Claim Missing Document
Check
Articles

FENOMENA PERCERAIAN AKIBAT PERSELINGKUHAN STUDI KASUS DI KELURAHAN JATIBARU KECAMATAN ASAKOTA KOTA BIMA Adrian, Deni; Aminullah, Muhammad; Rahman, Ade; Munir
NALAR: Journal Of Law and Sharia Vol 2 No 1 (2024): Nalar: Jurnal of Law dan Sharia
Publisher : Sarau Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61461/nlr.v2i1.53

Abstract

Pada lingkungan yang berada di Kelurahan Jatibaru ada beberapa yang terlibat dalam perceraian, yakni hal ini di sebabkan munculnya perselingkuhan yang terjadi dikalangan masyarakat sehingga hadirnya indikator-indikator lain yang menyebabkan rumah tangga tidaklah harmonis, seperti halnya kekerasan dalam rumah tangga, minimnya ekonomi, dan kurangnya hasrat seksual pada pasangan suami istri, serta yang lebih cendrung ialah di sebabkan pihak ketiga (pelakor), hal ini yang menyebabkan pasangan suami istri tidak pernah merasa nyaman dalam menjalin hubungan yang harmonis serta sampai kepada perceraian di Pengadilan Agama Bima Kelas 1A, pihak mediator melakukan mediasi (perdamaian) kepada dua belah pihak suami istri namun tidak mendapatkan solusi dalam hal menyelesaikan masalah, akhirnya pasangan suami istri mengakhiri hubunganya dan mendapatkan akta cerai sebagai bukti valid bahwa pasangan suami istri resmi berpisah dari ikatan cinta, hal ini juga beresiko pada anak-anak sehingga kurangnya perhatian, acuh tak acuh serta anak lebih dominan memiliki kelainan mental ini di sebabkan hancurnya hubungan pasangan suami istri (orang tua), tingginya sikap egois terhadap orang tua dalam hal mengasuh dan mendidik anak sehingga anak jarang bertemu dengan orang tua kandungnya, Jenis penelitian ini adalah penelitian Empiris yaitu penelitian dengan metode wawancara terhadap janda dan duda serta pemerintah Kelurahan Jatibaru, hal ini juga menggunakan penelitian fenomenologi yakni bersumber tentang pengalaman nyata yang di alami oleh manusia. tujuan peneliti melakukan penelitian ini agar peneliti dan pembaca mampu memahami dan mengetahui sepenuhnya bagaimana dalam hal memahami perceraian akibat perselingkuhan.
KOMUNIKASI DALAM PEMIKIRAN RICHARD WEST DAN LYNN H. TURNER UNTUK MENJADIKAN KOMUNIKASI YANG BERETIKA Aminullah, Muhammad
At-Tabayyuun: Journal Islamic Studies Vol. 2 No. 1 (2020): AT-TABAYYUN - JOURNAL ISLAMIC STUDIES
Publisher : Pascasarjana IAIN Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/atjis.v2i1.1729

