Claim Missing Document
Check
Articles

PEMBERDAYAAN KELOMPOK PKK DALAM PENGELOLAAN SAMPAH RUMAH TANGGA BERBASIS 3R TERINTEGRASI BANK SAMPAH DI DESA CIBODAS, KECAMATAN PASIRJAMBU, KABUPATEN BANDUNG Dwi Indrawati; Pramiati Purwaningrum; Ratningsih Ruhiyat; Etty Indrawati
JUARA: Jurnal Wahana Abdimas Sejahtera Volume 3, Nomor 1, Januari 2022
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1915.042 KB) | DOI: 10.25105/juara.v3i1.12942

Abstract

Community empowerment, which is the practice of implementing 3R by utilizing or recycling household solid waste, aims to increase the community's knowledge and skills in utilizing household solid waste into economic value products. Having this knowledge and skills will increase people's interest and willingness to use household solid waste, which in turn will maintain environmental quality by reducing the amount of solid waste and making the environment greener. This community service activity in Cibodas Village, Pasirjambu District starts from the preparation, implementation, monitoring, and evaluation stages, as well as preparing reports and activity outputs. Activities are carried out offline while still observing health protocols, which are mandatory to wear masks, maintain distance, and always wash hands with soap and running water or use hand sanitizers. In this activity, the implementation is carried out by utilizing material delivery technology through the MS Power point application, delivery interactions through banners/posters, demonstrations of waste sorting and processing practices, as well as the design of 3R-based household waste management patterns that are integrated with the Waste Bank. In the implementation of counseling and training held at the Cibodas Village Office, all participants seemed enthusiastic in gaining additional knowledge and skills in 3R-based household solid waste management and had the motivation to change behavior in placing solid waste in segregated containers.
Design Pengembangan Landfill Zona 3, Studi KasusLandfill Manggar Balikpapan Pramiati Purwaningrum; Iin Pratama; Widhi Handoko
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY Vol. 5 No. 5 (2011)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (815.054 KB) | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v5i5.687

Abstract

Rencana pembangunan satu zona khusus untuk sampah nonorganik di wilayah sanitary landfill TPA Manggar yang luasnya 25 Ha mengacu pada Undang-Undang RI nomor 18 tahun 2008. Berdasarkan perhitungan dan metode LeGrand lokasi TPA telah sesuai SK SNI T-11-1991-03 [1]. Jumlah penduduk kota Balikpapan pada tahun 2009 mencapai 538.525 jiwa dengan kenaikan rata-rata per tahun sebesar 1,44%. Total sampah yang masuk ke TPA per Januari tahun2009 sebesar 330.01 ton/hari [3]. Konsep perencanaan untuk landfill zona 3 (tiga) di TPA Manggar dikhususkan hanya untuk sampah anorganik. Namun pada perencanaan ini juga akan dibuat dua alternatif perhitungan 1 dengan sistem terpisah (khusus anorganik) dan alternatif 2 dengan sistem tercampur. Untuk sistem terpisah dengan komposisi sampah organik sebesar 66% dan sampah anorganik sebesar 34% [3]. Densitas sampah organik sebesar 290 kg/m3 dengan proyeksi timbulan sampah organik pada tahun 2014 sebesar 289,54 m3/hari. Densitas sampah anorganik sebesar 240 kg/m3 dengan proyeksi timbulan sampah anorganik pada tahun 2014 sebesar 235,51 m3/hari [3]. Hasil perhitungan didapatkan masa pakai zona 3 untuk alternatif 1 adalah 2 tahun 5 bulan. Untuk alternatif 2 hasil perhitungan timbulan sampah campuran yang telah dikurangi dari sampah pasar (perumahan, pertokoan, dan perkantoran) dengan densita sampah 290 kg/m3 maka timbulan sampah tahun 2014 sebesar 438 m3/hari didapatkan masa pakai dengan sistem tercampur selama 385 hari.Keywords: Sanitary Landfill, Inorganic, Feasibility Location
PERENCANAAN PENGUMPULAN DAN PENGANGKUTAN SAMPAH DI KECAMATAN TANGERANG, KOTA TANGERANG Ratnaningsih .; Pramiati Purwaningrum; Amelia Pusparani
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY Vol. 5 No. 6 (2011)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.263 KB) | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v5i6.695

