Claim Missing Document
Check
Articles

Providing Health Education Salt Dietary to Hypertension Patients Muzakkir, Muzakkir; Husaeni, Hermin; Muzdalia, Ika; Mutmainna, Amriati; Maharja, Rizky
Jurnal Ilmiah Kesehatan (JIKA) Vol. 5 No. 3 (2023): Volume 5 Nomor 3 Desember 2023
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36590/jika.v5i3.574

Abstract

Hypertension is still a big health problem. It needs treatment in other forms besides medication, namely increasing understanding regarding salt or natrium consumption. Providing information can be done with various approaches, one of which is by using the health education method. The purpose of this study was to determine the effect of providing health education on salt dietary on hypertensive patients in Majene Regency. This research was an experimental research with a One-group pre-post test design with a sample of 32 subjects who met the inclusion criteria. This study used the wilcoxon signed rank test with a significance level of $\alpha$< 0,05. The results of this study indicated that after conducting health education, most of the subjects experienced increased knowledge about dietary salt through the provision of health education information. There were differences in knowledge about the Salt diet before and after being given health education with a p-value of 0,003. Based on the results of this study, researchers recommend that nurses master several learning methods in implementing health education. Maintain the BPJS health prolanis community as a forum for communication with the same problem and become a medium for providing mutual support in improving the quality of life for people with hypertension. Nurses should continue to respect the patient's salt consumption habits slowly. Structured and scheduled in changing the client's salt consumption habits.
Powerful Mother (Proactive Mother Tackles Waste Burning) Maharja, Rizky; Abdullah, Anisa Dwirizky; Panggeleng, Andi Mifta Farid
Jurnal Abmas Negeri (JAGRI) Vol. 6 No. 2 (2025): Volume 6 Nomor 2 Desember 2025
Publisher : Sarana Ilmu Indonesia (salnesia)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36590/jagri.v6i2.1278

Abstract

The habit of burning waste is one of the problems caused by high household waste generation. This can be seen in Lembang Neighborhood, Lembang Village, Majene Regency, which makes burning waste an alternative for waste disposal. Therefore, the community service team conducted socialization and training to overcome this habit. The purpose of the implementation of community service was to empower women (housewives) through increasing knowledge and skills in waste management with the 3R method by selecting and sorting waste, reuse by making ecobrick, recycle by making compost through biopore absorption holes (LRB). The method used was socialization and waste management training which was evaluated through a pre-post test questionnaire sheet and a waste management observation sheet. This activity succeeded in increasing target knowledge with an achievement rate of 96,27% and increasing skills by 95%. This activity ran smoothly and achieved the achievement indicators.
Risiko ergonomi pada penjahit di wilayah pesisir Panggeleng, Andi Mifta Farid; Maharja, Rizky
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1757

