This Author published in this journals
All Journal International Journal of Public Health Science (IJPHS) PROSIDING SEMINAR NASIONAL FIKkeS Jurnal Keperawatan Indonesia Media Kesehatan Masyarakat Indonesia VISIKES Jurnal Keperawatan Soedirman (The Soedirman Journal of Nursing) Jurnal Kesehatan Masyarakat JURNAL KESEHATAN LINGKUNGAN (Journal of Environmental Health) Health Notions Syntax Literate: Jurnal Ilmiah Indonesia Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Jurnal Mitra Manajemen Jurnal Kesehatan Manarang Nursing Current : Jurnal Keperawatan Halaman Olahraga Nusantara : Jurnal Ilmu Keolahragaan Journal of Health Promotion and Behavior Journal of Maternal and Child Health Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (The Public Health Science Journal) Citra Delima Scientific journal of Citra Internasional Institute Manuju : Malahayati Nursing Journal Journals of Ners Community Faletehan Health Journal JURNAL MUTIARA KESEHATAN MASYARAKAT SANITAS: Jurnal Teknologi dan Seni Kesehatan Jurnal Keperawatan Widya Gantari Indonesia Jurnal Ilmiah Kesehatan Pediomaternal Nursing Journal Community Development Journal: Jurnal Pengabdian Masyarakat Babali Nursing Research Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Berita Kedokteran Masyarakat Jurnal Sehat Indonesia (JUSINDO) Indonesian Journal of Islam and Public Health Citra Delima Scientific journal of Citra Internasional Institute Al Makki Health Informatics Journal Jurnal manajemen informasi kesehatan Jurnal Kesehatan Kartika Jurnal Kesehatan Masyarakat Perkotaan Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat (The Public Health Science Journal) Kesmas: Jurnal Kesehatan Masyarakat Nasional (National Public Health Journal) Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Claim Missing Document
Check
Articles

Related factors to HIV/AIDS prevention behavior of adolescents in Jakarta’s high school Ratnawati, Diah; Setiawan, Agus; Widyatuti, Widyatuti; Hastono, Sutanto Priyo; Siregar, Tatiana; Anggraini, Nourmayansa Vidya
International Journal of Public Health Science (IJPHS) Vol 13, No 1: March 2024
Publisher : Intelektual Pustaka Media Utama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.11591/ijphs.v13i1.23245

Abstract

Adolescents are developing self-maturity, so they should have the correct views to become a person with a positive self-concept. Therefore, this period requires the role of parents. The parental roles include educating, teaching, disciplining, and protecting children to reach adulthood according to social norms. However, adolescents prefer to spend time with their peers, so peers are dominant in influential and modeling aspects of adolescents' sexual behavior with their partners. One of the behaviors compulsorily concerned is human immunodeficiency virus/acquired immunodeficiency syndrome (HIV/AIDS) prevention behavior. This study aimed to determine the relationship between characteristics, communication quality, parenting, peer roles, and HIV/AIDS prevention behavior in adolescents at “Y” Senior High School in North Jakarta. This study employed a cross-sectional research design. Samples were taken using the purposive sampling technique, and 208 students were obtained from 432 students. Gender, parental communication quality, and peer roles affected HIV/AIDS prevention behavior. The dominant variable was parental communication quality (OR=0.509). After controlling for gender and peer role characteristics, adolescents with strong parental communication quality were 0.51 times more likely to participate in HIV/AIDS-positive preventive activities than those with poor parental communication quality. Adolescents are expected to communicate with their parents, especially about sexual issues, more openly.
Determinan Kematian Balita di Provinsi Bangka Belitung, Gorontalo, dan Papua Barat: Analisis Data SDKI 2017 Mutaqin, Jilan Salshabilla; Rahmaniati, Martya; Hastono, Sutanto Priyo; Sipahutar, Tiopan
Jurnal Biostatistik, Kependudukan, dan Informatika Kesehatan
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangka Belitung, Gorontalo, dan Papua Barat memiliki angka kematian balita tertinggi berdasarkan wilayah Indonesia bagian Barat, Tengah, dan Timur. Tingginya kematian balita terkait langsung dengan keberlanjutan hidup anak dan merefleksikan kondisi sosio-ekonomi, lingkungan tempat tinggal, serta pemeliharaan kesehatan anak. Penelitian ini dilakukan untuk menyelidiki determinan kematian balita menggunakan data Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Analisis dilakukan pada 1056 sampel dengan uji potong lintang dan regresi logistik untuk melihat faktor kematian balita yang signifikan serta besar risiko masing-masing faktor pada determinan sosio-ekonomi dan proksi. Jumlah kelahirkan, jenis kelamin anak, ibu yang tidak memberikan ASI, pendidikan ibu, dan umur ibu saat melahirkan menjadi faktor risiko kematian balita. Faktor-faktor pada kedua determinan sosio-ekonomi maupun proksi merupakan faktor penting terhadap kematian balita di Provinsi Bangka Belitung, Gorontalo, dan Papua Barat sehingga interversi yang mengarah pada program perencanaan keluarga, khususnya terkait jumlah kelahiran perlu dilakukan untuk menurunkan angka kematian balita.
EVALUASI IMPLEMENTASI KUNJUNGAN RUMAH PROGRAM INDONESIA SEHAT DENGAN PENDEKATAN KELUARGA DI KOTA TANGERANG SELATAN Prihatni, Rima; Hastono, Sutanto Priyo
Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat Vol 9 No 1 (2024): Jurnal Mutiara Kesehatan Masyarakat
Publisher : Program Studi Kesehatan Masyarakat Universitas Sari Mutiara Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51544/jmkm.v9i1.4965

