Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Integrasi Kearifan Lokal Pela Gandong Masyarakat Maluku dalam Pembelajaran IPS di Sekolah Menengah Pertama Nurbaeti Nurbaeti; Henri Henri
Haumeni Journal of Education Vol 6 No 1 (2026): Edisi Juni 2026
Publisher : Universitas Nusa Cendana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35508/haumeni.v6i1.28080

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menganalisis integrasi kearifan lokal Pela Gandong masyarakat Maluku dalam pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS) di Sekolah Menengah Pertama (SMP). Pela Gandong merupakan sistem persaudaraan adat yang mengandung nilai toleransi, solidaritas, dan gotong royong yang sejalan dengan tujuan pembelajaran IPS. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Subjek penelitian adalah guru IPS, kepala sekolah, siswa, dan tokoh adat di Kota Ambon. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan studi dokumentasi. Analisis data menggunakan model Miles, Huberman, dan Saldana. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) nilai-nilai Pela Gandong seperti persaudaraan, toleransi, masohi (gotong royong), solidaritas, dan resolusi konflik sangat relevan dengan kompetensi dasar IPS di SMP; (2) guru mengintegrasikan Pela Gandong melalui tiga pola utama, yaitu pendekatan kontekstual, pembelajaran berbasis proyek, dan kunjungan lapangan, namun implementasinya masih bersifat sporadis; (3) siswa SMP menunjukkan respons positif dan peningkatan pemahaman sosial ketika materi IPS dikaitkan dengan pengalaman budaya Pela Gandong yang mereka kenal; (4) faktor pendukung berupa kedekatan kultural siswa dan dukungan tokoh adat, serta faktor penghambat berupa minimnya sumber belajar lokal dan belum adanya panduan kurikulum terstruktur. Penelitian ini merekomendasikan pengembangan modul IPS berbasis Pela Gandong dan penguatan kebijakan kurikulum muatan lokal tingkat SMP.
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN BUDAYA RUMAH ADAT BERBASIS TRADSETIG (TRADITIONAL HOUSE TYPHOON GAME) UNTUK SISWA SEKOLAH DASAR: Media pembelajaran TRADSETIG, Budaya rumah adat, siswa sekolah Dasar Henri; Nurhaedah Nurhaedah; Sayidiman Sayidiman
ETEDU : Elementary of Teacher Education Vol 1 No 2 (2025): Juni 2025
Publisher : PT Ininnawa Paramacitra Edukasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research was conducted in class IV of SDN No. 196 Inpres Bontomajannang on the Development of Traditional House Culture Learning Media based on Tradsetig which was motivated by the lack of learning media on traditional house culture based on games. The purpose of this study was to (1) Develop a traditional house culture learning media product based on Tradsetig for Elementary School students. (2) Determine the feasibility of the product. (3) Determine the level of practicality of using the media product. This study focuses on producing learning media to improve understanding of traditional house culture material. The design of this study is research and development (Research & Development) using the ADDIE model which consists of five stages. The first stage is: (1) Preparation. (2) Planning. (3) Development. (4) Implementation. (5) Evaluation. The conclusion of this study, based on the assessments given by material experts, media experts, teachers and students, this Tradsetig-based learning media is in the very feasible category so that it can be recommended as a learning media on traditional house culture material. 
Nilai-nilai Islam Pelaksanaan Tradisi Aggalara’ pada Acara Pasunna’ di Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan Henri Henri; Parham Taufik; Tiara Nur'aini
Pepatudzu : Media Pendidikan dan Sosial Kemasyarakatan Vol 21, No 2 (2025): Volume 21, Nomor 2, November 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/fkip.v21i2.6462

Abstract

Aggalara’ tradition in the pasunna’ ceremony in Jeneponto Regency, South Sulawesi, is part of a cultural heritage that holds religious values, especially those related to Islam such as gratitude, brotherhood, trust, and education. This research aims to understand how these values are realized in the implementation of the tradition. The approach used is descriptive qualitative research with an ethnographic method, through direct observation, in-depth interviews, and documentation studies. Data is analyzed using Talcott Parsons' structural functionalism theory to reveal how this tradition functions in strengthening social bonds and maintaining balance in the community. The research results show that gratitude is reflected in expressions of thanks to God for the blessings of life and the successful conduct of the pasunna’ ceremony. Solidarity and family relationships within the community demonstrate a strong value of brotherhood. Value of trust can be seen from the responsibilities of traditional leaders in carrying out their roles, while education is evident in the process of passing values to the younger generation. Aggalara’ tradition not only preserves local cultural identity but also deepens Islamic values in a contextual manner. This finding emphasizes that local culture can be an effective instrument for educating religious values in everyday community life.
Perlindungan Hak Anak terhadap Praktik Pernikahan Dini: Tinjauan Sosio-Yuridis di Kabupaten Gowa Henri; Nasir
As-Sakinah : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 3 No 2 (2025): As-Sakinah : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : STAI Pelabuhan Ratu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51729/sakinah321742

