Articles
ANALISIS PENGARUH STRATEGI SCAFFOLDING KONSEPTUAL DALAM MODEL PEMBELAJARAN TERHADAP HASIL BELAJAR FISIKA SISWA
Muhammad Amiruddin;
Srihandono Budi Prastowo;
Trapsilo Prihandono
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 1 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Strategi scaffolding merupakan praktik yang didasarkan pada konsep Vigotsky mengenai zona ofproximal development (zona perkembangan terdekat). Penerapan strategi scaffolding dalampembelajaran berarti guru memberikan sejumlah bantuan kepada siswa yang sedang dalam kesulitandan kemudian menghilangkan bantuan tersebut, segera setelah siswa dirasa mampu menyelsaikannyasendiri. Dalam praktik pelaksanaan strategi scaffolding, guru bisa memadukannya dengan modelmodel pembelajaran sehingga tujuan pembelajaran dapat tercapai secara efektif dan efisien. Penelitianini merupakan studi literatur, yaitu dengan merangkum dan mereview beberapa penelitian yangpernah dilakukan dengan tujuan untuk mendekripsikan serta menginterpretasikan informasi yangrelevan terkait penerapan strategi scaffolding konseptual dalam model pembelajaran terhadap hasilbelajar siswa. Dari pencarian litertur, didapatkan 3 buah penelitian terkait penerapan strategiscaffolding konseptual yang dipadukan dalam 3 model pembelajaran yang berbeda. Penelitianpertama menggunakan model pembelajaran Group Investigation (GI), penelitian kedua menggunakanmodel pembelajaran Think-Pair-Share (TPS), dan penelitian ketiga menggunakan modelpembelajaran Student Teams-Achievement Devinisions (STAD). Berdasarkan hasil analisis literaturtersebut dapat disimpulkan bahwa penerapan strategi scaffolding konseptual dalam modelpembelajaran memberi pengaruh yang signifikan terhadap hasil belajar fisika siswa.Kata Kunci: ZPD, Strategi Scaffolding Konseptual, Model Pembelajaran, Hasil Belajar
IDENTIFIKASI MISKONSEPSI ELASTISITAS PADA SISWA KELAS XI DI SMAN 4 JEMBER
Silmi Lailatun Nisa;
Sri Handono Budi Praswoto;
Eny Setyowati
FKIP e-PROCEEDING Vol 4 No 1 (2019): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengidentifikasi miskonsepsi yang dialami oleh siswa kelas XI di SMA Negeri 4 Jember khusunya pada materi Elastisitas. Penelitian ini dilakukan pada siswa kelas XI MIPA 1 yang berjumlahkan 35 orang. Penelitian dilakukan pada semester ganjil tahun ajaran 2019/2020. Data penelitian diperoleh dari pemberian soal tes pemahaman konsep Elastisitas yang berupa soal essay sebanyak 6 soal yang dilengkapi dengan CRI (Certainty of Response Index). Penggunaan CRI dalam penelitian adalah CRI dengan index 0-5 (skala enam). Perolehan data penelitian dapat diketahui bahwa sebanyak 26 % siswa mengalami miskonsepsi, sebanyak 18 % siswa mengalami tidak pahamnya konsep Elastisitas dan sebanyak 56 % siswa telah memahami konsep Elastisitas. Berdasarkan data, miskonsepsi yang dialami oleh yaitu: (a) membedakan benda elastis dan plastis, (b) menentukan modulus Young, (c) menentukan beban yang menggantung di susunan pegas campuran, (d) menentukan energy potensial pegas, dan (e) menyusun sendiri susunan pegas secara campuran. Berdasarkan penelitian ini, diharapkan dapat memberikan informasi tentang miskonsepsi yang dialami oleh siswa pada pokok bahasan Elastisitas serta dapat dijadikan sebagai pedoman untuk melanjutkan penelitian ini.Kata Kunci : miskonsepsi, elastisitas, CRI (Certainty of Response Index)
ANALISIS PENGUASAAN KONSEP MEDAN MAGNET DI SEKITAR KAWAT BERARUS PADA SISWA KELAS XII SMA DI KABUPATEN JEMBER
Nur Sofi Hidayah;
Sudarti .;
