Claim Missing Document
Check
Articles

Reproductive Health Literacy Among Adolescents in Pekanbaru: A Cross- Sectional Study Masrina Munawarah Tampubolon; Nurhannifah Rizky Tampubolon; Niken Yuniar Sari; Arneliwati Arneliwati
Jurnal Ners Vol. 10 No. 1 (2026): JANUARI 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.52882

Abstract

Reproductive health literacy is a foundational element in promoting sustainable public health, particularly among adolescents. Despite its importance, global and national studies consistently report low literacy levels in this domain. This cross-sectional study aimed to assess the reproductive health literacy of junior high school students in Pekanbaru, Indonesia, with a specific focus on gender-based disparities. A total of 323 students were purposively selected and surveyed using a highly reliable instrument adapted from the Health Literacy Measure for Adolescents (HELMA), which evaluates five key domains: accessing, reading, understanding, appraising, and applying health information. Findings revealed that 91.02% of respondents fell into the “inadequate” literacy category, with no participants achieving an “excellent” level. Gender analysis showed that 95.04% of male and 87.91% of female students were classified as having inadequate literacy, while only 3.72% reached a “sufficient” level. Although female students exhibited slightly higher proportions in the “problematic” and “sufficient” categories, the overall literacy remained critically low across both genders. Domain-specific analysis indicated stronger conceptual understanding among adolescents but significant weaknesses in functional and critical literacy skills. This study contributes novel insights by documenting lower literacy levels than previously reported in national and international contexts, and by offering a detailed breakdown across literacy domains. The results underscore the urgency of implementing targeted, domain-based, and gender-sensitive educational interventions. Furthermore, the findings advocate for a locally grounded, collaborative approach involving schools, healthcare providers, families, and digital media to cultivate a supportive information ecosystem that empowers adolescents in making informed reproductive health decisions.
Festival Kesehatan Masyarakat: Optimalisasi Pemantauan Tekanan Darah dan Glukosa sebagai Upaya Pencegahan Penyakit Tidak Menular (PTM) Tesa, Auliana; Arneliwati, Arneliwati; Sabrian, Febriana; Arnando, Rifky; Rachmadi, Annisa
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bhinneka Vol. 4 No. 3 (2026): Bulan Februari
Publisher : Bhinneka Publishing

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58266/jpmb.v4i3.1034

Abstract

Latar belakang: Penyakit tidak menular (PTM) seperti hipertensi dan diabetes melitus merupakan masalah kesehatan yang semakin meningkat di Indonesia. Deteksi dini dan edukasi gaya hidup sehat menjadi langkah strategis untuk mencegah komplikasi dan menurunkan prevalensi PTM di tingkat komunitas. Tujuan: Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap risiko PTM melalui pemeriksaan tekanan darah dan gula darah sewaktu, serta memberikan edukasi kesehatan mengenai pencegahan dan pengelolaan PTM. Metode: Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 23 Oktober 2025 di Kelurahan Labuh Baru Timur, Kota Pekanbaru. Sebanyak kurang lebih 50 peserta mengikuti kegiatan yang berlangsung selama 120 menit. Metode pelaksanaan meliputi pemeriksaan tekanan darah dan gula darah sewaktu, penyampaian edukasi kesehatan, serta diskusi interaktif. Data dianalisis secara deskriptif untuk mengetahui distribusi tekanan darah dan kadar gula darah peserta. Hasil: Dari 43 responden yang diperiksa, sebanyak 34.9% mengalami hipertensi dan 27.9% memiliki kadar gula darah sewaktu ≥200 mg/dL. Mayoritas responden adalah perempuan (74.42%) dan berada pada kelompok usia 22–39 tahun (60.47%). Kesimpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat ini berhasil mengidentifikasi risiko PTM di komunitas dan meningkatkan kesadaran peserta terhadap pentingnya pemeriksaan kesehatan dan penerapan gaya hidup sehat. Kegiatan serupa perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk mendukung upaya pencegahan PTM di tingkat lokal.
Faktor yang Berhubungan dengan Keputusan Memulai Hemodialisis pada Pasien Gagal Ginjal Kronik Tahap Akhir Lubis, Vidi Mayumi Anggita; Bayhakki, Bayhakki; Arneliwati, Arneliwati
JUKEJ : Jurnal Kesehatan Jompa Vol 5 No 1 (2026): JUKEJ: Jurnal Kesehatan Jompa
Publisher : Yayasan Jompa Research and Development

