Claim Missing Document
Check
Articles

IDENTIFIKASI FAKTOR-FAKTOR YANG MEMENGARUHI ALIH FUNGSI PENGGUNAAN BANGUNAN RUMAH TINGGAL MENJADI KOMERSIAL KECAMATAN PONTIANAK TENGGARA Rendy Hidayat; Nana Novita Pratiwi; Ely Nurhidayati
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 8, No 1 (2021): JeLast Edisi Februari 2021
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v8i1.44741

Abstract

Perubahan pemanfaatan fungsi bangunan gedung di Jalan Sejahtera 1 sudah terlihat berbeda dengan peruntukannya sebagai kawasan permukiman menengah. Perubahan pemanfaatan fungsi bangunan tersebut secara bertahap akan mengubah kawasan dominasi rumah hunian menjadi komersial seperti menjadi ruko, rumah makan, toko, salon, kantor swasta, laundry dan lainnya yang mempunyai implikasi yang berbeda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan fungsi pemanfaatan bangunan perumahan menjadi komersial di Jalan Sejahtera 1. Penelitian ini menggunakan analisis deskriptif kuantitatif untuk mengidentifikasi karekteristik fungsi penggunaan bangunan di wilayah studi, sedangkan analisis logistic regression model untuk mengetahui faktor-faktor terjadinya perubahan fungsi bangunan rumah menjadi komersial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perubahan fungsi pemanfaatan bangunan rumah menjadi komersial yang terjadi di Jalan Sejahtera 1 merupakan daerah strategis, karena merupakan jalan penghubung antara Kecamatan Pontianak Tenggara dengan Kecamatan Sungai Raya. Perubahan fungsi bangunan menjadi komersial sebesar 26,4%, faktor yang memengaruhi adalah utilitas umum dan personal pemilik lahan. Semakin lengkap utilitas umum, maka semakin tinggi pula kemungkinan perubahan fungsi pemanfaatan bangunan perumahan. Begitu juga dengan personal pemilik lahan, semakin rendah pendidikan, penghasilan dan mata pencarian maka semakin tinggi pula perubahan fungsi pemanfaatan bangunan perumahan menjadi komersial.
IDENTIFIKASI PENATAAN KAWASAN PELABUHAN KUALA KOTA SINGKAWANG Della Meitri Astari; Ely Nurhidayati; Agustiah Wulandari
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 9, No 4 (2022): JeLAST Desember 2022
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v9i4.60892

Abstract

Pelabuhan Pangkalan Kuala atau biasa disebut Pelabuhan Kuala adalah salah satu pelabuhan yang berada di Kota Singkawang. Berlokasi di Kelurahan Kuala, Kecamatan Singkawang Barat yang merupakan satu-satunya kelurahan di Kecamatan Singkawang Barat yang berbatasan langsung dengan pesisir. Oleh karena kondisi geografisnya menjadikan Kelurahan Kuala memiliki potensi pada bidang perikanan. Namun potensi tersebut tidak didukung dengan penyediaan fasilitas berupa dermaga bagi nelayan untuk melabuhkan kapalnya. Sehingga saat ini kapal nelayan justru berlabuh pada Waterfront. Menurut RTRW Kota Singkawang Tahun 2022 – 2042, Pelabuhan Kuala akan diaktifkan kembali menjadi pelabuhan pengumpul. Sehingga perlunya dilakukan penataan kawasan pelabuhan agar dapat mengakomodir kondisi eksisting dengan rencana pengembangan. Tujuan penelitian adalah mengidentifikasi penataan kawasan Pelabuhan Kuala Kota Singkawang yang sebelumnya berstatus pelabuhan pangkalan menjadi pelabuhan pengumpul. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan variabel identifikasi kondisi eksisting aktivitas di pelabuhan dan sekitarnya, serta prasarana dan sarana seperti fasilitas pokok dan penunjang pelabuhan. Hasil penelitian adalah aktivitas terakhir pada Pelabuhan Kuala tahun 2021 adalah aktivitas bongkar muat barang dan kawasan sekitarnya adalah wisata mangrove dan kampung nelayan. Rata-rata bongkar dalam satu bulan sebesar 1.935 GT dan rata-rata muat dalam satu bulan adalah 84,5 GT. Jumlah kunjungan kapal rata-rata dalam satu bulan adalah 3 kapal. Namun saat ini sudah tidak terdapat aktivitas dikarenakan kegiatan bongkar barang justru dialihkan ke TPI Kuala bergabung dengan kegiatan perikanan. Pada saat surut kedalaman Sungai Singkawang mencapai 1,5 meter dan saat pasang mencapai 3 meter dengan lebar muara 20 meter. Prasarana dan sarana yang tersedia adalah dermaga, gudang, perkantoran, rumah dinas, dan pos penjaga dengan kondisi sudah tidak dipergunakan. Kondisi tanaman mangrove mengalami kekeringan serta banyak sampah yang menumpuk oleh aktivitas permukiman tepian sungai. Serta kondisi kampung nelayan telah dibangun waterfront agar menjadi kawasan yang bersih dan tertata.
PEMETAAN SEBARAN BENGKEL KENDARAAN BERMOTOR RODA 2 DAN 4 PENGHASIL LIMBAH PELUMAS BEKAS DI KOTA PONTIANAK Natalia Ursula; Ely Nurhidayati; Gusti Zulkifli Mulki
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 9, No 4 (2022): JeLAST Desember 2022
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v9i4.59349

