Claim Missing Document
Check
Articles

Kepemimpinan Visioner Kiai Zia Ul Haramein dalam Pengelolaan Pesantren di Era Transformasi Digital Ma’shum, Muhammad Ali; Muhyi, Asep Abdul
Kartika: Jurnal Studi Keislaman Vol. 5 No. 2 (2025): Kartika: Jurnal Studi Keislaman (Agustus)
Publisher : Lembaga Pendidikan Tinggi Nahdlatul Ulama (LPT NU) PCNU Kabupaten Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59240/kjsk.v5i2.294

Abstract

This research analyzes the crucial role of KH. Zia Ul Haramein's visionary leadership in integrating digital technology at Pondok Pesantren Darus Sunnah, exploring solutions for digitalization challenges, and identifying supporting and inhibiting factors for its implementation. Employing a qualitative case study method, with data collected through observation, interviews, and document analysis, this study applies Burt Nanus's theory of visionary leadership. The findings indicate that successfully guided the pesantren's digital technology integration through key leadership roles and adaptive human resources support. This research confirms that visionary leadership can be an effective model for managing the digital transformation of traditional educational institutions without sacrificing noble Islamic values.
JARINGAN ULAMA TAFSIR NUSANTARA ABAD KE-19 DARI NUSANTARA KE-HARAMAYN (Telaah Terhadap Jaringan Ulama Kiai Ṣalĩh Darat Abad ke-19) Abdul Muhyi, Asep; Umar, Nasarudin; Thib Raya, Ahmad; Hasan, Hamka
Al-Bayan: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Tafsir Vol 8 No 1 (2023): Al-Bayan : Jurnal Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir
Publisher : Quranic and Tafsir studies Programme at Ushuluddin Faculty

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-bayan.v8i1.32414

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan adanya hubungan mata rantai antara ulama tafsir Nusantara dengan ulama tafsir Haramayn. Secara spesifik tulisan ini berusaha untuk melacak jaringan keilmuan yang terbentuk di antara ulama tafsir Haramayn dengan Kiai Ṣāliḥ Dārāt terkait proses transformasi keulamaan dan bentuk tradisi tafsir terutama dalam Tafsir Fāidh al-Raḥman karya Kiai Ṣāliḥ Darat, yang merupakan dampak dari transmisi tafsir di Nusantara. Penelitian ini menemukan bahwa transmisi ulama tafsir Nusantara terfokus pada dua poros utama yakni Haramayn dan Mesir. Transmisi yang terbentuk antara ulama tafsir Nusantara dengan ulama tafsir Haramayn dan Mesir bersifat akademik dan membentuk pola vertikal dan horizontal. Transmisi ulama tafsir Nusantara berdampak pada perkembangan tradisi tafsir di Nusantara khususnya pada akhir abad ke19 dan awal abad ke20. Tradisi tafsir madzhab Haramayn dipelopori oleh Kiai Ṣāliḥ Darat sebagaimana terlihat dalam karyanya yang berjudul Tafsīr Fāidh al-Raḥmain. Tradisi tersebut di antaranya tradisi tafsir yang berafiliasi dengan ajaran tasawuf, fiqh (terutama Syafi’I) dan teologi (terutama As’ariyah). Penelitian ini sejalan dengan J.J.G. Jansen dan Ahsin Muhammad, mengenai sejarah dan karakteristik tradisi tafsir Mesir dan tradisi Tafsir Arab (Mekah dan Madinah).  Begitupun dengan Zainul Milal Bizawie tentang keterhubungan sanad ilmu al- Qur’an (tahfidz) dengan ulama-ulama Haramayn, dan Adi Miftahudin terkait hubungan erat ulama nusantara dan ulama Mesir dalam beberapa karyanya. Sementara itu, penelitian ini membantah teori Howard M. Federspiel tentang periodisasi khazanah tafsir al-Qur’an di Nusantara yang menurutnya dimulai sekitar abad ke-20, penelitian ini menunjukkan kontribusi tafsir nusantara sebelum abad ke-20 sebagai embrio tafsir Nusantara. Penelitian ini juga mendukung teori Johanna Pink and Jaunah Binka bahwa tradisi tafsir berpengaruh terhadap penafsiran al-Qur’an baik dari segi metode, corak dan lainya, sehingga akan berdampak pada tipologi tafsir di daerah tertentu.
Ibn Barrajan's Sufistic Tafsir of Surah al-Baqarah and Ali Imran Hafid, Moc; Yunus, Badruzzaman M.; Zulaiha, Eni; Muhyi, Asep Abdul
Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama Vol. 7 No. 2 (2024): Hanifiya: Jurnal Studi Agama-Agama
Publisher : Program Studi Studi Agama-Agama Pascasarjana UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/hanifiya.v7i2.38305

