Claim Missing Document
Check
Articles

Perubahan Peran Perempuan pada Sektor Pertanian di Desa Tandawang Amalia, Bawon Rizki; Yuliati, Yayuk; Kholifah, Siti
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol 11, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v11i1.36899

Abstract

Sektor pertanian identik dengan kekuatan fisik laki-laki. Namun, dengan berjalannya waktu banyak perempuan yang bekerja di sektor pertanian. Padahal, perempuan mendapat stereotype lemah. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses perubahan peran perempuan dan penyebab perubahan peran perempuan, serta menganalisis dampak dari adanya perubahan peran perempuan di sektor pertanian di Desa Tandawang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif, dengan pendekatan kualitatif serta menggunakan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan perjodohan pola. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak tahun 2010 terjadi perubahan peran perempuan di sektor pertanian di Desa Tandawang. Mayoritas perempuan mengerjakan hampir seluruh peran di sektor pertanian. Tetapi, perempuan belum sepenuhnya mendapatkan akses sumberdaya pertanian, serta kontrol atau pengambilan keputusan. Di sisi lain, perempuan mendapatkan perubahan manfaat dengan bekerja di sektor pertanian. Perubahan peran perempuan di sektor pertanian disebabkan kebutuhan ekonomi, banyak laki-laki beralih profesi, dan perubahan permintaan tenaga kerja. Bekerjanya perempuan di sektor pertanian dapat memperbaiki kesejahteraan keluarga. Akan tetapi, perempuan mendapatkan peran ganda di sektor publik dan domestik. Dalam feminis liberal, perempuan hanya menginginkan kesetaraan hak yang sama dengan laki-laki. Bekerjanya perempuan di sektor pertanian tidak membuat kesetaraan gender, melainkan yang terjadi ekploitasi terhadap perempuan. 
Pengelolaan Pariwisata Berbasis Pemberdayaan Masyarakat (Studi Kasus Desa Sawentar) Nurfi Fuadi Laksono; Anif Fatma Chawa; Yayuk Yuliati
BRILIANT: Jurnal Riset dan Konseptual Vol 5, No 4 (2020): Volume 5 Nomor 4, November 2020
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Blitar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (108.831 KB) | DOI: 10.28926/briliant.v5i4.539

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengelolaan pariwisata oleh pemerintah Desa Sawentar, hambatan-hambatannya, serta mengajukan strategi pengembangan pariwisata berbasis permberdayaan masyarakat di Desa Sawentar. Penelitian ini bertolak dari strategi pengembangan pariwisata di Desa Sawentar yang bersifat top-down, terbatas pada momentum dan terfokus warisan budaya atau sejarah bendawi, tanpa kemitraan sinergis, serta minim partisipasi masyarakat. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dan observasi partisipasi. Analisis data dilakukan secara deskriptif, dengan bertolak dari konsep Pemberdayaan Masyarakat 5P Menurut Suharto dan teori Partisipasi Sherry Arnstein.Hasil penelitian menunjukkan pengelolaan pariwisata yang oleh pemerintah Desa Sawentar dilakukan melalui peletarian tradisi budaya dan pelatihan pengelolaan homestay. Adapun hambatan-hambatan yang dialami berupa tidak ada pemetaan potensi pariwisata strategis, tidak adanya pembinaan organisasi POKDARWIS Lwang Wentar, kurangnya alur komunikasi dengan mitra kerja, serta adanya konflik antar organisasi. Dari hasil penelitian tersebut model pengembangan pariwisata berbasis masyarakat di Desa Sawentar yang ditawarkan yakni melalui pengembangan pariwisata edukasi.
Reconstruction of the Social Capital-Based Agricultural Extension System in the Tengger Tribe Society in Tosari, Pasuruan, East Java, Indonesia Ugik Romadi; Kliwon Hidayat; Keppi Sukesi; Yayuk Yuliati
Agriekonomika Vol 10, No 1: April 2021
Publisher : Department of Agribusiness, Faculty of Agriculture, Universitas Trunojoyo Madura, Indonesi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/agriekonomika.v10i1.9983