Abstract

Kecamatan Tangerang mempunyai luas wilayah sekitar 1.578,5 Ha, dengan jumlah penduduk sebesar 148.771 jiwa, Berdasarkan data Dinas Kebersihan dan Pertamanan Kota Tangerang, total timbulan sampah di Kecamatan Tangerang pada tahun 2010 sebesar 333,25 m 3 /hari dan yang terangkut sebesar 239,94 m 3 /hari, sehingga tingkat pelayanan di Kecamatan Tangerang sebesar 72%. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merencanakan suatu sistem pengumpulan dan pengangkutan sampah yang lebih efektif dan efisien dengan mencari alternatif dari sistem pengelolaan sampah. Terdapat 2 alternatif yang direncanakan untuk pengelolaan sampah. Alternatif I, yaitu dengan menghitung dump truck sesuai dengan kebutuhan yang diperlukan. Sedangkan, alternatif II dengan perubahan jalur angkut dan pembangunan TPST. Periode perencanaan direncanakan untuk 10 tahun mendatang hingga tahun 2020 yang dibagi dalam 2 (dua) tahap, yaitu Tahap I (Tahun 2014) tingkat pelayanan 76% dan Tahap II (Tahun 2019) tingkat pelayanan menjadi 83%. Pemilahan direncanakan dilakukan di sumber dengan membedakan sampah organik dan anorganik. Pola pengumpulan sampah untuk permukiman dengan rumah permanen kategori A menggunakan pola individual langsung dan pola individual tidak langsung. Untuk permukiman dengan rumah permanen kategori B dan permanen kategori C menggunakan pola komunal tidak langsung dan pola individual tidak langsung. Untuk non permukiman menggunakan pola individual langsung. Pengangkutan sampah berdasarkan jalur jalan armada yang sudah ditentukan. Sampah yang telah terkumpul dari pola individual langsung maupun pola individual tidak langsung dibawa ke TPA Rawa Kucing. Pada perencanaan ini direncanakan pembangunan TPST untuk pengolahan sampah. Pembangunan TPST tersebut berlokasi di Kelurahan Cikokol, dikarenakan masih adanya lahan kosong untuk tempat pengolahan. Sampah yang akan diolah di TPST sebesar 40% dari total timbulan sampah. Tujuan Pembangunan TPST ini juga berupaya mengurangi sampah yang dibuang ke TPA Rawa Kucing di Kecamatan Tangerang.Keywords:  waste, collection, transportation, TPST
PERENCANAAN TEKNIS PENGUMPULAN DAN PENGANGKUTAN SAMPAH DI KECAMATAN CAKUNG, JAKARTA TIMUR Dwi Indrawati; Pramiati Purwaningrum; Andi Laily Megawarni
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY Vol. 6 No. 2 (2012)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1911.755 KB) | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v6i2.703

Abstract

Salah satu masalah perkotaan saat ini adalah timbulan sampah hasil dari berbagai macam aktivitas terus meningkat, sehingga dibutuhkan pengelolaan sampah yang lebih baik. Kecamatan Cakung terletak di Jakarta Timur dengan luas 42,47 Km 2 dan jumlah penduduk pada awal tahun 2009 ± 248.327 jiwa. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi kondisi eksisting sistem pengelolaan sampah serta merencanakan pengumpulan dan pengangkutan sampah yang lebih efektif dan efisien. Metode yang digunakan untuk memproyeksikan timbulan sampah pada tahun mendatang yaitu diperkirakan sesuai dengan kecenderungan tingkat aktivitas dan produktivitas industri serta income per kapita penduduk. total timbulan sampah di Kecamatan Cakung awal tahun 2009 sebesar 816 m 3 /hari dan yang terangkut sebesar 715 m 3 /hari, sehingga tingkat pelayanan di Kecamatan Cakung sebesar 87,62%. Periode perencanaan direncanakan untuk 10 tahun mendatang yang dibagi dalam 3 (tiga) tahap. Direncanakan tingkat pelayanan naik sebesar 5% setiap 3 tahun. Pemilahan direncanakan dilakukan di sumber. Pola pengumpulan sampah yang diterapkan adalah pola individual langsung, dan pola individual tidak langsung, pola komunal tidak langsung. Sampah yang terkumpul dari pola individual tidak langsung dibawa ke Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Pulogebang. Kata kunci: sampah, kota, pengumpulan, pengangkutan, pengelolaan
PERENCANAAN TEMPAT PEMBUANGAN AKHIR SAMPAH DENGAN MENGGUNAKAN METODE SANITARY LANDFILL STUDI KASUS : ZONA 4 TPA JATIWARINGIN, KABUPATEN TANGERANG Widyo Astono; Pramiati Purwaningrum; Rima Wahyudyanti
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY Vol. 7 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1030.743 KB) | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v7i1.711

