Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Pengaruh Adiksi AI Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa: Pengaruh Adiksi AI Terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Guntur Pratama; Kharisma Hilmi; Wiryo Nuryono
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 Nomor 02, Juni 2026 Published
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.15767

Abstract

Perkembangan Artificial Intelligence (AI) telah memberikan perubahan yang signifikan dalam dunia pendidikan dengan menghadirkan berbagai kemudahan dalam memperoleh informasi, menyelesaikan tugas akademik, serta mendukung proses pembelajaran. Di sisi lain, penggunaan AI yang berlebihan berpotensi menimbulkan adiksi atau ketergantungan yang dapat memengaruhi kemampuan berpikir kritis peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengaruh adiksi AI terhadap kemampuan berpikir kritis siswa berdasarkan hasil kajian pustaka. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kepustakaan (library research) melalui pengumpulan dan analisis berbagai sumber ilmiah berupa buku, jurnal, dan artikel yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa adiksi AI ditandai oleh ketergantungan individu dalam menyelesaikan tugas dan mengambil keputusan dengan mengandalkan sistem AI sehingga mengurangi keterlibatan proses berpikir mandiri. Kondisi tersebut berkaitan dengan fenomena cognitive offloading, yaitu pemindahan sebagian proses berpikir kepada teknologi. Ketergantungan terhadap AI berdampak pada menurunnya kemampuan menganalisis informasi, mengevaluasi sumber, menyusun argumen, memecahkan masalah, serta menghasilkan gagasan secara mandiri. Namun demikian, AI tetap memberikan manfaat positif apabila dimanfaatkan secara proporsional, kritis, dan disertai literasi digital yang memadai. Oleh karena itu, penggunaan AI dalam pendidikan perlu diarahkan sebagai sarana pendukung pembelajaran, bukan sebagai pengganti proses berpikir peserta didik, sehingga kemampuan berpikir kritis tetap dapat berkembang secara optimal.
Emotional Eating sebagai Respons terhadap Tekanan Emosional pada Remaja dan Dewasa Awal Gadis Cahayani; Putri Meisya Ayu Dewantara; Nabila Jasmine Faiz; Mayse Shaella Yusel; Wiryo Nuryono
Didaktik : Jurnal Ilmiah PGSD STKIP Subang Vol. 12 No. 02 (2026): Volume 12 No. 2, Juni 2026 Public
Publisher : STKIP Subang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36989/didaktik.v12i02.15914

Abstract

Emotional eating merupakan perilaku makan yang dilakukan sebagai respons terhadap kondisi emosional, sepertistres, sedih, marah, atau cemas, bukan semata-mata karena rasa lapar fisiologis. Perilaku ini cukup rentan terjadi pada remajadan dewasa awal karena pada fase tersebut individumenghadapi berbagai tuntutan perkembangan, akademik, sosial, dan personal yang dapat memengaruhi kondisi emosionalmereka. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkankecenderungan emotional eating pada remaja dan dewasa awalserta mengidentifikasi dampaknya terhadap kondisi emosional, sosial, dan akademik. Penelitian menggunakan pendekatankuantitatif dengan desain deskriptif. Data dikumpulkan melaluikuesioner daring menggunakan Google Form yang disebarkankepada 85 responden usia remaja dan dewasa awal. Data dianalisis menggunakan statistik deskriptif berupa frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 62,3% responden mencari makanan ketika mengalami stres, 42,4% mengalami dorongan makan yang kuat saat merasa sedih ataumarah, dan 49,4% mengonsumsi makanan manis atau berlemaksecara berlebihan ketika suasana hati sedang buruk. Selain itu, 54,1% responden mengaku merasa menyesal atau kecewaterhadap diri sendiri setelah makan berlebihan. Meskipundemikian, sebagian besar responden tidak mengalami dampakyang signifikan terhadap kehidupan sosial maupun aktivitasakademik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa emotional eating pada responden lebih banyak berfungsi sebagaimekanisme coping emosional sementara dibandingkan sebagaigangguan perilaku makan yang berat. Oleh karena itu, diperlukan penguatan kemampuan regulasi emosi dan strategi coping yang lebih adaptif untuk mencegah berkembangnyaperilaku emotional eating yang berlebihan.