Abstract

Penelitian ini penting untuk memahami makna komunikasi dan membuat definisi komunikasi yang lengkap. Pegangan teori komunikasi dasar mengacu pada studi teori yang dikembangkan oleh Richard West dan Lynn H. Turner, dalam buku Introducing Communication Theory: Analysis and Application. Studi teoretis ini juga dikaitkan dengan nilai-nilai Islam mereka yang melahirkan definisi komunikasi Islam. Penelitian ini menggunakan analisis isi untuk mendeskripsikan komunikasi definisi Islam. Hasil penelitian ini menemukan bahwa komunikasi adalah ekspresi yang menyampaikan ide seseorang kepada orang lain baik secara verbal maupun nonverbal untuk menjadi informasi baru dalam bentuk perubahan. Komunikasi Islam telah mengatakan al-da `wah. Al-da` wah adalah ajaran Islam yang menyampaikan gagasan kepada orang lain baik secara lisan maupun perbuatan untuk membentuk perilaku atau sifat sesuai dengan perintah dalam Islam. Model komunikasi berupa tindakan, interaksi, dan tranformasi. Komunikasi etis sangat penting untuk dipahami karena kesalahan komunikasi akan menimbulkan konflik. Komunikasi dilakukan dengan memiliki nilai-nilai etika yang mengarah pada kejujuran. Etika Komunikasi dalam Islam dituntut untuk jujur dan mengatakannya dengan benar. Komunikasi yang baik adalah komunikasi yang memiliki nilai etika. Komunikasi emosional dapat memengaruhi penerimaan pesan dengan benar. Dalam hal ini. Kita layak berkomunikasi bahwa komunikasi etis adalah komunikasi yang tidak memiliki emosi.
COMPARATIVE ANALYSIS OF THE TRADITIONAL ISLAMIC EDUCATION SYSTEM AND THE MODERN ISLAMIC EDUCATION SYSTEM IN INDONESIA Aminullah, Muhammad; Rama, Bahaking; Miro, Abbas Baco; Rijal, Tabhan Syamsu
JICSA : Journal of Islamic Civilization in Southeast Asian Vol 13 No 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The research aims to analyze the comparison of the traditional Islamic education system with the modern Islamic education system in Indonesia. The results of this research show that the traditional Islamic education system in Indonesia is education carried out by educators using old methods. Traditional Islamic education is known as the Halaqah system and does not use alternatives such as benches, tables and blackboards. While the modern Islamic education system in Indonesia is education that is based on the concept of divinity but is universal, modern Islamic education does not only focus on religious lessons but is also integrated with science and technology with a classical system, namely using tables, chairs, blackboards and other learning media. The comparison between these two systems is found in their educational institutions. In the curriculum aspect, traditional Islamic education has its curriculum from the kyai or top leaders of the institution, while the curriculum in modern Islamic education is an integrated curriculum from educational institutions (Mendikbutristek) and religious institutions (Kemenag).
DOSA DALAM PRESPEKTIF ISLAM DAN KRISTEN Sinaga, Hasanuddin; Aminullah, Muhammad
Tajdid Vol 8 No 1 (2024): April
Publisher : LP2M IAI Muhammadiyah Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52266/tadjid.v8i1.2728

Abstract

Kajian ini bertujuan ini mengetahui tentang konsep dosa dalam ajaran Kristen dan Islam. Kajian ini juga mencoba membandingkan antara konsep dan pemahaman dosa dalam al-Qur’an dan Al-Kitab sehingga mendapatkan pemahaman yang utuh tentang kajian tersebut. Dalam Kristen dosa adalah salah satu ajaran pokok yang wajib diyakini karena berhubungan dengan kelahiran Yesus sebagai anak Tuhan yang hadir sebagai penyelamat umat manusia, dan berkaitan juga dengan pengorbanan Yesus di tiang salib sebagai penebusan atas dosa asal manusia yang diakibatkan oleh perbuatan Adam dan Hawa. Sedangkan dalam Islam, konsep dosa dipandang sebagai perbuatan yang menjadi tanggung jawab secara individu oleh setiap manusia langsung kepada Tuhannya. Terdapat perbedaan yang signifikan antara dosa dalam Islam dan Kristen, namun dosa menjadi sebuah titik dimana manusia menyesali segala perbuatan dosa dan dibuktikan dengan perubahan yang lebih baik.
Membangun Kesadaran Komunikasi Lingkungan Demi Mewujudkan Aceh Bersih 2024 Aminullah, Muhammad
Liwaul Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Masyarakat Islam Vol. 13 No. 1 (2023): Liwaul Dakwah: Jurnal Kajian Dakwah dan Masyarakat Islam
Publisher : Fakultas Ushuluddin Adab dan Dakwah IAIN Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/liwauldakwah.v13i1.2408

Abstract

Kajian ini perlu dilakukan untuk memahami komunikasi lingkungan, sehingga mampu diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mewujudkan aceh bersih merupakan perintah yang sangat tegas dalam islam yaitu kebersihan bagian dari iman. Konsep ini dipahami bahwa orang yang beriman diwajibkan dalam keadaan bersih. Membentuk Masyarakat sadar kebersihan perlu adanya pendekatan komunikasi lingkungan yang aktif dalam menerjemahkan makna kebersihan secara jelas. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan pendekatan teoritis dan fenomenologis. Data diambil dari berbagai literatur dan dokumentasi yang relevan. Data dianalisis dalam bentuk content analisis dan eksplorasi teori. Hasil penelitian menemukan bahwa Kebersihan merupakan naluri manusia. Kesadaran bersih harus dimulai dari niat dan implementasi pada diri sendiri. Aceh bersih menggambarkan masyarakat berhasil menjaga kebersihan, sebagai wujud mengimplementasikan nilai komunikasi lingkungan dalam kehidupan sehari-hari. Lingkungan Aceh kotor juga berasal dari nilai tanggung jawab masyarakat terhadap lingkungannya. Untuk membuktikan masyarakat Aceh sebagai masyarakat yang beriman, maka pasti dapat dilihat aplikasi keimanannya pada nilai kebersihan.
The Practice of Wearing Hijab among Female Students of Al-Aziziyah Samalanga Islamic Institute, Bireuen: Study of Islamic Law and Legal Politics Abdul Kadir, Muntasir; Abdullah Lawang, Karimuddin; Haikal, Muhammad; Aminullah, Muhammad; Ishak, Supriadi
Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol 6, No 1 (2022): Samarah: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam
Publisher : Islamic Family Law Department, Sharia and Law Faculty, Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/sjhk.v6i1.12864

