Claim Missing Document
Check
Articles

Manajemen Terapi Pada Anak Dengan Anemia Defisiensi Zat Besi : Studi Telaah Pustaka tampubolon, nurhannifah rizky; Tampubolon, Masrina Munawarah
Jurnal Kesehatan Ilmiah Aufa Royhan Vol 6 No 1 (2021): Vol. 6 No. 1 Juni 2021
Publisher : Universitas Aufa Royhan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51933/health.v6i1.399

Abstract

ABSTRAK Anak-anak yang mengalami anemia kekurangan zat besi (Iron Deficiency Anemia /IDA) berdampak pada proses tumbuh kembang dan berpengaruh terhadap perkembangan neurologisnya. Studi ini bertujuan untuk menambah pemahaman terkait intervensi kesehatan yang dapat dilakukan pada anak dengan IDA. Studi telaah pustaka ini dilakukan dengan menyusun pertanyaan klinis dan melakukan penelusuran artikel ilmiah di pubmed sehingga ditemukan 3 artikel ilmiah yang paling sesuai. Hasil studi telaah pustaka menunjukkan bahwa intervensi kesehatan pada anak dengan IDA membutuhkan pendekatan melalui unit emergency untuk selanjutnya diberikan manajemen terapi seperti micronutrient powder (MNP) dengan dosis berdasarkan hasil pengkajian anak. Manajemen terapi pada anak dengan IDA dapat berjalan optimal dengan melibatkan orangtua atau adanya dukungan keluarga.
Mother’s experience in providing complementary food to stunted children Putri, Syeptri Agiani; Novayelinda, Riri; Indriati, Ganis; Zukhra, Ririn Muthia; Amir, Yufitriana; Tampubolon, Nurhannifah Rizky; Delfitri, Meri
JNKI (Jurnal Ners dan Kebidanan Indonesia) (Indonesian Journal of Nursing and Midwifery) Vol 12, No 2 (2024)
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/jnki.2024.12(2).135-150

Abstract

Background: Stunting is a condition of growth failure in children resulting from malnutrition for a long time since the first 1000 days of life. One of the factors causing stunting is chronic malnutrition so that children have a small height for their age. This stunting condition will have an impact on children's health, such as impaired brain development, cognitive development, growth faltering, and low immune system. Stunting treatment is carried out starting from the first 1000 days of a child’s life until the child is 6 years old. Providing complementary food is also one of the specific nutritional interventions in the program to accelerate stunting management. Complementary food has an important role in improving the quality of health in order to optimize children's growth and development from the age of 6 months. Objectives: This research aims to explore mothers experience in providing complementary food to stunted children.Methods: This research uses a qualitative method with a descriptive phenomenological design. Participants were selected using purposive sampling techniques, resulting in 6 participants. The research data was analyzed thematically using the Colaizzi method. Results: This research found themes, namely: 1) The mother's feelings when the child was first discovered to be stunted, 2) The causes of stunting, 3) The age at which the child was discovered to be stunted, 4) History of complementary food, 5) Handling of stunting, 6) Support in caring for the child with stunting. Conclusions: Knowledge about mothers' experiences in providing MP-ASI to stunted children will help to determine appropriate interventions to improve the quality of life for stunted children. Education about giving complementary food to children with stunting conditions must be optimized to reduce the incidence of stunting in children in Indonesia, especially in Riau. 
Reproductive Health Literacy Among Adolescents in Pekanbaru: A Cross- Sectional Study Masrina Munawarah Tampubolon; Nurhannifah Rizky Tampubolon; Niken Yuniar Sari; Arneliwati Arneliwati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52882

