Claim Missing Document
Check
Articles

The POTENSI BAKTERI ASAM LAKTAT Lactobacillus fermentum DIISOLASI DARI IKAN BILIH ( Mystacoleucus padangensis ) DANAU SINGKARAK TERHADAP PERFORMA PRODUKSI DAN PENURUNAN KOLESTROL PUYUH PETELUR Setya Prima, Heppy; Susalam, Malikil Kudus; Fajri, Fadhli; Maulana, Fajri; Yansen, Fatridha
Jurnal Peternakan Borneo Vol. 3 No. 2 (2024): Jurnal Peternakan Borneo
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jpb.v3i2.36

Abstract

Bakteri Asam Laktat (BAL) akhir-akhir ini menjadi salah satu bagian dari pokok pembahsan bidang kesehatan, industri makanan, sains,.peternakan, pertanian. Penggunaan beberapa jenis BAL ini diketahui mempunyai manfaat yang  sangat bagus bagi ternak atau pada beberapa bahan pangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi antara dosis dan lama pemberian probiotik asal Ikan Bilih (M. padangensis) Danau Singkarak dalam mempengaruhi performa produksi dan menurunkan kadar kolesterol kuning telur puyuh. Metode yang digunakan adalah pemberian probiotik hasil isolasi kepada puyuh petelur menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) pola Faktorial 4 x 4 dengan 3 kali ulangan sesuai faktor A (dosis probiotik) dan faktor B (lama pemberian). Dosis probiotik yang diberikan adalah 0, 1, 2 dan 3 %, sedangkan lama pemberian adalah 10, 20, 30 dan 40 hari. Hasil menunjukkan pengaruh yang nyata (P<0,01) pada masing-masing faktor beserta nilai terbaik dimana pemberian dosis probiotik dan lama pemberian berpengaruh terhadap konversi ransum (17,11gr) pemberian dosis 3% dengan lama pemberian 30 hari, Produksi telur (73,88 %) pemberian dosis 3% dengan lama pemberian 20 hari, Berat telur (13,40 gr) pemberian dosis 3% dengan lama pemberian 20 hari, konversi ransum (2,21) pemberian dosis 3% dengan lama pemberian 30 hari dan kolestrol kuning telur (50,30 mg /dL) pemberian dosis 3% dengan lama pemberian 40 hari. Hasil menunjukkan terdapat interaksi antara dosis probiotik dan lama pemberian terhadap performa produksi dan penurunan kadar kolesterul puyuh petelur.
Evaluasi Penggunaan Bungkil Sawit Fermentasi dalam Ransum Puyuh Petelur Maulana, Fajri; Fajri, Fadhli; Febrina, Bunga Putri; Sandri, Dwi; Susalam, Malikil Kudus; Agasi, Satri Yusasra; Prima, Heppy Setya
Jurnal Peternakan Vol 22, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v22i1.35353

