Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Pengaruh E-Service Quality dan User Experience terhadap Customer Satisfaction pada Trip.com Salma Zahara Nurul Makiyah; Adam Hermawan; Muhammad Rizki Nugraha
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.9211

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh e-service quality dan user experience terhadap customer satisfaction pada pengguna Trip.com di Indonesia. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh meningkatnya penggunaan layanan online travel agency serta munculnya berbagai keluhan pengguna terkait kualitas layanan elektronik dan pengalaman penggunaan aplikasi Trip.com. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain eksplanatori. Responden penelitian berjumlah 240 pengguna Trip.com di Indonesia yang pernah melakukan transaksi melalui aplikasi atau website dalam 12 bulan terakhir. Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling. Data penelitian dianalisis menggunakan regresi linear berganda dengan bantuan IBM SPSS Statistics. Hasil penelitian menunjukkan bahwa e-service quality berpengaruh positif dan signifikan terhadap customer satisfaction dengan koefisien regresi sebesar 0,097 dan nilai signifikansi <0,001. User experience juga berpengaruh positif dan signifikan terhadap customer satisfaction dengan koefisien regresi sebesar 0,186 dan nilai signifikansi <0,001. Secara simultan, e-service quality dan user experience berpengaruh signifikan terhadap customer satisfaction dengan nilai F-hitung sebesar 175,286 dan signifikansi <0,001. Nilai R Square sebesar 0,597 menunjukkan bahwa kedua variabel mampu menjelaskan customer satisfaction sebesar 59,7%, sedangkan 40,3% dijelaskan oleh faktor lain di luar model penelitian. Temuan penelitian menunjukkan bahwa peningkatan customer satisfaction pengguna Trip.com perlu didukung oleh kualitas layanan elektronik yang baik serta pengalaman penggunaan aplikasi yang nyaman, mudah dipahami, dan mampu memenuhi kebutuhan pengguna secara optimal.
Pengaruh Perceived value terhadap Intention to continue relationship dengan Mediasi Satisfaction pada Kemitraan Business-to-Business Muhammad Arief Sani Wibisono; Syti Sarah Maesaroh; Muhammad Rizki Nugraha
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.11911

Abstract

Keberlanjutan hubungan merupakan faktor penting dalam kemitraan Business-to-Business (B2B) karena mendukung terciptanya kolaborasi jangka panjang, pertukaran sumber daya, serta penciptaan nilai bersama antarorganisasi. Meskipun hubungan antara Perceived Value, Satisfaction, dan Intention to continue relationship telah banyak dibahas dalam literatur B2B, sebagian besar penelitian masih berfokus pada hubungan yang bersifat komersial, seperti hubungan supplier–buyer atau pertukaran berbasis transaksi. Penelitian mengenai hubungan tersebut dalam konteks kemitraan B2B kolaboratif yang tidak didasarkan pada transaksi ekonomi langsung masih relatif terbatas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh Perceived value terhadap Intention to continue relationship melalui peran mediasi Satisfaction dalam kemitraan B2B non-transaksional. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 190 organisasi sebagai responden. Analisis data dilakukan menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa Perceived value berpengaruh positif dan signifikan terhadap Satisfaction serta Intention to continue relationship. Selain itu, Satisfaction juga terbukti berpengaruh positif dan signifikan terhadap Intention to continue relationship. Hasil pengujian mediasi menunjukkan bahwa Satisfaction memediasi secara parsial hubungan antara Perceived value dan Intention to continue relationship, yang mengindikasikan bahwa manfaat yang dirasakan organisasi dapat mendorong keberlanjutan hubungan baik secara langsung maupun melalui terbentuknya kepuasan. Temuan ini memperluas penerapan Social Exchange Theory dan Expectation Confirmation Theory pada konteks kemitraan B2B non-transaksional serta menegaskan bahwa penciptaan nilai merupakan faktor strategis dalam membangun hubungan kolaboratif yang berkelanjutan antarorganisasi.
Perancangan Sistem Informasi Pemasaran dengan Strategi Lead Generation Menggunakan Metode Prototyping Auliya Nur Kholishah; Adi Prehanto; Muhammad Rizki Nugraha
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 5 No. 2 (2026): Mei-Juli
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v5i2.12656

