Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search
Journal : Academic Physiotherapy Conference Proceeding

Penatalaksanaan Fisioterapi pada Pasien Dengan Post-Op Coronary Artery Bypass Graft (CABG): A Case Study Putri, Aprilia Nurlita Dwi; Komalasari, Dwi Rosella; Gani, Purnomo; Dewi, Diani Qomara
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan Coronary Artery Bypass Graft (CABG) merupakan tindakan pembedahan pada kasus penyakit jantung koroner dengan cara memotong dan mengganti arteri yang tersumbat dengan pembuluh darah arteri yang sehat. Pasien yang menjalani pasca operasi CABG biasanya mengalami penurunan kapasitas fungsional paru, sesak napas, nyeri, penurunan ekspansi toraks, retensi sputum, dan penurunan ventilasi paru Presentasi Kasus: seorang pasien 60 tahun datang ke Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Kariadi, Semarang dengan diagnosa medis pasca Coronary Artery Bypass Grafting (CABG) et causa Coronary Artery Disease Involving 3 Vessels Disease (CAD3VD) mengeluhkan nyeri pada sekitar bekas sayatan daerah dada, kesulitan dalam batuk, sesak napas, badan terasa lemah serta leher dan pundak terasa pegal-pegal sehari setelah menjalankan operasi. Manajemen dan Hasil: intervensi fisioterapi yang diberikan pada kasus pasca operasi CABG adalah Diaphragmatic breathing exercise, Deep breathing exercise, Latihan batuk efektif, stretching otot bantu nafas, mobilisasi bertahap. Evaluasi yang dinilai adalah derajat nyeri dan sesak napas, ekspansi thoraks, dan kemampuan aktivitas fungsional pasien. Diskusi: Program fisioterapi untuk kasus pasca operasi CABG selama tiga kali pertemuan bertujuan untuk menurunkan derajat nyeri dan sesak napas, meningkatkan aktivitas fungsional serta mengeluarkan secret akibat terhalangnya jalan napas. Dengan semua banyak resiko komplikasi yang terjadi, program fisioterapi bertujuan untuk mencegah kompikasi yang telah disebutkan diatas. Kesimpulan: Setelah dilakukan fisioterapi pada kasus pasca operasi CABG (Coronary Artery Bypass Graft) dengan terapi latihan didapatkan hasil penurunan derajat nyeri dan sesak napas, peningkatan ekspansi thorak dan kemampuan kemampuan fungsional.
Manajemen Fisioterapi pada Post Sectio Caesarea et Causa Preeklamsia: Studi Kasus Zalfa, Raden Andrea; Komalasari, Dwi Rosella; Isak, Galih Adhi
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan: Persalinan secara umum dibedakan menjadi 2 yaitu persalinan spontan dan persalinan dengan melakukan tindakan operasi pada bagian perut atau lebih dikenal dengan sectio caesarea atau operasi cesar, dimana keduanya memiliki dampak pasca melahirkan. Perawatan pasca melahirkan merupakan salah satu hal yang penting, terutama pasca sectio caesarea. Nyeri, bengkak, dan penurunan kekuatan otot merupakan kemungkinan yang akan terjadi yang akan mempengaruhi kinerja aktivitas fungsional seseorang. Pemberian terapi oleh fisioterapis merupakan awal untuk proses penyembuhan dari beberapa masalah tersebut dan menghindari dampak lainnya Presentasi Kasus: Ny NA, usia 42 tahun, dengan diagnosa post sectio caesarea et causa preeklamsia, mengeluhkan nyeri pada luka incisi, odema atau bengkak pada daerah pergelangan kaki, kesulitan untuk bergerak, serta mengalami keterbatasan aktivitas fungsional pada hari ke 2 dan 3 pasca operasi. Pasien dilakukan intervensi fisioterapi di rawat inap RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Manajemen dan Hasil: Pasien menjalani terapi dua kali dalam dua hari berturut-turut dengan program fisioterapi yang meliputi kontraksi isometrik, pelvic floor exercise, free active exercise, ankle pumping exercise, dan latihan transfer-ambulasi. Pasien dievaluasi menggunakan pengukuran nyeri dengan NPRS, LGS dengan Goniometer, odema dengan pengukuran figure of eight, dan aktivitas fungsional dengan Barthel Index Kesimpulan: Setelah mendapat intervensi fisioterapi pada kasus post sectio caesarea dengan memberikan 2x pertemuan program terapi dapat membantu mengurangi nyeri incisi, mengurangi odem, meningkatkan kekuatan otot, dan dapat meningkatkan aktivitas fungsional pasien.