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57218/jkj.Vol5.Iss1.2414

Abstract

Keputusan memulai hemodialisis sangat penting untuk mengurangi morbiditas dan mortalitas pasien, namun dipengaruhi oleh berbagai faktor. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui factor-faktor yang berhubungan dengan pengambilan keputusan pasien gagal ginjal kronik tahap akhir dalam memulai terapi hemodialisis. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan studi retrospektif yang dilaksanakan di RSUD Arifin Achmad pada 75 pasien yang menjalani terapi hemodialisis, dengan teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas responden berusia >46 tahun (58,7%), berjenis kelamin laki-laki (52,0%), berpendidikan tinggi (60,0%), tidak bekerja (52,0%), dan memiliki asuransi kesehatan (98,7%). Sebagian besar responden memiliki dukungan sosial yang baik (77,3%), self-efficacy tinggi (70,7%), pengetahuan baik (53,3%), serta tidak menunda dalam memulai terapi hemodialisis (69,3%). Berdasarkan hasil uji chi-square, terdapat hubungan antara usia (p value = 0,011), dukungan sosial (p value = 0,002), self-efficacy (p value = 0,000), dan pengetahuan (p value = 0,001) dengan pengambilan keputusan dalam memulai terapi hemodialisis. Sementara itu, tidak terdapat hubungan antara jenis kelamin (p value = 0,464), tingkat pendidikan (p value = 0,240), pekerjaan (p value = 1,000), dan kepemilikan asuransi (p value = 1,000) dengan pengambilan keputusan dalam memulai terapi hemodialisis. Kesimpulan penelitian menunjukkan bahwa dukungan sosial, self-efficacy, dan pengetahuan yang tinggi meningkatkan kemungkinan pasien mengambil keputusan untuk memulai terapi hemodialisis secara tepat waktu. Implikasi penelitian ini menekankan pentingnya peran tenaga kesehatan dalam meningkatkan edukasi, memperkuat dukungan sosial, serta membangun self-efficacy pasien guna mencegah keterlambatan memulai terapi hemodialisis.
Preventing the Progression of Knee Osteoarthritis: A Qualitative Study of Older Adults’ Experiences in Pekanbaru, Indonesia Arneliwati Arneliwati; Masrul Masrul; Mudjiran Mudjiran; Meri Neherta
Jurnal Ners Vol. 10 No. 2 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v10i1.54750

Abstract

Osteoarthritis of the knee is a major health problem among older adults that can lead to disability and decreased quality of life. Preventing the progression of this disease requires a deep understanding of the experiences of older adults in managing their condition. This study aimed to explore the experiences of elderly individuals in preventing the progression of knee osteoarthritis in Pekanbaru City. This study used a qualitative design with a descriptive phenomenological approach. The participants consisted of 15 older individuals aged 60-80 years diagnosed with knee osteoarthritis, selected through purposive sampling. Data collection was conducted through in-depth semi-structured interviews from March to May 2024. The findings identified four main themes: (1) older adults’ understanding of knee osteoarthritis and its prevention, (2) strategies for managing pain and limited mobility, (3) family and social support in the prevention process, and (4) challenges and barriers in implementing prevention efforts. The results showed that the elderly have only a limited understanding of preventing the progression of osteoarthritis but display high motivation to take preventive measures when they receive adequate support. The most commonly used strategies included activity modification, traditional medicine and light exercise. Comprehensive ed Background: Knee osteoarthritis is a common chronic condition among older adults and is associated with disability and reduced quality of life. Efforts to prevent disease progression are strongly influenced by older adults’ experiences and perceptions in managing their condition. Aim: This study aimed to explore the experiences of older adults in preventing the progression of knee osteoarthritis in Pekanbaru, Indonesia. Methods: A qualitative study with a descriptive phenomenological approach was conducted among 15 older adults aged 60–80 years diagnosed with knee osteoarthritis. Data were collected through semi-structured in-depth interviews in Pekanbaru City from March to May 2024 and analyzed using thematic analysis following Braun and Clarke’s framework. Results: Four main themes were identified: (1) limited understanding of knee osteoarthritis and its prevention, (2) pain management strategies and adaptation of daily activities, (3) the role of family and social support in prevention efforts, and (4) physical, financial, and environmental challenges in implementing preventive behaviors. Despite limited knowledge, participants demonstrated strong motivation to prevent disease progression when adequate support was available. Conclusion: Older adults’ experiences indicate that prevention of knee osteoarthritis progression is shaped by knowledge, adaptive capacity, and social support. These findings highlight the need for structured education and a multidisciplinary, context-sensitive approach to support preventive efforts among older adults. ucational programs and multidisciplinary support are needed to improve the effectiveness of efforts to prevent the progression of knee osteoarthritis in older adults.
Hubungan Dukungan Keluarga Dengan Tingkat Ketergantungan Activity Daily Living (ADL) Pada Lansia Penderita Rheumatoid Arthritis Septina Aulia Putri; Arneliwati Arneliwati; Nurhannifah Rizky Tampubolon
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.520

