Julie Ekasari
Department Of Aquaculture, Faculty Of Fisheries And Marine Science, IPB University, Bogor 16680, Indonesia

Published : 53 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Production Performance and Nitrogen and Phosphorus Mass Balance in Biofloc-based African Catfish Intensive Culture at Different Densities Sumitro; Budiardi, Tatag; Fauzi, Hilmi; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.1.82-92

Abstract

This study aimed to evaluate the production performance and nitrogen and phosphorus mass balance of biofloc-based intensive African catfish Clarias gariepinus culture at different densities. African catfish with an average body weight of 2.64 ± 0.06 g was randomly distributed into 12 units of round tank with a working volume of 2 m3 of water and maintained for 8 weeks. A completely randomized experimental design with four treatments (in triplicates), i.e. a control treatment at a fish density of 500 fish m-3 with regular water exchange and without organic carbon source addition, and biofloc treatments (BFT) at three different densities, i.e. 500 fish m-3 (BFT500), 750 fish m-3 (BFT750), and 1000 fish m-3 (BFT1000). Biofloc systems were performed with a regular addition of tapioca flour (40% C). The production performance between biofloc system and the control was not significantly different, however water and nitrogen utilizations were significantly more efficient in biofloc system than those of the control. The highest fish specific growth rate was observed in BFT1000 and BFT500 (6.01% day-1 and 5.96% day-1, respectively) (P<0.05). Fish density significantly affected the fish growth performance and productivity in biofloc systems, but not nitrogen and phosphorus utilizations. In conclusion, higher fish density significantly increased the production and water utilization efficiency in biofloc systems, but has no effect on nitrogen and phosphorus utilization efficiency. Furthermore, increasing the fish density could significantly reduce the fish survival and require more efforts to control biofloc biomass in the culture system.
Dietary supplementation of betain to improve the growth and feed utilization in hybrid grouper (Epinephelus lanceolatus♂ × Epinephelus fuscoguttatus♀) juvenile La Muhamad, Idul; Setiawati, Mia; Wiyoto, Wiyoto; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 1 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.1.24-33

Abstract

Betaine plays some important roles in feed utilization and fish metabolism. The aim of this study was to evaluate the effect of dietary betaine supplementation on the growth performance and feed utilizationin hybrid grouper (Epinephelus lanceolatus♂ × Epinephelus fuscoguttatus♀). A completely randomized experimental design with four dietary levels of betaine, i.e.0.0%, 0.5%, 1.0%, and 2.0% in quadruplicate was done.Hybrid grouper juvenile obtained from Brackishwater Aquaculture Development Center, Situbondo, with an initial body length and body weight of 5.89 ± 0.05 cm and 2.86 ± 0.09 g, respectively was used as the tested animal. The fish was maintained in 60 cm x 40 cm x 40 cm aquaria with 75 L working capacity with individual recirculating system with a fish density of 15 fish/aquarium for 50 days. Experimental diet was provided to apparent satiation twice a day. The results of this study demonstrated that dietary betaine at a level of 0.5% resulted in higher feed utilization efficiency, protein and methionine retentions, and growth performance and lower ammonia excretion than those of the control (P<0.05). Higher antioxidative status was indicated by the lower malondialdehyde (MDA) in the liver of fish fed with betaine supplemented diets at levels of 1 - 2%. In conclusion, betaine supplementation of 0.5% could increase feed utilization efficiency and growth performance of hybdrid grouper. Keywods: Betaine, Hybrid Grouper, Growth Performance, Feed, Antioxidative Status ABSTRAK Betain memegang beberapa peranan penting dalam pemanfaatan pakan dan metabolisme pada ikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh suplementasi betain pada pakan terhadap kinerja pertumbuhan dan pemanfaatan pakan pada juvenil ikan kerapu hybrid cantang (Epinephelus lanceolatus♂ × Epinephelus fuscoguttatus♀). Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan pakan dengan tingkat suplementasi betain yang berbeda, yaitu 0.0%, 0.5%, 1.0%, dan 2.0% dengan empat ulangan. Juvenil ikan kerapu cantang yang berasal dari Balai Pengembangan Budidaya Laut Situbondo dengan panjang dan bobot awal masing-masing 5.89 ± 0.05 cm and 2.86 ± 0.09 g digunakan sebagai hewan uji dalam penelitian ini. Ikan dipelihara dalam akuarium berukuran 60 cm x 40 cm x 40 cm dengan kapasitas 75L yang dilengkapi dengan sistem resirkulasi individu dengan kepadatan 15 ekor per akuarium selama 50 hari. Pakan uji diberikan hingga sekenyangnya dua kali sehari. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa suplementasi betain sebanyak 0.5% menghasilkan pemanfaatan pakan, retensi protein, retensi metionina, kinerja pertumbuhan dan ekskresi ammonia yang lebih baik daripada kontrol (P<0.05). Status antioksidasi yang lebih juga yang ditunjukkan dengan lebih rendahnya konsentrasi malondialdehid (MDA) pada hati ikan yang diberi pakan dengan suplementasi 1-2% betain. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa suplementasi betain sebanyak 0.5% dapat meningkatkan efisiensi pemanfaatan pakan dan kinerja pertumbuhan ikan kerapu cantang.
Evaluation of corn steep powder as a protein source for feed of Nile tilapia Oreochromis niloticus Hermawan, Dodi; Suprayudi, Muhammad Agus; Jusadi, Dedi; Alimuddin, Alimuddin; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.2.115-129

