Claim Missing Document
Check
Articles

Variabilitas genetik, heritabilitas dan kemajuan genetik beberapa karakter kuantitatif galur F3 kedelai hasil persilangan Anna Satyana Karyawati; Gita Novita Sari; Budi Waluyo
Jurnal Agro Vol 6, No 2 (2019)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/5174

Abstract

Parameter genetik seperti keragaman genetik, heritabilitas dan kemajuan genetik diperlukan untuk merakit kultivar unggul. Untuk itu dialukan evaluasi keragaman genetik, heritabilitas dan kemajuan genetik populasi galur F3 kedelai dari 16 kombinasi persilangan dengan 6 tetua pada beberapa karakter kuantitatif diantaranya yaitu tinggi tanaman, jumlah cabang, jumlah polong isi, jumlah buku subur dan berat biji per tanaman. Penelitian untuk menyiapkan materi genetik dilakukan di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Jatikerto, Malang pada tahun 2013-2016. Percobaan menggunakan Rancangan Acak Kelompk (RAK) dengan tiga ulangan. Populasi setiap galur F3 dan tetua pada setiap petak masing-masing 120 tanaman untuk setiap ulangan. Dari hasil keragaman genetik yang diamati, karakter tinggi tanaman, jumlah polong isi, jumlah buku subur dan berat biji per tanaman memiliki nilai keragaman genetik yang luas, sedangkan jumlah cabang memiliki keragaman genetik yang sempit. Nilai heritabilitas karakter pada kombinasi persilangan memiliki nilai sedang hingga tinggi yang berkisar antara 0,25-0,75. Pada karakter tinggi tanaman dari hasil persilangan galur (Anjasmoro x Tanggamus), (Anjasmoro x Grobogan), (Anjasmoro x UB2), (Argopuro x Grobogan), (Grobogan x Anjasmoro), (Grobogan x UB2), (UB2 x UB1), (UB1 x Argopuro) dan (UB1 x UB2) memiliki nilai heritabilitas sedang yaitu 0,46; 0,39; 0,37; 0,46; 0,46; 0,47; 0,46; 0,25; dan 0,47. Pada nilai kemajuan genetik dari 16 galur hasil persilangan, galur (UB2 x Tanggamus) memiliki nilai rata-rata kemajuan genetik paling tinggi yaitu 64,35%, sedangkan galur (UB1 x Argopuro) memiliki nilai rata-rata kemajuan genetik paling rendah yaitu 25,84%.ABSTRACT The F3 soybean progenies derived from 16 cross combinations with six parents were evaluated for their genetic variability, heritability and genetic advances of quantitative traits i.e. plant height, number of branches, number of pods, number of active nodes and seeds weight per plant. The genetic material preparation was conducted at Research Station of Agriculture Faculty, Brawijaya University, Jatikerto, Malang from 2013 to 2016. The experiment was arranged in a randomized block design with three replications. Plant population of each F3 progenies and their parents were 120 plants at each replication. Among the quantitative characters observed, the variability of plant height, number of active nodes, number of pods and seeds weight per plant was wide, and number of branches was narrow. Heritability value in each cross combination had moderate to high value estimates ranged from 0.25 to 0.75. The character of plant height from crossing lines of (Anjasmoro x Tanggamus), (Anjasmoro x Grobogan), (Anjasmoro x UB2), (Argopuro x Grobogan), (Grobogan x Anjasmoro), (Grobogan x UB2), (UB2 x UB1), (UB1 x Argopuro) and (UB1 x UB2) had moderate heritability, i.e. 0.46; 0.39; 0.37; 0.46; 0.46; 0.47; 0.46; 0.25; and 0.47, respectively. The genetic advance from 16 cross combinations, the line of (UB2 x Tanggamus) had the highest mean of genetic advance for 64.35%. The line of (UB1 x Argopuro) had the lowest mean of genetic advance for 25.84%.
Studi Potensi Alelopati Ekstrak Rimpang Temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) pada Rumput Teki (Cyperus rotundus) dan Perkecambahan Kedelai (Glycine max) Ellis Nihayati; Anna Satyana Karyawati; Latifah Diah Puspasari; Nur Azizah
Jurnal Agro Vol 3, No 2 (2016)
Publisher : Jurusan Agroteknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15575/891

