Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search
Journal : Pharmascience

Tanaman dengan Aktivitas Anti-Asma Muhammad Ikhwan Rizki; Lutfi Chabib; Akhmad Nabil; Baharudin Yusuf
Jurnal Pharmascience Vol 2, No 1 (2015): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v2i1.5807

Abstract

Abstrak            Asma merupakan gangguan inflamasi kronis pada saluran pernafasan ditandai episode berulang mengi, sesak nafas, sesak dada, dan batuk.  Berbagai sel inflamasi berperan terutama sel mast, eosinofil, sel limfosit T, makrofag, neutrofil dan sel epitel. Masyarakat di Indonesia turun temurun secara tradisional menggunakan bahan alam dalam mengatasi berbagai penyakit. Tanaman dapat menghasilkan metabolit sekunder yang memiliki banyak khasiat dalam mengatasi berbagai penyakit disebabkan adanya efek sinergisme antar senyawa metabolit sekunder dan polivalent activity, sehingga memungkinkan mengatasi berbagai penyakit. Berdasarkan hal tersebut, asma dapat diatasi dengan menggunakan bahan alam diantaranya Putri Malu (Mimosa pudica, Linn.), Kelor (Moringa oleifera), Jintan Hitam (Nigella sativa L.), Rumput Fatimah (Labisia pumila), Ciplukan (Physalis minima L), Senggugu (Clerodendrum  serratumat), Jeringau (Acorus gramineus), dan Sirih (Piper betle Linn.). Kata Kunci: Tanaman, Anti-Asma AbstractAsthma is a chronic inflammatory disorder of the airways characterized by recurrent episodes of wheezing, breathlessness, chest tightness, and coughing. Various inflammatory cells play a role, especially mast cells, eosinophils, T lymphocytes, macrophages, neutrophils and epithelial cells. Indonesia people used natural materials to overcome various diseases. Plants can produce secondary metabolites that have many benefits in addressing a variety of diseases caused by the synergism between the effects of secondary metabolites and polivalent activity, making it possible to overcome various diseases. Based on this, asthma can be overcome by using natural medicines including Putri Malu (Mimosa pudica, Linn.), Kelor (Moringa oleifera), Jintan Hitam (Nigella sativa L.), Rumput Fatimah (Labisia pumila), Ciplukan (Physalis minima L), Senggugu (Clerodendrum  serratumat), Jeringau (Acorus gramineus), Sirih (Piper betle Linn.) Keywords: Asthma, Plants
Formulasi Tablet Effervescent Ekstrak Lidah Buaya (Aloe vera) Lutfi Chabib; Oktavia Indrati; Muhammad Ikhwan Rizki
Jurnal Pharmascience Vol 2, No 1 (2015): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v2i1.5816

