Julie Ekasari
Department Of Aquaculture, Faculty Of Fisheries And Marine Science, IPB University, Bogor 16680, Indonesia

Published : 53 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Utilization of biofloc meal as a feed ingredient for Nile tilapia and common carp Ekasari, Julie; Pasha, Hilda Kemala; Priyoutomo, Nur Bambang
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 1 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4813.568 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.1.9-15

Abstract

ABSTRACTThis study was aimed to evaluate the utilisation of biofloc meal collected from biofloc-based catfish intensive culture as a mix ingredient for Nile tilapia Oreochromis niloticus and common carp Cyprinus carpio diet. A control diet containing 29.03% crude protein was used in this experiment. Experimental diet was made by mixing 30% biofloc waste meal with the control diet and repelleted after the addition of 2% of binder. To determine the experimental feed digestibility, 0.5% of Cr2O3 was added as a marker for digestibility. The feed was offered to satiation at a frequency of 3 times a day for 28 days of experimentation. Nile tilapia and common carp juveniles with an initial average body weight of 11.72±0.04 g and 8.81±0.04 g, respectively, were used as the experimental animals. Each fish species were randomly stocked with a density of 10 fish/aquarium (30´45´30 cm3). The results showed that dry matter digestibility of diets with 30 % biofloc waste meal in both fish species were significantly lower than those of the controls (P<0.05). However, protein, lipid and phosphorus digestibilities of diets containing biofloc waste meal were significantly higher than those of the controls (P<0.05). Feeding with biofloc waste meal mixed feed to tilapia resulted in lower growth rate compared to that to fed control feed. On the other hand, similar treatment to common carp resulted in comparable growth rate to the control treatment.Keywords: biofloc meal, digestibility, growth performance, tilapia, common carp ABSTRAK                                                                                      Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pemanfaatan tepung bioflok yang dikumpulkan dari limbah pemeliharaan ikan lele intensif berbasis teknologi bioflok sebagai campuran pakan untuk ikan nila Oreochromis niloticus dan ikan mas Cyprinus carpio. Pakan kontrol yang digunakan adalah pakan komersial dengan kadar protein 29,03%. Pembuatan pakan uji dilakukan dengan mencampurkan tepung limbah bioflok (30%) dengan pakan kontrol (67,5%) dan dibentuk pelet kembali setelah dilakukan penambahan binder sebanyak 2% dan Cr2O3 sebanyak 0,5% sebagai penanda untuk menganalisis kecernaan pakan dengan tepung limbah bioflok. Pakan diberikan secara at satiation dengan frekuensi pemberian pakan 3 kali/hari selama 28 hari pemeliharaan. Bobot rata-rata ikan awal adalah 11,72±0,04 g untuk ikan nila, dan 8,81±0,04 g untuk ikan mas dengan kepadatan awal masing-masing 10 ekor/akuarium (30´45´30 cm3). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai kecernaan total pakan dengan tepung limbah bioflok baik pada ikan nila maupun ikan mas lebih rendah daripada pakan kontrol (P<0,05). Namun demikian, kecernaan protein, lemak, dan fosfor pakan dengan campuran tepung limbah bioflok lebih tinggi daripada kontrol (P<0,05). Pemberian tepung limbah bioflok sebanyak 30% sebagai campuran pakan menghasilkan laju pertumbuhan spesifik ikan nila yang lebih rendah (P<0,05), sedangkan perlakuan yang sama pada ikan mas memberikan laju pertumbuhan spesifik yang tidak berbeda nyata dengan kontrol (P>0,05). Kata kunci: tepung limbah bioflok, kecernaan, kinerja pertumbuhan, ikan nila, ikan mas
The growth performance and resistance to salinity stress of striped catfish Pangasius sp. juvenile in biofloc system with different feeding rates Meritha, Wellya Wichi; Suprayudi, Muhammad Agus; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 17 No. 2 (2018): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3346.398 KB) | DOI: 10.19027/jai.17.2.113-119