Abstract

Ekstrak rimpang temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) memiliki sifat alelopati yang berasal dari senyawa metabolit sekunder. Senyawa metabolit tersebut menghambat pertumbuhan tanaman sehingga dapat dimanfaatkan sebagai bioherbisida. Rumput teki ialah gulma yang sering tumbuh pada lahan budidaya tanaman kedelai, sehingga perlu dikendalikan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari potensi ekstrak rimpang temulawak pada rumput teki dan mendapatkan konsentrasi ekstrak rimpang temulawak yang dapat menekan pertumbuhan rumput teki tetapi tidak menghambat perkecambahan kedelai. Penelitian dilaksanakan pada bulan Maret hingga April 2015 yang terbagi dalam tiga tahap penelitian. Penelitian pertama dilaksanakan di Laboratorium Sumberdaya Lingkungan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Penelitian kedua dan ketiga bertempat di Rumah Kaca Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, masing - masing menggunakan Rancangan Acak Lengkap dan Rancangan Acak Kelompok. Penelitian ini terdiri atas 6 perlakuan yaitu P0 (kontrol), P1 (konsentrasi 20%), P2 (konsentrasi 40%), P3 (konsentrasi 60%), P4 (konsentrasi 80%), P5 (konsentrasi 100%) dan 4 kali ulangan. Hasil penelitian menunjukan bahwa konsentrasi 20% ekstrak rimpang temulawak mampu menekan pertumbuhan tunas rumput teki. Peningkatan konsentrasi ekstrak rimpang temulawak hingga 60% mengakibatkan pertumbuhan tanaman rumput teki tertekan. Pengaruh ekstrak rimpang temulawak pada penghambatan perkecambahan terlihat pada perlakuan konsentrasi 60%. Rhizome extract of temulawak (Curcuma xanthorriza Roxb.) has residue properties derived from secondary metabolites. The metabolites inhibit the growth of plants, and it can be used as bioherbicide. Cyperus rotundus is a common weed that grows in soybean cultivation and it needs to be controlled. This research aimed to study the potential of temulawak rhizome extract on Cyperus rotundus and get temulawak rhizome extract concentration that can suppress the growth of Cyperus rotundus without inhibiting the germination of soybeans. The experiment was conducted on March to April 2015 and divided into three experiments. The first experiment was conducted in the Laboratory of Environmental Resource using completely randomized design. The second experiment and third experiments placed in Greenhouse UB Faculty of Agriculture, each using completely randomized block design and randomized block design. This study consisted of six treatments that were P0 (control), P1 (20% concentration), P2 (40% concentration), P3 (60% concentration), P4 (80% concentration), P5 (100% concentration) and four replications. The results showed that 20% concentration of temulawak rhizome extract can suppress Cyperus rotundus. Increasing concentration of temulawak rhizome extract up to 60% suppress growth of Cyperus rotundus. Temulawak rhizome extract significantly inhibited germination of soybeans at concentration of 60%.
Pengaruh Naungan dan Pupuk Urea Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Iler (Plectranthus scutellwarioides (L.) R.Br.) Windy Diyah Mawardy; Anna Satyana Karyawati
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 6, No 1 (2021)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2020.006.1.7