Sri Handono Budi Prastowo
FKIP e-PROCEEDING Vol 2 No 1 (2017): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Penguasaan konsep diperlukan pada setiap materi sebelum mengarah pada materi selanjutnya, maka diperlukan konsep-konsep pembelajaran yang tersusun secara sistematis. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan penguasaan konsep medan magnet di sekitar kawat berarus; dan mendeskripsikan minat belajar siswa terhadap penguasaan konsep medan magnet di sekitar kawat berarus. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan tempat penelitian ditentukan menggunakan purporsive sampling area yang diambil satu kelas pada kelas XII SMA semester ganjil pada tahun ajaran 2017/2018. Pengumpulan data dilakukan dengan metode tes, dan metode angket. Berdasarkan analisis data diperoleh kesimpulan bahwa: (1) penguasaan konsep berdasarkan materi medan magnet di sekitar kawat berarus 56,67% siswa yang dapat menguasai konsep fisika medan magnet di sekitar kawat berarus, 43,33% siswa kurang menguasai konsep fisika medan magnet di sekitar kawat berarus, dan tidak ditemukan siswa yang tidak menguasai konsep fisika medan magnet di sekitar kawat berarus;Â penguasaan konsep berdasarkan indikator penguasaan konsep mengingat (C1), memahami (C2),mengaplikasikan (C3), dan menaganalisis (C4) lebih unggul daripada indikator penguasaan konsep mengevaluasi (C5), dan membuat (C6) yang dapat dikatakan masih dalam kategori rendah atau siswa tidak menguasai konsep pada indikator tersebut ; (2) minat belajar siswa mempengaruhi penguasaan konsep medan magnet di sekitar kawat berarus.
KETIDAKPASTIAN MOMENTUM ATOM DEUTERIUM MENGGUNAKAN PENDEKATAN KETIDAKPASTIAN HEISENBERG PADA BILANGAN KUANTUM n ≤ 3
Bagus Hadi Saputra;
Bambang Supriadi;
Sri Handono Budi Prastowo
FKIP e-PROCEEDING Vol 4 No 1 (2019): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Deuterium merupakan salah satu isotop atom hidrogen yang memiliki sifat kuantum mirip denganatom hidrogen dengan susunan sederhana, sehingga dalam penyelesaiannya dapat diselesaikan denganpersamaan Schrodinger dalam koordinat bola. Kedudukan elektron dalam atom tidak dapat ditentukandengan pasti, yang dapat ditentukan adalah probabilitas menemukan elektron sebagai fungsi jarak dariinti atom. Probabilitas menemukan elektron didalam atom dapat diketahui berdasarkan fungsigelombang radialnya. Penelitian ini bertujuan menentukan ketidakpastian momentum denganpendekatan ketidakpastian Heisenberg atom deuterium pada bilangan kuantum (n ≤ 3). Jenispenelitian ini adalah penelitian non eksperimen berupa pengembangan teori yang sudah ada. Hasilpenelitian berupa (1) simulasi distribusi probabilitas radial yang memberikan informasi keberadaanelektron dalam atom deuterium, serta menunjukkan bahwa semakin jauh keberadaan elektron dari inti,maka semakin kecil peluang ditemukannya elektron dalam atom deuterium (2) data distribusiketidakpastian momentum bergantung pada bilangan kuantum utama (n) dan bilangan kuantumazimuth, serta jarak elektron dari inti atom. Semakin meningkat jarak elektron dari inti atompada bilangan kuantum utama dan azimuth yang sama, maka akan menghasilkan kenaikan simultandalam ketidakpastian posisi radial serta menghasilkan penurunan simultan dalam ketidakpastianmomentum radial, sehingga semakin kecil ketidakpastian (semakin besar kepastian) dalam mengukurposisi yang tepat, semakin tidak akurat momentum partikelnya.Kata kunci: Pendekatan Ketidakpastian Heisenberg, Ketidakpastian Momentun Atom Deuterium,Bilangan Kuantum n ≤ 3.