Abstract

Reproductive health literacy is a foundational element in promoting sustainable public health, particularly among adolescents. Despite its importance, global and national studies consistently report low literacy levels in this domain. This cross-sectional study aimed to assess the reproductive health literacy of junior high school students in Pekanbaru, Indonesia, with a specific focus on gender-based disparities. A total of 323 students were purposively selected and surveyed using a highly reliable instrument adapted from the Health Literacy Measure for Adolescents (HELMA), which evaluates five key domains: accessing, reading, understanding, appraising, and applying health information. Findings revealed that 91.02% of respondents fell into the “inadequate” literacy category, with no participants achieving an “excellent” level. Gender analysis showed that 95.04% of male and 87.91% of female students were classified as having inadequate literacy, while only 3.72% reached a “sufficient” level. Although female students exhibited slightly higher proportions in the “problematic” and “sufficient” categories, the overall literacy remained critically low across both genders. Domain-specific analysis indicated stronger conceptual understanding among adolescents but significant weaknesses in functional and critical literacy skills. This study contributes novel insights by documenting lower literacy levels than previously reported in national and international contexts, and by offering a detailed breakdown across literacy domains. The results underscore the urgency of implementing targeted, domain-based, and gender-sensitive educational interventions. Furthermore, the findings advocate for a locally grounded, collaborative approach involving schools, healthcare providers, families, and digital media to cultivate a supportive information ecosystem that empowers adolescents in making informed reproductive health decisions.
Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Tingkat Kecemasan Anak Usia Prasekolah Yang Menjalani Hospitalisasi Tiara Asyifa Putri; Riri Novayelinda; Nurhannifah Rizky Tampubolon
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.480

Abstract

Pendahuluan: Hospitalisasi adalah pengalaman anak saat menjalani suatu proses perawatan dan tinggal di rumah sakit karena alasan kesehatan atau keadaan darurat sampai anak pulang ke rumah kembali. Tujuan: Penelitin bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat kecemasan anak usia prasekolah yang menjalani hospitalisasi, meliputi usia, jenis kelamin, lama rawat, pengalaman hospitalisasi, serta perilaku caring perawat. Metode: Penelitian ini menggunakan desain deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 126 responden yang diambil menggunakan teknik purposive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner Caring Profesional Scale (CPS) dan Spence Children’s Anxiety Scale Parent Report (SCAS) yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya Analisis yang digunakan menggunakan uji Chi-Square. Hasil: Hasil analisis uji chi-square, diperoleh nilai p value < α (0,05) yang menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara faktor lama rawat (0,008), usia (0,043), pengalaman hospitalisasi (0,001), serta perilaku caring perawat (0,000). Namun jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan yang signifikan (0,721). Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa usia, lama rawat, pengalaman hospitalisasi, dan perilaku caring perawat berhubungan dengan tingkat kecemasan, sedangkan jenis kelamin tidak menunjukkan hubungan yang signifikan.
PAKET EDUKASI HIDUP SEHAT “MINUM YANG CUKUP UNTUK ANAK CEMERLANG” DAN PEMERIKSAAN WARNA URIN SEBAGAI SKRINNING SEDERHANA UNTUK KEADEKUATAN MINUM PADA ANAK USIA SEKOLAH Syeptri Agiani Putri; Riri Novayelinda; Yufitriana Amir; Juniar Ernawaty; Ganis Indriati; Ririn Muthia Zukhra; Nurhannifah Rizky Tampubolon
Community Development Journal : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 6 (2024): Vol. 5 No. 6 Tahun 2024
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/cdj.v5i6.38911

