Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS KEMAMPUAN KONEKSI MATEMATIS PESERTA DIDIK DITINJAU DARI ADVERSITY QUOTIENT PADA MATERI SISTEM PERSAMAAN LINIER DUA VARIABEL KELAS VIII Rara Adiningsih; Sikky El Walida; Siti Nurul Hasana
Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran Vol 17, No 7 (2022): Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran
Publisher : Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (228.232 KB)

Abstract

Astrak: Kemampuan koneksi matematis diperlukan peserta didik dalam mempelajari berbagai topik matematika yang saling terkait dan juga permasalahan satu dengan lainnya. Kemampuan koneksi matematis peserta didik dipengaruhi oleh beberapa hal, diantaranya adalah adversity quotient (AQ). Identifikasi AQ diperlukan untuk peserta didik yang mengalami kesulitan mengoneksikan topik matematika. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mendeskripsikan kemampuan koneksi matematis peserta didik kelas VIII SMPN 03 Ngantang Satu Atap yang mempunyai kecenderungan AQ golongan quitter, camper, dan climber. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Teknik pengumpulan data menggunakan angket, tes, dan wawancara. Subjek penelitian dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Adapun teknik analisis data terdiri dari tahapan reduksi data, penyajian data, dan pengambilan kesimpulan disertai verifikasi. Hasil analisis data kemampuan koneksi matematis ditinjau dari AQ adalah: 1) subjek golongan AQ quitter memenuhi indikator memahami hubungan antar topik matematika dengan catatan kurang maksimal sehingga memiliki kemampuan koneksi matematis yang kurang baik; 2) subjek golongan AQ camper memenuhi indikator memahami hubungan antar topik matematika dengan maksimal dan indikator menggunakan matematika dalam materi yang berbeda atau kehidupan sehari-hari dengan kurang maksimal sehingga memiliki kemampuan koneksi matematis yang cukup baik; dan 3) subjek golongan AQ climber memenuhi semua indikator kemampuan koneksi matematis sehingga memiliki kemampuan koneksi matematis yang baik.Kata Kunci: Kemampuan Koneksi Matematis, Adversity Quotient (AQ), Sistem Persamaan Linier Dua Variabel  (SPLDV).
PENGARUH KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS DAN KREATIF SISWA TERHADAP KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS PADA MATERI SUDUT KELAS VII SMP ISLAM PAITON Moh Zainul Huda; Ettie Rukmigarsari; Sikky El Walida
Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran Vol 16, No 32 (2021): Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran
Publisher : Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (56.866 KB)

Abstract

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk: 1) menganalisis pengaruh kemampuan berpikir kritis dan kreatif siswa terhadap pemecahan masalah matematika, 2) menganalisis pengaruh kemampuan berpikir kritis siswa terhadap pemecahan masalah matematika, dan 3) menganalisis pengaruh kemampuan berpikir kreatif siswa terhadap pemecahan masalah matematika. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode ex post facto. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII SMP Islam Paiton Tahun Pelajaran 2020/2021. Pemilihan sampel penelitian menggunakan cluster random sampling. Sampel dalam penelitian ini adalah dua kelas yang dipilih secara acak dari populasi yaitu kelas VIID yang terdiri dari 25 siswa dan kelas VIIE yang terdiri dari 25 siswa, kemudian dikurangi 15 siswa sebagai uji coba kuesioner. Dengan demikian, sampel yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 35 siswa. Adapun teknik pengumpulan data menggunakan kuesioner dan tes soal. Teknik analisis data dilakukan melalui lima tahap, yaitu: uji validitas dan reliabilitas, uji normalitas data, analisis regresi linier berganda, uji asumsi klasik, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian ini menunjukkan adanya pengaruh secara signifikan kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif secara bersama-sama terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis, dimana besar pengaruh kemampuan berpikir kritis dan kemampuan berpikir kreatif secara bersama-sama terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis adalah 60,8%. Selanjutnya, ada pengaruh secara signifikan kemampuan berpikir kritis terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis, dimana besar pengaruh kemampuan berpikir kritis terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis adalah 29,3%. Terakhir, ada pengaruh secara signifikan kemampuan berpikir kreatif terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis, dimana besar pengaruh kemampuan berpikir kreatif terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis adalah 31,5%.Kata kunci: Kemampuan Berpikir Kritis, Kemampuan Berpikir Kreatif, Kemampuan Pemecahan Masalah, Sudut
PELEVELAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS SISWA KELAS VIII SMP NEGERI 3 KEPANJEN PADA MATERI TEOREMA PYTHAGORAS Mitha Viviani Pratama; Surya Sari Faradiba; Sikky El Walida
Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran Vol 16, No 19 (2021): Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran
Publisher : Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (220.399 KB)

