Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Pendidikan Karakter dalam Tradisi Gelar Bangsawan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura Syaiful Arifin; Tri Indrahastuti; Meita Setyawati; Marwah Ulwatunnisa; Muhammad Azmi
Jurnal Moral Kemasyarakatan Vol 10 No 2 (2025): Volume 10, Nomor 2 - Desember 2025
Publisher : Universitas PGRI Kanjuruhan Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21067/jmk.v10i2.11486

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana tradisi gelar kebangsawanan Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura mencerminkan nilai-nilai pendidikan karakter dalam masyarakat Kutai. Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura merupakan kelanjutan dari Kerajaan Kutai Kuno kerajaan Hindu tertua di Nusantara yang memiliki tradisi turun-temurun. Tradisi ini tidak hanya berfungsi sebagai simbol status sosial, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai kepemimpinan, tanggung jawab sosial, penghormatan terhadap leluhur, serta penghargaan terhadap jasa individu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan folklore. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa gelar seperti Aji, Awang, dan Encek memiliki makna historis dan sosial yang mendalam, di mana setiap gelar diberikan berdasarkan keturunan, jasa, atau peran dalam pemerintahan kesultanan. Selain itu, praktik budaya seperti Beseprah menegaskan prinsip kesetaraan dan kebersamaan dalam kehidupan masyarakat. Meskipun modernisasi mengubah persepsi terhadap sistem gelar, nilai-nilai karakter yang terkandung di dalamnya tetap relevan sebagai bagian dari identitas budaya. Oleh karena itu, integrasi nilai warisan budaya dan tradisi lokal dalam pendidikan formal dan nonformal menjadi penting untuk memperkuat karakter generasi muda dan menjaga warisan budaya Kutai agar tetap lestari dalam masyarakat yang terus berkembang.
PEMANFAATAN TRADISI LISAN BEDANDENG SUKU KUTAI SEBAGAI SUMBER PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS KEARIFAN LOKAL Meita Setyawati; Tri Indrahastuti; Syaiful Arifin; Muhammad Ilham Mustain Murda; Albertus Magnus Rea
Jurnal Santiaji Pendidikan (JSP) Vol. 16 No. 1 (2026): Jurnal Santiaji Pendidikan (JSP)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Mahasaraswati Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36733/jsp.v16i1.13417

Abstract

Tradisi lisan Bedandeng merupakan salah satu warisan budaya masyarakat Suku Kutai di Kalimantan Timur yang memiliki potensi besar sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal. Namun, dalam praktik pembelajaran, sastra lisan lokal masih jarang dimanfaatkan secara optimal sebagai materi ajar. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pemanfaatan tradisi lisan Bedandeng sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia dengan menelaah bentuk puisi lama dan nilai budaya yang terkandung di dalamnya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis. Data penelitian diperoleh melalui wawancara dengan penutur Bedandeng serta dokumentasi tuturan tradisi lisan yang masih berkembang di masyarakat Suku Kutai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bedandeng memiliki karakteristik struktural yang sesuai dengan bentuk puisi lama, khususnya syair, yang ditandai oleh keteraturan bait, larik, dan rima. Selain itu, tuturan Bedandeng mengandung nilai-nilai budaya yang mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan, diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Temuan ini menunjukkan bahwa tradisi lisan Bedandeng dapat dimanfaatkan sebagai sumber pembelajaran Bahasa Indonesia yang kontekstual dan bermakna, serta berkontribusi dalam penguatan literasi budaya dan pendidikan karakter peserta didik. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan pembelajaran Bahasa Indonesia berbasis kearifan lokal.
Analisis Aspek Sosial dan Politik Dalam Cerita Rakyat Paser “Peperangan di Sadurengas” Kajian Sosiologi Sastra : Analysis of Social and Political Aspects in the Paser Folktale “The War in Sadurengas “ A Study of Sociology of Literature Ajeng Ratri Namdariah; Marwah Ulwatunnisa; Nina Queena Hadi Putri; Syaiful Arifin
Transformatika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol. 10 No. 2 (2026): TRANSFORMATIKA: JURNAL BAHASA, SASTRA, DAN PENGAJARANNYA
Publisher : Universitas Tidar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31002/transformatika.v10i2.3834

