Claim Missing Document
Check
Articles

SEHAT BERAWAL DARI PIKIRAN Dr. Lina Meilinawati Rahayu, M.Hum.
Jurnal Sosioteknologi Vol. 16 No. 3 (2017)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2017.16.3.9

Abstract

Siapa yang tak kenal Mahatma Gandhi, pemimpin spiritual dan politikus dari India yang memelopori gerakan antikekerasan untuk melawan ketidakadilan. Gerakan yang dipelopori Gandhi menginspirasi para aktivis demokrasi dan antirasisme. Ajaran-ajarannya dia katakan sangat sederhana, yaitu: kebenaran dan antikekerasan. Dua hal sederhana ini, menjadi tidak lagi sederhana karena "nafsu" manusia. Ajaran tersebut juga tercermin dalam bukunya yang berjudul A Guide to Health, yaitu tentang bagaimana menjadi sehat. Gandhi berusaha membuka mata pembacanya dengan menunjukkan bahwa alam sudah menyediakan segalanya.  Manusia dapat memanfaatkan sesuai kebutuhannya. Filosofi sederhana ini tidak mudah diikuti karena manusia tidak mengikuti hukum alam yang dengan tindakannya mengundang berbagai penyakit.
MENULIS: MENUANGKAN KECERDASAN Dr. Lina Meilinawati Rahayu, M.Hum.
Jurnal Sosioteknologi Vol. 17 No. 3 (2018)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2018.17.3.11

Abstract

Kutipan di atas menunjukkan bahwa menulis bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi Murakami mengawali dengan penjelasan bahwa keseluruhan proses menulis "“duduk di depan meja, memfokuskan pikiran seperti sinar laser, membangun imajinasi dari kekosongan, mengarang cerita, memilih kata yang tepat satu demi satu, mempertahankan seluruh alur tetap pada jalur"”membutuhkan energi yang jauh lebih banyak, untuk jangka waktu yang lama, dari yang dibayangkan orang kebanyakan (What I Talk About When I Talk About Running, 2008). Dengan kata lain, menulis adalah proses yang kompleks dan sebuah tulisan yang baik merupakan hasil dari semua kompleksitas itu.
KOPI PRIANGAN: PENGUKUHAN IDENTITAS MELALUI BUDAYA NGOPI DAN BERMEDSOS (MEDIA SOSIAL) Lina Meilinawati Rahayu; Ritma Fakhrunnisa; Safrina Noorman
Jurnal Sosioteknologi Vol. 18 No. 3 (2019)
Publisher : Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/sostek.itbj.2019.18.3.8

