Claim Missing Document
Check
Articles

Bagaimana Guru Mendefinisikan Pengembangan Keaksaraan Awal Anak Usia Dini? Muis, Azizah; Susilana, Rudi; Rusman, Rusman
Jurnal Smart PAUD Vol 4, No 2 (2021): Edisi Juli 2021
Publisher : Jurusan PG-PAUD Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/jspaud.v4i2.18565

Abstract

Kemampuan keaksaraan awal adalah penanda utama dalam perkembangan membaca dan menulis konvensional yang terjadi di awal-awal tahun prasekolah. Keaksaraan awal secara alamiah dikuasai oleh anak dengan berbagai cara melalui kegiatan bermain. Bermain menuntun anak pada minat keaksaraan yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi pandangan guru Taman Kanak-kanak (TK) dalam memaknai keaksaraan awal anak usia dini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif berbasis metode studi kasus, dengan teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner terbuka. Guru mengungkapkan bahwa keaksaraan awal adalah istilah yang digunakan untuk menunjukkan kemampuan pra membaca dan pra menulis pada anak usia dini. Guru memiliki pandangan yang berbeda dalam menerapkan praktek keaksaraan awal di kelas, terutama terkait dengan latihan membaca permulaan. Meskipun guru setuju bahwa kegiatan bermain merupakan cara yang tepat untuk mengembangkan keaksaraan, namun tidak ada yang menyatakan bahwa bermain peran dapat dilakukan. Guru menyatakan mereka membangun kerjasama dengan orang tua dalam pengembangan keaksaraan awal untuk anak usia dini.
METODE PENCEGAHAN KEKAMBUHAN LUARAN REHABILITASI BERBASIS KEAGAMAAN DI MADRASAH TSANAWIYAH SERBA BAKTI SURYALAYA S, Nurhamzah C; Susilana, Rudi; Rusman, Rusman
EDUTECH Vol 20, No 3 (2021)
Publisher : Prodi Teknologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/e.v20i3.34964

Abstract

Problematika penyalahgunaan NAPZA merambah ke seluruh lapisan masyarakat Internasional termasuk Indonesia sampai tingkat yang menghawatirkan. Laporan BNN menyebutkan, 70 % pengguna narkoba adalah pelajar. Pemerintah dan swasta bahu membahu melakukan pencegahan dan penanggulangan penyalahgunaan NAPZA termasuk mencegah kekambuhan.  Tujuan artikel untuk memproleh data tentang metode pencegahan kekambuhan penyalahgunaan NAPZA  di MTs Serta Bakti Suryalaya.  Desain penelitian adalah deskripsi kualitatif dengan melalui wawancara mendalam dengan kepala madrasah, wakil kepala, guru, tenaga pendidik dan kajian teoritik dari jurnal atau artikel dan bahan bacaan lainnya yang mendukung sebagai teknik pengumpulan datanya. Teknik analisis data dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan sampai selesai di lapangan dengan mengacu pada model analisis interaktif Miles dan Huberman dengan langkah-langkah: data collection, data reduction, data display, dan conclusion (drawing/verivying) dan pengujian keabsahan data menggunakan triangulasi Creswell.  Hasil penelitian menunjukan metode pencegahan kekambuhan yang dilakukan di MTs Serba Bakti Suryalaya dengan menggunakan metode terapi, yakni 1) metode terapi kognitif perilaku (Cognitive Behavior Therapy) dengan mengoptimalkan peran guru BP;  2) terapi religi / spiritual dengan menjalankan kegiatan keagamaan khususnya amaliah TQN,  dan 3) terapi air (hydro therapy) yakni terapi mandi taubat. Disarankan untuk peneliti berikut dapat meneliti yang berhubungan dengan dampak dari metode-metode tersebut terhadap penyembuhan pecandu NAPZA.
PERAN IMPLEMENTASI KURIKULUM DALAM MENINGKATKAN RELIGIUSITAS MAHASISWA Susilana, Rudi; Ihsan, Helli; Hadiapurwa, Angga
TARBAWY : Indonesian Journal of Islamic Education Vol 7, No 2 (2020): November 2020
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (324.785 KB) | DOI: 10.17509/t.v7i2.26853