Abstract

ABSTRACTThis study aimed to evaluate the growth performance and resistance to salinity stress of striped catfish juvenile reared in biofloc with different feeding rate (FR). The treatments applied in this study were rearing the fish in biofloc with FR 5% and 8% of biomass per day, and rearing the fish with a FR of 8% per day without biofloc system as the control. The fish with an initial average length of 1.81 ± 0.20 cm were stocked in 9 units of  50 L aquaria with density of 40 ind/aquaria (800 ind/m3) for 15 days rearing period. In biofloc systems, the addition of tapioca as a source of organic carbon was done every day with an estimated C/N ratio of 10. No water exchange was done in biofloc systems, whereas regular water exchange was applied in the control. Results of the experiment showed that survival was not significantly different amongst treatments (P>0.05).  However, the specific growth rate of the fish in biofloc system with a FR of 8% per day showed the highest value and was significantly different from other treatments (P<0.05). Fish reared in biofloc system tend to have lower feed conversion ratios (FCRs) than the control. The lowest FCR was found in fish reared in biofloc system with 5% FR and significantly lower than control (P<0.05).  Salinity stress test was conducted by soaking 15 juveniles in water with a salinity of 20 g/L for an hour. The survival of fish after salinity stress test were significantly higher for fish reared in bifloc system than control (P<0.05). These data showed that rearing striped catfish juvenile in biofloc system could reduce FCR, increase the growth, and robustness of fish. Keywords: biofloc, feeding rate, growth, salinity stress test, striped catfish  ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kinerja pertumbuhan dan ketahanan benih ikan patin terhadap stres salinitas yang dipelihara dalam sistem bioflok dengan tingkat pemberian pakan (FR) berbeda. Perlakuan yang terdapat dalam penelitian ini adalah benih patin yang dipelihara dalam sistem bioflok dengan FR 5% dan 8% per hari, dan pemeliharaan benih dengan FR 8% per hari tanpa penambahan sumber karbon sebagai kontrol. Benih patin dengan panjang rata-rata awal 1,81 ± 0,20 cm dipelihara dalam 9 unit akuarium dengan volume air 50 L dan kepadatan 40 ekor/akuarium (800 ekor/m3) selama 15 hari. Pada sistem bioflok, penambahan tapioka sebagai sumber karbon dilakukan setiap hari dengan C/N 10. Pada sistem bioflok tidak dilakukan pergantian air, sedangkan pada kontrol dilakukan pergantian air. Kelangsungan hidup ikan tidak berbeda nyata antar perlakuan. Namun, tingkat pertumbuhan spesifik ikan dalam sistem bioflok dengan FR 8% per hari menunjukkan nilai tertinggi dan berbeda nyata antar perlakuan (P<0,05). Benih yang dipelihara pada sistem bioflok memiliki rasio konversi pakan (FCR) yang lebih rendah dibandingkan kontrol, namun tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara perlakuan bioflok (P>0,05). Uji stres salinitas dilakukan dengan merendam 15 ekor benih patin pada air dengan salinitas 20 g/L selama satu jam. Kelangsungan hidup setelah uji stres salinitas dari benih yang dipelihara di bioflok secara signifikan lebih tinggi dibandingkan kontrol (P<0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemeliharaan benih patin pada sistem bioflok dapat menurunkan FCR, dan meningkatkan pertumbuhan dan ketahanan ikan terhadap stres salinitas. Kata kunci: bioflok, feeding rate, pertumbuhan, uji stres salinitas, ikan patin 
The digestibility of biofloc meal from African catfish culture medium as a feed raw material for Pacific white shrimp Ekasari, Julie; Suprayudi, Muhammad Agus; Elas, Putri; Senja, Reza Karunia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 1 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3465.216 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.1.1-8