Abstract

Tulisan ini membahas konstruksi identitas kopi Priangan dan bagaimana kopi Priangan dikonsumsi dan dipopulerkan melalui media sosial. Kopi Priangan menjadi populer di kalangan penggemar kopi ketika harganya melambung di kancah perkopian internasional. Popularitas ini berdampak pada penghadiran kopi Priangan di kedai kopi di Jawa Barat, dalam hal ini di Bandung dan Jatinangor. Di kedua tempat ini ngopi di kedai kopi telah menjadi gaya hidup para mahasiswa yang bersekolah di sana. Tulisan ini memeriksa bagaimana kopi Priangan dikonsumsi dan dihidupkan kembali dalam wacana kopi yang telah turut membangun gerakan budaya baru di daerah tersebut. Budaya baru berkopi ini dianggap mengandung interaksi kompleks yang memuat dikotomi lokal-global dan/atau lama-baru. Melalui kuesioner yang dibagikan di kafe-kafe dan wawancara kelanjutannya, ditemukan bahwa gerakan budaya berkopi sebagai gaya hidup tidaklah menguatkan identitas yang ajeg bagi kopi Priangan. Gaya hidup dengan ngopi ternyata tidak serta merta melahirkan penggemar kopi. Oleh karena itu, untuk membangungidentitas kopi Priangan yang lebih ajeg, para pengopi perlu"dididik". Selain itu, peran sosial media perlu dioptimalkan untuk mengangkat dan menyadarkan adanya vatian kopi lokal, khususnya kopi Priangan.  ABSTRACTThis article discusses the identity construction of Priangan coffee and how it is reflected in the way it is consumed as part of a lifestyle and is later popularized via the social media. Priangan coffee has gained popularity among coffee enthusiasts as it was valued at a higher price in comparison to other Indonesian local coffee. The renewed interest has brought the coffee to the many coffee shops in West Java, in particular Bandung and Jatinangor, where going to coffee shops becomes part of the university students living there. The article looks into the way (or ways) Priangan coffee is consumed and revamped in the coffee discourse which might have partly constituted a new cultural movement in the area. The new culture surrounding coffee is assumed to contain complex interactions of dichotomies such as local-global and given-new. Through questionnaires distributed in coffee shops in Bandung and Jatinangor and interviews that follow, it was found that the cultural movement built around the idea of coffee as part of a new life lifestyle has not strengthened a solid identity for Priangan coffee. Going to coffee shops has become part of a lifestyle which does not necessarily lead to the making coffee enthusiasts. Therefore, there is a need to "educate" coffee goers and to optimize the role played by social media in developing awareness on the local coffee variants, especially Priangan coffee.Tulisan ini membahas konstruksi identitas kopi Priangan dan bagaimana kopi Priangan dikonsumsi dan dipopulerkan melalui media sosial. Kopi Priangan menjadi populer di kalangan penggemar kopi ketika harganya melambung di kancah perkopian internasional. Popularitas ini berdampak pada penghadiran kopi Priangan di kedai kopi di Jawa Barat, dalam hal ini di Bandung dan Jatinangor. Di kedua tempat ini ngopi di kedai kopi telah menjadi gaya hidup para mahasiswa yang bersekolah di sana. Tulisan ini memeriksa bagaimana kopi Priangan dikonsumsi dan dihidupkan kembali dalam wacana kopi yang telah turut membangun gerakan budaya baru di daerah tersebut. Budaya baru berkopi ini dianggap mengandung interaksi kompleks yang memuat dikotomi lokal-global dan/atau lama-baru. Melalui kuesioner yang dibagikan di kafe-kafe dan wawancara kelanjutannya, ditemukan bahwa gerakan budaya berkopi sebagai gaya hidup tidaklah menguatkan identitas yang ajeg bagi kopi Priangan. Gaya hidup dengan ngopi ternyata tidak serta merta melahirkan penggemar kopi. Oleh karena itu, untuk membangungidentitas kopi Priangan yang lebih ajeg, para pengopi perlu"dididik". Selain itu, peran sosial media perlu dioptimalkan untuk mengangkat dan menyadarkan adanya vatian kopi lokal, khususnya kopi Priangan.  ABSTRACTThis article discusses the identity construction of Priangan coffee and how it is reflected in the way it is consumed as part of a lifestyle and is later popularized via the social media. Priangan coffee has gained popularity among coffee enthusiasts as it was valued at a higher price in comparison to other Indonesian local coffee. The renewed interest has brought the coffee to the many coffee shops in West Java, in particular Bandung and Jatinangor, where going to coffee shops becomes part of the university students living there. The article looks into the way (or ways) Priangan coffee is consumed and revamped in the coffee discourse which might have partly constituted a new cultural movement in the area. The new culture surrounding coffee is assumed to contain complex interactions of dichotomies such as local-global and given-new. Through questionnaires distributed in coffee shops in Bandung and Jatinangor and interviews that follow, it was found that the cultural movement built around the idea of coffee as part of a new life lifestyle has not strengthened a solid identity for Priangan coffee. Going to coffee shops has become part of a lifestyle which does not necessarily lead to the making coffee enthusiasts. Therefore, there is a need to "educate" coffee goers and to optimize the role played by social media in developing awareness on the local coffee variants, especially Priangan coffee.
Konsep Manunggaling Kawula Gusti Pada Puisi-Puisi Sapardi Djoko Damono Heri Isnaini; Aquarini Priyatna; Lina Meilinawati Rahayu; Muhamad Adji
IdeBahasa Vol 1 No 2 (2019): Jurnal Ide Bahasa
Publisher : Asosiasi dosen IDEBAHASA KEPRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (752.539 KB)

