Claim Missing Document
Check
Articles

HUBUNGAN ANTARA KANDUNGAN KLOROFIL-a DENGAN HASIL TANGKAPAN TONGKOL DI DAERAH PENANGKAPAN IKAN PERAIRAN PELABUHANRATU Domu Simbolon; Harry Satriyanson Girsang
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 15, No 4 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2851.609 KB) | DOI: 10.15578/jppi.15.4.2009.297-305

Abstract

Perarran Pelabuhanratu merupakan pusat penangkapan ikan yang polensial da Jawa Barat. Salah satu produk perikanan yang memilik; nilai ekonomis penting yang terdapat di perairan tersebut adalah ikan longkol (Euthynnus affirls). Kandungan klorofil-a memegang peranan penting sebagai produser primer dalam ekosistem laut dan menjadi suatu indikator dalam pendugaan daerah penangkapan ikan. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan hubungan antara kandungan klorofil-a dengan hasil tangkapan ikan tongkol, dan mengevaluasi daerah penangkapan tongkol di perairan Pelabuhanratu dalam periode bulan Maret-Mei 2007. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode survei. Kandungan klorofil-a bulan Maret-Mei 2007 berkisar antara 0,240-0,600 mg m-3, dengan rata-rata 0,375 mg mn. Jumlah tangkapan ikan tongkol bulan Maret 2OO7 mencapai 15.345 kg dengan produktivitas 272,27 kgl setting, butan April 2007 meningkat sampai mencapai 62.638 kg dengan produktivitas 701,04 kglsetting. Selanjutnya pada butan Mei 2007, jumlah ikan tongkol yang tertangkap hanya 8.258 kg, tetapi produktivitasnya lebih tinggi dibandingkan bulan Maret, yaitu 401,55 kglseff/ng. Komposisi tangkapan ikan tongkoi ukuran kecil pada butan Maret-Mei 2007 mencapai 73oA da ri lotal tangkapan payang 82,641 kg. Klorofil-a berpengaruh terhadap tangkapan ikan longkolsetelah 30 haridi perairan Pelabuhanratu. Dalam periode bulan Maret-April 2007, daerahpenangkapan ikan tongkol paling potensial di perairan PelabuhanraiLr terdapat pada bulan April dibandingkan dengan bulan maret dan mei 2007. Pelabuhanratu waters is the central of potential fishing activities in West Java. One of its fisheries products which has an impoftant economical value is frigate mackeret (Euthynnus affinis). Chlorophy - a hold an impoftant role as the pimary prodLtcer in sea ecosystem and become one of indicator jn fishing grcund forecasting. The purposes of this study are to detennine the correlation between chlorophyll-a concentralion and figate mackerel catches, and to evaiuate fishing ground of frigate mackerel in Pelabuhanraiu waters on March-May 2007. The methoci used in lhis research was survey method.ChlorophylLa profile in March-May 2007 ranged from 0,240 0,600 mg m 3, wi l 0,375 mg m 3 in average. The amount of frigate mackerel catches in March rcached 15 345 kg with 272,27 kg/ setting in productivity value, in Apii, the catches increased to 62.638 kg with ptoductivity about 701 .Aq kg/setting. ln May 2007. the amount of frigate mackerel catches was rcnained I258 kg. but the productivity was higher compared to productivity in March (401,55 kg/setting in CpLjE s vatLle). The composition of small frigate mackerel caught by boat seine net (payang) on March-May 2OO7 reached about 73% from 82.641 kg in totals. Chlorophyll-a concentration influenced significanlty on frigate mackerel catches after 30 days in Pelabuhanratu waters. On the period of March-May 2007, the most potential fishing ground in Pelabuhanratu waters was found in April 2007 compared to March and May 2007.
ANALISIS DAERAH PENANGKAPAN IKAN POTENSIAL DI PULAU ENGGANO, BENGKULU UTARA Ully Wulandari; Domu Simbolon; Ronny Irawan Wahju
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 23, No 4 (2017): (Desember 2017)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (588.524 KB) | DOI: 10.15578/jppi.23.4.2017.253-260

