p-Index From 2021 - 2026
8.583
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Kecukupan Asupan Kalsium dan Zat Besi dengan Derajat Dismenorea Primer pada Mahasiswi Ilmu Gizi Universitas Muhammadiyah Surakarta Aprilia, Isna; Puspitasari, Dyah Intan; Mardiyati, Nur Lathifah; Sarbini, Dwi
JURNAL NUTRISIA Vol 27 No 2 (2025): September 2025
Publisher : Poltekkes Kemenkes Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29238/jnutri.v27i2.397

Abstract

Background: Dysmenorrhea, which is the condition of cramps or pain during menstruation, can be caused by various factors, including inadequate intake of calcium and iron. Objective: This study aims to analyze the relationship between the adequacy of calcium and iron intake and the severity of primary dysmenorrhea among nutrition students at Universitas Muhammadiyah Surakarta. Method: A cross-sectional design was used in this study with a sample of 140 female students at Nutrition Science in UMS. Simple random sampling was utilized for sample collection. The WaLIDD scale questionnaire was used to calculate dysmenorrhea scores, and the SQ-FFQ form was employed to assess the adequacy of calcium and iron intake over the past month. Data analysis was conducted using the Spearman Rank test. Results: The findings indicate that all students experienced dysmenorrhea, with an average calcium intake adequacy of 36.3% and an average iron intake adequacy also categorized as insufficient (42.4%). From the Spearman Rank test analysis, the adequacy of calcium intake related to dysmenorrhea showed a p-value of 0.450, and iron intake adequacy related to dysmenorrhea had a p-value of 0.244. Conclusion: There is no significant relationship between the adequacy of calcium and iron intake and the severity of primary dysmenorrhea among the nutrition students at Universitas Muhammadiyah Surakarta. It is recommended that future researchers can conduct blood serum measurements to assess calcium and iron levels to prevent dysmenorrhea.
The relationship between the ratio of omega-6 and omega-3 consumption with caesarean section Mustikaningrum, Fitriana; Rahmaningtyas, Anindya; Ningtyas, Puput F.E.; Mardiyati, Nur Lathifah; Binti Che Ku Jusoh, Tengku Farizan Izzi
Jurnal Gizi dan Dietetik Indonesia (Indonesian Journal of Nutrition and Dietetics) VOLUME 12 ISSUE 4, 2024
Publisher : Alma Ata University Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21927/ijnd.2024.12(4).242-251

Abstract

Background : Many of research explained that Omega-3 and Omega-6 consumption during pregnancy affect delivery method. Omega-3 and omega-5 affect uterus contraction. The prevalence of caesarean section in 154 countries were 21.1%, and 43% in Primary health care. Caesarean section has a risk to get complication during and after parturition also could increase maternity cost. Objectives:  The aim of study was to determine the relationship between ratio omega-6: omega-3 intake and the incidence of cesarean section in postpartum mothers in the Bendosari Primary Health Care area. Method: This was observational study with cross sectional approach. The subjects of the study were 66 postpartum mothers who met the inclusion and exclusion criteria and were selected using the purposive sampling method. Data of omega-3 and omega-6 intake during the 2-3rd semester tri pregnancy period were obtained by interview method using the Semi Quantitative Food Frequency (SQ_FFQ) form. The relationship between omega-3 intake and caesarean section was analyzed with the Chi-Square test (P<0,05), while Fisher’s exact test was used to analyzed the relationship between intake ratio of omega-6 and omega-3 (P<0,05). Result: There was a relationship between omega-3 intake and ratio between omega-6: omega-3 intake with caesarean section with P-value 0.03. The mother who consume high omega-3 had prevalence ratio 3,6 times higher to have normal delivery compared than mother who had low consumption of omega-3. Moreover, mother who had sufficient ratio of omega 6: omega 3 in their diet had prevalence ratio 9 times higher to have normal delivery compared with mother who had high ratio of omega 6: omega 3in the diet during pregnancy. Pregnant women suggests to consume high omega-3 and sufficient ratio omega-6:omega-3 to prevent risk of  caesarean section
PENYULUHAN DAN SENAM HIPERTENSI DALAM MENGENDALIKAN TEKANAN DARAH PADA LANSIA DI POSYANDU ANGGREK, DESA WARU, KABUPATEN SUKOHARJO Mochamad Bagoes Nata Samudra; Atika Rianti Utami; Fitri Aulia Naufal; Aulia Kusuma Dewi; Serin Izzatut Taqiyah; Zulfiana Nurlaili; Jihan Fadhila; Merlin Anugraheni; Chemita Andien Prahasti; Salma Khoirunnisa; Cynthia Agustina; Siswa Oktaviani Pratiwi; Nur Lathifah Mardiyati; Tanjung Anitasari Indah Kusumaningrum
Jurnal Berkawan: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2, No. 2, Mei 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/berkawan.v2i2.6054