Abstract

ABSTRACTThis study was conducted to evaluate the digestibility of biofloc meal collected from catfish culture as a feed raw material for Pacific white shrimp Litopenaeus vannamei diet. A basal feed with 43% crude protein content was used as a control diet and mixed with 2% of binders and 0.5 % of Cr2O3 as a marker for digestibility. The experimental diets were made by mixing 67.5% of the basal diet with 30% of biofloc meal, 2% of binders and 0.5 % of Cr2O3. Nine units of glass tanks (90 cm ×40 cm× 35 cm) filled with 100 L seawater were used as the experimental culture units. White shrimp with an average body weight of 5.61 ± 0.09 g was randomly distributed to each experimental tank at a density of 20 shrimp/tank. The feed was offered at a level of 5% shrimp biomass per day at a frequency of four times a day. The results showed that the dry matter digestibility of feed with 30% biofloc meal in shrimp were similar to that of the reference diet. However, protein and fat digestibility of feed containing biofloc meal were considerably higher than those of the reference diet. Feeding shrimp with 30% biofloc meal diet resulted in higher survival and specific growth rate and lower feed conversion ratio than those of the control. The digestibility of bioflocs dry matter, protein and lipid in Pacific white shrimp obtained in this study were 54.9%, 76.3% and 79.3%, respectively.Keywords: biofloc, digestibility, catfish, shrimp  ABSTRAKPenelitian ini dilakukan untuk mengevaluasi kecernaan tepung bioflok yang diambil dari media pemeliharaan ikan lele sebagai bahan pakan udang vaname Litopenaeus vannamei. Pakan yang mengandung kadar protein 43% digunakan sebagai pakan control dan dicampur dengan 2% binder dan 0.5% Cr2O3 sebagai marker untuk kecernaan. Pakan perlakuan dibuat dengan mencampurkan 67.5% pakan control dengan 30% tepung bioflok, 2% binder dan 0.5% Cr2O3. Penelitian menggunakan sembilan unit akuarium (90 cm ×40 cm ×35 cm) yang diisi 100 L air laut. Udang vaname dengan bobot rata-rata 5.61 ± 0.09 g ditebar secara acak pada setiap akuarium perlakuan pada kepadatan 20 ekor/akuarium. Pakan diberikan dengan tingkat pemberian pakan 5% biomassa per hari sebanyak empat kali sehari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kecernaan pakan dengan 30% tepung bioflok tidak berbeda nyata dengan pakan acuan. Namun kecernaan protein dan lemak pakan yang mengandung tepung bioflok terlihat lebih tinggi daripada pakan kontrol. Pemberian pakan dengan tepung bioflok sebanyak 30% juga menghasilkan tingkat kelangsungan hidup, laju pertumbuhan spesifik udang dan rasio konversi pakan yang lebih baik daripada udang yang diberi pakan kontrol. Kecernaan bahan, protein dan lemak tepung bioflok pada udang yang didapat dalam penelitian masing-masing adalah 54.9%, 76.3% dan 79.3%.Kata-kata kunci: bioflok, ikan lele, kecernaan, udang 
Identification and expression analysis of c-type and g-type lysozymes genes after Aeromonas hydrophila infection in African catfish Nasrullah, Hasan; Nababan, Yanti Inneke; Yanti, Dwi Hany; Hardiantho, Dian; Nuryati, Sri; Junior, Muhammad Zairin; Ekasari, Julie; Alimuddin, Alimuddin
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4310.992 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.1-10

Abstract

ABSTRACTLysozymes play an important role in the first line of defense in fish and potentially used as an immunity status biomarker and immune responses evaluation in fish, which often found in two types, i.e. chicken-type and goose-type (c- and g-type, respectively). To recent, the information related to the sequences and the expression analysis of the c- and g-type lysozyme genes in African catfish is still limited. In the present study, we report a partial cloning and mRNA expression analysis of c-type and g-type lysozymes in African catfish Clarias gariepinus. We have successfully cloned and partially identify the c-type, and g-type lysozyme genes of C. gariepinus, which consist of 594 and 560 of coding sequences, respectively. Catalytic and other conserved residues were identified by multiple sequences alignment and they showed high similarity with other teleost fish species. mRNA levels of the genes were analyzed by using qPCR method and their expressions in the spleen, liver, and head kidney were rapidly modulated after Aeromonas hydrophila injection, with different patterns were observed in each organ. These results confirmed that c- and g-type lysozymes played an important role in non-specific immunity against A. hydrophila infection. This study provided valuable information that can be used to understand the African catfish immune systems for better disease and stress management in C. gariepinus culture.Keywords: lysozymes, gene identification, gene expression, bacterial infection, African catfish ABSTRAKLisozim berperan dalam sistem pertahanan dini pada ikan dan sangat potensial digunakan sebagai marka status imunitas dalam evaluasi respons imun. Lisozim umum ditemukan dalam dua tipe pada ikan: tipe-ayam (tipe-c) dan tipe-angsa (tipe-g). Informasi terkait sekuens gen dan ekspresi gen kedua tipe lisozim pada ikan lele dumbo sangat terbatas. Pada penelitian ini, kami melaporkan kloning gen secara parsial, dan analisis ekspresi gen dari kedua tipe lisozim pada ikan lele dumbo C. gariepinus. Sekuens parsial gen lisozim tipe-c dan tipe-g yang berhasil diidentifikasi adalah sepanjang 594 dan 560 pasang basa. Situs katalitik dan residu khas memiliki tingkat kesamaan yang tinggi dengan spesies ikan yang lain. Analisis mRNA dilakukan dengan metode quantitative PCR (qPCR). Ekspresi kedua gen di jaringan ginjal depan, limpa, dan hati dengan cepat terinduksi pasca infeksi bakteri A. hydrophila dengan pola yang berbeda. Hasil ini menunjukkan bahwa lisozim tipe-c dan tipe-g memiliki peran yang sangat penting dalam sistem imun ikan lele dumbo terhadap infeksi A. hydrophila. Penelitian ini menghasilkan informasi penting yang dapat digunakan untuk mempelajari sistem imun ikan lele dumbo dan sebagai acuan dalam penanganan dan manajemen penyakit pada budidaya ikan lele dumbo.Kata kunci: lisozim, identifikasi gen, ekspresi gen, infeksi bakteri, ikan lele dumbo 
Utilization of green algae Caulerpa racemosa as feed ingredient for tiger shrimp Penaeus monodon Puspitasari, Widya; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia; Ekasari, Julie; Nur, Abidin; Sumantri, Iwan
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 18 No. 2 (2019): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3516.423 KB) | DOI: 10.19027/jai.18.2.162-171