Abstract

This study aims to examine the “how” and “what kind of” implementation process of extension by the needs of the Tengger Tribe in optimizing their social capital as an effort to accelerate the process of information and technology transfer to achieve the goals of extension that have been outlined in the philosophy of extension, namely behavior change farmers as an effort to improve welfare. This research useed a qualitative approach with a phenomenological method. Based on the research found that a system and implementation of extension were needed by local conditions, and accommodates tribe characteristics. The reconstruction of the extension system must be carried out thoroughly in terms of the institutional aspects of extension, extension workforce, and implementation of extension so that it could achieve the expected goals of changing farmer’s behavior to improve the welfare of farmers in the Tosari Sub-District of Pasuruan Regency.
Fenomena Keberadaan Prostitusi Dalam Pandangan Feminisme Suhar Nanik; Sanggar Kamto; Yayuk Yuliati
Wacana Journal of Social and Humanity Studies Vol. 15 No. 4 (2012)
Publisher : Sekolah Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (613.816 KB)

Abstract

Prostitusi merupakan sebuah fenomena yang ada dalam kehidupan bermasyarakat. Kehidupan prostitusi terjadi karena adanya dukungan dalam setiap elemen fungsi yang saling terkait antara satu dengan yang lainnya. Elemen fungsi dalam terbentuknya prostitusi yang di teliti dalam penelitian ini adalah Mucikari, Wanita Pekerja Seks dan Tokoh Formal. Selain itu keberadaan prostitusi pada wanita pada dasarnya adalah adanya ketidak berdayaan dari kaum wanita dalam aspek kehidupan apabila dibandingkan dengan kaum laki-laki, oleh karena hal tersebut maka kajian dalam perspektif feminisme menjadi keharusan bagi peneliti dalam mengupas persoalan prostitusi yang terjadi pada wanita. Pendekatan fenomenologi dilakukan dalam penelitian ini dengan jenis penelitian bersifat kualitatif. Data diambil dari para  informan Mucikari, Wanita pekerja seks dan tokoh formal dengan teknik wawancara mendalam  serta observasi data lapang.  Tempat penelitian ini dilakukan di lokalisasi Moroseneng Surabaya Jawa Timur. Kata kunci: Keberadaan, Prostitusi, Feminisme
Diplomasi Hibrida: Perempuan Dalam Resolusi Konflik Maluku Helmia Asyathri; Keppi Sukesi; Yayuk Yuliati
Indonesian Journal of Women's Studies Vol 2, No 1 (2014)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1179.708 KB)

