Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

KATA-KATA BERMAKNA KONOTASI DALAM LIRIK SAKECO SUMBAWA Ega Safitri; Burhanuddin Burhanuddin; Rahmat Hidayat
Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 11, No 1 (2023): Basastra: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/basastra.v11i1.69893

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk kata-kata bermakna konotasi dalam lirik sakeco Sumbawa. Penelitian ini menggunakan metode simak dan cakap. Untuk menganalisis data digunakan metode padan intralingual dan padan ekstralingual. Hasil analisis data disajikan dengan metode informal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa  pada 6 jenis sakeco  yaitu, sakeco pembangunan, sakeco akhirat, sakeco pendidikan, sakeco halal bihalal, sakeco pariwisata, dan sakeco kolonial Belanda ditemukan bentuk makna konotasi berupa kata, frasa, dan kalimat. Wujud berupa kata yang bermakna konotasi diantaranya kata bersih lamung, pupuk, ketawa, tokal, dsb. Wujud berupa frasa diantaranya frasa balang kulit, pamakan rohani, operasi tubuh, nyongong penge dan adu domba. Wujud berupa kalimat di antaranya kalimat Nuntang otak sanyonyong ne, balangan na balik bungkak, mate mu dela daki den, jiwa lemah dibuang ke laut, dadi bote’ bau balang, biarkan anjing menggonggong, kafila tetap berlalu, dan no i sayang harta benda.
INTERNAL INNOVATION OF TABA IN NORTHERN MALUKU HISTORICAL LINGUISTICS PERSPECTIVE Burhanuddin Burhanuddin
Humanus: Jurnal Ilmiah Ilmu-ilmu Humaniora Vol 16, No 2 (2017)
Publisher : Pusat Kajian Humaniora FBS Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (272.865 KB) | DOI: 10.24036/humanus.v16i2.8293

Abstract

The paper explains the internal phonological and lexical innovations in Taba language in North Maluku from historical linguistics perspective. 200 and 1000 basic and cultural vocabulary, respectively, have been collected using note-taking and recorded interviews in Taba language and other related languages, including Buli, Maba, Sawai, Gebe, and Gane. Data were analysed using horizontal approach, employing intralingual comparative-linking method. The analysis reveals that Taba language has nine phonological propensities which are unidentified in other languages in North Maluku. These include (1) realization of /s/ in the final position, preceded by dental consonants /d, t/; (2) omission, as opposed to appearance in other languages, of the first syllable; (3) realization of vowel /o/ in penultima sylable (otherwise i-o sequence in different syllables); 4) realization of consonant /h/ in ultima and penultima sylables; 5) realization of consonant /c/in the initial potition; 6) regular realization of vowel /a/ in the initial penultima syllable; 7) omission of the first syllable, followed by an addition of either a phoneme or syllable in the final position; 8) realization of /k/ in the final position; and 9) realization of /h/ in the central position. Meanwhile, the internal lexical innovation (the difference with the other five languages of South Halmahera is horizontal) can be observed in as such words that refer to awan ‘cloud’, baik ‘good’, belok ‘to turn’, gigit ‘to bite’, dekat ‘near’, ikat ‘bundle’, jahit ‘stitch’, jarum ‘needle’ and jika‘if’.Key words: internal innovations, historical linguistics, phonological innovations, lexical innovations.INOVASI INTERNAL BAHASA TABA DI MALUKU UTARA: PERSPEKTIF LINGUISTIK HISTORISAbstrakTulisan ini bertujuan menjelaskan inovasi internal aspek fonologi dan leksikal bahasa Taba di Maluku Utara dari perspektif studi linguistik historis. Data berupa 200 kosa kata dasar dan 1000 kosa kata budaya telah dikumpulkan dengan metode wawancara/cakap teknik catat dan rekam dalam bahasa Taba, dan lima bahasa lain yang sekerabatnya dengannya, yaitu Buli, Maba, Sawai, Gebe, dan Gane. Lalu, data dianalisis menggunakan pendekatan horizontal metode padan intralingual, teknik hubung-banding. Dalam bahasa Taba setidak-tidaknya memiliki sembilan kecenderungan fonologis yang tidak dimiliki oleh bahasa Halmahera Selatan lainnya. Yaitu, (1) merealisasikan bunyi /s/ pada posisi akhir yang diawali konsonan dental /d, t/; (2) mengalami penghilangan suku awal, sedangkan bahasa lain sebaliknya (muncul); (3) merealisasikan vokal /o/ (perendahan vokal) pada silabe penultima (atau pada urutan i-o pada silabe berbeda); (4) merealisasikan konsonan /h/ baik pada silabe penultima maupun ultima; (5) merealisasikan konsonan /c/ pada posisi awal; (6) merealisasikan vokal /a/ secara teratur pada silabe awal penultima; (7) terjadi penghilangan suku awal diikuti oleh penambahan fonem atau silabe pada posisi akhir; (8) merealisasikan /k/ pada posisi akhir; serta (9) merealisasikan bunyi /h/ pada posisi tengah. Adapun inovasi leksikal (perbedaannya dengan lima bahasa Halmahea Selatan lainnya secara horizontal) di antaranya dapat ditemukan pada kata yang bermakna ‘awan’, ‘baik’, ‘belok’, ‘gigit’, ‘dekat’, ‘ikat’, ‘jahit’, ‘jarum’, ‘jika, kalau’, dan sebagainya.Kata kunci: inovasi internal, linguistik historis, inovasi fonologi, dan inovasi leksikal.
PENYULUHAN KEMAMPUAN PIRANTI KEBAHASAAN GURU SMP/MTS DALAM PEMBELAJARAN BERBASIS TEKS DI KOTA MATARAM Sukri Sukri; Burhanuddin Burhanuddin; Aswandikari Aswandikari; Nasaruddin Ali
Jurnal Pendidikan dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 1 (2022): Februari
Publisher : FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.749 KB) | DOI: 10.29303/jppm.v5i1.3161