Abstract

Kabupaten Sukoharjo memiliki jumlah penduduk 115.801 jiwa dan menduduki peringkat ke-19 dengan tingkat hipertensi tertinggi di Provinsi Jawa Tengah tahun 2021. Sedangkan di Desa Waru, terdapat 43 lansia di Posyandu Anggrek dan 58% diantaranya mengidap hipertensi yang disebabkan gaya hidup dan pola makan tidak sehat serta kurangnya edukasi terhadap penyakit hipertensi. Oleh karena itu, dilakukan penyuluhan terkait pengetahuan dan pemahaman serta deteksi dini terhadap penyakit hipertensi. Kegiatan pengabdian ini diawali dengan menentukan prioritas masalah dengan USG dan analisis masalah dengan fishbone. Media informasi yang digunakan adalah poster dan leaflet. Hasil dari penyuluhan terjadi peningkatan pengetahuan sebesar 13.3%. Hasil uji statistik non parametrik wilcoxon nilai p = 0.006 dengan rata-rata nilai pretest 6 dan nilai posttest 7.8. Hal ini menunjukkan adanya perbedaan yangsignifikan antara sebelum dan sesudah penyuluhan hipertensi. Berdasarkan hasil uji statistik non parametrik wilcoxon didapatkan nilai p= 0.348 (>0.05) pada tekanan darah sistolik dan p= 0,069 (>0.05) pada tekanan darah diastolik, maka tidak ada perbedaan yang signifikan antara nilai tekanan darah sistolik maupun diastolik pretest dan posttest. Berdasarkan kegiatan pengabdian diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat agar rutin ke posyandu lansia untuk melakukan pemeriksaan kesehatan dan senam hipertensi serta menerapkan diet hipertensi bagi lansia.
CERITA SEHAT KAMPUNG KITA: EDUKASI POLA HIDUP SEHAT PADA REMAJA SEBAGAI UPAYA PENCEGAHAN STUNTING DI DESA NGROMBO Devina Putri Yuniardi; Muhammad Rafly Nugroho; Ardhana Yusfranda; Maulina Dita Amelia; Azza Rohidatus Soleha; Afifah Zakiyatul Aulia; Ari Noviana Putri; Aura Putri Kristyantya; Khoirunnisa’ Ramadhan Mahfiroh; Ghina Kamila; Diana Fatmasari; Nur Lathifah Mardiyati; Tanjung Anitasari Indah Kusumaningrum
Jurnal Berkawan: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 2, No. 1, Januari 2025
Publisher : Universitas Muhammadiyah Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23917/berkawan.v2i1.6105

Abstract

Kejadian stunting di Desa Ngrombo mencapai 13,5%, angka ini masih jauh dari target yang telah ditentukan oleh Dinas Kesehatan Sukoharjo. Stunting merupakan masalah gizi kronis yang pencegahannya harus dilakukan sejak dini sehingga informasi mengenai stunting perlu diberikan kepada remaja untuk mempersiapkan diri menjadi calon orang tua dengan status gizi dan kesehatan yang baik. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk memberikan informasi, meningkatkan pengetahuan, dan pemahaman kepada remaja tentang stunting sebagai salah satu masalah gizi di Indonesia. Kegiatan ini dilakukan dengan penyuluhan menggunakan metode pemaparan materi dan FGD. Hasil dari kegiatan ini adalah adanya peningkatan pengetahuan remaja tentang PHBS, isi piringku, dan aktivitas fisik sebagai upaya pencegahan stunting sejak dini. Hal ini dibuktikan dengan adanya peningkatan pengetahuan pada remaja setelah dilakukan edukasi melalui hasil pre-test dan post-test.
Reproductive Nutrition Education as a Preventive Measure Against Imbalanced Dietary Patterns and Malnutrition Risks among Adolescent Girls Mutalazimah Mutalazimah; Dyah Intan Puspitasari; Siti Zulaekah; Nur Lathifah Mardiyati; Farida Nur Isnaeni; Setia Asyanti; Khayla Febriannisa'; Adelia Triana Putri; Magistra Ammar Alghifari
Jurnal Ilmiah Pengabdian Masyarakat Bidang Kesehatan (Abdigermas) Vol. 4 No. 1 (2026): Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat Bidang Kesehatan (Abdigermas)
Publisher : CV Media Inti Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58723/abdigermas.v4i1.666

