Claim Missing Document
Check
Articles

Nilai Pendidikan Karakter dalam Elemen Kisah Teladan pada Pembelajaran Akidah Akhlak Fase D–F Abdullah Abdullah; Dela Sevira; Nur Aisyah; Hendra Surya Aditama; Ahmad Hapi Badali
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 2: Juni (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i2.2640

Abstract

Pendidikan karakter menjadi fokus utama dalam Kurikulum Merdeka, terutama pada pembelajaran Akidah Akhlak yang bertujuan membentuk kepribadian peserta didik. Elemen kisah teladan memiliki peran strategis dalam menginternalisasikan nilai-nilai karakter melalui cerita para nabi, sahabat, imam mazhab, dan ulama Nusantara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam elemen kisah teladan pada pembelajaran Akidah Akhlak fase D, E, dan F. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Sumber data diperoleh dari basis data Google Scholar, DOAJ, dan Portal Garuda dengan kata kunci "nilai pendidikan karakter", "kisah teladan Akidah Akhlak", dan "fase Kurikulum Merdeka". Dari 70 sumber yang teridentifikasi, 25 sumber relevan (2016-2026) dianalisis secara deskriptif-analitis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) nilai-nilai karakter dalam elemen kisah teladan meliputi kesabaran, kejujuran, tanggung jawab, keberanian, kepemimpinan, keilmuan, dan kepedulian sosial; (2) pada fase D, nilai-nilai dasar diperkenalkan melalui kisah para nabi dan Khulafaurasyidin; (3) pada fase E, nilai keberanian dan keteguhan ditekankan melalui kisah Nabi Luth dan Ashabul Kahfi; (4) pada fase F, nilai keilmuan dan tanggung jawab sosial diperkuat melalui kisah sahabat, imam mazhab, dan ulama Nusantara. Nilai kesabaran muncul sebagai nilai inti yang melintasi semua fase. Kebaruan artikel ini terletak pada identifikasi pola nilai lintas fase dan relevansinya dengan tahap perkembangan peserta didik. Implikasi praktisnya, guru Akidah Akhlak perlu menyampaikan kisah teladan secara kontekstual dan bertahap sesuai fase perkembangan peserta didik
Analisis Elemen Kisah Teladan dalam Pembelajaran Akidah Akhlak pada Fase D, E, dan F Kurikulum Merdeka Abdullah Abdullah; Abdul Khair; Yuanda Dwi Safitri; Al-Ghina Latieva
Arus Jurnal Psikologi dan Pendidikan Vol 5 No 2: Juni (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajpp.v5i2.2719

Abstract

Kisah teladan merupakan elemen penting dalam pembelajaran Akidah Akhlak yang berfungsi menanamkan nilai-nilai keimanan dan karakter melalui figur inspiratif dalam sejarah Islam. Dalam Kurikulum Merdeka, materi kisah teladan disusun secara bertahap sesuai fase perkembangan peserta didik (Fase D, E, F). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik dan fungsi pedagogis elemen kisah teladan pada setiap fase, serta perbedaan pendekatan terhadapnya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Sumber data diperoleh dari dokumen SK Dirjen Pendis No. 9941/2025, buku teks, artikel jurnal, serta literatur yang relevan. Analisis menggunakan teknik analisis isi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada Fase D (MTs), kisah teladan berfungsi sebagai pengenalan tokoh dan nilai moral dasar melalui pendekatan imitasi dan pembiasaan. Pada Fase E (MA kelas X), kisah diarahkan pada analisis kritis dan kontekstualisasi nilai dalam realitas sosial remaja. Pada Fase F (MA kelas XI-XII), kisah ini menekankan internalisasi nilai, refleksi mendalam, dan pengambilan keputusan moral secara mandiri. Kebaruan artikel ini terletak pada identifikasi gradasi pedagogis lintas fase serta implikasinya terhadap pengembangan metode pembelajaran. Kesimpulannya, efektivitas kisah teladan sangat bergantung pada kesesuaian antara karakteristik materi dan tahap perkembangan peserta didik
Pembelajaran Akidah-Akhlak Dengan Pendekatan Kurikulum Berbasis Cinta Wafiq Azizah; M. Ridwan Nur; Rita Puspita; Abdullah
Jurnal Ilmiah Multidisiplin Nusantara (JIMNU) Vol. 4 No. 2 (2026): JIMNU - JULI
Publisher : PT. Padang Tekno Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/jimnu.v4i2.684