Abstract

Kegiatan pengabdian pada masyarakat (abdimas) ini berisi tentang cara mengatasi ketidakmampuan guru bahasa Indonesia SMP/MTs di Kota Mataram dalam penggunaan piranti kebahasaan dan tujuan sosial teks teks anekdot dan teks eksposisi. Kaitan dengan hal tersebut telah dilakukan penyuluhan tentang jenis dan pemakaian piranti kebahasaan serta tujuan sosial teks anekdot dan teks eksposisi, pada 7 September 2021 bertempat di SMPN 3 Mataram. Kegiatan dibagi menjadi tiga tahap, yaitu persiapan, pelaksanaan, dan pelaporan dengan metode koordinasi, koordinasi, komunikasi, presentasi, diskusi, dan unjuk kerja. Pada tahap persiapan telah dilakukan kegiatan koordinasi dengan pihak sekolah, penyiapan tempat dan fasilitas kegiatan, koordinasi dengan peserta kegiatan (melibatkan 30 guru bahasa Indonesia), serta penyiapan bahan penyuluhan (piranti kebahasaan dan tujuan sosial teks anekdot dan eksposisi). Kegiatan pelaksanaan merupakan kegiatan inti berupa penyampaian materi penyuluhan yang mencakup piranti kebahasaan dan tujuan sosial teks anekdot dan teks eksposisi. Bahwa piranti kebahasan yang belum optimal dikuasai untuk teks anekdot adalah keterangan waktu, kata kerja material, kata penghubung/konjungsi kronologis dan konjungsi penerang/penjelas (konjungsi intrakalimat: karena, tanpa, seperti, yang, antarkalimat: dia, nya, serta antara kalimat: sedangkan, lalu, setelah. Untuk teks eksposisi, piranti kebahasaan yang belum optima; dikuasai adalah penggunaan pronominal (-nya, ia, dia, kamu), penggunaan leksikal (verba, ajdektiva, advervia/keterangan), dan penggunaan konjungsi. Tujuan sosial teks anekdot adalah menceritakan beragai reaksi emosional dalam sebuah cerita dan struktur teksnya meliputi pengenalan/orientasi, masalah/komplikasi, reaksi. Adapun teks eksposisi memiiki tujuan sosial mendebat suatu sudut pandang dan memiliki struktur: tesis, argumentasi, reiterasi (pernyataan ulang tesis dengan pernyataan lain).
Kata-Kata Baru Bahasa Indonesia pada Masa Pandemi Covid-19 Nurjanah Nurjanah; Muhammad Sukri; Burhanuddin
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 2 No. 1 (2020): Maret
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.171 KB) | DOI: 10.29303/kopula.v2i1.2095