Abstract

Pulau Enggano adalah salah satu pulau terdepan yang ada di Provinsi Bengkulu yang belum tereksplorasi secara maksimal, sehingga perlu dilakukan kajian untuk menggali potensi perikanan yang ada. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan daerah penangkapan ikan (DPI) di perairan Pulau Enggano. Penelitian ini dilakukan dengan melihat tiga aspek yaitu produktivitas, jumlah spesies hasil tangkapan dan ukuran ikan yang dominan yang layak tertangkap. Penentuan DPI dilakukan dengan menggunakan metode skoring terhadap tiga kriteria tersebut pada enam daerah penangkapan ikan (DPI) nelayan lokal. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa produktivitas total penangkapan gillnet adalah 1198.075 kg, sementara rawai adalah 1331.28 kg. Produktivitas rata-rata gillnet adalah 171.15 kg/trip, sementara rawai 190,18 kg/trip. Persentase ikan yang tertangkap didominasi oleh ikan-ikan yang berukuran layak tangkap sebesar 75-100%. Daerah penangkapan ikan yang potensial berada di Teluk Kiowa, Tanjung Kahoabi, Pulau Satu dan Tanjung Labuho dan tidak potensial untuk penangkapan ikan adalah Teluk Labuho dan Pulau Dua.Enggano Island is one of the foremost islands in Bengkulu Province that has not been maximaly explored, and research needs to be done to explore the potential of fisheries. This research aims to determine the potential fishing ground in Enggano Island. This research was conducted by looking at three aspects: productivity, the number of species caught and size of the dominant fish caught. Determination of fishing ground was performed using the scoring method against the three criteria within the six fishing ground. The results show that the total productivity of gillnet was 1,198,075 kg, while the rawai was 1331.28 kg. The average productivity of gillnet is 171.15 kg/trip, while the rawai is 190.18 kg/trip. The percentage of fish caught was dominated by appropriate size of 75-100%. The potential fishing grounds was in the Kiowa Bay, Kahoabi Cape, Pulau Satu, and Labuho Cape and the less potential fishing ground was Labuho Gulf and Pulau Dua. 
EFISIENSI PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN PULAU-PULAU KECIL KABUPATEN KEPULAUAN SITARO Dionisius Bawole; Domu Simbolon; Budy Wiryawan; Daniel R Minintja
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 20, No 2 (2014): (Juni 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.248 KB) | DOI: 10.15578/jppi.20.2.2014.121-127

Abstract

Pemanfaatan sumberdaya perikanan di Kabupaten Kepulauan Sitaro sudah mencapai 94,19% (pemanfaatan penuh) kondisi ini dapat berdampak pada usaha penangkapan ikan. Penggunaan alat tangkap yang efisien merupakan upaya untuk mempertahankan keberlanjutan usaha penangkapan ikan. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan untuk menghitung efisiensi teknis alat tangkap dominan yang digunakan masyarakat nelayan dengan menggunakan metode Data Envelopment Analyisis (DEA). Penelitian dilakukan di desa nelayan yaitu Buhias, Matole, Pahepa dan Tapile, yang merupakan kawasan pulau-pulau kecil di Kabupaten Kepulauan Sitaro. Alat tangkap yang dominan digunakan oleh nelayan dalam memanfaatkan sumberdaya perikanan adalah jaring ikan cakalang (soma hetung), pukat cincin (purse seine), jaring insang, jaring ikan layang (soma talang) dan pancing. Faktor input yang digunakan dalam analisis efisiensi penangkapan ikan meliputi investasi, biaya tetap, biaya variabel, lamanya waktu melaut (trip/jam) dan kekuatan mesin. Faktor output meliputi pendapatan dan jumlah tenaga kerja. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga alat tangkap yang efisien dalam penggunaan input dengan nilai 100 % yaitu jaring cakalang (soma hetung), purse seine, dan pancing. Dua alat tangkap lainnya yang kurang efisien (nilai di bawah100 %) adalah jaring ikan layang (91.50%) dan jaring insang (88,90%). Agar usaha penangkapan ikan berkelanjutan, maka pengurangan penggunaan input perlu dikurangi pada kedua alat tangkap tersebut.Utilization of fishery resources in the District of Sitaro Islands has reached 94.19% (full utilization) and impacted on fishing effort. In order to maintain sustainability fishing, efficient fishing gears should be applied. This study evaluated the technical efficiency of dominant fishing gears of fishermen in Buhias, Matole, Pahepa and Tapile (coastal villages in the region of small islands in Sitaro) by using Data Envelopment Analysis (DEA). Dominant fishing gears used by the fishermen are round skipjack net (soma hetung), purse seine, gill nets, round scad net (soma talang) and hand line. Input factors used in this analysis cover investment, fixed costs, variable costs, length of fishing (trip/hour) and power of engine; while output factors include income and number of fishermen. The results showed that three efficient fishing gears in using inputs 100% are round skipjack net (soma hetung), purse seine and hand line. The other two gears i.e., gill net and roundscad net (soma talang) are less efficient, due to the input using under 100% (round scad net 91.50% and gill net 88.90%). Therefore the using of inputs on those gears should be reduced for a sustainable fishing effort.
KELEMBAGAAN KEUANGAN MENDUKUNG INDUSTRI PENANGKAPAN TUNA DI INDONESIA Charles Bohlen Purba; John Haluan; Domu Simbolon; Sugeng Hari Wisodo
Jurnal Kebijakan Perikanan Indonesia Vol 1, No 1 (2009): (Mei 2009)
Publisher : Pusat Riset Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (48.381 KB) | DOI: 10.15578/jkpi.1.1.2009.77-85