Abstract

This study discusses the practice of wearing hijab among students of the Islamic Institute of Al-Aziziyah Bireuen. This research is an empirical legal study that employs an Islamic legal approach, specifically the maṣlaḥah theory and legal politics. Utilized data collection methods include literature reviews, interviews, and observations. The findings of this study indicate that there are divergent opinions among fiqh scholars concerning the issue of niqāb. Guarantees of protection and comfort in interacting with the general public encourage the use of niqāb. The practice of wearing niqāb by Al-Aziziyah students is carried out on an essential awareness and upholds the values of adherence to the recommendations of Shari'a and regulations set by the educational institution where they study. Al-Aziziyah Islamic institute students use the niqāb, without judging it as a compulsion, let alone rebelling against the requirements for wearing the niqāb. They even feel the benefits of using the niqāb as part of the identity of a Muslim woman. This study also concludes that, from a legal standpoint, the Aceh Qanun regarding Muslim attire and tawṣiyah from the Ulama Consultative Council is a government policy intended to protect and advance the community. It is especially to be better and more dignified, as the primary objective of Islamic law is to improve humanity. 
Pelaksanaan Program Green Movement Di Lingkungan Kampus Institut Agama Islam (IAI) Al-Aziziyah Samalanga Bireuen Aceh Eliana; Abdullah; Junaidi; Aminullah, Muhammad; Riswani, Maya
Khadem: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2024): Khadem: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Institut Agama Islam (IAI) Al-Aziziyah Samalanga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54621/jkdm.v3i1.709

Abstract

Kegiatan Green Movement ini dilakukan untuk meningkatkan pemahaman Mahasiswa dalam menjaga lingkungan hidup agar menjadi indah dan sehat. Kegiatan ini dilakukan untuk membimbing mahasiswa dalam merawat lingkungan hidupnya. Kegiatan ini dilakukan selama ada proses kegiatan aktif perkuliahan Institut Agama Islam Al-Aziziyah Samalanga. Geren Govement salah satu kegiatan yang diperlukan di Kampus Institut Agama Islam Al-Aziziyah Samalanga disamping untuk melatih Mahasiswa untuk menjaga lingkungan dan juga untuk merawat alam yang ada di sekeliling mereka.
Power Structures and Religious Legitimacy: The Influence of Dayah Ulama in the Politics of Aceh Analyzed using Powercube Theory Muntasir, Muntasir; Zulkarnaen, Iskandar; Aminullah, Muhammad; Hamdani, Muslem; Hidayat, Bimby
Jurnal Ilmiah Peuradeun Vol. 13 No. 1 (2025): Jurnal Ilmiah Peuradeun
Publisher : SCAD Independent

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26811/peuradeun.v13i1.1625

Abstract

The existence and traces of involvement of dayah ulama in the power dimension have placed them as religious leaders and political actors. Resulting in vertical mobility in policy making. The research subjects were dayah ulama and religious leaders in Aceh. This study aimed to understand the dimensions of the political power of Acehnese ulama working at the level, space, and form. This research used qualitative methods based on interview data, questionnaires, and literature studies. The results showed that the ulama dayah had a lot of capital and power to build power. These dimensions could be classified as follows: 1) the level dimension in the power structure of ulama was very central and able to influence local and even national political constellations; 2) with personal qualities and public belief in the Keuramat (sacred) and temeureuka (damned) owned by the ulama, indicating the legitimacy of power in the form of “visible and invisible power” in the Aceh ulama; 3) through dayah institutions, networks of religious organizations and the Ulema Consultative Assembly had provided ample space for Aceh ulama to build their identity and power as holders of religious and social authority in the public sphere.
Korelasi Pra-Pemahaman Gadamer Dengan Syarat Dan Adab Mufassir Aminullah, Muhammad
Rahmad : Jurnal Studi Islam dan Ilmu Al-Qur'an Vol 1 No 2 (2023): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71349/rahmad.v1i2.6

