Claim Missing Document
Check
Articles

The relationship between El Niño Southern Oscillation (ENSO) and oceanographic parameters in North Sulawesi waters Lasut, Astrid Y.; Patty, Wilhelmina; Warouw, Veibe; Sondakh, Calvyn A.; Bara, Robert A.; Luasunaung, Alfret; Sumilat, Deiske A.
AQUATIC SCIENCE & MANAGEMENT Vol 9, No 1 (2021): APRIL
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jasm.9.1.2021.32494

Abstract

Information about oceanographic conditions is important to determine the fertility level of waters. Oceanographic parameters in water can be influenced by global climate factors, one of them is the ENSO (El Niño Southern Oscillation) phenomenon. There have been many studies on the effect of ENSO phenomenon on oceanographic variability, but no studies have been carried out in the waters of North Sulawesi. This study aims to determine the effect of the ENSO phenomenon on the variability distribution of oceanographic parameters in North Sulawesi waters. The data used for this study were Sea Surface Temperature (SST) and chlorophyll-a from the AQUA-MODIS imaging results, wind reanalysis results from ECMWF, and Nino 3.4 index as an indicator of ENSO from NOAA. The data were processed and analyzed using quantitative analysis methods in the form of graphics. The results showed an indirect effect of the ENSO phenomenon on SST parameters and chlorophyll-a. This is because the effect of the ENSO phenomenon occurred in a certain period:  when strong El Niño triggered low temperatures of sea surface and high chlorophyll-a, and when La Niña was strong it triggered high temperatures of sea surface and low chlorophyll-a. Meanwhile, the wind speed pattern showed an insignificant effect because the wind speed was still dominated by the influence of the monsoon pattern.Indonesian title: Hubungan antara El Niño Southern Oscillation (ENSO) dan parameter oseanografi di perairan Sulawesi Utara
ANALISIS FINANSIAL USAHA BAGAN DI DESA KINABUHUTAN KECAMATAN LIKUPANG BARAT KABUPATEN MINAHASA UTARA PROVINSI SULAWESI UTARA Daruit, Marselina; Pangemanan, Jeannette F.; Rantung, Steelma V.; Aling, Djuwita R.R.; Andaki, Jardie A.; Sondakh, Calvyn
AKULTURASI: Jurnal Ilmiah Agrobisnis Perikanan Vol 9, No 2 (2021): Oktober 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/akulturasi.9.2.2021.35193