Abstract

Perikanan tuna berpeluang dikembangkan di Indonesia. Kekurangan dana dan perhatian institusi perbankan merupakan salah satu kendala. Pada dasarnya terdapat beberapa skema pembiayaan yang dapat digunakan pengusaha untuk pengembangan usaha perikanan tuna. Skema tersebut dibahas pada makalah ini. Salah satu skema tersebut adalah lembaga keuangan non bank yang dikembangkan secara bersama oleh perbankan dan masyarakat. Pemerintah patut melakukan sosialisasi pada perbankan tentang peluang pengembangan usaha di bidang perikanan tuna.Tuna fishery has an opportunity to be developed in Indonesia. However, financial unavailabity and unawareness of banking institutions are hindrances of development. There are several financial schemes that can be used to develop tuna fishery that are elaborated in this paper. One of those are non banking institution that is co established by banking institution and fishermen. The government should provide information to and aware banking institutions on tuna fishing opportunity and its business prospects.
SELEKSI UNIT PENANGKAPAN IKAN TEPAT GUNA DI PULAU ENGGANO, PROVINSI BENGKULU Ully Wulandari; Domu Simbolon; Ronny I Wahju
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 1 No. 1 (2017): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (671.34 KB) | DOI: 10.29244/core.1.1.21-36

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menyeleksi dan menentukan unit penangkapan ikan yang tepat guna di Perairan Pulau Enggano Provinsi Bengkulu. Penelitian dilakukan di Desa Kahyapu yang merupakan desa penghasil ikan terbesar di Pulau Enggano. Nelayan lokal menggunakan alat tangkap tradisional, namun hasil tangkapan yang diperoleh tetap maksimal. Hal tersebut mengindikasikan adanya potensi yang bisa digali lebih dalam untuk kesejahteraan masyarakat di pulau terluar dan terpencil di Provinsi Bengkulu. Pulau Enggano juga telah dicadangkan sebagai Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD) oleh Pemerintah Bengkulu Utara. Hal inilah yang menjadi latar belakang  penelitian, supaya aktivitas ekonomi masyarakat dari kegiatan perikanan tangkap dan upaya pelestarian yang dilakukan oleh pemerintah Bengkulu Utara dapat berjalan tanpa tumpang tindih. Penelitian dilakukan dengan melakukan Multiple Criteria Analysis (MCA) terhadap aspek biologi, teknologi, sosial dan ekonomi dari dua jenis alat tangkap yang digunakan oleh nelayan Desa Kahyapu, yaitu gillnet dan rawai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unit penangkapan ikan tepat guna yang memiliki urutan prioritas utama adalah rawai yang unggul dalam ke-empat aspek pengamatan. Rawai secara finansial dan benefit memberikan nilai yang lebih tinggi bila dibandingkan dengan gillnet. Hasil analisis MCA untuk standarisasi B/C ratio dari alat tangkap rawai adalah 0,49 sedangkan gillnet adalah 0,34. Nilai R/C ratio alat tangkap rawai yang telah distandarisasi menggunakan analisis MCA adalah 0,51 sedangkan gillnet adalah 0,33.Kata kunci:gillnet, multi kriteria analisis, pulau enggano, rawai, seleksi unit penangkapan ikan
KEBERLANJUTAN PERIKANAN TUNA DI PERAIRAN SENDANGBIRU KABUPATEN MALANG Made Mahendra Jaya; Budy Wiryawan; Domu Simbolon
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 1 No. 1 (2017): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (403.266 KB) | DOI: 10.29244/core.1.1.111-125