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penggunaan bungkil sawit fermentasi (BSF) dengan Lentinus edodes dalam ransum terhadap performa puyuh petelur. Metode yang digunakan adalah experimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan adalah penambahan BSF dalam ransum yaitu 0%, 5%, 10%, 15% dan 20%. Parameter yang diukur adalah konsumsi ransum, produksi telur harian, berat telur, massa telur dan konversi ransum. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan BSF memberikan pengaruh berbeda tidak nyata (P>0,05) terhadap konsumsi ransum, produsi telur, berat telur, massa telur dan konversi ransum. Kesimpulan penelitian ini adalah penggunaan bungkil sawit yang difermentasi dengan Lentinus edodessebagai pakan alternatif hingga level 20% dalam ransum dapat mengurangi penggunaan jagung 20,83%; bungkil kedelai 53,85% dan dedak padi 50,00% yang memberikan performa sama dengan kontrol sehingga bisa dijadikan pakan alternatif untuk mengatasi fluktuatif dan menggurangi cost pakan. Pada penelitian ini diperoleh hasil terbaik yaitu perlakuan E dengan konsumsi ransum 20,17 g/ekor/hari, produksi telur 85,29%, berat telur 10,86 g/butir, massa telur 8,64 g/ekor/hari dan konversi ransum 2,32.Kata kunci: Bungkil sawit, fermentasi, Lentinus edodes, performa puyuhEvaluation of the Use of Fermented Palm Kernel Meal in Laying Quail RationsABSTRACT. This study was conducted to determine the effect of using palm kernel meal fermented with Lentinus edodes in feed rations on the performance of laying quails. The method used was an experimental design with a completely randomized design (CRD) consisting of 5 treatments and 4 replications. The treatments were 0%, 5%, 10%, 15%, and 20% fermented palm kernel meal (FPKM). The parameters measured were feed consumption, daily egg production, egg weight, egg mass and feed conversion. The results showed that the use of FPKM had no significant effect (P>0.05) on feed consumption, egg production, egg weight, egg mass, and feed conversion. The conclusion of this study is that the use of palm kernel meal fermented with Lentinus edodes as an alternative feed up to a level of 20% in the ration can reduce the use of corn by 20.83%, soybean meal by 53.85%, and rice bran by 50.00%, while maintaining performance equivalent to the control. Thus, it can be used as an alternative feed to address fluctuations and reduce feed costs. The best results in this study were obtained from treatment E, with a feed consumption of 20.17 g/bird/day, egg production of 85.29%, egg weight of 10.86 g/egg, egg mass of 8.64 g/bird/day, and a feed conversion ratio of 2.32.Keywords: Palm kernel meal, fermentation, Lentinus edodes, quail performance.
PENGARUH DOSIS PEREKAT TERHADAP KANDUNGAN NUTRIENT RANSUM AYAM PETELUR BERBENTUK PELET Fadhli Fajri; Fajri Maulana; Bunga Putri Febrina; M. Riswandi
AGRIBIOS Vol 21 No 2 (2023): November
Publisher : Program Studi Agribisnis Fakultas Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36841/agribios.v21i2.3707

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis perekat terhadap kandungan nutrient ransum ayam petelur berbentuk pelet. Penelitian ini menggunakan metode eksperimental menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan dan 4 ulangan. Perlakuan yang digunakan yaitu: perlakuan A: ransum tanpa perekat tepung tapioka (kontrol), B: ransum + perekat tepung tapioka 1,5%, C : ransum + perekat tepung tapioka 3,0%, D: ransum + perekat tepung tapioka 4,5% dan E: ransum + perekat tepung tapioka 6,0 %. Peubah yang diamati adalah Kadar Air (%), Protein Kasar (%), Lemak Kasar (%) dan Serat Kasar (%). Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan dosis perekat yang berbeda berpengaruh sangat nyata (P<0,01) terhadap Kadar Air (%) dan berpengaruh tidak nyata (P>0.05) terhadap kandungan Protein Kasar (%), Lemak Kasar (%) dan Serat Kasar (%). Kesimpulan dari penelitian ini adalah dosis perekat tapioka terbaik pada pembuatan pelet ransum ayam petelur adukan adalah 3% dengan kandungan kadar air 10,29 %, kandungan protein kasar 16,61%, lemak kasar 3,52% dan serat kasar 5,64%.
REVIEW: PEMANFAATAN BIJI KARET SEBAGAI PAKAN UNGGAS Agasi, Satri Yusasra; Maulana, Fajri; Fajri, Fadhli; Febrina, Bunga Putri; Sandri, Dwi; Setya Prima, Heppy; Susalam, Malikil Kudus; Amran , Muhammad
Jurnal Peternakan Borneo Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Peternakan Borneo
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Politeknik Negeri Tanah Laut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34128/jpb.v4i1.47

Abstract

Pemanfaatan biji karet (Hevea brasiliensis) sebagai bahan pakan unggas merupakan salah satu upaya untuk mengurangi ketergantungan pada bahan pakan konvensional seperti jagung dan bungkil kedelai. Biji karet memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi, dengan protein kasar sebesar 18–25%, lemak kasar 40–50%, serta asam amino esensial seperti lisin dan metionin. Namun, kandungan senyawa toksik berupa asam sianida (HCN) pada biji karet mentah menjadi kendala utama dalam penggunaannya. Penelitian menunjukkan bahwa pengolahan melalui fermentasi, terutama dengan mikroba seperti Aspergillus niger dan Saccharomyces cerevisiae, mampu menurunkan kadar HCN hingga lebih dari 90%, sekaligus meningkatkan kecernaan dan kestabilan nutrisi. Penggunaan biji karet fermentasi dalam ransum unggas pada level 5–15% terbukti tidak menurunkan performa produksi, tidak menimbulkan efek toksik pada organ, dan tidak memengaruhi kualitas produk ternak. Dari sisi ekonomi, biji karet fermentasi berpotensi menurunkan biaya pakan secara signifikan. Oleh karena itu, biji karet yang telah diolah secara tepat dapat menjadi alternatif pakan lokal unggas yang aman, bergizi, dan ekonomis, terutama bagi peternakan rakyat di daerah penghasil karet. Dukungan teknologi dan kebijakan diperlukan untuk mengoptimalkan pemanfaatannya secara luas dan berkelanjutan.
Effect of Fermented Local Feed on Egg Quality of Laying Quail Agasi, Satri Yusasra; Maulana, Fajri
Jurnal Biologi Tropis Vol. 25 No. 3 (2025): Juli-September
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v25i3.9230