Abstract

ABSTRACT This article discusses the depiction of the concept of manunggaling kawula Gusti in Sapardi Djoko Damono’s poetry. The concept of manunggaling kawula Gusti is discussed based on metaphors arise from diction and meaning of poetry. The discussion of the metaphor will refer to the concept of the sign arisen in the structure of the poetry based on Pierce’s concept of representamen, object, and interpretant. In addition, how the signs relate to other texts and their relationship with the Javanese mysticism as part of the Islam-Javanese ideology are perused. Therefore, this article offers a comprehensive discussion of the Manunggaling kawula Gusti concept that is embodied in the metaphor of divine love that is described through emptiness, emptiness, and oneness. Keywords: Manunggaling kawula Gusti, Metaphor, Semiotics, Poetry ABSTRAK Artikel ini membahas penggambaran konsep manunggaling kawula Gusti pada puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono. Konsep manunggaling kawula Gusti tersebut akan dibahas berdasarkan metafora yang dibangun melalui diksi dan makna di dalam puisi. Pembahasan metafora tersebut akan mengacu pada konsep tanda yang dibangun di dalam struktur puisi-puisinya. Teori yang digunakan adalah teori semiotika Pierce, yakni dengan membahas representament, object, dan interpretant. Di samping itu, akan dilihat juga keterkaitan tanda-tanda tersebut dengan teks-teks lain serta hubungannya dengan gagasan mistikisme Jawa sebagai bagian dari ideologi Islam-Jawa. Dengan demikian, artikel ini menawarkan pembahasan komprehensif mengenai konsep Manunggaling kawula Gusti yang diwujudkan dalam metafora cinta ilahi yang dideskripsikan melalui kekosongan, kesunyataan, dan kemanunggalan. Kata Kunci: Manunggaling kawula Gusti, Metafora, Semiotika, Puisi
WAJAH INDONESIA PASCAPROKLAMASI (1945—1950) MELALUI KUMPULAN CERPEN MENUJU KAMAR DURHAKA KARYA UTUY TATANG SONTANI Ritma Fakhrunnisa; Lina Meilinawati Rahayu; Muhamad Adji
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 8 No 2 (2017): Arkhais: Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (498.529 KB) | DOI: 10.21009/ARKHAIS.082.01

Abstract

Kondisi masyarakat Indonesia pada pascarevolusi (1945-1950) berada di titik tersuram dalam sejarah Indonesia. Kondisi tersebut tergambarkan dalam cerpen-cerpen Utuy Tatang Sontani yang dikumpulkan oleh Ajip Rosidi dalam kumpulan cerpen Menuju Kamar Durhaka. Topik utama yang dibahas dalam tulisan ini berkaitan dengan perubahan sosial-budaya dalam kumpulan cerpen tersebut. Berdasarkan topik tersebut, digunakanlah teori perubahan sosial-budaya dan masalah sosial dari Soerjono Soekanto dan New Historicism Stephen Greenblatt. Dari hasil analisis data, teks-teks sastra dan nonsastra, ditemukan adanya perubahan sosial-budaya dalam masyarakat Indonesia pascaproklamasi. Perubahan yang paling dasar adalah perubahan perspektif masyarakat dalam memandang kedudukan tentara dan perempuan. Perubahan perspektif itu pun menimbulkan masalah sosial, seperti perceraian, pelacuran, dan kekerasan dalam rumah tangga. Kata kunci: revolusi kemerdekaan Indonesia, new historicism, Menuju Kamar Durhaka
IDEOLOGI PADA SAJAK “PROLOGUE” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO Heri Isnaini; Aquarini Priyatna; Lina Meilinawati Rahayu; Muhamad Adji
Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10 No 1 (2019): Arkhais - Jurnal Ilmu Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : Program Studi Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini membahas ideologi pada sajak "Prologue" karya Sapardi Djoko Damono. Pembahasan ideologi difokuskan pada aspek-aspek tanda yang terdapat pada sajak tersebut. Pada penelitian ini, ideologi diejawantah berdasarkan relasi tanda yang muncul sebagai bagian dari representasi yang mewakili sesuatu yang lain. Tanda-tanda yang akan dianalisis mengacu pada teori Semiotika yang dikemukakan oleh Pierce, yakni dengan melihat ikon, indeks, dan simbol. Representasi terhadap tanda ini akan merujuk pada makna yang ada pada keseluruhan sajak. Selain itu, pembahasannya akan diperkuat dengan intertekstualitas yang terdapat pada sajak dengan melihat keterkaitannya dengan teks lain.
The Narrator's Perception of Homosexual in Catetan Poean Rere By Ai Koraliati And My Cousin Is Gay By Lia Indra Andriana Zulfikar Alamsyah; Lina Meilinawati Rahayu; Teddi Muhtadin
Budapest International Research and Critics Institute (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Vol 5, No 1 (2022): Budapest International Research and Critics Institute February
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i1.3987