Abstract

Ikan tuna memiliki nilai ekonomis penting dan tersebar hampir di seluruh wilayah di perairan Indonesia. Kegiatan pemanfaatan sumberdaya tuna telah memberikan kontribusi yang besar bagi sektor perikanan di Indonesia. Kebutuhan dan tingginya permintaan pasar terhadap ikan tuna menyebabkan intensitas penangkapan ikan ini semakin meningkat. Peningkatan intensitas penangkapan ikan tuna terjadi di seluruh wilayah perairan Indonesia. Tingginya intensitas penangkapan ikan tuna khususnya di daerah Selatan Jawa dikhawatirkan akan mengancam kelestarian dan keberlanjutan pemanfaatan sumberdaya ikan tuna. Daerah Sendangbiru di Kabupaten Malang merupakan salah satu daerah penghasil tuna terbesar di Jawa Timur. Peningkatan intensitas penangkapan ikan tuna di daerah ini juga terjadi setiap tahunnya. Analisis keberlanjutan dari kegiatan perikanan tuna sangat perlu dilakukan untuk mengetahui keadaan terkini dari perikanan tuna di daerah Sendangbiru. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat keberlanjutan dari masing-masing domain atau aspek yang ada di dalam EAFM dan menentukan tingkat keberlanjutan kegiatan perikanan tuna di perairan Sendangbiru. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan pendekatan berbasis ekosistem (Ecosystem Approach to Fisheries Management / EAFM). Hasil dari penelitian ini menunjukan aspek yang memiliki tingkat keberlanjutan sangat baik meliputi aspek teknik penangkapan ikan, ekonomi dan kelembagaan, sedangkan domain/aspek yang memiliki tingkat keberlanjutan sedang meliputi sumberdaya ikan, habitat dan ekosistem perairan dan sosial. Tingkat keberlanjutan kegiatan perikanan tuna di daerah Sendangbiru tergolong baik. Perolehan nilai dari analisis komposit dari setiap domain dalam indikator EAFM sebesar 80.28.Kata kunci:keberlanjutan, perikanan tuna, EAFM
PERSEPSI PEMANFAATAN PETA DAERAH PENANGKAPAN IKAN DI PERAIRAN SENDANG BIRU MALANG Onesimus Dhyas Dwi Atmajaya; Domu Simbolon; Budy Wiryawan
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 1 No. 2 (2017): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (349.691 KB) | DOI: 10.29244/core.1.2.163-170

Abstract

Perairan Sendang Biru merupakan perairan yang sangat potensial sebagai daerah penangkapan ikan di Pantai Selatan Jawa, lokasi yang berbatasan langsung dengan Samudera Hindia memungkinkan terjadinya masukan-masukan ikan dari perairan bebas sehingga menambah keanekaragaman jenis ikan yang ditangkap. Berdasarkan informasi yang diperoleh dari DKP Kabupaten Malang (2013) produksi perikanan di Sendang Biru terus meningkat dari tahun ke tahun, dimana pada tahun 2010 produksi perikanan tercatat 9600 ton dan meningkat menjadi 10566 ton pada tahun 2013, dan diprediksi akan terus mengalami peningkatan sekitar 5 % pertahun. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui persepsi para aktor dan agen mengenai informasi pemanfaatan peta perencanaan daerah penangkapan ikan (PPDPI) yang dibuat oleh Balai Penelitian dan Observasi Laut(BPOL). Para aktor berpendapat bahwa PPDPI masih belum terlalu penting, maka dari itu perlu adanya pendekatan secara insentif dari agen dalam pengelolaan perikanan secara berkelanjutan menggunakan PPDPI.Kata kunci: informasi, insentif, persepsi, daerah penangkapan ikan, aktor, agen.
INTERAKSI KEBIJAKAN PERIKANAN TANGKAP DAN KEARIFAN LOKAL DI PERAIRAN UTARA ACEH Rahmat Rizqi; Domu Simbolon; Mustaruddin Mustaruddin
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 1 No. 3 (2017): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (369.161 KB) | DOI: 10.29244/core.1.3.257-264