Abstract

Pertumbuhan jumlah penduduk dan kemajuan tingkat perekonomian di suatu kota mempengaruhi peningkatan jumlah sampah. Peningkatan jumlah sampah akan menimbulkan permasalahan pada lingkungan, proses akhir dari pengelolaan sampah yang dihasilkan dari kegiatan manusia berada di TPA (Tempat Pemrosesan Akhir Sampah). TPA Jatiwaringin adalah Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang aktif di Kabupaten Tangerang, metode yang digunakan saat ini adalah Open Dumping dengan luas wilayah ±14 Ha dan terbagi menjadi 4 zona penimbunan sampah dengan fasilitas penunjangnya. Kabupaten Tangerang dengan luas wilayah 959,61 Ha, memiliki jumlah penduduk sebesar 3.165.146 jiwa pada tahun 2013 dan laju rata-rata pertumbuhan penduduk sebesar 4,42%. Berdasarkan kepada Undang-Undang No 18 Tahun 2008, Peraturan Menteri Pekerjaan Umum  No 3 Tahun 2013,Peraturan Pemerintah No 16 Tahun 2005, dan Peraturan  Menteri  Pekerjaan  Umum No 21 Tahun 2006, dinyatakan bahwa TPA di kota besar dan metropolitan harus direncanakan sesuai metode lahan urug saniter (sanitary landfill).  Oleh karena itu pada Zona 4 TPA Jatiwaringin dilakukan perencanaan menggunakan metode sanitary landfill untuk sampah tercampur (organik dan anorganik). Berdasarkan perhitungan kelayakan lokasi TPA menggunakan Penilaian Indeks Risiko Lingkungan seperti yang terdapat pada Peraturan Menteri Pekerjaan Umum No 3 Tahun 2013 yang berjumlah 530,75, hal ini berarti TPA diteruskan dan direhabilitasi menjadi lahan urug terkendali secara bertahap. Zona 4 TPA Jatiwaringin memiliki luas lahan ± 5 Ha, dengan umur pakai 745 hari atau 2 tahun 15 hari. Jenis tanah zona 4 TPA Jatiwaringin memiliki tekstur terbesar pada tekstur liat sebesar 52,69% dan tekstur lanau sebesar 26,77%, dengan angka kelulusan tanah rata-rata sebesar 2,18 x 10-6 cm/detik. Pemasangan pipa leachate menggunakan metode tulang ikan dengan diameter pipa utama 30 cm dan pipa cabang 10 cm. Pengendalian gas secara vertikal dilakukan dengan pemasangan pipa gas vertikal sebagai ventilasi gas, dengan diameter 10 cm sedangkan pengendalian gas secara horizontal digabungkan dengan pipa leachate. .  Kata Kunci : TPA, Sampah, Sanitary Landfill, Kabupaten Tangerang 
ANALISIS KARAKTERISTIK SAMPAH PLASTIK DI PERMUKIMAN KECAMATAN TEBET DAN ALTERNATIF PENGOLAHANNYA H. Widiyatmoko; Pramiati Purwaningrum; Febrina Putri Arum P
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY Vol. 7 No. 1 (2015)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (677.029 KB) | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v7i1.713