Abstract

This research has the aim to analyze the social and political aspects in Paser folklore through a literary sociallogy approach.. This study is based on the limited studies that explore regional folklore,especiallly from Paser,from a literary sociology perspective,considering that previous reserch tends to focus on contemporary literary works. The object of analsis includes the folklore “The War in Sadurengas”, which presents the local social and political dynamics. The apporoach applied is qualitative and descriptive.The data collection techniques used are literature study and document analysis. Furthmore,data presentatiom,and drawing conclusions by referring to indicators of social and political aspects. The main findings reveal thas the folklore “The War in Sadurengas” contains social elements such as social folklore “The War in Sadurengas”contains social elements such as social stratification,compliance with norms,social solidarity,and empathy values; as well as political elements in the form of power conflicts and elite political strategies.The results of study reinforce the view that folk tales can play a dual role: entertraining but also reflecting the social an political dynamics within society.Thus,the contribution of this reserch ecompasses two points: first,strengthening the sudy of literary sociology; second,untilizing folk tales as a learning tool based on local wisdom,emphasizing that folk tales do not merely function as entertainment,but also serve as a reflection of the social and political realities of society. Therefore,this study contributes to the strengthening of literary sociology studies as well as the use of folk tales as a learning medium based on local wisdom.
Integrating Ki Hajar Dewantara's Philosophical Values and Islamic Legal Principles in the Hudoq Kita Dance Tradition Tri Indrahastuti; Indar Sabri; Setyo Yanuartuti; Arif Hidajad; Syaiful Arifin
Madania: Jurnal Kajian Keislaman Vol 29, No 2 (2025): DECEMBER
Publisher : Universitas Islam Negeri (UIN) Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/madania.v29i2.9221

Abstract

This study examines the integration of Ki Hajar Dewantara's philosophical values with Islamic legal principles within the Hudoq Kita dance tradition of East Kalimantan. Using a qualitative–descriptive approach supported by a literature review of Dewantara's educational thought and Islamic legal theory, this research develops a conceptual framework that connects moral, cultural, and spiritual values embodied in the Hudoq Kita dance. Ki Hajar Dewantara's triadic principles—ing ngarsa sung tuladha (leading by example), ing madya mangun karsa (inspiring initiative), and tut wuri handayani (empowering from behind)—serve as a pedagogical basis for character formation and cultural learning. These principles closely align with foundational concepts in Islamic law, such as maslahah (public benefit), ʿadl (justice), and wasatiyyah (moderation), which emphasise ethical balance, social responsibility, and communal well-being. The relevance of these values becomes evident in the Hudoq Kita dance, a ritual Dayak tradition performed as an expression of gratitude, supplication, and respect for nature. It’s symbolic masks, rhythmic movements, and collective performance illustrate the harmony of feeling, thought, and will (olah rasa, olah pikir, olah karsa) emphasized by Dewantara. The findings indicate that the Hudoq Kita dance functions not only as an artistic and cultural expression but also as an educational medium for internalizing moral and spiritual values consistent with Islamic ethical teachings. Through its ritual symbolism and environmental reverence, the Hudoq Kita dance cultivates sincerity, cooperation, humility, and respect for God's creation—virtues that resonate with the maqâṣid al-syarîʿah in safeguarding life, intellect, and ecological harmony. Penelitian ini mengkaji integrasi nilai-nilai filosofis Ki Hajar Dewantara dengan prinsip-prinsip hukum Islam dalam tradisi Tari Hudoq Kita di Kalimantan Timur. Menggunakan pendekatan kualitatif–deskriptif yang didukung oleh telaah literatur terhadap pemikiran pendidikan Ki Hajar Dewantara dan teori hukum Islam, penelitian ini mengembangkan kerangka konseptual yang menghubungkan nilai moral, kultural, dan spiritual yang terwujud dalam Tari Hudoq Kita. Tiga prinsip utama Ki Hajar Dewantara—ing ngarsa sung tuladha (memberi teladan), ing madya mangun karsa (membangkitkan semangat dan inisiatif), dan tut wuri handayani (memberi dorongan dari belakang)—menjadi dasar pedagogis bagi pembentukan karakter dan pembelajaran budaya. Prinsip-prinsip ini selaras dengan konsep dasar dalam hukum Islam seperti maṣlaḥah (kemaslahatan), ʿadl (keadilan), dan wasatiyyah (moderasi), yang menekankan keseimbangan etis, tanggung jawab sosial, dan kesejahteraan bersama. Relevansi nilai-nilai tersebut tampak jelas dalam Tari Hudoq Kita, tradisi ritual Dayak yang dipentaskan sebagai ungkapan syukur, permohonan, dan penghormatan terhadap alam. Topeng-topeng simbolik, gerak ritmis, serta performa kolektif dalam tarian ini mencerminkan harmoni antara rasa, pikir, dan kehendak (olah rasa, olah pikir, olah karsa) sebagaimana ditekankan oleh Dewantara. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Tari Hudoq Kita tidak hanya berfungsi sebagai ekspresi seni dan budaya, tetapi juga sebagai media pendidikan untuk menginternalisasikan nilai-nilai moral dan spiritual yang sejalan dengan etika Islam. Melalui simbolisme ritual dan penghormatan terhadap lingkungan, Tari Hudoq Kita menumbuhkan keikhlasan, kerja sama, kerendahan hati, serta penghormatan terhadap ciptaan Tuhan—kebajikan yang selaras dengan maqâṣid al-syarîʿah dalam menjaga kehidupan, akal, dan keharmonisan ekologis.
A Semiotic Analysis of Icons, Indexes, and Symbols in the Kutai Folktale Puan and Si Taddung and Their Cultural Meanings Arneta Cesarida; Muhammad Rusydi Ahmad; Syaiful Arifin; Nurdin Nurdin; Meita Setyawati
The Future of Education Journal Vol 4 No 9 (2025)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v4i9.1237