Abstract

Degradasi moral peserta didik di era digital yang ditandai meningkatnya intoleransi, perundungan, krisis empati, serta melemahnya integritas sosial menunjukkan adanya persoalan mendasar dalam praktik pendidikan nilai. Dalam pembelajaran Akidah Akhlak, orientasi yang masih dominan pada aspek kognitif dan normatif belum sepenuhnya diimbangi dengan penguatan dimensi afektif dan internalisasi nilai secara sistematis dalam desain kurikulum. Kesenjangan antara penguasaan konsep keagamaan dan manifestasi moral dalam kehidupan nyata menjadi problem epistemologis dan pedagogis yang memerlukan rekonstruksi. Penelitian ini bertujuan merumuskan kerangka konseptual Kurikulum Berbasis Cinta sebagai paradigma alternatif dalam pembelajaran Akidah Akhlak. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif berbasis studi kepustakaan dengan analisis hermeneutik terhadap konsep mahabbah dalam tradisi intelektual Islam, khususnya pemikiran Al-Ghazali, serta dikomparasikan dengan teori pendidikan humanistik modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa Kurikulum Berbasis Cinta memiliki legitimasi teologis dan koherensi pedagogis dalam mengintegrasikan dimensi kognitif, afektif, dan spiritual secara utuh. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemosisian cinta bukan sekadar sebagai nilai moral, melainkan sebagai prinsip epistemologis dan kurikuler yang menstrukturkan tujuan, proses, dan evaluasi pembelajaran secara sistematis dan transformatif. The moral decline of students in the di’Ital era, reflected in rising intolerance, bullying, diminished empathy, and weakened social integrity, indicates a fundamental problem in contemporary value education. In Akidah Akhlak instruction, learning practices remain predominantly cognitive and normative, while affective development and systematic value internalization are insufficiently integrated into curricular design. This gap between conceptual mastery of religious teachings and their moral enactment in lived experience represents an epistemological and pedagogical challenge requiring reconstruction. This study aims to formulate a conceptual framework for a Love-Based Curriculum as an alternative paradigm in Akidah Akhlak education. Employing a qualitative library-based approach, the study applies hermeneutic analysis to the concept of mahabbah within the Islamic intellectual tradition, particularly in the thought of Al-Ghazali, while comparatively engaging modern humanistic educational theory. The findings demonstrate that a Love-Based Curriculum possesses theological legitimacy and pedagogical coherence in integrating cognitive, affective, and spiritual dimensions of learning. The novelty of this study lies in positioning love not merely as a moral value but as an epistemological and curricular principle that structures the aims, processes, and evaluation of Akidah Akhlak instruction in a systematic and transformative manner.
Pengembangan Materi Adab Islami dalam Kurikulum Merdeka pada Jenjang MTs/MA Siti Samsiah; Abdullah; Muhammad Amin; Resa; Muhammad Rizki
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 4 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i4.7655

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis pengembangan materi adab Islami dalam Kurikulum Merdeka pada jenjang Madrasah Tsanawiyah (MTs) dan Madrasah Aliyah (MA) pada Fase D, E, dan F. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kepustakaan (library research). Sumber data diperoleh dari dokumen SK Dirjen Pendis No. 9941/2025, buku teks, artikel jurnal, dan literatur relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa materi adab Islami disusun secara bertahap sesuai perkembangan peserta didik. Pada Fase D (MTs), materi berfokus pada penguatan spiritual dan sosial dasar melalui pembiasaan ibadah dan adab harian. Pada Fase E (MA kelas X), materi menekankan pemahaman dalil dan hikmah adab, khususnya birrul walidain dan adab kepada guru. Pada Fase F (MA kelas XI-XII), materi diarahkan pada kesiapan interaksi sosial yang lebih luas, meliputi adab berhias, bepergian, bertamu, bergaul dengan sesama, serta etika terhadap lawan jenis. Implementasi materi adab didukung oleh fleksibilitas Kurikulum Merdeka, budaya religius madrasah, dan keterlibatan guru. Tantangan utama meliputi kesiapan guru, pengaruh media sosial, dan keterbatasan waktu pembelajaran. Kebaruan artikel ini terletak pada identifikasi gradasi materi adab lintas fase serta implikasi pedagogisnya. Kesimpulannya, pengembangan materi adab Islami dalam Kurikulum Merdeka perlu disertai dengan penguatan kompetensi guru dan kolaborasi madrasah-keluarga agar nilai-nilai adab dapat terinternalisasi secara optimal.
Penerapan Problem Based Learning (PBL) dalam Pembelajaran Akidah Akhlak: Kajian Konseptual dan Implementasi Abdullah Abdullah; Saudah Saudah; Agustina Rosalina; Nor Laila; Aditya Achmad Habibie
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7376