Abstract

This study aims to know the Sufistic interpretation in Tafsir Tanbih and the characteristics of Tafsir Tanbih, which is focused on Surah al-Baqarah and Surah Ali Imran. Tafsir Tanbih is an eclectic collection/source of various materials collected over the years from various sources, Tafsir Tanbih is a Sufi interpretation of Ibn Barrajan trying to understand the meaning of every divine word with the teachings of Sufism, it can be seen from some interpretations of Surah al-Baqarah lafadz nazala 'alaikal litaaba bil haqqi, interpreted that this verse opens the door to a person's realization in himself through His asma in the lafad al-hayyu and al-Qayyum, someone who ma'rifat is who knows with a strong, perfect substance, and His sublime attributes, and His good names. The characteristics of Tafsir Tanbih are the experience of Mysticism and Spirituality in Tafsir Tanbih, using an Integrative approach in Tafsir Tanbih, there are Moral ideas in Tafsir Tanbih, there is a relationship with Ma'rifah (Divine Knowledge) in Tafsir Tanbih, understanding Mutashabihat Verses in Tafsir Tanbih. And many other characteristics.
LEMBAGA NEGARA DAN PERGULATAN SEJARAH (ANALISIS TAFSIR MAUDHU’I) Nabila Azkiah; Muhammad Abdul Aziz2; Asep Abdul Muhyi
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 3 No. 4: Juli 2024
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kehadiran Islam dalam konteks lembaga negara telah menjadi subjek perdebatan yang berkelanjutan dalam pembangunan institusi-institusi politik di berbagai negara dengan mayoritas Muslim. Artikel ini mengeksplorasi hubungan antara Islam dan lembaga negara, mempertimbangkan bagaimana prinsip-prinsip Islam mempengaruhi struktur dan fungsi lembaga negara serta dinamika interaksi antara otoritas keagamaan dan kekuasaan politik. Melalui pendekatan multidisiplin, penelitian ini juga menganalisis peran Islam dalam pembentukan hukum, kebijakan, dan praktik pemerintahan, serta dampaknya terhadap hak asasi manusia, demokrasi, dan pluralisme dalam konteks negara- negara yang menganut sistem politik berbasis agama. Dengan mempertimbangkan berbagai perspektif dan konteks regional, artikel ini bertujuan untuk menyediakan pemahaman yang lebih mendalam tentang kompleksitas hubungan antara Islam dan lembaga negara dalam dinamika politik kontemporer
Moderasi dalam Perspektif Islam: Telaah terhadap Ayat-Ayat Al-Qur'an Surya Maulana Yusuf; Yusri Muhammad Qomalhaq Khoir; Safira Intansari Puspareti Haroimain; Asep Abdul Muhyi
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 3 No. 4: Juli 2024
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi ini menginvestigasi tentang Islam dan moderasi dalam praktik beragama, yang merupakan salah satu isu kontemporer menurut perspektif Al-Qur'an. Metode penafsiran yang digunakan adalah pendekatan maudhu'i, yang melibatkan penyajian ayat, terjemahannya, Asbabun nuzul (konteks sejarah penurunan ayat), relevansinya, dan penafsirannya. Langkah pertama adalah memilih kata-kata yang terkait dengan moderasi dalam Al-Qur'an, yang kemudian dikutip dan dijelaskan melalui metode tafsir maudhu'i. Penelitian ini menyimpulkan bahwa dalam pemikiran Islam dan perspektif Al-Qur'an, moderasi mendorong toleransi terhadap perbedaan, mengedepankan inklusivisme, dan mengakui keragaman dalam mazhab dan agama. Perbedaan ini tidak menghalangi kerjasama di bawah prinsip kemanusiaan. Mempercayai kebenaran agama Islam tidak berarti melecehkan penganut agama lain, tetapi mendorong terciptanya harmoni dan persatuan antar umat beragama. Saat ini, moderasi secara umum merujuk pada keseimbangan antara keyakinan, perilaku, hubungan sosial, dan moralitas, menunjukkan bahwa agama Islam adalah agama yang moderat, tanpa keyakinan yang ekstrem, arogan, atau sifat-sifat lain yang negatif. Untuk menunjukkan moderasi dalam beragama, nilai-nilai moderasi tersebut dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari, seperti pendekatan pertengahan (tawassuth), menciptakan keseimbangan (tawazun), menunjukkan toleransi, musyawarah, reformasi, dinamisme, inovasi, dan beradab.
ISLAM, GENDER DAN FEMINISME DALAM KAJIAN TAFSIR MAUDHU’I Muhammad Haris; Nasywa Aulia Akbar; Nanda Pradana; Asep Abdul Muhyi
An Najah (Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Keagamaan) Vol. 3 No. 4: Juli 2024
Publisher : Najah Bestari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi mengenai Islam, feminisme, dan gender telah menjadi fokus utama dalam diskusi akademik dan sosial saat ini. Meskipun Islam dan feminisme sering dianggap bertentangan, namun ada dinamika kompleks di mana kedua aspek tersebut saling berinteraksi. Gender memegang peran penting dalam konteks ini, memberikan tantangan dan peluang untuk memahami bagaimana agama dan gerakan feminis berinteraksi dan berevolusi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi hubungan yang rumit antara Islam, feminisme, dan pembentukan identitas gender. Melalui pendekatan lintas disiplin, penelitian ini mencari pemahaman mendalam tentang konsep-konsep kunci dalam Islam dan feminisme, seperti kesetaraan, keadilan, dan otoritas, serta bagaimana konstruksi gender dalam konteks keagamaan mempengaruhi kehidupan sehari-hari. Analisis yang mendalam terhadap sumber-sumber teologis, sejarah gerakan feminis, dan studi gender membantu menggambarkan keragaman perspektif dan narasi yang ada. Dengan mempertimbangkan berbagai konteks sosial, budaya, dan politik, penelitian ini mendorong pemikiran kritis tentang bagaimana Islam, feminisme, dan gender bisa saling melengkapi, bertentangan, atau berinteraksi dalam menghadapi tantangan-tantangan kontemporer terkait dengan keadilan gender dan kesetaraan dalam masyarakat.
Lembaga Negara Dalam Al-Qur’an (Kajian Tafsir Maudhu’i) Kurniawan, Wawan; Suminar, Sely; Thiebaty, Sofia Zahra; Solahudin, Nabil Ahmad; Muhyi, Asep Abdul
Al-Qalam: Jurnal Kajian Islam dan Pendidikan Vol 15 No 1 (2023): Volume 15 Nomor 1 2023
Publisher : LP2M Universitas Islam Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47435/al-qalam.v15i1.2102