Abstract

Ketergantungan bisnis pada marketplace dapat membatasi akses terhadap data pelanggan dan menimbulkan fragmentasi informasi yang menghambat pengelolaan calon konsumen. Penelitian ini bertujuan merancang sistem informasi pemasaran berbasis website pada Nubua dengan strategi lead generation untuk mengoptimalkan akuisisi first-party data, mengurangi risiko lost leads, dan mendukung tindak lanjut pemasaran yang lebih terarah. Penelitian menggunakan pendekatan Research and Development dengan metode prototyping yang dilaksanakan melalui tahapan komunikasi, perencanaan cepat, pemodelan desain, pembangunan prototipe, serta penyerahan dan evaluasi. Sistem dikembangkan menggunakan framework Laravel dengan arsitektur Model-View-Controller dan menyediakan fitur landing page, katalog produk, formulir penangkapan leads, pengelolaan basis data prospek, klaim voucher, integrasi WhatsApp, serta dasbor admin. Pengujian fungsional dilakukan menggunakan Black Box Testing, sedangkan penerimaan pengguna dievaluasi melalui Technology Acceptance Model yang mencakup Perceived Usefulness, Perceived Ease of Use, Attitude Toward Use, dan Behavioral Intention. Hasil pengujian menunjukkan bahwa seluruh fitur sistem berjalan sesuai spesifikasi dan mampu mengotomatisasi penyimpanan data calon pelanggan serta menghubungkan pengguna dengan WhatsApp. Evaluasi penerimaan memperoleh nilai rata-rata 4,14 dalam kategori tinggi, dengan Perceived Ease of Use sebesar 4,38 sebagai aspek tertinggi. Sistem yang dikembangkan mampu membantu Nubua mengatasi blind data, mempercepat pengelolaan prospek, meningkatkan kendali atas data pelanggan, dan mendukung strategi pemasaran yang lebih personal, efisien, serta berkelanjutan.
IMPLEMENTASI MODEL UTAUT UNTUK MENGIDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI PENERIMAAN CHATBOT META AI WHATSAPP Layra Narda Anargya; Btari Mariska Purwaamijaya; Muhammad Rizki Nugraha
JIPI (Jurnal Ilmiah Penelitian dan Pembelajaran Informatika) Vol 10, No 4 (2025)
Publisher : STKIP PGRI Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29100/jipi.v10i4.9337

Abstract

Perkembangan Generative Artificial Intelligence (GenAI) mendorong integrasi chatbot ke berbagai platform, termasuk WhatsApp melalui fitur chatbot Meta AI. Namun, tingkat penerimaan pengguna terhadap fitur ini masih lebih rendah dibandingkan chatbot lain seperti ChatGPT dan Gemini. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang memengaruhi penerimaan pengguna terhadap chatbot Meta AI WhatsApp dengan menggunakan model Unified Theory of Acceptance and Use of Technology (UTAUT). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif melalui survei terhadap 270 pengguna aktif WhatsApp yang telah mencoba chatbot Meta AI, dengan analisis data menggunakan SEM-PLS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa performance expectancy (p = 0,000), effort expectancy (p = 0,000), dan social influence (p = 0,000) berpengaruh positif signifikan terhadap behavioral intention, sedangkan facilitating conditions tidak berpengaruh signifikan (p = 0,949). Selain itu, behavioral intention berpengaruh positif signifikan terhadap use behavior (p = 0,000). Temuan ini menegaskan bahwa persepsi manfaat, kemudahan penggunaan, dan pengaruh sosial merupakan faktor utama dalam membentuk niat penggunaan, sementara dukungan teknis bukan lagi faktor penentu. Dengan demikian, peningkatan relevansi fitur dan pengalaman pengguna diperlukan agar persepsi positif terhadap chatbot Meta AI WhatsApp dapat berkembang menjadi perilaku penggunaan yang berkelanjutan.
Pengaruh Discount Dan Online Review Terhadap Impulsive Buying Dengan Mediasi Perceived Risk Pada Pengguna Aplikasi Qpon Tanti Mardiana; Asep Nuryadin; Muhammad Rizki Nugraha
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1200

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh diskon dan ulasan online terhadap pembelian impulsif pada pengguna aplikasi voucher digital Qpon, dengan persepsi risiko sebagai variabel mediasi dalam kerangka teori Stimulus-Organism-Response (S-O-R). Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan Partial Least Squares Structural Equation Modeling (PLS-SEM) menggunakan SmartPLS. Data dikumpulkan dari 147 pengguna aplikasi Qpon melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa diskon tidak berpengaruh signifikan terhadap persepsi risiko (β = 0,062; p = 0,522) maupun terhadap pembelian impulsif (β = -0,126; p = 0,517). Ulasan online berpengaruh positif dan signifikan terhadap persepsi risiko (β = 0,322; p = 0,001), tetapi tidak memiliki pengaruh langsung yang signifikan terhadap pembelian impulsif (β = 0,260; p = 0,063). Persepsi risiko berpengaruh positif dan signifikan terhadap pembelian impulsif (β = 0,378; p = 0,000) serta berperan sebagai variabel mediasi dalam hubungan antara ulasan online dan pembelian impulsif (β = 0,122; p = 0,010). Hasil koefisien determinasi menunjukkan bahwa variabel eksogen mampu menjelaskan 23,8% variasi dalam pembelian impulsif (R² = 0,238), yang tergolong dalam kategori moderat. Temuan ini menunjukkan bahwa pada platform voucher digital, pengelolaan ulasan online yang secara efektif membentuk persepsi risiko lebih berpengaruh dalam mendorong perilaku pembelian impulsif dibandingkan strategi pemberian diskon.
Pengaruh Tingkat Keperayaan Merek Terhadap Keinginan Membeli Kembali Melalui Kepuasan Pelanggan Sebagai Mediator Risna Melati; Adam Hermawan; Muhammad Rizki Nugraha
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1653