Abstract

Latar Belakang: Rheumatoid arthritis merupakan penyakit autoimun kronis yang sering dialami oleh lansia dan ditandai dengan peradangan sendi, nyeri, serta kekakuan yang dapat menyebabkan keterbatasan fisik. Kondisi ini berpotensi menurunkan kemampuan lansia dalam melakukan Activity Daily Living (ADL) sehingga meningkatkan tingkat ketergantungan. Dukungan keluarga berperan sebagai sumber daya eksternal yang penting dalam membantu lansia beradaptasi dengan keterbatasan fisik dan mempertahankan kemandirian fungsional. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dukungan keluarga dengan tingkat ketergantungan Activity Daily Living (ADL) pada lansia penderita rheumatoid arthritis. Metode: Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif korelasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel penelitian berjumlah 61 lansia penderita rheumatoid arthritis yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner dukungan keluarga dan Indeks Barthel untuk menilai tingkat ketergantungan ADL. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil: Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa mayoritas responden berusia 60–74 tahun (54,1%), berjenis kelamin perempuan (70,0%), tidak bekerja (55,7%), berpendidikan terakhir sekolah dasar (39,3%), dan tinggal bersama anak (60,7%). Sebagian besar responden menderita rheumatoid arthritis selama 3–5 tahun (47,5%). Berdasarkan variabel dukungan keluarga, sebanyak 41,0% responden memperoleh dukungan keluarga kategori sedang, sedangkan berdasarkan tingkat ketergantungan ADL, sebanyak 39,3% responden mengalami ketergantungan ringan. Analisis bivariat menunjukkan nilai p = 0,003 (< 0,05) yang menandakan adanya hubungan yang bermakna antara dukungan keluarga dengan tingkat ketergantungan Activity Daily Living (ADL). Kesimpulan: Dukungan keluarga berhubungan secara signifikan dengan tingkat ketergantungan Activity Daily Living (ADL) pada lansia penderita rheumatoid arthritis dan berperan dalam mempertahankan kemampuan fungsional lansia.
Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Kepatuhan Minum Obat pada Pasien Tuberkulosis Paru Kuntum Rihadatul Aisyah; Arneliwati Arneliwati; Ari Pristiana Dewi
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i2.656

Abstract

Latar Belakang: Tuberkulosis Paru (TB Paru) merupakan penyakit menular yang masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di Indonesia dan menempati peringkat kedua tertinggi setelah India dalam jumlah kasus baru dan kematian. Keberhasilan pengobatan sangat dipengaruhi oleh tingkat pengetahuan pasien mengenai penyakitnya serta kepatuhan dalam mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran tingkat pengetahuan dan kepatuhan minum obat pada pasien TB Paru yang menjalani pengobatan di Puskesmas Sidomulyo. Metode: Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif. Sampel dalam penelitian ini berjumlah 52 responden, diambil menggunakan teknik purposive sampling dengan rumus slovin 10%. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner tingkat pengetahuan dan instrumen Morisky Medication Adherence Scale (MMAS-8). Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan distribusi frekuensi setiap variabel. Hasil: Didapatkan hasil paling banyak responden berusia usia 19-35 tahun (dewasa awal) (44,2%), sebagian besar responden berjenis kelamin laki-laki (55,8%), tingkat pendidikan paling banyak lulusan SMA (59,6%), memiliki pekerjaan yaitu wiraswasta (51,9%), mayoritas sudah menjalani pengobatan >2 bulan (73,1%), tingkat pengetahuan pada kategori cukup (53,8%), kepatuhan minum obat kategori tinggi (55,8%). Kesimpulan: Kesimpulan yang diambil bahwa Pasien Tuberkulosis Paru di Puskesmas Sidomulyo memiliki tingkat pengetahuan yang cukup dan kepatuhan minum obat tinggi terhadap pengobatan.
HUBUNGAN JENIS KELAMIN DAN HARGA DIRI DENGAN NOMOPHOBIA PADA MAHASISWA: RELATIONSHIP BETWEEN GENDER AND SELF-ESTEEM WITH NOMOPHOBIA IN STUDENTS Humaidiyathul Fiqqriyah Nurhayati; Niken Yuniar Sari; Arneliwati
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 6 No. 1 (2023): JUNI 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v6i1.345

