Claim Missing Document
Check
Articles

Efektivitas Pemberian Brownies Kombinasi Tempe Dan Pisang Ambon Hijau Terhadap Kadar Hemoglobin Pasien Anemia Wahyuningsih, Retno wahyu; darni, joyeti; sulendri, ni ketut sri; Rahmi, Anisa Khadijatur
JURNAL RISET GIZI Vol. 12 No. 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v12i1.11068

Abstract

Latar Belakang : Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih banyak terjadi pada remaja dan wanita usia subur (WUS). Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah penderita anemia tertinggi pada tahun 2018 sebesar 48,9%. Penatalaksanaan anemia dilakukan dengan 2 cara yaitu secara farmakologis dan non farmakologis dapat diberikan asupan makanan. Asupan yang bisa diberikan dari makanan hewani dan makanan nabati. Sehingga pada penelitian ini tempe dan pisang ambon hijau dijadikan brownies sebagai salah satu alternatif mengatasi masalah anemia.Tujuan Penelitian : Mengetahui pengaruh kombinasi brownies tempe dan pisang hijau ambon terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada pasien rawat jalan anemia.Metode Penelitian: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode (Quasy Experiment) dengan desain kelompok non-equivalent pre-post test design yang melibatkan dua kelompok subjek yang berjumlah 22 sampel, yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol masing-masing berjumlah 11 orang.Hasil Penelitian : Nilai rata-rata kadar hemoglobin sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok intervensi dengan nilai p=0,351 yaitu tidak ada perbedaan dan pada kelompok kontrol dengan nilai p=0,032 terdapat perbedaan. Sedangkan pengaruh pemberian brownies dengan kombinasi tempe dan pisang ambon hijau tidak menunjukkan nilai yang signifikan pada kedua kelompok dengan nilai p=0,065.Kesimpulan : Tidak terdapat pengaruh pemberian brownies kombinasi tempe dan pisang ambon hijau terhadap kadar hemoglobin pada pasien anemia. 
KELEPE (KELOR LELE TEMPE) SEBAGAI MAKANAN TINGGI PROTEIN UNTUK UPAYA PENCEGAHAN STUNTING ANAK BALITA Wahyuningsih, Retno; Darni, Joyeti; Ruslan Ningrat, Jaya Pandu
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sasambo Vol. 4 No. 2 (2023): Mei
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jpms.v4i2.1120

Abstract

Angka kejadian stunting saat ini menjadi perhatian besar di Indonesia. Upaya saat ini yang dilakukan adalah dengan memberikan edukasi mengenai makanan berprotein tinggi. Edukasi yang diberikan bertujuan agar ibu balita dapat berperan menyediakan menu sehat berprotein tinggi sehingga bisa mencegah angka terjadinya Stunting. Edukasi pada ibu balita dapat diberikan melalui penyuluhan gizi. Penyuluhan bisa diberikan kepada kader Posyandu dan Ibu Balita guna meningkatkan pengetahuan sehingga akan berdampak pada perubahan perilaku sehari-hari dalam pencegahan masalah stunting pada Balita. Tujuan kegiatan adalah untuk memberdayakan kader dan ibu balita dalam pembuatan makanan tinggi protein berbasis pangan lokal (daun kelor, ikan lele, dan tempe/produk nugget kelepe) sebagai upaya pencegahan stunting. Metode dilakukan dengan memberikan penyuluhan, pelatihan antropometri (pengukuran ukuran dimensi tubuh, baik berupa berat badan, tinggi badan,panjang badan, LILA), demonstrasi pembuatan produk Kelepe (Kelor, Ikan Lele dan tempe), pengisian kuesioner pre-post test untuk mengetahui keberhasilan penyuluhan yang dilakukan baik kepada sasaran kader maupun ibu-ibu Balita. Hasil kegiatan menunjukkan rata-rata pengetahuan kader dan ibu balita mengalami peningkatan. Proses pelatihan antropometri dan demonstrasi pembuatan produk selingan berbasis Kelepe pada kader dan ibu balita berlangsung baik serta mereka mengapresiasi dengan berpartisipasi aktif. Kesimpulan kegiatan pengabdian masyarakat yakni kader dan ibu balita memiliki pengetahuan yang baik setelah mendapatkan penyuluhan tentang stunting dan kelepe sebagai makanan tinggi protein untuk upaya pencegahan stunting. 
EDUKASI TENTANG PENERAPAN GIZI SEIMBANG PADA 1000 HPK REMAJA PUTRI UPAYA UNTUK MENCEGAH STUNTING Laraeni, Yuli; Sulendri, Ni Ketut Sri; Wahyuningsih, Retno; Darni, Joyeti; Pratiwi, Intan Gumilang
Jurnal Pengabdian Masyarakat Sasambo Vol. 5 No. 2 (2024): Mei
Publisher : Poltekkes Kemenkes Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jpms.v5i2.1563

