p-Index From 2021 - 2026
5.114
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Efektivitas Pelatihan Pemberian Dukungan Sosial pada Walinapi dengan Metode Bermain dan Permainan Peran Alimatus Sahrah; Reny Yuniasanti
Jurnal Psikologi Vol 45, No 2 (2018)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (576.578 KB) | DOI: 10.22146/jpsi.28038

Abstract

The skills of prisoner coaching to provide social support by walinapi in every penitentiary need to be improved. This experimental study aims to determine the effectiveness of social support training using the Game method and the Role Play method in improving the ability to make Social Support welfare against prisoners in the Penitentiary of Yogyakarta. The research subject was 20 prisoners guardian, consisting of 9 men and 11 women. Social Support Training with Game and Role Playing Methods is a treatment to enhance the welfare social support capabilities of prisoners. Training Effectiveness is measured by evaluation of reactions, evaluation of learning and behavioral evaluation. Measurement of social support capabilities is done before and after training using a scale based on 5 aspects of social support. The research data analysis uses independent t-test and pair comparison t-test techniques. The results of the study show that (1) social support training is effectively improving the ability to support social welfare of the prisoners; (2) there is no difference in effectiveness between social support training using the game method and the role play method.Abstrak :  Keterampilan pembinaan narapidana untuk memberikan dukungan sosial oleh walinapi di setiap Lembaga Pemasyarakatan perlu ditingkatkan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pelatihan dukungan sosial dengan menggunakan metode Bermain dan metode Permainan Peran dalam meningkatkan kemampuan melakukan Dukungan Sosial walinapi terhadap para narapidana di Lembaga Pemasyarakatan Yogyakarta. Subjek penelitian adalah 20 orang walinapi, yang terdiri dari 9 orang pria dan 11 orang wanita. Pelatihan Dukungan Sosial dengan metode Bermain dan Permaian Peran merupakan perlakuan untuk meningkatkan kemampuan dukungan sosial walinapi terhadap para narapidana. Efektivitas pelatihan diukur dengan evaluasi reaksi, evaluasi pembelajaran dan evaluasi perilaku. Pengukuran kemampuan dukungan sosial dilakukan sebelum dan sesudah pelatihan menggunakan skala yang berdasarkan lima aspek dukungan sosial. Analisis data penelitian menggunakan teknik independent t-test dan pair comparison t-test. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, (1) pelatihan dukungan sosial adalah efektif meningkatkan kemampuan melakukan dukungan sosial walinapi terhadap narapidana; (2) tidak ada perbedaan efektivitas antara pelatihan dukungan sosial yang menggunakan metode Bermain dan metode Permainan Peran.
Job Demands Dan Workplace Well-Being Pada Pekerja Hotel X Di Yogyakarta Arka Bandi Saputra; Reny Yuniasanti
Psikosains: Jurnal Penelitian dan Pemikiran Psikologi Vol 17 No 2 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/psikosains.v17i2.4581

Abstract

Penelitian ini memiliki hipotesis untuk untuk mengetahui hubungan antara job demands dengan workplace well-being pada pekerja hotel X di Yogyakarta. Subjek dalam penelitian ini berjumlah 60 pekerja yang memiliki karakteristik masa kerja minimal 1 tahun. Metode pengumpulan data menggunakan metode skala job demands dan workplace well-being. Teknik analisis data menggunakan analisis korelasi Product Moment dari Pearson Correlation. Berdasarkan hasil analisis data, diperoleh hasil (rxy) = -0,433 dengan p = 0,001 (p <0,05). Hasil tersebut menunjukan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara job demands dengan workplace well-being pada pekerja. Besarnya koefisien determinasi (R2) sebesar 0,187, artinya variabel job demands memberikan kontribusi sebesar 18,7% sebagai variabel yang berhubungsn dengan workplace well-being pekerja hotel X di Yogyakarta. Kesadaran akan job demands di tempat kerja, dapat meminimalisir workplace well-being yang rendah pada karyawan.
Psychological Capital Dan Job Hopping Pada Pekerja Generasi Millenial PT. X Venny Triana Putri; Reny Yuniasanti; Nina Fitriana
Psikosains: Jurnal Penelitian dan Pemikiran Psikologi Vol 17 No 1 (2022)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/psikosains.v17i1.4563