Abstract

Improving feed efficiency through local resources is essential for sustainable quail production. This study aimed to evaluate the effect of fermented local feed on the egg quality of laying quail. A randomized block design (RBD) was used, consisting of four treatments with four replications: RA (100% commercial feed/control), RB (90% commercial + 10% fermented local feed), RC (80% + 20%), and RD (70% + 30%). Data were analyzed using ANOVA followed by Duncan’s multiple range test. The results showed that the substitution of commercial feed with fermented local feed had no significant effect (P>0.05) on yolk index, albumen index, and eggshell thickness, but significantly improved yolk color (P<0.01). At weeks 7–8, values were: yolk index 0.504 ± 0.014, yolk color 5.65 ± 0.66, albumen index 0.071 ± 0.010, and eggshell thickness 0.209 ± 0.014. At weeks 12–13, values were: yolk index 0.488 ± 0.208, yolk color 5.70 ± 0.48, albumen index 0.075 ± 0.006, and eggshell thickness 0.205 ± 0.010. It is concluded that up to 30% of commercial feed can be replaced with fermented local feed without compromising egg quality. This finding supports the utilization of local feed resources in quail farming and offers a cost-effective alternative to commercial diets.
SOSIALISASI PEMANFAATAN LIMBAH ORGANIK SEBAGAI SOLUSI PERTANIAN SIRKULAR DI PESANTREN AN-NAJAH CINDAI ALUS PUTRA KABUPATEN TANAH LAUT KALIMANTAN SELATAN Maulana, Fajri; Febrina, Bunga Putri; Yardani, Jesi; Agasi, Satri Yusasra; Fajri, Fadhli; Yaman, Hafiz Ibnu; Naim, Dimas Amin; Adnan, Muhammad
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 8 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i8.2729

Abstract

Unmanaged food waste generated by students and the high cost of agricultural production due to dependence on chemical fertilizers are two major problems faced by Pesantren An-Najah Cindai Alus Putra, Tanah Laut Regency, South Kalimantan. This community service activity aimed to increase the awareness and knowledge of students at Pesantren An-Najah Cindai Alus Putra regarding the use of organic waste as part of a circular agriculture system. Socialization was carried out for 45 students using interactive lectures and educational media, such as PowerPoint presentations, leaflets, and infographics. The materials covered the concept of circular agriculture, the use of food waste as fermented feed for quails, and the utilization of quail feces as raw material for organic fertilizer. Evaluation was conducted through pre-tests and post-tests to assess changes in participants' understanding. The results showed a significant increase in understanding, with an average score improvement of more than 75% in each assessed aspect. These findings demonstrate that contextual and participatory socialization is effective as an initial step in developing an integrated waste management system within the pesantren environment. This activity serves as a vital foundation for the development of sustainable circular agriculture. Going forward, technical training and continuous mentoring are needed to enable pesantren to implement this concept independently and consistently over the long term.
Pengaruh Penambahan Berbagai Jenis Sumber Karbon dalam Fermentasi Daun Indigofera (Indigofera zollingeria) terhadap Peningkatan Nutrisi Agasi, Satri Yusasra; Maulana, Fajri
Jurnal Peternakan Vol 22, No 2 (2025): September 2025
Publisher : State Islamic University of Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jupet.v22i2.35489