Manajemen Fisioterapi pada Pasien Congenital Heart Failure: Studi Kasus Nabilah, Hana Laila; Komalasari, Dwi Rosella; Pratama, I Putu Aditya
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2024: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkenalan: Congestive Heart Failure (CHF)adalah suatu keadaan dimana jantung tidak dapat memompa darah yang mencukupi untuk kebutuhan tubuh yang dapat disebabkan oleh gangguan kemampuan otot jantung berkontraksi atau meningkatnya beban kerja dari jantung. Menurut data Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2016, terdapat 23 juta kematian akibat gagal jantung atau Congestive Heart Failure (CHF) pada tahun 2015, atau sekitar 54% dari seluruh kematian. Penatalaksanaan fisioterapi pada kasus CHF memiliki banyak variasi tergantung dengan tindakan dan kondisi pasien. Pasien dengan riwayat CHF cenderung memiliki penurunan kemampuan fungsional sehari-hari. Presentasi Kasus: Pada kasus ini pasien laki-laki usia 67 tahun pasca Coronary Artery Bypass Graft (CABG) dengan riwayat CHF. Pasien memiliki riwayat hipertensi dan suka merokok. Pasien sempat menjalani rawat inap pada tahun 2022. Kemudian kambuh kembali pada tahun 2023 dan dilakukan tindakan operasi pemasangan ring. Saat ini menjalani rehabilitasi pada fase II di PJK RSUP I.G.N.G. Ngoerah Hospital Bali. Manajemen dan Hasil: Treatment yang diberikan kepada pasien terdiri dari pemanasan, inti, dan pendinginan. Pemanasan yang dilakukan yakni senam secara berkelompok selama 10-15 menit. Untuk latihan inti diberikan latihan jalan cepat maupun jogging diatas treadmill dengan kecepatan yang ditingkatkan. Sedangkan pendinginan diberikan latihan ergo arm cycle selama 10 menit. Pemberian treatment diberikan sebanyak 12 kali dan dilakukan seminggu 5 kali. Hasil evaluasi menggunakan six minute walking test (6MWT) didapatkan peningkatan jarak, kapasitas aerobic dan Heart Rate Walking Speed Index (HRWSI). Serta terdapat penurunan tingkat lelah menggunakan borg scale. Diskusi: Pemberian rehabilitasi medik dengan bentuk exercise diketahui dapat meningkatkan fungsi endotel vaskuler dan fungsi saraf otonom serta dapat menekan sistem inflamasi dan oksidative stress pada pasien CAD. Cardiac Rehabilitation (CR) pada pasien pasca-CABG dilakukan terutama untuk memfasilitasi pemulihan setelah operasi dan untuk meningkatkan kapasitas olahraga dan kualitas hidup. Pemberian terapi atau latihan sesuai dengan pedoman. Kesimpulan:Penatalaksanaan fisioterapi pada kasus CHF dengan pemberian latihan pemanasan, inti, dan pendinginan selama 12 pertemuan memiliki hasil yang relatif membaik. Berdasarkan hasil yang didapatkan berdasarkan evaluasi menggunakan six minute walking test (6MWT) terdapat peningkatan jarak dan kapasitas aerobic, serta penurunan tingkat kelelahan pada pasien.