Abstract

This paper aims to discuss the concept of state institutions in the Qur’an, especially by using Maudhu’i’s Interpretation studies. This writing uses a qualitative method with a library research approach and places more emphasis on the interpretation of the verse, Asbabun Nuzul, and the Mufradat study. Islam regulates all aspects of life, including the leadership and governance of a region. A state institution is a management system established by the government to regulate and manage a country. In the Al-Qur’an there are several verses relating to the term state, but the concept of a state according to the Qur’an whwn it is associated with the meaning of a state that is identical with territorial boundaries and the presence of residents who inhabit it is in the term al-Balad. The meaning of Balad in its editorial is divided into three of them, namely al-Balad, al-Bilad, and Baldah. All three have different meanings, but in general, all of these words point to a place. In Islam, the power or authority of the government is not absolute. Therefore several principles must be upheld and implemented by the goverment itself.
Islam dan Demokrasi: Pesrpektif Tafsir Maudhu’i Muzayyin, Ahmad; Hidayat, Aleh; Muhyi, Asep Abdul
Hamalatul Qur'an : Jurnal Ilmu Ilmu Alqur'an Vol. 5 No. 1 (2024): June 2024
Publisher : Pondok Pesantren Hamalatul Qur'an Jogoroto Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/hq.v5i1.125

Abstract

This research aims to explore contemporary issues regarding democracy in the context of the Al-Qur'an. This research uses a qualitative approach with descriptive methods and Maudhu'i interpretation. The formal object of this research is Al-Qur'an knowledge and contemporary issues, while the material object is verses in the Al-Qur'an related to democracy. Democracy in the Qur'an is considered something important and principled because democracy is a form of deliberation that produces agreement or consensus. The Qur'an has explained the principles that must exist in democracy, as contained in the letters ash-Syuara', an-Nahl, al-Hujurat, and an-Nisa'. These principles are in line with the principles of democracy in Indonesian state law, known by the acronym "luberjurdil" (direct, general, free, confidential, honest and fair). The qualitative approach in this research is based on secondary data sources, including literature related to the research topic, such as journal articles, books and other sources.
Tinjauan Ghibah (Gosip) Menurut Syekh Nawai dalam Tafsir Marah Labid Muhyi, Asep Abdul; Islamy, Mohammad Rindu Fajar
Attractive : Innovative Education Journal Vol. 4 No. 3 (2022): Attractive : Innovative Education Journal
Publisher : CV. Creative Tugu Pena