Abstract

ABSTRACT The study aimed to evaluate the utilization of seaweed Caulerpa racemosa as feed ingredient for tiger shrimp Penaeus monodon. This research consisted of two different stages, i.e. digestibility and growth test. Tiger shrimp with average body weight of 5.70 ± 0.42 g was reared during digestibility test. The measured parameters were total protein, calsium, magnesium, and energy digestibility. The growth test was managed by using a completely randomized design consisted of four different treatments (in triplicates) of dietary C. racemosa meal addition levels, i.e. 0 (control), 10, 20, and 30%. Tiger shrimp with an average body weight of 0.36 ± 0.02 g were cultured for 42 days in plastic containers (70×45×40 cm) with a stocking density of 15 shrimp/container. Apparent dry matter, protein, calcium, magnesium, and energy digestibilities of C. racemosa were 51.82, 88.67, 68.44, 16.39, 60.30%, respectively. The results presented that the growth performance of tiger shrimp fed with diet containing 10% of C. racemosa was not significantly different with the control (P>0.05). However, the growth performance of the shrimp fed with diet containing more than 20% of C. racemosa decreased. The enzyme activitity of superoxide dismutase (SOD) increased with the higher level of dietary addition of C. racemosa. It can be concluded that C. racemosa was possibly applied up to 10% in the feed formulation for tiger shrimp. Keywords: Caulerpa racemosa, Penaeus monodon, digestibility, growth performance, shrimp  ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pemanfaatan rumput laut Caulerpa racemosa sebagai bahan baku pakan udang windu Penaeus monodon. Penelitian ini dilakukan dengan dua tahap, yaitu uji kecernaan C. racemosa dan uji pertumbuhan udang. Udang windu yang digunakan pada uji kecernaan berbobot 5,70 ± 0,42 g. Parameter uji yang diukur meliputi kecernaan total, protein, kalsium, magnesium, dan energi. Uji pertumbuhan dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan, yaitu penggunaan tepung C. racemosa sebesar 0 (kontrol), 10, 20, dan 30%. Udang windu dengan bobot 0,36 ± 0,02 g dipelihara dalam wadah kontainer plastik ukuran 70×45×40 cm (volume air sebanyak 90 L) dengan kepadatan 15 ekor tiap wadah selama 42 hari. Hasil penelitian menunjukkan kecernaan total C. racemosa pada udang windu 51,82%, kecernaan protein 88,67%, kecernaan kalsium 68,44%, kecernaan magnesium 16,39%, dan kecernaan energi 60,30%. Penelitian tahap kedua pada kinerja pertumbuhan udang yang mengonsumsi pakan mengandung 10% C. racemosa, tidak memberikan nilai yang berbeda nyata dengan udang yang mengonsumsi pakan kontrol. Namun, kinerja pertumbuhan udang menurun setelah mengonsumsi pakan yang mengandung C. racemosa di atas 20%, sedangkan aktivitas enzim superoxide dismutase (SOD) meningkat. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa penambahan C. racemosa ke dalam formula pakan sampai 10% dapat digunakan sebagai bahan baku pakan udang windu. Kata kunci: Caulerpa racemosa, Penaeus monodon, kecernaan, kinerja pertumbuhan, udang 
Karakterisasi cairan fermentasi daun mangrove Avicennia marina dan daya hambatnya terhadap bakteri penyebab penyakit ice-ice Samsu Adi Rahman; Sukenda; Widanarni; Alimuddin; Julie Ekasari
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3455.443 KB) | DOI: 10.19027/jai.19.1.1-9

