Claim Missing Document
Check
Articles

Kajian Semiotika Charles Peirce Dan Psikologi Warna Terhadap Arti Ayat Pada Kaligrafi Islam Digital Mtqn Korpri 2021 Alhail, Hadi; Naam, Muh Fakhrihun; Sinaga, Syahrul Syah; Anggraini, Lilis; Farras, Abdul Rahman
Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya Vol 8, No 1 (2025): Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni Dan Budaya
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/vh.v8i1.11125

Abstract

Pertentangan paradigmatik pro dan kontra peluncuran kaligrafi Islam digital dalam Musabaqah Tilawahtil Qur’an Nasional (MTQN) Korpri 2021 menjadi tantangan khusus. Seni kaligrafi Islam digital dinilai sebagai celah kontradiktif yang berpotensi mengurangi esensi pemaknaan dan keindahan spiritual dari kaligrafi Islam yang terletak pada aturan kaidah baku menjadi puncak estetika kaligrafi Islam. Lalu, bagaimana makna dari karya peserta kaligrafi Islam digital MTQN Korpri 2021 dalam kajian semiotika Charles Peirce?, bagaimana hasil pemaknaan dalam psikologi warna pada karya peserta kaligrafi Islam digital MTQN Korpri 2021?, dan bagaimana relasi dari hasil kajian semiotika Charles Peirce dan psikologi warna terhadap arti ayat, esensi makna, serta keindahan spiritual pada karya peserta kaligrafi Islam digital MTQN Korpri 2021? Metode penelitian kualitatif, desain yang digunakan deskriptif analitik. Fakta penelitian dihasilkan pada pembedahan subyek karya kaligrafi Islam digital peserta MTQN Korpri tahun 2021 menggunakan teori semiotika Charles Sander Peirce dan teori warna serta penelusuran arti ayat untuk menemukan relasi makna karya terhadap arti ayat. Lokasi di Pesantren Kaligrafi Islam LEMKA. Durasi riset 2 bulan, sejak 14 Desember 2023-14 Februari 2024, populasi sebanyak 14 karya arsip MTQN Korpri Nasional 2021, pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sample yakni 2 karya peserta MTQN Korpri 2021 terbaik 1 putra dan putri. Kredibilitas data menggunakan triangulasi data, teknik analisis data menggunakan teknik model Spardley, teknik pengumpulan data meliputi observasi, studi dokumen, wawancara dan diskusi/FGD. Intrument yang digunakan draft observasi, wawancara, analisis, kamera, dan perekam. Hasil kajian dan analisis membuktikan: (1) kajian semiotik karya terbaik 1 putra bermakna perasaan yang resah dan bermohon kepada Allah swt untuk berkumpul bersama golongan orang-orang yang sholeh dengan mengerjakan kebajikan yang diridhoi oleh Allah swt. Sedangkan karya terbaik 1 putri bermakna pengharapan yang besar untuk dikumpulkan dengan golongan orang-orang yang sholeh; (2) kajian psikologi warna pada karya terbaik 1 putra berarti realitas yang penuh tantangan dan sedih, sehingga manusia memohon untuk meraih kemakmuran yang abadi. Sedangkan karya terbaik 1 putri berarti kepercayaan atau keyakinan yang kuat terhadap dzat yang Maha Agung Allah swt, untuk meraih sinar kehidupan, kehangatan, ketenangan, dan suci; (3) relasi kajian semiotik dan psikologi warna terhadap arti ayat pada karya terbaik 1 putra dan putri hanya memiliki kesamaan makna pada harapan untuk digolongkan kepada orang-orang yang sholeh. Kajian ini membuktikan tidak terjadi perubahan esensi makna dari kaligrafi Islam digital. Selain itu, riset dan kajian ini membuktikan karya kaligrafi Islam digital memiliki unsur keindahan spiritual yang berasal dari khat atau tulisan Arab.  
Empowering Local Wisdom: The Role of Tembang Bocah Banyumasan in Promoting Sustainable Development Goals in Banyumas, Indonesia Emah Winangsit; Sunarto; Syahrul Syah Sinaga; Udi Utomo; Sinaga, Fajry Sub'haan Syah; Chamil Arkhasa Nikko Mazlan
IBDA` : Jurnal Kajian Islam dan Budaya Vol. 23 No. 2 (2025): IBDA': Jurnal Kajian Islam dan Budaya
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Universitas Islam Negeri Profesor Kiai Haji Saifuddin Zuhri Purwokerto Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/ibda.v23i2.15878

Abstract

Traditional cultural expressions offer robust, community-based pathways for advancing sustainable development; however, their concrete contributions to the Sustainable Development Goals (SDGs) are frequently overlooked in local policy and research. This study examines how Tembang Bocah Banyumasan supports SDG-related initiatives in Banyumas, Indonesia, with a particular focus on economic growth, health and well-being, education, and environmental awareness. Utilizing a qualitative phenomenological approach, data were gathered through in-depth interviews with musicologists, cultural activists, and community members involved in the production and promotion of this tradition. The findings were analyzed thematically through a sustainable development lens, linking cultural heritage and local wisdom to social transformation. Results indicate that Tembang Bocah Banyumasan not only solidifies cultural identity but also serves as an accessible platform for transmitting values, fostering children’s creativity, and encouraging civic participation. Furthermore, these cultural functions generate broader sustainability benefits by enhancing informal learning, reinforcing healthy social behaviors, stimulating creative economy opportunities, and promoting environmental stewardship. This study concludes that Tembang Bocah Banyumasan provides an authentic mechanism for localizing SDG initiatives while sustaining regional heritage and community resilience. Its novelty lies in the explicit mapping of a specific musical tradition to the SDGs, demonstrating how localized practices serve as grounded catalysts for sustainable development.
The Marching Band's Musical Activities as a Learning Space for Soft Skills among Vocational Engineering Students at PEM Akamigas Cepu Givan Sonya Gani; Syahrul Syah Sinaga
Catharsis Vol. 14 No. 2 (2025): November 2025
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/catharsis.v14i2.41863