Abstract

Pendahuluan: Air merupakan komponen penting bagi tubuh manusia, yang berperan dalam berbagai fungsi vital, termasuk menjaga keseimbangan cairan tubuh, mengatur suhu tubuh, dan mendukung fungsi organ. Kebutuhan cairan yang cukup sangat penting, terutama bagi anak-anak usia sekolah yang sedang dalam masa pertumbuhan dan aktivitas fisik yang tinggi. Dehidrasi pada anak sekolah dapat menyebabkan gangguan konsentrasi, penurunan daya tahan tubuh, kelelahan, dan dampak negatif lainnya terhadap kesehatan serta prestasi belajar. Oleh karena itu, penting untuk memberikan edukasi tentang pentingnya hidrasi yang cukup guna mencegah dehidrasi dan mendukung kesehatan anak-anak di sekolah. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa dan kebiasaan hidrasi melalui edukasi menggunakan media PowerPoint dan buku saku di SDN 166 Sri Meranti, Kecamatan Rumbai, Pekanbaru. Metode: Kegiatan pengabdian masyarakat ini melibatkan 30 siswa kelas 4 yang mengikuti edukasi dan skrining warna urin. Penilaian dilakukan melalui pre-test dan post-test dengan kuesioner serta pengukuran kepekatan warna urin sebelum dan sesudah edukasi. Hasil: Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor pengetahuan siswa dari 67,33 pada pre-test menjadi 71,67 pada post-test. Skrining urin juga menunjukkan penurunan rata-rata kepekatan warna urin dari 3,7 menjadi 3,1, yang mencerminkan perbaikan kebiasaan hidrasi siswa. Kesimpulan: Edukasi menggunakan media powerpoint dan buku saku efektif dalam meningkatkan pengetahuan dan kebiasaan minum air putih siswa. Program ini memberikan dampak positif pada kesehatan dan konsentrasi belajar siswa, serta mendorong pembentukan pola hidup sehat dengan cukup minum air putih.
Pengaruh Permainan Piring Sehat Terhadap Pengetahuan Tentang Gizi Seimbang Pada Remaja Resti Saputri; Nurhannifah Rizky Tampubolon; Ganis Indriati
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.496

Abstract

Remaja merupakan kelompok yang rentan mengalami masalah gizi akibat kurangnya pengetahuan mengenai pemilihan makanan yang sesuai dengan prinsip gizi seimbang. Media edukasi yang interaktif diperlukan untuk membantu meningkatkan pemahaman remaja mengenai konsep tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh permainan piring sehat terhadap peningkatan pengetahuan remaja tentang gizi seimbang. Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain quasy experiment menggunakan pendekatan pretest–posttest with control group design. Sampel adalah remaja berjumlah 82 responden, terdiri dari 41 responden pada kelompok eksperimen dan 41 responden pada kelompok kontrol, yang dipilih menggunakan teknik random sampling. Analisis yang digunakan adalah bivariat menggunakan Uji Wilcoxon dan Uji Mann-Whitney. Hasil penelitian diperoleh hasil terdapat peningkatan pengetahuan yang signifikan setelah diberikan intervensi permainan piring sehat (p < 0,05). Uji Mann-Whitney juga menunjukkan perbedaan signifikan tingkat pengetahuan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol setelah intervensi (p < 0,05). Permainan piring sehat efektif dalam meningkatkan pengetahuan remaja mengenai gizi seimbang dapat dijadikan sebagai alternatif media edukasi kesehatan yang menarik dan interaktif.
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Ketergantungan Activity Daily Living (ADL) Pada Lansia Penderita Rheumatoid Arthritis Septina Aulia Putri; Arneliwati Arneliwati; Nurhannifah Rizky Tampubolon
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.520

Abstract

Latar Belakang: Rheumatoid arthritis merupakan penyakit autoimun kronis yang sering dialami oleh lansia dan ditandai dengan peradangan sendi, nyeri, serta kekakuan yang dapat menyebabkan keterbatasan fisik. Kondisi ini berpotensi menurunkan kemampuan lansia dalam melakukan Activity Daily Living (ADL) sehingga meningkatkan tingkat ketergantungan. Dukungan keluarga berperan sebagai sumber daya eksternal yang penting dalam membantu lansia beradaptasi dengan keterbatasan fisik dan mempertahankan kemandirian fungsional. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat ketergantungan Activity Daily Living (ADL) pada lansia penderita rheumatoid arthritis. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 61 lansia penderita rheumatoid arthritis yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dukungan keluarga dan Indeks Barthel untuk menilai tingkat ketergantungan ADL. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 60–74 tahun (54,1%), berjenis kelamin perempuan (70,0%), tidak bekerja (55,7%), berpendidikan terakhir sekolah dasar (39,3%), dan tinggal bersama anak (60,7%). Sebagian besar responden menderita rheumatoid arthritis selama 3–5 tahun (47,5%). Berdasarkan variabel dukungan keluarga, sebanyak 41,0% responden memperoleh dukungan keluarga kategori sedang, sedangkan berdasarkan tingkat ketergantungan ADL, sebanyak 39,3% responden mengalami ketergantungan ringan. Analisis bivariat menunjukkan nilai p = 0,003 (< 0,05) yang menandakan adanya hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan tingkat ketergantungan Activity Daily Living (ADL). Kesimpulan: Dukungan keluarga berhubungan secara signifikan dengan tingkat ketergantungan Activity Daily Living (ADL) pada lansia penderita rheumatoid arthritis dan berperan dalam mempertahankan kemampuan fungsional lansia.
Faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis pada anak usia sekolah di wilayah lahan basah : Factors related to the incidence of dermatitis in school-age children in wetland areas Dinda Wulandari; Nurhannifah Rizky Tampubolon; Ririn Muthia Zukhra
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 8 No. 1 (2025): JUNI 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i1.387

