Claim Missing Document
Check
Articles

Found 37 Documents
Search

Implementasi Pendidikan Inklusif dalam Mencegah dan Mengatasi Intoleransi di Lingkungan Akademik Kamaruddin, Syamsu A
Jurnal Pattingalloang Vol. 12, No. 3 (2025)
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v12i3.68094

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran pendidikan inklusif dalam mengatasi intoleransi di lingkungan kampus, dengan membandingkan dua perguruan tinggi yakni Universitas Tadulako dan Universitas Nggusuwaru Bima saat melakukan penerapan pendidikan inklusif dalam mengatasi intoleransi pada lingkungan kampus. Penelitian ini difokuskan pada peningkatan kesadaran multikultural di kalangan mahasiswa. Menggunakan metode penelitian pustaka, penelitian ini mengkaji berbagai literatur yang berkaitan dengan pendidikan inklusif, multikulturalisme, dan praktik intoleransi di perguruan tinggi. Sumber-sumber yang digunakan meliputi buku, jurnal, artikel ilmiah, dan laporan penelitian yang relevan dengan topik ini.Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan pendidikan inklusif pada kampus yang berbeda dengan kultur budaya yang sama mampu berkontribusi secara signifikan dalam mengurangi tindakan intoleransi. Pendidikan inklusif, yang mengutamakan penghargaan terhadap perbedaan dan keberagaman, terbukti dapat meningkatkan pemahaman mahasiswa terhadap nilai-nilai toleransi, solidaritas, dan saling menghormati. Selain itu, pendidikan inklusif juga berperan dalam membangun kesadaran multikultural yang lebih tinggi di kalangan mahasiswa, dan yang terpenting mampu menciptakan lingkungan kampus yang harmonis dan bebas dari diskriminasi. Dengan demikian, hasil penelitian ini menyarankan agar pendidikan inklusif terus diterapkan dan dikembangkan di perguruan tinggi untuk mengatasi permasalahan intoleransi dan memperkuat kebhinekaan dalam masyarakat kampus. Kata Kunci: Pendidikan Inklusif, Intoleransi, Civitas Akademika AbstractThis study aims to analyze the role of inclusive education in addressing intolerance on campus by comparing two universities, Tadulako University and Nggusuwaru University in Bima, in implementing inclusive education to address intolerance on campus. This research focuses on increasing multicultural awareness among students. Using a library research method, this study examines various literature related to inclusive education, multiculturalism, and practices of intolerance in higher education. The sources used include books, journals, scientific articles, and research reports relevant to this topic.The research findings show that implementing inclusive education on campuses with diverse cultural backgrounds significantly reduces acts of intolerance. Inclusive education, which prioritizes respect for differences and diversity, has been shown to enhance students' understanding of the values of tolerance, solidarity, and mutual respect. Furthermore, inclusive education plays a role in fostering greater multicultural awareness among students and, most importantly, fostering a harmonious campus environment free from discrimination. Therefore, this research suggests that inclusive education should continue to be implemented and developed in universities to address intolerance and strengthen diversity within the campus community. Keywords: Inclusive Education, Intolerance, Academic Community
Stigma “Pekerjaan Perempuan” pada Guru PAUD di Kota Makassar: Analisis Perspektif Feminisme Kritis Sadriani, Andi; Kamaruddin, Syamsu A; Adam, Arlin
JURNAL PENDIDIKAN BAHASA DAN BUDAYA Vol 5 No 3 (2025): December (EDULEC)
Publisher : CV. Eureka Murakabi Abadi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56314/edulec.v5i3.435