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan kata-kata baru bahasa Indonesia pada masa pandemi virus Corona (COVID-19). Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dimana hasil analisisnya diuraikan dengan kata-kata melainkan bukan dalam bentuk angka. Secara metodologis penelitian ini menggunakan metode simak, sedangkan analisis data menggunakan metode padan intralingual. Data dalam penelitian ini bersumber dari fakta kebahasaan yang berkaitan dengan pandemi Covid-19. Hasil penelitian menemukan bahwa sebagian besar istilah kata-kata baru yang ada masih berupa bahasa asing, hampir semua istilah sudah dipadankan atau diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, dan masih ada beberapa istilah atau kata-kata yang belum dimengerti secara luas oleh masyarakat
Tindak Tutur Asertif Gubernur Nusa Tenggara Barat Pada Media Sosial Instagram @Zulkieflimansyah Imamul Haramain; Sukri Sukri; Burhanuddin Burhanuddin
Kode : Jurnal Bahasa Vol 12, No 2 (2023): Kode: Edisi Juni 2023
Publisher : Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/kjb.v12i2.47331

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk medeskripsikan jenis tindak tutur asertif Gubernur Nusa Tenggara Barat pada media sosial Instagram @Zulkieflimansyah serta kecendrungan penggunaanya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Sumber data dalam penelitian ini adalah tuturan secara tertulis pada caption akun Instagram @Zulkiflimansyah. Metode pengumpulan data menggunakan metode simak, yakni teknik simak bebas libat cakap diikuti teknik sadap dan teknik lanjutan, yakni teknik catat, dan dokumentasi. Metode analisis data menggunakan metode padan intralingual dan ekstralingual dengan teknik lanjutan, yaitu hubung banding menyamakan (HBS), hubung banding membedakan (HBB), dan hubung banding menyamakan hal pokok (HBSP). Hasil penelitian ini menunjukan 23 jenis tindak tutur asertif yang digunakan yaitu; tindak tutur asertif „menyatakan‟ sebanyak 5 tuturan, tindak tutur asertif „memberitahukan‟ sebanyak 10 tuturan, tindak tutur asertif „menyarankan‟ sebanyak 2 tuturan, tindak tutur asertif „membanggakan‟ sebanyak 5 tuturan, tindak tutur asertif „mengeluh‟ sebanyak 1 tuturan dan tidak dijumpai tindak tutur asertif menuntut. Tindak tutur asertif yang sering digunakan adalah jenis tindak tutur asertif „memberitahukan‟.
Toponimi Nama Dusun di Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat Mardiarti Diniarti; Khairul Paridi; Burhanuddin Burhanuddin
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 4 No. 2 (2022): Oktober
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v4i2.2724

Abstract

Toponimi memiliki peran penting sebagai alat penanda suatu identitas masyarakat tertentu karena terkait dengan kejadian, cerita, atau tokoh. Tujuan penelitian ini adalah menjelaskan bentuk dan makna toponimi nama dusun Sasak di Desa Batu Mekar Kecamatan Lingsar Kabupaten Lombok Barat. Metode yang digunakan untuk mengumpulkan data adalah metode observasi dan wawancara. Data yang diperoleh kemudian dianalisis menggunakan prinsip dalam penelitian kualitatif. Pesan-pesan yang ingin disampaikan melalui maknanya berupa nilai-nilai yang mengatur hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam sekitar, dan hubungan manusia dengan tuhan yang di dalamnya berpegang kuat pada ajaran agama agar tericipta kerukunan dan kedamaian.
Sastra Sebagai Sarana Pengembangan Jati Diri: Aspek Moral Cerpen Si Kakek dan Burung Dara Karya Muhammad Fudoli: Literature as A Means Of Self Development: Moral Aspect of The Short Story Si Kakek dan Burung Dara by Muhammad Fudoli Burhanuddin; Mahsun; Kusdiratin
Jurnal Bastrindo Vol. 4 No. 1 (2023): Edisi Juni 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jb.v4i1.881