Abstract

ABSTRAK Cairan fermentasi daun mangrove Avicennia marina mengandung mikroorganisme, nutrient, dan metabolit sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi bakteri dan senyawa dalam cairan fermentasi daun mangrove A. marina dan mengukur daya hambatnya terhadap bakteri patogen Stenotrophomonas maltophilia penyebab penyakit ice-ice pada rumput laut. Hasil analisis molekuler dengan target gen 16S rRNA menunjukkan bahwa bakteri dalam cairan fermentasi terdiri atas delapan jenis Bacillus, yaitu Bacillus subtilis MSAR-01, Bacillus megaterium MSAR-02, Bacillus firmus MSAR-03, Bacillus thuringiensis MSAR-04, Bacillus subterranerus MSAR-05, Bacillus vietnamensis MSAR-06, Bacillus sp. MSAR-07, Bacillus circulans MSAR-08, dengan daya hambat terbaik ditunjukkan oleh B. subtilis MSAR-01, B. vietnamensis MSAR-06, dan Bacillus sp. MSAR-07. Pemberian asam laktat, bakteriosin, cairan fermentasi total, dan supernatan sebanyak 15 mL menghasilkan daya hambat terhadap bakteri S. maltophilia lebih baik daripada menggunakan salah satu atau kombinasi beberapa jenis bakteri isolat. Daya hambat cairan fermentasi dan supernatan yang diperkaya bakteri tunggal lebih baik daripada pengayaan kombinasi bakteri. Kata kunci: Avicennia marina, fermentasi, ice-ice, mangrove
Evaluation of protein sparing effect in Nile tilapia Oreochromis niloticus fed with organic selenium supplemented diet Pattipeilohy, Christian Ernsz; Suprayudi, Muhammad Agus; Setiawati, Mia; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 1 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.1.84-94

Abstract

ABSTRACT The objective of this research was to determine the optimum level of organic selenium supplementation in improving the growth performance of Nile tilapia Oreochromis niloticus fed with diet containing low protein level. Basal diet was formulated to contain 28% protein with three different levels of organic selenium supplementation, namely 0 (control), 3, and 6 mg Se/kg feed. Furthermore, to evaluate selenium function on protein utilization and sparring effect, a diet with 30% of protein content was also used as a comparison. In this regard, this study was conducted using a completely randomized experimental design with four treatments and three replications. Nile tilapia with an average body weight of 8.05 ± 0.25 g were reared in the 100×50×50 cm3 aquarium at a density of 15 fish/aquarium. The experimental fish were reared for 60 days and fed three times daily to apparent satiation levels. Dietary supplementation of organic Se resulted in higher fish biomass, lower feed conversion ratio, higher protein retention and daily growth rate compared to the control diets with 28% and 30% protein levels. In conclusion, dietary supplementation of organic Se at 3 mg organic Se/kg feed could significantly increase protein utilization and improve the growth performance of Nile tilapia. Keywords: tilapia, protein sparing effect, organic selenium, feed ABSTRAK Tujuan dari penelitian ini adalah menentukan tingkat suplementasi selenium organic pada pakan untuk meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila Oreochromis niloticus. Pakan basal diformulasikan mengandung 28% protein dengan tiga tingkat selenium organik yaitu 0 (kontrol), 3, dan 6 mg Se/kg pakan. Selanjutnya untuk mengevaluasi penggunaan selenium pada pemanfaatan protein dan efek sparring, pakan dengan 30% protein juga ditambahkan sebagai perlakuan pembanding. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan dan tiga ulangan. Ikan nila dengan bobot rata-rata adalah 8.05 ± 0.25 g dipelihara dalam akuarium 100 × 50 × 50 cm3 dengan kepadatan 15 ikan/akuarium. Ikan dipelihara selama 60 hari dan diberi pakan tiga kali sehari secara at satiation. Pemberian pakan dengan suplementasi Se organic menghasilkan biomassa ikan yang lebih tinggi, rasio konversi pakan yang lebih rendah, retensi protein dan laju pertumbuhan harian yang lebih tinggi daripada perlakuan control dengan kadar protein 28% dan 30%. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa suplemtasi pakan ikan nila dengan 3 mg Se organik/kg pakan dapat meningkatkan pemanfaatan protein pakan dan kinerja pertumbuhan ikan Nila. Kata kunci: ikan nila, protein sparing effect, selenium organik, pakan.
Utilization of fermented sago pulp as a source of carbohydrate in feed for Nile tilapia Oreochromis niloticus Sumiana, I Kadek; Ekasari, Julie; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.106-117