Abstract

Penyakit Tidak Menular (PTM) adalah penyebab kematian tertinggi di dunia, termasuk di Indonesia. Untuk mencegah peningkatan PTM, Kementerian Kesehatan mencanangkan Program Indonesia Sehat-Pendekatan Keluarga (PIS-PK) guna memastikan basis data kesehatan yang valid. Kota Tangerang Selatan, sebuah daerah urban di Banten, memiliki kunjungan PIS-PK yang rendah. Penelitian ini bertujuan mengkaji implementasi kunjungan rumah PIS-PK di Puskesmas wilayah Kota Tangerang Selatan untuk mengidentifikasi hambatan dan tantangan dalam pengembangan layanan Puskesmas. Puskesmas X dipilih karena capaian kunjungan PIS-PK yang rendah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain Rapid Assessment Procedure (RAP). Wawancara mendalam dilakukan terhadap koordinator PIS-PK Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan, Kepala Puskesmas X, serta staf puskesmas termasuk penanggung jawab PIS-PK dan petugas lapangan. Implementasi kunjungan rumah PIS-PK di Puskesmas X belum optimal, sehingga target tidak tercapai. Beberapa kendala yang ditemukan meliputi: komunikasi berjenjang dari Dinas Kesehatan ke Puskesmas yang belum optimal, kurangnya waktu khusus untuk sosialisasi program, serta masyarakat yang tidak bersedia dikunjungi. Konsistensi data juga masih kurang karena informasi yang diterima dari berbagai sumber berbeda. Sumber daya manusia dengan keterampilan penginputan data dan pelatihan kunjungan rumah juga masih kurang. Meskipun pedoman PIS-PK ada, sosialisasinya belum rutin, sehingga pelaksanaan belum sesuai SOP. Namun, fasilitas untuk implementasi kunjungan rumah sudah mencukupi. Pelaksanaan PIS-PK di Kota Tangerang Selatan telah berjalan sesuai arahan Kementerian Kesehatan namun menghadapi berbagai kendala. Diperlukan perbaikan komunikasi, peningkatan sosialisasi dan pelatihan rutin, serta penambahan sumber daya manusia terampil untuk mengoptimalkan program ini.
Pemodelan Faktor-faktor yang Mempengaruhi Balita Gizi Buruk di Provinsi Jawa Barat Tahun 2017 dengan Pendekatan Spatial Autoregressive Model (SAR) Retno Ambarwati; Sutanto Priyo Hastono
Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat Vol 9 No 02 (2020): Jurnal Ilmu Kesehatan Masyarakat
Publisher : UIMA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33221/jikm.v9i02.507