Abstract

This study was aimed to evaluate the use of corn steep powder (CSP) as a plant protein source in Oreochromis niloticus diet. A commercial feed with 28% protein content and 368 kcal/g energy was used as reference diet, while the test feed consisting of various CSP content, namely 0%, 10%, 20%, and 30% and feed containing soybean meal (SBM) at the level of 20% and 30%. Tilapia were used in the trial with the initial body weight of 6.44 ± 0.29 g, and reared for thirty days in the aquarium at the density of fifteen and fed 3 times daily at a satiation level. All diets were supplied by 0.5% of Cr2O3 as an indicator for digestibility measurement. This study applied the completely randomized design experimental method containing six diet treatments and four replications. The result showed that CSP contains 40.27% protein, 26.10% lactic acid, and minerals. CSP is low in crude fiber and anti-nutritional factors. This study results that increasing the level of CSP significantly decreased feed acidity (P <0.05) compared to the control. The addition of CSP 20% increased feed digestibility including protein, lipid, energy, and dry matter digestibility. CSP 20% treatment increased final body weight, specific growth rate and reduced feed conversion ratio significantly (P<0.05) compare to other treatments. In conclusion, CSP can be used up to 20% to improve the growth performance of tilapia. Keyword: corn steep powder, feed digestibility, growth performance, tilapia ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi penggunaan corn steep powder (CSP) sebagai sumber protein nabati pada pakan ikan nila Oreochromis niloticus. Pakan komersial dengan kadar protein 28% dan energi 368 kkal/g digunakan sebagai pakan acuan, sementara pakan uji terdiri atas pakan dengan kandungan CSP sebanyak 0% (CSP0), 10% (CSP10), 20% (CSP20) dan 30% (CSP30) serta pakan dengan kandungan tepung bungkil kedelai (SBM) pada level 20% (SBM20) dan 30% (SBM30) sebagai pembanding. Penambahan Cr2O3 0,5 % diberikan sebagai indikator untuk mengukur kecernaan. Ikan nila dengan bobot tubuh rata-rata 6.44 ± 0.29 dipelihara dalam akuarium (95×45×45 cm3) yang diisi air 100 L dengan kepadatan 15 ekor per akuarium dan diberi pakan tiga kali sehari secara at satiation selama 30 hari masa pemeliharaan. Penelitian ini menggunakan desain rancangan acak lengkap dengan enam perlakuan dan empat ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa CSP mengandung protein sebesar 40,27%, asam laktat 26,10%, beberapa mineral dan indeks asam amino esensial 0,90. CSP juga rendah serat kasar dan zat antinutrisi. Peningkatan dosis CSP menurunkan pH pakan secara signifikan (P<0.05) dibandingkan dengan kontrol. Penambahan CSP sampai level 20% meningkatkan nilai kecernaan total, kecernaan bahan, kecernaan protein, kecernaan lemak dan kecernaan energi. Di samping itu, perlakuan CSP 20% meningkatkan bobot akhir, laju pertumbuhan harian dan rasio konversi pakan yang signifikan (P<0,05) dibandingkan perlakuan lainnya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pemberian CSP 20% dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan ikan nila. Kata kunci: corn steep powder, kecernaan pakan, pertumbuhan, ikan nila
Utilization of hydrolyzed corncob as a carbohydrate source in diets for red Nile tilapia Oreochromis niloticus Fauzan; Suprayudi, Muhammad Agus; Fauzi, Ichsan Achmad; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.21.1.32-40

