Eka Radiah
Program Studi Agribisnis/Jurusan SEP, Fakultas Pertanian, Universitas Lambung Mangkurat

Published : 52 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Tingkat Kesejahteraan Keluarga Petani Karet Rakyat di Desa Tampa Kecamatan Paku Kabupaten Barito Timur Kalimantan Tengah Syahril Syahril; Mira Yulianti; Eka Radiah
Frontier Agribisnis Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v3i1.689

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengtahui tingkat kesejahteraan petani karet rakyat, dan Mengetahui permasalahan yang dihadapi petani karet di Desa Tampa Kecamatan Paku Provinsi Kalimantan Tengah tahun 2016. Hasil dari penelitian ini yaitu Tingkat kesejahteraan keluarga petani karet di wilayah Desa Tampa berada pada tingkat keluarga sejahtera II dengan banyak 48 kepala keluarga dengan tingkat presentase sebanyak 48%. Banyak nya keluarga petani yang perekonomian nya terbilang serba cukup dan mampu untuk memenuhi kebutuhan keluarga mereka sehari-hari, ada sebanyak 48 kepala keluarga yang berada pada tingkat keluarga sejahtera II dimana pada tingkat inilah jumlah  responden paling banyak, yang secara tidak langsung menunjukan bahwa masyarakat petani karet di wilayah Desa Tampa rata-rata sebagian besar berada pada tingkat kaluarga sejahtera II yang artinya tingkat kesejahteraan petani karet di wilayah Desa Tampa sudah tergolong sejahtera. Permasalahan yang dihadapi petani karet di Desa Tampa Kecamatan Paku Provinsi Kalimantan Tengah ada tiga yaitu, tidak stabilnya harga karet, iklim yang bisa berubah kadang tidak menentu, dan rawan nya pecurian di wilayah sekitar dikarenakan pola hidup masyarakat di wilayah Desa Tampa .Kata kunci: tingkat kesejahteraan, keluarga petani, karet
PROFIL WANITA PEDAGANG PENGECER SAYURAN DI PASAR BAUNTUNG KOTA BANJARBARU Intan Permata Sari; Eka Radiah; Yudi Ferrianta
Frontier Agribisnis Vol 2, No 2 (2018)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v2i2.628

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil wanita pedagang pengecer sayuran dan kendala yang di hadapi dalam berdagang sayuran di Pasar Beuntung Banjarbru. Hasil dari penelitian ini sebagian besar wanita yang bekerja sebagai pedagang pengecer sayuran 50% merupakan wanita yang lanjut usia dengan tingkat pendidikan yang rendah dan pengalaman kerja yang cukup lama dalam bidang informal yaitu pedagang sayuran serta alasan bekerja yaitu dikarenakan tingkat ekonomi yang rendah dalam keluarga. Jumlah tanggungan yang dimiliki dalam keluarga menjadi salah satu alasan bekerja sebagai pedagang sayuran, dengan pendapatan yang cukup untuk pemenuhan kebutuhan dalam rumah tangga. Pendapatan yang diperoleh oleh responden yang awalnya hanya dianggap sebagai pekerjaan sampingan tapi saat ini memegang peranan penting dalam usaha meningkatkan pendapatan usaha. Permasalahan yang di hadapi wanita pedagang pengecer sayuran yaitu masalah pelayanan (pelayanan dalam kegiatan pertagangan), masalah pengiriman, masalah pembayaran (modal dagang), masalah waktu dan cuaca, serta permasalahan modal, dan melonjaknya harga barang dagangan yang akan di jual.Kata kunci: profil wanita pedagang, pedagang pengecer, sayuran
Tingkat Partisipasi Petani dalam Kegiatan Penyuluhan Pertanian di Kelurahan Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru Edi Wiratno; Eka Radiah; Masyhudah Rosni
Frontier Agribisnis Vol 7, No 4 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i4.11553