Abstract

Abstrak            Lidah buaya (Aloe vera) mengandung komponen seperti  acetylated mannans, polymannans, anthraquinone C-glycosides, anthrones, anthraquinones dan  berbagai jenis lectins. Komponen dalam lidah buaya yang bermanfaat sebagai laksatif adalah anthraquinon glycoside. Salah satu sediaan farmasi yang menarik adalah tablet effervescent, dimana bentuk sediaan ini mempunyai beberapa keuntungan, diantaranya adalah mudah untuk dikonsumsi dan bisa dikembangkan variasi rasa, sehingga diharapkan masyarakat dapat tertarik untuk mengkonsumsi sediaan lidah buaya dalam bentuk tablet effervescent. Tujuan penelitian ini yaitu mendapat formulasi optimum dari  tablet effervescent ekstrak lidah buaya. Lidah buaya dihaluskan lalu dimaserasi. Ekstrak lidah buaya diformulasi dalam empat bentuk formula yang berbeda dengan metode peleburan. Dilakukan pemeriksaan sifat fisik granul dan tablet yang terbentuk. Hasil penelitian menunjukkan lidah buaya (Aloe vera) dapat diformulasikan kedalam sediaan tablet  effervescent. Dari data evaluasi formulasi sediaan tablet effervescent lidah buaya (Aloe vera) yang paling baik untuk dibuat tablet effervescent yaitu formula I yang berisi granul ekstrak 150 mg, laktosa 1890 mg, asam sitrat 100 mg, asam tartat 300 mg, natrium bikarbonat 400 mg, PEG 6000 60 mg, aspartame 100 mg, dan pengaroma secukupnya. Kata Kunci: Aloe vera, tablet effervescent, formulasi AbstractAloe vera containing components such as acetylated mannans, polymannans, anthraquinone C-glycosides, anthrones, anthraquinones and various types of lectins. Components in aloe vera useful as laksatife is anthraquinon glycoside. One of the interesting pharmaceutical preparations is effervescent tablets, where has several advantages, is easy to take the variation flavors, so hopefully people can be interested to consume aloe vera preparations in the form of effervescent tablets. The purpose of this study was to get optimum formulation of Aloe vera effervescent tablets. Aloe vera is pulverized and then macerated. Aloe vera extract was formulated in six different formulas with fusion method. Then, physical properties of the granules and tablets were examinated. Results showed aloe (Aloe vera) could be formulated into effervescent tablets. The best formula for Aloe vera effervescent tablets was formula I which containing 150 mg of granule extract 150 mg, 1890 mg of lactose, 100 mg of citric acid, 300 mg of tartat acid, 400 mg of sodium bicarbonate, 60 mg of PEG 6000, 100 mg of aspartame, and flavor to taste. Keywords: Aloe vera, effervescent tablets, formulation  
Review Rheumatoid Arthritis: Terapi Farmakologi, Potensi Kurkumin dan Analognya, serta Pengembangan Sistem Nanopartikel Lutfi Chabib; Zullies Ikawati; Ronny Martien; Hilda Ismail
Jurnal Pharmascience Vol 3, No 1 (2016): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v3i1.5830

Abstract

 ABSTRAK  Rheumatoid arthritis  (RA) adalah  penyakit  autoimun  yang menyebabkan  peradangan  kronis  pada sendi. Penatalaksanaan RA harus agresif dan sedini mungkin sehingga mampu meningkatkan hasil jangka pendek maupun panjang penderita. Rheumatoid arthritis akibat reaksi autoimun dalam jaringan sinovial yang melibatkan proses fagositosis. Tujuan dari pengobatan rheumatoid arthritis tidak hanya mengontrol gejala penyakit, tetapi juga penekanan aktivitas penyakit untuk mencegah kerusakan permanen. Penderita RA memulai pengobatan mereka dengan DMARDs (Disease Modifying Anti-Rheumatic Drugs) seperti metotreksat, sulfasalazin dan leflunomid. Alternatif pengobatan yang dapat dijadikan salah satu pilihan dalam penanganan RA yaitu senyawa kurkumin dan analognya. Sistem nanopartikel mampu meningkatan efektifitas dalam pengobatan terutama keadaan RA. Kata kunci : rheumatoid arthritis, Disease Modifying Anti-Rheumatic Drugs, kurkumin, nanopartikel. ABSTRACT Rheumatoid arthritis (RA) is an autoimmune disease that causes chronic inflammation of the joints. Management of RA must be aggressive and as early as possible so as to increase the yield of short and long term patients. Rheumatoid arthritis due to an autoimmune reaction in the synovial tissue that involves the process of phagocytosis. The purpose of the treatment of rheumatoid arthritis not only control the symptoms of the disease, but also suppressed disease activity to prevent permanent damage. RA patients begin their treatment with DMARDs (Disease Modifying Anti-Rheumatic Drugs) such as methotrexate, sulfasalazine and leflunomid. Alternative treatments that can be used as an option in the treatment of RA are compounds curcumin and its analogs. Nanoparticle systems is able to increase the effectiveness in the treatment of RA, especially state. Keywords: rheumatoid arthritis, Disease Modifying Anti-Rheumatic Drugs, curcumin, nanoparticles.
Pengaruh Variasi Bahan Penghancur terhadap Sifat Fisikokimia dan Disolusi Tablet Aminofilin sebagai Terapi Asma Taufikurrahmi Taufikurrahmi; Hani’atul Kharimah; Hanida Destriana Fatmawati; Syarif Hidayatullah; Lutfi Chabib
Jurnal Pharmascience Vol 4, No 1 (2017): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v4i1.5759