Abstract

ABSTRACTThis study aimed to evaluate sago pulp fermentation method and its effect on crude fiber content, digestibility, and utilization of sago pulp as a feed raw material for Nile tilapia. Fermentation was done using three different fermenters, i.e. yeast tapai and baker’s yeast with five doses of 10 g/kg, 20 g/kg, 50 g/kg,70 g/kg,100 g/kg, respectively, and sheep rumen liquid with five doses of 100 mL/kg, 200 mL/kg, 300 mL/kg, 500 mL/kg and 1000 mL/kg. The incubation time was 0, 24, 72, and 96 hours. In the digestibility test, tilapia (25 g) was stocked at a density of 7 fish/aquarium. Three different diets were applied in quadruplicate, i.e. reference diet (100% reference diet), unfermented sago pulp (AS), and fermented sago pulp (ASF). Three different dietary treatments (in quadruplicate) containing different carbohydrate sources were tested, i.e. cassava flour as a comparion (G), unfermented sago pulp (AS), and fermented sago pulp (ASF). Fermentation of sago pulp with tapai yeast at a dose of 50 g/kg at 72 hours incubation time could reduce crude fiber by 35.76%, neutral detergent fiber (NDF) by 32.68%, and hemicellulose by 60.39%. Fermentation with yeast tapai could significantly increase sago pulp dry matter digestibility by 34% and carbohydrate digestibility by 21%, as well as increase glucose absorption. The growth experiment showed that the use of ASF diets resulted in higher specific growth rate (3.31 ± 0.12%/ day), protein retention (47.34 ± 5.23%) and fat retention (85.58 ± 5.44%) than those of AS dietary. In conclusion, fermentation of sago pulp using yeast tapai at a dose of 50 g/kg at 72 hours incubation could reduce crude fiber content and increase dry matter and carbohydrate digestibilities, so that it can be used as a source of carbohydrates in tilapia diet. Keywords : carbohydrate, digestibility, fermentation, fiber, Nile tilapia, sago pulp ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi metode fermentasi ampas sagu dan pengaruhnya terhadap kandungan serat kasar, kecernaan, dan pemanfaatan ampas sagu sebagai bahan baku pakan ikan nila. Fermentasi dilakukan dengan penambahan tiga perlakuan bahan fermentor yaitu ragi tape dan ragi roti ditambahkan dengan dosis masing-masing sebanyak 10 g/kg, 20 g/kg, 50 g/kg, 70 g/kg, 100 g/kg, dan cairan rumen domba yang ditambahkan dengan dosis 100 mL/kg, 200 mL/kg, 300 mL/kg, 500 mL/kg, dan 1000 mL/kg. Lama waktu inkubasi 0, 24, 72, dan 96 jam. Pada uji kecernaan digunakan ikan nila (25 g) yang dipelihara dengan kepadatan tujuh ekor per akuarium. Pada uji ini dilakukan tiga perlakuan pakan dengan empat ulangan, yaitu pakan acuan, ampas sagu tanpa fermentasi (AS), dan ampas sagu fermentasi (ASF). Percobaan dilakukan dengan tiga perlakuan pakan (4 ulangan) dengan tiga sumber karbohidrat yang berbeda yaitu gaplek (G) sebagai pembanding, ampas sagu (AS), dan ampas sagu fermentasi (ASF). Fermentasi ampas sagu dengan menggunakan ragi tape sebanyak 50 g/kg dengan lama inkubasi 72 jam dapat menurunkan serat kasar tertinggi sebanyak 35.76%, dan menurunkan fraksi serat neutral detergent fiber (NDF) dan hemisellulosa masing-masing sebanyak 32.68% dan 60.39%. Perlakuan fermentasi ampas sagu dapat meningkatkan nilai kecernaan bahan sebesar 34%, kecernaan karbohidrat sebesar 21%, serta penyerapan glukosa. Hasil uji pertumbuhan menunjukkan bahwa perlakuan ASF memberikan nilai laju pertumbuhan spesifik (3.31 ± 0.12%/hari), retensi protein (47.34 ± 5.23%) dan retensi lemak (85.58 ± 5.44%) yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan AS (P<0.05). Dapat disimpulkan bahwa fermentasi ampas sagu dengan menggunakan ragi tape pada dosis 50 g/kg selama 72 jam dapat menurunkan kadar serat kasar dan meningkatkan kecernaan bahan dan karbohidrat sehingga dapat digunakan sebagai sumber karbohidrat pada pakan ikan nila. Kata kunci : ampas sagu, fermentasi, ikan nila, karbohidrat, kecernaan, serat
Productivity and quality of Moina sp. cultivated with various culture medium Shidik, Taufik Shidik Adi Nugroho; Ekasari, Julie; Jusadi, Dedi; Setiawati, Mia
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.2.148-162