Abstract

Marching bands as community musical activities have pedagogical potential in the development of soft skills, but studies on this topic are still relatively limited in the context of engineering vocational education. This study aims to understand and identify musical activities in marching band activities as a learning space for soft skills for engineering vocational students at the Politeknik Energi dan Mineral (PEM) Akamigas. The focus of the study is directed at the forms of musical activities that take place in marching bands and their role in facilitating the development of soft skills through collective, structured, and sustainable musical practices. This study uses a qualitative approach with a case study design that has ethnographic tendencies. Data were collected through participatory observation, in-depth interviews with marching band members, coaches, and advisors, as well as document studies. Data analysis was conducted thematically by linking field findings to Robles' soft skills framework and Temmerman's theory of community musical activities. The results of the study indicate that marching band musical activities, such as routine practice, playing instruments, marching, and group coordination, serve as an effective non-formal learning space for developing students' soft skills, including discipline, teamwork, communication, leadership, and responsibility. These findings confirm that community musical activities have pedagogical relevance as a medium for contextual soft skills learning in engineering vocational education.
DEEP LEARNING DAN LITERASI BUDAYA DALAM PEMBELAJARAN LAGU DAERAH: MODEL INOVATIF MELALUI KURIKULUM MERDEKA MENUJU PENDIDIKAN BERKUALITAS Taufik Hidayat; Sintya Nurfitria Putri; Azfar, Adimas Akma Danish; Hartono; Syahrul Syah Sinaga
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01 Maret 2026 Published
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.43228

Abstract

This study aims to formulate an integrated model for deep learning and cultural literacy in teaching regional songs at the junior high/senior high school level within the Merdeka Curriculum framework. Amidst the cultural literacy crisis and the dominance of global pop music that threatens the existence of regional songs among teenagers, a more meaningful and inclusive learning approach is needed. Using a qualitative, literature-based design, this study analyzed curriculum documents and literature on deep learning, cultural literacy, and SDG 4.7. The results show that regional songs are highly relevant to the Music Arts Learning Outcomes and the Global Diversity dimension of the Pancasila Student Profile. The developed integration model consists of four continuous stages: Contextual Exploration, Critical Appreciation, Reflection and Connection, and Creative Expression. The inclusive characteristic is the main uniqueness of this model, as the absence of demands for musical technical skills as prerequisites allows all students to actively participate. This model contributes to achieving SDG 4.7 targets by strengthening the appreciation of cultural diversity and strengthening the Global Diversity dimension in the Pancasila Student Profile. This research provides practical implications for teachers and curriculum developers in designing meaningful and inclusive regional song learning
Co-Authors Abdul Rachman Adhitya Darmantho Agus Cahyono Agus Cahyono Aisyah, Yuniasri Maya Alfayad, Dandi Musa Alhail, Hadi Anas Madani Anggraini, Lilis Apriadi, Sugeng Azfar, Adimas Akma Danish Balqis, Lale Alia Bertina, Metha Chamil Arkhasa Nikko Mazlan David Poluan diaz, Khaerul Umam Edi Nugroho, Antonius Eka Titi Andaryani Eko Raharjo Eko Sugiarto Emah Winangsit Erawati, Yahyar Fajry Sub'haan Syah Sinaga Farras, Abdul Rahman Ferani Mulianingsih Givan Sonya Gani Hartono Hartono Hartono Hartono Ilham Anwar, Iqo Julitasari, Putri Ajeng Wulan khoiriyah, niswati Korsini, Perseveranda Putra Lubis, Maya Ningsih Malarsih Malarsih Manuel Pratama, Ritchie Maria Johana Ari Widayanti Maria Magdalena Cita Hapsari Mauassa, Teguh Yusuf Vertian Muchsin, Ibnu Amar Muhammad Asyraf Mohd Bakri Muhammad Jazuli Munkhakim, M. Ali Na:am, Muh Fakhrihun nabilunnuha, mantaaba zukhruf Nugroho, Septian Cipto Nurpratiwi, Hany Pamarti Ningrum, Indrianna Dyah Perseveranda Putra Korsini Pinta Resty Ayunda Prabowo, Anik Pradipta, Nareswara Bima Pramana, Andi Dwi Resqi Prasetyo, Kuncoro Prima Suci Lestari Puteri Vebry Ananda Putri Ajeng Wulan Julitasari Rahina Nugrahani Restu Ayu Mumpuni, Restu Ayu Riska Damayanti, Riska Rohidi, Tjetjep Rehendi Sinaga, Fajry Sub'haan Syah Sintya Nurfitria Putri Siti Ekowati Rusdini, Siti Ekowati Slamet Haryono Suharto S Suharto Suharto Suhaya Suhaya, Suhaya Sulistyami, Ibtisamah Hidayatullah SUNARTO Sunarto Sunarto Susanto Susanto Syah Sinaga, Fajry Sub'haan Taufik Hidayat Tri Marhaeni Pudji Astuti Udi Utomo Udi Utomo Udi Utomo Victor Ganap Wadiyo Wadiyo Wahyu Lestari Wahyu Lestari Wahyu, Muhammad Panji Wandah Wibawanto Widna, Maria Angelita Winangsit, Emah Zulfa, Novita Hana