Abstract

Timbulnya masalah gizi pada remaja pada dasarnya dikarenakan perilaku gizi yang salah, yaitu ketidak seimbangan antara konsumsi gizi dengan kecukupan gizi yang dianjurkan. Bila konsumsi gizi selalu kurang dari kecukupan maka seseorang akan mengalami gizi kurang. Sebaliknya jika konsumsi melebihi kecukupan akan menderita gizi lebih. Adapun tujuan pelasanaan kegiatan meningkatkan pengetahuan tentang gizi seimbang pada remaja putri dan mempersiapkan dan memotivasi remaja puteri untuk mengkonsumsi makanan dengan gizi seimbang pada periode 1000 HPK untuk mencegah stunting. Remaja Puteri di Dusun Bengkel Selatan 1  Desa Bengkel Kecamatan Labuapi. Metode kegiatan pemberian konsultasi gizi tentang edukasi dalam penerapan gizi seimbang pada 1000 HPK pada kelompok sasaran dengan menggunakan metode secara langsung yaitu assessment masalah gizi dan pemberian konsultasi gizi dan metode yang digunakan adalah pemberian contoh makanan bergizi  yang sesuai dengan prinsip-prinsip gizi seimbang. Pengukuran antropometri. Pada akhir kegiatan dilkukan evaluasi hasil terjadinya peningkatan pegetahuan tentang makanan gizi seimbang sebelum edukasi pengetahuan yang baik sebesar 46,7% setelah edukasi menjadi 80 %, untuk pengetahuan sedang sebelumnya 46,7 % menjadi 20% dan pengetahuan kurang 6,6 % setelah penyuluhan dan pemberian contoh makanan semua menjadi katagori baik dan sedang. Saran: Koordinasi dengan pihak aparat dan puskesmas terkait lebih ditingkatkan mengingat masih terdapat sasaran yang perlu mendapatkan tindak lanjut karena mengalami anemia dan mengalami KEK.
Pemberian Serbuk “Banasoy” Pisang Ambon (Musa Paradisiaca Var. Sapientum Linnaeus) Dan Kacang Kedelai (Glyciline Max) Terhadap Tekanan Darah Pasien Hipertensi Di Wilayah Kerja Puskesmas Gerung Darni, Joyeti; Hidayatunnisa, Baiq Rizki; Wahyuningsih, Retno; Sri Sulendri, Ni Ketut
JURNAL RISET GIZI Vol. 11 No. 2 (2023): November (2023)
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v11i2.9896