Abstract

AbstractKinabuhutan Village is one of the coastal villages located in West Likupang District, North Minahasa Regency, and North Sulawesi Province. The majority of the residents of Kinabuhutan Village work as fishermen and most are traditional fishermen. One of the traditional fishing gear used is the Bagan to catch anchovy (Engraulidae) or in the local language called white fish.This study aims to determine whether the chartering business in Kinabuhutan Village is profitable or not. The method used in this study is a survey method, namely critical observation or investigation to obtain good information on a particular issue.Data analysis was carried out quantitatively descriptively through the data processing stage in the form of tables and data interpretation. The financial analysis used is to calculate Operating Profit, Net Profit, Profit Rate, Benefit Cost Ratio, Profitability, Break Even Point and Pay Back Period.Based on the results of the analysis, it can be concluded that the chartering business in Kinabuhutan Village is profitable, with a net profit per year of Rp. 15,613,750; the value of the profit rate is positive, namely 80%; Profitability <100% ie 40%; BCR value > 1 is 1.88%; sales proceeds Rp. 35,000,000 and the catch (175 kg) is above the sales BEP (Rp. 18,707,474) as well as the unit BEP (106,899 kg) and the Payback Period is 2.54 years. Keywords: financial analysis; chart; Kinabuhutan AbstrakDesa Kinabuhutan merupakan salah satu desa pesisir yang terletak di Kecamatan Likupang Barat, Kabupaten Minahasa Utara Provinsi Sulawesi Utara. Mayoritas penduduk Desa Kinabuhutan bekerja sebagai nelayan dan kebanyakan merupakan nelayan tradisional. Salah satu alat tangkap tradisional yang digunakan adalah Bagan untuk menangkap ikan Teri (Engraulidae) atau dalam bahasa daerah disebut ikan putih.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui usaha bagan di Desa Kinabuhutan itu menguntungkan atau tidak. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei, yaitu pengamatan atau penyelidikan yang kritis untuk mendapatkan keterangan yang baik terhadap suatu persoalan tertentu.Analisis data dilakukan secara deskriptif kuantitatif melalui tahap pengolahan data berupa tabel dan interpretasi data. Analisis finansial yang digunakan yaitu dengan menghitung Operating Profit, Net Profit, Profit Rate, Benefit Cost Ratio, Rentabilitas, Break Even Point dan Pay Back Period.Berdasarkan hasil analisis yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa usaha bagan di Desa Kinabuhutan menguntungkan, dengan keuntungan bersih per tahun sebesar Rp. 15.613.750; nilai profit ratenya positif yaitu 80%; Rentabilitasnya <100% yaitu 40%; nilai BCR >1 yaitu 1,88%; hasil penjualan Rp. 35.000.000 dan hasil tangkapan (175 kg) di atas BEP penjualan (Rp. 18.707.474) maupun BEP satuan (106.899 kg) dan Payback Periodnya 2,54 tahun. Kata Kunci: analisis finansial; bagan; Kinabuhutan
Algoritme deteksi kedatangan tsunami otomatis untuk sistem observasi tinggi muka air laut Sesar Prabu Dwi Sriyanto; Ping Astony Angmalisang; Lusia Manu; Joshian N. W. Schaduw; Calvyn F. A. Sondak; Rose O. S. E Mantiri; Alfret Luasunaung; Deiske A. Sumilat
Jurnal Teknologi dan Sistem Komputer Volume 9, Issue 4, Year 2021 (October 2021)
Publisher : Department of Computer Engineering, Engineering Faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jtsiskom.2021.14009

Abstract

Agar dapat menginformasikan kedatangan tsunami dengan cepat kepada masyarakat, sistem observasi muka air laut perlu dilengkapi dengan algoritme deteksi tsunami otomatis. Penelitian ini bertujuan merancang algoritme deteksi tsunami yang terdiri dari 3 subalgoritme, yaitu eliminasi spike, pengisian data kosong, dan pendeteksi tsunami. Subalgoritme eliminasi spike dan pengisian data kosong digunakan untuk memperbaiki data observasi tinggi muka air laut yang sering terganggu oleh spike dan data kosong akibat faktor elektronik peralatan. Hasil perancangan diuji dengan data historis tide gauge saat terjadi tsunami antara tahun 2007-2019. Hasilnya, spike telah tereliminasi sebanyak 54,52 % dari 409 kemunculan, sedangkan data kosong berhasil diisi 100%. Pendeteksian tsunami yang menggunakan metode DART (Deep-ocean Assessment and Reporting of Tsunamis) dan TEDA (Tsunami Early Detection Algorithm) mampu mendeteksi 7 dari 10 sinyal tsunami, namun masih ada 3 sinyal yang tidak terdeteksi dan 1 kesalahan deteksi. Selain itu, rata-rata waktu pendeteksian tsunami sekitar 7,7 menit setelah tiba di lokasi tide gauge.
STRUKTUR KOMUNITAS LAMUN DI MALANG RAPAT, BINTAN Wahyu Adi; Aditya Hikmat Nugraha; Yehiel Hendry Dasmasela; Agus Ramli; Calvyn Fredrik Aldus Sondak; Nurul Dhewani Mirah Sjafrie
JURNAL ENGGANO Vol 4, No 2
Publisher : Universitas Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1068.895 KB) | DOI: 10.31186/jenggano.4.2.148-159