PEMBELAJARAN FISIKA MENGGUNAKAN LKPD BERBASIS DISCOVERY LEARNING DISERTAI DIAGRAM V UNTUK MEMBELAJARKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF
Laily Ramadhanty;
Sri Handono Budi Prastowo;
Yushardi Yushardi
FKIP e-PROCEEDING Vol 4 No 1 (2019): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Berpikir kreatif (creative thinking) merupakan proses berpikir seseorang yang berorientasi untuk memunculkan suatu gagasan atau ide baru yang termasuk ke dalam kemampuan berpikir tingkat tinggi atau HOTS (Higher Order Thinking Skills). Kemampuan berpikir kreatif merupakan kemampuan berpikir yang berbeda, responsif (peka terhadap permasalahan), dan memberikan solusi yang tidak biasa dengan cara yang berbeda dalam menyelesaikan suatu permasalahan. Ketercapaian tujuan pembelajaran yang sesuai merupakan salah satu indikator membelajarkan kemampuan berpikir kreatif. Indikator kemampuan berpikir kreatif meliputi fluency thinking (berpikir lancar), originality thinking (berpikir kebaruan), elaborate ability (keterampilan mengelaborasi), dan flexibility thinking (berpikir luwes). Namun, realita yang terjadi di sekolah menunjukkan bahwa pelaksanaan pembelajaran kurang menekankan pada kemampuan berpikir kreatif. Salah satu upaya untuk membelajarkan kemampuan berpikir kreatif dengan menggunakan model pembelajaran discovery learning. Peneliti memberikan solusi dengan menyusun LKPD berbasis discovery learning berbantuan diagram V. Diagram V yakni suatu alat bantu yang membantu peserta didik untuk mengkonstruksi pemahaman terkait pengetahuan yang dimiliki. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan peneliti menggunakan metode deskriptif yang dilakukan di kelas XI MIPA SMA terkait tahapan-tahapan penyusunan LKPD dan diagram V dalam upaya membelajarkan kemampuan berpikir kreatif, kesimpulan yang diperoleh yakni LKPD berbasis discovery learning berbantuan diagram V dapat membelajarkan kemampuan berpikir kreatif dalam pembelajaran fisika.Kata Kunci: diagram V, kemampuan berpikir kreatif, LKPD Discovery Learning, pembelajaran
PENGARUH KEMAMPUAN ENERGI PANAS BAHAN CAMPURAN AMPAS TEBU DAN SERBUK KAYU SENGON TERHADAP KAPASITANSI BAHAN
Klyana Ainun Prastika;
Sri Handono Budi Prastowo;
Alex Harijanto
FKIP e-PROCEEDING Vol 4 No 1 (2019): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pemanfaatan ampas tebu dan serbuk kayu sengon yang dihasilkan oleh pabrik masih belum optimal. Kedua bahan tersebut akan dicampur dengan prosentase yang berbeda menjadi briket arang. Prosentase ampas tebu dan serbuk kayu sengon yang digunakan pada penelitian ini adalah 75%:25%, 50%:50%, dan 25%:75%. Kemampuan energi panas dari briket arang berpengaruh pada nilai kapasitansi bahan. Tujuan dan manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah bahan campuran ampas tebu dan serbuk kayu sengon dapat dijadikan sebagai bahan bakar alternatif. Selain itu, bertujuan untuk mengetahui kemampuan energi panas dengan menggunakan nilai kapasitansi bahan. Pada penelitian ini akan menggunakan dua metode yaitu metode pendidihan air dan metode kapasitansi. Metode pendidihan air digunakan untuk mengetahui kemampuan energi panas bahan campuran ampas tebu dan serbuk kayu sengon dalam bentuk briket arang. Metode kapasitansi dilakukan dengan mengubah bahan campuran menjadi briket arang lalu di jadikan sebagai kapasitor untuk mencari nilai kapasitansi. Hasil dari penelitian ini adalah besar energi panas briket berbanding terbalik dengan nilai kapasitansi. Semakin besar nilai energi panas suatu briket maka nilai kapasitansi semakin kecil dan juga sebaliknya. Bahan campuran yang memiliki prosentase ampas tebu lebih besar dari pada serbuk kayu sengon nilai energi panasnya kecil sedangkan untuk nilai kapasitansinya besar.Kata Kunci : Bahan Campuran, Energi Panas, Kapasitansi Bahan