Abstract

Background of study: Indonesian adolescent girls face a triple burden of malnutrition: anemia, undernutrition, and obesity. Driven by poor nutritional literacy and eating disorders, these issues threaten long-term reproductive health. This community service program aims to provide reproductive nutrition education and measure the nutritional status of 40 adolescent girls at SMA Batik 1 Surakarta. Methods: The knowledge variable was measured using a 22-item instrument regarding reproductive nutrition with proven validity and reliability, while the nutritional status variable was determined using the body mass index (BMI) formula following weight and height measurements. The educational activity was conducted using a booklet containing reproductive nutrition materials, with the following time breakdown: preparation and opening (10 minutes), pretest (25 minutes), educational session using a reproductive nutrition booklet (30 minutes), posttest (25 minutes), weight and height measurements (90 minutes), and discussion and closing (30 minutes). Result: Reproductive nutrition education significantly improved knowledge scores, with the average rising from 82.4 to 88.3 (p = 0.001). While average BMI measurements of adolescent girls remained within normal ranges, but individual data showed substantial variation, particularly in weight, which ranged widely from 35.70 kg to 83.00 kg. Conclusion: Continuous programs are essential to address the lack of reproductive nutrition knowledge and malnutrition to prevent imbalanced dietary patterns, fostering awareness and health readiness for adolescent girls as future mothers to ensure healthy future generations.
HUBUNGAN ASUPAN PROTEIN DENGAN KUALITAS TIDUR PADA REMAJA SMK BATIK 2 SURAKARTA Nabila Nur Farestiana; Siti Zulaekah; Nur Lathifah Mardiyati
Jurnal Dunia Gizi Vol 9, No 1 (2026): Edisi Juni
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdg.v9i1.6924

Abstract

Pendahuluan; Kualitas tidur yang baik penting bagi kesehatan dan perkembangan remaja. Namun, prevalensi kualitas tidur buruk pada remaja masih cukup tinggi. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi kualitas tidur adalah asupan protein karena mengandung asam amino triptofan yang berperan dalam pembentukan serotonin dan melatonin sebagai pengatur siklus tidur. Tujuan; untuk menganalisis hubungan antara asupan protein dengan kualitas tidur pada remaja di SMK Batik 2 Surakarta. Bahan dan Metode; penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional yang melibatkan 146 responden yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Penelitian diawali dengan penentuan populasi dan seleksi responden berdasarkan kriteria inklusi dan eksklusi, kemudian dilanjutkan dengan pengumpulan data asupan protein menggunakan Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) selama tiga bulan terakhir, sedangkan kualitas tidur diukur menggunakan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI). Analisis hubungan antara asupan protein dan kualitas tidur dilakukan menggunakan uji Pearson Product Moment, sedangkan hubungan dengan komponen kualitas tidur dianalisis menggunakan uji Chi-Square. Hasil; penelitian diperoleh bahwa tidak ada hubungan antara asupan protein dengan kualitas tidur dengan nilai p (0,236) maupun dengan komponen kualitas tidur (kualitas tidur subjektif p=0,341; latensi tidur p=0,420; durasi tidur p=0,348; efisiensi tidur p=0,700; gangguan tidur p=0,428; penggunaan obat tidur p=0,721; disfungsi aktivitas siang hari p=0,888). Kesimpulan; Asupan protein tidak berhubungan dengan kualitas tidur dan komponen kualitas tidur pada remaja, sehingga peningkatan kualitas tidur perlu mempertimbangkan faktor lain seperti gaya hidup, perilaku tidur, dan kondisi psikologisKata Kunci : Asupan protein, kualitas tidur, remaja, PSQI
ANALISIS HUBUNGAN ASUPAN LEMAK DENGAN KUALITAS TIDUR PADA REMAJA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN Aulia Arina Salwa; Siti Zulaekah; Nur Lathifah Mardiyati
Jurnal Dunia Gizi Vol 9, No 1 (2026): Edisi Juni
Publisher : LPPM Institut Kesehatan Helvetia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33085/jdg.v9i1.6929