Abstract

Pertambahan kendaraan pribadi lebih besar dibanding penggunaan kendaraan umum. Peningkatan umumnya pada kendaraan seperti kendaraan bermotor roda 2 dan 4. Peningkatan kendaraan mempengaruhi penambahan sektor usaha bengkel dalam pemeliharaan dan perbaikan. Penelitian ini akan melakukan pemetaan sebaran usaha bengkel kendaraan bermotor roda 2 dan 4 penghasil limbah pelumas bekas di Kota Pontianak. Pengumpulan data penelitian dengan observasi dan dokumentasi. Data yang terkumpul dianalisis menggunakan digitasi. Pengambilan data menggunakan sampel, yaitu 81 bengkel. Bengkel kendaraan bermotor roda 2 di Kota Pontianak memiliki klasifikasi bengkel dealer, bengkel pelayanan umum, dan bengkel pelayanan merek kendaraan tertentu. Sampel penelitian terdiri atas 10 bengkel dealer, 50 bengkel pelayanan umum, dan 3 bengkel pelayanan merek kendaraan tertentu. Bengkel kendaraan bermotor roda 4 di Kota Pontianak memiliki klasifikasi bengkel dealer dan bengkel pelayanan umum. Sampel penelitian terdiri atas 2 bengkel dealer, dan 16 bengkel pelayanan umum. Bengkel kendaraan bermotor roda 2 dan 4 memiliki tipe A, tipe B, dan tipe C. Keadaan lantai bengkel kendaraan bermotor roda 2 dan 4 terdiri atas lantai beton dan lantai keramik. Bengkel dealer dan bengkel pelayanan merek kendaraan tertentu memiliki lantai keramik, sedangkan bengkel pelayanan umum masih terdapat beberapa bengkel menggunakan lantai beton.Kata kunci: Bengkel kendaraan bermotor roda 2 dan 4, Klasifikasi Bengkel, Pemetaan
STRATEGI PENGEMBANGAN KAWASAN TEPIAN SUNGAI KAPUAS DI KECAMATAN SINTANG KABUPATEN SINTANG Nelly Roulitua Aritonang; Ely Nurhidayati; Vetti Puryanti
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 8, No 1 (2021): JeLast Edisi Februari 2021
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v8i1.44781