Abstract

Pernikahan dini merupakan praktik yang masih sering terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, termasuk Kabupaten Gowa, dan berdampak serius terhadap pemenuhan hak anak, khususnya hak atas pendidikan, kesehatan, dan perlindungan hukum. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk perlindungan hak anak terhadap praktik pernikahan dini melalui pendekatan sosio-yuridis di Kabupaten Gowa. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, observasi lapangan, dan dokumentasi terhadap dokumen hukum dan kebijakan terkait. Informan penelitian terdiri dari pejabat Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, tokoh masyarakat, orang tua, dan anak yang menjadi korban pernikahan dini. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan hak anak terhadap praktik pernikahan dini dilakukan melalui tiga pendekatan utama: hukum formal, edukatif, dan sosial-kultural. Namun, implementasinya masih terbatas akibat lemahnya penegakan hukum di tingkat desa, resistensi budaya, dan rendahnya literasi masyarakat tentang hak anak. Diperlukan sinergi antara pemerintah, tokoh masyarakat, dan lembaga pendidikan untuk membangun sistem perlindungan anak yang lebih adaptif dan partisipatif. Penelitian ini menyarankan pendekatan yang lebih holistik dan berbasis komunitas untuk menanggulangi praktik pernikahan dini secara berkelanjutan.
Kreativitas Pegawai Sebagai Modal Adaptif dalam Perubahan Organisasi: Studi Kasus DPMPTSP Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan Henri Henri; Nasir Nasir
Majalah Ilmiah METHODA Vol. 16 No. 2 (2026): Majalah Ilmiah METHODA
Publisher : Universitas Methodist Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46880/methoda.Vol16No2.pp116-122

Abstract

Organizational change in government institutions requires employees who are adaptive and creative so that public services remain effective and responsive. Prior studies on employee creativity in the public sector have largely been descriptive and quantitative at a general level, with limited attention to how creativity is actually enacted within a one-stop licensing service undergoing digital transformation. This study addresses that gap by examining how employee creativity manifests during organizational change at the Investment and One-Stop Integrated Services Office (DPMPTSP) of Takalar Regency, South Sulawesi, Indonesia. A qualitative case study approach was used, drawing on 12 purposively selected informants (structural officials and frontline staff) through semi-structured interviews, non-participant observation, and document review; data were analyzed using an interactive model (data reduction, data display, and conclusion drawing) with source and method triangulation to establish credibility. The findings show that employee creativity is expressed through four recurring practices: work-process innovation, adoption of digital technology, simplification of service procedures, and initiative in problem-solving, while its distribution remains uneven across work units because of individual risk aversion and inconsistent managerial support. This study contributes a contextual model linking leadership openness, gaps in the reward system, and the enactment of creativity in local e-government service delivery, offering practical guidance for strengthening an innovation culture in comparable public agencies.
Manfaat Pelaksanaan Tradisi Aggalara’ pada Acara Pasunna’ di Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan Henri
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i1.11504

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apa saja manfaat yang diperoleh masyarakat setelah melaksanakan tradisi aggalara’ pada acara pasunna’ di Desa Balangloe Kecamatan Binamu Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan sehingga dengan mengetahui manfaat tradisi aggalara’ maka masyarakat utamanya generasi muda akan lebih antusias dalam mempelajari berbagai hal terkait tradisi aggalara’ dan memperoleh berbagai keterampilan setelah ikut andil dalam pelaksanaan tradisi aggalara pada acara pasunna’. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dan menggunakan tiga teknik pengumpulan data, yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Untuk memperdalam penelitian maka peneliti akan menggunakan teori interaksionisme simbolik George Herbert Mead dalam menganalisis berbagai hal dalam tradisi aggalara’ sehingga dapat diperoleh analisis yang intensif terkait manfaat pelaksanaan tradisi aggalara’ pada acara pasunna’ di Kabupaten Jeneponto. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beberapa manfaat pelaksanaan tradisi aggalara’ pertama yaitu memperkuat posisi adat dalam struktur sosial. Manfaat kedua yaitu memperluas jejaring sosial antarwilayah. Manfaat ketiga yaitu meningkatkan keterampilan generasi muda dan manfaat keempat yaitu menjadi wahana dokumentasi budaya lokal.
Dinamika Pelaksanaan Tradisi Aggalara’ pada Acara Pasunna’ di Kabupaten Jeneponto Sulawesi Selatan Henri
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 5 No. 1: Desember 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v5i1.11505