Abstract

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelevelan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa kelas VIII SMP Negeri 3 Kepanjen pada materi Teorema Pythagoras. Jenis penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif. Adapun subjek dalam penelitian ini adalah 5 siswa kelas VIII A yang dipilih berdasarkan tingkat kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang didapatkan dari hasil tes kemampuan berpikir kreatif matematis, dimana 5 siswa tersebut mewakili masing-masing tingkat kemampuan berpikir kreatif.  Instrumen yang digunakan yaitu soal tes kemampuan berpikir kreatif, lembar pedoman observasi, dan lembar pedoman wawancara. Hasil penelitian ini menjelaskan bahwa subjek yang termasuk dalam level 4 (sangat kreatif) mampu menunjukkan ketiga indikator kemampuan berpikir kreatif, yaitu kebaruan, kefasihan, dan fleksibilitas; subjek yang termasuk level 3 (kreatif) mampu menunjukkan adanya indikator kebaruan dan kefasihan; subjek yang termasuk level 2 (cukup kreatif) mampu menunjukkan adanya indikator fleksibilitas dan kefasihan; subjek yang termasuk level 1 (kurang kreatif) mampu menunjukkan adanya indikator kefasihan; subjek yang termasuk level 0 (tidak kreatif) tidak mampu menunjukkan ketiga indikator kemampuan berpikir kreatif, yaitu kebaruan, kefasihan, dan fleksibilitas.Kata Kunci: pelevelan kemampuan berpikir kreatif matematis, materi teorema Pythagoras
ANALISIS KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIKA DITINJAU DARI GAYA BELAJAR AUDITORIAL DAN KINESTETIK DALAM PEMBELAJARAN DARING MATERI TURUNAN KELAS XI BAHASA SMAN 8 MALANG Fany Prihatini Widyanti; Zainal Abidin; Sikky El Walida
Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran Vol 16, No 9 (2021): Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran
Publisher : Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.669 KB)

Abstract

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk 1) mendeskripsikan cara-cara peserta didik dalam menyelesaikan soal kemampuan komunikasi matematika dan 2) mendeskripsikan tingkat kemampuan komunikasi matematika ditinjau dari gaya belajar auditorial dan kinestetik dalam pembelajaran daring di masa pandemi covid-19 pada materi turunan kelas XI Bahasa SMAN 8 Malang. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan 23 siswa kelas XI Bahasa SMAN 8 Malang sebagai sumber data dan 4 siswa sebagai subjek penelitian. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah tes tertulis untuk mengetahui kemampuan komunikasi matematika siswa dan angket untuk mengelompokkan siswa berdasarkan gaya belajarnya serta wawancara sebagai tindak lanjut. Pengelompokkan peserta didik tersebut dibagi menjadi dua yaitu gaya belajar auditorial (Auditori Learner) dan Gaya Belajar Kinestetik (Tactual Learner ). Auditori Learner adalah gaya belajar peserta didik yang mengutamakan indra pendengarannya dalam memahami materi pembelajaran, sedangkan Tactual Learner adalah gaya belajar dimana peserta didik mampu memahami materi apabila peserta didik tersebut mengalami secara langsung atau praktek. Berdasarkan pengklasifikasian gaya belajar tersebut dipilih satu perwakilan peserta didik yang memiliki pola jawaban khas/unik. Berdasarkan hasil analisis data menunjukkan bahwa 1) cara-cara peserta didik menyelesaikan soal tes kemampuan komunikasi matematika berdasarkan gara belajar auditorial dan kinestetik, 2) tingkat kemampuan komunikasi matematika peserta didik dengan gaya belajar auditorial rendah dengan nilai rata-rata 68,75, dan tingkat kemampuan komunikasi matematika siswa dengan gaya belajar kinestetik sedang dengan nilai rata-rata 75,25. Dengan pengklasifikasian kategori rendah dan sedang sesuai dengan nilai KKM pada sekolah tersebut.Kata Kunci: kemampuan komunikasi matematika, gaya belajar, pembelajaran daring
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS DALAM MENYELESAIKAN MASALAH KONTEKSTUAL DITINJAU DARI KECERDASAN LOGIS MATEMATIS PADA MATERI HIMPUNAN KELAS VII Linda Tri Lestari; Sikky El Walida; Isbadar Nursit
Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran Vol 16, No 25 (2021): Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran
Publisher : Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.165 KB)