Abstract

Penyuluh pertanian dipandang sebagai individu yang memainkan peran signifikan dalam kemajuan sektor pertanian. Mereka memberikan pembelajaran atau penyebaran informasi kepada petani yang menjadi anggota kelompok pertanian penyuluhan memberikan pembelajaran melalui pemberian informasi, praktek, serta pendampingan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat partisipasi petani dalam kegiatan penyuluhan dan permasalahan yang dihadapi petani untuk berpartisipasi dalam kegiatan penyuluhan di Kelurahan Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru. Data yang dimanfaatkan dalam studi ini terdiri dari data primer dan data sekunder. Sebagai responden adalah petani sayuran yang berada di Kelurahan Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru. Pengambilan sampel dilakukan dengan metode proportional random sampling dan dianalisis secara deskriptif. Temuan dari penelitian ini mengindikasikan bahwa tingkat keterlibatan petani dalam kegiatan penyuluhan di Kelurahan Syamsudin Noor Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru Pada tahap perencanaan, rata-rata tingkat partisipasi 57,54% (rendah). Pada tahap pengambilan keputusan, rata-rata tingkat partisipasi 57,54% (rendah). Pada tahap pelaksanaan, rata-rata tingkat partisipasi 70,75% (tinggi). Padatahap evaluasi, rata-rata tingkat partisipasi 66,98% (rendah). Serta permasalahan yang dihadapi petani sayur untuk berpartisipasi dalam kegiatan penyuluhan yaitu 1. waktu kegiatan penyuluhan yang kurang tepat. 2. jarak rumah petani dengan kegiatan penyuluhan yang jauh.
Analisis Finansial Usahatani Jamur Tiram di Kelurahan Liang Anggang Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru (Studi Kasus Pada “Usahatani Agripolit”) Hery Padli Ariani; Muhammad Fauzi; Eka Radiah
Frontier Agribisnis Vol 7, No 2 (2023)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v7i2.9404

Abstract

Jamur merupakan salah satu hasil tanaman hortikultura, yang mempunyai banyak kandungan gizi dan banyak dikonsumsi oleh masyarakat baik dalam bentuk segar atau olahan siap saji. Tingginya akan kebutuhan jamur tiram membuka peluang bisnis jamur tiram. salah satunya yaitu usaha Tani Agripolit di Liang Anggang Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui berapa biaya yang digunakan, penerimaan, keuntungan dalam usahatani jamur tiram pada studi kasus “USAHATANI AGRIPOLIT” di Kelurahan Liang Anggang Kecamatan Landasan Ulin Kota Banjarbaru dan untuk mengetahui kapan terjadinya Titik Impas (Break Event Point) serta mengetahui permasalahn yang dihadapi di usahatani Agripolit. Penelitian ini dilakukan bertempat di Liang Anggang Kota Banjarbaru, pada bulan Januari 2023 hingga selesai. Penelitian ini diperoleh dari hasil wawancara langsung dengan pemilik usahatani jamur tiram “AGRIPOLIT”. hasil penelitian dalam satu kali memproduksi dihasilkan biaya produksi sebanyak Rp 2.192.856, Penerimaan sebanyak Rp 12.400.000, keuntungan sebesar Rp 10.207.144. Titik impas (Break Event Point) dalam unit sebanyak 56.737 Kilo Gram dan pada rupiah senilai Rp 1.418.426. permasalahan yang dihadapi usahatani Agripolit yaitu beberapa baglog gagal tumbuh akibat proses pembibitan tercemar atau adanya hama pengganggu gurem, maka harus mengeluarkan biaya tambahan untuk proses sterilisasi ulang serta pembibitan ulang. Adapun saran saat proses pembibitan supaya lebih berhati-hati serta mempastikan semua dalam keadaan higienis dan steril Bila tidak maka dalam proses nanti akan mengakibatkan terkontaminasinya baglog dan membuat gagal tumbuhnya jamur tiram.
Deskripsi Profil Petani Padi Desa Kelampayan Kecamatan Astambul Kabupaten Banjar Khadijah Khadijah; Eka Radiah; Mariani Mariani
Frontier Agribisnis Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v9i2.15603