Abstract

Jumlah penderita hipertensi yang terus mengalami peningkatan setiap tahunnya. Hipertensi merupakan keadaan dimana tekanan darah sistolik ≥ 140 mmHg dan diastolik ≥90 mmHg. Salah satu cara mengatasi hipertensi adalah mengkonsumsi pangan fungsional yaitu serbuk banasoy yang kaya akan kalium dan magnesium sebagai pengontrol tekanan darah. Tujuan Penelitian : Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dari pemberian Serbuk “Banasoy” Pisang Ambon (Musa paradisiaca var. sapientum linnaeus) dan Kacang Kedelai (Glyciline max) terhadap Pasien Hipertensi di Wilayah Kerja Puskesmas Gerung. Metode Penelitian : Jenis penelitian ini adalah Quasi Experiment Non Equivalent Control Group Designs, dengan rancangan penelitian Pretest-Posttest with control group design. Jumlah sampel penelitian 20 orang yang diperoleh dari rumus Lameshow dan dipilih secara Purposive sampling. Sampel dibagi menjadi 2 kelompok yaitu kelompok kontrol dan kelompok perlakuan dengan dosis 30 g bubuk banasoy selama 7 hari.Hasil Penelitian : Terdapat Penurunan tekanan darah sistolik sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok intervensi yaitu rata-rata 161±11,97 mmHg menjadi 147,00±11,60 mmHg dengan selisih 14,00 mmHg dan penurunan tekanan darah diastolik dengan rata-rata  sebelum 103,00±10,59 mmHg menjadi 92,00±10,33 mmHg dengan selisih 11,00 mmHg. Kesimpulan : Tidak ada pengaruh pemberian serbuk banasoy terhadap tekanan darah pasien hipertensi.
Efektivitas Pemberian Brownies Kombinasi Tempe Dan Pisang Ambon Hijau Terhadap Kadar Hemoglobin Pasien Anemia Wahyuningsih, Retno wahyu; darni, joyeti; sulendri, ni ketut sri; Rahmi, Anisa Khadijatur
JURNAL RISET GIZI Vol. 12 No. 1 (2024): Mei 2024
Publisher : Poltekkes Kemenkes Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31983/jrg.v12i1.11068

Abstract

Latar Belakang : Anemia merupakan masalah kesehatan masyarakat yang masih banyak terjadi pada remaja dan wanita usia subur (WUS). Indonesia tercatat sebagai salah satu negara dengan jumlah penderita anemia tertinggi pada tahun 2018 sebesar 48,9%. Penatalaksanaan anemia dilakukan dengan 2 cara yaitu secara farmakologis dan non farmakologis dapat diberikan asupan makanan. Asupan yang bisa diberikan dari makanan hewani dan makanan nabati. Sehingga pada penelitian ini tempe dan pisang ambon hijau dijadikan brownies sebagai salah satu alternatif mengatasi masalah anemia.Tujuan Penelitian : Mengetahui pengaruh kombinasi brownies tempe dan pisang hijau ambon terhadap peningkatan kadar hemoglobin pada pasien rawat jalan anemia.Metode Penelitian: Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode (Quasy Experiment) dengan desain kelompok non-equivalent pre-post test design yang melibatkan dua kelompok subjek yang berjumlah 22 sampel, yaitu kelompok perlakuan dan kelompok kontrol masing-masing berjumlah 11 orang.Hasil Penelitian : Nilai rata-rata kadar hemoglobin sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok intervensi dengan nilai p=0,351 yaitu tidak ada perbedaan dan pada kelompok kontrol dengan nilai p=0,032 terdapat perbedaan. Sedangkan pengaruh pemberian brownies dengan kombinasi tempe dan pisang ambon hijau tidak menunjukkan nilai yang signifikan pada kedua kelompok dengan nilai p=0,065.Kesimpulan : Tidak terdapat pengaruh pemberian brownies kombinasi tempe dan pisang ambon hijau terhadap kadar hemoglobin pada pasien anemia. 
Edukasi dan Demonstrasi Pembuatan Nugget Tutelor Berbahan Ikan Tuna, Tempe, Kelor sebagai Upaya Pencegahan Stunting Darni, Joyeti; Wahyuningsih, Retno
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 9 (2024): Volume 7 No 9 (2024)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i9.16244