Abstract

This study was aimed to evaluate the influence of corncob hydrolysis on its crude fiber content, digestibility level, and utilization in the red Nile tilapia diet. This study was performed in two steps, namely hydrolysis and digestibility test. The first study step was enzymatic hydrolysis using 0.4 g/kg cocktail enzyme, followed by chemical hydrolysis using hydrochloric acid (HCl) at different treatments, i.e. concentration, incubation period, and ratio. The second step was designed using a completely randomized design with five treatments, i.e. Rd (reference diet), TJt15% (15% unhydrolyzed corncob), TJt30% (30% unhydrolyzed corncob), TJh15% (15% corncob hydrolysis), and TJh30% (30% corncob hydrolysis). The average weight of tilapia was 15.86 ± 0.19 g/fish. The hydrolyzed corncob meal used for the second study step from the hydrolysis production could reduce 57.53% of crude fiber, 38.15% of NDF fiber fraction, 6.43% of ADF fiber fraction, and 61.96% of hemicellulose. The digestibility test results showed that the hydrolyzed corn cob diet obtained a higher digestibility level, digestive enzyme activity, and blood plasma protein than the unhydrolyzed corncob diet (P<0.05). This study concludes that the corncob hydrolysis eliminates the crude fiber content, fiber fraction contents (NDF, ADF, and hemicellulose), and improves the digestibility level of red Nile tilapia. Keywords: Corn cobs, crude fiber, digestibility, hydrolysis, tilapia. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh hidrolisis tongkol jagung terhadap kandungan serat kasar, kecernaan, dan pemanfaatannya dalam pakan ikan nila merah. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu hidrolisis bahan dan uji kecernaan. Penelitian tahap pertama yaitu hidrolisis secara enzimatik menggunakan koktail enzim 0,4 g/kg dan dilanjutkan dengan hidrolisis kimiawi menggunakan asam klorida (HCl) dengan perlakuan yang berbeda yaitu konsentrasi, lama waktu inkubasi, dan rasio. Penelitian tahap kedua dirancang dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan lima perlakuan yaitu Rd, TJt15% (tongkol jagung tidak dihidrolisis 15%), TJt30% (tongkol jagung tidak dihidrolisis 30%), TJh15% (tongkol jagung dihidrolisis 15%), dan TJh30% (tongkol jagung dihidrolisis 30%). Ikan uji dengan bobot rata-rata sebesar 15,86±0,19 g/ekor. Hidrolisis tepung tongkol jagung dengan konsentrasi HCl 0.1 N, lama waktu inkubasi 8 jam, dan dengan rasio 1:4 yang digunakan untuk penelitian selanjutnya. Hidrolisis terhadap tepung tongkol jagung dapat menurunkan serat kasar 57,53%, fraksi serat NDF 38,15%, ADF 6,43%, dan hemiselulosa 61,96%. Hasil penelitian uji kecernaan menunjukkan bahwan pakan yang mengandung tongkol jagung terhidrolisis menghasilkan nilai kecernaan, aktivitas enzim pencernaan dan protein plasma darah yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang tidak dihidrolisis (P<0.05). Kesimpulanya, hidrolisis tongkol jagung menggunakan asam klorida (HCl) 0,1 N, lama waktu inkubasi 8 jam, dan rasio 1:4 dapat menurunkan serat kasar, fraksi serat (NDF, ADF, dan hemiselulosa), serta meningkatkan nilai kecernaan pakan ikan nila merah. Kata kunci : Hidrolisis, kecernaan, nila, serat kasar, tongkol jagung
Dietary supplementation of organic selenium to improve growth performance and protein utilization in African catfish fed with different protein level diets Darmawangsa, Giri Maruto; Suprayudi, Muhammad Agus; Utomo, Nurbambang Priyo; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 20 No. 2 (2021): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.20.2.130-138