Abstract

Desa Kelampayan di Kecamatan Astambul, Kabupaten Banjar, merupakan daerah pertanian padi varietas lokal di lahan non-irigasi yang hanya panen sekali setahun. Selain sebagai desa agraris, Kelampayan juga menjadi lokasi wisata religi karena adanya Makam Ulama Besar Syekh Muhammad Arsyad Al-Banjari, yang ramai dikunjungi peziarah. Fenomena sosial yang mencolok adalah kehadiran petani yang mengemis saat musim ziarah. Penelitian ini bertujuan menggambarkan kondisi petani dari aspek demografi, sosial, ekonomi, dan budaya, serta mengidentifikasi permasalahan yang mereka hadapi. Sampel terdiri dari 30 petani, separuh di antaranya melakukan aktivitas mengemis. Hasil menunjukkan sebagian besar petani berada di usia produktif, berpendidikan rendah (80% lulusan SD), dan rata-rata hanya memiliki lahan kurang dari 0,5 hektar, sebagian besar dengan sistem sewa. Pendapatan bersih rata-rata petani hanya sekitar Rp756.074 per bulan, tidak mencukupi kebutuhan dasar. Sebagian petani mengemis sebagai sumber tambahan, dengan pendapatan harian Rp20.000–Rp30.000, meskipun tidak menentu. Permasalahan utama meliputi keterbatasan modal (21,43%), ketergantungan musim (20%), keterampilan bertani (17,86%), biaya pupuk dan pestisida (14,29%), tidak memiliki lahan (14,29%), serta serangan hama dan penyakit (10,71%). Diperlukan penelitian lanjutan untuk penelitian sejenis, perlu pelatihan keterampilan di bidang pertanian dan non-pertanian untuk meningkatkan ekonomi rumah tangga dan perhatian khusus pada pemerintah terkait ketergantungan musim.
PERAN PENYULUH PERTANIAN TERHADAP IMPLEMENTASI PESTISIDA NABATI OLEH PETANI KARET DI DESA MANDIKAPAU BARAT KECAMATAN KARANG INTAN Gusti Najimah Nur Aina; Hairi Firmansyah; Eka Radiah
Frontier Agribisnis Vol 8, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i1.12263

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran penyuluh terhadap implementasi pestisida nabati oleh petani karet di Desa Mandikapau Barat, Kecamatan Karang Intan dan untuk menganalisis permasalahan yang dialami Penyuluh dalam menjalankan peran sebagai penyuluh di Desa Mandikapau Barat, Kecamatan Karang Intan. Penelitian ini bertempat di Desa Mandikapau Barat, Kecamatan Karang Intan. Penelitian ini menggunakan data primer dan data sekunder. Analisis data yang digunakan untuk penelitian ini menggunakan skala likert dengan variabel Edukator, Diseminator, Fasilitator, Konsultan, Supervisor, Evaluator, dan analisis deskriptif. Berdasarkan penelitian ini, Peran Penyuluh Pertanian di Desa Mandikapau Barat, termasuk dalam kategori sangat berperan, dengan jumlah skor rata-rata 3,010 dan persentase sebesar 83,6%. Indikator edukator dengan skor rata-rata 119,00 dan persentase sebesar 79,3% kategori berperan. Diseminator dengan total skor 122,25 dan persentase sebesar 81,5% kategori sangat berperan. Fasilitator dengan skor rata-rata 111,75 dan persentase sebesar 74,5% kategori berperan. Konsultan dengan skor rata-rata143,25 dan persentase sebesar 95,5% kategori sangat berperan. Supervisor dengan persentase sebesar 90,5% kategori sangat berperan. Pemantauan dan evaluasi dengan skor rata-rata 120,50 dengan persentase sebesar 80,3% kategori sangat berperan. Permasalahan yang dialami oleh penyuluh pertanian adalah kurangnya pengetahuan terhadap teknologi untuk membuat media penyuluhan.
KONDISI SOSIAL EKONOMI MASYARAKAT PEMBUAT SAGU (Metroxylon sagu) DI KECAMATAN SUNGAI TABUK KABUPATEN BANJAR PROVINSI KALIMANTAN SELATAN Putri Nurma; Mariani Mariani; Eka Radiah
Frontier Agribisnis Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i2.13056