STUDI LITERATUR PENGEMBANGAN MODUL PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS PERMAINAN EDUKATIF TEKA-TEKI SILANG (TTS) DI SMA
Debi Devianti;
Sudarti .;
Sri Handono Budi Prastowo
FKIP e-PROCEEDING Vol 2 No 1 (2017): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Pembelajaran adalah suatu proses interaksi antara guru dengan siswa, baik interaksi secara langsung seperti kegiatan tatap muka maupun secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan berbagai media pembelajaran. Salah satu media pembelajaran yaitu Modul yang dapat digunakan sebagai inovasi dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Modul merupakan sebuah bahan ajar yang disusun secara sistematis dengan bahasa yang mudah dipahami oleh siswa sesuai tingkat pengatahuan dan usia siswa. Permainan edukatif merupakan permainan yang khusus dirancang untuk mengajarkan pemain suatu pembelajaran tertentu, pengembangan konsep dan pemahaman dan membimbing mereka dalam melatih kemampuan mereka, serta memotivasi mereka untuk memainkannya. Permaian edukatif yang ada pada modul yaitu teka-teki silang yang sudah banyak diketahui oleh siswa. Pengembangan modul pembelajaran fisika menggunakan desain Borg and Gall yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kevalidan, efektivitas dan kepraktisan modul. Validitas modul pembelajaran fisika berbasis permainan edukatif teka-teki silang (TTS) memperoleh persentasi 84% rata-rata dengan kriteria sangat valid. Efektivitas modul dapat lihat dari perhitungan skor pretest dan postest yang memperoleh nilai rata- rata 86% dan untuk kepraktisan dapat diperoleh dari respon siswa dalam menggunakan bahan ajar dengan memperoleh persentasi rata-rata 2,85. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa studi literatur pengembangan modul pembelajaran fisika berbasis permainan edukatif teka-teki silang (TTS) di SMA dapat digunakan sebagai alternatif dalam pembelajaran.
ANALISIS EFEK TEROBOSAN EMPAT PERINTANG PADA GRAPHENE
Muhammad Khoirul Huda;
Sri Handono Budi Prastowo;
Zainur Rasyid Ridlo
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 2 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Artikel ini menjelaskan tentang fenomena efek terobosan empat perintang yang merupakan pengembangan dari penelitian sebelumnya yaitu tiga perintang dengan material semikonduktor yang sama yaitu graphene. Graphena merupakan material semikonduktor dengan jarak lebar celah 0,246 nm dan memiliki beda potensial sebesar 3 eV. Analisis efek tunneling menggunakan persamaan schrodinger tidak bergantung pada waktu dengan pendekatan propagasi matriks. Hasil yang ditunjukkan mendapatkan koefisien transmisi terbesar adalah 1,00 dari energy electron 0,7500 eV, artinya peluang electron dalam menerobos penghalang sampai 100%. Namun, setelah mencapai titik koefisien terbesar pada tiga penghalang electron mulai mengalami penurunan koefisien transmisi meskipun energinya semakin tinggi. Tetapi pada empat penghalang terjadi peningkatan koefisien kembali ke koefisien transmisi terbesar yaitu pada energy 1,3890 eV dan kemudian mengalami penurunan kembali. Hal ini membuktikan bahwa setiap material semikonduktor terjadi resonansi terobosan dimana koefisien transmisi yang dihasilkan mencapai nilai maksimum. Sifat-sifat graphene yang sangat istimewa ini dapat membuat suatu peluang baru dalam pemanfaatan untuk menghasilkan suatu produk bidang elektronika yang lebih baik seperti superkapsitor, transistor dan IC.