Abstract

ABSTRAK Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis. Asupan protein hewani berhubungan dengan stunting pada balita, Ibu perlu meningkatkan asupan protein hewani untuk balita yang berasal dari lauk pauk berbasis pangan lokal guna menurunkan risiko stunting.  Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah memberdayakan kader posyandu dalam upaya pencegahan stunting pada balita. Metode yang dilakukan adalah pemberian edukasi dan demonstrasi pembuatan Nugget Tutelor berbahan ikan tuna, tempe, kelor. Evaluasi kegiatan edukasi menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan pre-post test. Hasil rata-rata skor pengetahuan kader sebelum penyuluhan dengan skor benar <60 sebanyak 80%, setelah pemberian edukasi dan praktek pengukuran antropometri pengetahuan kader posyandu meningkat terlihat di tabel 1 dengan skor benar ≥ 90 sebanyak 60% dan skor 70-80 sebanyak 40% serta tidak ada lagi kader posyandu yang nilai nya < 60. Kesimpulan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berjalan lancar dan mendapat antusias yang baik dari kader posyandu dan terdapat peningkatan pengetahuan Kader Posyandu sesudah diberikan edukasi.  Kata Kunci: Balita, Nugget Ikan, Kader Posyandu, Pangan Lokal ABSTRACT Animal protein intake is associated with stunting in toddlers. Mothers need to increase animal protein intake for toddlers which comes from local food-based side dishes to reduce the risk of stunting.  The aim of this community service activity is to empower posyandu cadres in efforts to prevent stunting in toddlers. The method used was providing education and demonstrations on making Tutelor nuggets made from tuna, tempeh and moringa. Evaluation of educational activities using a pre-post test knowledge level questionnaire. The results of the average knowledge score of cadres before counseling with a correct score <60 was 80%, after providing education and practice of anthropometric measurements the knowledge of posyandu cadres increased as seen in table 1 with a correct score ≥ 90 as much as 60% and a score of 70-80 as much as 40% and There are no more posyandu cadres whose score is < 60. In conclusion, community service activities run smoothly and receive good enthusiasm from posyandu cadres and there is an increase in the knowledge of posyandu cadres after being given education. Keywords: Toddlers, Fish Nuggets, Posyandu Cadres, Local Food
PENDAMPINGAN PEMBUATAN PRODUK BERBASIS AMPAS TAHU UNTUK MAKANAN SELINGAN BAGI ANAK BALITA PADA KADER POSYANDU MAWAR PUTIH LINGKUNGAN KARANG PELAMBEK KELURAHAN ABIAN TUBUH BARU Sofiyatin, Reni; Darni, Joyeti; Khairul Abdi, Lalu
Martabe : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 8, No 11 (2025): MARTABE : JURNAL PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT
Publisher : Universitas Muhammadiyah Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31604/jpm.v8i11.4317-4323

Abstract

Peningkatan pengetahuan dan keterampilan kader berperan penting dalam promosi kesehatan, termasuk  dalam pencegahan stunting, salah satunya dengan pemberdayaan kader dalam perbaikan gizi dengan meningkatkan pengetahuan kader  dalam pembuatan produk berbasis ampas tahu sebagai makanan selingan bagi balita. Tujuan pengabdian masyarakat ini meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kader dalam pembuatan produk bakso dan nugget berbasis ayam dan ampas tahu. Metode yang digunakan dengan pendampingan dan demonstrasi pembuatan produk bakso dan nugget pada tujuh kader. Kegiatan dilaksanakan dengan tahap persiapan,pendampingang pembuatan produk dan evaluasi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan dan ketrampilan pada  kader.
The Effect of Nutrition Counseling Using "My Plate Media Content" on Nutritional Knowledge Levels of Mothers of Toddlers Participating in Nutrition Classes Abdi, Lalu Khairul; Amalia, Yanti; Darni, Joyeti; Suhaema, Suhaema
Jurnal Kesehatan Prima Vol. 18 No. 2 (2024): AUGUST
Publisher : poltekkes kemenkes mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32807/jkp.v18i2.1535

