Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Karakteristik Pola Aktivitas Fisik Dan Indeks Massa Tubuh Pada Masyarakat Dewasa Muda Tomang Jakarta Barat Lontoh, Susy Olivia; Alexander Halim
Ebers Papyrus Vol. 29 No. 2 (2023): EBERS PAPYRUS
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/ep.v29i2.28058

Abstract

CHARACTERISTICS OF PHYSICAL ACTIVITY PATTERNS AND BODY MASS INDEX IN YOUNG ADULTS OF TOMANG, WEST JAKARTA The sedentary lifestyle becomes dominant among urban communities causing reduced patterns of physical activity. The impact of physical inactivity affects the nutritional status of the community. The research objective was to determine the characteristics of the level of physical activity and body mass index of the people of Tomang, West Jakarta. This study used a cross-sectional descriptive research design to determine the pattern of physical activity, body mass index in young adults, especially the urban area of ​​Tomang, West Jakarta. Data collection on weight, height, level of physical activity was carried out in the Tomang Village, West Jakarta by taking direct measurements of subjects who met the inclusion criteria from February to August 2023. Sampling was carried out using non-random sampling, consecutive sampling. The population in this study were young adults who met the inclusion criteria, namely willing to participate as research subjects, willing to follow research procedures, filling out questionnaires and measuring weight, height, in good health and adults aged 20-65 years. The questionnaire to measure the level of physical activity is the physical activity level (PAL). Respondents who took part in this study consisted of 90 people and aged from 21 years to 48 years with an average age of 35.59 ± 6.01 years. The majority of male research respondents as much as 70%. 64.4% of the research respondents were married. The results of the body mass index are in the range of 18.26kg/m2-28.45kg/m2 with an average of 22.57 ± 2.9. Based on nutritional status, it was found that 58.9% of respondents had normal nutritional status, 21.1% of respondents were overweight and 20% of respondents were obese. In conclusion, the level of physical activity and nutritional status found that 60% of respondents had light activity and 58.9% had normal nutritional status. Occupation, sport and gender play a role in the lack of physical activity and nutritional status. Keywords: physical activity, nutritional status, body mass index, urban areas ABSTRAK KARAKTERISTIK POLA AKTIVITAS FISIK DAN INDEKS MASSA TUBUH PADA MASYARAKAT DEWASA MUDA TOMANG JAKARTA BARAT Gaya hidup sedentari menjadi dominan dikalangan masyarakat perkotaan menyebabkan pola aktifitas fisik menjadi berkurang. Dampak inaktivitas fisik berpengaruh pada status gizi masyarakat. Tujuan penelitian adalah mengetahui karakteristik tingkat aktivitas fisik dan indeks massa tubuh masyarakat Tomang Jakarta Barat. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif potong lintang (cross sectional) untuk menentukan gambaran pola aktivitas fisik, indeks massa tubuh pada dewasa muda khususnya daerah urban Tomang Jakarta Barat. Pengumpulan data berat badan, tinggi badan, tingkat aktivitas fisik dilakukan di Kelurahan Tomang Jakarta Barat dengan melakukan pengukuran langsung kepada subyek yang telah memenuhi kriteria inklusi dari periode Februari- Agustus 2023. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara non random sampling jenis consecutive sampling Populasi dalam penelitian ini adalah dewasa muda yang memenuhi kriteria inklusi yaitu bersedia berpartisipasi menjadi subjek penelitian, bersedia mengikuti prosedur penelitian mengisi kuisioner dan melakukan pengukuran berat badan, tinggi badan, dalam kondisi sehat dan dewasa berusia 20-65 tahun. Kuesioner untuk mengukur tingkat aktifitas fisik adalah physical activity level (PAL). Responden yang mengikuti penelitian ini terdiri dari 90 orang dan berusia mulai dari 21 tahun sampai 48 tahun dengan usia rata-rata adalah 35.59 ± 6,01 tahun. Mayoritas responden penelitian laki-laki sebanyak 70 %. Responden penelitian sebanyak 64,4% sudah menikah. Hasil indeks massa tubuh berada pada rentang 18,26kg/m2-28,45kg/m2 dengan rata-rata 22,57± 2,9. Berdasarkan status gizi didapatkan 58,9 % responden dengan status gizi normal, 21,1% responden status gizi berlebih dan 20 % responden dengan status gizi obesitas. Kesimpulan tingkat aktivitas fisik dan status gizi ditemukan 60 % responden memiliki aktifitas ringan dan 58,9% status gizinya normal. Pekerjaan, olahraga dan jenis kelamin berperan terhadap kurangnya aktivitas fisik dan status gizi. Kata Kunci : aktivitas fisik, status gizi, indeks massa tubuh, perkotaan
Long-Term Effects of Tea Consumption Habits on Cardiovascular Performance of Adolescent Population: An Observational Study of Adolescent Community in Jakarta, Indonesia Laura Evangelia; Lontoh, Susy Olivia
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol. 8 No. 9 (2024): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine & Translational Research
Publisher : HM Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37275/bsm.v8i9.1077

