Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

EDUKASI DAN DETEKSI DINI KEKUATAN OTOT SEBAGAI PREDIKTOR KEJADIAN SARKOPENIA PADA KELOMPOK LANJUT USIA Lontoh, Susy Olivia; Santoso, Alexander Halim; Jaya, I Made Satya Pramana; Gunaidi, Farell Christian; Kurniawan, Joshua; Nathaniel, Fernando
Jurnal Serina Abdimas Vol 2 No 3 (2024): Jurnal Serina Abdimas
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Tarumanagara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/jsa.v2i3.32000

Abstract

Aging results in significant changes in body composition, including decreased muscle mass and increased fat mass. Muscle mass decreases by about 3–8% per decade after age 30, with the decline accelerating after age 60. This decrease in muscle strength, especially in women, is associated with various health problems, such as decreased physical function, decreased quality of life, weakness, and cognitive impairment. Clinical practice and public health research use Handgrip strength (HGS) as a simple, rapid, and cost-effective measure to assess musculoskeletal function and evaluate weakness and disability. This activity uses the PDCA (Plan-Do-Check-Act) methodology to educate and screen elderly participants at St. Mary's Church, Francis of Assisi, Jakarta. All participants took part in physical hand grip strength examination activities. This activity involved 35 participants, and it was found that the average grip strength for the left hand was 19.2% and 15.7% for the right hand. HGS screening is very important for the early detection of sarcopenia, a condition common in the elderly that causes a significant decline in health. Implementing preventive strategies based on HGS results can help maintain muscle mass and strength, thereby reducing the risk of dependency and limited mobility. Abstrak Penuaan mengakibatkan perubahan signifikan pada komposisi tubuh, termasuk penurunan massa otot dan peningkatan massa lemak. Massa otot menurun sekitar 3-8% per dekade setelah usia 30 tahun, dengan penurunan yang semakin cepat setelah usia 60 tahun. Penurunan kekuatan otot ini, terutama terjadi pada wanita, dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan seperti penurunan fungsi fisik, penurunan kualitas hidup, kelemahan, serta gangguan kognitif. Kekuatan genggaman tangan (HGS) adalah ukuran sederhana, cepat, dan hemat biaya yang digunakan dalam praktik klinis dan penelitian kesehatan masyarakat untuk menilai fungsi muskuloskeletal dan mengevaluasi kelemahan dan kecacatan. Kegiatan ini menggunakan metodologi PDCA (Plan-Do-Check-Act) untuk mendidik dan menyaring peserta lanjut usia di Gereja St. Fransiskus Asisi, Jakarta. Seluruh peserta mengikuti kegiatan pemeriksaan kekuatan fisik genggaman tangan. Kegiatan ini mengikutsertakan 35 peserta dan didapatkan rerata kekuatan genggaman tangan kiri adalah 19,2% dan 15,7% untuk tangan kanan. Pemeriskaan HGS sangat penting untuk deteksi dini sarkopenia, suatu kondisi yang umum terjadi pada lansia yang menyebabkan penurunan kesehatan secara signifikan. Penerapan strategi pencegahan berdasarkan hasil HGS dapat membantu menjaga massa dan kekuatan otot, sehingga dapat mengurangi risiko ketergantungan dan keterbatasan mobilitas.  
Skrining Status Gizi melalui Pengukuran Berat Badan dan Tinggi Badan sebagai Upaya Pencegahan Kejadian Anemia pada Remaja SMP di Tangerang Novendy, Novendy; Irawaty, Enny; Lontoh, susy olivia
Jurnal Pengabdian West Science Vol 5 No 01 (2026): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v5i01.3000

Abstract

Anemia pada remaja menjadi masalah kesehatan masyarakat yang prevalensinya tinggi dan berkaitan erat dengan status gizi. Skrining anemia di lingkungan sekolah perlu didukung oleh penilaian status gizi sebagai faktor risiko, salah satunya melalui pengukuran antropometri. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan melakukan skrining awal anemia yang didukung dengan pengukuran antropometri pada remaja sekolah menengah pertama. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 3 November 2025 pukul 08.30–12.00, diikuti oleh 158 siswa kelas 7–9. Metode kegiatan meliputi pengukuran tinggi badan dan berat badan, pencatatan usia, jenis kelamin dan data dianalisis secara deskriptif. Usia rata-rata siswa 12,91 ± 0,88 tahun dengan distribusi jenis kelamin yang relatif seimbang. Rerata tinggi badan adalah 157,09 ± 7,35 cm dan berat badan 52,96 ± 12,75 kg. Sebagian besar siswa memiliki status gizi normal dan ditemukan variasi status gizi termasuk overweight dan obesitas. Kegiatan ini memberikan gambaran awal status gizi remaja sebagai dasar perencanaan skrining anemia dan intervensi kesehatan lanjutan di sekolah.
SKRINING KESEHATAN MASYARAKAT MELALUI PENGUKURAN LINGKAR TUBUH, WHR, DAN SKINFOLD CALIPER SEBAGAI DETEKSI DINI RISIKO PENYAKIT METABOLIK Lontoh, Susy Olivia; Santoso, Alexander Halim; Wijaya, Bryan Anna; Philo, Andrew; Amertha, Anak Agung Ngurah Putrayoga
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 3 No. 6 (2025): Desember
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpki2.v3i6.3261