Abstract

Tanaman Iler merupakan salah satu tanaman obat yang terdapat di Indonesia. Iler memiliki berbagai macam khasiat karena mengandung senyawa antioksidan. Iler termasuk kedalam keluarga Lamiaceae, dimana dibagi menjadi dua yaitu sun lover dan toleran terhadap naungan. Sehingga untuk mengetahui respon pertumbuhan dan hasil dibutuhkan rekayasa naungan berupa paranet. Perbedaan kerapatan naungan dapat mempengaruhi pertumbuhan, serta pada intensitas tertentu dapat menimbulkan cekaman dan mempengaruhi mempengaruhi pembentukan metabolit sekunder. Pupuk urea mengandung unsur nitrogen yang penting bagi tanaman sebagai penyusun asam amino, protein dan komponen lainnya. Penelitian bertujuan untuk mempelajari pengaruh naungan dan pupuk urea pada pertumbuhan dan hasil tanaman iler. Penelitian ini dilaksanakan di Kecamatan Glenmore Kabupaten Banyuwangi pada bulan Februari – Mei 2020. Penelitian menggunakan rancangan petak terbagi. Petak utama adalah kerapatan naungan terdiri dari naungan 0% (N0), naungan 25% (N1), naungan 50% (N2). Anak petak adalah dosis pupuk urea yang terdiri dari 0 kg ha-1 (P0), 45 kg ha-1  (P1), 90 kg ha-1 (P2) dan 135 kg ha-1 (P3). Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat naungan maka akan menurunkan jumlah daun, luas daun, jumlah cabang dan waktu panen semakin lama, namun akan meningkatkan tinggi tanaman dan jumlah ruas batang tanaman. Dosis pupuk urea yang semakin tinggi dapat meningkatkan tinggi tanaman, jumlah daun, luas daun, jumlah cabang, jumlah ruas batang dan berat kering tanaman. Pemberian naungan 25% dan dosis pupuk urea 135 kg ha-1 mampu meningkatkan berat kering tanaman iler yang dapat digunakan sebagai simplisia tanaman obat dan memberikan respon warna daun yang lebih gelap sebagai indikator kandungan antosiani tanaman.
Respon 6 Varietas Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) terhadap Perbedaan Interval Penyiraman Hana Nabilah; Anna Satyana Karyawati; Titiek Islami
PLANTROPICA: Journal of Agricultural Science Vol 7, No 2 (2022)
Publisher : Department of Agronomy, Faculty of Agriculture, Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.jpt.2022.007.2.7

Abstract

Kedelai (Glycine max (L.) Merr.) merupakan tanaman pangan yang penting setelah padi dan jagung. Kandungan protein nabati, karbohidrat, dan lemak menjadikan kedelai banyak diminati oleh masyarakat baik berupa polong maupun hasil olahannya. Salah satu faktor yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan tanaman kedelai adalah ketersediaan air dalam tanah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respon 6 varietas kedelai terhadap interval penyiraman yang berbeda. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus hingga Desember 2021 di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Jatimulyo, Malang. Sebanyak 6 varietas dievaluasi menggunakan rancangan petak terbagi dan diulang sebanyak 3 kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat interkasi antara interval dan varietas terhadap parameter penelitian. Faktor utama perbedaan pertumbuhan dan hasil disebabkan oleh karakteristik sifak genetik yang berbeda pada masing-masing varietas.
The Effect of Paclobutrazol Concentrations in Different Shade Levels on Coleus Plant Leaves Color Maretha Widhya Aulyaa Gusmawan; Sitawati Sitawati; Anna Satyana Karyawati
Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Vol 11, No 4 (2022): Desember 2022
Publisher : The University of Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23960/jtep-l.v11i4.647-657

Abstract

Coleus scutellarioides is a leaf ornamental plant that is widely used as an ornamental plant in tourist attractions because it has an interesting leaf color. The purpose of study was to obtain right concentration of paclobutrazol for the brightness of the color of the leaves of the coleus plant in shaded conditions. The method used is a Split Plot Design with two factors, light intensity as the whole plot and paclobutrazol concentration as a split plot. The whole Plot consists of 3 levels, namely I100 (100% sunlight intensity), I75 (75% sunlight intensity) and I50 (50% sunlight intensity) while the split plot consisted of P0 (Without Paclobutrazol), P40 (Paclobutrazol 40 ppm), P80 (paclobutrazol 80 ppm) and P120 (paclobutrazol 120 ppm.  The results showed there were interactions from the treatment of paclobutrazol concentrations at various light intensities. The application of paclobutrazol 0 ppm at a light intensity of 75% and 50% gave the same chlorophyll content results as the 100% light intensity treatment and 0 ppm paclobutrazol concentration.The conclusions in addition of paclobutrazol 40-80 ppm at a decrease in light intensity of 75% and 50% gives the result of anthocyanin content and leaf color equal to 100% intensity and paclobutrazol 0 ppm.keyword: Coleus, Shades, Color, Paclobutrazol, Konsentrastion 
Manipulation of calcareous soil pH for temulawak (Curcuma xanthorrizha Roxb.) cultivation Mochammad Roviq; Anna Satyana Karyawati; Puri Kholifatush Sholihah; Ellis Nihayati
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2023.111.4999

