, orang harus belajar tentang profesi apoteker, obat, dan manfaatnya. Fakta bahwa anak-anak menolak untuk menggunakan obat saat mereka sakit karena rasanya yang pahit dan tidak enak membuat anak-anak menolak untuk menggunakannya, yang pada gilirannya menyebabkan penurunan kepatuhan pasien terhadap penggunaan obat, yang pada gilirannya menyebabkan tidak tercapainya tujuan terapi. Menurut wawancara dengan guru RAT Al Ishlah, peserta didik tidak mengenal bentuk sediaan obat apa yang diberikan kepada anak. Tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk mengubah perspektif siswa terhadap obat melalui contoh-contoh bentuk sediaan obat yang dikenalkan pada peserta didik. Kesimpulan pada kegiatan pengabdian ini adalah program pengenalan sediaan obat yang dilakukan pada anak PAUD memberikan gambaran serta informasi mengenai obat-obatan pada peserta didik sehingga peserta didik lebih mengenali serta menghilangkan pandangan negatif anak terhadap obat.
Pencegahan Mata Kering dan Penggunaan Sediaan Tetes Mata Masyarakat Desa Monano: Dry Eye Prevention and Use of Artificial Tears Eye Drops Monano Community Fika Nuzul Ramadhani; Ariani H. Hutuba
Jurnal Kolaboratif Sains (Special Issue) - Jurnal Kolaboratif Sains (JKS) - Oktober 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v8i10.8211

Abstract

Sindrom mata kering atau dry eye syndrome (DES) adalah suatu kondisi penyakit mata yang disebabkan oleh banyak faktor meliputi permukaan okular, ditandai dengan rusaknya homeostasis lapisan air mata dan gejala okular dikarenakan ketidakstabilan lapisan air mata, hiperosmolaritas dan inflamasi permukaan okular, berserta adanya abnormalitas dari neurosensoris. Sosialisasi yang dilakukan dengan tujuan menambah pengetahuan masayarakat agar dapat mengerti pencegahan DES dan tahap-tahap menggunakan obat tetes mata yang baik dan benar, terbukti efektif mencegah terjadinya DES. Hasil studi menunjukkan pemberian edukasi berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan pengetahuan. Berdasarkan observasi yang dilakukan, pengetahuan akan DES serta penggunaan obat tetes pada kelompok masyarakat di Desa Monano masih rendah. Masyarakat Desa Monano juga masih banyak yang mengacuhkan DES yang mengakibatkan komplikasi seperti infeksi mata, kerusakan korena dan gangguan pengelihatan. Program penyuluhan pencegahan DES ini bertujuan untuk mencegah komplikasi DES pada masyarakat dengan membagikan leaflet mengenai pengetahuan untuk pencegahan DES beserta edukasi mengenai cara penggunaan tetes mata. Edukasi dilakukan menggunakan media leaflet dengan menerangkan materi DES, penyebab serta pencegahannya dan cara penggunaan tetes mata. Pengenalan dilakukan dengan menyebutkan tahapan penggunaan sediaan tetes mata. Masyarakat diberikan materi mengenai pencegahan DES serta praktik penggunaan sediaan tetes mata agar dapat mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat setelah dilakukan edukasi. Diakhir materi masyarakat quesioner untuk melihat perbedaan sebelum dan setelah pemberian edukasi. Kesimpulan pada kegiatan pengabdian ini adalah program sosialisasi pencegahan mata kering (dry eye) dan penggunaan sediaan tetes mata memberikan gambaran serta informasi mengenai obat-obatan pada masyarakat sehingga masyarakat dapat mencegah DES serta lebih mengetahui cara penggunaan sediaan tetes mata.
Gambaran Pengobatan Bronkitis di RSUD Hasri Ainun Habibie Fika Nuzul Ramadhani; Ahmad Rifly Suleman; Siti Nur Octavia Ramadhani R. Mamu; Fidyahtul Sayifah Machmud; Intan Nur Alifa; Verawaty Fajrin H. Abay; Abdul Malik Umar
Journal of Pharmaceutical and Sciences JPS Volume 8 Nomor 4 (2025)
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Tjut Nyak Dhien

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36490/journal-jps.com.v8i4.888

Abstract

Chronic bronchitis, a subtype of chronic obstructive pulmonary disease (COPD), is characterized by persistent inflammation of the bronchial tubes and chronic cough accompanied by mucus production. This condition is commonly caused by prolonged exposure to irritants such as cigarette smoke, air pollution, or occupational dust. Acute exacerbation of chronic bronchitis (AECB) can significantly impair a patient’s quality of life and often requires hospitalization. This study aims to evaluate the management of bronchitis at Hasri Ainun Habibie Regional General Hospital, Gorontalo Regency. The research is descriptive in nature, using a retrospective method by analyzing patient medical records dated February 25, 2025, utilizing the SOAP method (Subjective, Objective, Assessment, Plan) and supported by literature review. The treatment regimen included a combination of antibiotics (ceftriaxone and azithromycin), nebulized bronchodilators (Meprovent and Budesma), mucolytics (Resfar), neuroprotective agents (citicoline), and electrolyte replacement therapy (NaCl 0.9%, KAEN 3B). Overall, this case study concludes that the management of chronic bronchitis in patients at Hasri Ainun Habibie Regional General Hospital includes a combination of medical and non-medical therapies that are in accordance with the management guidelines and treatment algorithms for chronic bronchitis.