Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

PEMBERDAYAAN PEDAGANG DUREN MELALUI STRATEGI PROMOSI INOVATIF PADA DESA KEKAIT LOMBOK BARAT Ibrahim Ibrahim; Agus Kurniawan; Mas'ad Mas'ad; Mintasrihardi Mintasrihardi; Abdul Wahab; Siti Hasanah; Vera Mendalina; Syaharuddin Syaharuddin; Agus Herianto; Mahsup Mahsup; Sintayana Muhardini; Mardiyah Hayati; Febrita Susanti; Muslimin Muslimin; Ilham Ilham; Muhammad Khalis Ilmi; Asma Azizah; Burhanuddin Burhanuddin; Muhammad Saleh; M. Sobry; Akhmad Syafruddin; Muhammad Salahuddin; Syaifuddin Iskandar; Syarifuddin Syarifuddin
Jurnal Pengabdian Publik (JP-Publik) Vol 3, No 2 (2023): Volume 3, Nomor 2 (2023) DESEMBER
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jp-publik.v3i2.20952

Abstract

Masih rendah ketrampilan pedagang dalam mempromosikan hasil bumi duren. Tujuan dilakukan pengabdian kepada masyarakat khususnya pemberdayaan pedagang duren melalui strategi inovatif pada desa kekait Lombok Barat. Metode yang digunakan adalah sosialisasi  pada pedagang.  Hasil Pengabdian kepada masyarakat ini diketahui bahwa antusias dari pedagang dalam memperkenalkan media social sebagai media promosi dagangan kepada umum. Keberadaan program ini memberikan dampak positif dalam meningkatkan hasil penjualan duren dari waktu ke waktu. Kedepan diperlukan event skala nasional dan internasional dengan membuat duren sebagai icon kekait sebagai hasil bumi di tanah Lombok khususnya Desa Kekait Gunung Sari. 
PENGEMBANGAN DESA GIRI SASAK SEBAGAI DESA WISATA DI KECAMATAN KURIPAN KABUPATEN LOMBOK BARAT Imanuella Romaputri Andilolo; I Dewa Gede Bisma; Sulaiman Sarmo; Burhanuddin Burhanuddin
https://jurnal.fe.unram.ac.id/index.php/abdimas/about/privacy Vol 2 No 1 (2021): Jurnal Abdimas Independen, Mei 2021
Publisher : Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/independen.v2i1.40

Abstract

Dusun Perendekan Selatan merupakan salah satudusun di Desa Giri Sasak Kecamatan Kuripan Kabupaten Lombok Barat Nusa Tenggara Barat. Salah satu potensi wisata di dusun perendekan selatan ini adalah batu kelambu dan bumi di atas awan. Selama ini, masyarakat dusun perendekan tidak memahmi potensi yang dimiliki, oleh karena itu kami tim pengabdian memberikan penyuluhan mengenai bagaimana mengembangkan desa menjadi sebuah desa wisata pada kelompok sadar wisata dusun perendekan selatan. Kegiatan pengabdian ini dilaksanakan dengan cara memberikan penyuluhan mengenai pembuatan paket wisata, industry kreatif dan homestay. Metode yang digunakan adalah dengan mengadakan penyuluhan pengembangan desa wisata meliputi ceramah, tanya jawab, demonstrasi, latihan atau praktek, display. Hasil penyuluhan menunjukkan bahwa masyarakat dusun perendekan selatan mampu membuat paket wisata ke batu kelambu, dan membuat gapura dari bambu serta menyediakan homestay yang bersih dengan dilengkapi kamar mandi dan mampu berkomunikasi yang baik dengan wisatawan.
Studi Antropolinguistik Terhadap Nama Makanan Begawe Di Kecamatan Praya Barat Daya Rona Restu Victoria; Burhanuddin Burhanuddin; Saharudin Saharudin
Jurnal Pendidikan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2025): Jurnal Pendidikan Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/japendi.v6i4.7486

