Claim Missing Document
Check
Articles

Can Subject Speak? Umar Thamrin; Ridwan Ridwan
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i3.2060

Abstract

Why we ask the wrong questions and why we engage in circular reasoning in our debate on subjectivity are the questions I attempt to answer. By applying Greimasian narrative semiotics, I analyze the deep structure of subjectivity and apply the structure to trace the complex layers of subjectivity on which the postcolonial and postmodern critiques are founded. I argue that central to subjectivity is value, and the problem of subjectivity is not to define it but to locate power and desire that constitute the value. They are located in the triangle relationship between subject, object, and sender. The subject desires an object only when the sender creates value for the object. Problematizing and critiquing the position of the subject in the oppressive narrative, or asking who owns the narrative, are the gates to the labyrinth of irrelevant inquiries into subjectivity. This is the underlying reason for the failure of postmodern and postcolonial interventions, for they provide no solution to the ongoing oppression of marginal subjects. Agency and freedom are only myths constituted by the postmodern and postcolonial narratives. The subject is scandalous. It does not exist in its own narrative. The subject never speaks for itself. It is condemned to self-alienation.
Dinamika Seksualitas dan Represi Perselingkuhan: Analisis Freudian dalam Film Ipar Adalah Maut Nensilianti Nensilianti; Ridwan Ridwan; Nurul Aini
DEIKTIS: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Perkumpulan Dosen Muslim Indonesia - Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53769/deiktis.v5i4.2514

Abstract

This study analyzes the psychoanalytic dynamics of infidelity in the film Ipar Adalah Maut using a qualitative approach and textual analysis based on Freudian theory. This research addresses the limited scholarly attention to the interplay of the Id, Ego, and Superego within the Indonesian cultural context, where strong religious and moral norms generate a distinct pattern of sexual conflict compared to Western representations. Data consisting of dialogues, gestures, visual symbols, and cinematic scenes were collected through repeated observations and examined using a psychoanalytic content analysis framework that emphasizes the dynamics of libido, repression, and ego defence mechanisms. The findings indicate that libido is triggered by a simple visual stimulus and gradually intensifies through repeated physical proximity, whereas trauma and transference reinforce the characters’ pathological attachment. The Ego subsequently transforms into a facilitator of destructive impulses through rationalization, denial, and secondary revision, leading the sexual relationship to develop into compulsive and manipulative behavior. The climax is marked by parapraxis and the return of the repressed, which exposes hidden deceit and dismantles the characters’ moral and relational structures. This study contributes to Indonesian film psychoanalysis by demonstrating how culture, trauma, and repetition shape destructive erotic dynamics in cinematic narratives.
Perlawanan Untuk Memperjuangkan Hak dan Keadilan dalam Novel Karmila Karya Marga Tjoa: Feminisme Eksistensialis Simon De Beauvoir Asia M; Ridwan Ridwan; Mutiara Sari Ahmad
GHANCARAN: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol. 7 No. 1 (2025)
Publisher : Tadris Bahasa Indonesia, Fakultas Tarbiyah, Institut Agama Islam Negeri Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19105/ghancaran.v7i1.13293

Abstract

Penelitian ini menganalisis bentuk perlawanan tokoh utama dalam novel Karmila karya Marga Tjoa, dengan fokus pada perjuangan perempuan untuk memperjuangkan hak dan keadilan dalam kerangka feminisme eksistensialis Simon de Beauvoir. Melalui metode deskriptif kualitatif yang menggambarkan situasi objek berdasarkan fakta, kutipan-kutipan novel yang relevan dianalisis untuk memahami bagaimana pengarang mengekspresikan feminisme eksistensialis dalam sebuah karya sastra. Hasilnya menunjukkan bahwa Karmila memperjuangkan hak dan keadilan dengan menjadi perempuan yang bekerja, mengejar pendidikan dan meraih kesuksesan karier, serta menolak subordinasi dengan menentang peran-peran tradisional yang membatasi kebebasan perempuan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Karmila dalam novel tersebut merupakan contoh yang kuat dari perjuangan perempuan untuk mengambil kendali atas hidup mereka sendiri dengan menentang segala bentuk penindasan atau ketergantungan dengan pihak lain, sesuai dengan prinsip-prinsip feminisme eksistensialis Simon de Beauvoir.
Komparasi Karakter Ekstrovert dan Introvert Tokoh Utama dalam Film "200 Pounds Beauty" Versi Korea dan Indonesia: Psikologi Analitik Carl Gustav Jung Nensilianti Nensilianti; Ridwan Ridwan; Nurul Syafiqah
Dinamika: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya Vol. 9 No. 1 (2026): Bahasa, Sastra, dan Pembelajarannya
Publisher : Universitas Suryakancana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35194/jd.v9i1.5986