Abstract

Abstract. The religiosity of students on campus tends to decrease during their education on campus because of the secularization of knowledge on campus. Thus, the role of the campus is very important in increasing student’s religiosity. The religiosity of students can be influenced by the campus by developing religious courses such as Islamic Religious Education and also through scientific courses that are widely studied in religious contexts. The problem is the extent to which the ability of scientific lecturers to study religious knowledge in the context of science which is taught in the course. This research uses narrative and explanatory analysis. The result of this research is that there is no curriculum that has been studied in detail and comprehensively in public universities in the world so that religiosity becomes the core basis for the preparation.Abstrak. Religiositas mahasiswa di kampus cenderung mengalami penurunan selama menjalani pendidikan di kampus karena sekulerisasi keilmuan yang diajrkan di kampus. Peran kampus dengan demikian sangat penting dalam meningkatkan religiositas mahasiswa. Religisositas mahasiswa bisa dipengaruhi oleh kampus dengan cara mengembangkan mata kuliah keagamaan seperti Pendidikan Agama Islam dan juga bisa melalui mata kuliah keilmuan yang banyak mengkaji keilmuan itu dalam konteks keagamaan. Problermnya adalah sejauhmana kemampuan dosen dalam mengkaji ilmu agama dalam konteks keilmuan yang diajarkannya dalam mata kuliah. Penelitian ini menggunakan analisis naratif dan eksplanatori. Hasil penelitian ini adalah bahwa belum ada kurikulum yang dikaji secara detail dan komprehensif pada universitas umum di dunia ini agar religiositas menjadi dasar inti dalam penyusunan tersebut.
ANALISIS KEBUTUHAN PENGEMBANGAN MODEL "MODULAR INTERACTIVE TUTORIAL" 111 UNTUK MATA KULIAH PEMBELAJARAN BERBASIS KOMPUTER Rudi Susilana
MAJALAH ILMIAH PEMBELAJARAN No 1 (2006): Jurnal Majalah Ilmiah Pembelajaran Edisi Mei 2006
Publisher : MAJALAH ILMIAH PEMBELAJARAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.942 KB)

Abstract

Modular Interactive Tutorial (Mff) merupakan modul praktikuln yangberisi langkah-langkah desain program pembelajaran denganmenggunakan action script tertentu yang dilengkapi dengan pentunjukpenge~jaan (tutorial) secara sistematis. Modul elektronik ini diranca'1guntuk digunakan sebagai suplemen dalam perkuliahan Pembelaj aranBerasas Komputer yang dikembangkan di Program Studi Tekr.ologiPendidikan Universitas Pendidikan Indonesia.Analisis kebutuhan ini merupakan langkah awal dalam rangkaia11kegiatan penelitian yang dilakukan (tahun/tahap pertama). Peoelitiansecara lengkap akan dilakukan selama dua tahun/ tahap dengarbantiian Hibah Pekerti dari Direktorat Jendral Pendidikan ·Tinggibekerja sama dengan Teknologi Pendidikan Universitas NegeriMalang.Hasil analisis kebutuhan menunjukkan bahwa MIT dinyatakan scbag:~isuatu program/ software pembelajaran yang dapat membantumahasiswa dalam memahami materi perkuliahan yang diberikandosen, meningkatkan kegiatan be la jar mandiri, dan meningkatkan hasi Ibelajar mahasiswa.
Digital Literacy Curriculum in Elementary School Rizal Kailani; Rudi Susilana; Rusman Rusman
Teknodika Vol 19, No 2 (2021): Teknodika
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/teknodika.v19i2.51784

Abstract

Advances in technology and information have an impact on the ease and abundance of various information resources that are obtained digitally and are not limited so that all levels of education need to adapt to technological advances including elementary schools in managing curriculum and learning. The purpose of this research is to find out how digital literacy is in elementary schools. The research method uses a systemic literature review by analyzing 15 relevant articles on digital literacy in elementary schools and 10 article about curriculum digital literacy. Research findings show that the digital literacy curriculum is carried out by integrating digital literacy in all areas of the school. In the implementation of learning, elementary school students still consider the teacher as the only source of information. Therefore, it is necessary to have a collaborative role between teachers, principals and parents in integrating digital literacy in learning and overcoming something unwanted. Digital literacy in elementary schools places more emphasis on media literacy in learning which has an impact on interactive and collaborative learning, one of which is video, stop-motion and social media. Indirectly digital literacy can improve student learning outcomes.
Desain kurikulum mikro sustainable development goals di sekolah menengah pertama Annisa Fitri; Rudi Susilana
Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia Vol 7, No 1 (2021): Jurnal EDUCATIO: Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Indonesian Institute for Counseling, Education and Therapy (IICET)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29210/120212936