Abstract

The purpose of this study is to reveal the narrator's perception of homosexuality and the ideology contained in the Noveletet Catetan Poéan Réré and the teenlit Novelet My Cousin is Gay. The method used in this research is descriptive analytic. Reading and taking notes are the data collection techniques of this study. The data processing technique used is data triangulation. The results of this study indicate that there are eight perceptions of the narrator towards homosexuals, namely homosexuality as a disgrace that must be hidden, a wrong deed, a disease that must be cured, a person who is strange or not in general, a difficult life to live, a bad person, a trial that given by God, and one's life choices that must be respected. There are two ideologies in Catetan Poéan Réré's Noveletet, namely the ideology of conservatism and the ideology of theism. Likewise in the teenlit Novelet My Cousin is Gay which has two ideologies, namely the ideology of conservatism and the ideology of liberalism. The conclusion in this study is that negative perceptions of homosexual behavior are more dominant in both literary works. The ideologies in the Noveletet Catetan Poéan Réré have a close correlation because the two ideologies try to maintain heterosexuality in their society. The author and the narrator have the same voice in addressing homosexual behavior. While the ideology in the teenlit Novelet My Cousin is Gay has no correlation. The author and several characters in the story have a conservatism ideology that tries to maintain heteronormativity. This is contrary to the ideology of liberalism that appears in the middle of the story through the narrator's point of view. Therefore, the writer and narrator in this Novelet do not have the same voice in dealing with homosexuals.
BENTUK DRAMATIK DAN BENTUK EPIK SEBAGAI PEMBEDA POLA PENCERITAAN TEKS DRAMA Lina Meilinawati Rahayu; Aquarini Priyatna; Resa Restu Pauji
Al-Tsaqafa : Jurnal Ilmiah Peradaban Islam Vol 13, No 02 (2016): Al-Tsaqafa: Jurnal Ilmiah Peradaban Islam
Publisher : Fakultas Adab dan Humaniora UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/al-tsaqafa.v13i02.1976

Abstract

Tulisan ini membahas dua naskah drama Matahari di Sebuah Jalan kecil (1963) dan Sandek Pemuda Pekerja (1979) karya Arifin C. Noer. Kedua naskah drama ditampilkan melalui bentuk dramatik dan epik. Naskah drama Matahari di Sebuah Jalan kecil (1963) ditampilkan dalam bentuk dramatik, sedangkan naskah drama Sandek Pemuda Pekerja (1979) ditampilkan dalam bentuk epik. Bentuk epik tersebut merupakan rumusan dari pemikiran Brecht sebagai bentuk penolakan terhadap bentuk dramatik Aristoteles. Pada naskah drama Matahari di Sebuah Jalan kecil (1963) ini, bentuk dramatik penggambaran para isu lebih diutamakan. Bentuk dramatik membawa emosi pembaca ikut hanyut dalam cerita. Sedangkan dalam naskah drama Sandek Pemuda Pekerja (1979) isu ditampilkan dalam kerangka epik. Hal tersebut dilakukan supaya pembaca menjadi kritis dan tidak ikut hanyut dalam cerita
REPRESENTASI GAYA HIDUP DAN TRADISI MINUM KOPI DALAM KARYA SASTRA Muhamad Adji; Lina Meilinawati Rahayu
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 11, No 3 (2019): PATANJALA VOL. 11 NO. 3, September 2019
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (548.869 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v11i3.523