Abstract

Tradisi Aggalara’ adalah bagian dari prosesi adat Pasunna’ yang berlangsung di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan. Seiring waktu, praktik dan maknanya mengalami banyak perubahan yang cukup signifikan. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana tradisi Aggalara’ berkembang dari masa lalu hingga saat ini, dengan menyoroti dinamika perubahan yang terjadi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif-deskriptif, data dikumpulkan melalui pengamatan langsung, wawancara, serta studi dokumentasi. Analisisnya menggunakan teori modernisasi dari Walt Rostow, yang berpendapat bahwa masyarakat bergerak melalui beberapa tahap dari masyarakat tradisional hingga masyarakat modern. Hasil penelitian menunjukkan ada lima perubahan utama yang terjadi. Pertama, kepercayaan sakral menjadi tradisi kultural modern. Kedua, proses pewarisan tradisi yang sebelumnya dilakukan secara lisan mulai beralih ke digitalisasi, meskipun proses ini masih berlangsung secara terbatas. Ketiga, prosesi yang dulunya tertutup kini lebih terbuka dan dipublikasikan secara luas melalui media sosial, sehingga mampu menjangkau audiens di luar komunitas lokal. Keempat, Dari Praktik Tradisional ke Penguatan Akademik dan Kolaborasi Institusional. Kelima, suasana awal yang sakral berubah menjadi semi-hiburan, di mana acara yang dulunya bersifat tertutup kini terbuka dan berfungsi sebagai daya tarik kebudayaan.
Efektivitas Pengelolaan Kepegawaian Aparatur Kelurahan dalam Meningkatkan Kualitas Pelayanan Publik di Kelurahan Mangadu, Kabupaten Takalar Henri; Nasir
Jurnal Dialektika Politik Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnal Dialektika Politik
Publisher : STISIP Widyapuri Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37949/jdp.v10i1.295

Abstract

Quality public services are the main demands in the implementation of government, especially at the village level as a government unit that deals directly with the community. However, the quality of public services is often still faced with the problem of managing staff personnel that is not optimal. This study aims to analyze the effectiveness of the management of the personnel of the village apparatus in improving the quality of public services in Mangadu Village, Takalar Regency. This study uses a qualitative approach with a descriptive type of research. Data was collected through in-depth interviews, observations, and documentation of village officials and service user communities. The data analysis technique is carried out through the stages of data reduction, data presentation, and conclusion drawn. The results of the study show that the management of the personnel of the village apparatus has been implemented, but it has not been fully effective. This is characterized by the limited number of apparatus, the mismatch between the placement of employees and competencies, and the lack of optimal coaching and development of apparatus. This condition has an impact on the quality of public services, especially in terms of speed and timeliness of services. Nevertheless, the attitude of the apparatus and the disclosure of service information are considered quite good by the public. This research contributes to the development of public administration science by strengthening the understanding of the importance of effective personnel management as a determining factor for improving the quality of public services at the village government level.
Efektivitas Komunikasi Empatik sebagai Strategi Resolusi Konflik Sosial Masyarakat di Kelurahan Sombalabella, Kabupaten Takalar Henri; nasir
Jurnalika : Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 10 No. 1 (2026): Jurnalika : Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : STISIP Widyapuri Mandiri Sukabumi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37949/jurnalika101294

Abstract

Social conflict is a phenomenon that often occurs in people's lives due to differences in interests, values, perceptions, and ineffective communication. If not managed properly, social conflicts have the potential to cause prolonged tensions and disrupt community harmony. This study aims to analyze the effectiveness of empathic communication as a social conflict resolution strategy in Sombalabella Village, Takalar Regency. This study uses a qualitative approach with a descriptive type of research. The data collection technique was carried out through in-depth interviews, observations, and documentation of village officials, community leaders, and residents involved in the process of resolving social conflicts. Data analysis was carried out using the Miles and Huberman interactive model which includes data reduction, data presentation, and conclusion drawn. The results of the study show that empathic communication applied through an attitude of listening, understanding the feelings and viewpoints of the conflicting parties, and open dialogue is able to reduce tension and encourage the achievement of mutual agreement. The effectiveness of empathic communication is supported by the active role of village officials and community leaders as well as a strong deliberation culture, although there are still obstacles in the form of limited communication skills and the emotional condition of the conflicting parties. This research contributes to the development of social communication science by emphasizing the importance of empathic communication as a humanist and participatory approach in the resolution of social conflicts at the local community level.