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51278/aj.v4i3.390

Abstract

The purpose of this research is to find out Shaykh Nawawi al Bantani's interpretation of backbiting in Tafsir Marah Labid as well as to know the concept of backbiting according to Shaykh Nawawi Al-Bantani in Tafsir Marah Labid. This research uses the descriptive method of analysis. The object in this research is in the form of a written work entitled Tafsir Marah Labaid by Imama Nawawi, as for the focus of the research is the interpretation of verses of the Qur'an that are vilified with slander. Shaykh Nawawi al-Bantani understands the verse of slander, both in terms of language and terminology. When interpreting Surah al-Nur [24]: 11 Shaykh Nawawi understood backbiting with the word al-Ifku, which is a lie and a lie, meaning a person who brings false news. Shaykh Nawawi understood the behavior of slander by interpreting the verse with the narrations of the hadiths that narrate the people who commit slander also tell about the impact and torment of slander. So it can be understood that Shaykh Nawawi understood the verses of slander by using the interpretation of bil al-matsur with various narrations of hadith. As for the concept of slander in Tafsir Marah Labaid by Shaykh Nawawi al-Bantani, among others: Talking about someone unknown to him, Being prejudiced by the actions or actions of someone who is uncertain, Looking for and discussing other people's faults, Slander is the same as harming life someone, Ghibah is the same as slandering another person. Keywords: Ghibah Review, Interpretation Marah Labid, Syekh Nawawi Opinion
Co-Authors Abdan Syakuro Abdul Bari Abdurrofi Muhammad Zainuri Adhelia Ananta Adila, Priscilla Elsya Adnan Sulaiman Adnin Abdul Majied Afif Arrasyidi Afwan Abdul Hakim KH Agniya Rihadatul Aisy Agung Fauzan Agung Wijaya Agustina, Revalina Nazwa Ahmad Abdus Salam Aura Rusyda Ahmad Affandi Khaerul Fatihin Ahmad Badrul Amin Ahmad Fauzan Azzim Ahmad Fauzi Muslim Noor Sya’ban Ahmad Munawar Ahmad Nurali Shadiqin Ahmad Satria Ahmad Subhan Ahmad Zaki Yamini Aini, Raudotul Aisyah Safitri Al Rifai, Agna Fikri Alfi, Rizki Alfia Nurhayanti Aliya Fatimatuz Zahra Alma Ashofi Izzani Alya Agustina Alya Huriah Assegaff Alya Rohaly Alya Shafira Octaviani Amirul Rasyid Andi M. Arfandi Andini, Puti Anida Farroh Anisa Salsabila Ar Razi, Humaira Ara Farhanul Ibad Arasyid Isnandar Aria Rahman Arya Ridwan Alfarisy Aslaa Nabiilah Asma Sabrina Nurain Asri Muthiyal Haq Asya Noer Izzatin Aulia, Nurfadilah Ayla, Indiana Fithra Azhim, Ahmad Fauzan Azkya Ramadhan, Rifki Azzam, Fariz Abdul Charitsatun Najah Dais Siti Robiah Latifah Damyanti, Nurzannah Dhea Salsabila, Asy Syifa Dida Maulidah Rukoyah Didin Nurwahidin Dinda Hidayatul Dini Fitriyani Dzu Hulwin Dzul Adli Mudzoffar Al Arifi Eca Dwi Yandra El-Hakim, Abdul Halim Enny Kusumawati, Enny Evan Raif Fadhil Rahman Utama Fadhilah Ramadhani Arqam, Nurul Fadia Luthfi Riyani Fadly Alanka Fahad Fauzi Fajar Islamy, Mohammad Rindu Fansury, Rafi Ahmad Farhan Bahrul Ulum Farizi, Irgi Ahmat Fatur Rahmat Saifullah Tawil Fauzi, Asep Muhammad Fauziah, Rahmah Fauziah, Salma