Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Pengaruh Adiksi AI Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa: Pengaruh Adiksi AI Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Guntur Pratama; Kharisma Hilmi; Wiryo Nuryono
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 Nomor 02, Juni 2026 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.15767

Abstract

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah memberikan perubahan yang signifikan dalam dunia pendidikan dengan menghadirkan berbagai kemudahan dalam memperoleh informasi, menyelesaikan tugas akademik, serta mendukung proses pembelajaran. Di sisi lain, penggunaan AI yang berlebihan berpotensi menimbulkan adiksi atau ketergantungan yang dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritis peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh adiksi AI terhadap kemampuan berpikir kritis siswa berdasarkan hasil kajian pustaka. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) melalui pengumpulan dan analisis berbagai sumber ilmiah berupa buku, jurnal, dan artikel yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa adiksi AI ditandai oleh ketergantungan individu dalam menyelesaikan tugas dan mengambil keputusan dengan mengandalkan sistem AI sehingga mengurangi keterlibatan proses berpikir mandiri. Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena cognitive offloading, yaitu pemindahan sebagian proses berpikir kepada teknologi. Ketergantungan terhadap AI berdampak pada menurunnya kemampuan menganalisis informasi, mengevaluasi sumber, menyusun argumen, memecahkan masalah, serta menghasilkan gagasan secara mandiri. Namun demikian, AI tetap memberikan manfaat positif apabila dimanfaatkan secara proporsional, kritis, dan disertai literasi digital yang memadai. Oleh karena itu, penggunaan AI dalam pendidikan perlu diarahkan sebagai sarana pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir peserta didik, sehingga kemampuan berpikir kritis tetap dapat berkembang secara optimal.
Emotional Eating sebagai Respons terhadap Tekanan Emosional pada Remaja dan Dewasa Awal Gadis Cahayani; Putri Meisya Ayu Dewantara; Nabila Jasmine Faiz; Mayse Shaella Yusel; Wiryo Nuryono
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Public
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.15914

Abstract

Emotional eating merupakan perilaku makan yang dilakukan sebagai respons terhadap kondisi emosional, sepertistres, sedih, marah, atau cemas, bukan semata-mata karena rasa lapar fisiologis. Perilaku ini cukup rentan terjadi pada remajadan dewasa awal karena pada fase tersebut individumenghadapi berbagai tuntutan perkembangan, akademik, sosial, dan personal yang dapat memengaruhi kondisi emosionalmereka. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkankecenderungan emotional eating pada remaja dan dewasa awalserta mengidentifikasi dampaknya terhadap kondisi emosional, sosial, dan akademik. Penelitian menggunakan pendekatankuantitatif dengan desain deskriptif. Data dikumpulkan melaluikuesioner daring menggunakan Google Form yang disebarkankepada 85 responden usia remaja dan dewasa awal. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif berupa frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62,3% responden mencari makanan ketika mengalami stres, 42,4% mengalami dorongan makan yang kuat saat merasa sedih ataumarah, dan 49,4% mengonsumsi makanan manis atau berlemaksecara berlebihan ketika suasana hati sedang buruk. Selain itu, 54,1% responden mengaku merasa menyesal atau kecewaterhadap diri sendiri setelah makan berlebihan. Meskipundemikian, sebagian besar responden tidak mengalami dampakyang signifikan terhadap kehidupan sosial maupun aktivitasakademik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa emotional eating pada responden lebih banyak berfungsi sebagaimekanisme coping emosional sementara dibandingkan sebagaigangguan perilaku makan yang berat. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kemampuan regulasi emosi dan strategi coping yang lebih adaptif untuk mencegah berkembangnyaperilaku emotional eating yang berlebihan.
Analisis Kebutuhan Media Pembelajaran untuk Meningkatkan Regulasi Emosi Remaja sebagai Upaya Pencegahan Penyalahgunaan Narkoba Bimantara Isfanu Islam; Wiryo Nuryono
DA'WA: Jurnal Bimbingan Penyuluhan & Konseling Islam Vol. 5 No. 2 (2026): February
Publisher : IAI Miftahul Ulum Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36420/entpyj45