Abstract

ABSTRAK Pembuatan tablet Aminofilin menggunakan metode granulasi basah dikarenakan memiliki sifat alir dan kompaktibilitas yang kurang baik. Granulasi basah memerlukan bahan penghancur agar formula tablet sangat berlawanan dengan fungsi bahan pengikat. semakin kuat daya ikat bahan pengikat maka dipilih bahan penghancur dengan daya hancur yang semakin besar. Konsentrasi dari bahan penghancur akan mempengaruhi kecepatan disintegrasi. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh dari konsentrasi bahan penghancur yaitu primojel yang digunakan terhadap kualitas tablet aminophilin yang dihasilkan. Pada penelitian akan dibuat sediaan tablet aminofilin dengan variasi bahan penghancur yaitu primojel. Dilakukan evaluasi granul seperti uji sifat alir serta evaluasi tablet seperti keseragaman bobot, ukuran, kandungan, kekerasan, kerapuhan, waktu hancur dan disolusi. Hasil yang diperoleh dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa formula tablet yang mengandung bahan penghancur pada formula I, formula II, Formula III menghasilkan tablet yang memenuhi persyaratan tablet yang baik. Kata Kunci: Aminofilin, Granulasi Basah, Variasi Primojel ABSTRAK Aminophylline tablet manufacturing using wet granulation method due to having flow properties and compactibility unfavorable. Wet granulation requires a shredder material that tablet formula is in contrast with the function of the binder. The stronger the power tie then selected binder material crushers with crushed greater power. The concentration of disintegrant will affect the speed of disintegration. The purpose of the study was to determine the effect of the concentration of primojel crushers are used to the quality of the resulting tablet aminophylline. The research will be made with a variety of aminophylline tablet dosage shredder material that is primojel. Test to evaluate the granules as flow properties and evaluation of tablets such as uniformity of weight, size, content, hardness, friability, disintegration time and dissolution. The results obtained from this study can be concluded that the formula tablets containing material crusher of formula I, Formula II, Formula III to produce a tablet that meets the requirements of a good tablet. Keywords: Aminophylline, Wet Granulation, Variation Primojel
Pengujian Toksisitas Seluler SNEDDS Ekstrak Daun Kangkung (Ipomoea reptans, Poir) Terstandar Lutfi Chabib; Farida Hayati; Rizki Awaluddin; Muh Iqbal Pangestu
Jurnal Pharmascience Vol 6, No 2 (2019): Jurnal Pharmascience
Publisher : Program Studi Farmasi FMIPA Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/jps.v6i2.7350