Abstract

Padang lamun menyediakan banyak manfaat. Diperlukan penilaian tutupan lamun dan distribusi spasial spesies lamun, untuk memastikan manfaat dari padang lamun tetap ada. Penelitian ini dilakukan dengan metode kuadran disepanjang line transect, dan analisis data dilakukan untuk dapat menyajikan informasi tentang titik koordinat transek garis, persen tutupan lamun, persen tutupan spesies lamun, jenis substrat (pasir, lumpur dan pecahan karang), jumlah spesies Enhallus acoroides (tegakan/m2) dan distribusi spasial spesies lamun. Hasil penelitian menunjukkan kondisi padang lamun di wilayah studi sebagai kategori tutupan padat. Spesies lamun Thalassia hemprichii (Th) dan Enhalus acoroides (Ea) adalah spesies dominan dan menyebar ke seluruh wilayah penelitian.COMMUNITY STRUCTURE OF SEAGRASS IN MALANG RAPAT, BINTAN. Seagrass beds provide many benefits. Assessment of seagrass cover and spatial distribution of seagrass species is needed, to ensure the benefits of seagrass beds remain. The study was conducted using the quadratic method on the line transect, and the analysis was carried out to be able to present information about line transect coordinate points, percent cover of seagrass, percent cover of seagrass species, substrate type (sand, mud and rubble), number of species of Enhallus acoroides (shoot/m2) and spatial distribution of seagrass species. The results showed the condition of seagrass beds in the study area as a category of solid cover. Seagrass species Thalassia hemprichii (Th) and Enhalus acoroides (Ea) are dominant species and spread throughout the study area.
Community Structure of Gastropod in Seagrass Beds of Waleo Beach Waters, North Minahasa Regency Richardo O. Roring; Jety K. Rangan; Alex D. Kambey; Rene Ch. Kepel; Stephanus V. Mandagi; Calvyn F. A. Sondak
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 1 (2020): ISSUE JANUARY-JUNE 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.1.2020.28268

Abstract

This study aims to determine the type of Gastropod and the community structure including Species Density, Relative Density, Diversity (H’), and Dominance (C). Based on observation, there is 124 individuals included in 11 species (7 genera) from 7 families (3 orders) obtained. The highest density value is 5,87 Ind/m2 by Euplica borealis, and has 35,48% of relative density. For the diversity, an index is H’ = 1,62 obtained, which is classified as low. This shows that seagrass beds in Waleo beach waters, North Minahasa Regency, there are several species obtained with abundant numbers of individuals compared to the other species, so the diversity index obtained relatively low. As for the range of dominance index is C = 0,36 to 0,44. The lowest value is in the transect number 1 while the highest in the transect number 2. This value shows that seagrass beds in Waleo beach waters, North Minahasa Regency there are no specific species that dominate in the community. Waleo beach waters, North Minahasa Regency has a temperature of about 29,3 °C illustrating the condition of the water temperature is relatively good for Gastropods' life. The salinity is 30 ‰ obtained, which is relatively good for Gastropod growth. pH obtained about 7 which is still relatively good for gastropods life.Keywords: Gastropod, Community Structure, Waleo.AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menginventarisasi jenis-jenis Gastropoda serta mengetahui struktur komunitas termasuk: Kepadatan Spesies, Kepadatan Relatif, Keanekaragaman (H’), dan Dominansi (C). Berdasarkan hasil pengamatan diperoleh 124 individu yang termasuk dalam 11 spesies (7 genera) dari 7 famili (3 ordo). Nilai kepadatan tertinggi sebesar 5,87 Ind/m2 oleh spesies Euplica borealis, dan memiliki kepadatan relatif sebesar 35,48 %. Untuk indeks keanekaragaman diperoleh sebesar H’ = 1,62 yang tergolong rendah. Hal ini menunjukan bahwa daerah padang lamun perairan pantai Waleo, Kabupaten Minahasa Utara terdapat beberapa spesies yang diperoleh dengan jumlah individu yang melimpah dibandingkan jenis lainnya, sehingga indeks keanekaragaman yang diperoleh tergolong relatif rendah. Adapun untuk kisaran indeks dominansi yang diperoleh yaitu sebesar C = 0,36 sampai dengan 0,44. Nilai terrendah terdapat pada transek 1 sedangkan nilai tertinggi terdapat pada transek 2. Nilai tersebut menunjukan bahwa di padang lamun perairan Pantai Waleo, Kabupaten Minahasa Utara tidak terdapat jenis atau spesies tertentu yang mendominasi dalam komunitas tersebut. Wilayah perairan pantai Waleo, Kabupaten Minahasa Utara memiliki suhu 29,3 °C, menggambarkan bahwa kondisi suhu perairan tergolong baik untuk kehidupan Gastropoda. Salintas yang diperoleh sebesar 30 0/00, yang masih dalam kisaran baik untuk pertumbuhan Gastropoda. Derajat keasaman (pH) yang diperoleh yaitu 7 yang masih tergolong baik untuk kehidupan Gastropoda.Kata Kunci : Gastropoda, Struktur Komunitas, Waleo.
Potential of Carbon Absorption Mangrove Forest at Sarawet Village Kuala Batu, East Likupang, North Minahasa Regency Fihri Bachmid; Joshian N.W. Schaduw; Calvyn F.A. Sondak; Unstain N. W. J. Rembet; Stephanus V. Mandagi; Deiske A. Sumilat; Alfret Luasunaung
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 8 No. 2 (2020): ISSUE JULY-DECEMBER 2020
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.8.2.2020.28916