Abstract

Background: Tailors are one of the professions that are highly vulnerable to health problems, particularly musculoskeletal disorders (MSDs). MSDs among tailors are caused by several factors, such as repetitive work, static working postures, and non-ergonomic work environments. This issue highlights the urgency of conducting a more in-depth study on ergonomic risk factors among tailors. Purpose: To identify ergonomic risk factors among tailors in coastal areas. Method: This quantitative study employed a cross-sectional design and was conducted in East Banggae District. The study population consisted of all tailors working in the East Banggae area. Samples were selected using purposive sampling techniques. Data were collected through questionnaires, observations, measurements, and interviews. The statistical analysis used was the Chi-square test. Results: The variables of age (p-value = 0.042), working hours (p-value = 0.016), work fatigue (p-value = 0.016), physical workload (p-value = 0.000), mental workload (p-value = 0.000), and working posture (p-value = 0.000) were significantly associated with MSD complaints among tailors. Meanwhile, length of employment (p-value = 0.828) was not associated with MSD complaints. Conclusion: The majority of tailors experienced mild MSD complaints. Furthermore, MSD complaints among tailors in coastal areas were influenced by age, working hours, work fatigue, physical workload, mental workload, and working posture. In contrast, length of employment did not affect MSD complaints among tailors.   Keywords: Coastal Areas; Ergonomics; Musculoskeletal Disorders (MSDs) Complaints; Tailors.   Pendahuluan: Pekerja penjahit merupakan salah satu profesi yang sangat rentan mengalami masalah kesehatan seperti gangguan otot atau Musculuskeletal Disorders (MSDs). MSDs terjadi pada penjahit disebabkan oleh sejumlah faktor seperti pekerjaan berulang, posisi kerja statis dan lingkungan kerja yang tidak ergonomis. Masalah ini tentunya menjadi salah satu urgensi mengapa kajian lebih mendalam mengenai studi risiko ergonomi penjahit perlu dilakukan Tujuan: Untuk mengidentifikasi faktor risiko ergonomi pada penjahit di wilayah pesisir. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang akan dilaksanakan di Kecamatan Banggae Timur. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penjahit yang tersebar di wilayah Banggae Timur. Adapun metode pemilihan sampel memakai teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi, pengukuran, wawancara dan uji statistik yang digunakan adalah Chi-square. Hasil: Variabel usia (p-value= 0.042), lama kerja (p-value =0.016), kelelalahan kerja (p-value =0.016), beban kerja fisik (p-value = 0.000), beban kerja mental (p-value =0.000) dan postur tubuh (p-value =0.000) memiliki hubungan dengan keluhan MSDs penjahit, sedangkan variabel masa kerja (p-value =0.828) tidak berhubungan dengan keluhan MSDS. Simpulan: Mayoritas penjahit mengalami keluhan MSDs tingkat ringan. Selain itu, keluhan MSDs yang dialami oleh penjahit di wilayah pesisir ini dipengaruhi oleh usia, lama kerja, kelelahan kerja, beban kerja fisik, beban kerja mental, dan postur tubuh. Sementara itu, masa kerja tidak memengaruhi keluhan MSDs penjahit.   Kata Kunci: Ergonomi; Keluhan Musculuskeletal Disorders (MSDs); Penjahit; Wilayah Pesisir.
Studi Faktor Ergonomi yang Berpengaruh Terhadap Keluhan Musculoskeletal Disorders pada Penjahit di Wilayah Pesisir Andi Mifta Farid Panggeleng; Rizky Maharja; Nurul Pratiwi Army; Astaman Sultan
Proceedings National Conference Sinesia Vol. 1 No. 2 (2025): Accelerating SDGs Implementation in Indonesia towards a Golden Indonesia 2045
Publisher : Yayasan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69836/ncrcs-sinesia.v1i2.95

Abstract

Penjahit merupakan profesi yang sangat rentan mengalami masalah kesehatan seperti gangguan otot dan rangka (Musculuskeletal Disorders) yang secara langsung berdampak pada produktivitas penjahit. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis risiko ergonomi yang berpengaruh terhadap keluhan Musculusceletal Disorders pada penjahit di wilayah pesisir. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross-sectional. Seluruh Penjahit di Kecamatan Banggae Timur adalah responden penelitian ini yang berjumlah 62 orang yang dipilih secara purposive sampling. Variabel penelitian yaitu kelelahan kerja, keluhan MSDs, beban kerja fisik, dan beban kerja mental. Uji statistik yang digunakan adalah Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 41 orang (37,3%) mengalami keluhan Musculusceletal Disorders tingkat ringan. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh postur kerja (p-value=0,000), beban kerja fisik (p-value=0,000), dan beban kerja mental (p-value=0,000) terhadap keluhan Musculusceletal Disorders. Penelitian ini menyimpulkan bahwa risiko ergonomi yang berpengaruh terhadap keluhan MSDs penjahit adalah postur kerja, beban kerja fisik, dan beban kerja mental.
Pengaruh Faktor Psikososial Terhadap Kelelahan Kerja Perawat di Wilayah Pesisir Bambang Hermawan; Heriyati Heriyati; Rizky Maharja; A.Suci Setiani Annisa; Yusniar Anggraeny
Proceedings National Conference Sinesia Vol. 1 No. 2 (2025): Accelerating SDGs Implementation in Indonesia towards a Golden Indonesia 2045
Publisher : Yayasan Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Sisi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69836/ncrcs-sinesia.v1i2.96