Abstract

Nomophobia adalah suatu ketidaknyamanan, kegelisahan, ketakutan atau kesedihan yang disebabkan karena tidak dapat berhubungan dengan telepon genggam smartphone. Nomophobia yang terjadi pada mahasiswa keperawatan akibat mahasiswa sering kali tidak menyadari bahwa penggunaan smartphone dapat menyebabkan gangguan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi hubungan jenis kelamin dan harga diri dengan fenomena nomophobia pada mahasiswa Fakultas Keperawatan Universitas Riau. Penelitian ini merupakan penelitian jenis kuantitatif dengan desain deskriptif korelatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian ini berjumlah 245 responden yang diambil berdasarkan metode stratified random sampling. Instrumen pada penelitian ini menggunakan Rosenberg Self Esteem Scale dan Nomophobia Questionnare (NMP-Q). Analisis yang digunakan adalah analisis bivariat dengan menggunakan metode Chi Square dengan α= 0,05%. Hasil penelitian menemukan bahwa mayoritas responden berusia 19 tahun (29%) dan berjenis kelamin perempuan (88,%). Mayoritas responden memiliki memiliki nomophobia berat sebanyak 152 responden (62%) dengan harga tinggi sebanyak 216 responden (88,2%). Hasil uji chi square terdapat hubungan antara jenis kelamin dengan nomophobia (p=0,000). Hasil uji chi square menunjukkan ada hubungan jenis kelamin dengan kejadian nomophobia (p= 0,000), sedangkan harga diri tidak berhubungan dengan kejadian nomophobia (p= 0,490). Temuan ini merekomendasikan kepada peneliti selanjutnya untuk mengatasi tingkat nomophobia berat yang dialami mahasiswa dan sekaligus menganalisis faktor lainnya seperti durasi penggunaan smartphone yang kemungkinan dapat menjadi faktor yang mempengaruhi tingkat nomophobia berat yang dialami mahasiswa.
EFEKTIVITAS PENDIDIKAN KESEHATAN TENTANG PENGGUNAAN ALAT PELINDUNG DIRI TERHADAP PENGETAHUAN DAN SIKAP PENYAPU JALAN RAYA: THE EFFECTIVENESS OF HEALTH EDUCATION OF PERSONAL PROTECTIVE EQUIPMENT APPLICATION TOWARDS KNOWLEDGES AND ATTITUDES OF STREET SWEEPER Zahra Hunafa; Arneliwati; Niken Yuniar Sari
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 6 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v6i2.351

