Tradisi tingkeban etnik Jawa di Kelurahan Sendang Mulya Sari masih dipraktikkan sebagai ritual kehamilan tujuh bulan, tetapi beberapa unsur prosesi dan sarana ritual mengalami penyederhanaan sehingga makna simboliknya berisiko tidak diwariskan secara utuh. Penelitian ini bertujuan menganalisis seni tradisi verbal dan nonverbal, prosesi ritual, serta fungsi adat dalam upacara tingkeban. Penelitian menggunakan desain kualitatif deskriptif dengan pendekatan etnografis. Data diperoleh melalui observasi prosesi, wawancara dengan tokoh adat, tokoh agama, keluarga penyelenggara, dan masyarakat, serta dokumentasi uborampe dan tuturan perjonggo. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seni verbal hadir melalui pembacaan ayat suci, doa, dan tuturan perjonggo, sedangkan seni nonverbal hadir melalui uborampe, kembang, nyamping, cengkir gading, makanan simbolik, dan rangkaian tindakan ritual. Prosesi tingkeban meliputi slametan kenduren, sungkeman, siraman, pecah pamor, brojolan, sigaran, pantes-pantesan, kembulan, pasugatan, dan mberkat. Penelitian menyimpulkan bahwa tingkeban berfungsi sebagai sarana ritual, sosial, estetika, dan pendidikan. Kontribusi penelitian ini adalah menyediakan pemetaan terpadu tentang seni verbal dan nonverbal tingkeban sebagai sumber pengetahuan bagi kajian pendidikan seni, tradisi lisan, dan pelestarian budaya Jawa di wilayah perantauan.