Abstract

Kelelahan kerja pada perawat merupakan isu krusial yang berdampak signifikan terhadap kualitas pelayanan kesehatan dan kesejahteraan tenaga kesehatan. Perawat, sebagai garda terdepan dalam pelayanan, memiliki beban kerja yang tinggi yang dapat meningkatkan risiko kelelahan. Kondisi ini berpotensi menurunkan kualitas layanan, meningkatkan risiko kesalahan medis, dan mengancam keselamatan pasien. Selain itu, kelelahan kerja dapat menyebabkan gangguan fisik seperti kelelahan kronis dan insomnia, serta masalah psikologis seperti burnout, yang berdampak pada produktivitas dan kepuasan kerja perawat. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh faktor psikososial terhadap kelelahan kerja perawat di wilayah pesisir. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan desain cross-sectional. Seluruh perawat instalasi rawat inap di RSUD Majene adalah sampel penelitian ini yang berjumlah 150 orang yang dipilih secara purposive sampling. Variabel penelitian yaitu kelelahan kerja, beban kerja mental, stres kerja, kinerja, dan faktor sosial. Kelelahan kerja, beban kerja mental, kinerja, dan faktor sosial diperoleh menggunakan kuisioner, sedangkan stres kerja diukur melalui aktivitas enzim amilase menggunakan Cocorometer. Uji statistik yang digunakan adalah Chi-square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 56 orang (37,3%) perawat mengalami kelelahan kerja tingkat sedang. Analisis lebih lanjut menunjukkan bahwa terdapat pengaruh beban kerja mental (p-value=0,048), stres kerja (p-value=0,001), dan kinerja (p-value=0,001) terhadap kelelahan kerja. Sementara itu, faktor sosial (p-value=0,251) tidak berpengaruh terhadap kelelahan kerja. Penelitian ini menyimpulkan bahwa kelelahan perawat di wilayah pesisir dipengaruhi oleh beban kerja mental, stres kerja, dan kinerja.
Bayang-bayang di balik jarum: Intensitas pencahayan dan kelelahan mata penjahit Panggeleng, Andi Mifta Farid; Maharja, Rizky
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.3027