Abstract

This study aimed to evaluate the effect of organic selenium supplementation on diet with different protein levels on the growth performance and protein utilization of African catfish juvenile. A randomized 2×3 factorial design with two dietary protein levels (27% and 32%) and three dietary selenium (Se) supplementation levels (0 mg/kg, 3 mg/kg, and 6 mg/kg diet) in triplicates were applied in the study. African catfish juvenile with an initial average body weight and body length of 27.00 ± 0.14 g and 15.0 ± 0.5 cm, respectively, was reared in 18 units of aquarium (141 L) at a density of 142 fish/m3 for a rearing period of 40 days. Increasing organic Se supplementation level up to 6 mg/kg at high protein feed resulted in higher fish growth and final biomass, lower FCR, and higher protein utilization efficiency than those of other treatments. Furthermore, supplementation of organic Se also resulted in lower lipid and higher Se concentrations in the fish body as well as higher blood protein level compared to those of the control. In conclusion, the result of this study suggested that dietary supplementation of organic Se up to 6 mg/kg could enhance the growth and protein utilization in African catfish fed with both low and high protein diet. Keywords: African catfish, growth, dietary protein, protein utilization, organic selenium. ABSTRAK Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh suplementasi selenium organik pada pakan dengan kadar protein yang berbeda terhadap kinerja pertumbuhan dan pemanfaatan protein pakan ikan lele Clarias gariepenus. Penelitian didesain menggunakan rancangan acak lengkap faktorial 2×3 dengan dua tingkat protein pakan (27% dan 32%) dan tiga tingkat suplementasi selenium (Se) pakan (0 mg/kg, 3 mg/kg, dan 6 mg/kg diet) sebanyak tiga ulangan. Ikan lele yang digunakan memiliki bobot awal rata-rata dan panjang tubuh 27 ± 0.14 g dan 15.0 ± 0.5 cm, dipelihara dalam 18 unit akuarium (141 L) dengan kepadatan 142 ekor/m3 selama 40 hari pemeliharaan. Peningkatan suplementasi Se organik hingga 6 mg/kg pada ikan yang diberi pakan protein tinggi menghasilkan kinerja pertumbuhan ikan dan biomassa akhir yang lebih tinggi, FCR yang lebih rendah, dan efisiensi pemanfaatan protein pakan yang lebih tinggi daripada perlakuan lain. Selain itu, suplementasi Se organik juga menghasilkan kadar lemak yang lebih rendah dan konsentrasi Se tubuh yang lebih tinggi serta kadar protein darah yang lebih tinggi. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu suplementasi Se organik pada pakan hingga 6 mg/kg dapat meningkatkan kinerja pertumbuhan dan pemanfaatan protein pakan pada ikan lele yang diberi pakan dengan kadar protein rendah dan tinggi. Kata kunci: ikan lele, pertumbuhan, protein pakan, pemanfaatan protein, selenium organik.
Analysis of water and sediment quality in Pacific white leg shrimp Litopenaeus vannamei culture with different sediment redox potential Wiyoto, Wiyoto; Hendriana, Andri; Siskandar, Ridwan; Mashita, Nurul; Mahendra, Tangkas; Cahyo, Arif Dwi; Arzi, Jibal Rizki Akbar; Aulia, Salsabila Setya; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 21 No. 1 (2022): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.21.1.59-67

Abstract

ABSTRAK Pengamatan parameter kualitas air, tanah, kesehatan dan pertumbuhan merupakan hal yang penting untuk dilakukan dalam budidaya udang vaname. Keterkaitan antar parameter tersebut perlu untuk diketahui dan dianalisis lebih lanjut. Penelitian ini bertujuan untuk melihat keterkaitan antara berbagai parameter kualitas air, kualitas tanah, koefisien teknis budidaya dan parameter kesehatan udang dalam kegiatan budidaya udang dengan nilai sedimen redok potensial yang berbeda. Penelitian ini dilakukan dengan perbedaan nilai sedimen redok potensial yaitu 69,33 ± 14,5 mV, 151,00 ± 8,89 mV, dan 210,00 ± 17,32 mV dengan empat ulangan. Udang sebanyak 25 ekor dengan bobot rata rata 1,37 ± 0,04 g dan padat tebar 144 ekor/m2 digunakan dalam penelitian selama 30 hari. Selama penelitian parameter yang diamati meliputi parameter kualitas air, kesehatan dan pertumbuhan. Parameter kualitas air tidak menunjukkan perbedaaan nyata antar perlakuan kecuali nilai pH dan oksigen terlarut. Pada nilai redok potensial yang rendah nilai pH air cenderung lebih tinggi sedangkan pada nilai redok potensial yang lebih tinggi nilai oksigen terlarut lebih tinggi. Parameter kualtias air yang menunjukkan keterkaitan berdasarkan analisis komponen utama (PCA) dan klaster adalah konduktivitas dan TDS sedangkan parameter kualitas tanah yang saling berkaitan adalah total P, total Fe, total Mn dan total S. Adapun parameter pertumbuhan dan kesehatan udang tidak memenuhi syarat untuk diuji lanjut dengan PCA. Kata kunci: kualitas air, PCA, redok potensial, sedimen, udang putih.
Dietary citral increase growth and health performance of shrimp Penaeus vannamei Hadi Pratama, Ricky; Ekasari, Julie; Suprayudi, Muhammad Agus; Achmad Fauzi, Ichsan; Wiyoto, Wiyoto
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.200-209