Abstract

The implementation of values of sustainable development is an important requirement to prepare future generations.Seeing these needs, it is necessary to design a micro curriculum on sustainable development values. Researchers analyzed the perceptions of 241 science teachers in West Java about the urgency of SD (Sustainable Development) indicators into content that students must learn. The topic of waste pollution and renewable energy are the chosen materials to be studied. Teacher's perception of the urgency of the material indicators can be said to be homogeneous. After that, the researcher made a content design for implementing this curriculum. Three validators who are experienced science teachers provide a constructive evaluation of the content and learning evaluation components.Learning evaluation is expected to be varied by including non-test components to achieve SD competence which emphasizes psychomotor and affective aspects.This curriculum content design already has goals that are in accordance with the expected sustainable development competencies, but the material content and evaluation components need further development.
Can microlearning strategy assist students’ online learning? Rudi Susilana; Laksmi Dewi; Gema Rullyana; Angga Hadiapurwa; Nanda Khaerunnisa
Jurnal Cakrawala Pendidikan Vol 41, No 2 (2022): Cakrawala Pendidikan (June 2022)
Publisher : LPMPP Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/cp.v41i2.43387

Abstract

The development of information and communication technology leads to the need for learning concepts and strategies following current conditions. In the higher education system, it is essential that educators must carefully consider the learning strategies of students' learning styles and cognitive loads. This study explores how microlearning strategies are applied to online learning to minimize students' cognitive load. It applies a qualitative approach by involving 45 students in the student mobility program who volunteered to participate in the research process. The data were collected through questionnaires, interviews, and document analysis of student learning outcomes. They were then validated by triangulation and analyzed by following an interactive data analysis model on applying microlearning strategies in online learning. The results showed that microlearning is an effective strategy to minimize students' cognitive load in online learning, including intrinsic, extraneous, and germane ones. The implementation of microlearning strategies in online learning eases students to understand the material; students are more flexible in learning because its strategy allows students to decide their readiness to learn. This strategy enables students to manage the unproductive cognitive load and stimulate the germane cognitive load. Hence, their learning outcomes fall into the nearly excellent category.
KESIAPAN CALON GURU SEKOLAH DASAR PADA PELAKSANAAN KURIKULUM DALAM KONDISI KHUSUS Angga Hadiapurwa; Rudi Susilana; Rusman Rusman
PEDAGOGIA Vol 19, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/pdgia.v19i2.35096