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konstruksi stigma pekerjaan perempuan pada profesi guru Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) di Kota Makassar serta dampaknya terhadap status sosial dan profesionalitas guru, menggunakan perspektif Feminisme Kritis. Penelitian ini merupakan studi kualitatif dengan pendekatan fenomenologi kritis. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumen. Informan terdiri dari 12 guru PAUD (10 perempuan dan 2 laki-laki), dua kepala sekolah PAUD, serta satu pengelola lembaga PAUD yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Analisis data dilakukan menggunakan analisis tematik dengan teknik triangulasi sumber dan metode untuk menjaga validitas temuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa stigma pekerjaan perempuan terbentuk melalui konstruksi sosial yang menganggap kerja pengasuhan sebagai peran alami perempuan. Stereotip feminin seperti lembut, sabar, dan penuh kasih mengaburkan profesionalitas guru PAUD serta menyebabkan profesi ini dipandang rendah secara sosial dan ekonomis. Rendahnya partisipasi laki-laki semakin memperkuat feminisasi dan persepsi non-prestisius terhadap profesi ini. Penelitian juga menemukan bahwa guru PAUD mengembangkan strategi perlawanan melalui negosiasi identitas profesional, peningkatan kompetensi, redefinisi makna kerja, serta penguatan solidaritas melalui komunitas guru. Kesimpulan penelitian menegaskan bahwa stigma berbasis gender memiliki dampak struktural terhadap profesionalitas guru PAUD dan harus diatasi melalui kebijakan pendidikan yang sensitif gender serta penguatan pemberdayaan guru.
Peningkatan Kapasitas Guru dalam Manajemen Kelas Inklusi melalui Pelatihan dan Pendampingan Berbasis Praktik di Sekolah Kamaruddin, Syamsu A; Mus, Sumarlin; Basri, Syamsurijal; Rusmayadi, Rusmayadi; Tompong, By Tri Agung Nusantara Kr. J.
KARYA: Journal of Educational Community Service Vol 4, No 2: Desember 2025
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/karya.v4i2.81194

Abstract

Program pengabdian mengenai pengembangan manajemen pendidikan inklusif di SMA Negeri 3 Pangkep dilaksanakan untuk memperkuat kapasitas sekolah dalam menyediakan layanan pendidikan yang adaptif dan responsif terhadap kebutuhan peserta didik yang beragam. Kegiatan diawali dengan sosialisasi kepada seluruh pemangku kepentingan sekolah untuk membangun kesadaran dan komitmen bersama mengenai pentingnya layanan inklusi, dilanjutkan dengan pelatihan bagi guru dan tenaga kependidikan terkait pembelajaran berdiferensiasi, asesmen kebutuhan siswa, serta penyusunan RPP adaptif. Pendampingan praktik langsung dilakukan untuk mengimplementasikan strategi pengelolaan kelas inklusi, termasuk observasi kelas, umpan balik profesional, dan penyusunan dokumen teknis seperti SOP penerimaan peserta didik berkebutuhan khusus, mekanisme asesmen, serta panduan layanan konseling. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman guru, kesiapan manajemen sekolah, serta ketersediaan pedoman kelembagaan yang mendukung implementasi pendidikan inklusif. Tahap selanjutnya diarahkan pada monitoring berkelanjutan, penguatan kemitraan strategis, dan pemanfaatan teknologi pembelajaran agar sekolah dapat mengembangkan model inklusi yang lebih matang dan berkelanjutan. Secara keseluruhan, kegiatan ini berkontribusi terhadap terciptanya lingkungan belajar yang lebih ramah, adaptif, dan berkeadilan, serta menempatkan SMA Negeri 3 Pangkep sebagai sekolah yang berpotensi menjadi rujukan penerapan pendidikan inklusif di Kabupaten Pangkep
Disiplin dan Kepatuhan Hukum dalam Kehidupan Taruna: Analisis Perspektif Foucault pada Mahasiswa Politeknik Maritim AMI Makassar Mariani, Mariani; Kamaruddin, Syamsu A; Adam, Arlin
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4002

