Claim Missing Document
Check
Articles

Spiritual Care in the Indonesian Healthcare System A Scoping Review M. Agus Wahyudi; Siti Nurlaili Muhadiyatiningsih; Zaenal Muttaqin; M. Ikhwan; Tuti Hidayati
Spiritualita Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Prodi Tasawuf dan Psikoterapi Fakultas Usluhuddin dan Dakwah, Universitas Islam Negeri (UIN) Syekh Wasil Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30762/spiritualita.v10i1.3837

Abstract

Spiritual care is an important component of healthcare that views patients as individuals with integrated physical, psychological, social, and spiritual needs. This study aims to map the core components of spiritual care within the Indonesian healthcare system through a scoping review approach. Literature was collected from Scopus, Sinta, PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar databases using keywords related to spiritual care and healthcare services in Indonesia. Publications from 2015–2026 were selected based on inclusion and exclusion criteria and analyzed thematically. The findings identify six major components of spiritual care in Indonesia: patients’ spiritual needs, forms of spiritual interventions, healthcare workers’ competencies, institutional and policy support, integration into clinical services, and implementation challenges. The review demonstrates that spiritual care contributes significantly to patients’ quality of life, coping capacity, psychological well-being, and healthcare quality. However, implementation remains constrained by limited regulations, shortages of trained professionals, and the lack of systematic integration into the national healthcare system.
Pandangan Maqashid Al-Syariah Terhadap Ekploitasi Lobster di Kabupaten Simeulue Edwar Ibrahim; M. Ikhwan; Firman Sanusi
Jurnal Hukum Ekonomi Syariah Vol. 6 No. 1 (2023): April
Publisher : Prodi Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/jhes.v6i1.14450

Abstract

Penelitian ini menjelaskan ekploitasi lobster di Kabupaten Simeulue dalam perspektif maqashid al-syariah. Lobster merupakan sumber daya alam hewani yang bermanfaat bagi manusia baik sebagai sumber protein maupun sebagai sumber pendapatan (ekonomi). Lobster merupakan salah satu komoditas yang banyak diminati, di kancah bisnis lobster, menyasar pangsa pasar lokal dan dunia. Lobster dianggap punah jika ada penangkapan ikan terus menerus yang tidak mempertimbangkan perlindungan biota laut tersebut. Maka penelitian ini diusulkan untuk mengetahui praktik eksploitasi lobster di Kabupaten Simeulue dengan pendekatan maqashid al-syariah. Menempatkan maqashid al-syariah sebagai pisau analisis dinilai mampu mengungkap tujuan hukum Islam universal, termasuk perlindungan alam (hifz al-bi'ah) dalam hal ini perlindungan lobster. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan wawancara, observasi, dokumentasi, dan analisis data dilakukan dengan teknik deskriptif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan. Pertama, praktik pemanfaatan lobster di Kabupaten Simeulue dimulai dengan penangkapan lobster di laut lepas oleh nelayan kemudian memperdagangkannya kepada konsumen atau agen pengumpul dengan harga jual rata-rata Rp. 370.000,00.-/Kg. Kedua, Penangkapan Lobster yang dilakukan oleh nelayan dinilai tidak memperhatikan kelestarian Lobster karena nelayan juga menangkap Lobster di bawah standar (kurang dari 1 ons) dan masih tergolong baby Lobster. selain itu nelayan juga menangkap Lobster yang mengandung telur sehingga keberadaan Lobster di Kabupaten Simeulue semakin langka. Ketiga, dalam perspektif maqashid al-syariah Islam memiliki orientasi untuk menjaga kelestarian alam dari kerusakan (dar'ul mafasid wa jalbul mashalih) termasuk melestarikan lobster (hifz al bi'ah).
Towards Transformative Islamic Education: Reflections and Projections on the Direction of Islamic Education Afif Alfiyanto; Syatria Adymas Pranajaya; M. Ikhwan; Randi Muhammad Gumilang; Muhammad Ghazali; Fitri Hidayati
Ulul Albab: Majalah Universitas Muhammadiyah Mataram Vol 28, No 2 (2024): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jua.v28i2.23767