Abstract

Penelitian ini bermaksud untuk menguji secara empiris hubungan antara psychological capital dengan job hopping pada pekerja generasi millenial PT. X. Penelitian ini didesain sebagai survei korelasional. Subjek penelitian adalah 35 orang generasi millenial PT. X dengan pemilihan subjek menggunakan teknik purposive sampling. Instrument penelitian menggunakan Skala Psychological Capital dan Skala Job Hopping dari Yuen (2016). Teknik analisis data yang digunakan adalah Spearman’s rho. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara psychological capital dengan intensi job hopping dengan nilai koefisien korelasi (R) sebesar -0,304 dengan p = 0,038 (p < 0,05), semakin tinggi psychological capital pekerja generasi millenial PT. X akan semakin rendah tingkat job hopping pekerja generasi millenial PT. X.
CASE STUDY: PSYCHOPRENEUR'S INTENTIONS IN PSYCHOLOGY STUDENTS IN YOGYAKARTA AND JAKARTA Nia Wardhani; Reny Yuniasanti; Ratri Pratiwi; Wahyu Kuncoro; Muhammad Iqbal
Prima Magistra: Jurnal Ilmiah Kependidikan Vol. 3 No. 1 (2022): Volume 3 Nomor 1 Tahun 2022
Publisher : Program Studi PGSD Universitas Flores

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1114.821 KB) | DOI: 10.37478/jpm.v3i1.1445

Abstract

The character of an entrepreneur is reflected as an individual who is able to take risks and opportunities actively, creatively, innovatively, empowered, creative, initiative, leadership abilities, and initiative in new ways of acting. Entrepreneurship in the field of educational psychology is called psychoprenuer. The low level of student intention to entrepreneurship, especially in the field of psychology development, so the purpose of this study was to determine the level and factors of psychoprenuer intentions in psychology students in Yogyakarta and Jakarta. The research method was qualitative with a two-stage case study approach, namely analyzing the psychoprenuer intention scale and the factors that influence psychoprenuer intentions in psychology students in Yogyakarta and Jakarta. Development of the psychoprenuer interview intention instrument as a form of instrument data multiplication. Then testing the psychoprenuer intention level with the previously developed psychoprenuer intention scale. The data collection method in this study used a purposive sampling method with the sample criteria of students in the psychology department. Higher education can be a factor that influences the increase in the intention of psychology students to become psychopreneurs. To encourage students' intentions to become psychopreneurs, it is necessary to formulate a curriculum with related fields, this needs to be reviewed so that psychology graduates are able to adapt to the digital era and become a solution during the COVID-19 pandemic. Several factors that influence entrepreneurial intentions such as environment, family, education, personal values, age and gender. Environment, family and education are external factors while personal values, age and gender are internal factors that influence individual intentions to become entrepreneurs.
ANALISIS LEARNING AGILITY KARYAWAN MILENIAL DI MASA PANDEMI COVID-19 Celine Anjanique Aretha Surya; Reny Yuniasanti
Jurnal Psikologi Malahayati Vol 5, No 1 (2023): Jurnal Psikologi Malahayati
Publisher : Program Studi Psikologi Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpm.v5i1.7545

Abstract

AbstrakLearning agility menjadi sebuah kebutuhan di masa pandemi COVID-19 bagi para karyawan milenial dan di era digital ini karyawan milenial dituntut untuk memiliki learning agility. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat learning agility dengan analisis karyawan milenial di masa pandemi COVID-19. Subjek penelitian adalah 30 karyawan generasi milenial.Teknik sampling yang digunakan adalah purposive sampling dengan ciri berusia 22-41 tahun dan sudah bekerja minimal 3 bulan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kuantitatif deskriptif. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan skala yang disusun berdasarkan 5 aspek learning agility yang terdiri dari innovating, performing, reflecting, risking, dan defending. Teknik analisa data deskriptif menggunakan perbandingan mean hipotetik dan mean empirik serta uji perbedaan dengan anova satu jalur. Hasil penelitian menunjukkan learning agility karyawan generasi milenial berada pada kategori tinggi. Skor rata-rata karyawan dengan rentang usia 27 tahun dan periode lama bekerja 4 bulan dan 23 bulan merupakan skor paling tinggi. Uji perbedaan ditemukan bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan learning agility berdasarkan usia dan lama bekerja. Melalui penelitian ini diharapkan dapat memberikan wawasan dan ilmu pengetahuan mengenai tingkatan learning agility. Kata Kunci: Karyawan Milenial, Learning Agility, Pandemi COVID-19 AbstractLearning agility has become a necessity during the COVID-19 pandemic for millennial employees and in this digital era millennial employees are required to have learning agility. The purpose of this research is to look at learning agility with the analysis of millennial employees during the COVID-19 pandemic. The research subjects were 30 millennial generation employees. The sampling technique used was purposive sampling with characteristics aged 22-41 years and had worked for at least 3 months. The research method used is descriptive quantitative research method. Data collection in this study was carried out using a scale based on 5 aspects of learning agility consisting of innovating, performing, reflecting, risking, and defending. The descriptive data analysis technique uses a comparison of the hypothetical mean and the empirical mean and the difference test with one-way ANOVA. The results of the study show that the learning agility of millennial generation employees is in the high category. The average score of employees with an age range of 27 years and a long working period of 4 months and 23 months is the highest score. The difference test found that there was no significant difference in learning agility based on age and length of work. This research is expected to provide insight and knowledge about the level of learning agility. Keywords: Millennial Employees, Learning Agility, COVID-19 Pandemic
The correlation between experienced workplace incivility with the psychological well-being of employees: Hubungan antara experienced workplace incivility dengan kesejahteraan psikologis pada karyawan Reny Yuniasanti; Julia Sari
Psikologia: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi Vol. 18 No. 1 (2023): Psikologia: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Psikologi
Publisher : Talenta Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32734/psikologia.v18i1.10493