Abstract

Penurunan kepercayaan konsumen terhadap Pinkflash, merek kosmetik asal Tiongkok, terjadi setelah BPOM mengonfirmasi kandungan berbahaya pada sejumlah produknya akhir 2024. Kondisi ini mendorong perlunya kajian atas Brand Trust dan Customer Satisfaction dalam kaitannya dengan Minat Beli Ulang. Penelitian kuantitatif kausal ini menguji pengaruh Brand Trust terhadap Minat Beli Ulang, baik langsung maupun melalui Customer Satisfaction sebagai mediator, pada 200 konsumen perempuan usia 18–45 tahun di Jawa Barat yang telah membeli Pinkflash minimal dua kali dalam setahun terakhir. Data diambil melalui purposive sampling dan dianalisis dengan PLS-SEM (SmartPLS 4.1.1.4). Hasil menunjukkan Brand Trust berpengaruh positif signifikan terhadap Customer Satisfaction (β = 0,830; t = 32,123; p < 0,001), Customer Satisfaction berpengaruh positif signifikan terhadap Minat Beli Ulang (β = 0,368; t = 4,402; p = 0,003), dan Brand Trust juga berpengaruh langsung signifikan terhadap Minat Beli Ulang (β = 0,536; t = 6,539; p < 0,001), dengan Customer Satisfaction berperan sebagai mediator parsial (efek tidak langsung β = 0,305; t = 4,372; p < 0,001). Brand Trust menjelaskan 68,8% variasi Customer Satisfaction, sementara kedua variabel bersama-sama menjelaskan 74,9% variasi Minat Beli Ulang. Temuan ini menegaskan pentingnya membangun kepercayaan merek dan kepuasan konsumen untuk meningkatkan minat beli ulang.
Pengaruh Price Perception dan Negative E-WOM terhadap Purchase Intention Generasi Z pada Produk Thrift Shop di Instagram Azzalia Gusnadi; Adam Hermawan; Muhammad Rizki Nugraha
Indonesian Journal of Innovation Multidisipliner Research Vol. 4 No. 3 (2026): Juli - September
Publisher : Institute of Advanced Knowledge and Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69693/ijim.v4i3.1849

Abstract

Pemasaran produk thrift shop melalui Instagram menunjukkan tren yang terus meningkat seiring dengan tingginya ketertarikan Generasi Z terhadap fesyen bekas. Namun, persepsi mengenai harga produk thrift yang semakin tinggi serta maraknya ulasan negatif di media sosial turut menjadi faktor yang berpotensi memengaruhi niat beli. Studi ini berfokus dalam menganalisis bagaimana Price Perception beserta Negative E-WOM dapat memberikan dampak terhadap Purchase Intention Generasi Z pada produk thrift shop di Instagram. Studi dilakukan menggunakan metode kuantiatif dengan rancangan penelitian asosiatif kausal. Data primer didapat melalui penyebaran kuesioner kepada 250 responden yang memenuhi kriteria penelitian. Penelitian secara garis besar menemukan adanya pengaruh positif dan signifikan dari Price Perception terhadap Purchase Intention (thitung = 17,046; Sig. = 0,000). Hasil yang sama juga diperoleh ketika menguji pengaruh Negative E-WOM terhadap Purchase Intention (thitung = 5,286; Sig. = 0,000). Pada pengujian simultan, kombinasi kedua variabel tersebut berdampak signifikan pada Purchase Intention dengan kemampuan menjelaskan sebesar 62,2%. Persepsi harga yang positif mampu meningkatkan niat beli Generasi Z sebagai konsumen, sedangkan ulasan negatif tidak selalu berdampak pada penurunan niat beli karena keberadaannya justru dapat memicu perhatian dan ketertarikan konsumen terhadap produk. Pengusaha thrift shop diharapkan dapat mengembangkan strategi penetapan harga yang lebih tepat serta mengelola ulasan secara optimal untuk mendorong peningkatan niat beli dengan tetap menjaga kepercayaan dan reputasi usaha.