Abstract

Background: Tea is a popular drink that is widely consumed in Indonesia. Some studies show the potential benefits of tea on cardiovascular health, but evidence regarding long-term effects in adolescents is limited. This study aims to evaluate the relationship between tea consumption habits and cardiovascular performance in the adolescent population in Jakarta. Methods: This prospective observational cohort study involved 1,500 adolescents aged 15-18 years in Jakarta. Data on tea consumption habits was collected through a structured questionnaire, while cardiovascular performance was measured through blood pressure tests, body mass index (BMI), and treadmill tests. Logistic regression and Cox proportional hazards analyzes were used to identify the association between habitual tea consumption and cardiovascular events over a 5-year period. Results: The results showed that regular tea consumption (≥3 cups/week) was associated with a reduced risk of hypertension (OR 0.65; 95% CI 0.48-0.88) and an increase in cardiovascular functional capacity as measured by treadmill testing (HR 0 .72; 95% CI 0.55-0.94). Conclusion: The habit of regular tea consumption among adolescents in Jakarta is associated with a reduced risk of hypertension and improved cardiovascular performance. Further research is needed to confirm these findings and explore the mechanisms underlying tea's protective effects.
PENYULUHAN PENTINGNYA AKTIVITAS FISIK DALAM PENCEGAHAN OBESITAS DAN SKRINING STATUS GIZI DI PEJAGALAN JAKARTA BARAT Lontoh, Susy Olivia; Jap, Aydhing Nathasya; Haryanto, Yonathan Julian
Jurnal Serina Abdimas Vol 1 No 3 (2023): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v1i3.26153