Abstract

Pendahuluan; Masalah kualitas tidur pada remaja menunjukkan pola yang berbeda dari kelompok usia lainnya. Pola makan yang tinggi lemak juga diduga mempengaruhi struktur dan kontinuitas tidur melalui mekanisme inflamasi sistemik, perubahan hormon yang mengatur tidur yaitu leptin dan ghrelin serta dampak gastrointestinal seperti refluks, ketidaknyamanan malam hari yang mengganggu tidur . Tujuan; untuk mengetahui hubungan antara asupan lemak dengan kualitas tidur dan komponen kualitas tidur yang meliputi kualitas tidur subjektif, latensi tidur, durasi tidur, efisiensi durasi tidur, gangguan tidur, penggunaan obat tidur dan disfungsi aktivitas pada siang hari pada remaja di SMK Batik 2 Surakarta Tahun 2026 . Metode; Penelitian ini merupakan penelitian dengan jenis penelitian kuantitatif dengan pendekatan analitik observasional, menggunakan rancangan cross-sectional, jumlah sampel sebanyak 146 remaja dengan menggunakan Teknik Simple Random Sampling. Kriteria inklusi dalam penelitian ini yaitu antara Siswa lain/I SMK Batik 2 Surakarta, Berusia 14 – 18 tahun dan Tidak dalam kondisi sakit, selain itu, untuk kriteria eksklusi antara siswa lain yang sedang melakukan diet khusus, siswa vegetarian, dan siswa yang memiliki alergi. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner Semi Quantitative Food Frequency Questionnaire (SQ-FFQ) untuk menganalisis konsumsi lemak, dan Pittsburgh Sleep Quality Index (PSQI) untuk menghasilkan kualitas tidur. Hasil; penelitian menunjukkan bahwa tidak ada korelasi antara konsumsi lemak dan kualitas tidur dengan nilai P= 0,560 ( 0,05). Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi lemak dengan semua komponen kualitas tidur, dengan nilai p untuk masing-masing komponen secara berurutan. Kesimpulan; diperoleh bahwa tidak terdapat hubungan antara asupan lemak dengan kualitas tidur dan komponen komponen kualitas tidur.Kata Kunci: Asupan Lemak, Kualitas Tidur, Komponen Kualitas Tidur
Pengaruh Substitusi Tepung Pisang Kepok Pada Produk Cookies Kacang Tanah Terhadap Kadar Serat Kasar Dan Kadar Gula Reduksi Serta Uji Kesukaan Pada Atlet Sepakbola Izra Firmansyah; Nur Lathifah Mardiyati; Pramudya Kurnia
Jurnal Ilmiah STOK Bina Guna Medan Vol 14 No 2 (2026): JURNAL ILMIAH STOK BINA GUNA MEDAN
Publisher : Sekolah Tinggi Olahraga dan Kesehatan Bina Guna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55081/jsbg.v14i2.5985