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh penambahan berbagai jenis sumber karbohidrat dalam fermentasi daun indigofera (Indigofera zollingeria) terhadap peningkatan nutrisi. Fermentasi merupakan salah satu cara untuk meningkatkan nutrisi, mikroorganisme yang berpotensi digunakan yaitu Bacillus amyloliquefaciens karena memiliki kemampuan untuk menghasilkan enzim selulase yang berperan dalam penurunan kandungan serat kasar dan enzim protease yang dapat meningkatkan kandungan nutrisi. Metode penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL), 4 perlakuan dengan 5 ulangan. Variasi perlakuan yaitu: A: 100% daun Indigofera, B: 80% daun Indigofera dan 20% dedak padi, C: 80% daun Indigofera dan 20% ampas tahu dan D: 80% daun Indigofera dan 20% kulit singkong.  Peubah yang dilihat pada penelitian ini adalah energi metabolisme (kkal/kg), lemak kasar (%) dan serat kasar (%). Hasil penelitian ini menunjukan dengan berbagai jenis sumber karbohidrat meliputi dedak padi, ampas tahu dan kulit singkong dalam fermentasi daun Indigofera dengan Bacillus amyloliquefaciens menunjukan pengaruh berbeda nyata (P<0,05) terhadap kandungan nutrisi baik itu energi metabolisme, lemak kasar dan serat kasar. Kesimpulan dari penelitian ini adalah fermentasi daun Indigofera dengan Bacillus amiloliquefaciens memerlukan sumber karbohidrat sebagai sumber karbon berupa kulit singkong atau dedak padi sehingga diperoleh penurunan serat kasar dan peningkatan nutrisi yang optimal. Kata kunci: Bacillus amyloliquefaciens, fermentasi, karbohidrat, Indigofera, dedak padi, ampas tahu, kulit singkong.Effects of Various Carbohydrate Sources on Nutritional Enhancement during the Fermentation of Indigofera (Indigofera zollingeria) LeavesABSTRACT. This study was conducted to investigate the effect of supplementing various carbohydrate sources in the fermentation of Indigofera (Indigofera zollingeria) leaves on nutritional enhancement. Fermentation is a viable approach to improve the nutritional quality of feed ingredients. A potential microorganism for this process is Bacillus amyloliquefaciens, which is capable of producing cellulase enzymes that reduce crude fiber content, as well as protease enzymes that contribute to increasing the overall nutrient content. The study employed an experimental approach using a Completely Randomized Design (CRD) with four treatments and five replications. The treatment variations were as follows: A: 100% Indigofera leaves; B: 80% Indigofera leaves and 20% rice bran; C: 80% Indigofera leaves and 20% tofu dregs and D: 80% Indigofera leaves and 20% cassava peel. The observed variables included metabolizable energy (kcal/kg), crude fat (%), and crude fiber (%). The results demonstrated that the inclusion of different carbohydrate sources namely rice bran, tofu dregs, and cassava peel in the fermentation of Indigofera leaves using Bacillus amyloliquefaciens had a significant effect (P<0.05) on all measured nutritional parameters, including metabolizable energy, crude fat, and crude fiber. This study concludes that the fermentation of Indigofera leaves with Bacillus amyloliquefaciens necessitates the addition of carbohydrate sources such as cassava peel or rice bran as carbon providers, resulting in an optimal reduction in crude fiber and improvement in nutritional content
Pengaruh Umur Panen Berbeda terhadap Kandungan Nutrisi dan Analisa Kelayakan Usaha Jangkrik Alam Budidaya di Kalimantan Selatan Maulana, Fajri; Fajri, Fadli; Febrina, Bunga Putri; Ali, Abdul Muta; Jannah, Noor; Norazizah, Seftia
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 25 No 2 (2023): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jpi.25.2.194-205.2023