Abstract

Temulawak or Javanese turmeric (Curcuma xanthorrizha Roxb.) has great adaptability and is tolerant of low light intensity; therefore, it may be planted on calcareous soil under teak stands. However, temulawak may thrive in soils with a pH of 5.0-6.5 and plenty of organic matter. Calcareous or alkaline soils have problems with high pH and low organic matter. These conditions can be improved with soil amendments. Manure and other soil amendments can remedy soil structure, chemistry, and organisms. Sulfur is generally used to lower soil pH. Sulfur is a structural component of several coenzymes, chloroplasts, and vitamins essential for plant metabolism. This study aimed to elucidate the effect of manure and sulfur fertilizer on temulawak yield and quality grown on calcareous soil beneath teak stands. This study used a completely randomized block design with two factors: manure doses of 10, 15, and 20 t ha-1 and ZA doses of 0, 40, 80, and 120 kg ha-1. According to the findings, the soil pH to increase the rhizome’s fresh weight per clump is between 5.72 and 6.00. In terms of curcuminoid content and antioxidant activity, the soil pH required by temulawak ranges from 5.94 to 6.61.
Penerapan GA3 Bervariasi Konsentrasi terhadap Kedelai untuk Mencegah Kerontokan Bunga Anna Satyana Karyawati; Ikra Kurnia Cahya
Gunung Djati Conference Series Vol. 33 (2023): Seminar Nasional Pertanian 2023
Publisher : UIN Sunan Gunung Djati Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kedelai menjadi komoditas pangan yang menjadi sumber protein bagi masyarakat Indonesia, sehingga kebutuhan kedelai akan selalu meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk. Pemenuhan kebutuhan kedelai masih belum dapat tercukupi karena produktivitasnya yang rendah. Rendahnya produktivitas salah satunya disebabkan kerontokan bunga. Pemberian giberelin dapat mengurangi keguguran bunga sehingga meningkatkan persentase bunga menjadi polong. Penelitian dilaksanakan pada Agustus 2022-Januari 2023 di Instalasi Penelitian dan Pengkajian Teknologi Pertanian, Muneng, Probolinggo. Penelitian disusun secara faktorial dengan menggunakan rancangan acak kelompok. Perlakuan terdiri dari 2 faktor, yaitu konsentrasi giberelin GA3 sebagai factor pertama dan varietas sebagai faktor kedua. Variabel yang diamati meliputi tinggi tanaman, jumlah daun, waktu muncul bunga, jumlah cabang produktif, jumlah buku subur, jumlah bunga, fruitset jumlah polong isi, jumlah polong hampa, bobot polong per tanaman, jumlah biji per tanaman, bobot 100 biji dan bobot biji. Interaksi antara varietas dan pemberian giberelin GA3 terjadi pada variabel tinggi tanaman, buku subur, jumlah bunga dan jumlah polong hampa. Pemberian GA3 menghasilkan tinggi tanaman yang lebih tinggi pada Varietas Panderman dan juga meningkatkan jumlah polong hampa.
Competition Assessment on Various Intercropping Patterns of Bitter Melon (Momordica charantia L) and Tomato (Solanum lycopersicum L): Competition Assessment on Various Intercropping Patterns of Bitter Melon and Tomato Blessya, Christabel Putik; Karyawati, Anna Satyana
Journal of Tropical Life Science Vol. 13 No. 3 (2023)
Publisher : Journal of Tropical Life Science