Abstract

Penyapu jalan merupakan kelompok rentan yang dapat mengalami berbagai masalah kesehatan. Hal ini dapat disebabkan karena kurangnya pemahaman penyapu jalan terkait penggunaan alat pelindung diri (APD). Sehingga pendidikan kesehatan kesehatan tentang penggunaan APD perlu dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap penyapu jalan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pendidikan kesehatan tentang penggunaan APD pada penyapu jalan raya di Kota Pekanbaru. Penelitian ini menggunakan desain pre-eksperimental dan pre-post test one group design. Teknik purposive sampling diterapkan untuk mengumpulkan data dari 34 responden yang terlibat dalam penelitian ini. Analisis bivariat dilakukan menggunakan uji Wilcoxon. Temuan dari penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata pengetahuan sebelum intervensi adalah 8,44, sedangkan setelah intervensi mencapai 10,82. Adapun rata-rata sikap sebelum intervensi adalah 33, sedangkan setelah intervensi meningkat menjadi 36,59. Hasil uji statistik menyatakan bahwa terdapat perbedaan rata-rata pengetahuan dan sikap penyapu jalan sebelum dan sesudah diberikan pendidikan kesehatan tentang penggunaan APD (p= 0,000). Pendidikan kesehatan efektif terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap penyapu jalan tentang penggunaan APD. Abstract Street sweepers are a vulnerable group that can experience various health problems, often due to a lack of understanding about the use of personal protective equipment (PPE). Therefore, health education on the use of PPE is necessary to improve the knowledge and attitudes of street sweepers. This study aims to determine the effectiveness of health education on the use of PPE among street sweepers in Pekanbaru City. This research employed a pre-experimental design with a pre-post test one group design. Purposive sampling technique was applied to collect data from 34 respondents involved in this study. Bivariate analysis was conducted using the Wilcoxon test. The findings from the study indicate that the average knowledge score before the intervention was 8.44, while after the intervention, it reached 10.82. The average attitude score before the intervention was 33, which increased to 36.59 after the intervention. Statistical test results state a difference in street sweepers' average knowledge and attitudes before and after receiving health education about using PPE (p= 0.000). Health education effectively improves street sweepers' knowledge and attitudes regarding using PPE.
HUBUNGAN SEDENTARY LIFESTYLE DAN POLA TIDUR DENGAN KEJADIAN OBESITAS PADA REMAJA USIA 14-18 TAHUN: THE RELATIONSHIP BETWEEN SEDENTARY LIFESTYLE AND SLEEP PATTERNS WITH THE INCIDENCE OF OBESITY IN ADOLESCENTS AGED 14-18 YEARS Fiqih Zakiyah ilyas; Arneliwati; Aminatul Fitri
JURNAL KEPERAWATAN TROPIS PAPUA Vol. 6 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v6i2.355

Abstract

Masa transisi antara masa kanak-kanak dan masa dewasa disebut dengan masa remaja. Sedentary lifestyle adalah mencakup aktivitas apa pun yang dilakukan di luar tempat tidur, dengan posisi paling umum atau dominan adalah duduk dan berbaring, serta jumlah kalori yang terbakar minimal. Semakin lama seseorang melakukan sedentary semakin besar kemungkinan seseorang untuk mengalami beberapa masalah kesehatan, termasuk obesitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara sedentary lifestyle dan pola tidur dengan kejadian obesitas. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif menggunakan desain cross-sectional di Pekanbaru. Sampel penelitian sebanyak 277 responden dengan menggunakan teknik stratified random sampling. Pengukuran sedendary lifestyle menggunakan Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ). Analisis bivariat menggunakan uji chi-square. Hasil penelitian yang didapatkan karakteristik responden sebagian besar responden usia 16 tahun (51,4%) dan berjenis kelamin perempuan (58,5%). Sebanyak 66,4% remaja berada pada kategori sedentary lifestyle sedang. Ada hubungan hubungan antara sedentary lifestyle dengan kejadian obesitas pada remaja usia 14- 18 tahun (p= 0,031). Sedangkan pola tidur tidak berhubungan dengan kejadian obesitas (p=1,000). Sekolah dan orang tua dapat berperan aktif dalam memberikan edukasi dan fasilitas untuk mendukung gaya hidup aktif di kalangan remaja. Selain itu, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkaji faktor-faktor lain yang mungkin mempengaruhi kejadian obesitas pada remaja, termasuk pola makan, faktor genetik, dan lingkungan sosial. Abstract The transition period between childhood and adulthood is called adolescence. A sedentary lifestyle includes any activity conducted outside of bed, with the most common or dominant positions being sitting and lying down and minimal calories burned. The longer an individual engages in sedentary behavior, the greater the likelihood of experiencing several health problems, including obesity. This study aims to determine the relationship between a sedentary lifestyle and sleep patterns and the incidence of obesity. It employs a descriptive method using a cross-sectional design in Pekanbaru. The study sample consisted of 277 respondents, selected using stratified random sampling. Sedentary lifestyle measurement was conducted using the Adolescent Sedentary Activity Questionnaire (ASAQ). Bivariate analysis was carried out using the chi-square test. The results showed that most respondents were 16 (51.4%) and female (58.5%). About 66.4% of adolescents were in the moderate sedentary lifestyle category. There was a significant relationship between a sedentary lifestyle and the incidence of obesity in adolescents aged 14-18 years (p= 0.031). However, sleep patterns were not related to the incidence of obesity (p=1.000). Schools and parents can play an active role in providing education and facilities to support an active lifestyle among adolescents. Furthermore, further research is needed to examine other factors that may influence the incidence of obesity in adolescents, including dietary patterns, genetic factors, and the social environment.
Gambaran self-efficacy pada usia dewasa madya dengan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Rejosari, Pekanbaru: Self-efficacy among middle-aged adults with hypertension in the Rejosari Community Health Center work area, Pekanbaru Siti Rohimi; Arneliwati; Herlina
Jurnal Keperawatan Tropis Papua Vol. 9 No. 1 (2026): JUNI 2026
Publisher : Poltekkes Kemenkes Jayapura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47539/jktp.v9i1.510