Abstract

Dermatitis merupakan peradangan kulit yang umum terjadi pada anak usia sekolah, terutama di wilayah dengan sanitasi rendah seperti lahan basah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan kejadian dermatitis pada anak usia sekolah di wilayah lahan basah. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasi dengan pendekatan potong lintang. Sampel terdiri dari 102 anak usia 6–12 tahun yang dipilih dengan teknik purposive sampling berdasarkan kriteria inklusi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner terstruktur sebanyak 28 item yang telah teruji validitas dan reliabilitasnya. Analisis dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square dengan tingkat signifikansi 0,05. Sebanyak 64 responden (62,7%) mengalami dermatitis. Terdapat hubungan yang bermakna antara kejadian dermatitis dengan sanitasi lingkungan (p<0,001), personal hygiene (p<0,001), dan riwayat alergi (p<0,001). Namun, tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara jenis kelamin dan kejadian dermatitis (p=0,683). Sanitasi lingkungan yang buruk, kebersihan diri yang tidak optimal, dan adanya riwayat alergi merupakan faktor yang berhubungan secara signifikan dengan kejadian dermatitis pada anak usia sekolah di wilayah lahan basah. Intervensi preventif berbasis komunitas diperlukan untuk mengurangi risiko dermatitis pada kelompok ini. Dermatitis is a common skin inflammation affecting school-aged children, particularly in areas with poor sanitation such as wetlands. This study aimed to analyze factors associated with the incidence of dermatitis among school-aged children living in wetland areas. This research employed a descriptive correlational design with a cross-sectional approach. A total of 102 children aged 6–12 years were selected using purposive sampling based on inclusion criteria. Data were collected through a structured 28-item questionnaire that had been previously validated and tested for reliability. Data analysis included univariate and bivariate analyses using the Chi-Square test with a significance level of 0.05. A total of 64 respondents (62.7%) experienced dermatitis. There were significant associations between dermatitis incidence and environmental sanitation (p<0.001), personal hygiene (p<0.001), and allergy history (p<0.001). However, gender was not significantly associated with dermatitis (p=0.683). Poor environmental sanitation, inadequate personal hygiene, and a history of allergies are significantly associated with the incidence of dermatitis among school-aged children in wetland areas. Community-based preventive interventions are recommended to reduce the risk of dermatitis in this population.
Hubungan peran ayah dengan kejadian stunting pada anak usia 12–36 bulan: The relationship between paternal roles and stunting among children aged 12–36 months Risma Safira S; Nurhannifah Rizky Tampubolon; Ririn Muthia Zukhra
Jurnal Keperawatan Tropis Papua Vol. 8 No. 2 (2025): DESEMBER 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v8i2.478