Abstract

Phytoadditives have been acknowledged to have some beneficial effects on metabolic processes and health of some aquaculture species. This study aimed to evaluate the effect of dietary citral on carbohydrate utilization, growth and health performance of vannamei shrimp P. vannamei. This study used a completely randomized design (CRD) with four dietary treatments with different citral doses (0, 50, 75, and 100 mg citral/kg feed) in triplicates. Shrimp were reared for 60 days using fiber containers (50×50×80cm) of 30 shrimp/container. The frequency of feeding is given four times a day. Dietary citral supplementation of 100 mg/kg resulted in higher shrimp growth and feed utilization efficiency than those of the control. The level of amylase enzyme, post-prandial blood glucose, muscle, and liver glycogen were higher in the treatments with dietary citral than those of the controls. The shrimp immune response was also higher in the shrimp fed with dietary citral diets as shown by the higher total hemocyte count, respiratory burst, and phenoloxidase activity compared to those of the control. At the same time, antioxidant capacity in the hepatopancreas as indicated by superoxide dismutase and malondialdehyde level were also improved in shrimp with citral treatment. It can be concluded that dietary citral could increase the utilization carbohydrate, growth performance and health of shrimp at a concentration 75 mg/kg. Keywords: citral, carbohydrate, growth, health, P. vannamei ABSTRAK Secara umum telah diketahui bahwa fitoaditif memiliki pengaruh yang menguntungkan pada proses metabolisme dan kesehatan beberapa spesies akuakultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh penambahan citral pada pakan terhadap pemanfaatan karbohidrat, kinerja pertumbuhan dan kesehatan udang vanname. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dosis citral yang berbeda (0, 50, 75, dan 100 mg citral/kg pakan) dengan tiga ulangan. Udang vanname dipelihara selama 60 hari menggunakan wadah bak fiber (50×50×80cm) sebanyak 30ekor/wadah. Frekuensi pemberian pakan diberikan sebanyak empat kali sehari. Penambahan citral 100 mg/kg menghasilkan pertumbuhan udang yang lebih tinggi dan efisiensi pemanfaatan pakan dibandingkan kontrol. Tingkat enzim amilase, glukosa hemolim post-prandial, glikogen otot, dan glikogen hati lebih tinggi pada perlakuan penambahan citral dibandingkan kontrol. Respon imun udang juga lebih tinggi pada udang yang diberi penambahan citral seperti yang ditunjukkan oleh jumlah total hemosit, respiratory burst, dan aktivitas fenoloksidase yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Pada saat yang sama, aktivitas antioksidan dalam hepatopankreas udang yang ditunjukkan oleh Superoksida dismutase dan Malondialdehida juga meningkat pada udang dengan perlakuan citral. Dapat disimpulkan bahwa penambahan citral dapat meningkatkan pemanfaatan karbohidrat, pertumbuhan dan kesehatan udang pada konsentrasi 75. Kata kunci: citral, karbohidrat, kesehatan, pertumbuhan, udang vaname
The production performance of Nile tilapia Oreochromis niloticus and mineral balance in aquaponic, biofloc, and aquabioponic culture systems Radi Ihlas Albani; Budiardi, Tatag; Yani Hadiroseyani; Julie Ekasari
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.1.66-79