Abstract

Tujuan studi ini adalah untuk meneliti sampah plastik di Kecamatan Tebet berdasarkan pilot project fasilitas pengelolaan sampah terpadu yang pernah dimiliki oleh kecamatan ini. Sampah plastik termasuk sampah non organik yang tidak mudah terurai secara alami. Saat ini total timbulan sampah plastik di indonesia mencapai 5,4 ton per tahun yakni 14% dari total jumlah sampah rumah tangga. Menurut data dari Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Darah (BPLHD), pada tahun 2014 sampah plastik di Jakarta mencapai 13% dari total sampah 6000 ton per hari. Sampah di Kecamatan Tebet terdiri dari 89.71% sisa makanan, dan sampah plastik sebanyak 5.50%. Sampah Plastik pada rumah permanen adalah 5,17%, rumah semi pemanen 5,89 %, dan non permanen 5,45%. Sampah plastik tersebut terdiri dari 21% PET, 32% PP, dan 30 % Other. Pengolahan sampah plastik sesuai jenisnya atau kode dapat mengurangi timbulan sampah secara signifikan. Jumlah sampah plastik yang dapat diolah menjadi bahan bakar mencapai 89%, pellet 100%, dan kerajinan tangan 92%. Ini berarti, bahwa pengolahan sampah plastik dapat mengurangi timbulan sampah di Kecamatan Tebet hingga 90%. Kata kunci: organik, non organik, sampah, pengolahan
PENERAPAN KONSEP 3R MELALUI BANK SAMPAH DALAM MENUNJANG PENGELOLAAN SAMPAH DI KELURAHAN RAWAJATI, JAKARTA SELATAN Brigitta Revani; Pramiati Purwaningrum; Dwi Indrawati
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY Vol. 8 No. 1 (2016)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (829.533 KB) | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v8i1.719

Abstract

Masalah persampahan yang menumpuk dan belum terpilah di Kota Jakarta melatar belakangi penelitian ini. Salah satu penyebabnya adalah peningkatan jumlah penduduk yang berdampak kepada jumlah sampah yang terkumpul. Peningkatan tersebut tidak dibarengi oleh kepedulian masyarakat tentang pengelolaan sampah. Program Bank Sampah merupakan salah satu cara pengelolaan sampah yang dilaksanakan untuk mengurangi permasalahan tersebut. Tujuan dari studi ini adalah untuk mengevaluasi kinerja program Bank Sampah, mengetahui manfaat Bank Sampah dan potensi daur ulang sampah yang dihasilkan serta merencanakan pengembangan Bank Sampah di Kelurahan Rawajati. Metode yang digunakan untuk mengetahui timbulan dan komposisi sampah yaitu dengan SNI 19-3964-1994, Selain itu data penelitian diperoleh dengan melakukan pengamatan serta wawancara langsung di lapangan, selanjutnya dianalisis dengan deskriptif kuantitatif. Hasil penelitian memperlihatkan rata-rata laju timbulan sampah di Kelurahan Rawajati sebesar 0,3 kg/org/hari. Komposisi sampah di Kelurahan Rawajati paling tinggi adalah sampaah organik yaitu 76%, sedangkan sampah non organik 24% dimana yang paling tinggi adalah sampah lain-lain. Kelurahan Rawajati memiliki Bank Sampah yang sudah berjalan selama 5 tahun dengan jumlah nasabah sebanyak 17% dari total penduduk. Saat ini, Bank Sampah di Kelurahan Rawajati mampu mengurangi sampah non organik sebanyak 4,19%. Manfaat dari adanya Bank Sampah antara lain dalam bidang pengelolaan sampah, dalam segi ekonomi dan segi sosial. Potensi daur ulang sampah yang didapat sebanyak 9,69% dari 24% total sampah non organik. Untuk perencanaan 10 tahun kedepan yaitu pada tahun 2016-2025 Bank Sampah akan berkembang dengan penambahan jumlah nasabah, perluasan wilayah pelayanan dan penambahan jenis sampah yang diterima. Target yang ingin dicapai pada akhir tahun perencanaan adalah jumlah nasabah mencapai 80% dari total penduduk , sehingga mampu mengurangi sampah sebesar 20,11%. Selain penambahan jumlah nasabah, juga direncanakan untuk menambah jenis sampah seperti plastik PS, plastik kresek, kayu dan kain. Penambahan ini akan meningkatkan potensi daur ulang sampah dan memperbesar persentase pengurangan sampah.   Keywords: waste management, non-organic waste, Waste generation, Waste Bank, Potential Recycling
UPAYA MENGURANGI TIMBULAN SAMPAH PLASTIK DI LINGKUNGAN Pramiati Purwaningrum
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY Vol. 8 No. 2 (2016)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.804 KB) | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v8i2.1421

