Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Risiko ergonomi pada penjahit di wilayah pesisir Panggeleng, Andi Mifta Farid; Maharja, Rizky
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 19 No. 10 (2025): Volume 19 Nomor 10
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v19i10.1757

Abstract

Background: Tailors are one of the professions that are highly vulnerable to health problems, particularly musculoskeletal disorders (MSDs). MSDs among tailors are caused by several factors, such as repetitive work, static working postures, and non-ergonomic work environments. This issue highlights the urgency of conducting a more in-depth study on ergonomic risk factors among tailors. Purpose: To identify ergonomic risk factors among tailors in coastal areas. Method: This quantitative study employed a cross-sectional design and was conducted in East Banggae District. The study population consisted of all tailors working in the East Banggae area. Samples were selected using purposive sampling techniques. Data were collected through questionnaires, observations, measurements, and interviews. The statistical analysis used was the Chi-square test. Results: The variables of age (p-value = 0.042), working hours (p-value = 0.016), work fatigue (p-value = 0.016), physical workload (p-value = 0.000), mental workload (p-value = 0.000), and working posture (p-value = 0.000) were significantly associated with MSD complaints among tailors. Meanwhile, length of employment (p-value = 0.828) was not associated with MSD complaints. Conclusion: The majority of tailors experienced mild MSD complaints. Furthermore, MSD complaints among tailors in coastal areas were influenced by age, working hours, work fatigue, physical workload, mental workload, and working posture. In contrast, length of employment did not affect MSD complaints among tailors.   Keywords: Coastal Areas; Ergonomics; Musculoskeletal Disorders (MSDs) Complaints; Tailors.   Pendahuluan: Pekerja penjahit merupakan salah satu profesi yang sangat rentan mengalami masalah kesehatan seperti gangguan otot atau Musculuskeletal Disorders (MSDs). MSDs terjadi pada penjahit disebabkan oleh sejumlah faktor seperti pekerjaan berulang, posisi kerja statis dan lingkungan kerja yang tidak ergonomis. Masalah ini tentunya menjadi salah satu urgensi mengapa kajian lebih mendalam mengenai studi risiko ergonomi penjahit perlu dilakukan Tujuan: Untuk mengidentifikasi faktor risiko ergonomi pada penjahit di wilayah pesisir. Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional yang akan dilaksanakan di Kecamatan Banggae Timur. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh penjahit yang tersebar di wilayah Banggae Timur. Adapun metode pemilihan sampel memakai teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi, pengukuran, wawancara dan uji statistik yang digunakan adalah Chi-square. Hasil: Variabel usia (p-value= 0.042), lama kerja (p-value =0.016), kelelalahan kerja (p-value =0.016), beban kerja fisik (p-value = 0.000), beban kerja mental (p-value =0.000) dan postur tubuh (p-value =0.000) memiliki hubungan dengan keluhan MSDs penjahit, sedangkan variabel masa kerja (p-value =0.828) tidak berhubungan dengan keluhan MSDS. Simpulan: Mayoritas penjahit mengalami keluhan MSDs tingkat ringan. Selain itu, keluhan MSDs yang dialami oleh penjahit di wilayah pesisir ini dipengaruhi oleh usia, lama kerja, kelelahan kerja, beban kerja fisik, beban kerja mental, dan postur tubuh. Sementara itu, masa kerja tidak memengaruhi keluhan MSDs penjahit.   Kata Kunci: Ergonomi; Keluhan Musculuskeletal Disorders (MSDs); Penjahit; Wilayah Pesisir.
Bayang-bayang di balik jarum: Intensitas pencahayan dan kelelahan mata penjahit Panggeleng, Andi Mifta Farid; Maharja, Rizky
Holistik Jurnal Kesehatan Vol. 20 No. 2 (2026): Volume 20 Nomor 2
Publisher : Program Studi Ilmu Keperawatan-fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/hjk.v20i2.3027