Abstract

This study analyzes the forms of icons, indexes, and symbols as well as the cultural meanings embedded in the Kutai folktale Puan and Si Taddung by applying Charles Sanders Peirce’s semiotic framework. The study is grounded in the issue of diminishing local cultural literacy and the need to strengthen cultural identity through literature-based learning. Using a qualitative descriptive design, data were collected through documentation and close reading of narrative excerpts containing visual, situational, and symbolic signs. The data were categorized based on Peirce’s triadic model representamen, object, and interpretant and interpreted according to the cultural context of the Kutai community. The findings reveal that icons appear in depictions of the village landscape, characters, and cultural objects; indexes emerge through causal signs linked to events such as danger, illness, and moral obligation; and symbols represent deeper cultural values, including filial piety, bravery, honor, and spiritual purity. These signs collectively articulate the core principles of Kutai culture Politeness , identity and reputation, and honor and dignity. The study concludes that the folktale functions not only as a narrative of entertainment but also as a medium of cultural transmission and character education, highlighting its relevance for strengthening local wisdom within contemporary educational practice.
Transformasi Sistem Formulasi Marketing Wisata Petik Jeruk Sukodadi: Implementasi E-Marketing Dan Penguatan Ekosistem Digital Untuk Peningkatan Kunjungan Wisatawan Putra Ramadhani Nurwijayanto; Syaiful Arifin; Dwy Arif Pranoto; Duwi Mega Wahyu Layli
Jurnal Penamas Adi Buana Vol 10 No 01 (2026): Jurnal Penamas Adi Buana
Publisher : LPPM Universitas PGRI Adi Buana Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36456/penamas.vol10.no01.a11487

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengatasi permasalahan penurunan jumlah kunjungan wisatawan dan rendahnya harga jual jeruk di Dusun Jengglong, Desa Sukodadi, Kecamatan Wagir, Kabupaten Malang. Permasalahan ini diidentifikasi sebagai dampak dari kurangnya strategi promosi dan optimalisasi potensi agrowisata petik jeruk. Menggunakan pendekatan kualitatif, penelitian ini mengumpulkan data melalui observasi langsung dan wawancara semi-terstruktur dengan ketua kelompok tani, pemilik kebun, dan kepala dusun. Hasil analisis menunjukkan perlunya pengembangan strategi pemasaran digital dan peningkatan fasilitas wisata. Sebagai solusinya, program pengabdian masyarakat ini menerapkan revitalisasi wisata melalui penataan gerbang, pembuatan pupuk kompos dari limbah jeruk, penyediaan alat peras jeruk, serta pembuatan brosur dan media promosi digital (TikTok, Facebook, dan website resmi). Hasil dari program ini menunjukkan peningkatan daya tarik wisata dan perluasan jangkauan promosi. Disimpulkan bahwa implementasi strategi pemasaran digital yang dikombinasikan dengan pengembangan fasilitas edukatif mampu meningkatkan nilai ekonomi dan promosi agrowisata. Program ini menciptakan model wisata edukatif yang adaptif dan berkelanjutan, meskipun keberlanjutannya memerlukan dukungan lebih lanjut dari pengelola dan pemerintah daerah.
MAKNA SIMBOLIK MANTRA ADAT DOLOB: KAJIAN ANTROPOLOGI SASTRA PADA MASYARAKAT DAYAK TENGGALAN Ria Farawita; Widyatmike Gede Mulawarman; Bibit Suhatmady; Syaiful Arifin; Masrur Yahya; Alfian Rokhmansyah
JURNAL KONFIKS Vol 13 No 2 (2026): KONFIKS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/hz6efd02

Abstract

Abstrak Mantra adat Dolob merupakan bagian dari sastra lisan sakral masyarakat Dayak Tenggalan yang berfungsi sebagai medium spiritual sekaligus instrumen hukum adat dalam penyelesaian konflik. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan makna simbolik mantra Dolob dalam perspektif antropologi sastra, serta mengungkap nilai-nilai kearifan lokal yang terkandung di dalamnya. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode etnografis, meliputi wawancara mendalam dengan tokoh adat, observasi partisipatif, serta dokumentasi dan transkripsi teks mantra. Analisis data dilakukan melalui teknik tematik dan penafsiran hermeneutik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mantra Dolob mengandung simbol-simbol kosmologis yang merepresentasikan hubungan manusia dengan leluhur, alam, dan kekuatan transenden. Makna simbolik tersebut merefleksikan nilai religius, moral, keadilan, keseimbangan sosial, serta ketaatan terhadap hukum adat. Mantra tidak hanya berfungsi sebagai sarana ritual, tetapi juga sebagai media pewarisan nilai, pembentukan identitas budaya, dan pendidikan karakter masyarakat Dayak Tenggalan. Dengan demikian, mantra Dolob dapat dipahami sebagai teks budaya yang menyatukan dimensi sastra, religi, hukum, dan pendidikan dalam satu sistem makna yang utuh. Kata kunci: mantra adat, Dolob, makna simbolik, antropologi sastra, kearifan lokal.