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11594/jtls.13.03.18

Abstract

Intercropping is the practice of growing two or more crops in close proximity. Intercropping is useful for obtaining land efficiency, nutrient efficiency, and increasing biodiversity, which is in line with controlling plant-disturbing organisms. Intercropping can also be done in the rice fields, and it is hoped that the optimization of the use of the rice fields will have a good impact on rice and other crops. The adverse effect that is feared to arise due to the intercropping method is the contamination of substances through horizontal transfer of substances between plants. This study was conducted to determine the effect of competition on bitter melon and tomato intercropping. The study started from January to May 2022 in Sukorejo Village, Gondanglegi District, Malang Regency. The research stages include planting and maintaining commodities, observing growth, and organoleptic testing. The study used a Randomized Block Design (RBD) which was arranged in a non-factorial. The total treatment was 5 treatments which were repeated 4 times. The results of the research on the competitiveness of tomatoes were superior to bitter melon in a 2-line and 3-row intercropping system. From an economic point of view, intercropping in a 1:1 or 1:2 ratio is feasible because it has an R/C Ratio of more than 1. Bitter melon and tomatoes grown in polyculture with a 3-row alternate cropping pattern in a 1:2 ratio of tomatoes and bitter melon are feasible because has an R/C Ratio of 3.57 and has a more stable price for bitter melon.
Effect of plant growth-promoting rhizobacteria (PGPR) on growth and yield of shallots on saline soils Rahmandhias, Deris Trian; Karyawati, Anna Satyana; Hariyono, Didik; Maghfoer, Mochammad Dawam
Journal of Degraded and Mining Lands Management Vol. 11 No. 4 (2024)
Publisher : Brawijaya University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15243/jdmlm.2024.114.6461