Abstract

Mangrove forest is one of a coastal natural resource with abundant potentials. The rapid coastal development has cost bad effects, such as mangrove forest conversion into dike or tourism. Mangrove forest has a prominent ecological function for coastal area. The purpose of this study was to analyst carbon absorption potency in both natural and restored mangrove forest in Sarawet Village, Kuala Batu, East Likupang. The sampling method in this study was a survey method that is observation and field sampling. The collected data was surface mangrove biomass and sediment, then analyst in Sam Ratulangi Laboratory, Manado. The biomass sampling data using transect line quadrat while and sediment sampling using sediment corer. This study found. That conclude that natural mangrove forest have a higher absorption and restored potential than restored mangrove forest.Keywords :  mangrove, biomass, carbon, sediment AbstrakPotensi sumber daya hutan Indonesia sangat melimpah, dan salah satunya ialah hutan mangrove. Pembangunan pada daerah pesisir yang begitu cepat telah memberi dampak buruk terhadap lingkungan, seperti konversi lahan hutan mangrove menjadi tambak dan kawasan parawisata. Hutan mangrove merupakan salah satu hutan yang memiliki fungsi ekologis sangat penting terutama bagi wilayah pesisir. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis potensi penyerapan karbon pada hutan mangrove yang restorasi dan alami di Desa Sarawet Kuala Batu Likupang Timur. Metode pengambilan data yang digunakan dalam kegiatan penelitian ini ialah metode survey yakni pengamatan dan pengambilan sampel langsung dilapangan. Data yang diambil ialah data biomassa mangrove bagian atas dan sedimen. Sampel yang diambil di analisis di Laboratorium Terpadu Universitas Sam Ratulangi Manado. Untuk pengambilan data biomassa dilakukan dengan menggunakan garis transek kuadrat dan pengambilan sampel sedimen menggunakan sediment corer. Dari hasil penelitian yang diperoleh, menunjukan bahwa hutan mangrove yang alami memiliki potensi penyerapan dan simpanan karbon yang lebih tinggi dibandingkan dengan hutan mangrove yang direstorasi.   Kata kunci :  mangrove, biomassa, karbon, sedimen
Persentase tutupan dan struktur komunitas mangrove di sepanjang pesisir Taman Nasional Bunaken bagian utara Annice Anthoni; Joshian Schaduw; Calvyn Sondak
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 5 No. 3 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.5.3.2017.16909

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah menghitung persentase tutupan mangrove dan mengetahui struktur komunitas mangrove. Penelitian ini dilakukan di sepanjang pesisir Taman Nasional Bunaken bagian Utara. Metode  yang di gunakan dalam penelitian ini  yaitu metode line transect dan metode hemisperichal photography. Data hasil penelitian ditemukan 6 jenis mangrove yaitu Sonneratia alba, Avicennia officinalis, Avecennia marina, Rhizophora apiculata, Rhizophora mucronata dan Bruguiera gymnorrhiza yang termasuk dalam 4 famili Sonneratiaceae, Avicenniaceae, Rhizophoraceae dan juga Bruguieraceae. Nilai tutupan kanopi mangrove yang tertinggi pada stasiun 2 (Meras)  di transek 2 mencapai nilai 82,78% dan yang terendah pada stasiun 1 (Molas)  di transek 1 yaitu 61,24%.
Produksi dan laju dekomposisi serasah mangrove (Sonneratia sp) di kawasan hutan mangrove Bahowo, Kelurahan Tongkaina Kecamatan Bunaken Sulawesi Utara Yunus Watumlawar; Calvyn Sondak; Joshian Schaduw; Jane Mamuaja; Suria Darwisito; Jardie Andaki
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 1 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.1.2019.22804