Abstract

Low levels of physical activity and obesity in young adults are major challenges in public health in Indonesia. Lack of movement and laziness to exercise make residents around Pejagalan become inactive and have problems with weight. The community service team conducted activities to measure nutritional status, physical activity levels and health education related to physical activity in an effort to prevent obesity in young adults at Pejagalan, West Jakarta. The purpose of this activity is screening for nutritional status, level of physical activity and education related to physical activity to prevent overweight in young adults at Pejagalan, West Jakarta. Community service activities are carried out on Thursday, May 10, 2023 at 13.00-16.00 at Pejagalan, West Jakarta. Target target activities are young adults aged 20-65 years. Nutritional status is calculated based on the ratio between body weight (BB) in kg and the square of height (TB) in meters. Participants were given a questionnaire related to physical activity in Godin Shepard's spare time to get an overview of the participants' physical activity levels. The activity was attended by 30 participants with an age range of 20-60 years, consisting of 16 male participants and 14 female participants. Participants' weight ranged from 47-93 kg and height 148-183 cm. The level of physical activity of the counseling participants was 20 participants with a low level of physical activity and 5 participants with a high level of activity. There were 20 (66.7%) and 10 (33.3%) participants who rarely exercised in 1 week and exercised regularly. Participants whose nutritional status was obese were 10 (33.3%) participants and 6 (20%) participants including overweight nutritional status. ABSTRAK Tingkat aktivitas fisik yang rendah dan obesitas pada dewasa muda menjadi tantangan utama di bidang kesehatan masyarakat di Indonesia. Kurang gerak serta malas berolahraga membuat warga sekitar Pejagalan menjadi tidak aktif dan bermasalah dengan berat badan.Tim pengabdian masyarakat melakukan kegiatan pengukuran status gizi, tingkat aktivitas fisik serta edukasi kesehatan terkait aktivitas fisik dalam upaya pencegahan obesitas pada dewasa muda di Pejagalan Jakarta Barat. Tujuan kegiatan ini adalah skrining status gizi, tingkat aktivitas fisik dan edukasi terkait aktivitas fisik untuk pencegahan kelebihan berat badan pada dewasa muda di Pejagalan Jakarta Barat. Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan pada hari Kamis, tanggal 10 Mei 2023 pukul 13.00-16.00 di Pejagalan Jakarta Barat. Target sasaran kegiatan dewasa muda berusia 20-65 tahun. Status gizi dihitung berdasarkan rasio antara berat badan (BB) dalam satuan kg dan kuadrat dari tinggi badan (TB) dalam satuan meter. Peserta diberikan kuesioner terkait aktivitas fisik aktivitas fisik waktu luang godin shepard untuk mengetahui gambaran tingkat aktivitas fisik peserta Kegiatan pengabdian dilanjutkan penyuluhan kesehatan“Cegah Obesitas. Kegiatan diikuti 30 peserta dengan rentang usia 20-60 tahun, terdiri 16 peserta laki-laki dan 14 peserta perempuan. Berat badan peserta berkisar 47-93 kg dan tinggi badan 148-183 cm. Tingkat aktivitas fisik peserta penyuluhan adalah 20 peserta denga tingkat aktivitas fisik kurang dan 5 peserta denagn tingkat aktivitas tinggi. Peserta yang jarang berolahraga dalam 1 minggu sebanyak 20 (66,7%) dan 10 (33,3%) peserta rutin berolahraga. Peserta yang status gizi obesitas sebanyak 10 (33,3%) peserta dan 6 (20%) peserta termasuk status gizi berat badan lebih.
PENTINGNYA EDUKASI DAN SKRINING PEMERIKSAAN TEKANAN DARAH DAN LINGKAR PERUT DI ATISA DIPAMKARA KARAWACI Lontoh, Susy Olivia; Novendy; Irawaty, Enny; Dwi Putra, Muhammad Dzakwan; Razaan, Muhammad Naufal
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 1 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i1.29198

Abstract

Uncontrolled high blood pressure and obesity are global health challenges. Based on the initial survey, participants felt there was no need to carry out regular pressure checks and did not know the importance of measuring abdominal circumference. The Tarumanagara University Faculty of Medicine community service team carried out educational activities on the importance of measuring blood pressure and abdominal circumference for early detection and prevention of hypertension and obesity. The target of the blood pressure and abdominal circumference measurement activity was teaching staff Atisa Dipamkara who was suspected of having high blood pressure and whose family history included hypertension and obesity. The method of implementing the activity is checking blood pressure and waist circumference and direct education regarding the results of blood pressure and abdominal circumference. Screening activities for blood pressure, abdominal circumference and education on the importance of monitoring blood pressure and abdominal circumference measurements were carried out on Monday, September 25 2023, at 7.30-13.00 at Atisa Dipamkara. The service activity was attended by 24 participants consisting of 7 (29.2%) male participants and 17 (70.8%) female participants. The age range of participants is 23-56 years. The mean systolic blood pressure was 114.79 mmHg and the maximum systolic blood pressure was 150 mmHg. The mean diastolic blood pressure was 79.92 mmHg and the maximum diastolic blood pressure was 90 mmHg. Based on the results of the examination, the participants' systolic and diastolic blood pressure were categorized as hypertension. The average abdominal circumference measurement result was 88.33 cm and the maximum abdominal circumference was 113 cm, so based on the results above it was found that the participant's abdominal circumference was categorized as obese.
UPAYA PENCEGAHAN OBESITAS DENGAN SKRINING IMT DAN GAYA HIDUP SEDENTARI DEWASA MUDA DI PEKOJAN JAKARTA BARAT Lontoh, Susy Olivia; Dwi Putra, Muhammad Dzakwan; Razaan, Muhammad Naufal
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 1 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i1.29205