Abstract

Pengelolaan sampah di Indonesia masih merupakan permasalahan yang belum dapat ditangani dengan baik. Kegiatan pengurangan sampah baik di masyarakat sebagai penghasil sampah maupun di tingkat kawasan masih sekitar 5% sehingga sampah tersebut dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) sementara lahan TPA tersebut sangat terbatas. Komposisi sampah terbesar di TPA selain sampah organik (70%) terdapat sampah non organik yaitu sampah plastik (14%). Berdasarkan data dari Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bahwa total jumlah sampah Indonesia di 2019 akan mencapai 68 juta ton, dan sampah plastik diperkirakan akan mencapai 9,52 juta ton dan hasil penelitian Jeena Jambeck 2015 menyatakan bahwa Indonesia berada di peringkat kedua dunia penghasil sampah plastik ke laut yang mencapai sebesar 187,2 juta ton, Kementrian Lingkungan Hidup dan Kehutanan menargetkan pengurangan sampah plastik lebih dari 1,9 juta ton hingga tahun 2019. Penanganan sampah plastik yang sudah banyak diterapkan adalah dengan Konsep 3R (Reuse, Reduce dan Recycle) dan alternatif lain yang sudah banyak diteliti adalah daur ulang sampah plastik dijadikan bahan bakar minyak. Kata kunci: sampah plastik, daur ulang, bahan bakar minyak,
Environmental Risk Considerations in the Development of Solid Waste Facility: Case Study Rawa Kucing Solid Waste Facility, Tangerang City Lingkan Claudia Poluakan; Pramiati Purwaningrum; Dwi Indrawati
INDONESIAN JOURNAL OF URBAN AND ENVIRONMENTAL TECHNOLOGY Volume 1, Number 2, April 2018
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1359.821 KB) | DOI: 10.25105/urbanenvirotech.v1i2.2822

Abstract

Tangerang City is one of the cities in Banten Province. The dense population causes an increase in the volume of waste, so an adequate Solid Waste Facility (SWF) is needed. Solid Waste Facility is the place to process and return the waste to the environment. Rawa Kucing SWF is one that serves Tangerang City with an area of 37.7 hectares, divided into four landfill zones and landfill support facilities. With the remaining land that can be used to build a new landfill, it is necessary to conduct a study on the feasibility of Rawa Kucing SWF if it is still feasible as seen by the environmental conditions or not. In the Regulation of the Minister of Public Works Number 3 of 2013, there is a land suitability assessment for taking decision of SWF whether it is to be rehabilitated or should be closed known as the Integrated Risk Based Approach (IRBA). The result of the environmental risk index assessment based on IRBA is 599.03, which means that mean Rawa Kucing SWF is included in moderate hazard category. The recommended action in this category is that the TPA is continued and rehabilitated into gradually controlled landfill. Currently, the Rawa Kucing SWF has applied controlled landfill method, so the effort to develop the landfill method into sanitary landfill method can be done gradually to reduce adverse impact to the environment. Technology such as Waste-to-Energy (WtE) Plants can also be considered to reduce the waste load entering the landfill.
Analisis Kualitas Air Tanah di Sekitar TPA Bagendung, Cilegon Tri Fatma Agustina; Diana Invindianty Hendrawan; Pramiati Purwaningrum
Jurnal Lingkungan dan Kota VOLUME 1, NUMBER 1, MEI 2021
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (809.217 KB) | DOI: 10.25105/bhuwana.v1i1.9274