Abstract

Serasah hutan mangrove memiliki fungsi yang amat penting bagi ekosistem mangrove, diantaranya untuk mempertahankan kesuburan tanah hutan yang bersangkutan.  Kesuburan tanah dan tanaman bergantung pada produktivitas dan laju dekomposisi serasah.  Serasah akan mengalami dekomposisi, memberikan sumbangan bahan organik bagi tanah hutan, serta menjadi sumber makanan bagi kehidupan fauna tanah. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk memberikan informasi mengenai produktvitas serasah mangrove (Sonneratia sp.) dan laju dekomposisi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa total produksi serasah mangrove (Sonneratia sp.) yang terbesar ditemukan pada plot (1) yaitu (83,55 gr/m2/hari), kemudian plot 3 (55,30 gr/m2/hari),  selanjutnya plot 2 (45,87 gr/m2/hari), dan plot 4 menghasilkan produksi serasah sebesar (39,30 gr/m2/hari). Total rata-rata persentase dekomposisi dan laju dekomposisi per hari yang terbesar/tercepat terdapat pada plot 4 yaitu terurai semua pada hari ke-30, kemudian diikuti oleh plot 3 dengan sisa bobot akhir yaitu sebesar 15,70 % dengan laju dekomposisi per hari 1,57 %, kemudian plot 1 dengan sisa bobot akhir yaitu sebesar 16,32 % dengan laju dekomposisi per hari 1,09 %, dan yang terendah terdapat pada plot 2 sebesar 17,16 % dengan laju dekomposisi per hari 1,14%.
Struktur komunitas ekosistem mangrove dan kepiting bakau di Desa Lamanggo dan Desa Tope, Kecamatan Biaro, Kabupaten Kepulauan Siau, Tagulandang, Biaro Reinol Jacobs; Janny Kusen; Calvyn Sondak; Farnis Boneka; Veibe Warouw; Winda Mingkid
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 1 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.1.2019.22817

Abstract

Tujuan dari penelitian yaitu untuk mengetahui struktur komunitas mangrove di Desa Lamanggo dan Desa Tope, untuk mengetahui kelimpahan kepiting bakau di hutan mangrove, dan untuk mengetahui hubungan antara kerapatan mangrove dengan kepadatan kepiting.Penelitian dilakukan dengan menggunakan metode line transek kuadran dengan menentukan lima lokasi titik pengamatan pengambilan sampel, dan untuk mengetahui kondisi mangrove maka dilakukan perhitungan kerapatan jenis, frekuensi jenis, penutupan jenis, dominasi, indeks nilai penting dan keanekaragaman serta analisis kelimpahan kepiting bakau yang berhubungan dengan kerapatan mangrove dengan rumus Y = a + b X.. Dari hasil penelitian yang dilakukan, diketahui bahwa jenis mangrove yang memiliki nilai kerapatan tertinggi yaitu Rhizophora apiculata, dan untuk nilai frekuensi tertinggi juga yaitu jenis Rhizophora apiculata, sedangkan untuk nilai dominasi tertinggi dimiliki oleh jenis Sonneratia alba.Berdasarkan uji korelasi antara kerapatan pohon mangrove (X) terhadap kepadatan kepiting (Y) sebagaimana terlihat diperoleh r sebesar = 0,814 dengan Fhitung sebesar 1.94 < Ftabel 10.12. Hal ini berarti tidak terdapat hubungan yang signifikan antara kerapatan  mangrove dengan kepadatan kepiting bakau. Selanjutnya untuk melihat besarnya kontribusi kerapatan mangrove terhadap kepadatan kepiting dicari melalui koefisien determinasi R² = 0.66 yang berarti variabel kerapatan pohon mangrove tidak memberikan kontribusi terhadap kepadatan kepiting. Karena jika setiap penambahan variabel X, maka variabel Y akan berkurang sebesar 67.54937 - 0.110 X.
Identifikasi keanekaragaman lamun dan ekhinodermata dalam upaya konservasi Krisandy Bengkal; Indri Manembu; Calvyn Sondak; Billy Wagey; Joshian Schaduw; Laurence Lumingas
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 1 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.1.2019.22819