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk mendeteksi dini risiko penyakit metabolik melalui pengukuran lingkar tubuh, rasio lingkar pinggang-pinggul (WHR), dan ketebalan lemak bawah kulit menggunakan skinfold caliper pada populasi lanjut usia. Metode pengabdian yang digunakan adalah skrining kesehatan masyarakat berbasis komunitas di Gereja Asisi, Tebet, Jakarta Selatan, dengan pendekatan Plan–Do–Check–Act (PDCA). Seluruh peserta (n=99; rerata usia 71,85 tahun, 71,7% perempuan) menjalani pengukuran lingkar tubuh, WHR, dan ketebalan lemak subkutan pada beberapa titik anatomis. Hasil pengabdian menunjukkan mayoritas responden (87,9%) memiliki WHR kategori risiko tinggi, dengan rerata lingkar perut 88,1 cm, lingkar panggul 97,27 cm, dan distribusi lemak subkutan tertinggi pada area suprailiaka dan subskapular. Temuan ini menegaskan tingginya proporsi populasi lanjut usia yang berisiko mengalami sindrom metabolik. Simpulan, pengukuran antropometri sederhana berupa lingkar tubuh, WHR, dan skinfold caliper efektif sebagai strategi promotif dan preventif untuk deteksi dini risiko penyakit metabolik, serta menjadi dasar untuk intervensi edukatif dan modifikasi gaya hidup di tingkat komunitas.  
Evaluasi Status Gizi melalui Pengukuran IMT dan Komposisi Tubuh untuk Optimalisasi Kesehatan Masyarakat Lebak Lontoh, Susy Olivia; Santoso, Alexander Halim; Wijaya, Brayan Anna; Dinali, Diana; Dzakwan, Muhammad Fikri
Science and Technology: Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 4 (2025): Desember
Publisher : CV. Science Tech Group

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69930/scitec.v2i4.612

Abstract

Kelebihan berat badan dan obesitas merupakan tantangan kesehatan masyarakat global yang turut berdampak pada komunitas tradisional seperti masyarakat Lebak. Program pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk mengevaluasi status gizi dan komposisi tubuh sebagai upaya promotif–preventif terhadap risiko penyakit metabolik. Kegiatan dilaksanakan di Komunitas Lebak, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, menggunakan pendekatan Plan–Do–Check–Action (PDCA). Sebanyak 41 peserta dewasa mengikuti pemeriksaan indeks massa tubuh (IMT) dan analisis komposisi tubuh dengan bioelectrical impedance analysis (BIA). Rerata usia peserta adalah 40,76 ± 14,37 tahun, dengan mayoritas perempuan (70,7%). Nilai IMT rata-rata 23,77 ± 5,91 kg/m² menunjukkan 51,2% kategori normal, 29,3% obesitas, 14,6% overweight, dan 4,9% underweight. Persentase lemak subkutan rerata 17,73 ± 9,26%, sedangkan massa otot rangka mencapai 30 ± 5,1%. Analisis menunjukkan pola distribusi lemak lebih tinggi pada perempuan dan massa otot lebih besar pada laki-laki, sesuai perbedaan fisiologis hormonal. Temuan ini menegaskan adanya transisi gizi yang mencerminkan perubahan perilaku konsumsi dan aktivitas fisik di komunitas Lebak. Kegiatan ini tidak hanya memberikan gambaran objektif tentang status gizi, tetapi juga meningkatkan literasi gizi masyarakat melalui edukasi langsung dan konseling berbasis hasil pemeriksaan. Evaluasi IMT dan komposisi tubuh terbukti menjadi pendekatan efektif dan kontekstual dalam deteksi dini risiko metabolik serta penguatan kesehatan komunitas berbasis kearifan lokal.
Skrining dan Edukasi Pencegahan Dini Penyakit Tidak Menular pada Masyarakat Urban Tomang Limanan, David; Olivia, Susy; Lontoh, susy olivia
Jurnal Pengabdian West Science Vol 5 No 02 (2026): Jurnal Pengabdian West Science
Publisher : Westscience Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58812/jpws.v5i02.3106

Abstract

Penyakit Tidak Menular (PTM) merupakan masalah kesehatan utama di masyarakat urban, dengan obesitas sentral dan gangguan kardiometabolik sebagai faktor risiko dominan. Rendahnya kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko PTM serta keterbatasan pengetahuan mengenai kegawatdaruratan kardiovaskular menjadi tantangan dalam upaya pencegahan dini. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap faktor risiko PTM melalui skrining kesehatan yang terintegrasi dengan edukasi pencegahan dan pelatihan Bantuan Hidup Dasar (BHD). Kegiatan dilaksanakan pada Rabu, 7 Januari 2026 dengan metode skrining dan edukasi berbasis komunitas pada 66 peserta. Pemeriksaan meliputi indeks massa tubuh, lingkar perut, tekanan darah, kadar gula darah sewaktu, kolesterol total, dan asam urat. Hasil menunjukkan rerata usia peserta 32,79 ± 10,45 tahun, dengan mayoritas berjenis kelamin laki-laki (93,9%). Rerata IMT sebesar 26,14 ± 4,65 kg/m², dengan 65,2% peserta memiliki lingkar perut tinggi. Kadar kolesterol total normal ditemukan pada 77,3%, gula darah sewaktu normal pada 83,3%, dan kadar asam urat tinggi pada 48,5% peserta. Kegiatan ini menunjukkan bahwa masyarakat mitra memiliki berbagai faktor risiko PTM, terutama obesitas sentral, dan bahwa skrining kesehatan yang diintegrasikan dengan edukasi PTM dan BHD berpotensi meningkatkan kesadaran serta kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi kegawatdaruratan kardiovaskular.