Abstract

Abstrak: Tulisan ini bermaksud menjelaskan unsur moral dalam cerpen Si Kakek dan Burung Dara karya Muhammad Fudoli yang dikaitkan dengan sarana pengembangan jati diri. Penelitian ini menggunakan metode dokumentasi untuk mengumpulkan aspek-aspek moral dalam cerpen. Data yang terkumpulkan kemudian dianalisis menggunakan analisis struktural. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dalam cerpen Si Kakek dan Si Burung Dara karya Muhammad Fudoli terdapat aspek moral yang dapat dijadikan sarana pembinaan dan pengembangan jati diri manusia Indonesia. Aspek-aspek moral dimaksud adalah percaya diri, pasrah akan kebesaran dan kekuasaan-Nya (takdir), cinta dan kasih sayang (baik sesama, lingkungan atau alam, maupun Tuhan), kehidupan dunia dan akhirat harus dijalani secara seimbang, serta pendidikan sejak dini untuk pengembangan kepribadian anak. Kebenaran suatu norma-norma dalam suatu masyarakat bersifat relatif karena harus merunut kepada norma yang hakiki dari Tuhan sebagai kontrol. Aspek moral ini sangat penting sebagai renungan dan bahan introspeksi karena berkaitan dengan aktivitas yang dapat memberikan alternatif dalam memutuskan atau melakukan suatu tindakan secara tepat dan benar. Abstract: This paper intends to explain the moral elements in the short story Si Kakek dan Burung Dara  by Muhammad Fudoli which are related to the means of developing identity. This study uses the documentation method to collect moral aspects in short stories. The data collected was then analyzed using structural analysis. The results of the study show that in the short story Si Kakek dan Burung Dara  by Muhammad Fudoli there are moral aspects that can be used as a means of fostering and developing Indonesian human identity. The moral aspects referred to are self-confidence, surrender to His greatness and power (destiny), love and compassion (both for each other, the environment or nature, as well as God), the life of the world and the hereafter must be lived in a balanced way, as well as education from an early age to child personality development. The truth of a norm in a society is relative because it must follow the essential norm from God as the control. This moral aspect is very important as a reflection and material for introspection because it relates to activities that can provide an alternative in deciding or taking an action correctly and correctly.
PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING BERBANTUAN MEDIA RODA PUTAR TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI LAJU REAKSI DI SMA NEGERI 1 LABUHAN HAJI Zulfan Hatami Zulfan; Burhanuddin Burhanuddin; Muti’ah Muti’ah; Rahmawati Rahmawati
SPIN JURNAL KIMIA & PENDIDIKAN KIMIA Vol. 5 No. 1 (2023): Januari - Juni 2023
Publisher : UIN Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20414/spin.v5i1.6883

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan media roda putar terhadap kemampuan berpikir kritis siswa di SMA Negeri 1 Labuhan Haji. Metode yang digunakan adalah quasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group yang dilaksanakan di kelas XI IPA 1 dan XI IPA 2 sebanyak 68 siswa. Teknik sampling yang digunakan yaitu purposive sumpling, dengan kelas XI IPA 2 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI IPA 1 sebagai kelas kontrol. Pengumpulan data menggunakan pretest dan posttest pada kelas kontrol dan kelas eksperimen. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa kelas eksperimen dan kelas kontrol dengan rerata N-Gain yaitu 0.65 dan 0.55 pada kategori cukup efektif dan kurang efektif. Pengujian data menggunakan non-parametrik yaitu uji Mann-Whitney. Hasil uji Mann-Whitney yaitu sebesar 0.000 < taraf signifikan yaitu 0.05, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran Problem Based Learning berbantuan media roda putar terhadap kemampuan berpikir kritis siswa pada materi laju reaksi di SMA Negeri 1 Labuhan Haji, hal ini terbukti bahwa pemberian perlakuan yang berbeda akan mendapatkan hasil yang berbeda.
PAN REFLECT TOWARDS TABANESE LANGUAGE: A PRELIMINARY STEP TO TEST ADRIANI AND KRUYT (1914) HYPOTHESIS (REFLEKS PAN KE DALAM BAHASA TABA: LANGKAH AWAL MENGUJI HIPOTESIS ADRIANI DAN KRUYT [1914]) Burhanuddin Burhanuddin
Leksema: Jurnal Bahasa dan Sastra Vol. 4 No. 2 (2019)
Publisher : UIN Raden Mas Said Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22515/ljbs.v4i2.1816

Abstract

Penelitian ini bertujuan menjelaskan refleks Proto-Austronesia (PAN) ke Bahasa Taba di Maluku Utara sekaligus untuk menguji hipotesis Adriani dan Kruyt (1914). Untuk menjelaskan permasalahan tersebut, secara metodologis digunakan metode wawancara kepada penutur bahasa Taba. Wawancara menggunakan 200 kosa kata dasar dan 500 kosa kata budaya. Analisis data menggunakan pendekatan top-down, metode perbandingan dan inovasi bersama sesuai yang terdapat dalam prinsip studi linguistik historis. Secara fonologis, bahasa-bahasa Austronesia Halmahera Selatan (termasuk Taba), menurut Adriani dan Kruyt (1914) terjadi penghilangan vokal akhir dan penghilangan bunyi tengah pada kata yang bertekanan silabe awal. Hasil Identifikasi ternyata, tidak semua vokal akhir PAN mengalami penghilangan dalam bahasa Taba, tetapi mengalami retensi dan inovasi. Begitu juga pada posisi tengah, sedikit sekali ditemukan data tentang hilangnya bunyi PAN tengah pada kata bertekanan pada silabe awal. Apakah hipotesis Adriani dan Kruyt (1914) tersebut berlaku pada anggota bahasa Austronesia Halmahera Selatan lainnya, perlu dikaji lebih lanjut.
Kekerasan Verebal pada Nama Julukan Bahasa Sasak Masyarakat Bebuak, Kopang, Lombok Tengah Lalu Taufan Halas; Burhanuddin Burhanuddin; Saharudin Saharudin
Jurnal Ilmiah Telaah Vol 8, No 1: January 2023
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/telaah.v8i1.13362