Abstract

Salah satu permasalahan kesehatan di Indonesia adalah meningkatnya angka kematian balita. Penyebab kematian balita salah satunya adalah kebutuhan gizi yang tidak terpenuhi sehingga banyak balita mengidap gizi buruk. Berdasarkan data Pemantauan Status Gizi (PSG) yang diselenggarakan oleh Kementerian Kesehatan tahun 2017, Jawa Barat mempunyai angka balita gizi buruk sebesar 2,9%. Adanya informasi hubungan antar wilayah menyebabkan perlu adanya keragaman spasial ke dalam model, sehingga digunakan model regresi spasial untuk menyelesaikan masalah ini. Berdasarkan analisis Moran’s I, diperoleh adanya dependensi spasial pada variabel kasus gizi buruk balita di Provinsi Jawa Barat Tahun 2017 serta beberapa faktor yang mempengaruhinya berdasarkan Spatial Autoregressive Model (SAR). Didapatkan variabel bebas yang signifikan pada α=5% adalah persentase BBLR (X1) (Pv= 0,039) dan persentase kemiskinan (X5) (Pv=0,016). Pemerintah daerah provinsi Jawa Barat perlu melakukan intervensi yaitu bagaimana cara mengurangi persentase BBLR dan persentase kemiskinan di Provinsi Jawa Barat jika ingin menurunkan kejadian gizi buruk pada balita.
Determinan Pemberian Vaksinasi BCG (Bacillus Calmette–Guérin) Untuk Mencegah Penyakit Tuberculosis Pada Balita Di Indonesia Meutia, Liza; Priyo Hastono, Sutanto
Journals of Ners Community Vol 13 No 5 (2022): Jurnal of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i5.2181

Abstract

Tuberculosis masih menjadi masalah utama kesehatan dengan tingkat morbiditas tinggi dan menjadi penyebab banyak kematian setiap tahunnya. Dari seluruh kasus tuberculosis baru setiap tahun, 11% terjadi pada anak-anak. Di Indonesia, data menunjukkan bahwa pada tahun 2019 terdapat 1263 anak dibawah 5 tahun yang meninggal karena tuberculosis. Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan cakupan vaksinasi BCG di Indonesia. Namun data menunjukkan masih banyak provinsi di Indonesia yang memiliki cakupan vaksinasi BCG rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari determinan pemberian vaksinasi BCG pada balita di Indonesia. Penelitian analitik obeservasional dengan pendekatan cross-sectional ini dilakukan terhadap 6829 responden yang telah diwawancara dalam SDKI 2018, dan dianalisis dengan menggunakan metode kompleks survey. Hasil analisis multivariat diperoleh variabel jumlah anak (aOR=1,50; p=0,001), keinginan kelahiran (aOR=0,57 dan p=0,002), jaminan kesehatan (aOR=1,33; p=0,001), jaminan kesehatan (aOR=1,14; p=0,002), realitas jumlah anak (aOR=1,37; p=0,002), pengambilan keputusan (aOR=1,56; p=0,005), penggunaan internet (aOR=1,50; p=0,001), dan tempat tinggal (aOR=1,45; p=0,001) merupakan faktor yang berhubungan dengan pemberian vaksinasi BCG. Faktor yang paling mendominasi ibu yang tidak mempunyai andil dalam pengambilan keputusan. Walaupun cakupan vaksinasi BCG di Indonesia sudah cukup baik, namun masih terdapat balita yang belum mendapatkan vaksinasi BCG. Untuk itu, berbagai intervensi edukasi akan pentingnya imunisasi untuk mencegah penyakit yang lebih optimal, serta pemberian informasi terkait keamanan dan kehalalan vaksin perlu ditingkatkan.
Determinan Pemberian Vaksinasi BCG (Bacillus Calmette–Guérin) Untuk Mencegah Penyakit Tuberculosis Pada Balita di Indonesia Meutia, Liza; Priyo Hastono, Sutanto
Journals of Ners Community Vol 13 No 6 (2022): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55129/jnerscommunity.v13i6.2317