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam bagaimana mahasiswa memaknai aturan, dinamika pelanggaran, serta mekanisme kontrol sosial yang berlangsung dalam kehidupan ketarunaan di Politeknik Maritim AMI Makassar, sebuah institusi pendidikan vokasi yang dikenal dengan penerapan disiplin ketat. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan melibatkan mahasiswa dari tingkat awal hingga tingkat akhir sebagai informan utama. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, serta penelusuran dokumentasi resmi kampus yang berkaitan dengan ketarunaan dan tata tertib. Analisis data dilakukan menggunakan teknik analisis tematik untuk mengidentifikasi pola pemaknaan, kategori pelanggaran, dan konstruksi relasi kuasa yang muncul dalam interaksi sehari-hari di lingkungan kampus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memandang aturan kampus bukan sekadar instrumen kontrol, tetapi sebagai bagian integral dari proses pembentukan karakter profesional, pembiasaan disiplin, serta persiapan menghadapi dunia kerja maritim yang menuntut ketertiban tinggi. Pelanggaran yang terjadi umumnya bersifat ringan, seperti keterlambatan apel, kesalahan penggunaan atribut, serta pelanggaran etika digital. Faktor pendorong pelanggaran mencakup beban akademik, tekanan kelompok sebaya, proses adaptasi mahasiswa baru, serta pengaruh relasi senioritas. Mekanisme kontrol sosial dijalankan melalui struktur komando, pengawasan senior, pembinaan instruktur, serta sanksi bertingkat yang berfungsi menanamkan kedisiplinan secara bertahap. Penelitian ini menyimpulkan bahwa praktik kedisiplinan di kampus maritim merupakan hasil interaksi kompleks antara aturan formal, budaya ketarunaan, dan relasi kuasa yang dibangun secara historis. Temuan ini memberikan implikasi penting bagi pengembangan sistem pembinaan yang lebih edukatif, proporsional, dan adaptif terhadap kebutuhan perkembangan mahasiswa di era modern.Kata kunci: kedisiplinan, pelanggaran aturan, kontrol sosial, senioritas, pendidikan maritim.
Modal Budaya dan Mobilitas Sosial Perempuan Bugis Makassar: Peran Pendidikan dalam Perspektif Bourdieu Darmayanti, Resty Rahayu; Kamaruddin, Syamsu A; Adam, Arlin
RIGGS: Journal of Artificial Intelligence and Digital Business Vol. 4 No. 4 (2026): November - January
Publisher : Prodi Bisnis Digital Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/riggs.v4i4.4055

Abstract

Perempuan Bugis-Makassar menjalani kehidupan dalam struktur sosial yang masih kuat dipengaruhi budaya patriarkal dan nilai siri’ sebagai penjaga kehormatan keluarga. Pendidikan memberikan peluang baru bagi perempuan untuk memperoleh modal budaya yang berperan dalam peningkatan posisi sosial, baik di ranah domestik maupun publik. Penelitian ini bertujuan memahami pengalaman perempuan Bugis-Makassar dalam memanfaatkan pendidikan sebagai modal budaya untuk mencapai mobilitas sosial berdasarkan perspektif Pierre Bourdieu. Pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi digunakan untuk menggali pengalaman subjektif sembilan perempuan yang berasal dari berbagai latar pendidikan, pekerjaan, dan status keluarga. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dan dianalisis menggunakan konsep habitus, modal, dan arena Bourdieu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan membentuk transformasi habitus pada perempuan, ditandai dengan meningkatnya kesadaran diri, kemampuan berpikir kritis, serta kepercayaan diri dalam menyuarakan pendapat. Pekerjaan menjadi arena yang memberikan legitimasi kompetensi mereka, meskipun peran domestik dan pengawasan moral tetap menjadi beban ganda yang harus dijalani. Mobilitas sosial perempuan bersifat terbatas dan bersyarat karena masih terikat pada regulasi budaya patriarkal yang menilai perempuan melalui citra keluarga. Perubahan yang terjadi bersifat gradual namun konsisten, menunjukkan bahwa perempuan Bugis-Makassar sedang memperluas ruang sosialnya melalui strategi negosiasi halus yang menjaga harmoni budaya. Pendidikan menjadi kekuatan transformasional yang menggerakkan perempuan menuju kehidupan yang lebih setara tanpa meninggalkan akar budayanya.
Peran sekolah dalam membentuk literasi digital dan kesadaran kritis pada siswa SMAN di Kota Makassar:Analisis Teori Perubahan Sosial William F Ogburn Arsyad, Ernawati; Kamaruddin, Syamsu A; Adam, Arlin
EDU SOCIATA ( JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI ) Vol 8 No 2 (2025): Edu Sociata : Jurnal Pendidikan Sosiologi
Publisher : EDU SOCIATA ( JURNAL PENDIDIKAN SOSIOLOGI )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33627/es.v8i2.4063