Management Physiotherapy Post Injection of the Platelet Rich Plasma (PRP) in the Case of Anterior Cruciate Ligament Tear: A Case Report Sari, Wahyu Anita; Komalasari, Dwi Rosella; Maulana, Hakny
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2022: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.736 KB)

Abstract

Background: Anterior Cruciate Ligament (ACL) tear is a partial or complete tear of the ACL ligament. A torn ACL doesn't heal on its own. ALC tear can be treated with surgical and nonsurgical procedures, namely Platelet Rich Plasma (PRP) injectionandexercise.Objective: To report on the results of therapy in the treatment of ACL tears with PRP injection and exerciseMethods: Respondents aged 30 years experienced an ACL tear. After the PRP injection therapy, the patient was treated with Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) and an exercise program: quadriceps setting, hamstring setting, Straight Leg Raise (SLR), gluteus setting, bridging, walking squat, step up and step down, and balance training for approximately 1 hour each training session for 3 weeks with meetings 2 times a weekResults: Prior to the intervention, the patient complained of pain in his left knee and limited functional activities such as standing for more than 20 minutes, going up and down stairs and praying. Results after 3 weeks of physiotherapy intervention, there was a decrease in pain (silent pain: from 7 to 0, motion pain: from 10 to 5, tenderness: from 8 to 3) and an increase in functional activity.Conclusion: Observation of post-PRP injection on the ACL tear with Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation (TENS) modality and an exercise program designed systematically and given from the start provide benefits in increasing functional activity.
Manajemen Fisioterapi pada Reaksi Morbus Hansen Type II "A Case Report" Billa, Azizah Shalsa; Komalasari, Dwi Rosella; Wijayanti, Christina Wahyu
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Kusta tipe II atau Eritema Nodosum Leprosum (ENL) merupakan reaksi inflamasi akut yang sering ditemukan pada pasien dengan kusta tipe multibasiler. Reaksi ini dapat menyebabkan gejala sistemik seperti nyeri hebat, nodul subkutan, anhidrosis, dan pembengkakan yang berujung pada penurunan kualitas hidup pasien. Studi kasus ini bertujuan mengevaluasi efek intervensi fisioterapi berupa active assisted exercise dan oiling terhadap nyeri, odema, dan elastisitas kulit pada pasien dengan diagnosa reaksi Morbus Hansen tipe II. Case Presentation: Desain penelitian ini dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Penelitian ini dilaksanakan di RS Sumber Glagah Mojokerto pada bulan Oktober-November 2024 pada seorang laki-laki berusia 26 tahun dengan diagnosa reaksi Morbus Hansen Tipe II. Management and Outcome: Penatalaksanaan fisioterapi dalam tiga sesi intervensi aktif dengan active assisted exercise, oiling, dan breathing exercise. Pemeriksaan fisioterapi dengan palpasi untuk mengukur elastisitas kulit, lembar POD (Prevention of Disability) untuk mengukur sensitivitas saraf, penilaian nyeri dengan NRS (Numeric Rating Scale) dan pengukuran lingkar odem dengan antropometri. Conclusion: Fisioterapi berupa active assisted exercise dan oiling dapat mengurangi gejala inflamasi dan mempertahankan fungsi ekstremitas pada pasien kusta tipe 2. Penanganan berkelanjutan dibutuhkan untuk memperbaiki disfungsi saraf dan elastisitas kulit secara menyeluruh.
Manajemen Fisioterapi pada pasca Rekonstruksi ACL Sinistra (Lateral Extra-Articular Tenodesis) Amanda, Mutiara Sabta; Komalasari, Dwi Rosella; Saputro, Sigit
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Rekonstruksi anterior cruciate ligament (ACL) dengan prosedur Lateral Extra-articular Tenodesis (LET) merupakan tindakan pembedahan yang bertujuan untuk mengembalikan stabilitas lutut, terutama pada pasien dengan risiko tinggi retear. Proses rehabilitasi fisioterapi pasca operasi memiliki peran penting dalam pemulihan fungsi, pengurangan nyeri, peningkatan kekuatan otot, lingkup gerak sendi dan kemampuan fungsional. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan secara mendalam program rehabilitasi fisioterapi pada individu dengan kasus pasca rekonstruksi ACL disertai lateral extra-articular tenodesis, serta untuk mengevaluasi efektivitas program rehabilitasi yang diberikan melalui pendekatan studi kasus. Case Presentation: Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu studi kasus yang dilakukan pada seorang pasien pasca rekonstruksi acl. Management and Outcome: Penelitian ini menggunakan pendekatan studi kasus terhadap seorang pria berusia 19 tahun pasca rekonstruksi ACL dengan LET. Intervensi fisioterapi yang diberikan meliputi ultrasound, muscle release, latihan penguatan (quadriceps setting, SLR, clamshell, calf raise), mobilisasi patella, latihan proprioseptif, dan core strengthening. Intervensi diberikan dalam empat kali pertemuan, yang dievaluasi pada setiap pertemuannya. Evaluasi dilakukan menggunakan Numeric Rating Scale (NRS), goneometer, Manual Muscle Testing (MMT), dan International Knee Documentation Committee (IKDC). Discussion: Hasil menunjukkan adanya penurunan nyeri, peningkatan lingkup gerak sendi, kekuatan otot, serta perbaikan fungsi aktivitas setelah dilakukan empat kali intervensi. Dengan demikian, program fisioterapi yang terstruktur dan tepat dapat memberikan perbaikan signifikan pada pasien pasca rekonstruksi ACL dengan LET. Conclusion: Program fisioterapi yang diberikan selama empat kali pertemuan menunjukkan perbaikan pasien yang diukur menggunakan NRS (Numeric Rating Scale), goneometer, MMT dan IKDC (International Knee Documentation Committee).