Abstract

Tingginya kebutuhan energi pada atlet sepakbola yang melakukan aktivitas intensitas tinggi, sehingga memerlukan asupan makanan selingan yang praktis, bergizi, dan mampu menyediakan energi secara stabil. Cookies merupakan salah satu produk pangan yang digemari masyarakat, namun umumnya rendah serat. Oleh karena itu, dilakukan inovasi dengan memanfaatkan bahan lokal berupa tepung pisang kepok untuk meningkatkan nilai gizi, khususnya serat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh substitusi tepung pisang kepok terhadap kadar serat kasar, kadar gula reduksi, dan tingkat kesukaan pada Cookies kacang tanah. Metode yang digunakan adalah penelitian eksperimental dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri dari empat perlakuan tingkat substitusi tepung pisang kepok, dilakukan di laboratorium dengan pendekatan kuantitatif melalui analisis kimia dan uji organoleptik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa substitusi tepung pisang kepok berpengaruh terhadap karakteristik kimia dan sensoris produk. Kadar Gula reduksi menunjukkan pola tidak linear, meningkat pada substitusi 15% dan 30%, kemudian menurun pada 45%. Kadar serat kasar tidak meningkat secara konsisten, dengan nilai tertinggi pada perlakuan kontrol, namun seluruh perlakuan tetap mengandung serat dalam kisaran 3–4%. Uji organoleptik menunjukkan bahwa semua perlakuan berada pada kategori netral hingga agak disukai, dengan perlakuan tanpa substitusi paling disukai, namun substitusi hingga 45% tidak menurunkan penerimaan secara signifikan. Secara keseluruhan, Cookies dengan substitusi tepung pisang kepok berpotensi sebagai pangan fungsional berbasis bahan lokal yang mendukung kebutuhan energi dan kesehatan pencernaan atlet sepakbola. Kata Kunci : Tepung Pisang Kepok, Cookies Kacang Tanah, Kadar Serat Kasar, Kadar Gula reduksi, Uji Kesukaan Atlet Sepakbola.
Hubungan Antara Kecukupan Asupan Cairan Dengan Total Body Water (TBW) Dan Tingkat Kebugaran Pada Anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Futsal Universitas Di Surakarta Satrio Wiyono; Nur Lathifah Mardiyati; Siti Zulaekah
Jurnal Ilmiah STOK Bina Guna Medan Vol 14 No 2 (2026): JURNAL ILMIAH STOK BINA GUNA MEDAN
Publisher : Sekolah Tinggi Olahraga dan Kesehatan Bina Guna

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55081/jsbg.v14i2.5997

Abstract

Futsal merupakan olahraga dengan intensitas tinggi yang memerlukan keseimbangan cairan tubuh untuk mendukung performa fisik. Asupan cairan yang tidak adekuat dapat menyebabkan dehidrasi yang berdampak pada penurunan kebugaran jasmani. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan cairan dengan Total Body Water (TBW) dan kebugaran jasmani pada anggota Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) futsal di Surakarta. Penelitian ini menerapkan desain observasional dengan pendekatan cross-sectional dengan jumlah sampel sebanyak 52 responden yang dipilih melalui teknik convenience sampling. Asupan cairan diukur menggunakan metode recall 3×24 jam, TBW diukur menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), dan kebugaran jasmani diukur menggunakan beep test yang dikonversi menjadi nilai VO₂max. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Fisher’s Exact dengan tingkat signifikansi p ≤ 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki asupan cairan dalam kategori defisit (67,3%), TBW dalam kategori normal (71,2%), dan kebugaran jasmani dalam kategori kurang (84,6%). Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan cairan dengan TBW (p = 0,101), namun terdapat hubungan yang signifikan antara asupan cairan dengan kebugaran jasmani (p = 0,011). Dapat disimpulkan bahwa asupan cairan tidak berhubungan dengan TBW, tetapi berhubungan dengan kebugaran jasmani, sehingga pemenuhan kebutuhan cairan penting untuk mendukung performa fisik atlet futsal.
The Relationship Between Knowledge and Attitudes About Fast Food and Nutritional Status Among Adolescents at SMA IT Nur Hidayah Sukoharjo Firda Dwi Anggriany; Sudrajah Warajati Kisnawaty; Nur Lathifah Mardiyati
JURNAL KESMAS DAN GIZI (JKG) Vol. 8 No. 2 (2026): Jurnal Kesmas dan Gizi (JKG)
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/k4bpyt32