Abstract

Pembelajaran Akidah Akhlak di madrasah masih menghadapi tantangan berupa dominasi metode pembelajaran yang berpusat pada guru, sehingga keterlibatan peserta didik dalam proses pembelajaran belum optimal. Problem Based Learning (PBL) hadir sebagai alternatif model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik melalui pemecahan masalah yang berkaitan dengan kehidupan nyata. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji konsep, penerapan, dampak, dan tantangan Problem Based Learning dalam pembelajaran Akidah Akhlak. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan dengan menganalisis berbagai literatur yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa PBL mampu menciptakan pembelajaran yang aktif, kontekstual, dan berpusat pada peserta didik. Penerapan PBL berdampak positif terhadap peningkatan keaktifan belajar, kemampuan berpikir kritis, hasil belajar, serta pembentukan karakter peserta didik. Namun, penerapan PBL masih menghadapi tantangan berupa kesiapan guru dan peserta didik, keterbatasan sarana, serta perlunya penguatan nilai-nilai Islam dalam proses pemecahan masalah. Kebaruan artikel ini terletak pada formulasi sintaks Problem Based Learning (PBL) yang disesuaikan dengan karakteristik pembelajaran Akidah Akhlak serta identifikasi tantangan spesifik penerapannya dalam konteks pendidikan Islam.
Implementasi Pembelajaran Al-Qur’an dengan Metode Tilawati di UIN Palangka Raya Abdullah Abdullah; Saudah Saudah; Neela Afifah; Wahyu Andhika Chandra; Iyan Fatmawi Saban
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7652

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan implementasi pembelajaran Al-Qur’an menggunakan Metode Tilawati di UIN Palangka Raya, dengan fokus pada perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan Ibu Neela Afifah (Dosen dan Ketua Panitia Pelaksana program Baca Tulis Al-Qur’an) serta observasi dokumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perencanaan program mencakup tujuan yang selaras dengan identitas kampus Islam, target pencapaian enam level kompetensi yang merefleksikan enam jilid Tilawati, serta pendanaan dari DIPA UIN Palangka Raya. Pelaksanaan kegiatan berlangsung rutin pada hari Senin hingga Kamis pukul 18.00–19.00 dengan durasi bervariasi per level, melibatkan panitia, tim yang memiliki syahadah sebagai instruktur metode tilawati, dan kerja sama dengan Pesantren Nurul Falah Surabaya. Proses pembelajaran terdiri dari kegiatan awal (doa), inti (peraga buku klasikal dan baca simak individual), serta penutup (membaca bersama dan doa). Evaluasi dilakukan melalui tes lisan berjenjang dengan sistem mengulang level jika tidak lulus (prinsip mastery learning). Simpulan, implementasi Metode Tilawati di UIN Palangka Raya telah berjalan sistematis dan selaras dengan temuan penelitian sebelumnya.
Elemen Akidah dalam Kurikulum Merdeka: Karakteristik, Implementasi, dan Tantangannya dalam Pembelajaran Akidah Akhlak di Madrasah Abdullah Abdullah; Qhisthi Rahmadhini; Nurizatulail Nurizatulail; Anggi Anggraini; Anggini Anggini
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7696

Abstract

Kurikulum Merdeka membawa pembaruan mendasar dalam tata kelola pembelajaran agama Islam di madrasah, termasuk pada mata pelajaran Akidah Akhlak. Elemen akidah, yang selama ini sering direduksi menjadi materi hafalan semata, kini dituntut untuk hadir sebagai landasan nilai-nilai yang hidup dan terinternalisasi dalam diri peserta didik. Artikel ini bertujuan menganalisis elemen karakteristik akidah dalam Kurikulum Merdeka, menelaah pola implementasinya dalam pembelajaran Akidah Akhlak, serta mengidentifikasi tantangan dan solusi strategi dalam penguatan karakter religius peserta didik. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan metode kepustakaan (penelitian perpustakaan), melalui teknik dokumentasi dan analisis isi (content analysis) model Krippendorff terhadap jurnal ilmiah, dokumen kurikulum, dan literatur yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa elemen akidah dalam Kurikulum Merdeka memiliki empat ciri utama: berorientasi pada peserta didik, terintegrasi dengan pembentukan karakter, fleksibel dalam pendekatan pedagogi, serta mendukung moderasi beragama. Implementasinya menuntut penggunaan model pembelajaran aktif, pemanfaatan teknologi secara kontekstual, dan asesmen yang bersifat holistik mencakup ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik. Capaian Pembelajaran pada Fase D (kelas VII–IX MTs) dirancang secara berjenjang untuk menghadirkan peserta didik dari tahap pemahaman menuju penghayatan dan pengamalan nilai akidah. Kendati demikian, implementasi di lapangan masih menghadapi sejumlah tantangan, di antaranya kompleksitas asesmen afektif, keterbatasan infrastruktur teknologi, kesiapan pedagogis guru, dan kesenjangan pemahaman antara akidah sebagai konten dan akidah sebagai orientasi nilai. Artikel ini menyimpulkan bahwa keberhasilan penguatan karakter religius melalui unsur akidah sangat bergantung pada kesiapan guru, dukungan institusi, serta komitmen kolektif seluruh pemangku kepentingan madrasah.
Inovasi Penyusunan RPP Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) Akidah Akhlak dengan Pendekatan Deep Learning di MTs/MA Abdullah Abdullah; Saudah Saudah; Hamidah Hamidah; Mikha Rahmadani; Dhiyaa Rihadatul Aisya; Nayla Salsabila
IHSAN : Jurnal Pendidikan Islam Vol. 4 No. 3 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/ihsan.v4i3.7825