Abstract

This article describe the comparison between extroverted and introverted characteristics of the main characters in the Korean version (2006) and the Indonesian version (2023) of the film 200 Pounds Beauty using Carl Gustav Jung’s analytical psychology approach. This approach was chosen because it can reveal personality dynamics through four psychic functions thinking, feeling, sensing, and intuition that shape an individual’s extroverted and introverted orientations. The research employs a qualitative descriptive method with a comparative design, using literature study and documentation techniques on both films. The data, consisting of dialogues, scenes, and expressions of the main characters, were analyzed to identify personality traits based on Jung’s theory.The results show that in the Korean version, the character Hanna/Jenny tends to be extroverted, demonstrated by her courage to appear in public and her pursuit of social recognition, while still harboring inner conflicts that reveal her introverted side. Meanwhile, in the Indonesian version, the character Juwita/Angel displays a balance between the two types, with a dominant introverted nature reflected through self-reflection, guilt, and moral awareness of her identity. Cultural differences also influence the expression of personality and the social values presented. This study concludes that Jung’s analytical psychology theory is effective for analyzing personality in cross-cultural films and understanding the process of self-acceptance.Keywords: analytical psychology; Carl Gustav Jung; extrovert; introvertArtikel ini  memaparkan komparasi karakter ekstrovert dan introvert tokoh utama dalam film 200 Pounds Beauty versi Korea (2006) dan versi Indonesia (2023) menggunakan pendekatan psikologi analitik Carl Gustav Jung. Pendekatan ini dipilih karena mampu mengungkap dinamika kepribadian melalui empat fungsi psikis pikiran, perasaan, pengindraan, dan intuisi yang membentuk orientasi ekstrovert dan introvert individu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan desain komparatif dan teknik studi pustaka serta dokumentasi terhadap kedua film. Data berupa dialog, adegan, dan ekspresi tokoh utama dianalisis untuk menemukan ciri kepribadian berdasarkan teori Jung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam versi Korea, tokoh Hanna/Jenny cenderung ekstrovert dengan keberanian tampil di ruang publik dan pencarian pengakuan sosial, namun tetap menyimpan konflik batin yang memperlihatkan sisi introvert. Sementara itu, tokoh Juwita/Angel dalam versi Indonesia memperlihatkan keseimbangan antara kedua tipe, dengan dominasi sifat introvert yang tercermin melalui refleksi diri, rasa bersalah, dan kesadaran moral terhadap identitasnya. Tokoh utama dalam kedua versi film menunjukkan ekspresi kepribadian yang berbeda dalam menanggapi konflik batin dan pencarian jati diri. Penelitian ini menegaskan bahwa teori psikologi analitik Jung efektif digunakan untuk menganalisis kepribadian tokoh dalam film dan memahami proses penerimaan diri melalui dinamika fungsi psikis.Kata kunci: Carl Gustav Jung; ekstrovert;  introvert;  psikologi analitik
Co-Authors Adhalia Wanafesyahan, Fahira Adinda Khoirunnisa Ahmadi, Hayana Apriliya, Dela Ardisa, Ardisa Asia Asia M Asia M Asia M, Asia M Asia*, Asia Aslan Abidin Aslan Abidin, Aslan Atika Suri Ramadani Bunga , Vionanda Toding Bungatang Bungatang Damat, Yultriani Davina, Davina Diana, Ririn Sefty Djuanda Djuanda, Djuanda Dwi Rahmi Apriliya Filawati Filawati Filawati Fitri Ramadhani Galenta, Novita Hamdiah Sudirman Hamid, Reski Aulia Hastab, Nur Amalia Hendra Pratama Putra Imelia Kristi Rante Allo Inhilda, Inul Ishak Ishak Istiqamah, Putri Nur Ita Rosvita Jihan Atikah Johar Amir Junaedi, Inayah Maharezki Kurnia Ramadani Latif, Vivi Adriana Lisma Lisma, Lisma Lulyastuti Lulyastuti M, Asia M, Asia, Maharezki, Inayah Muhammad Alfian Tuflih Muhammad Rapi Mustika, Indah Mutiara Sari Ahmad Nensilianti Nensilianti Nensilianti Nensilianti Nensilianti Ningrum Amalia Putri Nur Amalia Hastab Nurul Aini Nurul Syafiqah Nuryuliati, Nuryuliati Pahlevi, Mirza Kamal Pratidina, Nur Ainun Pratiwi Pratiwi Puspa Darwini, Nurul Fadhilah Putra, Hendra Pratama Putra, Pauzan Ramadan Rahmah Indryani Rahmah Indryani Ramadani, Aulia Magfira Ramadhan, Nur Syawaluddin Rante Allo, Imel Kristi Rasding, Reski Fajria ratih ratih Rembon, Earline Griselda Riska Nadia, Riska Nadia Sakti M, Reztu Dwi Shalsabilah Z, Shafira Siti Nurjihan Indasari Srikandi Apriliyani Srikandi Apriliyani Sumarni Syafiqah*, Nurul Syahril, Ainun Sang Fajar Tang, Muhammad Rapi Taufik Natsir Tuflih, Muhammad Alfian Umar Thamrin Vanesa, Vanesa Wiastra, Wulandari Wiwik Handayani Wulan Fadillah Wulandari Wulandari, Welda Yuliana Yuliana Yuliana Yuliana Zaskia Rahmadhani