Abstract

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif matematis dalam menyelesaikan masalah konstektual ditinjau dari kecerdasan logis matematis pada materi Himpunan kelas VII. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif. Sumber data dalam penelitian adalah siswa  kelas VII A MTs Ash-Sholihuddin yang berjumlah 25 orang. Instrumen dalam penelitian ini terdiri dari instrumen utama dan instrumen pendukung yaitu angket, tes soal, lembar observasi dan pedoman wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa deskripsi kemampuan berpikir kreatif matematis dalam menyelesaikan masalah konstektual ditinjau dari kecerdasan logis matematis adalah sebagai berikut. a) Siswa dengan kategori kecerdasan logis matematis tinggi mampu menyelesaikan soal dengan baik dan memenuhi semua indikator kecerdasan logis matematis, siswa dengan kategori kecerdasan logis matematis sedang mampu menyelesaikan soal namun hanya mampu memenuhi tiga indikator kecerdasan logis matematis, dan siswa dengan kategori kecerdasan logis matematis rendah belum mampu memenuhi semua indikator kecerdasan logis matematis sehingga tidak mampu menyelesaikan soal dengan baik. b) Siswa dengan kategori kecerdasan logis matematis tinggi mampu memenuhi indikator keterincian, keluwesan, keaslian, dan keterincian; siswa dengan kategori kecerdasan logis matematis sedang mampu memenuhi indikator keterincian namun belum mampu memenuhi indikator keaslian dan kelancaran; siswa dengan kategori kecerdasan logis matematis rendah belum mampu memenuhi indikator keterincian, keaslian, keluwesan, dan kelancaran. c) Siswa dengan kategori kecerdasan logis matematis tinggi memiliki tingkat kemampuan berpikir kreatif tinggi, siswa dengan kategori kecerdasan logis matematis sedang memiliki tingkat kemampuan berpikir kreatif sedang, dan siswa dengan kategori kecerdasan logis matematis rendah memiliki tingkat kemampuan berpikir kreatif rendah.Kata Kunci: kemampuan berpikir kreatif, masalah kontekstual, kecerdasan logis matematis
KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH MELALUI MODEL PROBLEM POSING LEARNING DENGAN STRATEGI HELP SEEKING BEHAVIOR MATERI STATISTIKA KELAS VIII SMPN 2 MALANG Eric Maulana Rizki; Zainal Abidin; Sikky El Walida
Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran Vol 14, No 8 (2019): Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran
Publisher : Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (601.878 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini yaitu: (1) untuk mengetahui perbedaan kemampuan pemecahan masalah antara siswa yang menggunakan model problem posing learning dengan strategi help seeking behavior dan siswa yang menggunakan model konvensional; (2) untuk mengetahui manakah kemampuan pemecahan masalah yang lebih baik antara peserta didik yang menggunakan model pembelajaran problem posing learning dengan strategi help seeking behavior dan yang diberi model konvensional; (3) untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah siswa yang menggunakan model problem posing learning dengan strategi help seeking behavior.  Pendekatan yang digunakan yaitu mixed method research jenis sequential explanatory design. Pada penelitian kuantitatif menggunakan desain true experimental. Sampel dipilih melalui teknik cluster random sampling diperoleh kelas VIII G kelas eksperimen dan kelas VIII F kelas kontrol. Data kuantitatif diperoleh dari pretest dan posttest menggunakan instrumen soal tes. Analisis data kuantitatif menggunakan uji-t. Sedangkan pada penelitian kualitatif menggunakan desain deskriptif kualitatif. Data kualitatif diperoleh dari wawancara beserta observasi untuk mendeskripsikan kegiatan pembelajaran dalam kelas. Hasil analisis data kuantitatif dan kualitatif diperoleh sebagai berikut. (1) Uji hipotesis dua pihak kemampuan pemecahan masalah diperoleh nilai Sig = 0,005 < 0,05 sehingga H0 ditolak, menghasilkan terdapat perbedaan kemampuan pemecahan masalah siswa antara kelas eksperimen dan kelas control. (2) Uji hipotesis satu pihak kemampuan pemecahan masalah diperoleh t = 2,89118 > t1-α = 1,99897 sehingga H0 ditolak, disimpulkan kemampuan pemecahan masalah siswa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas control. (3) Berdasarkan analisis kualitatif yang diperoleh dari hasil wawancara menghasilkan bahwa subjek yang telah dipilih pada kelas eksperimen mempunyai pencapaian indikator yang lebih menguasai daripada kelas kontrol.
ANALISIS KEMAMPUAN SISWA MENYELESAIKAN SOAL TIPE HOTS (HIGHER ORDER THINKING SKILL) DITINJAU DARI GAYA BELAJAR Widi Anindyta Partington; Abdul Halim Fathani; Sikky El Walida
Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran Vol 16, No 1 (2021): Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran
Publisher : Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (437.113 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan siswa menyelesaikan soal tipe HOTS ditinjau dari gaya belajar. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif. Subjek penelitian merupakan enam siswa kelas IX D di SMP Negeri 7 Malang yang memiliki jawaban soal tes benar dan memiliki nilai kecenderungan gaya belajar tinggi dari masing-masing kelompok gaya belajar. Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan memberikan kuisioner gaya belajar, soal tes, dan wawancara. Hasil penelitian ditemukan bahwa (a) Subjek Kecenderungan Gaya Belajar Visual.  Subjek V1 dan V2 mampu memenuhi semua indikator tahapan polya. Pada saat tahap merencanakan penyelesaian masalah kedua subjek tersebut menggunakan cara penyelesaian yang berbeda. Subjek dengan gaya belajar visual lebih fokus pada satu cara penyelesaian, subjek V1 dan V2 dalam menyelesaikan soal tipe HOTS cenderung fokus pada apa yang dilihat atau apa yang sudah ada tanpa memikirkan kemungkinan lainnya.  (b) Subjek Kecenderungan Gaya Belajar Auditori. Subjek A1 dan A2 mampu memenuhi semua indikator tahapan polya. Pada tahap merencanakan penyelesaian masalah kedua subjek memikirkan lebih dari satu cara tetapi cara yang digunakan keduanya berbeda. Subjek dengan gaya belajar auditori mampu menjelaskan secara detail proses penyelesaiannya; (c) Subjek Kecenderungan Gaya Belajar Kinestetik. Subjek K1 dan K2 mampu memenuhi semua indikator tahapan polya. Pada tahap merencanakan penyelesaian masalah kedua subjek menalar dan menggambar untuk menentukan cara penyelesaian masalah. Subjek dengan gaya belajar kinestetik tidak menuliskan kesimpulan dikarenakan siswa dengan gaya belajar kinestetik lebih fokus belajar melalui memanipulasi dan praktik. Tetapi saat dilakukan wawancara subjek K1 dan K2 menyatakan bahwa subjek memeriksa kembali hasil dan proses penyelesaiannya.
ANALISIS KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS PESERTA DIDIK DALAM MENYELESAIKAN SOAL CERITA MATEMATIKA DITINJAU DARI MOTIVASI BELAJAR Evita Putri El Yasa; Alifiani Alifiani; Sikky El Walida
Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran Vol 16, No 12 (2021): Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran
Publisher : Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (200.253 KB)