Abstract

Background: Tailors are a profession highly susceptible to health problems such as musculoskeletal disorders (MSDs). MSDs in tailors are caused by a number of factors, including repetitive work, static work positions, and an unergonomic work environment. This issue is certainly one of the reasons why a more in-depth study of the ergonomic risks of tailors is urgently needed. Purpose: To identify ergonomic risk factors in the sewing industry and develop effective and affordable ergonomic interventions to improve worker productivity and health. Method: This quantitative study, using a cross-sectional design, was conducted on all tailors in the coastal area of ​​East Banggae District. The sample selection method used a purposive sampling technique. Data collection used questionnaires, observations, measurements, and interviews. Data analysis used the Chi-square statistical test. Results: Age (p-value = 0.042), length of service (p-value = 0.016), work fatigue (p-value = 0.016), physical workload (p-value = 0.000), mental workload (p-value = 0.000), and body posture (p-value = 0.000) were associated with MSD complaints among tailors, while length of service (p-value = 0.828) was not associated with MSD complaints. Conclusion: The majority of tailors experienced mild MSD complaints. Furthermore, MSD complaints experienced by tailors in this coastal area were influenced by age, length of service, work fatigue, physical workload, mental workload, and body posture. Meanwhile, length of service did not affect MSD complaints among tailors.   Keywords: Eye Fatigue; Lighting Intensity; Musculoskeletal Disorders (MSDs); Tailors.   Pendahuluan: Pekerja penjahit merupakan salah satu profesi yang sangat rentan mengalami masalah kesehatan seperti gangguan otot atau Musculuskeletal Disorders (MSDs). MSDs terjadi pada penjahit disebabkan oleh sejumlah faktor seperti pekerjaan berulang, posisi kerja statis dan lingkungan kerja yang tidak ergonomis. Masalah ini tentunya menjadi salah satu urgensi mengapa kajian lebih mendalam mengenai studi risiko ergonomi penjahit perlu dilakukan Tujuan: Untuk mengidentifikasi faktor risiko ergonomi dalam industri penjahitan serta mengembangkan intervensi ergonomi yang efektif dan terjangkau untuk meningkatkan produktivitas dan kesehatan pekerja Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional, dilakukan terhadap seluruh penjahit yang ada di wilayah pesisir di Kecamatan Banggae Timur. Adapun metode pemilihan sampel memakai teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi, pengukuran dan wawancara. Sementara analisi data menggunakan uji statistic Chi-square. Hasil: Variabel usia (p-value= 0.042), lama kerja (p-value= 0.016), kelelalahan kerja (p-value= 0.016), beban kerja fisik (p-value= 0.000), beban kerja mental p-value= 0.000), dan postur tubuh (p-value= 0.000) memiliki hubungan dengan keluhan MSDs penjahit, sedangkan variabel masa kerja (p-value=0,828) tidak berhubungan dengan keluhan MSDs Simpulan: Mayoritas penjahit mengalami keluhan MSDs tingkat ringan. Selain itu, keluhan MSDs yang dialami oleh penjahit di wilayah pesisir ini dipegnaruhi oleh usia, lama kerja, kelelahan kerja, beban kerja fisik, beban kerja mental, dan postur tubuh. Sementara itu, masa kerja tidak memengaruhi keluhan MSDs penjahit   Kata Kunci: Intensitas Pencahayan; Kelelahan Mata; Musculuskeletal Disorders (MSDs); Penjahit.
Ketidakpatuhan Masyarakat terhadap Peraturan Daerah Tentang Kawasan Tanpa Rokok Di Rumah Sakit Universitas Hasanuddin Achmad Mawardi Shabir; Rusda Ananda; Rizky Maharja; Andi Mifta Farid Panggeleng
KOLONI Vol. 2 No. 2 (2023): JUNI 2023
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/koloni.v2i2.133

Abstract

The policy to implement the smoke-free area (KTR) in hospitals has long been an intervention strategy to control non-communicable diseases. Regulations in the form of regional regulations on smoke-free area (KTR) are also agreed in various countries as an embodiment of tobacco regulations in the world. Implementation of regional policies issued must be carried out by all Local Governments in Indonesia. This study discusses influential factors related to the community in the smoke-free area at Hasanuddin University Hospital. This research is a type of quantitative research using cross-sectional study. The population in this study was 100 people. Sampling was carried out using a non-probability sampling method with convenience sampling technique so that a total sample of 100 people was obtained. Processing and analysis of data using the SPSS program. Data analysis was based on the Chi-Square Test statistic. The results showed there was a relationship between understanding of instructions (p = 0.023), there was a relationship between beliefs (p = 0.006), there was a relationship between attitudes (p = 0,000) and self-control (p = 0,000) with community non-compliance with regional regulations on the area without cigarettes at Hasanuddin University Hospital. The results of multiple logistic regression tests were simultaneously obtained that attitudes (Exp. B = 10.670) and self-control (Exp. B = 5.394) were the most influential variables on community non-compliance at Hasanuddin University Hospital. 023), there is a relationship between belief (p = 0.006), there is a relationship between attitude (p = 0,000) and self-control (p = 0,000) with community non-compliance with local regulations on smoke-free area in Hasanuddin University Hospital. The results of multiple logistic regression tests were simultaneously obtained that attitudes (Exp. B = 10.670) and self-control (Exp. B = 5.394) were the most influential variables on community disobedience at Hasanuddin University Hospital. 023), there is a relationship between belief (p = 0.006), there is a relationship between attitude (p = 0,000) and self-control (p = 0,000) with community non-compliance with local regulations on smoke-free area in Hasanuddin University Hospital. The results of multiple logistic regression tests were simultaneously obtained that attitudes (Exp. B = 10.670) and self-control (Exp. B = 5.394) were the most influential variables on community non-compliance at Hasanuddin University Hospital. Keywords: Non-compliance, KTR, hospitals, policies, regional regulations
DETERMINAN KEPATUHAN PERAWAT TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI DI UNIT RAWAT INAP RSUD MAJENE Panggeleng, Andi Mifta Farid; Maharja, Rizky; Hermawan, Bambang
IDENTIFIKASI Vol 11 No 3 (2025): Agustus 2025
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v11i3.627