Abstract

Aquaponics and biofloc are aquaculture techniques for reducing nitrogenous waste with less water exchange. Aquaponics reduces nitrate (NO3-) through the role of vegetable plants, while biofloc assimilates ammonia (NH4+) through the role of floc-forming bacteria. In this study a collaboration was designed between aquaponics and biofloc called aquabioponics. This study was conducted to evaluate the performance of tilapia production, as well as to observe the dynamics of P, K, Ca, Mg, Fe, Mn, Zn, and Cu minerals formed in the system. This study used a completely randomized design with three treatments and three replications, namely aquaponics (AP), biofloc (BF), and aquabioponics (AB). The AP integrates water in fish tank with vegetable, and does not use additional organic carbon sources. BF uses the addition of an organic carbon source, but does not integrate vegetables. Meanwhile, AB uses the addition of an organic carbon source (half of the dose in BF) and also integrates vegetables. Nile tilapia Oreochromis niloticus with a length of 5.56 ± 0.13 cm and a weight of 5.92 ± 0.47 g totaling 200 individuals were monitored for 60 days in a fiber tank containing 500 L of water in each treatment. The vegetables used in the AP and AB are Pok Choi which is harvested every 30 days. In this study, aquabioponics is a system that produces the best tilapia production performance. The minerals Ca, Mg, Mn, Zn, and Cu are thought to be essential in aquaponics and aquabioponics, while Mg is thought to be essential in bioflocs. Keywords: aquaponic, aquabioponic, biofloc, minerals, Nile tilapia ABSTRAK Akuaponik dan bioflok adalah teknik akuakultur untuk mereduksi limbah nitrogen dengan sedikit pertukaran air. Akuaponik mereduksi nitrat (NO3-) melalui peran tanaman sayuran, sedangkan bioflok mengasimilasi amonia (NH4+) melalui peran bakteri pembentuk flok. Penelitian ini merancang kolaborasi antara akuaponik dan bioflok yang disebut akuabioponik. Penelitian dilakukan untuk mengevaluasi kinerja produksi ikan nila, serta mengamati dinamika mineral P, K, Ca, Mg, Fe, Mn, Zn, dan Cu yang terbentuk di dalam sistem. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perlakuan dan tiga ulangan, yaitu akuaponik (AP), bioflok (BF), dan akuabioponik (AB). AP mengintegrasikan air pemeliharaan ikan dengan penanaman sayur, dan tidak menggunakan penambahan sumber karbon organik. BF menggunakan penambahan sumber karbon organik, namun tidak menggintegrasikan sayuran. AB menggunakan penambahan sumber karbon organik (setengah dari dosis pada BF) dan juga mengintegrasikan sayuran. Ikan nila Oreochromis niloticus dengan panjang 5.56±0.13 cm dan bobot 5.92 ± 0.47 g sebanyak 200 ekor dipelihara selama 60 hari pada bak fiber berisi 500 L air di setiap perlakuan. Sayuran pada AP dan AB adalah Pok Choi yang dipanen setiap 30 hari. Pada penelitian ini, akuabioponik merupakan sistem yang menghasilkan kinerja produksi ikan nila terbaik. Mineral Ca, Mg, Mn, Zn, dan Cu diduga esensial pada akuaponik dan akuabioponik, sedangkan pada bioflok mineral yang diduga esensial adalah Mg. Kata kunci: akuaponik, akuabioponik, bioflok, ikan nila, mineral
Effect of stocking density on growth performance of African catfish Clarias gariepinus and water spinach Ipomoea aquatica in aquaponics systems with the addition of AB mix nutrient Wiyoto, Wiyoto; Siskandar, Ridwan; Dewi, Ratih Kemala; Lesmanawati, Wida; Mulya, Muhammad Arif; Ekasari, Julie
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 1 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.1.47-54