Penatalaksaan Fisioterapi pada Pasien dengan Kondisi Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) et Causa Emfisema di RSUD Dungus Jawa Timur: Case Report Setiawan, Rizki; Komalasari, Dwi Rosella; Utami, Mulatsih Nita
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Chronic Obstructive Pulmonary Disease (COPD) merupakan kondisi yang mempengaruhi paru-paru dan menghambat proses bernapas, ditandai dengan terbatasnya aliran udara yang masuk ke dalam tubuh dan bersifat progresif. Gejala utama dari COPD mencakup kesulitan bernapas, batuk yang berlangsung lama, dan keluarnya lendir. Banyak pasien merasakan suara mengi dan tekanan di dada. Terapi nebulizer dapat diterapkan kepada pasien yang menderita penyakit pernapasan obstruktif kronis, reaksi alergi, serta infeksi pada paru-paru. Pursed Lip Breathing digunakan untuk menangani isu pembersihan saluran pernapasan yang tidak optimal pada pasien COPD, Deep Breathing Exercise sangat bermanfaat dalam memperbesar volume dan kemampuan paru-paru, dan ACBT dengan efektif dapat menghilangkan dahak, meningkatkan kapasitas paru-paru serta memperbaiki fungsi pernapasan.Case Presentation: Pasien berusia 77 tahun dengan keluhan batuk, sesak disertai demam selama 3 hari, saat ini dahak belum bisa keluar. Terdapat nyeri dada bagian kiri bawah, merasa kesulitan atau ampek saat menarik napas. Nilai sesak dengan borg scale didapatkan skor 5, respiratory rate 28x/menit, saturasi oksigen 92%, mMRC dengan skor 3. Ekspansi thoraks pada axilla 2 cm, ICS 4 didapati 1 cm, processus xipoid 3 cm.Management and Outcome: Setelah pemberian terapi nebulizer, Pursed Lip Breathing, Deep Breathing Exercise dan ACBT selama 3 kali sehari dan dilakukan evaluasi 3 kali dalam sehari, didapati peningkatan saturasi oksigen dari 92% menjadi 95%, penurunan derajak sesak dari 5 menjadi 2, penurunan respiratory rate dari 28x/menit menjadi 22x/menit, dan peningkatan ekspansi sangkar thoraks pada ICS 2, ICS 4 dan prosesus xiphoideus.Conclusion: Manajemen fisioterapi untuk pasien COPD menunjukkan dampak yang baik dalam mengurangi kesulitan bernapas, meningkatkan kapasitas dada, serta fungsionalitas paru-paru, sehingga secara keseluruhan pasien merasakan perbaikan dibandingkan kondisi sebelumnya.