Abstract

Kawasan tepian Sungai Kapuas di Kelurahan Tanjung Puri, Kecamatan Sintang dimanfaatkan sebagai perdagangan dan jasa. Aktivitas perdagangan dan jasa ini memiliki peranan penting dalam percepatan pertumbuhan ekonomi serta sangat berpengaruh terhadap keberlanjutan sungai. Namun keadaan kawasan tepian Sungai Kapuas saat ini sangat memprihatinkan akibat dari aktivitas perdagangan dan jasa yang menyebabkan kawasan tepian sungai menjadi kumuh dan semakin hari menjadi semakin semerawut. Tujuan penelitian ini adalah untuk merumuskan strategi pengembangan kawasan tepian Sungai Kapuas sesuai prinsip keberkelanjutan yang mempertimbangkan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan melakukan observasi lapangan, wawancara, telaah pustaka, dan dokumentasi. Hasil penelitian mengidentifikasi bahwa kondisi kawasan tepian sungainya masih buruk sehingga menyebabkan kawasan menjadi kumuh namun juga memiliki potensi untuk dikembangkan agar kawasan tepian sungai menjadi lebih optimal. Berdasarkan analisis SWOT diketahui bahwa posisi lokasi studi berada pada Kuadran I dan menggunakan strategi SO antara lain memberdayakan masyarakat, melakukan pengembangan kawasan tepian sungai yang berorientasi pada visualisasi sungai, merenovasi bangunan pasar dan membongkar penginapan terapung, serta membuat street food. Kemudian dari strategi SO dirumuskanlah strategistrategi pengembangan terhadap lokasi studi dengan menyesuaikan pada aspek lingkungan, aspek ekonomi, dan aspek sosial. Kata kunci: strategi pengembangan, sungai kapuas, tepian sungai
PENGARUH UNIVERSITAS TANJUNGPURA TERHADAP PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI KECAMATAN PONTIANAK TENGGARA Rizqi Puteri Riyandini; Ely Nurhidayati; Vetti Puryanti
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 9, No 3 (2022): JELAST EDISI AGUSTUS 2022
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v9i3.57708

Abstract

Universitas merupakan nukleus (pusat) kota dan menjadi tarikan kota, sehingga menimbulkan pergerakan masyarakat dan menyebabkan perkembangan lingkungan di kawasan sekitarnya, yaitu perkembangan fungsi penggunaan lahan akibat antusiasme masyarakat untuk memberikan fasilitas penunjang universitas bagi mahasiswa seperti tempat tinggal serta perdagangan dan jasa. Fenomena tersebut terjadi pada Kecamatan Pontianak Tenggara yang di dalamnya terdapat Universitas Tanjungpura (UNTAN). Tujuan penelitian ini untuk mengetahui tingkat pengaruh Universitas Tanjungpura terhadap perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Pontianak Tenggara. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan kuesioner dan teknik analisis overlay. Hasil penelitian menunjukkan adanya pengaruh UNTAN terhadap perubahan penggunaan lahan di Kecamatan Pontianak Tenggara menurut 95% responden yang terdiri atas masyarakat dan mahasiswa yang bertempat tinggal di Kecamatan Pontianak Tenggara. Penelitian mengkaji perubahan penggunaan lahan tahun 2005-2020 selama 15 tahun. Lahan tidak terbangun pada tahun 2005 seluas 998,84 ha telah berkurang sebesar 215,02 ha menjadi 783,82 ha atau berkurang sebesar 14,42% dari luas Pontianak Tenggara pada tahun 2020. Perubahan penggunaan lahan menunjukkan adanya dominasi transisi lahan tidak terbangun menjadi lahan terbangun dengan luas 481,39 ha pada tahun 2005 menjadi 696,10 ha pada tahun 2020. Perkembangan lahan terbangun terbesar terjadi pada fungsi permukiman seluas 403,57 ha, kemudian disusul perdagangan dan jasa seluas 88,27 ha pada 2020. Key Words: Kecamatan Pontianak Tenggara, lahan terbangun, pengaruh, perubahan penggunaan lahan, Universitas Tanjungpura.
KARAKTERISTIK KAMPUNG NELAYAN DI KELURAHAN KUALA KOTA SINGKAWANG Muhammad Syahid Kahfi Hira; Ely Nurhidayati; Nana Novita Pratiwi
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 9, No 4 (2022): JeLAST Desember 2022
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v9i4.60842