Abstract

Aquaponics is the cultivation of fish and plants in a series of systems, either in one container or in separate containers, by paying attention to the balance between fish, plants, and aquatic microorganisms. One of the obstacles in aquaponic activities is that vegetable growth is not optimal due to a lack of dissolved nutrients, so further research is needed to make better plant growth. This study aimed to evaluate catfish and water spinach growth performance in an aquaponic system by adding AB mix nutrients at different fish stocking densities. This study used a completely randomized design with three differences in stocking densities of catfish (150 fish/m3, 200 fish/m3, and 250 fish/m3) as test animals with four replications where AB mix was added to each treatment. The growth performance of catfish is better in control with a stocking density of 250 fish/m3 and without adding nutrients. The growth performance of catfish decreased with the addition of AB mix nutrients, while the growth of water spinach was better. The growth rate of catfish without adding AB mix nutrients was higher than in other treatments. In contrast, all treatments with the addition of AB mix increased the growth performance of water spinach, with the stocking density of catfish not affecting the growth of water spinach plants. Keywords: aquaponics, water spinach, catfish, growth ABSTRAK Akuaponik merupakan budidaya ikan dan tanaman dalam satu rangkaian sistem, baik dalam satu wadah maupun dalam wadah terpisah dengan memperhatikan keseimbangan antara ikan, tanaman dan mikroorganisme perairan. Salah satu kendala sistem akuaponik adalah pertumbuhan sayuran yang tidak optimal karena kurangnya nutrisi terlarut. Tujuan dari penelitian ini untuk mengevaluasi performa pertumbuhan lele dan kangkung dalam sistem akuaponik dengan penambahan nutrisi AB mix dan pada padat tebar ikan yang berbeda. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga perbedaan padat tebar ikan lele (150 ekor/m3, 200 ekor/m3, dan 250 ekor/m3) sebagai hewan uji sebanyak empat ulangan di mana nutrien AB mix ditambahkan disetiap perlakuan. Kinerja pertumbuhan ikan lele lebih baik pada perlakuan kontrol dengan padat tebar 250 ekor/m3 dan tanpa penambahan nutrisi AB mix. Performa pertumbuhan ikan lele menurun dengan adanya penambahan nutrisi AB mix, sedangkan pertumbuhan tanaman kangkung lebih baik. Laju pertumbuhan ikan lele dengan tanpa penambahan nutrisi AB mix lebih tinggi dibandingkan perlakuan lainnya, sedangkan semua perlakuan dengan penambahan AB mix meningkatkan performa pertumbuhan tanaman kangkung dengan jumlah padat tebar ikan lele tidak berpengaruh pada pertumbuhan tanaman kangkung. Kata kunci: akuaponik, kangkung, lele, pertumbuhan
Dietary supplementation of Bacillus sp. NP5 and dayak onion simplicia powder Eleutherine bulbosa (Mill.) Urb. for the prevention of Aeromonas hydrophila in catfish Clarias sp. Sudrajat, R Herman; Yuhana, Munti; Widanarni, Widanarni; Julie Ekasari; Afiff, Usamah
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 22 No. 2 (2023): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.22.2.134-146