Penatalaksanaan Fisioterapi pada Kasus Bell's Palsy Sinistra: Case Study Kaidah, Muh Anugerah Dzul; Komalasari, Dwi Rosella; Sukatwo, S
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Bell's Palsy adalah kelumpuhan saraf wajah perifer yang bersifat idiopatik, biasanya terjadi secara mendadak, dan sering kali dikaitkan dengan paparan dingin yang berkepanjangan. Penatalaksanaan fisioterapi seperti penggunaan infrared, stimulasi listrik, dan pijat wajah dapat membantu mempercepat pemulihan otot wajah.Case Presentation: Seorang pria berusia 37 tahun bekerja sebagai satpam dengan paparan AC dan angin malam yang tinggi, mengalami kelumpuhan otot wajah sisi kiri. Pasien mengeluh nyeri di telinga kiri, kesulitan menutup mata, dan asimetri wajah yang nyata.Management and Outcome: Intervensi fisioterapi yang diberikan meliputi terapi infrared, stimulasi listrik faradik, dan pijat wajah, dilakukan dua kali seminggu. Evaluasi menggunakan Manual Muscle Testing (MMT) dan Ugo Fisch Scale menunjukkan peningkatan kekuatan dan fungsi otot wajah setelah empat sesi terapi.Conclusion: Terapi fisioterapi yang terstruktur dengan kombinasi modalitas infrared, stimulasi listrik, dan facial massage terbukti efektif dalam meningkatkan fungsi dan kekuatan otot wajah pada pasien Bell's Palsy sinistra.
Manajemen Fisioterapi pada Kasus Bronchiectasis et Causa post Tuberculosis Lung Disease (PTLD): Case Report Lathifani, Nabila Rizka; Komalasari, Dwi Rosella; Prayitno, P
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Bronkiektasis adalah penyakit saluran napas kronis yang ditandai dengan batuk produktif dan produksi sputum berlebihan akibat kerusakan permanen pada dinding bronkus. Dyspnea dan kelelahan juga menjadi gejala yang dapat dialami oleh penderita. Pendekatan fisioterapi diperlukan untuk manajemen gejala tersebut.Case Presentation: Penelitian ini merupakan case report dengan single subject research yang dilakukan selama dua hari pada satu pasien wanita penderita bronchiectasis. Evaluasi dilakukan untuk mengetahui efek pemberian muscle release, diaphragmatic breathing, pursed lip breathing, segmental breathing, postural drainage, serta Active Cycle of Breathing Technique (ACBT). Pengukuran dilakukan sebelum dan sesudah intervensi menggunakan parameter ekspansi thoraks, skala sesak (NRS), fungsi aktivitas (mMRC), dan auskultasi. Terdapat peningkatan ekspansi thoraks sebesar 1,3cm pada segmen axilla dan ICS IV serta 0,8cm pada segmen xyphoid process. Demikian pula suara ronchi yang menurun di area paru tertentu. Namun, tidak terjadi perubahan signifikan pada tingkat sesak (NRS) dengan nilai 2/10 dan aktivitas fungsional (mMRC) dengan grade 1.Conclusion: Intervensi fisioterapi selama dua hari menunjukkan potensi dalam memperbaiki ekspansi paru dan mengurangi suara ronchi pada pasien bronchiectasis. Pendekatan ini dapat menjadi bagian dari manajemen rehabilitasi pasien.
Efektivitas Myofacial Release terhadap Nyeri dan Disabilitas pada Low Back Pain Chronic Non Specific: A Narrative Review Ananda, Risti; Komalasari, Dwi Rosella
Academic Physiotherapy Conference Proceeding 2025: Academic Physiotherapy Conference Proceeding
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Introduction: Low Back Pain Chronic Non Specific merupakan salah satu gangguan muskuloskeletal paling umum yang menjadi penyebab utama disabilitas global, khususnya pada lansia. Gaya hidup sedentari menjadi faktor risiko utama, dengan nyeri berlangsung lebih dari tiga bulan tanpa penyebab patoanatomi spesifik, serta berdampak signifikan pada kualitas hidup dan biaya ekonomi. Tujuan; mengevaluasi efektivitas terapi manual, khususnya Myofascial Release (MFR), dalam mengurangi nyeri, meningkatkan fungsi, dan mobilitas pada penderita Low Back Pain Chronic Non Specific.Method; Studi ini menggunakan metode narrative review berdasarkan pencarian artikel melalui Google Scholar dan PubMed dengan kata kunci relevan. Artikel yang diseleksi adalah RCT berbahasa Inggris, dipublikasikan antara 2020–2025, dengan sampel >30 orang, dan akses penuh.Result menunjukkan bahwa MFR efektif dalam menurunkan nyeri dan meningkatkan fungsi punggung bawah. Dibandingkan Muscle Energy Technique (MET), MFR menunjukkan hasil baik, walaupun MET lebih unggul dalam meningkatkan fleksibilitas dan keseimbangan otot pada beberapa studi. Kombinasi MFR dengan teknik lain seperti Core Stability Exercise (CSE), Postero-Anterior Mobilization, atau Mulligan SNAGs menghasilkan manfaat tambahan, terutama dalam meningkatkan mobilitas spinal dan mengurangi ketegangan fasial.Conclusion: terapi manual seperti MFR, MET, CSE, dan SNAGs efektif dalam menangani nyeri dan disabilitas pada pasien Low Back Pain Chronic Non Specific. MFR sangat berguna pada kasus dengan keterbatasan mobilitas akibat disfungsi jaringan lunak. Pendekatan multimodal dan kombinasi terapi disarankan untuk hasil klinis yang optimal. Diperlukan penelitian lanjutan untuk mengevaluasi efek jangka panjang dari kombinasi teknik ini.