Abstract

Kota Singkawang ditetapkan sebagai salah satu pengembangan kawasan peruntukan perikanan di Provinsi Kalimantan Barat. Kampung Nelayan di Kelurahan Kuala direncanakan sebagai sentra kawasan industri kecil dan menengah pengolahan perikanan. Kawasan tersebut perlu dikembangkan untuk menjadi kawasan yang bernilai strategis. Oleh karena itu, perlu langkah awal dalam mengkaji karakteristik kampung nelayan tersebut sebagai informasi mendalam untuk rekomendasi yang tepat. Maka untuk mengkaji karakteristik tersebut diperlukan analisis terhadap sosial, ekonomi, dan lingkungan kampung nelayan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan cara observasi, wawancara, dan kuesioner untuk memperoleh data dan infromasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwasanya terdapat berbagai macam kegiatan sosial, seperti gotong royong dalam memperbaiki kapal nelayan, membersihkan kapan nelayan secara bersama, saling membantu ketika ada kapal tenggelam, dan gotongg royong dalam pengolahan hasil laut. Hal ini memberikan dampak interakasi sosial masyarakat yang mendalam dan jarang terjadinya konflik sosial antar masyarakat kampung nelayan. Kemudian terdapat beberapa hal yang perlu dilakukan peningkatan dan perbaikan dari Kondisi Ekonomi dan Kondisi Lingkungan, yaitu pelatihan pemberdayaan masyarakat, jalan-jalan yang rusak, perbaikan jaringan air bersih, kemudian perlu pembangunan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) dan Pangkalan Pendaratan Ikan (PPI), dan melakukan pembinaan dalam membuat kelompok usaha bersama (KUB) nelayan, dan melakukan pemerataan pelatihan keterampilan usaha.
ANALISIS KEBUTUHAN DAN KETERSEDIAAN AIR BERSIH DI KAWASAN PERKOTAAN TELUK BATANG Syarif Muhamad Rizal; Gusti Zulkifli Mulki; Ely Nurhidayati
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 9, No 4 (2022): JeLAST Desember 2022
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v9i4.59896

Abstract

Air merupakan sumber daya yang penting untuk kelangsungan hidup, terutama bagi manusia, yaitu untuk memenuhi kebutuhan dan kelangsungan hidup. Kawasan Perkotaan Teluk Batang terletak di Kecamatan Teluk Batang, Kabupaten Kayong Utara. Terdapat beberapa kegiatan di Kawasan Perkotaan Teluk Batang antara lain kegiatan pemukiman, pertokoan, pendidikan, peribadatan, pelabuhan, dan lain-lain. Kawasan perkotaan Teluk Batang mengalami kelangkaan air bersih, mengingat kebutuhan air bersih yang semakin meningkat setiap tahunnya disertai dengan pertumbuhan penduduk sedangkan ketersediaan air bersih cenderung terbatas. Kajian ini menganalisis tingkat penyediaan dan kebutuhan air bersih di Kawasan Perkotaan Teluk Batang tahun 2021. Kajian ini terlebih dahulu mengidentifikasi kondisi terkait air bersih, kemudian mengidentifikasi penyediaan dan kebutuhan air bersih. Keluaran dari penelitian ini adalah sebagian besar populasi Sumber air bersih S menggunakan air hujan, kapasitas air hujan rata-rata dapat digunakan selama 1-2 minggu, sehingga masyarakat menggunakan upaya lain untuk memenuhi kebutuhan air bersihnya yaitu air pegunungan, air destilasi SWRO dan penjual air. Hasil analisis penawaran dan permintaan. SWRO menyediakan air bersih pada tahun 2021 sebanyak 5.440 liter/hari sedangkan kebutuhan air bersih sebesar 1.986.875 liter/hari
ANALISIS KLASIFIKASI DAN TIPOLOGI RUANG TERBUKA HIJAU PUBLIK DI IBUKOTA KABUPATEN KUBU RAYA Fajriati Lestari; Firsta Rekayasa Hernovianty; Ely Nurhidayati
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 9, No 3 (2022): JELAST EDISI AGUSTUS 2022
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v9i3.57706