Abstract

Obesity and a sedentary lifestyle are health challenges in Indonesian society. Sedentary behavior often occurs in urban areas, especially young adults. The impact of a sedentary lifestyle has a negative impact on health and requires lifestyle improvements and physical inactivity is a risk factor for obesity. The aim of this activity is to increase awareness to prevent obesity and sedentary behavior among educational participants. The method of implementing the activity is screening for blood pressure, BMI, physical activity level and direct education regarding BMI results, physical activity level, the importance of walking and physical activity. The targets of health education activities related to obesity and physical activity are young adults in the Pekojan area, West Jakarta. Educational activities to increase awareness to prevent obesity and sedentary behavior were held on Friday 10 November 2023 at 15.00-18.30. The results of the service activities were attended by 26 participants with 7 male participants and 19 female participants. Based on BMI criteria, there were 20 participants with overweight and obese nutritional status. There were 9 participants who regularly exercised and had light activities and 17 did not regularly exercise and had light activities. To measure the sedentary lifestyle, 11 participants can see how long they sit in a day to watch and use social media and computers (in addition to work or study activities) > 7 hours, so the lifestyle of most of the participants is high sedentary.
EVALUASI KESEHATAN TELINGA PADA PRIA DAN WANITA USIA PRODUKTIF DI KALAM KUDUS II, KELURAHAN DURI KOSAMBI, JAKARTA Lontoh, Susy Olivia; Firmansyah, Yohanes; Ghina, Andini; Alifia, Tosya Putri
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.31986

Abstract

Ear health is an important aspect of individual well-being, contributing to hearing and body balance. Ear disorders can have a significant impact on quality of life. This community service activity aims to describe the ear health conditions of men and women of productive age at Kalam Kudus II High School, Duri Kosambi Village, Jakarta. Community service activities are carried out using the Plan-Do-Check-Action method. The number of participants consisted of 68 men and women of productive age (18–64 years) who met the inclusion criteria. Data were collected through history-taking and physical examination of the ear, including cerumen and tympanic membrane perforation. Most respondents were aged 18–35 years (52.9%) and women (61.8%). Cerumen was found in 35.3% of right ears and 22.1% of left ears. There were no cases of tympanic membrane perforation. The age groups 36–50 years and 51–64 years have a higher prevalence of cerumen than the age group 18–35 years. The results show that the prevalence of ear problems varies by age, with an increase in older age groups. Ear hygiene education and regular checkups are recommended to prevent ear health problems. Routine monitoring and ear health education are needed to prevent ear disorders in the productive age group. These steps are important for improving quality of life and productivity. ABSTRAK Kesehatan telinga merupakan aspek penting dalam kesejahteraan individu, berperan dalam pendengaran dan keseimbangan tubuh. Gangguan pada telinga dapat berdampak signifikan pada kualitas hidup. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk menggambarkan kondisi kesehatan telinga pada laki-laki dan perempuan usia produktif di SMA Kalam Kudus II, Kelurahan Duri Kosambi, Jakarta. Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan dengan metode Plan-Do-Check-Action. Jumlah peserta terdiri dari 68 laki-laki dan perempuan usia produktif (18-64 tahun) yang memenuhi kriteria inklusi. Data dikumpulkan melalui anamnesis dan pemeriksaan fisik telinga, termasuk serumen dan perforasi membran timpani. Sebagian besar responden berusia 18-35 tahun (52,9%) dan perempuan (61,8%). Serumen ditemukan pada 35,3% telinga kanan dan 22,1% telinga kiri. Tidak ada kasus perforasi membran timpani. Kelompok usia 36-50 tahun dan 51-64 tahun memiliki prevalensi serumen yang lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 18-35 tahun. Hasil menunjukkan variasi prevalensi masalah telinga berdasarkan usia, dengan peningkatan prevalensi pada kelompok usia yang lebih tua. Edukasi kebersihan telinga dan pemeriksaan rutin dianjurkan untuk mencegah masalah kesehatan telinga. Pemantauan rutin dan edukasi kesehatan telinga diperlukan untuk mencegah gangguan telinga pada usia produktif. Langkah-langkah ini penting untuk meningkatkan kualitas hidup dan produktivitas.
EDUKASI DAN DETEKSI DINI KEKUATAN OTOT SEBAGAI PREDIKTOR KEJADIAN SARKOPENIA PADA KELOMPOK LANJUT USIA Lontoh, Susy Olivia; Santoso, Alexander Halim; Jaya, I Made Satya Pramana; Gunaidi, Farell Christian; Kurniawan, Joshua; Nathaniel, Fernando
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.32000