Abstract

Intervensi pencegahan penyalahgunaan narkoba di sekolah umumnya masih didominasi oleh pendekatan kognitif-informatif konvensional. Penelitian ini menawarkan kebaruan dengan mengintegrasikan Model Proses Regulasi Emosi (Gross) untuk menganalisis kebutuhan media pembelajaran sebagai strategi preventif penyalahgunaan narkoba pada remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan desain need analysis pada tahap Analysis (model ADDIE). Subjek penelitian terdiri atas 118 peserta didik Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di Surabaya. Pengumpulan data menggunakan Skala Regulasi Emosi (40 aitem valid; $\alpha$ = 0,876), instrumen skrining DAST-10 yang diterapkan secara anonim, angket kebutuhan media, dan wawancara Guru Bimbingan dan Konseling. Hasil penelitian menunjukkan profil regulasi emosi peserta didik berada pada kategori sedang, di mana siswa dominan menggunakan strategi penghindaran (Pemilihan Situasi; 62,46%) namun sangat lemah dalam mengelola gejolak emosi (Modulasi Respons; 58,77%). Hasil skrining DAST-10 mendeteksi 79,6% siswa tidak bermasalah, namun keberadaan 11,8% siswa berisiko rendah dan 8,4% berisiko sedang menjadi sinyal peringatan dini (early warning) akan adanya kerentanan. Oleh karena itu, peserta didik menunjukkan tingkat kebutuhan yang tinggi (>65%) terhadap media pembelajaran yang interaktif, visual, dan berbasis simulasi. Simpulan penelitian ini menegaskan bahwa pengembangan media pembelajaran yang secara spesifik melatih keterampilan modulasi respons sangat dibutuhkan oleh Guru BK untuk intervensi preventif. Mengingat keterbatasan studi ini yang bersifat deskriptif self-report pada satu sekolah, penelitian lanjutan dengan desain eksperimental sangat direkomendasikan.
Identifikasi Coping Adiktif Warga Binaan Pemasyarakatan Menjelang Bebas melalui Pendekatan Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) Aiuningtyas Yuni Oetari; Wiryo Nuryono; Budi Purwoko; Evi Winingsih
DA'WA: Jurnal Bimbingan Penyuluhan & Konseling Islam Vol. 5 No. 2 (2026): February
Publisher : IAI Miftahul Ulum Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36420/xckpyj16

Abstract

Drug abuse is one of the focus of problems that is still urgent until now, the real impact of users is seen and felt not only biologically but also psychologically. The tendency to relapse or relapse in drug users is an obstacle in prevention and rehabilitation efforts for drug users. This study aims to help clients/counselees in finding new rational beliefs and identifying addictive coping patterns that can trigger relapse, repeating crimes, or recidivism in former drug users. The method used in this study is Qualitative with a Case Study model on the subjects of five Correctional Residents (WBP) aged 20-25 years in the final period of detention who are former drug users. Data collection techniques are carried out through observation, counseling interviews, and documentation. The approach used in therapy is Cognitive Behavioral Counseling with the Rational Emotive Behavior Therapy (REBT) approach. The main results of this study indicate the existence of irrational beliefs that trigger relapse tendencies such as; (1) Responsibility or burden of life after release, (2) Statements about easy access to narcotics, (3) Fear of negative judgment from society or those closest to them. The interconnectedness of these three factors forms an addictive coping pattern that emerges as a means of self-preservation to avoid anxiety before release. This study highlights addictive coping as a cognitive response to anxiety before release, which has not been widely studied in the context of the reintegration of narcotics inmates. The practical implications of this study include: (1) for counselors, understanding the client's cognitive and emotional state is crucial in eliminating irrational thought patterns and addictive coping as potential recidivism; (2) for school counselors, the finding that early exposure to narcotics during school confirms the need for early preventive intervention through the development of emotional regulation, rational thinking patterns, and skills in dealing with peers; (3) for the Development of the Guidance and Counseling Profession, the need for ongoing psychological support in preventing recidivism.
Analisis Bibliometrik: Perkembangan Penelitian Solution-Focused Brief Counseling (SFBC) dalam Bimbingan dan Konseling di Sekolah Natasalwa Valencya; Wiryo Nuryono; Budi Purwoko; Evi Winingsih
DA'WA: Jurnal Bimbingan Penyuluhan & Konseling Islam Vol. 6 No. 1 (2026): September
Publisher : IAI Miftahul Ulum Pamekasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36420/jdabk398

Abstract

Penelitian terkait Solution-Focused Brief Counseling (SFBC) dalam konteks layanan bimbingan dan konseling di sekolah Indonesia menunjukkan perkembangan topik yang semakin beragam, namun belum banyak dipetakan secara komprehensif berdasarkan perkembangan publikasi dan keterkaitan tema penelitian. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk memetakan perkembangan penelitian SFBC dalam layanan bimbingan dan konseling pada jenjang sekolah menengah di Indonesia selama periode 2015–2025, serta mengidentifikasi perkembangan tema dan arah penelitian yang muncul. Penelitian ini menggunakan analisis bibliometrik dengan basis data Google Scholar dan menghasilkan 135 artikel yang memenuhi kriteria inklusi. Analisis dilakukan melalui pemetaan tren publikasi, produktivitas publikasi, sitasi, serta analisis co-occurrence kata kunci menggunakan VOSviewer. Hasil penelitian menunjukkan bahwa publikasi SFBC mengalami perkembangan yang fluktuatif, namun cenderung meningkat dan mencapai jumlah tertinggi pada tahun 2025. Perkembangan penelitian menunjukkan pergeseran fokus dari penerapan teknik dan penguatan aspek psikologis individual menuju persoalan akademik dan psikososial, serta pengembangan kemampuan adaptif, hingga layanan karier. Temuan ini menunjukkan bahwa penelitian SFBC di Indonesia berkembang dari orientasi penyelesaian masalah menuju penerapan yang lebih kontekstual dan berorientasi pada penguatan sumber daya peserta didik. Pemetaan ini memberikan gambaran mengenai perkembangan keilmuan SFBC dalam konteks BK di sekolah, sekaligus mengidentifikasi peluang penelitian lanjutan pada tema dengan kepadatan jaringan yang masih rendah, seperti academic anxiety, aggresiveness, self-disclosure, dan compulsive internet use.