Abstract

This research took place in the Bebuak village, Kopang district, Central Lombok regency. The purpose of this study is to describe the lexicon of verbal violence in Sasak language nicknames in Bebuak village in everyday communication. The theoretical approach used is the anthropolinguistic approach. While, the methodological approach to research uses qualitative descriptive methods. For data collection using observation, record and interview. There are two results which can be drawn from this research. The first result is verbal abuse on nicknames in the Sasak language of the Bebuak people is calssified into two form, words and phrases. The second result is classification of the nickname function which consists of three function; the function of jokes/familiarity, the function of ridicule/insulting and the function as a differentiating identity. There are three sociocultural implications for Sasak society, namely the impact related to language ethics, which if the regulation is violated will get customary sanctions in the form of apologizing (mengaksama), fines (dedaosan) and not being spoken to for acertain time (kasepekang). Second, it is related to the norms inherent in the Bebuak community, namely the fading of the culture of manners in language and third, it relates to the psychis of the victim of verbal abse nicknames, where the victim will feel inferior, uncomfortable and embarrassed when the nickname is used in public places.
Co-Authors -, Ibrahim - -, Mintasrihardi - Abdul Wahab Agus Herianto Agus Kurniawan Ainul Yaqin Akhmad Syafruddin Akhmad Syafruddin Amanatul Hidayah Andilolo, Imanuella Romaputri Anwar Efendy Arifah Rahmatiah Ardianti Atika Almiana Ayidah Ayidah Ayu Nurmalayani Ayu Triana Putri Azanul Islam Azizah, Asma Baiq Dwi Intan Cahyani Chairani Syahrawati Djatmika Djatmika Dwi Purnanto Ega Safitri Erwansyah Erwansyah Febrita Susanti Harry Irawan Johari Hayatul Nufus Heru Sudriansyah I Dewa Gede Bisma Ilham Ilham Imamul Haramain Irma Setiawan, Irma Ismi Aisyah Umami Johan Mahyudi Joni Safaat Adiansyah Junaidi A.M Junaidi Am Kamaluddin Kamaluddin Kasdin Kasdin Kusdiratin Laila Yuparni Durratun Yatimah Lalu Muhamad Helmi Lalu Taufan Halas M Sobry M. Saleh M. Sobry Mahsun Mahsun Mahsun Mahsup Mahsup Mahyudi, Johan Mahyuni Mahyuni Mardiarti Diniarti Mardiyah Hayati Mar’aini Wulandari Mas&#039;ad Mas&#039;ad Mas,ad, Mas,ad Mochammad Asyhar Muhammad Ali Muhammad Khalis Ilmi Muhammad Salahuddin Muhammad Saleh Muhammad Sukri Muslimin Muslimin Mustika Aprilia Muti’ah Muti’ah N. Nurjanah Nasaruddin Ali Nurhayati, Nurhayati Nursainah Nurul Huda Nuryati Yuliana Pahrudin Arrozi Paridi, Khairul Putri Nur Fauziah Rahmat Hidayat Rahmawati Rahmawati Rika Apriani Rina Nurjani Safitri Rohana Hariana Intiana Rona Restu Victoria S, Aswandikari Saharuddin Saharudin Salahuddin Salahuddin Sinta Muhardini Sintayana Muhardini Siti Hasanah Sri Rejeki Sukuryadi, Sukuryadi Sulaiman Sarmo Sumarlam Sumarlam Syaharuddin Syaharuddin Syaifuddin Iskandar Syamsinas Jafar Syarifuddin Syarifuddin Vera Mendalina Yessi Tri Marizka Amalia Zainuddin Zainuddin Zulfan Hatami Zulfan