Abstract

Background: Tailors are a profession highly susceptible to health problems such as musculoskeletal disorders (MSDs). MSDs in tailors are caused by a number of factors, including repetitive work, static work positions, and an unergonomic work environment. This issue is certainly one of the reasons why a more in-depth study of the ergonomic risks of tailors is urgently needed. Purpose: To identify ergonomic risk factors in the sewing industry and develop effective and affordable ergonomic interventions to improve worker productivity and health. Method: This quantitative study, using a cross-sectional design, was conducted on all tailors in the coastal area of ​​East Banggae District. The sample selection method used a purposive sampling technique. Data collection used questionnaires, observations, measurements, and interviews. Data analysis used the Chi-square statistical test. Results: Age (p-value = 0.042), length of service (p-value = 0.016), work fatigue (p-value = 0.016), physical workload (p-value = 0.000), mental workload (p-value = 0.000), and body posture (p-value = 0.000) were associated with MSD complaints among tailors, while length of service (p-value = 0.828) was not associated with MSD complaints. Conclusion: The majority of tailors experienced mild MSD complaints. Furthermore, MSD complaints experienced by tailors in this coastal area were influenced by age, length of service, work fatigue, physical workload, mental workload, and body posture. Meanwhile, length of service did not affect MSD complaints among tailors.   Keywords: Eye Fatigue; Lighting Intensity; Musculoskeletal Disorders (MSDs); Tailors.   Pendahuluan: Pekerja penjahit merupakan salah satu profesi yang sangat rentan mengalami masalah kesehatan seperti gangguan otot atau Musculuskeletal Disorders (MSDs). MSDs terjadi pada penjahit disebabkan oleh sejumlah faktor seperti pekerjaan berulang, posisi kerja statis dan lingkungan kerja yang tidak ergonomis. Masalah ini tentunya menjadi salah satu urgensi mengapa kajian lebih mendalam mengenai studi risiko ergonomi penjahit perlu dilakukan Tujuan: Untuk mengidentifikasi faktor risiko ergonomi dalam industri penjahitan serta mengembangkan intervensi ergonomi yang efektif dan terjangkau untuk meningkatkan produktivitas dan kesehatan pekerja Metode: Penelitian kuantitatif dengan desain cross-sectional, dilakukan terhadap seluruh penjahit yang ada di wilayah pesisir di Kecamatan Banggae Timur. Adapun metode pemilihan sampel memakai teknik purposive sampling. Pengumpulan data menggunakan kuesioner, observasi, pengukuran dan wawancara. Sementara analisi data menggunakan uji statistic Chi-square. Hasil: Variabel usia (p-value= 0.042), lama kerja (p-value= 0.016), kelelalahan kerja (p-value= 0.016), beban kerja fisik (p-value= 0.000), beban kerja mental p-value= 0.000), dan postur tubuh (p-value= 0.000) memiliki hubungan dengan keluhan MSDs penjahit, sedangkan variabel masa kerja (p-value=0,828) tidak berhubungan dengan keluhan MSDs Simpulan: Mayoritas penjahit mengalami keluhan MSDs tingkat ringan. Selain itu, keluhan MSDs yang dialami oleh penjahit di wilayah pesisir ini dipegnaruhi oleh usia, lama kerja, kelelahan kerja, beban kerja fisik, beban kerja mental, dan postur tubuh. Sementara itu, masa kerja tidak memengaruhi keluhan MSDs penjahit   Kata Kunci: Intensitas Pencahayan; Kelelahan Mata; Musculuskeletal Disorders (MSDs); Penjahit.
DETERMINAN KEPATUHAN PERAWAT TERHADAP PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI DI UNIT RAWAT INAP RSUD MAJENE Panggeleng, Andi Mifta Farid; Maharja, Rizky; Hermawan, Bambang
IDENTIFIKASI Vol 11 No 3 (2025): Agustus 2025
Publisher : Program Studi Kesehatan dan Keselamatan Kerja

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/identifikasi.v11i3.627

Abstract

Revolusi Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di rumah sakit yang beriringan dengan perkembangan teknologi dan inovasi di sektor kesehatan telah memicu terjadinya peningkatan akan kompetensi sumber daya manusia termasuk ke dalam penggunaan Alat Pelindung Diri (APD) terutama pada tenaga medis seperti dokter dan perawat. Perawat yang tidak patuh dalam menggunakan APD berpotensi menyebabkan kerugian pada diri mereka sendiri seperti infeksi nosokomial, penularan penyakit, dan cedera. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan kepatuhan perawat dalam menggunakan APD. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan pendekatan Cross Sectional Study dengan populasi dalam penelitian ini 171 responden dengan sampel 120 responden yang didapatkan melalui rumus Slovin. Data penelitian ini dikumpulkan melalui kuesioner dan dimasukkan ke dalam aplikasi SPSS untuk dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil: Berdasarkan hasil penelitian, didapatkan bahwa variabel pengetahuan (p=0,000), ketersediaan APD (p=0,008) dan pengawasan (p=0,013) memiliki hubungan dengan kepatuhan perawat dalam penggunaan APD. Kesimpulan: Variabel pengetahuan, ketersediaan APD dan pengawasan berhubungan dengan kepatuhan perawat dalam penggunaan APD.