Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Muammar Khadafi: Kepemimpinannya Dari Awal Kudeta Tak Berdarah Hingga Revolusi Berdarah Di Libya (1969-2011) Afriyenti, Adinda; Humaidi, Humaidi
PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah Vol. 1 No. 1 (2019): PERIODE: Jurnal Sejarah dan Pendidikan Sejarah
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial dan Hukum Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/periode.011.4

Abstract

Muammar Gaddafi is a figure destined to become the highest leader in Libya who comes from the descendants of the Qadaddfa tribe. Initially Gaddafi's political career began when he became Brotherly Leader of Jamahiriyah through a bloodless coup against monarch King Idris Sanusi's government on September 1, 1969 which later led Khadafi to become number one leader in Libya. During his leadership Gaddafi managed to make Libya an independent country without relying on other countries. However, the country he leads for 42 years is famous for Radical countries and shunned by other countries. The authoritarian nature of his leadership, invites the pros and cons of bringing his people against and undermining his leadership in 2011. Muammar Khadafi adalah sosok yang ditakdirkan untuk menjadi pemimpin tertinggi di Libya yang berasal dari keturunan suku Qadaddfa. Awalnya karir politik Khadafi dimulai ketika ia menjadi Brotherly Leader of Jamahiriyah melalui Kudeta tak berdarah terhadap pemerintahan monarki Raja Idris Sanusi pada 1 September 1969 yang kemudian mengantarkan Khadafi menjadi sosok pemimpin nomer satu di Libya. Selama kepemimpinannya Khadafi berhasil menjadikan Libya sebagai negara yang mandiri tanpa bergantung ke negara lain. Namun, negara yang dipimpinnya selama 42 tahun terkenal dengan negara Radikal dan dijauhi oleh negara lain. Sifat kepemimpinannya yang otoriter, mengundang pro dan kontra membawa rakyatnya menentang dan meruntuhkan kepemimpinannya pada tahun 2011.
Deliar Noer: Sebuah Biografi Politik, 1951-1999 Maskur, Abu; Humaidi, Humaidi; Ibrahim, Nurzengky
Fajar Historia: Jurnal Ilmu Sejarah dan Pendidikan Vol 6 No 1 (2022): Juni
Publisher : Universitas Hamzanwadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29408/fhs.v6i1.4655

Abstract

In contemporary Indonesian politics in Islamic thought history, Deliar Noer cannot be passed over. He is a figure in Muslim Student Association (HMI), Masyumi, Academician, and a political figure who is a substantial thinker as well, proved by his academic works. As a political figure, his intellectuality is not only seen in his writings. Nevertheless, he attempted to make it through an established political party named Partai Ummat Islam. This study aims to examine the political role of Deliar Noer in political dynamics in Indonesia from 1951 to 1999. This study implied four stages of historical research methods. Those methods are heuristic, verification, interpretation, and historiography. The results of this study convey that Deliar Noer began his political experience when he took charge as the chief of the Muslim Student Association (HMI). Furthermore, he became a political observer, defended democracy, and established a political party.Dalam perpolitikan Indonesia kontemporer dalam sejarah pemikiran Islam, Deliar Noer tidak bisa dilewatkan begitu saja. Ia adalah tokoh Himpunan Mahasiswa Muslim (HMI), Masyumi, Akademisi, dan tokoh politik yang juga pemikir yang substansial, dibuktikan dengan karya-karya akademisnya. Sebagai seorang tokoh politik, intelektualitasnya tidak hanya terlihat pada tulisan-tulisannya. Meski demikian, ia berusaha melalui partai politik mapan bernama Partai Ummat Islam. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran politik Deliar Noer dalam dinamika politik di Indonesia dari tahun 1951-1999. Penelitian ini mengimplikasikan empat tahapan metode penelitian sejarah. Metode-metode tersebut adalah heuristik, verifikasi, interpretasi, dan historiografi. Hasil penelitian ini menyampaikan bahwa Deliar Noer memulai pengalaman politiknya saat menjabat sebagai Ketua Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Selanjutnya, ia menjadi pengamat politik, membela demokrasi, dan mendirikan partai politik.
Nasionalisme dalam Al-Qur'an : (Analisis Kontektual Abdullah Saeed) Najib , Faizin Ainun; Humaidi, Humaidi
Al-Insyiroh: Jurnal Studi Keislaman Vol. 6 No. 1 (2020): March 2020
Publisher : LPPPM STAI Darul Hikmah Bangkalan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35309/alinsyiroh.v6i1.167