Abstract

Lamun memegang peran penting di komunitas pesisir karena merupakan salah satu faktor pendukung dari berbagai macam flora dan fauna, mempengaruhi produktivitas perairan pesisir, penstabil sedimen  mengontrol kejernihan dan kualitas air, serta dapat mempengaruhi ekosistem lain di sekitarnya. Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis keanekaragaman spesies lamun dan mengidentifikasi keanekaragaman ekhinodermata yang ditemukan di pesisir Kelurahan Tongkaina. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode Seagrass Watch. Data hasil penelitian, ditemukan lima jenis lamun, yaitu Cymodocea rotundata, Cymodocea serrulata, Thalassia hemprichii, Syringodium isoetifolium dan Enhalus acoroides yang terdiri dari dua famili yaitu Hydroccharitaceae dan Potamogentonaceae. Jenis lamun yang sering ditemui di Stasiun I adalah Cymodocea rotundata dengan nilai INP = 109,10 dan di Stasiun II Syringodium isoetifolium dengan nilai INP = 141,80. Enhalus acoroides adalah jenis lamun yang jarang ditemui pada kedua stasiun pengamatan, dengan nilai INP = 3,19 di Stasiun I dan di Stasiun II nilai INP = 52,30. Ditemukan tiga spesies ekhinodermata yang terdapat dalam transek kuadrat yaitu Protoreaster nodosus Ekhinothrix calamaris dan Linckia laevigata. Indeks keanekaragaman ekhinodermata di Stasiun I dengan nilai H' = 0,500 dan di Stasiun II dengan nilai H' = 0,410.
Co-Authors Abd Razak Aditya Hikmat Nugraha Adnan S Wantasen Adnan Wantasen Agung B. Windarto Agung B. Windarto, Agung B. Agus Ramli Alex D. Kambey Alex D. Kambey Alfret Luasunaung Alfret Luasunaung Alfret Luasunaung Angelitha O.T Iskandar Anisa Irwan Anneke V. Lohoo Annice Anthoni Anthonius P. Rumengan Antonius P Rumengan Antonius P Rumengan Antonius P. Rumengan Antonius Rumengan Ari Rondonuwu Arsida N.A. Kamaludin Bachmid, Fihri Bella R. Lelewa Billy T. Wagey Billy Th Wagey Billy Th Wagey Billy Th. Wagey Billy Theodorus Wagey Billy Theodorus Wagey Billy Wagey Billy Wagey Carolus P. Paruntu Carolus Paulus Paruntu Christin I F Kondoy Christine Kondoy Christine Kondoy Christofel B. S. Harum Daruit, Marselina Darus S. Paransa David B. Tamarariha Dedyes Alescandro Darui Deiske A. Sumilat Deiske A. Sumilat Deiske Adeliene Sumilat, Deiske Adeliene Deiske. A. Sumilat Deisle RH Kumampung Deisli R H Kumampung Deislie R H Kumampung Deislie R H Kumampung Djakatara, Paratiti Dewi Djuwita R.R. Aling Ekarisma Rerung Ellsya P Lahope Elvy L Ginting Elvy Like Ginting Erly Kaligis Erly Y Kaligis Erly Y. Kaligis Esry T Opa Esther D. A. Angkouw Esther D. Angkouw Farnis B Boneka Farnis B. Boneka Farnis Boneka Feby GB Kombo Ferdinand F. Tilaar Fihri Bachmid Firman Darman Franco Grenaldy Gabi Frans Lumuindong Gerardus M Tiolong Gilbert Kindangen Ginting, Elvy Like Glorima J. A. Tijow Grevo S Gerung Grevo