Abstract

Tradisi begawe orang Sasak di Praya Barat Daya mencerminkan nilai-nilai sosial-budaya dan spiritual yang mendalam, dengan leksikon kuliner berfungsi sebagai penanda identitas simbolis. Terlepas dari penelitian sebelumnya tentang penamaan makanan tradisional, tidak ada yang secara sistematis menganalisis hierarki semantik mereka dalam konteks ritual. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan istilah-istilah kuliner begawe menggunakan teori hiponimi-hipernimi, menjelaskan signifikansi budaya dan bahasanya. Diterapkan pendekatan deskriptif kualitatif, menggabungkan data primer (wawancara dengan informan) dan data sekunder (literatur), dianalisis melalui empat tahap: pengumpulan, pengurangan, presentasi, dan verifikasi. Studi ini mengidentifikasi 62 leksikon kuliner, mengkategorikannya berdasarkan metode persiapan (misalnya, tedang, tekulup), bahan, dan makna simbolis. Analisis semantik mengungkapkan begawe urip (perayaan) dan begawe pati (berkabung) sebagai hipernim, dengan sub-ritual (misalnya, nyongkol, nelung) sebagai hiponim, menunjukkan bagaimana bahasa mengkodekan nilai-nilai budaya. Penelitian ini berkontribusi untuk melestarikan warisan kuliner Sasak dan menawarkan model studi interdisipliner yang menghubungkan linguistik, antropologi, dan pengarsipan digital.
IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA BELAJAR DALAM PEMBELAJARAN BAHASA INDONESIA BERBASIS KEARIFAN LOKAL Muhammad Baidhawi; Aswandikari Aswandikari; Burhanuddin Burhanuddin
El-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBA Vol. 23 No. 2 (2024): Oktober 2024
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tsaqafah.v23i2.11712

Abstract

This study aims to identify and analyze the implementation of the Independent Curriculum (Kurikulum Merdeka) from the aspects of planning, execution, and evaluation in Indonesian language learning based on local wisdom, as applied at SMP Negeri 1 Bayan. A qualitative approach was used in this research. Data collection techniques involved direct observation, analyzed using the interactive model of Miles and Huberman. The results indicate that the planning stage has been executed very well, meeting the criteria outlined in six indicators on the observation instrument for planning. The planning activities carried out by teachers include the preparation of teaching modules, Learning Outcomes (Capaian Pembelajaran or CP), formulation of Learning Objectives (Tujuan Pembelajaran or TP), development of the Learning Objectives Flow (Alur Tujuan Pembelajaran or ATP), and design of instructional steps, learning media, and assessment tools for student learning. At the implementation stage, the curriculum was also executed very well, meeting the criteria outlined in twenty-nine indicators in the observation instrument for implementation. In this regard, the form of curriculum implementation in Indonesian language learning involved the teacher delivering instruction based on the prepared Indonesian language module, specifically a letter-text module designed in the planning phase. At the evaluation stage, the curriculum implementation was carried out very effectively, meeting the criteria in the observation instrument for evaluation, which includes diagnostic evaluation, formative assessment, and summative assessment.
PERBEDAAN FONOLOGIS DAN LEKSIKAL ISOLEK SAMBORI DAN TARLAWI DI KABUPATEN BIMA Utswatun Hasanah; Mahsun Mahsun; Burhanuddin Burhanuddin
El-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBA Vol. 24 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tsaqafah.v24i2.13209

Abstract

This study aims to describe the phonological and lexical differences between the Sambori and Tarlawi isolects. The type of research used is quantitative descriptive with a diachronic perspective. Data were collected using a research instrument that provided 200 basic Swadesh?Morish vocabulary items and 867 cultural and non-basic vocabulary items classified according to their semantic fields, employing the “cakap” method and the “simak” method. Data collection was conducted by selecting three informants from each village according to certain criteria. The data collection methods used were the “cakap” method and the “simak” method. The data analysis method employed intralingual matching with the basic technique of intralingual comparison. Further analysis calculated the percentage similarity (status) of isolects in the research area using a dialectometry method. Based on the results conducted, two phonological differences were found, namely vowel differences and consonant differences. Meanwhile, based on the calculated percentage determination of phonological differences in the research area (Sambori village and Tarlawi village) using dialectometry, a difference value of 12.5% was found, indicating a dialect difference between Tarlawi village and Sambori village at the phonological level. Then, at the lexical level, a difference value of 36.5% was found, meaning there is a sub-dialect difference between the Sambori isolect and the Tarlawi isolect.
TUTURAN SARKASME PADA ANAK-ANAK JOKI TO’I DALAM KOMUNITAS PECINTA PACUAN KUDA DI KABUPATEN BIMA Andri Adiman; Burhanuddin Burhanuddin; Saharudin Saharudin
El-Tsaqafah : Jurnal Jurusan PBA Vol. 24 No. 2 (2025): Oktober 2025
Publisher : Universitas Islam Negeri Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/tsaqafah.v24i2.13212