Abstract

Indonesia, dengan iklim tropis dan kekayaan sumber daya pertanian, menghasilkan berbagai jenis karbohidrat, termasuk sagu sebagai produk pati-patian. Penelitian ini fokus pada kondisi sosial ekonomi masyarakat pembuat sagu di Kecamatan Sungai Tabuk, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah metode sensus, responden berupa masyarakat pembuat sagu sebagai mata pencaharian utama sebanyak 8 (delapan) orang. Variabel yang diamati meliputi kondisi sosial yaitu tingkat pendidikan dan kesehatan dan kondisi ekonomi yaitu pendapatan biaya usaha, luas dan status kepemilikan lahan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat pembuat sagu di Kecamatan Sungai Tabuk merupakan warga suku Banjar. Dimana tingkat pendidikan masyarakat pembuat sagu lebih banyak yang lulusan SD dan SMP. Masyarakat pembuat sagu di Kecamatan Sungai tidak memiliki perkumpulan atau organisasi yang menaungi, sehingga persaingan dalam usaha pembuatan sagu sangat tinggi. Pencarian dan pembelian batang pohon sagu berdampak pada produksi sagu tidak merata, serta penjualan sagu dengan harga yang telah disepakati kepada pembeli yang berbeda setiap usaha. Dari sisi kesehatan masyarakat pembuat sagu banyak menerita sakit ringan seperti flu, batuk, demam, sakit kepala, didukung oleh akses mudah terhadap pelayanan kesehatan. pendapatan rata-rata masyarakat pembuat sagu tidak menentu setiap bulannya yang disebabkan oleh faktor permintaan ataupun kesediaan bahan baku. Pada bulan April 2023, pendapatan masyarakat pembuat sagu sebesar Rp 9.024.265.
Respon Petani terhadap Sekolah Lapangan Program IPDMIP (Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program) di Kecamatan Lokpaikat Kabupaten Tapin Nurul Kholifah; Eka Radiah; Muhammad Husaini
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.11734

Abstract

Program IPDMIP (Integrated Participatory Development and Management of Irrigation Program) dirancang untuk mewujudkan sasaran pembangunan pertanian terutama untuk pengembangan irigasi. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis karakteristik petani peserta sekolah lapangan program IPDMIP, untuk menganalisis respon petani terhadap sekolah lapangan program IPDMIP serta untuk menganalisis hubungan antara karakteristik petani dengan respon petani terhadap sekolah lapangam program IPDMIP. Penelitian ini menggunakan metode survei dari jumlah populasi 194 orang yang tersebar kedalam 9 kelompok tani yang ikut program diambil sebanyak 38 orang dengan teknik proporsional random sampling. Untuk menganalisis tujuan tersebut digunakan analisis deskriptif dan kolerasi Rank Spearman (rs). Hasil penelitian menunjukkan bahwa karaktersitik petani didominasi dengan umur produktif, tingkat pendidikan formal relatif masih rendah, tingkat frekuensi pendidikan non formal dalam kegiatan sekolah lapangan program IPDMIP masuk pada kategori sering, luas lahan skala menengah, pengalaman petani termasuk berpengalaman dan pendapatan petani yang rendah. Respon petani terhadap sekolah lapangan program IPDMIP termasuk dalam kategori netral dengan rata-rata skor respon sebesar 52,78%. Hubungan antara umur, pendidikan formal, pendidikan non formal, luas lahan dan pendapatan berhubungan secara signifikan pada α =5%. Sementara pengalaman usahatani tidak berhubungan secara signifikan dengan respon petani terhadap program IPDMP pada α =5%. 
Sikap Petani terhadap Penerapan Inovasi Teknologi Banjarsapa Plus di Desa Sungai Landas Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar Jamiatul Aqidah; Eka Radiah; Muhammad Husaini
Frontier Agribisnis Vol 6, No 4 (2022)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v6i4.7854