Abstract

Soil salinity is a limiting factor in agricultural productivity. One of the biological approaches to mitigate the impact of salt stress on plants is inoculating plant growth-promoting rhizobacteria (PGPR) to the plant roots. This study aimed to investigate the eff of PGPR dosage on the growth and yield of shallots at various salinity levels. This study was carried out in the experimental field of Poncokusumo, Malang. The treatments tested consisted of two factors. The first factor was soil salinity level, consisting of four levels: no salinity, NaCl 50 mM, NaCl 100 mM, and NaCl 150 mM. The second factor was PGPR concentration, consisting of four levels: no PGPR, PGPR 10 mL/L, PGPR 20 mL/L, and PGPR 30 mL/L. The sixteen treatment combinations were arranged in a randomized block design with three replications. The data obtained were subjected to the analysis of variance (ANOVA) at a significance level limit of 5%, followed by the Honestly Significant Difference (HSD) test at a 5% significance level for any significant differences. The results showed that the application of 30 mL/L of PGPR reduced EC of the soil and improved plant height, plant dry weight, leaf area, bulb diameter, bulb weight, and the number of bulbs per plant by 33%, 47.3%, 81%, 13%, 34.2%, 98.5%, and 31%, respectively, compared to the treatment without PGPR application under NaCl 150 mM salinity. The application of PGPR at 20 and 30 mL/L dosages significantly increased chlorophyll, flavonoid, and proline indices at NaCl at 100 mM and 150 mM salinity levels compared to the treatment without PGPR.
Penilaian Kompetisi pada Tumpangsari Jagung dan Kedelai Berbagai Galur pada Jarak Tanam yang Beragam Karyawati, Anna Satyana; Nursalim, M; Putik Blessya, Christabel
Seminar Nasional Lahan Suboptimal Vol 10, No 1 (2022): Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-10 “Revitalisasi Sumber Pangan N
Publisher : Pusat Unggulan Riset Pengembangan Lahan Suboptimal (PUR-PLSO) Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Karyawati AS, Nursalim M, Blessya CP. 2022. Competition assessment on intercropping of maize and soybeans of various strains at various planting distances. In: Herlinda S et al. (Eds.), Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-10 Tahun 2022, Palembang 27 Oktober 2022. pp. 544-551. Palembang: Penerbit & Percetakan Universitas Sriwijaya (UNSRI).Corn and soybeans are one of the crops that are in great demand in the community, because the results are easy to manage both for food and as livestock needs. In the intercropping pattern of corn and soybeans, it is necessary to pay attention to the limited living space. Planting distances that are too narrow will cause competition for water, nutrients, and absorption of sunlight. The aimed of the research was to study the competition in various intercropping patterns of maize and various soybean lines. The research was carried out in the experimental field of Agro Techno Park (ATP) Universitas Brawijaya which is located in Jatikerto village, Kromengan, Reg. Malang, East Java. Planting materials used include soybean varieties UB1, UB2, UB3, UB4 and corn varieties R007. The results of this study indicate that the use of an intercropping pattern between soybean and corn using a one-row and two-row system gives decent results with LER and R/C ratio >1. In the two-row cropping pattern, maize is superior based on the competition ratio analysis but is more submissive in the aggressiveness analysis. From the overall treatment, the highest score was obtained in the intercropping treatment between two rows of UB4 and corn plants.
Co-Authors Afidah, Ika Khurotul Afidah, Ika Khurotul Akbar Saitama Aldila Putri Rahayu Aldila Putri Rahayu Alpriyan, Dimas Alpriyan, Dimas Andi Kurniawan Andi Kurniawan Anggrainy, Veby Anggrainy, Veby APRILIA, REZA Ardiyanto, Farid Mufti Ardiyanto, Farid Mufti Armita, Deffi Armita, Deffi Blessya, Christabel Putik Budi Waluyo Budi Waluyo Candra Kusuma Wardana, Candra Kusuma Deffi Armita Dhimas Prakoso Setiawan Didik Hariyono Ellis Nihayati Ellis Nihayati Ellis Nihayati Fadhila, Syahada Amalia Fadhila, Syahada Amalia Fadhilah, Nurma Ferdiana Faronny, Danniary Ismail Febrina Ika Putri Fitriansah, Tiwi Fitriansah, Tiwi Gita Novita Sari Gusmawan, Maretha Widhya Aulyaa Gutama, Grenandio Harsa Hana Nabilah Hibatullah, Ariq Husni Thamrin Sebayang Ikra Kurnia Cahya Januar, Faris Husein Januar, Faris Husein Jati Batoro Koesriharti Koesriharti Latifah Diah Puspasari M. Dawam Maghfoer M. Dawam Maghfoer, M. Dawam M. Roviq M. Roviq M. Roviq, M. Roviq Maghfiroh, Ika Yaumil Maghfour, Mochammad Dawam Maghfour, Mochammad Dawam Maretha Widhya Aulyaa Gusmawan Mariana, Wanda Mariana, Wanda Marpaung, Winda M. R. Melati Julia Rahma Moch. Dawam Maghfoer Moch. Dawam Maghfoer Mochammad Dawam Maghfoer Mochammad Roviq Mochammad Roviq Muhammad Roviq Nihayati, Ellis Ningsih, Sulastri Nourma Paramitha, Dyah Ayu Noviyanita, Widya Intan Noviyanita, Widya Intan Nunun Barunawati Nunun Barunawati, Nunun Nur Azizah Nursalim, M Nursalim, Moch Pratama, Dedi Pratama, Dedi Puri Kholifatush Sholihah Puspasari, Rosilia Puspasari, Rosilia Putik Blessya, Christabel Putro, Agung Nugroho Rahayu , Aldila Putri Rahayu, Aldila Putri Rahmandhias, Deris Trian Ramadhani, Nabila Aghnia Rezyawaty, Mariana Rezyawaty, Mariana Rismawan, Safetian Fauzi Rismawan, Safetian Fauzi Ronafani, Aditya Ronafani, Aditya Roosa, Vesta Roosa, Vesta Sabrina, Aulia Ilma Mirza Sabrina, Aulia Ilma Mirza Saitama, Akbar Saitama, Akbar Saragih Simarmata, Dwi Veritasman Sangapta Sebayang, Husni Thamrin Setiawan, Dhimas Prakoso Sholeh, Ahadin Sholeh, Ahadin Sholihah, Nuril Hikmatis Silalahi, Yapto Haryadi Sirait, Muhammad Harryson Afandy Sirait, Muhammad Harryson Afandy Sitawati Sitawati Sriyanto, Fajar Bagus Sriyanto, Fajar Bagus Suhardianto, Suhardianto Suhardianto, Suhardianto Sunaryo Sunaryo Sunaryo, Sunaryo Syukur Makmur Sitompul, Syukur Makmur Tatik Wardiyati Thaherah, Firinka Amalia Titiek Islami Titiek Islami Titiek Islami Wahyudi, Didin Wahyudi, Didin Wardana, Candra Kusuma Widhiarso, Danang Windy Diyah Mawardy Yudha Tri Baskara