Abstract

Konsep pembangunan kawasan perkotaan berkelanjutan bertujuan meningkatkan kulitas lingkungan hidup perkotaan. Pemenuhan kebutuhan ruang terbuka hijau (RTH) adalah satu dari berbagai upaya yang dilakukan untuk mewujudkan konsep pembangunan yang berkelanjutan, khususnya RTH Publik di kawasan perkotaan. Dewasa ini, ketersediaan RTH Publik di Kabupaten Kubu Raya belum teridentifikasi khususnya di Kecamatan Sungai Raya yang merupakan Ibukota Kabupaten Kubu Raya. Oleh karena itu, tujuan dalam penelitian yaitu menganalisis ketersediaan RTH Publik berdasarkan klasifikasi dan tipologi melalui observasi lapangan dan analisis citra digital. Adapun pendekatan penelitian ini yaitu kuantitatif dengan metode teknik analisis berupa analisis spasial dan metode deskriptif kualitatif yang merujuk pada PERMEN PU No. 5 Tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan Ruang Terbuka Hijau di Kawasan Perkotaan. Berdasarkan hasil analisis, RTH Publik di Ibukota Kabupaten Kubu Raya memiliki luas sebesar 1.295.417 m2 atau sekitar 0,192% dari luas Ibukota Kabupaten Kubu Raya. RTH Publik tersebut terbagi ke dalam 3 jenis klasifikasi dengan luasan yang berbeda sebagai berikut; Taman dan Hutan Kota sebesar 546.419 m2, Jalur Hijau Jalan sebesar 74.932 m2, serta Fungsi Tertentu sebesar 674.066 m2. Berdasarkan identifikasi, kebutuhan RTH Publik di Ibukota Kabupaten Kubu Raya masih terbilang sangat besar sehingga diperlukan kerja sama antar pihak terkait seperti pemerintah, masyarakat hingga akademisi untuk mewujudkan ketersediaan RTH Publik di Ibukota Kabupaten Kubu Raya.Key Words: klasifikasi, tipologi,ruang terbuka hijau publik
PENILAIAN KUALITAS LINGKUNGAN PERMUKIMAN DI TEPIAN SUNGAI KELURAHAN BENUA MELAYU LAUT KECAMATAN PONTIANAK SELATAN BERBASIS SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS Gilang Anugrah; Ely Nurhidayati; Agustiah Wulandari
JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang Vol 8, No 2 (2021): JeLAST Juni 2021
Publisher : JeLAST : Jurnal Teknik Kelautan , PWK , Sipil, dan Tambang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jelast.v8i2.48334

Abstract

Kota Pontianak merupakan salah satu Ibu Kota di Kalimantan Barat yang memiliki banyak permukiman di kawasan tepian sungai. Lokasi penelitian terletak di Kelurahan Benua Melayu Laut Kecamatan Pontianak Selatan. Permasalahan kepadatan penduduk dan penggunaan lahan permukiman yang besar telah menimbulkan kerentanan pada kualitas permukiman yang kurang baik. Riset ini bermaksud untuk menilai kualitas lingkungan permukiman ditepian sungai Kelurahan Benua Melayu Laut Kecamatan Pontianak Selatan berbasis sistem informasi geografis. Pendekatan riset ini memakai metode kuantitatif. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan parameter kepadatan permukiman, lokasi permukiman, lebar jalan masuk, kondisi jalan masuk permukiman, dan pohon pelindung jalan. Teknik analisis yang digunakan adalah kuantitatif menggunakan metode pembobotan harkat dan scoring serta penilaian overlay berbasis SIG. Hasil dari analisis tingkat kualitas lingkungan permukiman di Kelurahan Benua Melayu Laut Kecamatan Pontianak Selatan didominasi kualitas III (buruk) luas sebesar 19,27 ha atau 67,90%, kemudian kualitas II (sedang) luas sebesar 8,67 ha atau 30,55% dan kualitas I (baik) luas sebesar 0,44 ha atau 1,55%. Hasil pemetaan sebaran kualitas lingkungan permukiman di Kelurahan Benua Melayu Laut, Kecamatan Pontianak Selatan berdasarkan hasil overlay memiliki sebaran kualitas baik sebesar 1,55 % (1 blok RW yaitu RW 02), kualitas sedang sebesar 30,55 % (5 blok RW yaitu RW 03, RW 06, RW 07, RW 08 dan RW 09) dan kualitas buruk sebesar 67,90 % (4 blok RW yaitu RW 04, RW 05, RW 10, dan RW 11).Kata Kunci : kualitas, overlay, permukiman, pembobotan, tepian SIG
IDENTIFIKASI KONDISI DESAIN PEDESTRIAN DI JALAN AHMAD YANI DAN HOS COKROAMINOTO DI KOTA PONTIANAK Ely Nurhidayati; Nana Novita Pratiwi
Jurnal Ilmiah Arsitektur Vol 13 No 2 (2023): Desember
Publisher : Jurusan Arsitektur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/jiars.v13i2.5721