Abstract

Stunting pada anak merupakan masalah gizi kronis yang tidak hanya dipengaruhi oleh asupan nutrisi, tetapi juga oleh pola pengasuhan dalam keluarga, termasuk keterlibatan ayah. Peran ayah dalam pemenuhan gizi, pengasuhan, dan pemantauan kesehatan anak berpotensi memengaruhi status gizi anak usia dini. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara peran ayah dan kejadian stunting pada anak usia 12–36 bulan di wilayah kerja Puskesmas Kecamatan Lima Puluh, Kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan desain deskriptif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 108 anak usia 12–36 bulan yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling. Peran ayah diukur menggunakan kuesioner keterlibatan ayah, sedangkan status gizi anak dinilai berdasarkan indikator tinggi badan menurut usia (TB/U) sesuai standar WHO. Analisis data dilakukan menggunakan uji Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar anak memiliki status gizi normal (78,7%) dan mayoritas ayah memiliki peran yang baik dalam pengasuhan (91,7%). Terdapat hubungan yang signifikan antara peran ayah dan kejadian stunting pada anak usia 12–36 bulan (p = 0,003), di mana keterlibatan ayah yang baik berkaitan dengan risiko stunting yang lebih rendah. Temuan ini menegaskan pentingnya pelibatan ayah dalam upaya pencegahan stunting melalui pendekatan berbasis keluarga, khususnya pada periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan. Stunting in children is a chronic nutritional problem influenced not only by inadequate nutrient intake but also by family caregiving practices, including paternal involvement. Fathers’ roles in nutritional provision, caregiving, and health monitoring may affect the nutritional status of young children. This study aimed to analyze the relationship between paternal roles and the incidence of stunting among children aged 12–36 months in the working area of Lima Puluh Subdistrict Primary Health Center, Pekanbaru City. This study employed a descriptive correlational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 108 children aged 12–36 months selected using a cluster random sampling technique. Paternal roles were measured using a father involvement questionnaire, while children’s nutritional status was assessed based on height-for-age (H/A) indicators according to WHO standards. Data were analyzed using the Chi-square test. The results showed that most children had normal nutritional status (78.7%) and the majority of fathers demonstrated good involvement in caregiving (91.7%). A significant relationship was found between paternal roles and the incidence of stunting among children aged 12–36 months (p = 0.003), where good paternal involvement was associated with a lower risk of stunting. These findings highlight the importance of engaging fathers in family-based stunting prevention efforts, particularly during the first 1,000 days of life.
Hubungan Peran Ibu dengan Perilaku Personal Hygiene dan Status Personal Hygiene Anak Usia Sekolah di Daerah Lahan Basah Restika Sihotang; Nurhannifah Rizky Tampubolon; Syeptri Agiani Putri
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 2 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v9i1.852