Abstract

Cultivation of Moina sp is still constrained by its quality, productivity, and sustainability. The alternative solution is the use of cultivation media materials that have high nutritional content and easily available in large quantities to support the quality and productivity of Moina sp. and meet the needs of live feed. The objective of the study was to evaluate the effect of various culture medium on the productivity and nutritional quality of Moina sp.. Five culture media were tested in laboratory scale, i.e. organic ingredient (BO), Chlorella sp. (Ch), Chlorella sp. + organic ingredients (ChBO), biofloc (BF) and biofloc + organic ingredients (BFBO). While in mass scale, four culture media were tested, i.e. Chlorella sp. (Ch), Chlorella sp. + Organic Ingredients (ChBO), Biofloc (BF) and Biofloc + Organic Ingredients (BFBO). The peaks of Moina sp. density in different treatments were achieved in different days. ChBO treatments significantly had higher productivity (P<0.05). The highest protein content was found in Moina sp. cultured with ChBO media, even higher than artemia. Moina sp. cultured with Chlorella sp. (Ch) showed the highest PUFA (Poly Unsaturated Fatty Acids) contents, while the highest MUFA (mono unsaturated fatty acids) contents was obtained from Moina sp. cultured with BFBO media lower than artemia. The study results indicates that different culture media produces different productivity and nutrient quality of Moina sp. The organic material combination of Chlorella sp. + organic material (ChBO) was the best media to improve the productivity and protein quality of Moina sp. Keywords : Biofloc, Chlorella sp., Moina sp., organic matter, productivity, quality ABSTRAK Budidaya Moina sp. masih terkendala pada kualitas, produktivitas dan kestabilan dalam ketersediaannya. Untuk itu diperlukan penggunaan bahan media budidaya yang memiliki kandungan nutrisi tinggi dan mudah didapat dalam jumlah banyak untuk mendukung kualitas dan produktivitas Moina sp. demi memenuhi kebutuhan pakan hidup. Tujuan penelitian yaitu mengevaluasi pengaruh berbagai media budidaya terhadap produktivitas dan kualitas nutrisi Moina sp. Lima media kultur yang diuji dalam penelitian laboratorium yaitu Bahan Organik (BO), Chlorella sp. (Ch), Chlorella sp. + Bahan Organik (ChBO), Bioflok (BF) dan Bioflok + Bahan Organik (BFBO). Sedangkan pada penelitian skala massal diuji empat media kultur yaitu Chlorella sp. (Ch), Chlorella sp. + Bahan Organik (ChBO), Bioflok (BF) dan Bioflok + Bahan Organik (BFBO). Puncak kepadatan Moina sp. pada tiap perlakuan dicapai pada hari yang berbeda. Perlakuan ChBO memiliki produktivitas yang lebih tinggi (P<0,05). Kandungan protein Moina sp. tertinggi ditemukan pada media ChBO dan bahkan lebih tinggi dari pada artemia. Moina sp. yang dibudidayakan dengan Chlorella sp. (Ch), menunjukkan kandungan PUFA tertinggi, sedangkan kandungan MUFA yang tertinggi terdapat pada Moina sp. yang dibudidayakan dengan bahan media BFBO namun masih lebih rendah jika dibandingkan dengan kandungan pada artemia. Hasil penelitian menunjukkan media kultur yang berbeda menghasilkan produktivitas dan kualitas nutrisi moina yang berbeda. Kombinasi bahan organik Chlorella + bahan organik (ChBO) merupakan media terbaik dibandingkan dengan perlakuan lainnya untuk meningkatkan produktivitas dan kualitas nutrisi terutama protein Moina sp. Kata kunci : Bioflok, Chlorella sp., Moina sp., bahan organik, produktivitas, kualitas
Evaluation of health status and meat quality of dumbo catfish Clarias gariepinus maintained using the biofloc system Fajrin, Anang; Utomo, Nurbambang Priyo; Ekasari, Julie; Nuryati, Sri
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 19 No. 2 (2020): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.19.2.190-198