Abstract

Teknologi Banjarsapa Plus merupakan salah satu inovasi dari Dinas tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Banjar. Teknologi ini telah dilakukan demontrasi plot di lahan percontohan Desa Sungai Landas Kecamatan Karang Intan Kabupaten Banjar. Keberhasilan suatu teknologi tentunya sangat bergantung kepada sikap petani. Sikap petani merupakan kecenderungan dalam melakukan penilaian terhadap teknologi tersebut yang berasal dari pengetahuan, keyakinan, serta perasaan hingga melahirkan suatu tindakan seperti menerima ataupun menolak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sikap petani terhadap penerapan inovasi teknologi Banjarsapa Plus dan untuk mengetahui hubungan antara pengalaman berusahatani, orang lain yang dianggap penting (tokoh masyarakat), akses media massa dan pendidikan non formal dengan sikap petani terhadap penerapan inovasi teknologi Banjarsapa Plus. Penelitian ini menggunakan metode survei, dengan jumlah populasi sebanyak 50 orang, dari jumlah tersebut diambil sebanyak 30 orang petani dengan teknik simple rando sampling. Berdasarkan hasil penelitian, sikap petani terhadap penerapan inovasi teknologi Banjarsapa Plus indeks sebesar 74,3% dan tergolong kedalam kriteria sikap setuju karena berada pada indeks interval 61% - 80%. Faktor-faktor pengalaman berusahatani, orang lain yang dianggap penting (tokoh masyarakat tokoh masyarakat yang diikuti petani), akses media massa dan pendidikan non formal berhubungan secara signifikan dengan sikap petani terhadap penerapan inovasi teknologi Banjarsapa Plus.
TINGKAT PENGETAHUAN PESERTA PELATIHAN CABAI DI KECAMATAN CINTAPURI DARUSSALAM Ayu Wulandari; Eka Radiah; Mariani Mariani
Frontier Agribisnis Vol 8, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v8i2.13057

Abstract

Cabai merupakan produk dari komoditas pertanian yang fluktuatif. Pada saat musim tertentu, harganya bisa naik berkali-kali lipat, padamomen lain bisa turun drastis yang mengakibatkan petani merugi. Hal ini menjadikan tantangan tersendiri bagi para petani, disamping fluktuasi harga, budidaya sangat rentan dengan kondisi cuaca juga terserang hama dan penyakit. Untuk meminimalisir semua risiko tersebut, biaya untuk budidaya cabai tidaklah sedikit yang artinya petani berani mengambil risiko besar. Diimbangi dengan tingkat pengetahuan, keterampilan, dan usaha petani dalam mengelola usaha tersebut mendapatkan keuntungan besar. Akan tetapi rendahnya tingkat pengetahuan menyebabkan kemampuan dalam menyerap informasi dan menerima teknologi relatif terbatas dan berakibat pada rendahnya kemampuan dalam mengelola usahatani. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan peserta pelatihan cabai di Kecamatan Cintapuri Darussalam dan permasalahan yang dihadapi peserta pelatihan. Metode yang digunakan adalah sensus dimana semua pesertapelatihan sebanyak 30 orang menjadi responden. Berdasarkan hasil penelitian rata-rata tingkat pengetahuan peserta pelatihan cabai berada pada tahapan ‘Memahami’ dengan nilai 49,44% pada kategori Taksonomi Bloom’s. Permasalahan yang dihadapi antara lain terkendala pada kurangnya atau terbatasnya modal untuk memulai ataupun mengembangkan usaha, pupuk yang terbatas dan mahal, fluktuasi harga cabai, cuaca dan kondisi alam, serangan hama dan penyakit pada tanaman cabai.