Abstract

Personal Hygiene menggambarkan perilaku Personal Hygiene, Personal Hygiene baik digambarkan dengan tubuh anak bersih dan wangi sedangkan Personal Hygiene kurang digambarkan dengan anak yang berpakaian kotor dan bau badan. Upaya untuk mengoptimalkan Personal Hygiene anak adalah meningkatkan kemauan, kesadaran dan pengetahuan tentang Personal Hygiene dengan peran dan dukungan ibu. Tujuan: Mengetahui hubungan peran ibu dengan perilaku Personal Hygiene dan status Personal Hygiene anak usia sekolah di daerah lahan basah. Metode: Jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional. Data diperoleh dari 106 responden menggunakan kuesioner dan lembar observasi dengan teknik Quota Sampling diolah menggunakan distribusi frekuensi dan uji Chi Square. Hasil: peran ibu baik dan memiliki perilaku Personal Hygiene yang baik 64 responden (60,4%), dan responden dengan peran ibu kurang dan memiliki perilaku Personal Hygiene kurang 33 responden (31,5%). peran ibu baik dan memiliki status Personal Hygiene yang baik 57 orang (53,8%), peran ibu kurang dan status Personal Hygiene baik 5 orang (4,7%), peran ibu kurang dan memiliki status Personal Hygiene kurang 30 orang (28,3 %). Hubungan antara peran ibu dengan perilaku Personal Hygiene anak usia sekolah di daerah lahan basah didapatkan nilai P-Value (0,001 < 0,05). Hubungan antara peran ibu dengan status Personal Hygiene anak usia sekolah di daerah lahan basah didapatkan nilai P-Value (0,001 < 0,05). Kesimpulan: Semakin baik peran ibu maka perilaku Personal Hygiene dan status Personal Hygiene anak usia sekolah di daerah lahan basah akan semakin baik.
Co-Authors Abel Aprilia Putri Afni Ramadhani Ahmad Kautsar Al Aminuddin Al Aminuddin Syakhira Zulien Al Aminuddin, Al Aminuddin Amanah Keisha Aminatul Fitri Amir, Yufitriana Amirah Rizka, Syafah Andreana, Delvie Ani Rahmadhani Kaban Anne Mudya Yolanda Ardilla Nurliza Arfa Dewi, Suci Arifka Uli Nur Hidayati Arneliwati Askerlena, Hidayati Aulia Oktavia aziz, ari rahmat Azizah Azizah Bayhakki Bayhakki Bintang Jilena Sianturi, Sry Camilla Devania Darwin - Karim Deby Octaviani Dedi Kristian Gulo Delfitri, Meri Dinda Hirosehaya Dinda Wulandari Dismawati Dita Erwinda Dona Armelia Putri Dwi Ningtias Erika Erika Fadhilah Fadhilah Fara Karnoni Fathaniah, Farahiyah Fathra Annis Nauli Fauziah Wahyu Feronika, Naomi Finda, Ingla Fira Amalia Hanifah Fitri Haryanti Gilang Ramadhan Gustika Wulandari Gustriza Erda Hutabarat, Ribka Pebriana Ihan Crisna Dwi Eryo Indriani, Dwi Nova Indriati, Ganis Indriati, Ganis Juandri, Desti Arnita Juliana, Dea Adelia Juniar Ernawaty Kaban, Ani Rahmadhani Kenisa Nazlia Rizal kholisoh, kholisoh Leonita, Velga Maria Haryanti Butar-Butar Marlin, Wulan Fauziyah Masrinah Munawarah Tampubolon Maya Ardilla Siregar Melani, Dela Meliza Ningsih Melti, Ipna Misrawati Misrawati Muhammad Rayhan Maulana Muslim Muttakhidatul Hikmah, Muttakhidatul Nababan, Merry Silvya Christine Nada Intaniza Nadhila Nurmaef Nadila, Nadila Nakmaus Solikha Natasya, Saruli Ningsih, Meliza Nisa Destiana Novayelinda, Riri Novita, Rani Nurhidayah Nurhidayah Nurul Huda Nurul Zahidah Nurwahyuni Pakpahan, Jonas Letare Pramudita, Pingkan Deni Puja Permata Nur Putra, Hendri Putri, Ingga Kurnialis Rafiq Hidayah Rahayu, Venessa Reni Zulfitri Resti Saputri Restika Sihotang Riri Novayelinda Riri Novayelinda Riri Novayelinda Riski Amaliyah, Riski Risma Safira S Rizal, Kenisa Nazlia Rizka Anggraini Rokhmani, Nikmah Rustam, Musfardi Sabri, Yelly Muthia Salma Mahiroh Sari, Niken Yuniar Sari, Suci Indah Sari, Tesha Hestyana Sari, Wahyu Firman Sebayang, Sabrina Nur Ramadhanty Septina Aulia Putri Siti Aisyah, Bunaiya Siti Maesaroh SRI WARDANI Syeptri Agiani Putri Tampubolon, Masrina Munawarah Tampubolon, Masrina Munawaroh Tari Audina Tata, Tata Tiara Asyifa Putri Tiara Asyifa Putri Vyona Aurelyn Wahyu Dwi Fatimah Wan Nishfa Dewi Wasisto Utomo Wice Purwani Suci Windy, Septya Yesi Hasneli Yohanna Doloksaribu Yossy Garanetha Yulia Irvani Dewi Yundari, Yundari Yuniati Yuniati Yunisman Roni Zukhra, Ririn Muthia