Fitri Andaryani Fitria Fitria Fitriansyah, Ryan Abdurrahman Fuadia, Sabrina Farah Fursan Ruhbani Gea Pramudyah Gery Hummamul Hafid Ghina Mutmainnah Ghina Salsabila Gultom, Ayuni Wulan Sari Guntur Saputra Habibuddin, Wildan Hanif Hafid, Moc Hafizah Irfani Azkiah Hamka Hasan, Hamka Hana Mariatul Qibtiyah Hanifatul Akmila Hanifatul Auliya Hasan Muhammad Alfatih Hasna Rafidah Salsabila Hidayat, Aleh Hidayat, Rahman Hikmawan Akbar Huda, Milan Pancadria Nurul Husna Dhiya’ul Ilmi Husna Nabila Ia Aulia Ilham Bastanta Panjaitan Ilham Musthofa AQ Ilma Aulia Ilmi, Riyadil Imam Abdul Aziz Imam Musyaffa Mujahadah Ina Nurseha Inayah Inayah Indi Ariqah Putri Dadi Indra, Muhammad Dzaki Intan Nuraini Iqrimatunnaya Iqrimatunnaya Ismail, Ecep Izzani, Alma Ashofi Jalilah, Dai Jamil, Gita Wahidah Jauharah Khairun Nisa Kaka Reza Abdullah Khalishah Sajidah Khoirunnisa Khoirunnisa Kholid Nurrohman Krisnia, Mia Kumbi, Ramizard Kurniawan, Ahmad Arif Lathifah, Halwa Nur Lazuardy Azra Lidya Maharani Lindiani Nur Fadillah Luthfatul Millah Luthfi Khoirunnisa Fadhila Luthfi Luthfi Miftahul Anwar Luthfi Muhammad Hamdani Luthfiyyah, Nayla Desiyana M. Yunus, Badruzzaman Maknun, Lu’luil Malihah, Nadia Rosikhoh Mar’ah Nur’afifah Masruroh, Intan Ratu Maulana, Farhan Fatih Maulana, Mochammad Royhan MAULANA, MUHAMMAD RIZKA Maulida Fatihatusshofwa Ma’shum, Muhammad Ali Megarani, Kiki Nirmala Mimbar, Asep Saeful mitha ratu apriliani Mohamad Wardan Mud’is, Maulana Hasan Muhammad Abdul Aziz2 Muhammad Abdul Jalil Muhammad Alfatih, Hasan Muhammad Farhan Zein Muhammad Fawwaz Dwizahran Muhammad Haekal Fatahillah Akbar Muhammad Hamzah Nashrullah Muhammad Haris Muhammad Miftah Fauzi Muhammad Sa’id Muhammad Taufik Faturrahman Muhammad Yazka Mujahid ‘Abid Fadhlullah Muzayyin, Ahmad Nabil Ahmad Solahudin Nabila Azkiah Nafi’, Hisyam Nahilda, Asya Fauzul Nanda Pradana Nasarudin Umar Nasher, Abdurrahman Nasrulloh, Adilla Fadila Nasywa Aulia Akbar Nisrina, Hana Fitri Nugraha, Rofi Nur Zen Hasanah Nurazizah, Sabila Aida Nurfadilah, Muhammad Rifa Nurosidin, Ihsan Nursyahidah, Risma Ayu Pebriani, Naila Popi Maspupah Prasanti, Nurafni Alva Putra, Daffa Jilbransyah Putri Sarah Auliya Putri, Rahayu Novaliana Ramdan, Zamzam Muhamad Rasihon Anwar Rayhan, Muhammad Gilang Rifkiah, Ria Righayatsyah, Elshadra Riyani, Irma Rosihon Anwar, Rosihon Rosyadi, Rik’an Mughiry Rudianto, Apip Sadewo, Naufal Aisy Safira Intansari Puspareti Haroimain Saif Mujahidin Muhammad Salsabila, Kaisya Samudra, Frio Efkaputra Santoso, Muhammad Iqbal Firdaus Saputra, Muhammad Ragil sari, putrie dewi mayang Sasmita, Elisa Sa’diyah, Khanifatus Sely Suminar Sherly Afiyani Nurhidayati Siti Aminah Siti Chodijah Siti Rahmah Soba, Raka Meirwanto Sofia Zahra Thiebaty Sofyan, Muhammad Agil Solahudin, Nabil Ahmad Subhan, Ahmad Subhan Suci Rahmawati Sumawilaga, Fikri Derus Suminar, Sely Supriatna, Kevin Khairurrajwa Surya Maulana Yusuf Syahdani, Azka Aulia Mahara Syakira, Azka Rizqiya Syamil, Al Fikru Syamsuttamreis, Mochammad Thib Raya, Ahmad Thiebaty, Sofia Zahra Wawan Kurniawan Wawan Kurniawan Yunior, Muhammad Alga Yusri Muhammad Qomalhaq Khoir Zayyan, Firasfatika Zulaiha, Eni