Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Bandung Conference Series: Public Relations

Personal Branding Content Creator di Media Sosial Tiktok Muhammad Dimas Chandra Purnama Dimas; Kiki Zakiah
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v3i2.7463

Abstract

Abstract. Branding is often known as the activities carried out by companies in introducing their products. As the Times develop, branding is no longer only done by companies but can also be done by individuals or commonly called Personal Branding. Personal branding can be done by anyone, one of which is done by content creators. Content creators use Tiktok social media as a medium to build and shape personal branding. Personal branding is a strong and clear image that exists in the mind of someone about yourself, the three important aspects of personal brand is your own, promises and relationships. Researchers use qualitative research methods with a case study approach. Researchers collect, process, and systematically analyze factual data about Tiktok content creator Personal Branding obtained from Alwi fahry, so that they can draw conclusions that are relevant to Alwi fahry's Personal Branding, by conducting interviews, observations, and literature studies. From the results of research that has been done, the researchers obtained a form of personal branding conducted by Alwi fahry in self-branding conducted. Among them are personal branding, the meaning of personal branding, and the use of Tiktok in building personal branding. Abstrak. Branding sering kali dikenal sebagai kegiatan yang dilakukan perusahaan dalam mengenalkan produknya. Seiring berkembangnya zaman, branding tidak lagi hanya dilakukan oleh perusahaan saja melainkan bisa juga dilakukan oleh perorangan atau biasa disebut dengan Personal Branding. Personal branding dapat dilakukan oleh siapapun, salah satunya dilakukan oleh content creator. Content creator memanfaatkan media sosial Tiktok sebagai media untuk membangun dan membentuk personal branding. Personal branding adalah image yang kuat dan jelas yang ada di benak seseorang mengenai diri sendiri, tiga aspek penting personal brand tersebut adalah anda sendiri, janji dan hubungan. Peneliti menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Peneliti mengumpulkan, mengolah, dan menganalisis secara sistematis data faktual mengenai Personal Branding content creator Tiktok yang diperoleh dari Alwi fahry, sehingga dapat mengambil kesimpulan yang relevan dengan Personal Branding yang dilakukan Alwi fahry, dengan cara melakukan wawancara, observasi, dan studi kepustakaan. Dari hasil penelitian yang telah dilakukan, maka peneliti memperoleh bentuk personal branding yang dilakukan oleh Alwi fahry dalam branding diri yang dilakukan. Di antaranya adalah personal branding yang dilakukan, makna personal branding, dan penggunaan Tiktok dalam membangun personal branding.
Komunikasi Lintas Budaya Generasi Milenial dalam Melestarikan Budaya Berkebaya Risya Hasna Masytah; Kiki Zakiah
Bandung Conference Series: Public Relations Vol. 4 No. 2 (2024): Bandung Conference Series: Public Relations
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcspr.v4i2.13765

Abstract

Abstract. Kebaya culture is an important part of the cultural identity of a country or region, and understanding the values and meaning behind kebaya can help the millennial generation appreciate and preserve this cultural heritage. To preserve and introduce the culture of wearing kebaya to the community, a community called Wanita Berbaya Indonesia was formed. As a fashion influencer and Indonesian Kebaya Women activist, the owner of the Moja Rasya Instagram account always shares various references regarding her kebaya clothing. This is done as a form of communication to the millennial generation so that the kebaya culture can continue to be preserved.The focus of the research is analyzing cross-cultural communication of the millennial generation in preserving kebaya culture, using descriptive qualitative research methods using an ethnographic approach. To reveal how cross-cultural communication of the millennial generation is in preserving kebaya culture.Based on research results, several followers of the Moja Rasya Instagram account stated that the cross-cultural communication carried out by him with the millennial generation so that the kebaya culture could continue to be preserved had run optimally. Abstrak. Budaya berkebaya adalah bagian penting dari identitas budaya suatu negara atau daerah, dan pemahaman terhadap nilai-nilai dan makna di balik berkebaya dapat membantu generasi milenial menghargai dan melestarikan warisan budaya tersebut. Untuk melestarikan dan mengenalkan budaya berkebaya kepada masyarakat, dibentuklah sebuah komunitas bernama Perempuan Berkebaya Indonesia. Sebagai seorang fashion influencer dan juga penggiat Perempuan Berkebaya Indonesia, pemilik akun instagram Moja Rasya selalu membagikan berbagai referensi mengenai pakaian berkebaya miliknya. Hal tersebut dilakukan sebagai bentuk komunikasi kepada generasi milenilai agar budaya berkebaya dapat terus dilestarikan.Fokus penelitian menganalisis komunikasi lintas budaya generasi milenial dalam melestarikan budaya berkebaya, menggunakan metode penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan pendekatan etnografi. Untuk mengungkapkan bagaimana komunikasi lintas budaya generasi milenial dalam melestarikan budaya berkebaya. Berdasarkan hasil penelitian b ahwa beberapa pengikut dari akun instagram Moja Rasya, bahwa komunikasi lintas budaya yang dilakukan olehnya terhadap generasi milenial agar budaya berkebaya dapat terus dilestarikan telah berjalan secara optimal.