Abstract

This study aims to determine the quality of groundwater content at the residents around the Bagendung landfill including physical, chemical and biological qualities. Data analyzed using the Pollutant Index Method on groundwater to determine the quality of well water with the distribution of pollutants in residential areas around the Bagendung landfill and also determine the quality of ground water. This study focused on several aspects, such as physical quality of water, the distance of well water from pollutants, the physical condition of the well, drainage, and analysis of the physical condition of the latrine. BOD ranges from 3-6 mg/L while the class 1 quality standard is 2 mg/L. The results of heavy metal measurements, Fe and Mn at the TPA Bagendung are still below the quality standard. The content of e. coli in the resident’s well at point 4 in December 2019 was 230 MPN/100 ml, which seems to have exceeded the quality standard. Sampling in January 2020, all resident wells were contaminated with e. coli where the content of e. coli ranged from 1300 MPN/100 ml-2800 MPN/100 ml while the quality standar of e. coli was 100 MPN/100 ml. The water quality status of well range from 4.30-6.07 (light-moderate pollution). The pollutant distribution pattern of the leachate landfill is seen from the parameters BOD5, Fe, Mn, nitrite and fecal coliform influenced by elevation, slope and contour. The distribution of pollutants leads from TPA Bagendung to the northwest. The public perception states that well water were smells and tastes.
Co-Authors Alfa Miranti Kuntaryo Amelia Pusparani Amelia Pusparani, Amelia Andi Laily Megawarni Andi Laily Megawarni, Andi Annisa Fitriani Ashardiono, Fitrio Asih Wijayanti, Asih Asri Triwandani Astari Minarti Astari Minarti Astari Minarti Ayu Widya Utami Brigitta Revani Brigitta Revani, Brigitta Cut Febie Idilia Diana Invindianty Hendrawan Dickals, Essafiora Pratama Dwi Indrawati Dwi Indrawati Dwi Indrawati Dwi Indrawati Indrawati Dwi Indrawati, Dwi Eskar, Yefy Etty Indrawati Fajriani Widya Haryanti Febrina Putri Arum P Febrina Putri Arum P, Febrina Firas Ammar Tafri Fitrio Ashardiono Fitrio Ashardiono Gita Handayani Tarigan Grace Celine Simatupang H. Widiyatmoko H. Widiyatmoko, H. Hendrawan, Diana Irvindiaty Hernani Yulinawati Hernani Yulinawati Hernani Yulinawati, Hernani Hilarion Widyatmoko Iin Pratama Iin Pratama, Iin Indrawati, Etty Jocelin, Yolanda Thasya Jodie, Himawan Kleden, Petrus Fritz Pito Kuntaryo, Alfa Miranti Lailatus Siami Lingkan Claudia Poluakan M.M. Sintorini Mayang Nuur Ervani Melati Ferianita Fachrul Minarti, Astari Muchamad Irvan Zulmi Nada Noer Halimah Nur Alifiani Ramadhanty Oemar, Tasya Olivia Seander Petrus Pito Fritz Kleden Poluakan, Lingkan Claudia Ramadhani Yanidar Ratnaningsih Ratnaningsih . Ratnaningsih . Ratnaningsih Ratnaningsih, Ratnaningsih Ratnaningsih Ruhiyat Ratnaningsih Ruhiyat Ratningsih Ruhiyat Rima Wahyudyanti Rima Wahyudyanti, Rima Rudy Pou, Rudy Ruhiyat, Ratnaningsih Ruhiyat, Ratningsih Seanders, Olivia Seska Fitria Sheilla Megagupita Putri Marendra Silia Yuslim Syamsul Arifin Tasya Oemar Tasya Oemar Tazkiaturrizki Tazkiaturrizki Tazkiaturrizki Tazkiaturrizki Tazkiaturrizki, Tazkiaturrizki Tri Fatma Agustina Tuffahati Widad Viery Ardiansyah Wardianto, Feri Widhi Handoko Widhi Handoko, Widhi Widyo Astono Widyo Astono Winarni Winarni Winarni Winarni Wita Nirmala Yolanda Thasya Jocelin Yulinawat, Hernani Zahra, Annisa