Abstract

Pembelajaran Akidah Akhlak di MTs/MA masih menghadapi kendala berupa orientasi administratif, dominasi hafalan, dan rendahnya internalisasi nilai karakter sehingga belum mampu membentuk peserta didik yang humanis, reflektif, dan empatik. Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) hadir sebagai paradigma baru dengan menekankan nilai kasih sayang, keteladanan, dan relasi humanis melalui Panca Cinta: cinta kepada Allah dan Rasul, cinta ilmu, cinta diri dan sesama, cinta lingkungan, serta cinta tanah air. Pendekatan Deep Learning melengkapi KBC dengan mendorong keterlibatan aktif, berpikir kritis, refleksi, kolaborasi, dan penguatan karakter secara holistik. Penelitian ini bertujuan merumuskan model konseptual sekaligus panduan implementatif penyusunan RPP Akidah Akhlak berbasis KBC dengan pendekatan Deep Learning. Metode yang digunakan adalah studi kepustakaan dengan analisis isi terhadap 24 sumber akademik yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi KBC dan Deep Learning menghasilkan RPP dengan tujuan berbasis HOTS, strategi kolaboratif dan reflektif, penilaian autentik, serta delapan tahapan sistematis penyusunan. Kebaruan penelitian ini terletak pada formulasi tahapan RPP KBC-Deep Learning dan contoh implementasi nilai cinta dalam setiap komponen pembelajaran, sehingga berkontribusi pada penguatan pedagogi humanis dan transformasi pembelajaran Akidah Akhlak di madrasah.
Analisis Materi Adab Dalam Pembelajaran Akidah Akhlak Pada Fase D, E, dan F Abdullah Abdullah; Fitrizal Fitrizal; May Syarah; Siti Nazwa; Azmi Abdul Aziz
Jurnal Intelek Insan Cendikia Vol. 3 No. 05 (2026): MEI 2026
Publisher : PT. Intelek Cendikiawan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis materi adab dalam pembelajaran Akidah Akhlak pada Fase D, E, dan F dalam Kurikulum Merdeka. Kajian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya elemen adab sebagai fondasi pembentukan karakter Islami yang mengintegrasikan aspek akidah dan akhlak secara utuh. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research), melalui analisis dokumen kurikulum, capaian pembelajaran, buku ajar, serta literatur ilmiah yang relevan. Teknik analisis data dilakukan dengan analisis isi dan komparatif untuk melihat kesinambungan dan perkembangan materi adab pada setiap fase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa materi adab disusun secara sistematis, bertahap, dan berkelanjutan sesuai dengan perkembangan kognitif, sosial, dan spiritual peserta didik. Pada Fase D, materi adab berfokus pada pembiasaan dan praktik langsung dalam ibadah, seperti adab shalat, zikir, berdoa, dan membaca Al-Qur’an. Pada Fase E, pembelajaran menekankan pemahaman dalil serta penghayatan hikmah, khususnya dalam berbakti kepada orang tua dan menghormati guru. Sementara itu, pada Fase F, materi adab diarahkan pada refleksi kritis serta penerapan nilai-nilai adab dalam konteks sosial yang lebih luas. Secara keseluruhan, elemen adab berperan sebagai jembatan antara akidah dan akhlak serta memiliki fungsi strategis dalam membentuk karakter peserta didik yang religius, berakhlak mulia, dan berkelanjutan
KONTRIBUSI MATERI AKHLAK TERHADAP PEMBENTUKAN KARAKTER PESERTA DIDIK PADA MATA PELAJARAN AKIDAH AKHLAK DI MADRASAH Abdullah Abdullah; Ahmad Noor Bayu Ramadani; Ririn Cahyani; Nisa Mutmainnah; Muhammad Rifqi Shahada Pratama
EMBRIO PENDIDIKAN: JURNAL PENDIDIKAN DASAR Vol. 11 No. 1 (2026): Embrio Pendidikan: Jurnal Pendidikan Dasar
Publisher : Lembaga Jurnal FKIP Universitas Bosowa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52208/embrio.v11i1.1812