Abstract

Adolescence is a period of rapid growth that increases nutritional requirements, making adolescents more susceptible to nutritional problems when their dietary patterns are not balanced. One contributing factor is the frequent consumption of fast food, which is typically high in energy, fat, and sugar. This study aims to examine the relationship between knowledge and attitudes regarding fast food and the nutritional status of adolescents at SMA IT Nur Hidayah Sukoharjo. This observational research employed a cross-sectional design and involved 77 students selected through cluster random sampling. Data on knowledge and attitudes were collected using structured questionnaires, while nutritional status was assessed through anthropometric measurements. The data were analyzed using the Chi-Square test. The results indicate that most respondents were within the normal nutritional status category, although several were classified as overweight. While the majority of students demonstrated adequate to good knowledge of fast food, their attitudes toward fast food consumption were generally less favorable. Statistical analysis showed no significant association between knowledge and nutritional status (p=0.353), nor between attitudes and nutritional status (p=0.350). The study concludes that adequate knowledge does not necessarily correspond to optimal nutritional status, as attitudes toward fast food consumption are influenced by multiple factors. Therefore, efforts to improve adolescents' nutritional status should not only focus on providing nutritional information but also on fostering healthier attitudes and eating behaviors.
Co-Authors 'Aziz, Fathimah Nurul Adelia Triana Putri Afifah Zakiyatul Aulia Agustin, Yuriza Agustin, Yuriza Ahmad Ari Shodikin Alfatihah, Aulia Amalia, Norma Diena Amanda, Ghaisani Shella Anas Tasya Ardea Zerlind Anindya Rahmaningtyas Appannah, Geeta aprilia ariantika Aprilia, Isna Ardhana Yusfranda Ari Noviana Putri ariantika, aprilia Arif Pristianto Aristawidya Dwi Rahmadevi Arman, Salsa Avia Arum Kusumaning Ttyas Atika Rianti Utami Aulia Arina Salwa Aulia Firdhayani Aulia Kusuma Dewi Aura Putri Kristyantya Azza Rohidatus Soleha Belinda, Icha Rebeca Tias Binti Che Ku Jusoh, Tengku Farizan Izzi Chemita Andien Prahasti Clarissa Amalia Nanda Cynthia Agustina Danar Praseptiangga Dendy Murdiyanto Devina Putri Yuniardi Dewi, Sylfi Carmelia Diana Fatmasari Dimas Rahadian Aji Muhammad Dwi Sarbini Dwi Sarbini Dyah Intan Puspitasari Elida Soviana Endang Nur Widiyaningsih Fadillah, Kurniawati Farida Nur Isnaeni Firda Dwi Anggriany Firmansyah Firmansyah Fitri Aulia Naufal Fitriana Mustikaningrum Ghina Kamila Hanifah, Intan Uzy Hasan Priya Atmaja Hasan Priya Atmaja Hidayati, Kartika Rohmah Imtinan Mauriko Safitri Isma Dewi Istianah Nur Adila Izra Firmansyah Jihan Fadhila Kartika Rohmah Hidayati Khayla Febriannisa' Khoirina Ngizzati Pujiani Khoirunnisa’ Ramadhan Mahfiroh Krisnaya Widyastuti Layla Bonita Salsabila Lintang Kurniawati Luluk Ria Rakhma Magistra Ammar Alghifari Martianny, Dewi Nabila Maulina Dita Amelia Melati Pujianti Merlin Anugraheni Mochamad Bagoes Nata Samudra Mochammad Imron Awalludin Muhammad Rafly Nugroho Mutalazimah Mutalazimah Muwakhidah Muwakhidah Nabila Nur Farestiana Nasywa Nadhifa Qonita Putri Nendika Dyah Ayu Murika Sari Niken Asih Pangastuti Niken Asih Pangastuti Ningtyas, Puput F.E. Norma Diena Amalia Norma Diena Amalia Nur Jihan Anggraini Nurmala Dewi, Nurmala Pangastuti, Niken Asih Partya, Cheylla Evalia Bintang Pradita Wahyuningtyas Pramudya Kurnia Pramudya Kurnia Pratama, Clarisa Imelia Agustin Sanja Prayudhi, Laily Maulidya Kusumaning Puspitasari, Dyah Intan Qurrota'aini, Nafila Happy Rahma, Finna Armita Rahmaningtyas, Anindya Ramadhani, Nanda Sintya Ramadhoni, Farhan Dian Rini Anggita rossy pratiwi Salma Khoirunnisa Saputra, Muhammad Rhaufly Dwi Arga Satrio Wiyono Septiyana, Nur Azizah Dewi Septriyani Kaswindiarti Serin Izzatut Taqiyah Setia Asyanti Shodikin, Ahmad Ari Sintya Bella Pratiwi Siswa Oktaviani Pratiwi Siti Noor Aulya Faridha Siti Zulaekah Sudrajah Warajati Kisnawaty Syah Falaifi, Faqih Jibran Tanjung Anitasari Indah Kusumaningrum Tri Nawang Wulan Nurhayati Umi Kurniawati Wachid Yahya Wardana, Agung Setya Widianto, Shafwan Rafif Widyastuti, Andhika Nara Vista Widyawati, I Gusti Ngurah Wiwik Wuandari Wuandari, Wiwik Yudiatna, Clara Cessa Putri Yuriza Agustin Zerlind, Anas Tasya Ardea Zulfiana Nurlaili Zulia Setiyaningrum Zulia Setiyaningrum