Abstract

Jalur pedestrian juga dikenal sebagai trotoar, merupakan bagian dari infrastruktur perkotaan dan berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang lebih ramah pejalan kaki. Di Kota Pontianak sendiri sudah banyak memiliki pedestrian di setiap kawasan. Pedestrian tersebut ditujukan untuk memfasilitasi para pejalan dalam melakukan aktifitas sehari-hari. Di antara banyaknya pedestrian yang ada di Kota Pontianak, pedestrian yang akan di bahas adalah pedestrian di Jalan Ahmad Yani dan di jalan HOS Cokroaminoto. Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi kondisi desain pedestrian di Jalan Ahmad Yani dan di Jalan HOS Cokroaminoto. Penelitian ini menggunakan metode penelitian survey lapangan, analisis data teknis, dan penilaian dampak lingkungan dan fisik terhadap pedestrian di Jalan Ahmad Yani dan Jalan HOS Cokroaminoto. Hasil penelitian menujukkan bahwa kedua pedestrian tersebut layak untuk digunakan. Dari desainnya sudah cukup baik, baik itu dari pola lantainya dan juga unsur estetikanya sudah termuat pada pedestrian. Selanjutnya terdapat juga hasil kuisioner masyarakat sekitar terhadap pedestrian dan rata-rata menunjukkan hasil yang cukup baik
Co-Authors Alkadrie, Syarifah Audiyah Aminullah, Gustijan Apriani, Veronica Windhi Aqshal, Muhammad Harits Arghifa Fitri Sulistya Farhandi Ari Jufriansyah Arianti, Iin Ayuningtyas, Riska A. Chairunnisa Chairunnisa Chairunnisa, Yuni Defiantari, Nyemas Aulia Della Meitri Astari Della Meitri Astari Devianti, Nur Elvita Safitri Enif Ega Wilaga Erni Yuniarti Erni Yuniarti Fadilla, Daffa Fajriati Lestari Fikar Khadafi, Muhammad Fikri Fahrurrozi Gandini, Aulia Intan Gilang Anugrah Gionita, Putri Fara Gusti Zulkifli Mulki Gusti Zulkifli Mulki Hartanto, Sherene Mutiara Salsabila Herawati, Henny Hermawan Hermawan Hernovianty, Firsta Rekayasa Hidayat, Bagus Hidhayah Nur Damayanti Imam Buchori libriani, anggi victonia Maulidya, Rauufi Meli Ardiana Meta Indah Fitriani Michelle, Michelle Mira Sophia Lubis Mira Sophia Lubis Mochammad Meddy Danial Muhammad Faqih Dzulqarnain Muhammad Syahid Kahfi Hira Muhlis Mulyadi Mussadun Mussadun Mussadun Mussadun Nana Novita Pratiwi Natalia Ursula Natalia Ursula Nelly Roulitua Aritonang Novi Safriadi Nurfaiza, Nadya Panjaitan, Monika Stella Leonita Perkasa, Edgard Giland Pramestianti, Indriade Cahyani Pratama, Muhamad Abizard Mauludin Soerya Pratiwi, Nana Novita Pratiwi, Nana Novita Prihatiningsih, Angrila Putri, Gabriella Sintia Amesti Putri, Tasya Annisa Raden Mohamad Herdian Bhakti Rendy Hidayat Rizqi Puteri Riyandini Salsabilla Cansa Maulika Saris, Syarif Ferdian Dwi Sibyan, Hidayatus Sophia Lubis, Mira Syarif Ferdian Dwi Saris Syarif Muhamad Rizal Trida Ridho Fariz Utama, Nugraha Pandia Vetti Puryanti Wahyudi, Ganjar Ilham Widyanti, Arinda Dinnia Wilaga, Enif Ega Wulandari, Agustiah Yudistiro Prayoga Yudistiro Prayoga