Abstract

The level of knowledge or lifestyle can lead to a pattern of multiple nutritional problems. Indonesia currently has a triple burden of nutrition problems, namely stunting, wasting and underweight as well as micronutrient deficiencies such as anemia. Data from the EPPBGM results of the Madapangga Health Center in August 2022 there were 2058 toddler targets, from these data showed 227 people (11.03%) targets experiencing underweigh, 157 people (7.63%) stunting, and 233 people (11.32%) wasting. The purpose of this study was to determine the effect of nutrition counseling using media contents of my plate on the level of nutritional knowledge of mothers of toddlers participating in nutrition classes.The research method used is a quasi experiment design with a Non Equivalent Control Group Design. Activities were carried out in February-March 2023, for 3 weeks with 3 meetings in each group with 60 research subjects consisting of 30 people in the treatment group and 30 people in the control group. The analysis used in this study was the Independent t test on 60 respondents in two classes, to determine the effect before and after providing nutritional counseling. The intervention provided was in the form of providing counseling with the "My Plate Contents" media for the treatment group and providing counseling without the "My Plate Contents" media for the control group. Data collection used questionnaires to measure the level of knowledge.Based on the results of the study, the level of knowledge of mothers of toddlers increased after being given nutritional counseling using media contents of my plate obtained p < 0.05, namely 0.026 < 0.05. Based on the Independent t Test test, it was concluded that there was an influence before and after counseling on the knowledge of mothers under five. So that the conclusion is that there is a significant effect of nutrition counseling using "Media Isi Piringku" on the level of nutritional knowledge of mothers participating in nutrition classes in the work area of the Madapangga Health Center, Bima Regency.
Potensi Teh Rambut Jagung Ketan (Zea mays L.) dan Daun Salam (Syzygium polyanthum) sebagai Antihipertensi Darni, Joyeti; Damayanti, Amilia Yuni; Wahyuningsih, Retno; Sofiyatin, Reni
Nutri-Sains: Jurnal Gizi, Pangan dan Aplikasinya Vol. 8 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Walisongo Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21580/ns.2024.8.1.15300

Abstract

The purpose of this study was to analyze the tea’s effect on the blood pressure. Research is a type of experimental research, with a randomized pre-post test with control design. Antioxidant activity was determined using the DPPH method, while saponin levels were quantified using gravimetric analysis. Blood pressure measurements in rats were obtained via tail-cuff plethysmography. A total of 28 male Sprague dawley rats were used, randomly allocated into four groups: a negative control group without extract (K-), a positive control group treated with furosemide 3.6 mg/kg (K+), and intervention groups receiving different doses of tea extract, specifically 300 mg/kg body weight (X1) and 500 mg/kg body weight (X2). The findings revealed that the IC50 value for antioxidant activity of corn silk tea was 65.526 ppm, with a saponin content of 8.461%. Meanwhile, bay leaf tea exhibited stronger antioxidant properties, with an IC50 of 40.351 ppm and a saponin content of 7.408%. The X2 group demonstrated the most significant reduction in blood pressure, averaging 98.9 mmHg. In conclusion, corn silk tea possesses strong antioxidant properties, whereas bay leaf tea has very strong antioxidant activity. The combination of bay leaf and corn silk tea was effective in decreasing blood pressure in rats. Tujuan penelitian ini adalah menganalisis pengaruh teh terhadap tekanan darah. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen randomized pre-post test with control design. Penentuan aktivitas antioksidan menggunakan metode DPPH, kadar saponin menggunakan analisis gravimetri kuantitatif, pengukuran tekanan darah pada tikus menggunakan metode tail-cuff plethysmo-graphy. Penelitian menggunakan 28 tikus putih jantan Sprague dawley, dibagi 4 kelompok yaitu tanpa pemberian ekstrak (K-), dengan obat furosemid 3,6 mg/kg (K+), intervensi teh saraja dengan dosis ekstrak 300 mg/kgBB (X1); dosis 500 mg/kg BB (X2). Hasil penelitian menunjukkan aktivitas antioksidan teh rambut jagung IC50 sebesar 65,526 ppm sedangkan kadar saponin pada teh rambut jagung ketan sebesar 8,461%. Aktivitas antioksidan teh daun salam IC50 sebesar 40,351 ppm, sedangkan kadar saponin pada teh daun salam sebesar 7,408%. Rerata tekanan darah pada kelompok X2 menunjukkan selisih penurunan tekanan darah paling banyak yaitu 98,9 mmHg. Kesimpulannya, aktivitas antioksidan teh rambut jagung berada pada kelompok kuat, dan antioksidan pada teh daun salam termasuk golongan yang sangat kuat. Pemberian teh daun salam kombinasi rambut jagung dapat menurunkan tekanan darah pada tikus.
Peningkatan Pengetahuan Kader Posyandu melalui Edukasi dan Demo Mpasi untuk Pencegahan Stunting Suranadi, Luh; Darni, Joyeti; Rofita, Desi; Yunita, Sri
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 8, No 12 (2025): Volume 8 No 12 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v8i12.23040