Abstract

Salah satu tantangan dalam pengelolaan hipertensi, terutama pada kelompok usia dewasa madya, adalah kesibukan dan tingginya stresor kehidupan yang menghambat penerapan perilaku hidup sehat. Rendahnya kepatuhan pasien juga masih menjadi masalah utama dalam manajemen hipertensi. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran self-efficacy pada usia dewasa madya dengan hipertensi di wilayah kerja Puskesmas Rejosari, Pekanbaru. Desain penelitian adalah deskriptif dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 333 responden yang dipilih menggunakan purposive sampling. Self-efficacy diukur menggunakan Hypertension Self-Care Profile (HBP-SCP). Mayoritas responden memiliki tingkat self-efficacy kategori sedang (67,3%). Keyakinan tertinggi ditemukan pada aspek kepatuhan minum obat antihipertensi sesuai jadwal dokter, dengan 74,4% responden menyatakan yakin atau sangat yakin. Sebaliknya, keyakinan terendah ditemukan pada aspek pengelolaan pola makan, aktivitas fisik, pengelolaan stres, dan pemantauan kesehatan mandiri, dengan proporsi "agak yakin" berkisar antara 45,3%–53,8%. Penguatan self-efficacy pada aspek-aspek tersebut perlu menjadi fokus intervensi keperawatan pada penderita hipertensi dewasa madya. One of the challenges in managing hypertension, especially among middle-aged adults, is the busyness and high life stressors that hinder the adoption of healthy lifestyle behaviors. Low patient adherence also remains a major problem in hypertension management. This study aimed to describe the self-efficacy of middle-aged adults with hypertension in the working area of Puskesmas Rejosari, Pekanbaru. A descriptive design with a cross-sectional approach was used. A total of 333 respondents were selected using purposive sampling. Self-efficacy was measured using the Hypertension Self-Care Profile (HBP-SCP). The majority of respondents had a moderate level of self-efficacy (67.3%). The highest confidence was found in adherence to taking antihypertensive medication according to the doctor's schedule, with 74.4% of respondents reporting being confident or very confident. In contrast, the lowest confidence was found in diet management, physical activity, stress management, and self-health monitoring, with the proportion of respondents reporting "somewhat confident" ranging from 45.3% to 53.8%. Strengthening self-efficacy in these aspects should be the focus of nursing interventions for middle-aged hypertensive patients.
Co-Authors ', Desfanita ' ', Fachrunnisa ' AA Sudharmawan, AA Abd. Rasyid Syamsuri Abda Abda Adany Sulthan Alhisyam Adesyahpuri, Diva Adhani, Nida Rahmatul Agnes Putri S Marbun Agrina Agrina . Amalia Ayuturrahmi Amelia Azzahra Aminatul Fitri Amir, Yufitriana Ance Nopentri Pratama Ani Constantia Annisa Fatma Zafasia Annisa Rachmadi Annisa Ramadhani Putri Apriliano, Yos Bayu Ari Pristiana Dewi Arini, Intan Arnando, Rifky Artawati BR Simanjuntak Aulia Sadeva Ayu Lestari Ayuni, Putri Azat Aprianto aziz, ari rahmat bakkara, queen Widiyasnara Bayhakki &#039; &#039; Bayhakki Bayhakki Caroline, Sarah Cici Fitria Ulandari Darwin - Karim Dasna &#039; &#039; Derry Mertianda Desfanita &#039; &#039; Desi " Wahyuni DESI NURUL HASTRIALI Dewani, Grace Sri Dewi Kurnia Putri Dewi Liesnoor Setyowati Dhea Annisa Savitri Dianti, Puteri Didi Kurniawan Dilla Aulia Dimas Imam N Dwi Oktiviani DZAKIA, MASITA AQLA Egi Yunia Rahmi Ella Biisnilla Elmi Wahyuni Erika Erika Erika Erni &#039; Kartika Erwin - - Erwin Erwin Fadhillah, Fadhillah Fadhlia, Husna Faizah Faizah Fajri Disfa Madhani Fathra Annis Nauli Fatkhul Muhlisin Febri Nazwarul Fauzan Febriana - Sabrian Febryani Zuvita Fina Oktavia Fiqih Zakiyah ilyas Fitri Rabika Zariyati Putri Fitria Mardhotilah Fitriani, Dora Freona, Gesi Fuji Mazelda Gamya Tri Utami Gina Febiola Manalu H. Erwin &#039; &#039; Handika, Yefma Feby Hellena Deli Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Herlina Hikmawati Ilma HILDA PRATIWI Humaidiyathul Fiqqriyah Nurhayati Hunafa, Zahra HURIYAH ISTY Hutri Engla Resti Indriati, Ganis Julita, Warni Jumaini &#039; &#039; Jumaini, Jumaini ' Karmila, Fitri Khairatul Husnia Khasanah, Wahyu Nur Khofifah Dwi Sarifah Khoirul Amin Subhakti Kuntum Rihadatul Aisyah Larasati Inayah Lia &#039; Rahmawati Liana &#039; Asnita Lubis, Vidi Mayumi Anggita M. Ilham Maisantri, Vivi Maria - Septiyanti Masrul Djalal Mentari, Gilang Sri Metaria Nengsih Meutia - Rhadia Mira Anggraini Misrawati Misrawati &#039; &#039; Mita Purnama Mudjiran Mudjiran Muhammad " Hariyansyah Muhammad Syarif Buang Muslim " " Nabawiyah, Nabawiyah Nakhlah, Fidela Neherta, Meri Nesha Nurdilla Ningrum, Yulan Dwi Nopriadi Novia Ervadanti Novlin Claudi Nurhaliza Maharani Nurhannifah Rizky Tampubolon Nurhayati Nurhidayah Nurhidayah Nurjannah - Tul&#039;aini Nurul Rahmawati Nur’aina Nur’aina Olivia Indarti Olivia Indarti Olivia, Archel Padillah Ramadhan Pratiwi Afriani Hamid Pujiati &#039; &#039; Putri Adila Khairiyah Putri, Shindi Rahmedani Rachmadi, Annisa Rahayu Efendi Rahimulyani, Ranny Rahmadhani Sahara Rahmalia - Ningsih Ramadhan, Padillah Ratih Delimaniar Siregar Rayhan Hanoum Harli Reni Zulfitri Repika Tri Yurni Rezky Rizalti Ridho Kurniawan Rifky Arnando Rima &#039; Sari Rini Riasti Riri Novayelinda Rismadefi - Woferst Roja Nadila Rustam, Musfardi Safri Safri Salawaty Salawaty Santri, Widya Saraswati, Riska Ardhya Sari, Niken Yuniar Sari, Tesha Hestyana Septhian Pherry Lumban Tobing Septina Aulia Putri Shisi Gusnita Siagian, Lina Maria Siti &#039; Rahmalia Siti Hafizhah Rahmah Siti Rahmalia Hairani Damanik Siti Rahmalia HD Siti Rohimi Sofiana Nurchayati Sri " Rahayu Sri " Utami Sri " Wahyunita Sri &#039; Utami Sri Agustin Purwanti Sri Utami Sri Utami Sri Utami Sri Utami Sri Wahyuni Sri Wahyuni Stephanie Dwi Guna Sukma, Melati Sumarni " " Suryawan, Putri Ayu Sussiati " " Suyanto . Suyanto . Syilvi Novita Darman Tabroni, Irman Tampubolon, Masrina Munawarah Tanisa Mega Silvia Tesa, Auliana Tilla, Marda Tio Rita Tambunan Tirta Mulyana Tsuraya, Mona Ulfa, Ruvida Ummu Hanifa Veny Elita Wan Khairul Nizam Wan Nishfa Dewi Wan Shurna Alaihimi Wasisto Utomo Weni - Utari Widia - Lestari Widia Lestari Yersi Ahzani Yesi Hasneli Yesi Hasneli N Yoga Mukhlana Yos Bayu Apriliano Yulia Irvani Dewi Yuliyanti " " Yunia - Mariantari1 Yusdina Rizki Banurea Zahra Hunafa Zukhra, Ririn Muthia Zulkhairi Zulkhairi