Tingkat infeksi cacing di Provinsi Banten mencapai 60,7%, dengan kasus tertinggi berada di Kabupaten Lebak, yakni sekitar 63,4%. Penelitian ini merupakan penelitian observatif analitik dengan menggunakan desain studi cross-sectional dan teknik sampling yang digunakan adalah consecutive sampling. Sampel pada penelitian ini adalah siswa Madrasah Ibtida’iyah yang terletak di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak. Berdasarkan hasil perhitungan jumlah sampel dengan menggunakan rumus deskriptif kategorik, jumlah sampel yang dibutuhkan adalah 84 siswa, untuk meminimalisir drop out, peneliti menambah besar sampel sebanyak 10%, sehingga jumlah sampel yang dipakai pada penelitian ini sebanyak 94%. Untuk mendapatkan data pada penelitian ini, peneliti menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan anak untuk mengukur risiko kecacingan, kuesioner Weschler Intelligence Scale for Children Fifth Edition (WISC V) untuk mengukur personal hygiene, dan skor Kuppuswamy’s Socioeconomic Scale untuk mengukur status sosial ekonomi siswa. Pada penelitian ini didapatkan proporsi siswa Madrasah Ibtida’iyah di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak yang berisiko tinggi terinfeksi Soil Transmitted Helminths (STH) yaitu sebanyak 50,5%, Proporsi siswa Madrasah Ibtida’iyah di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak dengan kebersihan kuku yang kurang sebanyak 14,7%, kebiasaan memakai alas kaki yang kurang sebanyak 13,7%, dan status sosial ekonomi menengah kebawah sebanyak 81,1%. Proporsi siswa Madrasah Ibtida’iyah di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak yang berisiko tinggi terinfeksi Soil Transmitted Helminths (STH) yaitu sebanyak 50,5%, proporsi siswa Madrasah Ibtida’iyah di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak dengan personal hygiene yang buruk antara kebersihan kuku dan kebiasaan memakai alas kaki yaitu, kebersihan kuku yang kurang sebanyak 14,7%, kebiasaan memakai alas kaki yang kurang sebanyak 13,7%, proporsi siswa Madrasah Ibtida’iyah di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak dengan status sosial ekonomi menengah kebawah sebanyak 81,1%, dan ditemukan hubungan yang signifikan antara kebiasaan memakai alas kaki dengan risiko tinggi terinfeksi STH (pvalue 0,000), akan tetapi tidak ditemukan hubungan yang signifikan antara kebersihan kuku dengan risiko infeksi pada siswa Madrasah Ibtida’iyah di Kecamatan Banjarsari, Kabupaten Lebak (p-value 0,090), dan terdapat hubungan yang signifikan antara status sosial ekonomi siswa dengan risiko tinggi terinfeksi STH (p-value 0,000).