Abstract

AbstrakImplementasi kurikulum saat pandemi Covid-19 merujuk pedoman pelaksanaan kurikulum pada satuan pendidikan dalam kondisi khusus. Pedoman tersebut diterbitkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan melalui surat keputusan. Dalam pelaksanaan kurikulum dalam kondisi khusus, atau sering disebut penyederhanaan kurikulum harus tetap memperhatikan ketercapaian kompetensi dan kebutuhan pembelajaran peserta didik. Artikel ini bertujuan mengkaji bagaimana persepsi calon guru sekolah dasar tentang dokumen pedoman pelaksanaan kurikulum dalam kondisi khusus, serta bagaimana tingkat kesiapan dalam persiapan implementasinya. Metode penelitian menggunakan studi survey, dengan pendekatan kuantitatif. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner persepsi dan evaluasi diri. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa sumber informasi tentang pelaksanaan kurikulum dalam kondisi khusus sebagian besar calon guru mengetahui dari media masa online. Selanjutnya tingkat pemahaman calon guru tentang pedoman pelaksanaan kurikulum dalam kondisi khusus termasuk kategori sangat baik. Namun tingkat kesiapan pelaksanaanya masih dalam kategori kurang siap. Berdasarkan hasil tersebut, maka perlu adanya pembekalan lebih lanjut kepada calon guru terkait dengan kesiapan dalam melaksanakan kurikulum pada kondisi khusus.AbstractCurriculum implementation during the Covid-19 pandemic refers to curriculum implementation guidelines in educational units under special conditions. The guidelines are issued by the Minister of Education and Culture through a decree. In implementing the curriculum in special conditions, or often called curriculum simplification, it must still pay attention to the achievement of competencies and learning needs of students. This article aims to examine the perception of prospective elementary school teachers regarding the curriculum implementation guide document in special conditions, as well as how the level of readiness in preparation for its implementation. The research method uses a survey study, with a quantitative approach. The instrument used is a questionnaire of perceptions and self-evaluation. The results of this study indicate that the source of information about the implementation of the curriculum under special conditions is that most prospective teachers know from the online mass media. Furthermore, the level of understanding of prospective teachers about curriculum implementation guidelines in special conditions is included in the very good category. However, the level of readiness for implementation is still in the less ready category. Based on these results, it is necessary to provide further debriefing to prospective teachers related to readiness in implementing the curriculum in special conditions.
PEMBINAAN PENGEMBANGAN KURIKULUM MERDEKA BERBASIS BEST PRACTICES PROGRAM SEKOLAH PENGGERAK Rudi Susilana; Asep Herry Hernawan; Angga Hadiapurwa; Nanda Khaerunnisa Syafitri; Lien Halimah; Hafsah Nugraha
JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol 29, No 1 (2023): JANUARI-MARET
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jpkm.v29i1.39161

Abstract

Kurikulum merdeka sedang ramai dibicarakan saat ini. Terlebih lagi sebagai salah satu upaya untuk memulihkan pembelajaran pasca pandemi. Pengembangan kurikulum seyogianya diharapkan terarah secara holistik, berbasis kompetensi, kontekstual, dan personalisasi. Kurikulum merdeka ini diharapkan sama terarah demikian. Berkenaan dengan upaya pelaksanaan kurikulum merdeka ini, pemerintah telah melaksanakan program sekolah penggerak, sebagai pilot project pengembangan program-program sekolah sebagai upaya menuju pelaksanaan kurikulum merdeka ini. Saat ini belum banyak sekolah yang melaksanakan program sekolah penggerak, berdasarkan hal tersebut program pengabdian ini berupaya untuk melaksanakan pembinaan pengembangan kurikulum merdeka berbasis best practices program sekolah penggerak. Diharapkan sekolah yang telah melaksanakan program sekolah penggerak dapat mendiseminasikan dan juga berkolaborasi dengan Program Studi Pengembangan Kurikulum UPI untuk membina sekolah yang belum melaksanakan program sekolah penggerak.Kata kunci: Kurikulum Merdeka, Pengembangan Kurikulum, Pilot project, Sekolah PenggerakAbstractThe independent curriculum is being discussed at this time as an effort to restore learning after the pandemic. Curriculum development should be directed holistically, competency-based, contextual, and personalized. The independent curriculum expected will have the same direction. Concerning the effort to implement this independent curriculum, the government has implemented a “Sekolah Penggerak” program as a pilot project for the development of school programs as an effort toward implementing this independent curriculum. Currently, there are not many schools that implement “Sekolah Penggerak” program. Based on this, this service program seeks to develop an independent curriculum based on the best practices of the “Sekolah Penggerak” program. It is expected that schools that have implemented “Sekolah Penggerak” program can disseminate and collaborate with the UPI Curriculum Development Study Program to foster schools that have not implemented it.Keywords: Curriculum Development, Independent Curriculum, Pilot Project, Sekolah Penggerak
THE DEVELOPMENT OF STRATEGIC MODEL OF CLASSROOM MANAGEMENT BASED ON MIND STYLES AND ACADEMIC ACHIEVEMENT OF STUDENT’S EDUCATIONAL ADMINISTRATION STUDY PROGRAM AT UPI Aceng Muhtaram Mirfani; Rudi Susilana
Jurnal Administrasi Pendidikan Vol 17, No 1 (2020): APRIL 2020
Publisher : Universitas Pendidikan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jap.v27i1.24394

Abstract