Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Implementasi Peraturan Pencegahan Tubrukan di Laut (P2TL) Saat Bernavigasi pada Alur Padat Nelayan Pelabuhan Sikeli Nur Fathwa Ramadhan; Dion Lebang; Sunarlia Limbong
Indonesian Journal of Intellectual Publication Vol. 6 No. 3 (2026): Juli 2026, IJI Publication
Publisher : Perkumpulan Intelektual Madani Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51577/ijipublication.v6i3.977

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh tingginya kompleksitas navigasi kapal penyeberangan pada alur masuk dan kolam Pelabuhan Penyeberangan Sikeli yang sempit, relatif dangkal, dan padat aktivitas kapal nelayan tradisional dengan pola gerak yang tidak teratur. Kondisi tersebut menimbulkan risiko tubrukan yang tinggi sehingga menuntut perwira kapal menerapkan Peraturan Pencegahan Tubrukan di Laut (P2TL) secara tepat, adaptif, dan berlandaskan prinsip good seamanship. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas bernavigasi pada alur padat nelayan di Pelabuhan Sikeli serta menganalisis implementasi P2TL oleh perwira kapal KMP Bontoharu saat menghadapi kondisi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan bentuk studi kasus. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam dengan nahkoda dan para perwira jaga, serta dokumentasi berupa catatan pengamatan dan dokumen pendukung yang berkaitan dengan navigasi kapal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas bernavigasi pada alur padat nelayan di Pelabuhan Sikeli memiliki tingkat kompleksitas dan risiko yang tinggi, sehingga memerlukan kewaspadaan visual yang terus-menerus, pengaturan kecepatan aman, penilaian risiko tubrukan secara berkelanjutan, serta koordinasi yang efektif di anjungan. Implementasi P2TL oleh perwira kapal dilakukan secara kontekstual dan adaptif melalui penerapan dominan Aturan 5, 6, 7, 8, 9, dan 18, terutama dalam bentuk pengamatan cermat, penurunan kecepatan sebelum memasuki alur, manuver menghindar yang tegas, dan sikap mengalah lebih awal demi keselamatan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa efektivitas implementasi P2TL tidak hanya ditentukan oleh kepatuhan normatif terhadap aturan, tetapi juga oleh profesionalisme, pengalaman, kemampuan pengambilan keputusan, serta penerapan Bridge Resource Management. Oleh karena itu, peningkatan pembinaan dan pelatihan perwira kapal serta penguatan prosedur jaga laut perlu terus dilakukan guna meningkatkan keselamatan navigasi di alur pelayaran padat nelayan.
Teachers’ and Language Learners’ Perceptions and Challenges of the Panrita English Village: A Lesson from English Global Maritime Limbong, Sunarlia; Susanto, Rudy; Sulistiana, Oktavera; Rohman, Moh. Aziz; Idris, Zainal Yahya
Journal of Language and Literature Studies Vol. 6 No. 1 (2026): March
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/jolls.v6i1.4581

Abstract

The study aims to investigate how cadets and teachers perceive and explore the main challenges faced in joining the Panrita English Village program. This study used a qualitative approach to gain an in-depth understanding of cadets’ and teachers’ perceptions and the main challenges of the program, with nine cadets and three lecturers. The techniques of data analysis used semi-structured interviews, participant observation, and document analysis. Findings show that most cadets and teachers loved the program since it was not monotonous, gave good chances for every participant to speak, and used a small class structure with one teacher handling just 10–12 cadets. Thoughts to boost confidence in English included role-playing, group debates, and language games. The interview results reveal significant challenges faced by cadets participating program. These challenges typically arise from scheduling conflicts caused by academic commitments, mandatory university activities, and unplanned extracurricular engagements. The responses provide insight into how these constraints influence participation and suggest potential improvements to enhance engagement and learning outcomes. This concludes that the program has successfully improved cadets' English speaking skills through interactive activities such as role-playing, debates, and language games, but its sustainability and broader impact depend on addressing scheduling constraints and implementing more flexible learning. The implication needs to be developed with a more flexible learning approach so that its success in improving cadets' English-speaking skills can be sustained despite facing academic schedule constraints. Further research needs to involve more institutions and longitudinal designs to strengthen the program's impact and sustainability.