Abstract

Kemajuan teknologi informasi dan komunikasi telah memberikan dampak besar terhadap dunia pendidikan, terutama dalam cara peserta didik memperoleh serta memanfaatkan informasi. Situasi ini menuntut lembaga pendidikan untuk berperan lebih aktif dalam menumbuhkan kemampuan literasi digital dan kesadaran kritis siswa agar mampu beradaptasi dengan dinamika era digital sekaligus terhindar dari dampak negatif penggunaan teknologi yang tidak bijak. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji peran sekolah dalam membentuk literasi digital siswa, mengidentifikasi berbagai tantangan yang muncul, serta menjelaskan faktor-faktor pendukung dan penghambat dalam pelaksanaannya.Ogburn menjelaskan bahwa perubahan sosial terutama dipicu oleh kemajuan teknologi, namun nilai, norma, dan institusi sosial sering kali tertinggal dalam menyesuaikan diri terhadap perubahan tersebut. Dalam konteks pendidikan, fenomena ini tampak pada siswa yang sudah mahir menggunakan teknologi digital untuk hiburan, tetapi belum sepenuhnya memiliki kemampuan berpikir kritis dan kesadaran etis terhadap informasi yang mereka konsumsi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kasus pada beberapa SMA Negeri di Kota Makassar. Data dikumpulkan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldaña. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa sekolah telah berusaha mengintegrasikan literasi digital ke dalam kurikulum dan kegiatan pembelajaran berbasis teknologi, meskipun masih dihadapkan pada kendala seperti keterbatasan sarana, rendahnya kemampuan digital guru, serta minimnya dukungan orang tua terhadap pentingnya pendidikan digital. Faktor pendukung utama meliputi ketersediaan fasilitas teknologi dan komitmen sekolah dalam meningkatkan kompetensi warga sekolah. Penelitian ini menegaskan bahwa literasi digital dan kesadaran kritis perlu diperkuat secara sistematis di lingkungan pendidikan untuk menghadapi tantangan perubahan sosial di era digital.
TRANSFORMASI PERAN PENDIDIKAN DALAM MOBILITAS DAN STRATIFIKASI SOSIAL Homang Ropu, Muh. Homsur; Kamaruddin, Syamsu A; Tenri Awaru, A. Octamaya
JURNAL PENELITIAN PENDIDIKAN SOSIAL HUMANIORA Vol. 10 No. 2 (2025): JP2SH
Publisher : LP2M Universitas Muslim Nusantara Al Washliyah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32696/jp2sh.v10i2.4526

Abstract

This type of research aims to determine the transformation of the role of education in shaping Social Mobility and Social Stratification This type of research is a qualitative approach with the Library Research method, data collected from several scientific articles published in databases such as Googke scholer, scopus, and springer. The results of this study show that; 1) Transformation of the role of education in the form of social mobility; Education is still relevant as a tool for social mobility, especially for those who have quality access. However, its success was influenced by economic, social, and cultural capital. Transformations such as digitalization and new curricula make the role of education now more complex and selective.; 2) whether social mobility is currently still effective as a means of social mobility or actually strengthens social stratification; Education is not always effective as a means of social mobility because there are still gaps in access, quality, and opportunities between groups, education systems tend to reproduce social stratification through symbolic selection, institutional quality inequality, and structural bias. Without equal distribution and alignment efforts, education can actually strengthen the existing social class structure. The results of this study can be a reflection for policymakers, educators, and the public to be more aware that improving education also means improving social inequality.