Abstract

Revolusi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di rumah sakit yang beriringan dengan perkembangan teknologi dan inovasi di sektor kesehatan telah memicu terjadinya peningkatan akan kompetensi sumber daya manusia termasuk ke dalam penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) terutama pada tenaga medis seperti dokter dan perawat. Perawat yang tidak patuh dalam menggunakan APD berpotensi menyebabkan kerugian pada diri mereka sendiri seperti infeksi nosokomial, penularan penyakit, dan cedera. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kepatuhan perawat dalam menggunakan APD. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional Study dengan populasi dalam penelitian ini 171 responden dengan sampel 120 responden yang didapatkan melalui rumus Slovin. Data penelitian ini dikumpulkan melalui kuesioner dan dimasukkan ke dalam aplikasi SPSS untuk dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa variabel pengetahuan (p=0,000), ketersediaan APD (p=0,008) dan pengawasan (p=0,013) memiliki hubungan dengan kepatuhan perawat dalam penggunaan APD. Kesimpulan: Variabel pengetahuan, ketersediaan APD dan pengawasan berhubungan dengan kepatuhan perawat dalam penggunaan APD.
The Relationship Between Occupational Noise Exposure and Work Fatigue Among Apron Workers at Tampa Padang Airport Nurul Pratiwi Army; Annisa Suwahru; Astaman Sultan; Suci Setiani Annisa; Yusniar Anggraeny; Rizky Maharja; A. Mifta Farid Panggeleng; Bambang Hermawan
Jurnal EduHealth Vol. 17 No. 02 (2026): Jurnal EduHealt, April - June
Publisher : Sean Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Work fatigue is a condition characterized by a decrease in work efficiency and physical endurance, with direct implications for workforce productivity and occupational safety. Apron workers at airports are simultaneously exposed to multiple occupational risk factors, most notably high levels of noise continuously generated by aircraft engines and ground support equipment operations. In addition to noise, age, workload, working hours, and length of service also influence the occurrence of work fatigue. This study analyzed the relationships between age, workload, working hours, length of service, and noise intensity with work fatigue among apron workers at Tampa Padang Airport, Mamuju. An observational analytic design with a cross-sectional approach was applied, conducted in January–February 2026. A total of 71 workers were selected through proportionate stratified random sampling from a population of 242. Work fatigue was measured using a reaction timer, workload via working pulse rate monitoring, and noise intensity using a sound level meter. Data on age, working hours, and length of service were collected through structured questionnaires. Univariate and bivariate analyses were performed using the chi-square test (α = 0.05). Results showed that 48 workers (67.6%) experienced work fatigue. Significant relationships were found between age (p = 0.001), workload (p = 0.001), working hours (p = 0.001), length of service (p = 0.001), and noise intensity (p = 0.017) with work fatigue. Management is advised to align working hours with regulatory standards and to enforce the mandatory use of hearing protection devices (earplugs/earmuffs) for all apron workers.
Penyuluhan Kesehatan Hubungan Pola Asuh Orang Tua Terhadap Kejadian Stunting Balita Nurgadima Achmad Djalaluddin; Dirhana Purnama; Rizky Maharja
Beru'-beru': Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 1 No. 3 (2023): November-Februari 2023
Publisher : Lembaga Penelitian Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31605/jipm.v1i3.2270