Co-Authors Abdul Haris Adha, Faradila Risky Afifatuzzahra, Sabina Agustyaningsih, Nur Afni Amanda, Mutiara Sabta Ananda, Risti Aquariza, Eliska Elok Arianti, Bella Arif Pristianto Az-Zahra, Fadhilah Azzahra, Najla Lutfhi Billa, Azizah Shalsa Chaiyawat, Pakaratee Dermin, D Dewangga, Mahendra Wahyu Dewi, Diani Qomara Fadhilla, Fahra Fadilah, Yustitya Aprila Nur Farid Rahman Firdaus, Muhammad Rais Hasan Fitriani, Dessy Fitriyah, Oktaviani Gani, Purnomo Hamidah, Nilam Nur Hanafi, Muhammad Isa Handayani, Tri Mukti Hanifah, Zahrani Bakhita Hifayati, Laily Maulida Nur Isak, Galih Adhi Ismadi, I Isnaini Herawati Izzuddin, Amar Maulana Jannah, Hanabila Rawdhatul Kaidah, Muh Anugerah Dzul Khairullah, Fakhri Khotimah, Annisa Khusnul Kingkinarti, K Kurniahadi, Tsania Haifa’ Kurniasari, Fitri Lathifani, Nabila Rizka Masitha, Sita Maulana, Hakny Minalloh, Aldin Nasrun Motik, Annisa Firsita Muazarroh, Salma Musyafa, Zafaf Nabilah, Hana Laila Ningrum, Tyas Sari Ratna Ningrum Nurma, Hanifah Dwi Perdana, Suryo Saputra Prakoeswa, Ramona Sigit Pratama, I Putu Aditya Pratiwi, Rossy Eka Prayitno, P Putra, Rezky Guna Putri, Adelia Kurnia Putri, Aprilia Nurlita Dwi Putri, Fatati Nurainni Putri, Nafisa Destriana Putri, Sulista Ramona, Dela Rendranandini, Widya Rosidah, Nikmatur Saadah, Raihanah Nur Safari Wahyu Jatmiko Salatina, Alfi Salsabila, Dika Tiara Saputra, Hendi Saputro, Sigit Sari, Etik Yunita Sari, Mely Erlika Sari, Priyanika Candra Setiawan, Rizki Setyaningratri, Yeni Silaen, Nevada Bulandari Sukatwo, S Supriadi, Arin Susanti, Eka Widya Syinta, Ahmada Norma Taufik Eko Susilo Tiara Fatmarizka Totok Budi Santoso Triasari, Ana Umi Budi Rahayu Utami, Mulatsih Nita Viola, Christine Vitasari, Lingga Wahyu Anita Sari wahyuni wahyuni Wardhani, Desvita Savitri Kusuma Wijayanti, Christina Wahyu Wijayanti, Wahyu Kusuma Yanuar, Reza Arshad Yulia Rahmawati, Yulia Zain, Siti Azzura Zalfa, Raden Andrea Zulfah, Khairina