Abstract

Artikel ini bertujuan menunjukkan bagaimana minum kopi sebagai tradisi dan gaya hidup ditampilkan dalam karya sastra. Objek penelitian ini adalah cerpen berjudul “Filosofi Kopi” karya Dee (Dewi Lestari). Cerpen ini membicarakan budaya minum kopi pada masyarakat urban dan masyarakat rural di Indonesia. Dalam artikel ini digunakan teori representasi Stuart Hall. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif analitis. Dari hasil penelitian diperoleh kesimpulan sebagai berikut: (1) cerpen “Filosofi Kopi” menampilkan budaya minum kopi dalam dua representasi,  yaitu kopi sebagai gaya hidup dan kopi sebagai tradisi. (2) Representasi minum kopi sebagai gaya hidup diperlihatkan dari cara kaum urban memproduksi citra tertentu melalui aktivitas minum kopi. Sementara itu, minum kopi sebagai tradisi diperlihatkan dari cara masyarakat rural memaknai kopi sebagai bagian yang melekat dalam kehidupan keseharian mereka yang sederhana. Teks cerpen ini juga menunjukkan keberpihakan secara ideologis terhadap citra minum kopi sebagai tradisi, sebagai wacana yang perlu disuarakan di tengah masifnya citra minum kopi sebagai gaya hidup. This article aims to show how drinking coffee as a tradition and lifestyle is featured in literary works. The object of this research is a short story entitled "Philosophy of Coffee" by Dee (Dewi Lestari). This short story discusses the culture of drinking coffee in both urban and rural communities in Indonesia. Using Stuart Hall's theory of representation with descriptive analytical method the results of the study concluded that: (1) the short story "Philosophy of Coffee" displays the culture of drinking coffee in two representations, namely coffee as both a lifestyle and a tradition. (2) Representation of drinking coffee as a lifestyle is shown in the way urbanites produce certain images through coffee drinking activities. Meanwhile, drinking coffee as a tradition is shown by the way rural people interpret coffee as an inherent part of their simple daily lives. The text of this short story also shows ideological leaning towards the image of drinking coffee as a tradition, as a discourse that needs to be voiced in the midst of the massive image of drinking coffee as a lifestyle.
REPRESENTASI “PEREMPUAN MATANG” DALAM MAJALAH PESONA (FEMINA GROUP) INDONESIA Lina Meilinawati Rahayu
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 10, No 3 (2018): PATANJALA Vol. 10 No. 3, September 2018
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.91 KB) | DOI: 10.30959/patanjala.v10i3.376

Abstract

Tulisan ini menganalisis bagaimana “kematangan” perempuan ditampilkan melalui artikel-artikel dalam majalah Pesona. Majalah Pesona adalah majalah perempuan yang mengkhususkan diri pada segmen pembaca perempuan 35 tahun ke atas dengan mengusung motto: Life, Inspiration, Passion. Yang menjadi objek penelitian adalah artikel-artikel antara tahun 2010 sampai dengan tahun 2016. Dalam rentang waktu ini akan dianalisis bagaimana perempuan matang direpresentasikan dalam rubrik-rubrik yang dibahas.. Dari hasil analisis ditemukan bahwa artikel-artikel dalam majalah Pesona mengomunikasikan: representasi kematangan dalam menentukan pilihan, representasi kematangan emosi, representasi perempuan mandiri, berhasil, dan inspiratif, serta representasi problematika usia matang. Selain itu, motto majalah Pesona terejawantah dalam setiap artikelnya. Motto “life” diwakili oleh artikel-artikel yang membahas dan mengajak untuk mengisi dan menikmati hidup serta membuat hidup lebih penuh makna. Motto “inspiration” diwujudkan oleh artikel-artikel yang membahas berbagai hal yang dapat menginspirasi: mulai dari mode busana sampai makanan. Motto “Passion” diwujudkan dalam artikel yang membahas keberhasilan karena konsistensi pada passion yang dipilih.This paper analyzes how the "maturity" of women is displayed through articles in Pesona magazine. The Pesona Magazine is a women's magazine specializing in women readers segment 35 years and above.. Enchantment carries the motto: Life, Inspiration, Passion as an identity for "established" women who are no longer looking for identity. As for the object of research are articles between the years 2010 to 2016. In the 6-year warsa will be analyzed how the mature woman is represented in the rubrics discussed. From the analysis results found: representation of maturity in determining choice, representation of emotional maturity, independent woman representation, succeed, and inspiration, and representation of maturity problematika. Besides, motto in magazine “Pesona” is manifested in the articles. The motto of ‘Life’ is represented by the articles which persuade the readers to fill, enjoy and also make the life more meaningful. Motto of ‘inspiration’ which written in the articles contain various things which inspire the readers: from fashion to food. Motto of ‘passion’ is manifested in the articles which contains all success accomplished due to the consistency and passion chosen.