Abstract

Abstrak : Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kritis peserta didik dalam menyelesaikan soal cerita matematika ditinjau dari motivasi belajar. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Penelitian dilaksanakan di SMP Zainul Hasan 1 Genggong. Subjek penelitian terdiri dari empat peserta didik yang dipilih sesuai tingkat motivasi belajar. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket, tes, dan wawancara. Hasil wawancara menunjukkan bahwa: 1) subjek dengan kategori motivasi belajar tinggi mampu memenuhi semua indikator kemampuan berpikir kritis, sehingga subjek kategori motivasi belajar tinggi juga memiliki kemampuan berpikir kritis yang tinggi, 2) subjek dengan kategori motivasi belajar sedang hanya mampu memenuhi empat indikator, yaitu: fokus (focus), alasan (reason), situasi (situation), dan tinjau ulang (overview), sehingga subjek dengan kategori motivasi belajar sedang memiliki kemampuan berpikir kritis sedang, 3) subjek dengan kategori motivasi belajar rendah hanya mampu memenuhi tiga indikator, yaitu: fokus (focus), situasi (situation), dan tinjau ulang (overview), sehingga subjek dengan kategori motivasi belajar rendah memiliki kemampuan berpikir kritis yang rendah juga.Kata kunci: kemampuan berpikir kritis, soal cerita matematika, motivasi belajar, sistem persamaan linier dua variabel (SPLDV)
ANALISIS KEMAMPUAN PEMECAHAN MASALAH DAN DISPOSISI MATEMATIS DITINJAU DARI GAYA KOGNITIF PESERTA DIDIK KELAS VIII SMP ISLAM PAKIS Zakiyatul Ilmiyah; Isbadar Nursit; Sikky El Walida
Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran Vol 16, No 25 (2021): Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran
Publisher : Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.573 KB)