Abstract

Stunting didefinisikan sebagai kondisi gagal tumbuh pada anak balita (bawah lima tahun) akibat kekurangan gizi kronis sehingga anak terlalu pendek untuk usianya. Penyebab stunting juga adalah pengasuhan yang kurang baik. Pola asuh adalah perlakuan orang tua terhadap anak seperti merawat, memelihara, mengajar, mendidik, membimbing, melatih, yang terwujud dalam bentuk pendisiplinan, pemberian teladan, kasih sayang, ganjaran, hukuman, dan kepemimpinan dalam keluarga melalui ucapan-ucapan dan tindakan-tindakan orang tua. Metode yang digunakan dalam pelaksanaan kegiatan dilakukan penyuluhan Kesehatan dan pemberian makanan tambahan. Hasil dari kegiatan ini dilihat dari peserta mampu menerima materi dan respon peserta sangat baik dan sudah mengetahui dan memahami pola asuh orang tua terhadap kejadian stunting
Co-Authors A. Mifta Farid Panggeleng A. Muflihah Darwis A.Suci Setiani Annisa Achmad Djalaluddin, Nurgadima Achmad Mawardi Shabir Ade Wira Lisrianti Latief Ade Wira Lisrianti Latief Agung Juliawan Ananda, Rusda Andi Mifta Farid Panggeleng Andi Mifta Farid Panggeleng Andi Mifta Farid Panggeleng Andi Mifta Farid Panggeleng Andi Suci Setiani Annisa Andi Tenriola Fitri Kessi Andi Tenriola Fittri Kessi Andi Zulkifli Anisa Dwirizky Abdullah Annisa Suwahru Apik Indarti Moedjiono Arni Julian Arni Juliani Astaman Sultan Astaman Sultan Bambang Hermawan Bambang Hermawan Diani Octaviyanti Handajani Dirhana Purnama Diyana Faricha Hanum Edi Saputra Esa Risqianti Fira Ananda Fridawati Rivai Gani, Helmy Habibi Hamdan Gani Hasanuddin Ishak Heriyati Heriyati Heriyati Heriyati, Heriyati Hermawan, Bambang Hilda Indriani Husaeni, Hermin Jefril, Andre Laka Jihan Faradisha Juliani, Arni La Ode Hidayat Latief, Ade Wira Lisrianti Lidia Aditama Putri M Furqaan Naiem M. Anas M. Anas Magfirah Ramadhani Maharja, Riadnin Masyitha Muis Masyitha Muis Mifta Farid Panggeleng, Andi Mubarak, Muh. Hosni Muhammad Akbar Salcha Muhammad Azrul Syamsul Muhammad Irsyad Muhammad Rum Rahim Munisah Mutmainna, Amriati Muzakkir Muzakkir Muzdalia, Ika Novianti Bahar, Sri Noviponiharwani Noviponoiharwani Nur Fadhilah Gani Nur Ikhsan Nur Nasry Noor Nurani Nurani Nurgadima Achmad Djalaluddin Nurul Pratiwi Army Nurul Pratiwi Army Nurun Nikmah Panggeleng, Andi Mifta Farid Rachmawati, Aidha Rahmansyah, Sitti Fatimah Rani Rosita Ria Rezeki Sudarmin Riadnin Maharja Riadnin Maharja Riadnin Maharja Risna Damayanti Rostati Rostati Rusda Ananda Rusda Ananda Seftianingsih M., Nur Angraeni Sitti Fatimah Rahmansyah Sitti Fatimah Rahmansyah Sri Novianti Bahar Sri Novianti Bahar Sri Novianti Bahar Suci Setiani Annisa Syamsiar S. Russeng Syamsul, Muhammad Azrul Tajuddin Tajuddin, Tajuddin Ummu Kamilah Wahiduddin Wandi, Wandi Wardhani, Nurilmiyanti Wira Lisrianti Latief, Ade Yahya Thamrin Yusniar Anggraeny Yusniar Anggraeny