Abstract

ABSTRAK Stunting Adalah bentuk lain dari kegagalan pertumbuhan yang diakibatkan karena adanya malnutrisi kronik. Stunting mencerminkan pertumbuhan linear yang buruk dan terakumulasi selama periode pra dan pasca melahirkan, dikarenakan asupan gizi yang kurang serta adanya infeksi kronis maupun berulang. MPASI berkontribusi pada stunting dikarenakan asupan gizi tidak mencukupi, kualitas makanan tidak baik, serta waktu pemberiannya dan porsi yang tidak tepat. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman kader posyandu tentang stunting dan MPASI sebagai upaya pencegahan stunting. Metode pengabdian masyarakat berupa penyuluhan dan demonstrasi MPASI melibatkan sesi ceramah untuk menjelaskan teori MPASI yang sesuai pedoman gizi seimbang, demonstrasi langsung pembuatan MPASI praktis, diskusi dan tanya jawab interaktif dengan ibu kader posyandu, penggunaan media poster, serta kuesioner pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pengetahuan peserta. Rata-rata nilai pretest yaitu 67,3 setelah edukasi meningkat menjadi 92. Nilai p pada paired sample t-test menunjukkan p = 0,001, yang berarti terdapat perbedaan yang signifikan antara tingkat pengetahuan kader posyandu sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat berjalan lancar dan mendapat antusias yang baik dari kader posyandu dan adanya peningkatkan pengetahuan tentang stunting dan MPASI kader posyandu sebelum dan sesudah diberikan edukasi. Kata Kunci: Edukasi, Kader Posyandu, MPASI, Stunting  ABSTRACT Stunting is another form of growth failure caused by chronic malnutrition. Stunting reflects poor linear growth that accumulates during the pre- and postnatal periods, due to inadequate nutritional intake and chronic or recurrent infections. Complementary feeding contributes to stunting due to inadequate nutritional intake, poor food quality, and inappropriate timing and portion sizes. Improving the knowledge and understanding of Posyandu cadres about stunting and MPASI as an effort to prevent stunting. The community service method in the form of MPASI counseling and demonstration involves a lecture session to explain the theory of MPASI in accordance with balanced nutrition guidelines, a direct demonstration of practical MPASI preparation, interactive discussions and questions and answers with Posyandu cadre mothers, the use of poster media, as well as pre-test and post-test questionnaires to measure the increase in participants' knowledge. The average pretest score was 67.3 after education increased to 92. The p-value in the paired sample t-test showed p = 0.001, which means there was a significant difference between the level of knowledge of Posyandu cadres before and after being given education. The community service activities ran smoothly and received good enthusiasm from the Posyandu cadres and there was an increase in knowledge about stunting and MPASI for Posyandu cadres before and after being given education. Keywords: Education, Integrated Health Post Cadres, Complementary Feeding, Stunting