Abstract

This research based on an interest in sarcasm in the community of horse racing lovers in Panda, Palibelo subdistrict, which is very cruel compared to sarcasm in the community in general. The aim of this research is to discover the forms and functions of sarcasm in this community. This research used a qualitative approach with data collection methods, namely the listening method through note-taking techniques, skilful involvement, free folding and skill methods through face-to-face techniques. The result of this research show that the community of horse racing fans useed sarcasm as a means to motivate each other. In addition, in the sarcasm speech used by the horse lover community in Panda village, meanwhile the general function of this study provides information that coarse language is not only bad in social life, there are also positive values contained in it, that is strengthen the sense of brotherhood in community life.
Analysis of terms in the sasak nyunat tradition and their pedagogical implications Ahmad Supriadi Guna Putra; Mahsun Mahsun; Burhanuddin Burhanuddin; Aswandikari Aswandikari; Saharudin Saharudin
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 9 No. 2 (2025): October
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v9i2.42432

Abstract

This study examines the linguistic forms and cultural meanings embedded in the nyunat (circumcision) tradition of the Sasak community from the perspective of anthropological linguistics. It addresses a research gap in which circumcision traditions in Indonesia have mostly been explored from anthropological and health perspectives. The study aims to document, classify, and interpret ritual lexicons as cultural markers that embody identity, social roles, and spiritual values. Through qualitative methods involving observation, interviews, and document analysis, supported by audio–video recordings, the research constructs a taxonomy of ritual lexicons categorized into three semantic domains—berjap ‘getting ready’, begawe ‘holding a celebration’, and perebaq jengkis ‘ending the ceremony’. This taxonomy demonstrates how ritual language organizes cultural knowledge and encodes social order. Theoretically, the study advances the field of anthropological linguistics by showing how ritual lexicons function as systems that preserve and negotiate cultural meaning across generations. Pedagogically, the findings highlight the potential integration of local ritual lexicons into heritage-based education, cultural literacy, and digital storytelling programs to promote linguistic awareness and cultural sustainability.   Penelitian ini mengkaji bentuk-bentuk linguistik dan makna budaya yang tertanam dalam tradisi nyunat (khitan) masyarakat Sasak dari perspektif linguistik antropologi. Kajian ini menanggapi kesenjangan penelitian, di mana tradisi khitan di Indonesia sebagian besar telah diteliti dari sudut pandang antropologis dan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk mendokumentasikan, mengklasifikasikan, dan menafsirkan leksikon-leksikon ritual sebagai penanda budaya yang merepresentasikan identitas, peran sosial, dan nilai-nilai spiritual. Melalui metode kualitatif yang melibatkan observasi, wawancara, dan analisis dokumen yang didukung oleh rekaman audio–video, penelitian ini membangun taksonomi leksikon ritual yang dikategorikan ke dalam tiga domain semantik, yaitu berjap (‘bersiap’), begawe (‘mengadakan perayaan’), dan perebaq jengkis (‘menutup upacara’). Taksonomi ini menunjukkan bagaimana bahasa ritual mengorganisasi pengetahuan budaya dan mengodekan tatanan sosial. Secara teoretis, penelitian ini memperluas bidang linguistik antropologi dengan menunjukkan bagaimana leksikon ritual berfungsi sebagai sistem yang mempertahankan dan menegosiasikan makna budaya lintas generasi. Secara pedagogis, temuan penelitian ini menyoroti potensi integrasi leksikon ritual lokal ke dalam pendidikan berbasis warisan budaya, literasi budaya, dan program penceritaan digital untuk meningkatkan kesadaran linguistik dan keberlanjutan budaya.
Leksikon Etnomedisin dalam Pengobatan Tradisional Sasak: Kajian Antropolinguistik Pahrudin Arrozi; NFN Burhanuddin; NFN Saharudin
MABASAN Vol. 14 No. 1 (2020): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v14i1.308

Abstract

Penelitian ini bertempat di Desa Sengkerang dialek Meno-Mene, Kecamatan Praya Timur, Kabupaten Lombok Tengah. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan leksikon etnomedisin dalam pengobatan tradisional Sasak. Pendekatan teoretis yang digunakan adalah pendekatan antropolinguistik. Sementara itu, pendekatan metodologis penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif. Untuk pengumpulan data menggunakan studi pustaka, observasi, wawancara dan metode simak dengan teknik dasar berupa teknik sadap dan catat. Hasil penelitian ini pertama, leksikon etnomedisin dalam pengobatan tradisional Sasak di Desa Sengkerang diklasifikasikan menjadi dua bentuk, yaitu kata dan frasa. Kedua, terdapat tiga pandangan budaya leksikon etnomedisin dalam pengobatan tradisional Sasak, yaitu adanya keselarasan masyarakat Sasak di Desa Sengkerang dengan alam, adanya keselarasan nilai keagamaan, dan cerminan ekonomis; ketiga, masyarakat Sasak mewariskan pengetahuanya tentang pengobatan tradisional secara turun-temurun, baik dari mulut ke mulut maupun dalam bentuk tulisan.  
Subjek Kolektif Novel Tentang Kamu Karya Tere Liye yang Mencerminkan Sejarah PKI: Kajian Strukturalisme Genetik Lucien Goldmann Ayu Nurmalayani; Burhanuddin; Johan Mahyudi
MABASAN Vol. 15 No. 2 (2021): Mabasan
Publisher : Balai Bahasa Nusa Tenggara Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62107/mab.v15i2.424