Abstract

Hukum adat laot merupakan bentuk kearifan lokal yang tumbuh dari komunitas masyarakat Aceh. Kearifan lokal dalam bentuk hukum adat laot seisinya tidak bertentangan dengan kebijakan pemerintah daerah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan hukum adat laot dengan kebijakan pemerintah dan Menentukan strategi pemanfaatan kawasan penangkapan ikan berbasis kearifan lokal. Analisis metode penelitian ini menggunakan deskriptif dan SWOT. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Panglima Laot sebagai otoritas hukum / kearifan lokal mendapatkan pengakuan hukum positif dari pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Hukum adat laot / kearifan lokal di perairan utara Aceh memiliki peran utama dalam mewujudkan pembangunan perikanan berkelanjutan karena dalam nilai-nilai kearifan lokal mengandung banyak unsur perikanan dan tangkapan yang ramah lingkungan. Strategi kebijakan perikanan tangkap berbasis kearifan lokal adalah peningkatan kapasitas kelembagaan Panglima Laot sebagai pemangku adat Laot (kearifan lokal), serta pengembangan kapal perikanan dan alat penangkap ikan yang efisien, efektif, dan ramah lingkungan.Kata kunci: hukum adat laot, kebijakan, strategi.
STRATEGI PENGELOLAAN PERIKANAN TANGKAP DI KAWASAN KONSERVASI PERAIRAN DAERAH (KKPD) LINGGA DI KABUPATEN LINGGA Gogo Kamargo; Domu Simbolon; Mustaruddin .
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 2 No. 3 (2018): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (338.143 KB) | DOI: 10.29244/core.2.3.333-342

Abstract

Kawasan Konservasi Perairan Daerah Lingga telah ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Bupati Kabupaten Lingga dengan No.280/KPTS/X/2014 seluas kurang lebih 385. 467,5 Ha, diberi nama KKPD Datok Bandar.Tujuan dari penelitian ini adalah menyusun strategi Pengelolaan Perikanan tangkap di KKPD Lingga. Rekomendasi strategi pengelolaan Perikanan tangkap ; 1) Peningkatan kesadaran masyarakat pesisir terhadap kelestarian lingkungannya. 2) Optimalisasi produktivitas perikanan tangkap skala kecil melalui peningkatan kwalitas SDM nelayan. 3) Penegakkan hukum secara tegas dan peningkatan sistem pengawasan pemanfaatan sumberdaya ikan berbasis masyarakat, termasuk peningkatan kwalitas SDM pengawas. 4) Pengembangan infrastruktur perikanan tangkap, termasuk sistem  logistik penyediaan BBM. 5) Peningkatan kerjasama usaha penangkapan ikan melalui program kemitraan, untuk menjamin keberlanjutan biayaya operasional, dan pengembangan investasi usaha. 6) Pengembangan nilai tambah hasil perikanan tangkap untuk mensejahterakan pendapatan nelayan.Kata kunci : Kawasan Konservasi Perairan Daerah (KKPD), KKPD Lingga, Perikanan Tangkap.
PEMUTAKHIRAN KURIKULUM SERTIFIKASI ANKAPIN I BERDASARKAN STCW-F 1995 Nur Atika Hasibuan; Fis Purwangka; Domu Simbolon
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 4 No. 3 (2020): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.4.3.241-256