Abstract

Abstrak: Pendidikan Islam telah menjadi aspek fundamental dalam masyarakat Muslim, membentuk nilai, keyakinan, dan perilaku individu. Di era kontemporer, lanskap pendidikan berkembang pesat, menuntut refleksi terhadap kondisi terkini dan proyeksi masa depan pendidikan Islam agar tetap relevan dan transformatif. Artikel ini mengkaji perubahan pendidikan Islam melalui analisis literatur dan SWOT, serta menyoroti kebutuhan integrasi subjek modern seperti sains, teknologi, teknik, seni, dan matematika dalam kerangka pendidikan Islam. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan studi literatur yang dikumpulkan dari database akademik seperti Google Scholar, JSTOR, dan ProQuest. Data dianalisis menggunakan metode SWOT untuk menilai kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman pendidikan Islam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pendidikan Islam menghadapi tantangan signifikan seperti kurangnya inovasi metode pengajaran, keterbatasan sumber daya, dan akses yang tidak merata ke pendidikan berkualitas. Namun, terdapat peluang besar dalam kemajuan teknologi, peningkatan kesadaran global, dan potensi kemitraan dengan institusi internasional. Transformasi pendidikan Islam membutuhkan inovasi dalam metode pengajaran, adopsi pendekatan interaktif dan kontekstual, serta pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi untuk meningkatkan keterlibatan dan relevansi pendidikan. Pendidikan Islam juga harus menjawab isu sosial kontemporer seperti keadilan sosial, keberlanjutan lingkungan, dan kepemimpinan etis, sehingga siswa dapat berkembang menjadi warga global yang bertanggung jawab dengan integritas moral dan spiritual yang kuat. Artikel ini diharapkan dapat berkontribusi pada diskusi akademik mengenai pendidikan Islam dan mendorong praktik pendidikan yang lebih adaptif dan transformatif.Abstract: Islamic education has been a fundamental aspect of Muslim society, shaping individuals' values, beliefs, and behaviors. In the contemporary era, the educational landscape is rapidly evolving, demanding reflection on the current state and future projections of Islamic education to remain relevant and transformative. This article examines changes in Islamic education through literature analysis and SWOT, highlighting the need for integrating modern subjects such as science, technology, engineering, arts, and mathematics within the Islamic education framework. The research employs a qualitative approach with literature studies collected from academic databases such as Google Scholar, JSTOR, and ProQuest. Data is analyzed using the SWOT method to assess the strengths, weaknesses, opportunities, and threats of Islamic education. The findings reveal that Islamic education faces significant challenges such as a lack of innovative teaching methods, limited resources, and unequal access to quality education. However, there are substantial opportunities in technological advancements, increasing global awareness, and potential partnerships with international institutions. Transforming Islamic education requires innovation in teaching methods, adopting interactive and contextual approaches, and utilizing information and communication technology to enhance engagement and educational relevance. Islamic education must also address contemporary social issues such as social justice, environmental sustainability, and ethical leadership, enabling students to develop into responsible global citizens with strong moral and spiritual integrity. This article aims to contribute to the academic discussion on Islamic education and encourage more adaptive and transformative educational practices.
Enhancing Understanding of Religious Concepts through Self-Regulated Learning-Based Islamic Education Afif Alfiyanto; M. Ikhwan; Syatria Adymas Pranajaya; Muhammad Ghazali; Fitri Hidayati
Ulul Albab: Majalah Universitas Muhammadiyah Mataram Vol 28, No 1 (2024): Januari
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jua.v28i1.23385

Abstract

Abstrak: Pendidikan agama Islam memiliki peran krusial dalam membentuk pemahaman individu tentang nilai-nilai dan konsep-konsep agama islam. Dalam konteks globalisasi yang terus berkembang, kebutuhan akan pemahaman yang inklusif terhadap keragaman agama semakin mendesak. Artikel ini mengeksplorasi potensi integrasi konsep Self-Regulated Learning (SRL) ke dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) sebagai solusi untuk meningkatkan pemahaman konsep agama. Melalui pendekatan analisis SWOT, kekuatan, kelemahan, peluang, dan ancaman dari penerapan strategi pembelajaran ini dieksplorasi secara mendalam. Hasilnya menunjukkan bahwa SRL memungkinkan siswa untuk mengembangkan keterampilan belajar mandiri, meningkatkan refleksi diri, dan mengintegrasikan nilai-nilai agama dalam kehidupan sehari-hari mereka. Namun, tantangan seperti tingkat kemandirian siswa yang beragam dan kebutuhan akan dukungan guru yang kuat juga diidentifikasi. Berdasarkan temuan ini, beberapa rekomendasi diberikan, termasuk pengembangan kurikulum yang lebih terintegrasi dengan SRL, pelatihan guru yang lebih intensif, dan integrasi teknologi dalam pembelajaran. Artikel ini berkontribusi pada pemahaman tentang bagaimana pendekatan pembelajaran berbasis SRL dapat digunakan secara efektif dalam meningkatkan pemahaman konsep agama Islam, serta menawarkan panduan bagi pendidik dan peneliti dalam menghadapi tantangan dan memanfaatkan peluang dalam konteks pendidikan agama Islam.Abstract: Islamic religious education is crucial in shaping an individual's understanding of Islamic values and concepts. In the context of ever-evolving globalization, the need for an inclusive sense of religious diversity is increasingly urgent. This article explores the potential integration of Self-Regulated Learning (SRL) into Islamic Religious Education (PAI) learning as a solution to improve understanding of religious concepts. The strengths, weaknesses, opportunities, and threats of implementing this learning strategy are explored in depth through a SWOT analysis approach. The results show that SRL allows students to develop self-study skills, enhance self-reflection, and integrate religious values into their daily lives. However, challenges such as diverse levels of student independence and the need for solid teacher support were also identified. Based on these findings, several recommendations were given, including developing a curriculum that is more integrated with SRL, more intensive teacher training, and integrating technology in Learning. This article contributes to understanding how SRL-based learning approaches can be used effectively to enhance understanding of Islamic religious concepts, as well as offer guidance for educators and researchers facing challenges and seizing opportunities in the context of Islamic religious education. 
Beyond Fatalism: Reinterpreting Disaster Through Sufism in Islamic Law and Education M. Ikhwan
JROH: Jurnal Obat Hati Vol. 2 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Abulyatama

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69548/jroh.2026.01.22-36

Abstract

This article advances a Sufi-informed reinterpretation of disaster in Islamic thought, challenging dominant fatalistic narratives that frame crises as mere expressions of divine decree. While concepts such as balā’ (trial) and qaḍā’ wa qadar (predestination) have traditionally provided theological meaning, their reduction into passive fatalism risks undermining human agency, ethical responsibility, and transformative action. Drawing on the intellectual traditions of Al-Ghazali and Ibn Arabi, this study develops a qualitative-philosophical framework grounded in hermeneutic and critical textual analysis. The article argues that Sufism offers an alternative epistemology in which disaster is understood not as punishment but as a site of ethical-spiritual transformation (kashf), where inner awareness and moral responsibility are cultivated. This reinterpretation is further extended into Islamic legal theory through a reconfiguration of maqāṣid al-sharī‘a, shifting its orientation from preservation toward human transformation. In parallel, the study proposes a pedagogical shift in Islamic education from teaching about disaster to teaching through disaster, emphasizing spiritual resilience, reflective learning, and ethical engagement.