Abstract

Tuberculosis masih menjadi masalah utama kesehatan dengan tingkat morbiditas tinggi dan menjadi penyebab banyak kematian setiap tahunnya. Dari seluruh kasus tuberculosis baru setiap tahun, 11% terjadi pada anak-anak. Di Indonesia, data menunjukkan bahwa pada tahun 2019 terdapat 1263 anak dibawah 5 tahun yang meninggal karena tuberculosis. Berbagai upaya terus dilakukan pemerintah untuk meningkatkan cakupan vaksinasi BCG di Indonesia. Namun data menunjukkan masih banyak provinsi di Indonesia yang memiliki cakupan vaksinasi BCG rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari determinan pemberian vaksinasi BCG pada balita di Indonesia. Penelitian analitik obeservasional dengan pendekatan cross-sectional ini dilakukan terhadap 6829 responden yang telah diwawancara dalam SDKI 2018, dan dianalisis dengan menggunakan metode kompleks survey. Hasil analisis multivariat diperoleh variabel status perkawinan (aOR=0,98; p=0,047), jumlah anak (aOR=1,84; p=0,001), keinginan kelahiran (aOR=0,55 dan p=0,013), jaminan kesehatan (aOR=1,49; p=0,001), penggunaan internet (aOR=1,46; p=0,014), dan wilayah tempat tinggal (aOR=0,67; p=0,002) merupakan faktor yang berhubungan dengan pemberian vaksinasi BCG. Faktor yang paling mendominasi adalah ibu yang tidak memiliki jaminan kesehatan. Walaupun cakupan vaksinasi BCG di Indonesia sudah cukup baik, namun masih terdapat balita yang belum mendapatkan vaksinasi BCG. Untuk itu, berbagai intervensi edukasi akan pentingnya imunisasi untuk mencegah penyakit yang lebih optimal, serta pemberian informasi terkait keamanan dan kehalalan vaksin perlu ditingkatkan
Pengaruh Kategori Pengobatan terhadap Keberhasilan Pengobatan Pasien Tuberkulosis Nur Annisa; Sutanto Priyo Hastono
Jurnal Kesehatan Manarang Vol 5 No 2 (2019): Desember 2019
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes Mamuju

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (239.85 KB) | DOI: 10.33490/jkm.v5i2.127

Abstract

Untreated tuberculosis disease will cause death after diagnosis in five years. The indicator of the success tuberculosis program can be measured by the success rate of treatment, the national standard of the success rate of treatment in Indonesia is 85%. The purpose of this study was determining the relationship of treatment category with the successful treatment at Poli Paru Rumah Sakit Umum Daerah Kota Cilegon Tahun 2017 with the confounding variables were age, gender, first sputum, comorbid diabetes mellitus and complications tuberculosis. A retrospective cohort study design was used in this study. We use data on tuberculosis patients who were registered in Sistem Informasi Tuberkulosis Terpadu (SITT) which began treatment in January to December 2017 until the treatment process was completed. Sampling was conducted by simple random sampling with hypothesis test for two-proportions of 113 people. We used multiple logistic regression test with causal models for data analysis. The results showed successfully treatment were 53 (46.9%) patients and a statistically significant relationship between the treatment categories and the successful treatment of TB (p value = 0.039) after being controlled by age, smear-positif before treatment, and other disease complications. Tuberculosis patients with category I treatment had odds 4.2 times higher to succeed than patients with category II treatment (OR = 4.2; 95% CI 1.077-16.41). The conclution of this study is treatment category among tuberculosis patients was determinant of success treatment. Increasing the success treatment can be sought by providing education in the community to immediately report and seek treatment if there are symptoms of tuberculosis.
The Effect of The Application of Head Coaching on The Work Motivation and Job Satisfaction of The Implementing Nurse at The Bandar Lampung Advent Hospital Gulo, Magdalena; Hastono, Sutanto Priyo; Wijayanti, Catharina Dwiana
Al Makki Health Informatics Journal Vol. 3 No. 3 (2025): Al Makki Health Informatics Journal
Publisher : Al Makki Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57185/hij.v3i3.52