Abstract

Aging results in significant changes in body composition, including decreased muscle mass and increased fat mass. Muscle mass decreases by about 3–8% per decade after age 30, with the decline accelerating after age 60. This decrease in muscle strength, especially in women, is associated with various health problems, such as decreased physical function, decreased quality of life, weakness, and cognitive impairment. Clinical practice and public health research use Handgrip strength (HGS) as a simple, rapid, and cost-effective measure to assess musculoskeletal function and evaluate weakness and disability. This activity uses the PDCA (Plan-Do-Check-Act) methodology to educate and screen elderly participants at St. Mary's Church, Francis of Assisi, Jakarta. All participants took part in physical hand grip strength examination activities. This activity involved 35 participants, and it was found that the average grip strength for the left hand was 19.2% and 15.7% for the right hand. HGS screening is very important for the early detection of sarcopenia, a condition common in the elderly that causes a significant decline in health. Implementing preventive strategies based on HGS results can help maintain muscle mass and strength, thereby reducing the risk of dependency and limited mobility. Abstrak Penuaan mengakibatkan perubahan signifikan pada komposisi tubuh, termasuk penurunan massa otot dan peningkatan massa lemak. Massa otot menurun sekitar 3-8% per dekade setelah usia 30 tahun, dengan penurunan yang semakin cepat setelah usia 60 tahun. Penurunan kekuatan otot ini, terutama terjadi pada wanita, dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan seperti penurunan fungsi fisik, penurunan kualitas hidup, kelemahan, serta gangguan kognitif. Kekuatan genggaman tangan (HGS) adalah ukuran sederhana, cepat, dan hemat biaya yang digunakan dalam praktik klinis dan penelitian kesehatan masyarakat untuk menilai fungsi muskuloskeletal dan mengevaluasi kelemahan dan kecacatan. Kegiatan ini menggunakan metodologi PDCA (Plan-Do-Check-Act) untuk mendidik dan menyaring peserta lanjut usia di Gereja St. Fransiskus Asisi, Jakarta. Seluruh peserta mengikuti kegiatan pemeriksaan kekuatan fisik genggaman tangan. Kegiatan ini mengikutsertakan 35 peserta dan didapatkan rerata kekuatan genggaman tangan kiri adalah 19,2% dan 15,7% untuk tangan kanan. Pemeriskaan HGS sangat penting untuk deteksi dini sarkopenia, suatu kondisi yang umum terjadi pada lansia yang menyebabkan penurunan kesehatan secara signifikan. Penerapan strategi pencegahan berdasarkan hasil HGS dapat membantu menjaga massa dan kekuatan otot, sehingga dapat mengurangi risiko ketergantungan dan keterbatasan mobilitas.  
Skrining Status Gizi melalui Pengukuran Berat Badan dan Tinggi Badan sebagai Upaya Pencegahan Kejadian Anemia pada Remaja SMP di Tangerang Novendy, Novendy; Irawaty, Enny; Lontoh, susy olivia
Jurnal Pengabdian West Science Vol 5 No 01 (2026): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v5i01.3000

Abstract

Anemia pada remaja menjadi masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya tinggi dan berkaitan erat dengan status gizi. Skrining anemia di lingkungan sekolah perlu didukung oleh penilaian status gizi sebagai faktor risiko, salah satunya melalui pengukuran antropometri. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan melakukan skrining awal anemia yang didukung dengan pengukuran antropometri pada remaja sekolah menengah pertama. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 3 November 2025 pukul 08.30–12.00, diikuti oleh 158 siswa kelas 7–9. Metode kegiatan meliputi pengukuran tinggi badan dan berat badan, pencatatan usia, jenis kelamin dan data dianalisis secara deskriptif. Usia rata-rata siswa 12,91 ± 0,88 tahun dengan distribusi jenis kelamin yang relatif seimbang. Rerata tinggi badan adalah 157,09 ± 7,35 cm dan berat badan 52,96 ± 12,75 kg. Sebagian besar siswa memiliki status gizi normal dan ditemukan variasi status gizi termasuk overweight dan obesitas. Kegiatan ini memberikan gambaran awal status gizi remaja sebagai dasar perencanaan skrining anemia dan intervensi kesehatan lanjutan di sekolah.
SKRINING KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI PENGUKURAN LINGKAR TUBUH, WHR, DAN SKINFOLD CALIPER SEBAGAI DETEKSI DINI RISIKO PENYAKIT METABOLIK Lontoh, Susy Olivia; Santoso, Alexander Halim; Wijaya, Bryan Anna; Philo, Andrew; Amertha, Anak Agung Ngurah Putrayoga
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 3 No. 6 (2025): Desember
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpki2.v3i6.3261