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan refleksi sejarah PKI dalam Novel Tentang Kamu karya Tere Lie. Fokus pendeskripsiannya adalah subjek kolektif dalam novel yang mencerminkan sejarah PKI. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif menggunakan teori strukturalisme genetik. Data penelitian dikumpulkan dengan metode telaah dokumen. Data dianalisis dengan menggunakan metode struktural genetik. Berdasarkan paparan hasil dan pembahasan penelitian diketahui bahwa subjek kolektif novel Tentang Kamu karya Tere Liye yang mencerminkan peristiwa pemberontakan PKI, ada yang tergambar melalui unsur instrinsik, latar belakang pengarang, dan latar belakang sosial budaya tempat karya itu lahir. Disimpulkan bahwa (1) Subjek kolektif unsur instrinsik tampak pada penggunaan latar waktu, tempat, dan suasana/sosial. Latar waktu berupa pembrontakan PKI tahun 1948 dan 1965, latar tempat berupa lokasi pembantaian oleh PKI di Pabrik-pabrik tebu atau Loji-loji Kebun Tebu, dan latar suasana/sosial berupa hiruk pikuk dan pesta pora PKI saat pembantaian tokoh-tokoh agama; (2) Subjek kolektif latar belakang pengarang sebagai akuntan tergambar pada perjalanan tokoh Sri Ningsih dalam pengelola perusahaan dan penyusunan wasiatnya; dan (3) Subjek kolektif latar belakang sosial budaya tempat sastra itu lahir berupa penggunaan seni drama tradisional Ketoprak (dari Surakarta) dan Ludruk (dari Surabaya) sebagai media mempengaruhi masa.
Co-Authors -, Ibrahim - -, Mintasrihardi - Abdul Wahab Agus Herianto Agus Kurniawan Ahmad Supriadi Guna Putra Ainul Yaqin Akhmad Syafruddin Amanatul Hidayah Andilolo, Imanuella Romaputri Andri Adiman Anwar Efendy Arifah Rahmatiah Ardianti Atika Almiana Ayidah Ayidah Ayu Nurmalayani Ayu Triana Putri Azanul Islam Azizah, Asma Baiq Dwi Intan Cahyani Chairani Syahrawati Djatmika Djatmika Dwi Purnanto Ega Safitri Febrita Susanti Harry Irawan Johari Hayatul Nufus Heru Sudriansyah I Dewa Gede Bisma Ilham Ilham Imamul Haramain Irma Setiawan, Irma Ismi Aisyah Umami Johan Mahyudi Joni Safaat Adiansyah Junaidi A.M Junaidi Am Kamaluddin Kamaluddin Kasdin Kasdin Kusdiratin Laila Yuparni Durratun Yatimah Lalu Muhamad Helmi Lalu Taufan Halas M Sobry M. Saleh M. Sobry Mahsun Mahsun Mahsun Mahsup Mahsup Mahyudi, Johan Mahyuni Mahyuni Mardiarti Diniarti Mardiyah Hayati Mar’aini Wulandari Mas'ad Mas'ad Mas,ad, Mas,ad Mochammad Asyhar Muhammad Ali Muhammad Baidhawi Muhammad Khalis Ilmi Muhammad Salahuddin Muhammad Saleh Muhammad Sukri Muslimin Muslimin Mustika Aprilia Muti’ah Muti’ah N. Nurjanah Nasaruddin Ali Nurhayati, Nurhayati Nursainah Nurul Huda Nuryati Yuliana Pahrudin Arrozi Paridi, Khairul Putri Nur Fauziah Rahmat Hidayat Rahmawati Rahmawati Rika Apriani Rina Nurjani Safitri Rohana Hariana Intiana Rona Restu Victoria S, Aswandikari Saharuddin Saharudin Salahuddin Salahuddin Sinta Muhardini Sintayana Muhardini Siti Hasanah Sri Rejeki Sukuryadi, Sukuryadi Sulaiman Sarmo Sumarlam Sumarlam Syaharuddin Syaharuddin Syaifuddin Iskandar Syamsinas Jafar Syarifuddin Syarifuddin Utswatun Hasanah Vera Mendalina Yessi Tri Marizka Amalia Zulfan Hatami Zulfan