Claim Missing Document
Check
Articles

الموازنة بين شعر أبي تمام والبحتري للآمدي: دراسة نقديّة بلاغيّة Fatmah Zaenal Arifin Hambali; Raswan; Achmad Fudhaili; Ahmad Dardiri
Journal of Literature Review Vol. 1 No. 2 (2025): JULI-DESEMBER
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/p5xzhj42

Abstract

يهدف هذا البحث إلى دراسة كتاب الموازنة بين الطائيين للآمدي دراسةً نقديةً بلاغية، من خلال تحليل منهج الآمدي في المقارنة بين شعر أبي تمام والبحتري، مع التركيز على القضايا البلاغية والنقدية التي تناولها. ويُظهر البحث كيف أن الآمدي جمع بين الذوق الأدبي والتحليل البلاغي في موازناته، مستندًا إلى معايير دقيقة مثل اللفظ والمعنى، التشبيه والاستعارة، الصور البلاغية، وتناول السرقات الشعرية. وقد اتسم منهج الآمدي بالاعتدال والموضوعية، حيث كان يُقوّم النصوص بناءً على قيمتها الفنية دون تحيّز ظاهر لأحد الشاعرين. ومن خلال استقراء الأمثلة النقدية التي أوردها، يبرز البحث تفوّق الآمدي في تقديم قراءة تحليلية تطبيقيّة جعلت من كتابه مرجعًا بارزًا في النقد الأدبي الكلاسيكي. كما يُبرز البحث الفرق بين بلاغة الطبع لدى البحتري وبلاغة العقل والتكثيف عند أبي تمام، مما يعكس تنوّع الأساليب الشعرية وتطوّر الذوق البلاغي في العصر العباسي.
Fenomena Al-Taraduf dalam Bahasa Arab dan Contohnya Husnaini Muhammad Makhluf; Muammar Qadavi Umasugi; Ahmad Dardiri; Wati Susiawati; Erta Mahyudin
Educational Journal Vol. 1 No. 2 (2026): JANUARI
Publisher : Indo Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63822/69nw8167

Abstract

Penelitian ini membahas fenomena al-tarāduf dalam bahasa Arab dari segi pengertian, pandangan ulama, sebab kemunculan, manfaat, serta contohnya. Secara etimologis, al-tarāduf berasal dari akar kata ردف yang berarti mengikuti secara berurutan, sedangkan secara istilah berarti perbedaan lafaz yang memiliki makna sama. Para ulama berbeda pandangan mengenai keberadaannya, sebagian seperti Sibawaih dan Ibnu Sidah menerima adanya al-tarāduf, sedangkan yang lain seperti Ibnu al-A‘rabi dan Abu Hilal al-‘Askari menolaknya karena setiap kata menurut mereka memiliki makna tersendiri. Fenomena al-tarāduf muncul disebabkan oleh berbagai faktor, antara lain perpaduan dialek, peminjaman bahasa, perkembangan fonetik dan semantik, serta kebiasaan orang Arab menggunakan kunyah. Keberadaan al-tarāduf memberikan manfaat besar, di antaranya memperkaya ekspresi bahasa, membantu kelancaran berbicara, serta memperindah gaya bahasa dalam sastra Arab. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan kepustakaan (library research), dengan sumber utama karya Walid Abdul Majid Ibrahim berjudul Al-Tarāduf fī al-Lughah al-‘Arabiyyah serta beberapa artikel jurnal yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-tarāduf merupakan fenomena alami yang memperkaya kosa kata dan memperluas keindahan bahasa Arab baik dalam percakapan maupun dalam Al-Qur’an
Majaz dalam Kitab Asror Balaghoh Perspektif Abdul Qohir Al Jurjani (Analisis Majaz dalam Maulid Simthud Duror) Ningrat, Puziyana Widya; Dardiri, Ahmad; Raswan, Raswan; Fudhaili, Achmad
Ulul Albab: Majalah Universitas Muhammadiyah Mataram Vol 30, No 1 (2026): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jua.v30i1.38300

Abstract

The study of majaz in the classical balaghah tradition plays an important role in understanding the beauty and depth of meaning in Arabic literary texts, especially religious works. However, the analysis of majaz in Maulid Simṭud Durar based on the perspective of ʿAbd al-Qāhir al-Jurjānī is still limited. This study aims to analyse majaz in Maulid Simṭud Durar based on the concepts in Asrār al-Balāghah in order to provide theoretical and practical contributions. The research uses a qualitative method with a Systematic Literature Review (SLR) approach and a literature study of 15 relevant scientific literatures. The instruments are document analysis sheets and data classification tables, with reduction, categorisation, and descriptive-analytical conclusion drawing techniques. The results of the study indicate that majaz and tasybih in Maulid Simṭud Durar function as semantic and aesthetic devices that strengthen the spiritual dimension of the text and are relevant as examples for learning the science of Bayan. Implicitly, this study enriches the development of balaghah and the study of Arabic religious literature.
Aliran Perkamusan Suwandi Suwandi; Vivi Miftahul Jannah; Ainur Rasyidah; Ahmad Dardiri; Wati Susiawati
Jurnal Ar-Ruhul Ilmi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam Vol 2 No 01 (2026): AR RUHUL ILMI: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam
Publisher : Jurnal Ar-Ruhul Ilmi: Jurnal Pendidikan dan Pemikiran Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ilmu dalālah memiliki peran sentral dalam kajian kebahasaan Arab karena berkaitan langsung dengan pemahaman makna kata dan teks. Seiring perkembangan linguistik modern dan kebutuhan pengguna bahasa Arab yang semakin beragam, metode penyusunan kamus (perkamusan) turut mengalami perubahan paradigma. Perbedaan pendekatan antara kamus klasik dan modern menimbulkan kebutuhan untuk mengkaji kembali aliran-aliran perkamusan dalam perspektif ilmu dalālah. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan konsep aliran perkamusan dalam bahasa Arab, menguraikan perkembangan serta karakteristik masing-masing aliran, dan menganalisis relevansi ilmu dalālah terhadap pendekatan-pendekatan perkamusan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui studi pustaka. Data diperoleh dari kitab-kitab kamus Arab klasik dan modern, buku linguistik Arab, serta artikel ilmiah yang relevan. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan membaca, mencatat, dan mengklasifikasikan sumber data sesuai fokus penelitian, kemudian dianalisis secara konseptual dan historis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aliran perkamusan Arab berkembang dari pendekatan klasik seperti aliran akar dan fonetik menuju pendekatan yang lebih praktis dan kontekstual seperti aliran alfabetis, tematik, frekuensi, dan digital. Setiap aliran memiliki kelebihan dan keterbatasan sesuai dengan tujuan, konteks penggunaan, dan kebutuhan pengguna. Temuan ini menegaskan bahwa perkamusan tidak bersifat statis, melainkan dinamis mengikuti perkembangan teori semantik, teknologi, dan kebutuhan pembelajaran bahasa. Kesimpulannya, kajian aliran perkamusan dalam perspektif ilmu dalālah memberikan pemahaman yang lebih komprehensif tentang relasi antara makna, metode penyusunan kamus, dan konteks penggunaan bahasa Arab. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi rujukan dalam pengembangan perkamusan Arab yang lebih integratif serta mendorong penelitian lanjutan terkait inovasi kamus berbasis semantik dan teknologi digital.