Abstract

This research aimed to evaluate the health status, growth performance, and meat quality of African catfish Clariasgariepinus maintained in biofloc and nonbiofloc systems. This study applied 3 treatments with 4 replications, i.e.K500 (control, a non-biofloc system at a fish stocking density of 500/m3), BF500 (biofloc system at a fish stockingdensity of 500/m3), and BF700 (biofloc system at a fish stocking density of 700 /m3). The initial body length andbodyweight of the fish used in this experiment were 10–12 cm and 10–12g, respectively. Feeding was done byusing a commercial feed containing 29.76% protein content. The results showed that fish survival in treatmentsBF500 and BF700 were significantly different (P<0.05) from the control. The growth rate of African catfish in thecontrol (K) was the lowest (3.64 ± 0.56%) among the treatments. The results of the organosensory test showed thatthe application of biofloc systems produced a higher quality of fish meat with a range value of 7–9 compared to thatof the control with a range of 6–7. In conclusion, the application of biofloc systems could improve the fish healthstatus, growth performance, and meat quality of African catfish. Keywords: biofloc systems, Clarias gariepinus, density, health status, meat quality ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi status kesehatan, kinerja pertumbuhan, dan kualitas daging ikan lele AfrikaClarias gariepinus yang dipelihara menggunakan sistem bioflok dan nonbioflok. Penelitian ini menggunakan 3perlakuan dengan 4 kali ulangan, yang terdiri dari: K500 (kontrol, sistem nonbioflok dengan kepadatan ikan 500ekor/m3), perlakuan BF500 (sistem bioflok dengan kepadatan ikan 500 ekor/m3), dan perlakuan BF700 (sistembioflok dengan kepadatan ikan 700 ekor/m3). Ikan yang digunakan berukuran panjang dan bobot awal masingmasing10–12 cm dan 10–12 g. Pemberian pakan dilakukan dengan menggunakan pakan komersil dengan 29,76%protein. Hasil penelitian menunjukan tingkat kelangsungan hidup antara perlakuan BF500 dan BF700 berbeda nyata(P<0.05) dengan perlakuan K500. Laju pertumbuhan ikan lele pada perlakuan K500 lebih rendah dibandingkanperlakuan lain. Hasil pengujian organosensory menunjukkan bahwa ikan yang dipelihara dalam sistem bioflokmenghasilkan kualitas daging yang lebih tinggi dengan kisaran nilai 7–9 dibandingkan dengan ikan K500 dengannilai 6–7. Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa aplikasi sistem bioflok dapat meningkatkanstatus kesehatan, laju pertumbuhan, dan kualitas daging ikan lele Afrika. Kata kunci: bioflok, Clarias gariepinus, kepadatan, kualitas daging, status kesehatan
Co-Authors , Alimuddin , Sarmin A. Shofy Mubarak Achmad Fauzi, Ichsan Afiff , Usamah Agus Suprayudi, Muhammad Alimuddin Apriana Vinasyiam Arzi, Jibal Rizki Akbar Aulia, Salsabila Setya Azis Kurniansyah Bako, Surandha Banin, Muhammad Ilham Labulal Billi Rifa Kusumah Cahyo, Arif Dwi DEBY YUNIASARI DEDI JUSADI Dewi, Ratih Kemala Dian Hardiantho DIANA ELIZABETH WATURANGI Dinamella Wahjuningrum Dodi Hermawan Dwi Hany Yanti Eddy Supriyono Elas, Putri Enang Harris Surawidjaja, Enang Harris Faiqotul Himmah, Maihardiyanti Fajrin, Anang Fardila Putri, Rizqiyatul Faris Allam, Muhammad Fatma Hajiali Fauzan Fauzi, Hilmi Fitriani, Farida Frid Agustinus Gebbie Edriani Giri Maruto Darmawangsa, Giri Maruto Glenaldi Halim Gustilatov, Muhamad Hadi Pratama, Ricky Haifa, Aliya Nurul Handayani, Tri Novi Hanif Azhara, Muhammad Harton Arfah Hendriana, Andri Ichsan Achmad Fauzi Inarto, Hendri Indi Jaka Nugraha Ing Mokoginta Iqbal Kurniawinata, Mohamad Jhon Lamhot F. Napitupulu, Jhon Lamhot F. Julyantoro, Pande Gde Sasmita K. Sumantadinata Kukuh Nirmala La Muhamad, Idul Lesmanawati, Wida M. Zairin Junior Mahendra, Tangkas Mashita, Nurul Maulana, Fajar Meritha, Wellya Wichi Mia Setiawati MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Mulya, Muhammad Arif Munjayana, Munjayana MUNTI YUHANA Nababan, Yanti Inneke Nasrullah, Hasan Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur, Abidin Nurfadhilah . Paramadina, Siwi Pasha, Hilda Kemala Pattipeilohy, Christian Ernsz Priyoutomo, Nur Bambang Radi Ihlas Albani Raditya Gumelar, Muhammad Ridwan Siskandar ROSELIEN CRAB Samsu Adi Rahman Senja, Reza Karunia Shidik, Taufik Shidik Adi Nugroho SITI MARYAM Sri Nuryati Sudrajat, R Herman Sujaka Nugraha Sukenda . Sumantri, Iwan Sumiana, I Kadek Sumitro Syarifah Ruchyani Syefti Palmi, Revita Talita Shofa Adestia Tatag Budiardi Taufiqulloh Utari, Heny Budi Utomo, Nurbambang Priyo Wahyudi, Imam Tri WIDANARNI WIDANARNI Widya Puspitasari WILLY VERSTRAETE Wiyoto Wiyoto Wiyoto Wiyoto, Wiyoto Y. Hadiroseyani