Abstract

Keberadaan perempuan diakui oleh masyarakat internasional sangat penting dalam proses penyelesaian konflik, namun menjadi persoalan lain ketika dihadapkan pada pertanyaan “dapatkah perempuan berperan sebagai agen resolusi konflik diluar pertemuan formal?”. Peneliti berniat menggali aktivitas perempuan di wilayah non-formal, sebagai bentuk Diplomasi Hibrida yang berpengaruh dalam resolusi konflik di Maluku. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif - kualitatif, dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam dan studi dokumentasi yang berlokasi di kota Ambon, Maluku.  Hasil penelitian ini mengidentifikasi konflik komunal di Maluku sebagai konflik sosial yang berkepanjangan, yang dinamikanya sesuai dengan model Protracted Social Conflict yang dikembangkan oleh Edward Azar. Namun berbeda dengan model Azar yang mainstream dan tidak sensitive gender, penelitian ini memperlihatkan peran perempuan di sektor informal seperti di pasar tradisional mampu mempengaruhi proses resolusi konflik Maluku. Aktifitas Papalele atau perempuan pedagang di kota Ambon, tanpa mereka sadari dapat membantu proses resolusi konflik. Perannya dalam tahapan Peacekeeping, Peacemaking, maupun Peacebuilding menjadikan mereka anomali dalam kajian resolusi konflik dan diplomasi. Dengan demikian, Papalele dan aktifitas perdagangannya di Ambon dapat dikatakan sebagai aktor dan aktifitas Diplomasi Hibrida.Kata Kunci: Diplomasi Hibrida, Resolusi Konflik, Protracted Social Conflict, Papalele, Isu Perempuan
Keterlibatan Perempuan Tani Pada Program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) Dalam Rangka Mencapai Kesejahteraan Rumah Tangga (Studi Kasus Di Desa Bayem, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang) Lintar Brillian Pintakami; Yayuk Yuliati; Mangku Purnomo
Indonesian Journal of Women's Studies Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) merupakan upaya pemerintah untuk melakukan perbaikan kembali hutan yang telah rusak. Desa Bayem merupakan salah satu desa yang ikut terlibat dalam program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM). Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keterlibatan perempuan tani pada program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) dalam rangka mencapai kesejahteraan rumah tangga. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penentuan lokasi penelitian dilakukan secara sengaja (purposive) yaitu di Desa Bayem, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Populasi dalam penelitian ini adalah petani hutan (pesanggem) baik laki-laki (suami) maupun perempuan (istri), yang berdomisili di Desa Bayem, Kecamatan Kasembon, Kabupaten Malang. Metode penetapan sampel yang digunakan adalah non probability sampling (pengambilan sampel disengaja). Teknik penentuan informan menggunakan snowball sampling. Jumlah informan dalam penelitian ini adalah sebanyak 14 informan petani hutan (pesanggem) baik suami maupun istri yang melakukan kegiatan di lahan lodenan. Selain 14 informan, juga terdapat 9 orang sebagai key informan. Key informan terdiri dari: tokoh masyarakat, baik formal maupun non-formal, perangkat desa, dan petugas dari perhutani. Dengan menggunakan analisis gender, analisis kualitatif, dan analisis kontribusi pendapatan diperoleh hasil bahwa peran perempuan tani dalam program Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat (PHBM) masih belum optimal, sementara itu perempuan tani mampu memberikan kontribusi terhadap pendapatan rumah tangga yang sama besarnya dengan laki-laki yaitu Rp. 16.981.900,-/ tahun atau 50%. Meskipun demikian, perempuan tani mampu mengalokasikan waktunya untuk tetap melakukan peran reproduksinya dalam rumah tangga sementara laki-laki tidak. Kata kunci: Keterlibatan, Perempuan Tani, Pengelolaan Hutan Bersama Masyarakat, Kesejahteraan Rumah Tangga
Peran Masyarakat Sekitar Desa Penyangga Dalam Konservasi Taman Nasional Alas Purwo Berbasis Kearifan Lokal Eko Setiawan; Keppi Sukesi; Kliwon Hidayat; Yayuk Yuliati
Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi Vol 10, No 1 (2021): Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi
Publisher : Pendidikan Sosiologi FIS UNY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/dimensia.v10i1.38862

Abstract

Penelitian ini menggambarkan kehidupan masyarakat sekitar kawasan desa penyangga Taman Nasional Alas Purwo, khususnya Dusun Kutorejo Desa Kalipait yang memiliki kearifan lokal berupa sejumlah tradisi, berupa aturan atau pantangan yang masih berlaku secara turun temurun. Kearifan lokal ini memiliki nilai kecerdasan ekologis yang dipelihara dan dikembangkan dan dipelajarinya tentang hubungan aktivitas manusia dengan ekosistemnya. Kearifan lokal yang dimiliki oleh masyarakat digunakan sebagai acuan dalam pengelolaan kawasan hutan dan perairan pantai, baik berupa mitos maupun pantangan. Pusat perhatian dari kajian ekologi menurut Julian Steward adalah proses adaptasi kultural terhadap lingkungan. Proses ini dipandang sebagai suatu bentuk hubungan dialektika dalam konteks hubungan saling ketergantungan dengan yang lain. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan dengan desain studi kasus. Hasil penelitian menunjukkan masyarakat sekitar kawasan Taman Nasional Alas Purwo memiliki kearifan lokal berupa sejumlah tradisi, aturan atau pantangan yang masih berlaku secara turun temurun yang kemudian dipelihara dan ditaati sampai sekarang. Pantangan tersebut berupa larangan membunuh burung merak serta pantangan dalam sistem payang.
Perubahan Peran Perempuan pada Sektor Pertanian di Desa Tandawang Bawon Rizki Amalia; Yayuk Yuliati; Siti Kholifah
Jurnal Ilmu Sosial dan Humaniora Vol. 11 No. 1 (2022)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jish.v11i1.36899

