Claim Missing Document
Check
Articles

Uji Aktivitas Antipiretik Ekstrak Etanol Kombinasi Daun Srikaya (Annona Squamosa L.) dan Daun Pepaya (Carica Papaya L.) terhadap Mencit Putih Jantan (Mus Musculus L.) yang Diinduksi Pepton 5% Nabila Melyi Aryani; Septian Maulid Wicahyo; Bagas Ardiyantoro
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Bulan Oktober
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i2.294

Abstract

Latar Belakang: Demam adalah peningkatan suhu tubuh akibat perubahan titik setel di hipotalamus. Penggunaan antipiretik sintesis jangka panjang berpotensi menimbulkan efek samping, sehingga diperlukan alternatif alami. Daun srikaya (Annona squamosa L.) dan daun pepaya (Carica papaya L.) mengandung flavonoid dan alkaloid yang berpotensi sebagai antipiretik. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antipiretik kombinasi ekstrak etanol daun srikaya dan daun pepaya, membandingkan efektivitasnya dengan ekstrak tunggal, serta menentukkan kombinasi dosis yang paling efektif. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan 32 ekor mencit yang dibagi menjadi delapan kelompok, Data dianalisis menggunakan uji One-Way ANOVA dan uji lanjut Tukey HSD. Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan kombinasi ekstrak etanol daun srikaya dan daun pepaya secara bermakna menurunkan suhu tubuh mencit dibandingkan kontrol negatif (p<0,05), dengan kombinasi terbaik menunjukkan efektivitas yang mendekati kontrol positif dan lebih baik dibandingkan ekstrak tunggal, dapat disimpulkan bahwa kombinasi ekstrak ini berpotensi dikembangkan sebagai alternatif antipiretik berbahan alam.
Pegaruh Salep Ekstrak Kulit Kacang Tanah (Arachis Hypogaea L.) terhadap Penyembuhan Luka Sayat pada Kelinci Jantan New Zealand White Rahmawati; Septian Maulid Wicahyo; Bagas Ardiyantoro
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Bulan Oktober
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i2.297

Abstract

Latar belakang: Luka sayat merupakan salah satu jenis luka yang sering terjadi akibat benda tajam dan memerlukan penanganan tepat agar proses penyembuhan optimal. Kulit kacang tanah (Arachis hypogaea L.) mengandung flavonoid, tanin, saponin, alkaloid, dan terpenoid yang berpotensi sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan antibakteri. Tujuan: Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh salep ekstrak kulit kacang tanah terhadap penyembuhan luka sayat pada kelinci jantan, mengevaluasi mutu fisik sediaan, dan menentukan konsentrasi paling efektif. Metode: Penelitian eksperimental laboratorik dengan rancangan Posttest Only Group Design menggunakan kelinci jantan New Zealand White yang dibagi menjadi lima kelompok, yaitu kontrol negatif, kontrol positif (Betadine®), serta salep ekstrak konsentrasi 5%, 10%, dan 15%. Parameter meliputi mutu fisik, penyusutan panjang luka, persentase penyembuhan, dan Area Under Curve (AUC). Hasil: Seluruh formula memenuhi persyaratan mutu fisik. Salep ekstrak kulit kacang tanah berpengaruh terhadap penyembuhan luka, dengan konsentrasi 15% menunjukkan efektivitas terbaik berdasarkan nilai AUC dan persentase penyembuhan. Kesimpulan: Salep ekstrak kulit kacang tanah berpengaruh terhadap penyembuhan luka sayat dan memenuhi persyaratan mutu fisik. Variasi konsentrasi memengaruhi efektivitas penyembuhan luka.
Formulasi dan Uji Antibakteri Sediaan Sabun Padat Kombinasi Ekstrak Etanol Daun Pepaya Jepang (Cnidoscolus Aconitifolius) dan Minyak Serai Wangi (Cymbopogon Nardus L.) terhadap Bakteri Staphylococcus Aureus ATCC 25923 Chofifatun Mubarokah; Anna Fitriawati; Bagas Ardiyantoro
Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Vol. 2 No. 2 (2026): Galen: Jurnal Riset Ilmu Farmasi dan Kesehatan Bulan Oktober
Publisher : PT Pustaka Cendekia Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71417/galen.v2i2.298