Abstract

This study aims to determine the relationship between experienced workplace incivility and the psychological well-being of employees. The research hypothesis is that there is a negative relationship between experienced workplace incivility and psychological well-being. The subjects in this study were 40 employees who filled out the experienced workplace incivility scale and the psychological well-being scale. The data analysis method used is the Pearson product-moment correlation. Based on data analysis, in testing the hypothesis of the relationship between experienced workplace incivility, a correlation coefficient of rxy -.368 (p<.005) is obtained, which means a negative relationship exists between experienced workplace incivility in employees. The coefficient of determination (R2) is .136 or 13.6%, and other factors influence the remaining 86.4%.
Efektivitas Keterlibatan Penyusunan Key Perfomance Indicator dalam Menurunkan Tingkat Resistensi terhadap Perubahan Sasaran Kinerja Nina Fitriana; Alimatus Sahrah; Reny Yuniasanti
JIP (Jurnal Intervensi Psikologi) Vol. 9 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Islam Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20885/intervensipsikologi.vol9.iss1.art6

Abstract

This research aims to examine the effectiveness of involvement in arranging key performance indicator to decrease of resistance to change level towards performance target for management trainee in University X. The subject of this research is management trainee consisting of experiment group and control group. The experiment group comprised of 16 people while the control group consisted of 8 people. The subjects of this research have at least master degree, work contract, and medium to high level of resistance to change fortarget performance. The research design used pretest posttest control group design. The data collection is conducted using scale of resistance to change for taget performance. The finding of this research indicated that the involvement in arranging key performance indicator is effective in decreasing the resistance to change level towards performance target for management trainee in University X.Key words: resistance to change, involvement, key performance indicator
PSYCHOLOGY FIRST AID VIRUS CORONA (COVID 19) (Sebagai Upaya Penanganan Awal di Masyarakat): PSYCHOLOGY FIRST AID CORONA VIRUS (COVID-19) (As an Initial Handling Effort in the Public) Alimatus Sahrah; Domnina Rani Puna Rengganis; Reny Yuniasanti
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Raflesia Vol. 6 No. 1 (2023): April : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bumi Raflesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pandemi Corona virus (Covid-19) telah menciptakan ketakutan dan kepanikan di masyarakat. Perlu pihak-pihak tenaga medis, psikolog, pemerhati kesejahteraan dan kesehatan masyarakat untuk untuk menyediakan layanan dukungan psikososial kepada masyarakat untuk mengurangi kecemasan ini. Pelatihan Psychological First Aid (PFA) merupakan salah satu cara yang dapat diberikan sebagai sarana berbagi ilmu dan pengetahuan, terutama tentang pertolongan pertama pada masalah psikologis, sekaligus dan bagaimana strategi meningkatkan dan memperkuat imunitas agar selalu dalam kondisi sehat baik secara fisik maupun psikologis di tengah kondisi pandemic Covid 19. Kegiatan pengabdian difokuskan pada Pelatihan Psychological First Aid (PFA) untuk meningkatkan Kesejahteraan Subjektif (Subjective Wellbeing) dan Resiliensi Kader Lansia di masa Pandemi Covid 19. Pelaksanaan Pelatihan Psychological First Aid (PFA) untuk meningkatkan Subjektif Wellbeing (SWB) dan resiliensi pada Kader Lansia dilaksanakan pada hari Senin, 14 September 2020. Salah satu metode Transpersonal Psychology yang dikenalkan dalam pelatihan dan pendampingan Psychological First Aid (PFA) ini adalah Dialog organ. Kesimpulan yang didapat dari pengabdian masyarakat ini adalah terdapat hubungan yang signifikan antara Subjective Wellbeing (SWB) dan resiliensi. Korelasi tersebut sebesar 0.792 dengan taraf signifikansi sebesar p=0.000. Hasil lain yang ditemukan dalam pengabdian ini adalah Pelatihan Psychological First Aid (PFA) dapat dengan efektif meningkatkan Subjective Wellbeing (SWB) yang dirasakan responden dengan taraf signifikansi sebesar p= 0.049 (p <0.05). Aspek dari Subjective Wellbeing (SWB) yang mengalami perubahan adalah pada Afek Negatif. Terdapat penurunan yang signifikan pada aspek Afek negatif dari sebelum pelatihan dan sesuadah pelatihan dengan taraf signifikansi sebesar p=0.025 (p <0.05) Kata Kunci: Psychological First Aid, subjective wellbeing, resiliensi, kader lansia, covid 19
KATARSIS PADA MAHASISWA MELALUI MEDIA SOSIAL: PSIKOEDUKASI MENINGKATKAN SELF DISCLOSURE Reny Yuniasanti; Dian Sartika Sari
DedikasiMU : Journal of Community Service Vol 5 No 3 (2023): DedikasiMU September
Publisher : Universitas Muhammadiyah Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30587/dedikasimu.v5i3.6331