S. Gerung Grevo Soleman Gerung Haryani Sambali Henneke Pangkey Henneke Pangkey Hens Onibala Hery A. Lengkong Immanuel S. T. Septian Indra Asman Indri Manembu Indri Manembu Inneke F. M Rumengan Iroth, Revelino A. James J H Paulus Jane M Mamuaja Jane M. Mamuaja Jane Mamuaja Janny D. Kusen Janny Dirk Kusen Janny Kusen Jardie A. Andaki Jardie Andaki Jeannete F Pangemanan Jeannette F. Pangemanan, Jeannette F. Jetty K. Rangan Jetty Rangan Jety K. Rangan John L. Tombokan Joice R. Rimper Joice R. T. S. I. Rimper Joice R.T.S.L Rimper Joshian N W Schaduw Joshian N. W. Schaduw Joshian N. W. Schaduw Joshian N.W Schaduw Joshian N.W Schaduw Joshian N.W. Schaduw Joshian N.W. Schaduw Joshian NW Schaduw Joshian Schaduw Joudy R. R. Sangari Joudy Sangari Khristin F I Kondoy Khristin I. F. Kondoy, Khristin I. F. Khristin I.F. Kondoy Khusnul Hotimah Kreckhoff, Reny L. Krisandy Bengkal Kumampung, , Deislie R.H. Kumampung, Deislie R.H Kumampung, Deslie Kurniati Kemer Kusen, Janny Lahimade, Melisa Lasut, Astrid Y. Lasut, Nicole Theresa Laurence Lumingas Luasunaung, Alfrets Lusia Manu Manoppo, Toshiko M. Mantiri, Desy M. H Marthen Bongga Medy Ompi Medy Ompi Medy Ompi Meilin Yulita Walo Mikhael A Maramis Mokolensang, Jeffrie F. Mopay, Maratade Muhammad Gibran Kahar N Gustaf Mamangkey Natalie D Rumampuk Natalie D.C Rumampuk Natalie D.C. Rumampuk Nickson J. Kawung Noldy G. F. Mamangkey Nurul Dhewani Mirah Sjafrie Ode Mantra, Syahrun Olivio E. De Jesus Soares Opa, Esri T. Pangemanan, Novie P.L. Pansing, Jenita Paulus, James Ping Astony Angmalisang Ping Astony Angmalisang Pondaag, Kristy Sofia Prengky P Babo Rampengan, Royke Rangan, Jety Reinol Jacobs Remy E. P Mangindaan Rene Ch. Kepel Reny L. Kreckhoff Richardo O. Roring Ridwan Lasabuda Ridwan Lasabuda Rignolda Djamaluddin Robert A. Bara Robert A. Bara Roeroe, Kakaskasen Andreas Rondonuwu, Arie B. Rose O. S. E Mantiri Rosita A. J. Lintang Royke M Rampengan Royke M. Rampengan Rumengan, Antonius Petrus Runtuwene, Heard C.C. Sandra O. Tilaar Sandra Olivia Tilaar Sandra Tilaar Sapsuha, Jufran Sarifudin Tidore Sartje Lantu Sesar Prabu Dwi Sriyanto Silveste.r B. Pratasik Silvester B Pratasik Sinjal, Chatrien A. L. Sinjal, Chatrien Annita Soniya Br Sipayung Steelma V. Rantung Stenly Wullur Stephanus V. Mandagi Stephanus V. Mandagi Steven Medellu Suria Darwisito Suria Darwisito Takarendehang, Roberto Tampanguma, Biondi Tamsir, Chika Litawaty Tangkudung, Maureen J. N. N. Tidore, Fadli Tulung, Rezykita Udin Upara Unstain N. W. J. Rembet Unstain N. W. J. Rembet, Unstain N. W. J. Unstain N.W.J. Rembet Unstain N.W.J. Rembet Veibe Warouw Veibe Warouw Veibe Warouw Veibe Warouw Veibe Warouw Verisandria, Rio Vinsensius V. Makawaehe Wahyu Adi Wilhelmina Patty Wilmy E Pelle Winda Mingkid Yehiel Hendry Dasmasela Yogo Pamungkas, Yogo Yunus Watumlawar