Abstract

This article discusses about the identity of nationalism in Indonesia, the author's efforts to find the relationship in the Qur'an. While, the meaning of nationalism is still reaping the debate. Call it like HTI (read: history). The difference is caused there are different meanings to the Qur'an and a different understanding to the Qur'an.This study uses Abdullah Saeed's contextual theory. Abdullah Saeed offers a contextual interpretation system which includes, firstly, linguistic analysis and study of asbabu an-nuzul micro-macro. Secondly, the interpretation of scholars from generation to generation. Third, contextualization, namely nationalism in the Indonesian context.
HUBUNGAN HARMONIS ANTARA SAINS DAN AGAMA DALAM PEMIKIRAN AL-FARABI DAN IKHWAN AL-SHAFA Humaidi, Humaidi
Kordinat: Jurnal Komunikasi antar Perguruan Tinggi Agama Islam Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Komunikasi Antar Perguruan Tinggi Agama Islam
Publisher : Kopertais Wilayah I DKI Jakarta dan Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/kordinat.v17i1.8106

Abstract

Hubungan Harmonis Antara Sains dan Agama Dalam Pemikiran Al-Farabi dan Ikhwan Al-Shafa. Sains dalam pandangan modern selalu terpisah dengan agama. Sains sebagai satu-satunya ilmu yang ilmiah, sedangkan agama non-ilmiah. implikasi dari pandangan tersebut adalah munculnya pemahaman yang disintegratif, yaitu pemisahan antara agama dan sain. Penelitian ini menjelaskan tentang hubungan harmonis antara sains dan agama dalam kerangka pemikiran al-Farabi dan Ikhwan al-Shafa yang tumbuh dan berkembang pada sekitar abad ke-10 masehi. Pemikiran al-Farabi dan Ikhwan al-Shafa membuktikan bahwa perkembangan ilmu pengetahuan selalu sejalan dengan agama, karena keduanya berasal dari sumber yang satu, yaitu Tuhan Yang Maha Esa.
Daya-Daya Jiwa Manusia Perspektif Ibn Sina Majid, M. Fakhri Abdul; Humaidi, Humaidi
Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat Vol. 6 No. 01 (2024): Paradigma: Jurnal Kalam dan Filsafat
Publisher : Faculty of Ushuluddin Syarif Hidayatullah State Islamic University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/paradigma.v6i01.34516

Abstract

Abstrak: Manusia adalah makhluk yang memiliki kelebihan dan kekurangan. Puncak kelebihannya bisa lebih mulia dari malaikat, dan titik terendah kekurangannya lebih hina dari binatang. Tetapi dibalik kelebihan dan kekurangannya itu, manusia adalah makhluk yang penuh misteri. Tidaklah mengherankan jika kemudian muncul begitu banyak kajian, penelitian ataupun pemikiran tentang manusia dalam segala aspeknya. Salah satunya adalah tentang jiwa. Jiwa merupakan salah satu topik yang sangat menarik perhatian para ilmuwan barat. Tidak sedikit dari mereka yang menghabiskan waktunya untuk mengkaji masalah ini. namun, kajian mereka tidak dilandasi dengan agama. Berbeda dengan ilmuwan muslim yang menjadikan agama sebagai pijakannya. Salah seorang ilmuwan muslim yang membahas tentang jiwa manusia adalah Ibn Sîna. Ibn Sîna mengemukakan bahwa jiwa manusia terdiri dari tiga bagian, diantaranya yaitu: jiwa tumbuh-tumbuhan (al-nafs al-nabatiyah), jiwa binatang (al-nafs al-hayawaniyah), dan jiwa manusia (al-nafs al-insaniyah). Jiwa tumbuh-tumbuhan memiliki tiga fakultas, yaitu daya makan (al-quwwah al-ghadziyah), daya tumbuh (al-quwwah al-munammiyah), dan daya reproduksi (al-quwwah al-muwallidah). Jiwa binatang memiliki dua daya, yaitu daya penggerak (al-quwwah al-muharrikah), dan daya persepsi (al-quwwah al-mudrikah). Jiwa manusia mempunyai daya berfikir yang disebut dengan al-aql. Dan manusia juga memiliki tiga sekaligus jiwa tersebut. Abstract:Humans are beings that have strengths and weaknesses. The peak of its virtues can be more noble than that of angels, and the lowest point of its shortcomings can be more despicable than that of animals. But behind its strengths and weaknesses, humans are creatures full of mystery. It is not surprising that so many studies, research, or thoughts about humans in all their aspects have emerged.  One of them is about the soul. The soul is one of the topics that has captured the attention of Western scientists. Many of them spend their time studying this issue. However, their study is not based on religion. Unlike Muslim scientists who use religion as their foundation. One of the Muslim scholars who discussed the human soul is Ibn Sîna. Ibn Sîna proposed that the human soul consists of three parts, namely: the vegetative soul (al-nafs al-nabatiyah), the animal soul (al-nafs al-hayawaniyah), and the human soul (al-nafs al-insaniyah). The vegetative soul has three faculties, which are the nutritive power (al-quwwah al-ghadziyah), the growth power (al-quwwah al-munammiyah), and the reproductive power (al-quwwah al-muwallidah). The animal soul has two powers, which are the motive power (al-quwwah al-muharrikah) and the perceptive power. (al-quwwah al-mudrikah). The human soul has a thinking capacity known as al-aql. And humans also possess three of these souls simultaneously.