Abstract

Character education is an urgent need in the midst of the moral crisis affecting the younger generation. Akidah Akhlak learning has a strategic position because it directly shapes students' faith and morals. This study aims to analyze the strengthening of character education through moral elements in Akidah Akhlak learning. The research uses a qualitative approach with a library research method. Data sources were obtained from searches in Google Scholar, DOAJ, and Portal Garuda databases (2015-2026) with relevant keywords. The results show that moral elements in Akidah Akhlak learning include four dimensions: (1) morals toward Allah (faith, piety, gratitude, trust); (2) morals toward oneself (maintaining health, controlling desires, avoiding heart diseases); (3) morals toward others (honesty, tolerance, helping, respect); (4) morals toward the environment (maintaining cleanliness, preserving nature). Character strengthening through these four dimensions is carried out through teacher role modeling, habituation of good behavior, value reflection, and integration in learning. The novelty of this article lies in the systematic mapping of the four moral elements and their relationship with the three pillars of character education (moral knowing, moral feeling, moral action). Practical implications suggest that Akidah Akhlak teachers need to internalize the four moral dimensions in an integrated manner in learning.
Co-Authors Abdul Khair Adi Ansari Aditya Achmad Habibie Agustina Rosalina Ahmad Fauzi Ahmad Hapi Badali Ahmad Noor Bayu Ramadani AHMADI Aida Nurul Hikmah Ajahari Ajahari Ajahari Ajahari, Ajahari Al-Ghina Latieva Amanda, Raihanah Aminah Aminah Anggi Anggraini Anggini Anggini Asmawati Asmawati Astuti, Mayang Sari Aulia Sudrajat, Adisti Ayu Fidiasari, Riska Ayuni Rahmadani Azmi Abdul Aziz Dela Sevira Dela Sevira Dhiyaa Rihadatul Aisya Dina Rahmawati Endah Hana Kaliwahyuni Fadhalla F F Balramman Fitrizal Fitrizal Habib Krisna Nugroho Hamidah Hamidah Hendra Surya Aditama Imar Imar Iqbal, Maulana Islami, Nelsi Iyan Fatmawi Saban Jannah, Aisyah Miftahul Jumrodah Jumrodah, Jumrodah Kalvin Al Qafilah Khairul Sadi Khalda, Nabila Khusnul Khatimah Kusmita, Riya Latifah, Rosiana M. Ali Sibram Malisi M. Ridwan Nur M. Rifani Al-Ghazali Mahrita Mahrita May Syarah Mayasari, Lian Mery. A Mikha Rahmadani Muhammad Amin Muhammad Amin Muhammad Haikal Ramadhan Muhammad Rifqi Shahada Pratama Muhammad Rizki Muhammad Rizqi Muslimah Muslimah Muslimah Nayla Salsabila Nayna Sidni Nazwa Ramadhani Neela Afifah Nili Ariyani Nisa Mutmainnah Nisa, Khaerun Noorazmah Hidayati, Noorazmah Nor Laila Norhidayah, Siti Norhidayani, Norhidayani Norjanah, Norjanah Novia Safitri Nur Aisyah Nur Ellysa Nurhayati Nurhayati Nurizatulail Nurizatulail Qhisthi Rahmadhini Rabiatul Ismi Rahimah, Rahimah Ramadhan Wirayudha Resa Ririn Cahyani Ristiani Arnila Rita Puspita Rowina, Sinta Safar Wardana Sahduari Sahduari Saiful Anwar Saiful Lutfi saudah saudah Saudah Saudah Saudah Saudah SAUDAH SAUDAH Saudah Saudah Siti Aulia Putri Siti Nazwa Siti Rahmawati Siti Samsiah Sofia Karema Subahannor, Subahannor Syafadila, Elva Sya’roni, Ahmad Tamara Anggina Putri Tia Hafizah Valya Adilla Wafiq Azizah Wahyu Andhika Chandra Wahyuna Fitriyanty Yuanda Dwi Safitri Yulianti, Yuna Yuwandi, Muhamad Fikri Zainap Hartati Zainap Hartati