Abstract

Latar Belakang: Staphylococcus aureus merupakan bakteri penyebab infeksi kulit yang umum dijumpai. Bahan alam seperti minyak atsiri serai wangi (Cymbopogon nardus L.) dan ekstrak etanol daun pepaya Jepang (Cnidoscolus aconitifolius) berpotensi dikembangkan sebagai antibakteri dalam sediaan sabun padat. Tujuan: Penelitian ini bertujuan memformulasikan kombinasi ekstrak etanol daun pepaya Jepang dan minyak atsiri serai wangi dalam sediaan sabun padat, mengevaluasi mutu fisik, serta mengetahui aktivitas antibakterinya terhadap S. aureus ATCC 25923. Metode: Penelitian eksperimental laboratorium dilakukan dengan ekstraksi daun pepaya Jepang menggunakan metode maserasi etanol 70% dan perolehan minyak atsiri serai wangi melalui destilasi uap. Kombinasi bahan aktif diformulasikan menjadi tiga formula (F1, F2, dan F3). Evaluasi meliputi organoleptik, homogenitas, pH, tinggi busa, kadar air, asam lemak bebas, bahan tak larut etanol, lemak total, iritasi, dan hedonik. Aktivitas antibakteri diuji menggunakan metode difusi cakram. Hasil: Seluruh formula memenuhi persyaratan mutu fisik berdasarkan SNI dan menunjukkan aktivitas antibakteri. Formula dengan konsentrasi bahan aktif tertinggi menghasilkan daya hambat terbesar. Kesimpulan: Kombinasi kedua bahan aktif berhasil diformulasikan menjadi sabun padat yang memenuhi persyaratan mutu fisik dan memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. aureus ATCC 25923.
Pengaruh Pemberian Fraksi Etil Asetat Daun Kelor (Moringa Oleifera Lamk.) terhadap Daya Ingat Mencit Jantan dengan Menggunakan Metode Labirin Y-Maze Bagas Ardiyantoro; Muhamad Farid Nurohman Krisnadi; Danang Raharjo
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia Vol. 5 No. 3 (2025): November : Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Indonesia
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jikki.v5i3.8021

Abstract

Memory decline is an early symptom of neurodegenerative disorders such as dementia, often caused by oxidative stress due to an imbalance between the production of Reactive Oxygen Species (ROS) and the body’s antioxidant defense system. Moringa leaves (Moringa oleifera Lamk.) are known to contain flavonoids, particularly quercetin, which exhibit antioxidant activity and are potentially beneficial for cognitive function. This study aimed to evaluate the effect of the ethyl acetate fraction of Moringa leaves on memory improvement in male mice induced with 10% ethanol. The ethyl acetate fraction was obtained through maceration using 70% ethanol, followed by fractionation with ethyl acetate. A total of 25 male mice were divided into five groups: negative control (1% CMC Na), positive control (Ginkgo biloba 60 mg/kgBW), and three treatment groups receiving the ethyl acetate fraction of Moringa leaves at doses of 50, 100, and 150 mg/kgBW. Memory performance was assessed using the Y-Maze method, consisting of three phases: acclimatization (T0), induction (T1), and treatment (T2). Data were analyzed using one-way ANOVA followed by Duncan’s post hoc test.The results showed that the ethyl acetate fraction of Moringa leaves significantly (p value < 0.05) reduced error counts and latency time, with the most optimal effect observed at a dose of 150 mg/kgBW. This dose led to a significant improvement in memory performance compared to the control groups, including the positive control. These findings suggest that the ethyl acetate fraction of Moringa leaves has a more effective potential to enhance memory compared to the positive control, with a time difference of 40 seconds and an error rate difference of 11.67%.