Abstract

Sertifikat Ahli Nautika Kapal Penangkap Ikan tingkat 1 (ANKAPIN-I) adalah sertifikat yang wajib dimiliki oleh nakhoda dan perwira jaga navigasi sebagai bukti keterampilan dan keahlian yang dimiliki untuk bekerja di atas kapal ikan penangkapan ikan yang berukuran 24 meter atau lebih. Kurikulum sertifikasi ANKAPIN-I di Indonesia harus sesuai konvensi STCW-F 1995 dengan harapan nakhoda dan perwira jaga navigasi yang bekerja di atas kapal asing diperlakukan sesuai peraturan yang berlaku. Penelitian bertujuan (1) Menentukan kesesuaian kurikulum kompetensi STCW-F 1995 dengan kurikulum sertifikasi di Indonesia melalui jalur pendidikan, (2) Menentukan pencapaian kompetensi STCW-F 1995 di lembaga pendidikan di Indonesia. Metode penelitian dilakukan dengan studi literatur. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan metode deskriptif komparatif dan analisis konten kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kurikulum maupun elemen dalam pengambilan sertifikasi ANKAPIN-I di lembaga pendidikan Indonesia belum sesuai dengan konvensi STCW-F 1995. Untuk mempersamakan kurikulum ANKAPIN I diperlukan pemutahiran kurikulum dan elemen terkait tata laksana keselamatan FAO/ILO/IMO untuk awak kapal ikan 24 meter ke atas, pencegahan kebakaran, alat-alat pemadam kebakaran, penyelamatan, pencarian dan pertolongan, pelayanan medis, metode untuk mendemonstrasikan keterampilan serta memberikan sanksi kepada lembaga pendidikan yang melanggar konvensi STCW-F 1995. Kata kunci: konvensi STCW-F 1995, lembaga pendidikan, sertifikat ANKAPIN-I
Co-Authors Agung Nugraha Agus Atmadipoera Agustin Indrayanto Alberth Ch Nanlohy Alfa F.P Nelwan Alfi Sahri Remi Baruadi Am Azbas Taurusman Amiruddin Amiruddin Ari Purbayanto Arif Febrianto Asep Priatna Asep Priatna Azis, Ravy Nur Bambang Murdianto Bambang Murdiyanto Bambang Murdiyanto Bambang Murdiyanto Bawole, Dionisius Benediktus Jeujanan Bubun, Rita L. Budhi H. Iskandar Budhi H. Iskandar Budhi Hascaryo Iskandar Budi Wiryawan Budy Wiryawan Charles Bohlen Purba Charles Bohlen Purba D. Ernaningsih Dandi Rahmad Putra Daniel Monintja Daniel R Minintja Daniel R. Monintja Darmawan Delly Dominggas Paulina Matrutty Delly Dominggas Paulina Matrutty deni sarianto Didik Santoso Dwi Ernaningsih Dwi Putra Yuwandana Eko Sri Wiyono Emma Suri Yanti Siregar, Emma Suri Yanti Endratno Endratno Fardilah, Muhammad Fajar Fajri Febri, Suri Purnama Fedi Alfiadi Sondita Fis Purwangka Gogo Kamargo Handy Chandra Hanifa, Irfan Harahap, Antoni Harry Satriyanson Girsang Hartrisari Hardjomidjojo Hendro Wahyudi Hestirianoto, Totok Hidayani, Putri Azzahra Hutagalung, Revica Rosye Huwaida, Hanifah Indra Jaya Irfan Yulianto Iwan Gunawan Jacomina Tahapary Jacomina Tahapary John Haluan John Haluan Jonson Lumban Gaol Julia E. Astarini Julia Eka Astarini Khairul Amri Kresna Handoyo Lucien Pahala Sitanggang M. Fedi A. Sondita M. Fedi A. Sondita M. Fedi A. Sondita M. Fedi Sondita Made Mahendra Jaya Mario Limbong Meizar Malanesia Mohammad Imron Mohammad Khotib Muhamad RE Prayitno Muhammad Fedi Alfiadi Sondita Muhammad Syahdan Muklis Muklis Mulyono S. Baskoro Muslim Tadjuddah Mustaruddin Nanda Rizki Purnama Nur Atika Hasibuan Nurwijayanti Onesimus Dhyas Dwi Atmajaya Prasetiyo, Shidiq Lanang Prihatin Ika Wahyuningrum Putra, Demo Buana Rahmad, Adrul Rahmat Rizqi Raihan, M. Reza Retno Muninggar Ridwan Sala Rika Rizkawati Ririn Irnawati Ririn Irnawati Ririn Irnawati Robert Tambun Ronny I. Wahju Roza Yusfiandayani Rudy C. Tarumingkeng Ruslan Husen Saban Tawari Sabila, Fathiha Rizki Samsul Bahri Santausa, Imam Teguh Santausa, Teguh Silvanus Maxwel Simange Silvia Silvia Siti Istiqomah Sri Yulina Wulandari Sugeng H. Wisudo Sugeng Hari Wisodo Sulaeman Martasuganda Sulaeman Martasuganda Sulaeman Martasuganda Supartono Supartono Suro Hari Wisudo Sutomo Sutomo Sutomo Sutomo T. Ersti Yulika Sari Tarigan, Daniel Julianto Thomas Nugroho Tiara, Tiara Titien Sofiati Toharo, Kasab Tri Wiji Nurani Ully Wulandari, Ully Victor P. H. Nikijuluw Victoria E. N. Manoppo Vincentius P Siregar Violitta, Susanti Rahayu Wahdati, Fajriyah Cahyani Wazir Mawardi Weni Damayanti Wesley Simanungkalit Widya Angela Fajrin Wikanti Asriningrum Wisudo, Suro Hari Yopi Novita Yopi Novita Zulkarnain Zulkarnain Zulkarnain