Abstract

ABSTRAK Kangkung darat (Ipomea reptans Poir) adalah salah satu tanaman di Indonesia yang secara empiris telah dimanfaatkan oleh masyarakat sebagai obat untuk terapi Diabetes Melitus (DM).  Riset sebelumnya telah dilakukan untuk memperoleh data ilmiah dari pemanfaatan kangkung darat sebagai terapi DM, dan pengembangannya dalam bentuk sediaan Self Nano Emulsifying Drug Delivery System (SNEDDS). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sitotoksisitas sediaan SNEDDS ekstrak daun kangkung terstandar dengan menggunakan metode MTT (Methyl-Thiazolyl-Tetrazolium). Pengujian MTT dilakukan dengan cara well plate diplotkan terlebih dahulu untuk sampel uji 70 sumuran (well), kontrol sel 6 sumuran, dan kontrol media 6 sumuran.  Terakhir tiap sumuran ditambahkan stopper SDS sebanyak 100µl. Plate dibungkus alumunium foil dan diinkubasi semalaman pada suhu ruang. Hari berikutnya dilakukan pembacaan absorbansi sampel, kontrol media, dan kontrol sel menggunakan ELISA reader. Uji sitotoksik SNEEDS kangkung pada sel vero diperoleh hasil bahwa SNEEDS kangkung tidak menyebabkan kematian pada sel uji. Pada pengujian sel dilakukan pemaparan sampel excipient dari SNEEDS kangkung sebagai pembanding, dengan hasil menyebabkan kematian <50% sel uji pada dua kadar tertinggi dari sampel excipient. Namun pada hasil uji SNEEDS kangkung diperoleh data bahwa toksisitas excipient pada kadar tersebut tidak mempengaruhi timbulnya toksisitas pada sampel SNEEDS kangkung. Sehingga berdasarkan uji in vitro, SNEEDS kangkung tidak toksik terhadap sel vero. Kata kunci: Ipomoea reptans, sitotoksisitas, SNEDDS  ABSTRACT Kangkong (Ipomea reptans Poir) is a type of Indonesian plant empirically utilized by many people to treat diabetes mellitus (DM). A study has been conducted to obtain scientific data from the use of kangkong for DM treatment as well as to develop kangkong in SNEDDS preparation. This current study aimed to examine the cytotoxicity of kangkong leaf standardized extract in SNEDDS preparation through the MTT (Methyl-Thiazolyl-Tetrazolium) method. MTT assay was performed by initially plotting well plates for test sample (70 wells), control cell (6 wells), and control medium (6 wells). As much as 100µl SDS stopper was added into each well, and then plates were wrapped in aluminum foil and incubated all night at ambient temperature. On the following day, the absorbance of test sample, control medium, and control cell was identified using ELISA reader. The cytotoxicity test of kangkong SNEDDS on Vero cell lines showed that kangkong SNEDDS did not cause cell death. The cell was tested through exposure of excipient sample from kangkong SNEDDS as a comparison, resulting in <50% cell death by the two highest concentrations of excipient sample. However, the test result of kangkong SNEDDS indicated that excipient toxicity at such concentrations did not affect kangkong SNEDDS. Therefore, based on in vitro test, kangkong SNEDDS is not toxic against Vero cell lines. Keywords: Ipomoea reptans, cytotoxicity, SNEDDS
Co-Authors Achmad Fachrodji Agenilia Permatasari Aghna Mafruha Zahrah, Aghna Mafruha Agus Santosa Agustina Setiawati Aji Winanta Akhmad Fauzy Akhmad Nabil Akhmad Nabil, Akhmad Ali Djamhuri Anggara Setyabawana Putra Aprianto . Aprianto Aprianto Arba Pramundita Ramadani Arifa Caryn Dea Utami Hasyono Arismunandar, Arif Asih Triastuti Baharuddin Yusuf Baharudin Yusuf Baruna, Renno Ramadhani Ika Cynthia Astiti Putri Dewi, Melynia Sintha Dimas Adhi Pradana Dzihni Meytasari Farah Deastasa Nabilah Ferdy Firmansyah Gandhi Barajana Vedha Gani, Michael Raharja Gelu, Maria Andriani Guanse, Yovi Hamzah, Hasyrul Hanida Destriana Fatmawati Hani’atul Kharimah Hannie Fitriani Hasnaeni hasnaeni, Hasnaeni Hastri Kholifah Hayati, Farida Herman Felani Hilda Ismail, Hilda Ipaenin, Jahiria Jenita Gandi, Brigita Tuelvin Kamarulzaman, Ezatul Ezleen Kholidah, Ziyyatul Kinanti, Valentina Putri Embun M. Pandoman febrian Maemonah, Maemonah Martien, Ronny Maulana Ardhi Mimiek Murrukmihadi Mufrod Mufrod Muh Iqbal Pangestu Muhammad Faisal Muhammad Ikhwan Rizki Muhammad Iqbal Pangestu Muhammad Safarullah Muhtadi, Wildan Khairi Muslim, M. Rifqi Fadillah Mutiara Herawati, Mutiara Muzakir, Mellisa Nurul Afifi Lobubun Oktavia Indrati, Oktavia Pramundita, Arba Putra, Prima Aulia Reihan Khairiati Renno Ramadhani Ika Baruna Ria Cahya Andriana Rini Dwiastuti Ririn Wulandari Rischi Dwi Irianti Rischi Dwi Irianti, Rischi Dwi Rizki Awaluddin Rizqi, Syifa Maulidia Rochmy Istikharah Ronny Martien Ronny Martien Samsul Hadi Siti Zahliyatul Munawiroh Suryani, Arman Syarif Hidayatullah Tamhid, Hady Anshory Taufikurrahmi Taufikurrahmi Trianloka, A. M. Bagas Tunny, Risman Uzulul Hikmah Wahyu, Imron Yandi Syukri Yosi Febrianti, Yosi Ziyyatul Kholidah