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui umur panen optimal dilihat dari kandungan nutrisi (bahan kering, protein kasar, lemak kasar, serat kasar dan total abu) dan analisa kelayakan usaha jangkrik alam di Kalimantan Selatan. Penelitian ini menggunakan jangkrik alam yang dipelihara dari telur sebanyak 500 gram/kotak pemeliharaan sampai umur 35 hari. Kotak pemeliharan jangkrik alam pada penelitian ini berukuran 180 x 112 x 56 cm yang terbuat dari triplek dan berjumlah 4 buah. Pakan yang digunakan adalah BR 1 Wonokoyo, batang pisang dan daun singkong. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan rancangan yaitu rancangan acak lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan yaitu: A = Pemanenan jangkrik alam hari ke-31, B = Pemanenan jangkrik alam hari ke-32, C = Pemanenan jangkrik alam hari ke-33, D = Pemanenan jangkrik alam hari ke-34, E = Pemanenan jangkrik alam hari ke-35 dengan 4 kali ulangan. Parameter yang diamati adalah kandungan bahan kering, protein kasar, lemak kasar, serat kasar, abu total dan analisa kelayakan usaha jangkrik alam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa umur panen jangkrik alam memberikan pengaruh berbeda nyata (P≤0,05) terhadap kandungan bahan kering dan lemak kasar serta berbeda sangat nyata (P<0.01) terhadap protein kasar, namun berbeda tidak nyata (P≥0,05) terhadap kandungan serat kasar dan total abu. Dari hasil penelitian ini disimpulkan bahwa umur pemanenan jangkrik alam yang optimal dilihat dari kandungan nutrisi yaitu hari ke-35 dengan kandungan nutrisi yaitu bahan kering 92,61%, protein kasar 60,99%BK, lemak kasar 17,99 %BK, serat kasar 5,18 %BK dan total abu 5,70 %BK.
Kendala Pengembangan Ternak Sapi Potong di Kenagarian Batang Gasan Kecamatan Batang Gasan Kabupaten Padang Pariaman Afrijon, Afrijon; Andika, Romi; Maulana, Fajri
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 25 No 2 (2023): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jpi.25.2.222-232.2023

Abstract

Tujuan penelitian adalah untuk mengevaluasi kendala pengembangan ternak sapi potong di Kenagarian Batang Gasan Kecamatan Batang Gasan Kabupaten Padang Pariaman. Metode penelitian dilakukan dengan metode survey. Responden penelitian ini adalah peternak sapi potong yang berada di Kenagarian Batang Gasan, Kecamatan Batang Gasan, Kabupaten Padang Pariaman, sebanyak 74 orang. Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis kuantitatif dengan pembahasan secara desktiptif. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa ada beberapa kendala dalam penggembangan ternak sapi potong di Kenagarian Batang Gasan Kecamatan Batang Gasan Kabupaten Padang Pariaman yaitu ketersediaan lahan hijauan (peternak hanya mengandalkan rumput liar), keterbatasan sarana dan prasarana seperti mesin potong rumput dan chopper, belum menerapkan formulasi ransum berdasarkan kebutuhan ternak, pakan yang diberikan tidak sesuai fisiologis ternak dan minimnya penerapan IPTEK terutama teknologi pakan seperti silase dan fermentasi hijauan.
Pengaruh Sex Ratio dan Umur Induk Itik Bayang Terhadap Fertilitas, Daya Tetas dan Mortalitas Embrio Jefri, P. N; Kusuma, Rudi; Ardiyanto, Daviq; Syafrizal, Syafrizal; Zulkarnaini, Zulkarnaini; Andika, Romi; Maulana, Fajri
Jurnal Peternakan Indonesia (Indonesian Journal of Animal Science) Vol 26 No 1 (2024): Jurnal Peternakan Indonesia
Publisher : Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jpi.26.1.1-9.2024

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh sex ratio dan umur induk itik Bayang terhadap fertilitas, daya tetas dan mortalitas embrio. Penelitian ini menggunakan 216 ekor itik Bayang, dimana 189 ekor betina dan 27 ekor jantan dengan umur 72 ekor itik umur 6-9 bulan, 72 ekor itik umur 10-13 bulan dan 72 ekor itik umur 14-17, yang ditempatkan pada 27 flock dengan perbandingan sex ratio 1:6, 1:7 dan 1:9. Itik bayang dipelihara selama 14 hari, pada hari ke 12, 13 dan 14 telur itik diambil untuk ditetaskan dengan menggunakan mesin tetas semi otomatis. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan pola faktorial terdiri dari 3 level faktor A (sex ratio) dan 3 level faktor B (umur induk). Parameter yang diukur adalah fertilitas dan daya tetas dan mortalitas embrio. Hasil penelitian menunjukan tidak terdapat interaksi (P>0,05) antara sex ratio dan umur induk itik Bayang terhadap fertilitas, daya tetas dan mortalitas embrio. Faktor A (sex ratio) berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap fertilitas, namun tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap daya tetas dan mortalitas embrio. Faktor B (umur induk) berpegaruh nyata (P<0,05) terhadap daya tetas dan mortalitas embrio, namun tidak berpengaruh nyata terhadap fertilitas telur. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa sex ratio dan umur induk yang baik untuk menghasilkan telur yang bagus adalah 1:5 dan umur induk 14-17 bulan untuk mendapatkan fertilitas dan daya tetas telur yang tinggi serta mortalitas embrio yang rendah.