Abstract

This research aims to reveal the correlation between Gadamer's pre-understanding and mufassir terms and manners. This type of research is qualitative in the form of library research. The approach used is an interpretive approach. The data used is primary data sourced from books and scriptures, and secondary data includes related works and other references that can support research, which are then processed and analyzed. The results of the research show that in the dialectical process, an interpreter must have a pre-understanding that already exists and is formed within him, in the form of art, history, world view, experience, sharpness of mind, the external world, spirituality, expressions, styles, and symbols. However, according to Gadamer, pre-understanding must be criticized so that it does not go beyond the meaning of the text, so that what he calls "perfect understanding" will be formed. With Gadamer's concept of pre-understanding, the relationship between hermeneutics and interpretation can be seen from a different perspective, in the sense of not seeing hermeneutics as a whole. There are basic similarities, so that the goals to be achieved both lead to a good interpretation process and are in accordance with the meaning of the text itself. This can be seen from the points contained in the concept of pre-understanding the terms and adab of mufassir as the initial foundation before interpreting the text of the Koran. The knowledge that a pre-understanding interpreter has regarding the sciences of the Qur'an when he wants to interpret the Qur'an is very important, because these sciences play a very important role when an interpreter has a dialogue with the text, so that in the end he produces a correct interpretation. really good, according to the meaning of the text.
Konsep Pendidikan Beradaskan Term Al-Mau’idzah Dalam Al-Qur’an, QS. Al-Nahl/16: 125, Al-Baqarah/2: 232, Al-Nisa/4: 34, 66, Yunus/10: 57: Introduction, Metode Penelitian, Pengertian Al-Mau’idzah, Hasil Penelitian dan Pembahasan, Kesimpulan, Bibliography Taufan; Aminullah, Muhammad
Rahmad : Jurnal Studi Islam dan Ilmu Al-Qur'an Vol 2 No 2 (2024): Desember
Publisher : Sekolah Tinggi Ilmu Al-Qur'an (STIQ) Bima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71349/rahmad.v2i2.26

Abstract

Penelitian ini mengkaji konsep pendidikan berdasarkan konsep al-Mau’idzah yang terdapat dalam beberapa ayat al-Qur'an, yaitu surah al-Nahl ayat 125, surah al-Baqarah ayat 232, surah al-Nisa ayat 34 dan 66, serta surah Yunus ayat 57. Al-Mau’idzah, secara etimologis, merujuk pada nasihat, pengajaran, atau bimbingan yang disampaikan dengan penuh hikmah dan kebijaksanaan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk merumuskan pemahaman mendalam tentang nilai-nilai pendidikan yang terkandung dalam ayat-ayat tersebut dan bagaimana nilai-nilai tersebut dapat diterapkan dalam konteks pendidikan moderen. Metode penelitian yang digunakan adalah analisis deskriptif terhadap ayat-ayat al-Qur'an yang relevan, dengan memanfaatkan pendekatan tafsir dan studi komparatif terhadap pandangan para ahli. Hasil analisis menunjukkan bahwa konsep al-Mau’idzah menekankan pentingnya pendidikan yang komprehensif, yang mencakup aspek spiritual, moral, dan intelektual. Dalam konteks ini, pendidikan diartikan sebagai proses menyampaikan nilai-nilai kehidupan yang dapat membentuk karakter dan moralitas individu secara menyeluruh. Penelitian ini menyoroti Implikasi konsep al-Mau’idzah dalam pengembangan teori dan praktik pendidikan Islam, hal ini mencakup penekanan pada pendekatan pendidikan yang berorientasi pada nilai-nilai, penguatan karakter, dan pembentukan kepribadian yang kuat. Dengan memahami konsep-konsep ini, pendidik dapat mengintegrasikan nilai-nilai al-Mau’idzah ke dalam kurikulum dan metode pengajaran untuk mencapai tujuan pendidikan yang holistik dan berkelanjutan dalam masyarakat kontemporer. Studi ini diharapkan dapat memberikan kontribusi penting dalam literatur pendidikan Islam, dengan memperluas wawasan tentang relevansi nilai-nilai al-Mau’idzah dalam membangun masyarakat yang lebih baik melalui pendidikan yang bermakna dan berdampak positif.