Abstract

Abstrak : Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan kemampuan pemecahan masalah matematis dan disposisi matematis peserta didik kelas VIII SMP Islam Pakis berdasarkan gaya kognitif Field Independent (FI). Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif dengan jenis deskriptif. Subjek dalam penelitian adalah peserta didik kelas VIII SMP Islam Pakis. Instrumen yang digunakan adalah soal tes kemampuan pemecahan masalah, Tes GEFT (Test Embedded Figure Test), angket dan Pedoman Wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa (1) peserta didik dengan kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis kategori tinggi dengan gaya kognitif Field Independent (FI) dapat memenuhi semua indikator kemampuan pemecahan dengan baik dan juga dapat memenuhi semua indikator disposisi matematis dengan baik. (2) Peserta didik dengan kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis kategori sedang dengan gaya kognitif Field Independent (FI) tidak dapat memenuhi indikator melihat kembali pada kemampuan pemecahan masalah dan tidak dapat memenuhi indikator rasa percaya diri pada disposisi matematis. (3) Peserta didik dengan kemampuan pemecahan masalah dan disposisi matematis kategori rendah dengan gaya kognitif Field Independent (FI) tidak dapat memenuhi indikator menyusun rencana dan melihat kembali pada kemampuan pemecahan dan tidak dapat memenuhi semua indikator disposisi matematis.Kata Kunci: Kemampuan Pemecahan Masalah, Disposisi Matematis, Gaya Kognitif
KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF MATEMATIS PESERTA DIDIK MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN DLPS PADA PERSAMAAN GARIS LURUS KELAS VIII SMP WAHID HASYIM MALANG putri daiana; Surahmat Surahmat; Sikky El Walida
Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran Vol 14, No 8 (2019): Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran
Publisher : Jurnal Penelitian, Pendidikan, dan Pembelajaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (32.711 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah ada perbedaan kemampuan berpikir kreatif matematis melalui model pembelajaran DLPS dan model pembelajaran konvensional pada materi persamaan garis lurus peserta didik kelas VIII SMP Wahid Hasyim Malang, untuk mendeskripsikan kemampuan berpikir kreatif matematis melalui model pembelajaran DLPS dan model pembelajaran konvensional pada materi persamaan garis lurus peserta didik kelas VIII SMP Wahid Hasyim Malang, dan untuk mengetahui apakah ada keterkaitan hasil analisis data kuantitatif dan kualitatif kemampuan berpikir kreatif matematis menggunakan model pembelajaran DLPS dan menggunakan model pembelajaran konvensional pada materi persamaan garis lurus kelas VIII SMP Wahid Hasyim Malang. Penelitian ini merupakan penelitian mixed method dengan desain sequential explanatory. Sampel yang digunakan oleh peneliti peserta didik kelas VIIIB dan VIIIC. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis uji t dengan menggunakan Software SPSS 20 Subjek penelitian kualitatif sebanyak 6 peserta didik. Berdasarkan analisis data kuantitatif dengan menggunakan software SPSS 20 diperoleh nilai Sig = 0,009. Karena nilai Sig = 0,009 < 0,05 maka ditolak atau  diterima. Hal ini berarti dapat disimpulkan bahwa ada perbedaan yang signifikan kemampuan berpikir kreatif matematis kelas eksperimen melalui model pembelajaran DLPS dengan kelas kontrol menggunakan model pembelajaran konvensional pada materi persamaan garis lurus peserta didik kelas VIII SMP Wahid Hasyim Malang. Berdasarkan analisis data kualitatif yang diperoleh dari hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa pencapaian indikator subjek dengan kemampuan berpikir kreatif matematis untuk seluruh kategori baik tinggi, sedang maupun rendah. Masing-masing dari peserta didik pada kelas eksperimen memiliki pencapaian yang lebih baik dari pada kelas kontrol. Kata kunci: kemampuan berpikir kreatif matematis, model pembelajaran Double Loop Problem Solving (DLPS)