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk mendeteksi dini risiko penyakit metabolik melalui pengukuran lingkar tubuh, rasio lingkar pinggang-pinggul (WHR), dan ketebalan lemak bawah kulit menggunakan skinfold caliper pada populasi lanjut usia. Metode pengabdian yang digunakan adalah skrining kesehatan masyarakat berbasis komunitas di Gereja Asisi, Tebet, Jakarta Selatan, dengan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA). Seluruh peserta (n=99; rerata usia 71,85 tahun, 71,7% perempuan) menjalani pengukuran lingkar tubuh, WHR, dan ketebalan lemak subkutan pada beberapa titik anatomis. Hasil pengabdian menunjukkan mayoritas responden (87,9%) memiliki WHR kategori risiko tinggi, dengan rerata lingkar perut 88,1 cm, lingkar panggul 97,27 cm, dan distribusi lemak subkutan tertinggi pada area suprailiaka dan subskapular. Temuan ini menegaskan tingginya proporsi populasi lanjut usia yang berisiko mengalami sindrom metabolik. Simpulan, pengukuran antropometri sederhana berupa lingkar tubuh, WHR, dan skinfold caliper efektif sebagai strategi promotif dan preventif untuk deteksi dini risiko penyakit metabolik, serta menjadi dasar untuk intervensi edukatif dan modifikasi gaya hidup di tingkat komunitas.  
Evaluasi Status Gizi melalui Pengukuran IMT dan Komposisi Tubuh untuk Optimalisasi Kesehatan Masyarakat Lebak Lontoh, Susy Olivia; Santoso, Alexander Halim; Wijaya, Brayan Anna; Dinali, Diana; Dzakwan, Muhammad Fikri
Science and Technology: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 4 (2025): Desember
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/scitec.v2i4.612

Abstract

Kelebihan berat badan dan obesitas merupakan tantangan kesehatan masyarakat global yang turut berdampak pada komunitas tradisional seperti masyarakat Lebak. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengevaluasi status gizi dan komposisi tubuh sebagai upaya promotif–preventif terhadap risiko penyakit metabolik. Kegiatan dilaksanakan di Komunitas Lebak, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Action (PDCA). Sebanyak 41 peserta dewasa mengikuti pemeriksaan indeks massa tubuh (IMT) dan analisis komposisi tubuh dengan bioelectrical impedance analysis (BIA). Rerata usia peserta adalah 40,76 ± 14,37 tahun, dengan mayoritas perempuan (70,7%). Nilai IMT rata-rata 23,77 ± 5,91 kg/m² menunjukkan 51,2% kategori normal, 29,3% obesitas, 14,6% overweight, dan 4,9% underweight. Persentase lemak subkutan rerata 17,73 ± 9,26%, sedangkan massa otot rangka mencapai 30 ± 5,1%. Analisis menunjukkan pola distribusi lemak lebih tinggi pada perempuan dan massa otot lebih besar pada laki-laki, sesuai perbedaan fisiologis hormonal. Temuan ini menegaskan adanya transisi gizi yang mencerminkan perubahan perilaku konsumsi dan aktivitas fisik di komunitas Lebak. Kegiatan ini tidak hanya memberikan gambaran objektif tentang status gizi, tetapi juga meningkatkan literasi gizi masyarakat melalui edukasi langsung dan konseling berbasis hasil pemeriksaan. Evaluasi IMT dan komposisi tubuh terbukti menjadi pendekatan efektif dan kontekstual dalam deteksi dini risiko metabolik serta penguatan kesehatan komunitas berbasis kearifan lokal.