ANALSIS PEMAHAMAN KONSEP MEKANISME EFEK RUMAH KACA PADA SISWA KELAS XII SMA/MA DI KABUPATEN JEMBER
Sudarti .;
Tri Ratih Purwatiningsih;
Sri Handono Budi Prastowo
FKIP e-PROCEEDING Vol 2 No 1 (2017): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Fisika merupakan salah satu pembelajaran sains yang sanagat erat kaitannya dengan kehidupan sehari;hari. Fisika mempelajari tentang alam dan gejalanya mulai dari yang bersifat riil hingga bersifat abstrak. Setiap pokok pembelajaran fisika memiliki tingkat kesulitan yang berbeda-beda, maka tentulah tingkat pemahaman konsep siswa terhadap setiap pokok bahasan tersebut juga berbeda-beda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pemahaman konsep mekanisme efek rumah kaca pada siswa SMA/MA Negeri di Kabupaten Jember. Penelitian ini adalah jenis penelitian deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII sekolah menengah atas yang ada di Kabupaten Jember. Identifikasi dilakukan dengan menggunakan tes berupa uraian/essay sebanyak 5 soal, Selanjutnya dianalisis berdasarkan materi dan indikator pemahaman konsep menurut Taksonomi SOLO. Terdapat 5 tingkatan pemahaman konsep menurut taksonomi SOLO, yaitu prastruktural, unistruktural, multistruktural, relasional, dan extended abstract. Pemahaman konsep siswa berdasarkan materi yang tertinggi adalah pada sub pokok bahasan dampak efek rumah kaca dan terendah pada sub pokok bahasan mekanisme efek rumah kaca. Pemahaman konsep siswa yang tertinggi yaitu pada tingkat unistruktural dan terendah pada tingkat extended abstract. Sehingga dapat disimpulkan bahwa pemahaman konsep siswa masih tergolong rendah.
KEMAMPUAN MENYELESAIKAN ILL STRUCTURED PROBLEM SISWA SMA PADA PEMBELAJARAN FISIKA MATERI HUKUM NEWTON
Marlina Puji Rahayu;
Supeno Supeno;
Sri Handono Budi Prastowo
FKIP e-PROCEEDING Vol 3 No 1 (2018): Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Fisika
Publisher : Pendidikan Fisika FKIP UNEJ
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
Salah satu upaya untuk meningkatkan mutu pembelajaran fisika adalah mengintensifkan pengembangankemampuan siswa dalam menyelesaikan masalah. Kemampuan menyelesaikan masalah adalah aktivitaskognitif kompleks dalam rangka menggunakan proses berpikirnya untuk memecahkan masalah. Denganmengetahui kemampuan menyelesaikan masalah maka peserta didik bisa intropeksi diri dan memilikimotivasi untuk berubah menjadi lebih baik. Bagi guru, dengan mengetahui kemampuan menyelesaikanmasalah dapat dijadikan referensi untuk mengetahui strategi, model, metode, pendekatan, teknik, danevaluasi yang cocok untuk meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah sehingga perlu adanyaidentifikasi kemampuan menyelesaikan masalah. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitiandeskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas X IPA SMA. Metode pengumpulan data dalam penelitianini adalah tes dan wawancara. Instrument tes yang digunakan adalah tes berbentuk soal ill structured.Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan siswa dalam menyelesaikan ill structured problem padaindikator mengenali masalah hanya 22.56% mampu mengenali masalah dengan baik, pada indikatorrenencanakan startegi hanya 29.88% pada kategori sangat baik, pada indikator menerapkan strategi hanya6.1% siswa pada kategori sangat baik dan lebih dari 75% siswa pada kategori cukup, kurang bahkansangat kurang, serta pada indikator evaluasi hanya 31% siswa yang mampu melakukan evaluasi dengansangat baik.Kata kunci: Fisika, hukum Newton, kemampuan problem solving