Abstract

Aeromonas hydrophila is the main causative agent of ulcerative disease in catfish and causes considerable economic losses to Indonesian aquaculture. This study evaluates the prebiotic activity and the effect of feed supplementation of dayak onion simplicia powder (DOSP) on the immune response and survival of catfish infected with A. hydrophila. Five doses (0.20, 0.25, 0.30, 0.35, and 0.40 g/mL) of DOSP were tested in vitro to assess the prebiotic activity score. The results showed that a dose of 0.20 g/mL gave a significantly (P<0.05) higher probiotic stimulation value than other doses. In the in vivo test, the study used a completely randomized design with five treatments, namely simplicia (DOSP 20 g/kg), probiotic (PRO, Bacillus sp. NP5 108 CFU/mL, 1% v/w), combination (PRO+DOSP), and control (positive and negative). Fish were reared for 45 days and fed three times a day. On day 46, fish from all treatments, except negative control, were infected with an A. hydrophila dose of 106 CFU/mL injected intramuscularly. The results showed that the combination treatment (PRO+DOSP) gave better total erythrocytes, hemoglobin, hematocrit, total leukocytes and phagocytosis activity than probiotics, DOSP, and control. Administering the combination (PRO+DOSP) can reduce the total number of A. hydrophila lower than the probiotic, DOSP, and control treatments. In addition, the survival rate of catfish in the combined treatment (PRO+DOSP) was significantly (P<0.05) higher than probiotics, DOSP, and control. The results of this study can be a helpful reference and application for the early prevention of A. hydrophila infection. Keywords: aquaculture, Bacillus sp. NP5, dayak onion, probiotics, simplicia powder ABSTRAK Aeromonas hydrophila adalah penyebab utama penyakit bercak merah pada budidaya ikan lele dan menyebabkan kerugian ekonomi cukup besar pada akuakultur Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi aktivitas prebiotik serbuk simplisia bawang dayak (SSBD) dan pengaruh penambahan kombinasi probiotik Bacillus sp. NP5 dan SSBD pada pakan terhadap respons imun dan kelangsungan hidup ikan lele yang diinfeksi A. hydrophila. Lima dosis (0,20, 0,25, 0,30, 0,35, dan 0,40 g/mL) SSBD diuji secara in vitro untuk menilai skor aktivitas prebiotik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis 0,20 g/mL memberikan nilai stimulasi probiotik signifikan (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan dosis lainnya. Pada uji in vivo, penelitian menggunakan rancangan acak lengkap terdiri dari lima perlakuan, yaitu simplisia (SSBD, serbuk simplisia bawang dayak 20 g/kg), probiotik (PRO, Bacillus sp. NP5 108 CFU/mL, 1% (v/w), kombinasi (PRO+SSBD), dan kontrol (positif dan negatif). Ikan dipelihara selama 45 hari dan diberi pakan tiga kali sehari. Pada hari ke 46, ikan pada semua perlakuan, kecuali kontrol negatif, di infeksi A. hydrophila dosis 106 CFU/mL secara intramuskular. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi (PRO+SSBD) memberikan total eritrosit, hemoglobin, hematokrit, total leukosit dan aktivitas fagositosis lebih baik dibandingkan probitoik, SSBD, dan kontrol. Kombinasi (PRO+SSBD) mampu menekan total A. hydrophila lebih rendah dibandingkan probiotik, SSBD, dan kontrol. Selain itu, tingkat kelangsungan hidup ikan lele pada perlakuan kombinasi (PRO+SSBD) signifikan (P<0,05) lebih tinggi dibandingkan probitoik, SSBD, dan kontrol. Hasil penelitian ini bisa menjadi referensi dan aplikasi yang efektif untuk pencegahan dini infeksi A. hydrophila. Kata kunci: akuakultur, Bacillus sp. NP5, bawang dayak, probiotik, serbuk simplisia
Co-Authors , Alimuddin , Sarmin A. Shofy Mubarak Achmad Fauzi, Ichsan Afiff , Usamah Agus Suprayudi, Muhammad Alimuddin Apriana Vinasyiam Arzi, Jibal Rizki Akbar Aulia, Salsabila Setya Azis Kurniansyah Bako, Surandha Banin, Muhammad Ilham Labulal Billi Rifa Kusumah Cahyo, Arif Dwi DEBY YUNIASARI DEDI JUSADI Dewi, Ratih Kemala Dian Hardiantho DIANA ELIZABETH WATURANGI Dinamella Wahjuningrum Dodi Hermawan Dwi Hany Yanti Eddy Supriyono Elas, Putri Enang Harris Surawidjaja, Enang Harris Faiqotul Himmah, Maihardiyanti Fajrin, Anang Fardila Putri, Rizqiyatul Faris Allam, Muhammad Fatma Hajiali Fauzan Fauzi, Hilmi Fitriani, Farida Frid Agustinus Gebbie Edriani Giri Maruto Darmawangsa, Giri Maruto Glenaldi Halim Gustilatov, Muhamad Hadi Pratama, Ricky Haifa, Aliya Nurul Handayani, Tri Novi Hanif Azhara, Muhammad Harton Arfah Hendriana, Andri Ichsan Achmad Fauzi Inarto, Hendri Indi Jaka Nugraha Ing Mokoginta Iqbal Kurniawinata, Mohamad Jhon Lamhot F. Napitupulu, Jhon Lamhot F. Julyantoro, Pande Gde Sasmita K. Sumantadinata Kukuh Nirmala La Muhamad, Idul Lesmanawati, Wida M. Zairin Junior Mahendra, Tangkas Mashita, Nurul Maulana, Fajar Meritha, Wellya Wichi Mia Setiawati MUHAMMAD AGUS SUPRAYUDI Mulya, Muhammad Arif Munjayana, Munjayana MUNTI YUHANA Nababan, Yanti Inneke Nasrullah, Hasan Nur Bambang Priyo Utomo Nur Bambang Priyo Utomo Nur, Abidin Nurfadhilah . Paramadina, Siwi Pasha, Hilda Kemala Pattipeilohy, Christian Ernsz Priyoutomo, Nur Bambang Radi Ihlas Albani Raditya Gumelar, Muhammad Ridwan Siskandar ROSELIEN CRAB Samsu Adi Rahman Senja, Reza Karunia Shidik, Taufik Shidik Adi Nugroho SITI MARYAM Sri Nuryati Sudrajat, R Herman Sujaka Nugraha Sukenda . Sumantri, Iwan Sumiana, I Kadek Sumitro Syarifah Ruchyani Syefti Palmi, Revita Talita Shofa Adestia Tatag Budiardi Taufiqulloh Utari, Heny Budi Utomo, Nurbambang Priyo Wahyudi, Imam Tri WIDANARNI WIDANARNI Widya Puspitasari WILLY VERSTRAETE Wiyoto Wiyoto Wiyoto Wiyoto, Wiyoto Y. Hadiroseyani