Abstract

Nursing human resources today are experiencing a change in the generation of workers. The need for the role of the head nurse in carrying out coaching to support, collaborate, and facilitate nursing human resources of different generations in order to build effective working relationships, increase motivation, self-potential, and staff job satisfaction. The purpose of the study was to assess the impact of coaching training on nurses' motivation and job satisfaction. Quasi-experimental research design with one group pre-posttest design. Respondents in the research were implementing nurses, using questionnaire measuring tools. The results were obtained by the majority of respondents aged 20-30 years (42.9%), PK 2 career path (37.5%), nurse education (50.0%), and length of work 1-5 years (44.6%). Before the coaching training, the average motivation was 25.13 and job satisfaction was 23.73, while after the coaching training, the average motivation increased to 43 and job satisfaction increased to 35.98. The Paired Samples Test showed a significant effect of coaching training on motivation and job satisfaction with a p-value of 0.000, as well as an R square result of 0.838.  The need for the implementation of coaching by the head of the room to increase the motivation and work of nurses which will have an impact on the quality and effectiveness of nursing services.
A Cross-Sectional Geospatial Study on Families at Risk of Stunting in West Java Cahyani, Restu Adya; Hastono, Sutanto Priyo
Health Notions Vol 9, No 5 (2025): May
Publisher : Humanistic Network for Science and Technology (HNST)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33846/hn90502

Abstract

Stunting affects the physical, cognitive, and overall health development of children under five, potentially hindering long-term economic growth. In West Java, stunting prevalence reached 21.7% in 2023, exceeding the WHO standard (<20%) and falling short of Indonesia’s target of 14%. This study aimed to develop a geospatial model to identify at-risk families and support targeted interventions, implemented by the Family Assistance Team (TPK). A cross-sectional research design using Quantum GIS with a scoring technique was employed. Data sources included the 2023 Indonesia Health Survey (SKI), the 2023 Ministry of Population and Family Development (BKKBN) data, and the BKKBN Family Information System. The study covered 27 districts/cities in West Java. Results showed high risk in 2 cities, with high stunting prevalence and low TPK assistance; moderate risk in 14 districts/cities with moderate stunting levels and varying TPK support; and low risk in 11 districts/cities with lower stunting prevalence and higher TPK coverage. The geospatial approach effectively mapped at-risk families and prioritized interventions, enhancing TPK effectiveness. This method supported evidence-based planning and cross-sector collaboration. The study concluded that geospatial analysis is a strategic tool for guiding targeted stunting interventions and optimizing resource allocation in West Java. 
Geographically Weighted Regression Model of Stunting Determinants in Indonesia Kurniawati, Dini; Hastono, Sutanto Priyo; Safika, Iko; Wahyuningsih, Wiji
Journal of Maternal and Child Health Vol. 10 No. 3 (2025)
Publisher : Masters Program in Public Health, Universitas Sebelas Maret, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26911/thejmch.2025.10.03.02