Abstract

Sejak pandemic covid-19, masyarakat Indonesia terlebih mahasiswa semakin mengandalkan internet dalam menjalani rutinitas kesehariannya. Penggunaan media sosial semakin meningkat, hal ini dikarenakan media sosial menjadi sarana yang dapat digunakan untuk berkomunikasi atau bersosialisasi, mendapatkan informasi mengenai suatu hal, serta sebagai wadah aktualiasasi diri terutama saat ruang gerak terbatas pada situasi pandemic covid-19. Trisnani (2017) menyatakan bahwa WhatsApp merupakan media sosial yang paling banyak digunakan untuk berkomunikasi oleh generasi milenial di Indonesia. Syam, Makmur, dan Nur (2020) menambahkan penggunaan WhatsApp meningkat di Indonesia sejak pandemic covid-19. Disisi lain, dalam tahap perkembangan remaja membutuhkan suatu ruang dan interaksi yang nyata untuk bersosialisasi dengan teman sebaya. Media sosial dapat digunakan sebagai katarsis untuk menghilangkan kesepian dan mencapai kebahagiaan pada remaja. Teknik katarsis yang tepat dan santun diperlukan sekali untuk diinformasikan dan dilatih kepada remaja dalam bermedia sosial, hal ini dikarenakan banyaknya data yang menunjukkan bahwa remaja menggunakan dan memposting kata-kata yang kurang santun dalam menyampaikan ide dan pendapat di media sosial. Mengacu pada kondisi dan kebutuhan tersebut, maka psikoedukasi ini menjadi kegiatan yang sangat diperlukan bagi mahasiswa sebagai proses pembelajaran untuk tetap bahagia dan sehat mental.
Meningkatkan enterpreneurial leadership pada mahasiswa melalui experiential learning team project Reny Yuniasanti; Martaria Rizky Rinaldi; Komang Mahadewi Sandiasih
Jurnal Psikologi Terapan dan Pendidikan Vol 6, No 1 (2024): Mei
Publisher : Universitas Ahmad Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26555/jptp.v6i1.27405

Abstract

Entreprenurial leardership di Indonesia masih rendah dan perlu diupayakan untuk peningkatannya. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen quasi dengan desain one group pretest-posttest design yang memiliki tujuan untuk mengetahui pengaruh metode experential learning team project untuk meningkatkan entrepreneurial leardership pada mahasiswa. Responden penelitian ini sebanyak 32 orang dipilih dengan metode purposive sampling dengan karakteristik mahasiswa psikologi yang belum pernah mengambil mata kuliah psikologi komunitas dan sociopreneurship, serta perkuliahan secara tatap muka di kelas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa experential learning team project dapat meningkatkan entrepreneurial leadership mahasiswa (t=-14,15, p<0,05). Artinya, intervensi melalui metode experential learning team project mampu memberikan dampak positif dalam mengembangkan keterampilan enterpreneurial leadership di kalangan mahasiswa psikologi. Implikasi dari penelitian ini adalah bahwa pendekatan   experential learning team project dapat menjadi strategi efektif dalam meningkatkan kualitas entrepreneurial leadership di lingkungan pendidikan tinggi.