Abstract

Sektor pertanian identik dengan kekuatan fisik laki-laki. Namun, dengan berjalannya waktu banyak perempuan yang bekerja di sektor pertanian. Padahal, perempuan mendapat stereotype lemah. Penelitian ini bertujuan menganalisis proses perubahan peran perempuan dan penyebab perubahan peran perempuan, serta menganalisis dampak dari adanya perubahan peran perempuan di sektor pertanian di Desa Tandawang. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif, dengan pendekatan kualitatif serta menggunakan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan perjodohan pola. Teknik keabsahan data menggunakan triangulasi sumber, dan triangulasi teknik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sejak tahun 2010 terjadi perubahan peran perempuan di sektor pertanian di Desa Tandawang. Mayoritas perempuan mengerjakan hampir seluruh peran di sektor pertanian. Tetapi, perempuan belum sepenuhnya mendapatkan akses sumberdaya pertanian, serta kontrol atau pengambilan keputusan. Di sisi lain, perempuan mendapatkan perubahan manfaat dengan bekerja di sektor pertanian. Perubahan peran perempuan di sektor pertanian disebabkan kebutuhan ekonomi, banyak laki-laki beralih profesi, dan perubahan permintaan tenaga kerja. Bekerjanya perempuan di sektor pertanian dapat memperbaiki kesejahteraan keluarga. Akan tetapi, perempuan mendapatkan peran ganda di sektor publik dan domestik. Dalam feminis liberal, perempuan hanya menginginkan kesetaraan hak yang sama dengan laki-laki. Bekerjanya perempuan di sektor pertanian tidak membuat kesetaraan gender, melainkan yang terjadi ekploitasi terhadap perempuan. 
Peran Kelembagaan dalam Program Upaya Khusus (UPSUS) Tanaman Jagung Berbasis Kearifan Lokal di Kabupaten Timor Tengah Utara Marsianus Marsi Falo; Sugiyanto Sugiyanto; Keppi Sukesih; Yayuk Yuliati
AGRIMOR Vol 7 No 1 (2022): AGRIMOR - January 2022
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/ag.v7i1.1361

Abstract

The involvement of all community components is a very important indicator for the success of the agricultural sector development process. The whole community can participate in agricultural development if the agricultural development program can be communicated according to regional conditions.The method used in this study is the Mix Method, which is a collaboration between quantitative and qualitative methods using a sequential explanatory model design where the first order uses quantitative methods, and the second uses qualitative methods. The population in this study were corn farmers who were members of the Corn Plant Upsus program in Insana District, TTU Regency, amounting to 270 farmers. the method of determining the size of the sample is calculated using the Slovin formula as many as 161 respondents. The primary data collection method is through a questionnaire that has been prepared in August-December 2019. Secondary data collection is carried out by collecting data from the Agriculture Service, BPS and related agencies.The analytical technique used in this study uses descriptive analysis, Miles and Hubermann analysis and Nvivo 12 analysis. The results of the analysis show that the characteristics of farmers (age is in the adult category, formal education, non-formal education is in the low category, farmer experience is in the high category, while broad In general, farmers are aware that there are government policies, institutions that provide capital, and the role of farmer groups but have not been utilized due to limited information that is less accessible to farmers.
Services of the Worship House of the Padepokan Dhammadipa Buddhist House of Worship for People with Disabilities M. Ilham Nurhakim; Yayuk Yuliati; Fadillah Putra
Journal of ICSAR Vol 6, No 1 (2022): January
Publisher : Department of Special Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17977/um005v6i12022p007

Abstract

Attention to disability is still not evenly distributed. The right to practice worship was not under the needs of disabilities. This study assesses the services of the Padepokan Dhammadipa Arama Buddhist Vihara in Batu City for disabilities. The theory used in this study uses the theory of planned behavior and the theory of social action. Data were collected through in-depth interviews and observations. The data were tested for validity using data triangulation and analyzed using pattern matching, explanations, and time series analysis. The results showed that Vihara administrators did not discriminate against disabilities because the basic principle of Buddhists is compassion. Services that have been provided are in the form of physical services like guardrails and non-physical services like assistance for the mobilization. The existence of this service is influenced by the understanding of disabilities and the urgency of providing services for disabilities. Efforts that continue to be made include innovating in the form of development systems and concepts, adding facilities and infrastructure at the Vihara, and increasing the participation of Buddhists in providing input and suggestions regarding disability services in places of worship. The hope is the existence of physical disability services will increase the security and comfort of people with disabilities in carrying out worship like normal people.