Abstract

Background: Stunting is a chronic condition resulting from malnutrition during early growth, potentially affecting physical and cognitive development in children into adults. According to the 2023 Indonesian Health Survey (SKI), stunting in Indonesia remains at 21.5%. This figure is still far from the government's target for 2024, which was below 14%. This study aims to identify the determinants of stunting caused by spatial conditions in Indonesia in 2024. Subjects and Method: This study employed an ecological design with a spatial approach, utilizing aggregate data from the 2023 SKI and 2024 Central Bureau of Statistics (BPS) across 38 provinces in Indonesia. The dependent variable was stunting prevalence, and the analysis included eight independent variables using descriptive statistics, spatial analysis (Moran’s I and Local Moran’s I), multiple linear regression (OLS), and Geographically Weighted Regression (GWR). Data was processed between November 2024 and January 2025 using SPSS, Geoda, and R Studio. Results: Results show that the average stunting prevalence in Indonesia in 2024 was 23.56% (Standard Deviation: 6.80), which unmet the government’s target in the same year. The provinces with the lowest and highest stunting prevalence were Bali (7.2%) and Central Papua (39.3%). Meanwhile, Papua, West Papua, South Papua, Central Papua, and Highlands Papua were provinces with high stunting prevalence and surrounded by similarly high prevalence (high-high) provinces. In contrast, Banten and West Sumatra had high stunting prevalence but were surrounded by provinces with low prevalence (High-Low). Finally, factors influencing stunting across geographical areas included stunting knowledge, completion of immunization coverage, and poverty rates. Conclusion: Efforts to reduce stunting in Indonesia should focus on improving communication, information, and education, particularly in provinces with high prevalence. In addition, increasing coverage and access to complete basic immunization and enhanced family welfare should also be highlighted.
Co-Authors Abd Halim Achmad Syukkur Agung Pratama AGUS RIYANTO Ahmad Syafiq Ajeng Tias Endarti Allenidekania Allenidekania Amir, Heriyana Andriyani Andriyani Asnet Leo Bunga Besral Budi Anna Keliat Cahyani, Restu Adya Camalia S. Sahat Chanafie, Djuariah Dewi Irawaty Diana, Tyra Septi Dini Kurniawati Dixie Sebastian Djuariah Chanafie Dumilah Ayuningtyas Dyah Wahyuningsih Elly Nurachmah Elvira Elvira Emiliana Tarigan Erida Silalahi, Lenny Ernyasih, Ernyasih Examinar Fatimah Az Zahra Fitria Masulili Fitria Takahepis, Nelfa Gulo, Magdalena Hakiem Afrizal, Sandra Hanny Handiyani Hayana, Nanda Bella Heiwer Matongka, Yulian Heriyana Amir Hormat Janner Manurung Imelda Imelda Iskim Luthfa Iswan Iswan Itsna Widita Jilan Salshabilla Mutaqin Junaiti Sahar Kemal N. Siregar Kusharisupeni Kusharisupeni Kusharisupeni Kusharisupeni Lia Herliana Lilis Heri Mis Cicih Lilis Suryani Liza Meutia Lusida, Nurmalia Margono Margono Maria Astrid Maria Astrid Martina Puspa Wangi Martya Rahmaniati Mega Arista Sari Meutia, Liza Mona Megasari Muhammad Farid Hamzens Muhammad Sapoan Hadi Munaya Fauziah Mutaqin, Jilan Salshabilla Nabila Vebiana Soviadi Naomi Donna Shinta Ni Luh Widani ningsih, Sri Sunarti Nopi Nur Khasanah Nourmayansa Vidya Anggraini Novy Helena Chatarina Daulima Nur Annisa Nur Annisa Nurfika Asmaningrum Nurul Huriah Astuti Pasaribu, Jesika Prabawati, Dewi Prihatni, Rima Puput Leni Yuliani Suchery Putri, Nur A'isyah Amalia Ratna Sitorus Ratnawati, Diah Retno Ambarwati Rima Prihatni Rina Efiyanna Roni Trisnawan Roni Trisnawan Rora Asyulia Rora Asyulia Roselina Tambunan Rusmiati , Desi Safika, Iko Salsabila Naim Septiana, Valida Ulfa Sipahutar, Tiopan Siregar, Tatiana SITI AISAH Siti Misytah Sri Sunarti ningsih Suchery, Puput Leni Yuliani Sukma Rahayu Sulistiyawati Sulistiyawati Suprapti, Fitriana Sutejo Sutejo Syahputra, Yudha Joniyan Tiopan Sipahutar Triana Srisantyorini Tyra Septi Diana Uke Pemila Wahyuningsih, Wiji Wanda , Dessie Widyatuti Wijayanti, Catharina Dwiana Yafi Velyan Mahyudi Yanti Cahyati Yeni Rustina Yeni Rustina Yosi Duwita Arinda Zhafirah, Alya Zahrah