Claim Missing Document
Check
Articles

Antibacterial Activity of Red yeast rice Extract against Propionibacterium acnes ATCC 11827 and Methicilin-Resistant Staphylococcus aureus ATCC BAA-1683 Tiana Milanda; Ade Zuhrotun; Ulya Nabila; Vesara A. Gathera; Arif S.W Kusuma
Pharmacology and Clinical Pharmacy Research Vol 6, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Padjadjaran, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15416/pcpr.v6i2.35062

Abstract

Propionibacterium acnes ATCC 11827 and Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus ATCC BAA-1683 are bacteria that cause skin infections, namely acne vulgaris and skin and soft tissue infection/SSTI. The increase in the number of resistant bacterial strains, such as MRSA,  requires the search for alternative antibiotics, including using natural ingredients. Red yeast rice is a product of rice fermentation by Monascus purpureus, which is known to have antibacterial, antifungal, antitumor, antioxidant, anti-inflammatory, anti-cholesterol and immunomodulator. This study aims to determine the antibacterial activity of several red yeast rice extracts against these bacteria that cause skin infections. The research was carried out through the stages of collecting materials and identifying the yeast isolates, extracting of red yeast rice, phytochemical screening of red yeast rice extract, confirmation of bacterial test, preparation of bacterial test suspension, testing for bacterial resistance, testing for antibacterial activity of red yeast rice extract and determining the value of Minimum Inhibitory Concentration (MIC) and Minimum Bactericidal Concentration (MBC) of the most active extract. The results showed that the ethyl acetate and ethanol extracts had antibacterial activity against P. acnes ATCC 11827 and MRSA ATCC BAA-1683. Both extracts contain compounds from the polyphenols, flavonoids, quinones and saponins group. Ethyl acetate extract was the most active extract with MIC values against P. acnes ATCC 1182 and MRSA ATCC BAA-1683 of 50 mg/mL and 12.5 mg/mL. The MBC values of ethyl acetate extract against these bacterial tests were 100 mg/mL and 25 mg/mL. The ethyl acetate extract is more active against MRSA ATCC BAA-1683 than against P. acnes ATCC 11827. From the results of this study it is known that red yeast rice has activity against bacteria that cause skin infections, especially against MRSA
Assessment of Risk Factors of Hepatotoxicity among Tuberculosis Patients Muhammad F. Wardhana; Tiana Milanda; Sri A. Sumiwi
Pharmacology and Clinical Pharmacy Research Vol 3, No 1
Publisher : Universitas Padjadjaran, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (130.58 KB) | DOI: 10.15416/pcpr.v3i1.16450

Abstract

Tuberculosis is a devastating disease caused by Mycobacterium tuberculosis. If left untreated or not properly treated, it could lead to progressive tissue damage and even death. Short-term chemotherapy containing isoniazid, rifampicin. and pyrazinamide were proven to be very effective in the treatment of TB. However, the concern regarding its potential hepatotoxicity might hinder the completion of treatment. Information regarding risk factor of hepatotoxicity among Indonesian tuberculosis patients were limited. This study aimed to investigate risk factors of hepatotoxicity among Indonesian tuberculosis patients. This was a case-control study with retrospective approach conducted at one of the public hospital in Lampung, Indonesia. We included 320 tuberculosis patients who were classified as case (64 patients who were diagnosed with hepatotoxicity during hospitalization) and control (256 patients). Results of multivariate logistic regression analysis showed that age was significant risk factor of hepatotoxicity (adjusted odds ratio (OR) 1.056, 95% CI 1.0121, 1.091), while longer duration of hospitalization had a 1.4 lower odds of hepatotoxicity compared to control (adjusted OR 0.757, 95% CI 0.682, 0.839) (p<0.005). The results indicated that older patients were more likely to have hepatotoxicity, while patients with shorter duration of hospitalization tend to have higher risk of hepatotoxicity. In conclusion, age was the risk factor associated with hepatotoxicity among tuberculosis patients.Keywords: tuberculosis, hepatotoxicity, age, hospitalization
Kajian Toksisitas Tanaman Genus Garcinia Wa Ode Ida Fitriah; Tiana Milanda; Muchtaridi Muchtaridi
PHARMACY: Jurnal Farmasi Indonesia (Pharmaceutical Journal of Indonesia) Jurnal Pharmacy, Vol. 17 No. 02 Desember 2020
Publisher : Pharmacy Faculty, Universitas Muhammadiyah Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30595/pharmacy.v17i2.7691

Abstract

Sekitar 80%, alternatif dalam terapi pemeliharaan kesehatan bergantung pada penggunaan obat tradisional. Obat tradisional berasal dari bahan dan teknik pengobatannya yang bersifat alami, sehingga efek sampingnya relatif rendah, memiliki kandungan senyawa yang beraneka ragam bersifat sinergis serta biaya pengobatannya lebih ekonomis. Tanaman genus Garcinia merupakan famili dari Clusiaceae memiliki 400 spesies, 77 spesies diantaranya tersebar di wilayah Indonesia dan tumbuh di daerah tropis. Tanaman ini memiliki potensi besar sebagai obat tradisional dalam  mengobati berbagai jenis kelainan patofisiologi. Pemanfaatan tanaman sebagai obat tradisional sebagian besar didasarkan pada pengalaman, namun informasi tentang bukti keamanan atau toksisitas tanaman obat kepada masyarakat masih terbatas sehingga perlu dilakukan pengkajian toksisitas genus Garcinia. Spesies tanaman dari genus Garcinia yang telah diuji toksisitasnya antara lain, Garcinia brasiliensis Mart., Garcinia xanthochymus Hook.f. ex T.Anderson, Garcinia cowa  Roxb., Garcinia pedunculata Roxb. ex Buch.-Ham., Garcinia husor, Garcinia kola Heckel, Garcinia benthami Pierra, Garcinia mangostana L., Garcinia indica (Thouars) Choisy, Garcinia hombroniana Pierre, Garcinia rubroechinata Kosterm., Garcinia achachairu Rusby, Garcinia atroviridis Griff. ex T. Anders, Garcinia forbesii King, dan Garcinia multiflora Champ. ex Benth.
PENDIDIKAN KESEHATAN DENGAN METODE HYBRID TENTANG COVID-19 DAN PENYAKIT HIPERTENSI PADA KADER PKK DESA CIKIDANG KECAMATAN LEMBANG Jutti Levita; Sri Adi Sumiwi; Mutakin Mutakin; Tiana Milanda; Irma Melyani Puspitasari; Sriwidodo Sriwidodo; Ellin Febrina; Yasmiwar Susilawati; Indah Suasani Wahyuni; Irma Erika Herawati; Renny Amelia; Gofarana Wilar
Dharmakarya : Jurnal Aplikasi Ipteks Untuk Masyarakat Vol 11, No 2 (2022): Juni. 2022
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/dharmakarya.v11i2.34927

Abstract

Kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PPM) di Desa Cikidang sudah dilaksanakan selama tiga tahun berturut-turut. Masyarakat berpartisipasi sangat baik dan menginginkan kegiatan dapat dilakukan secara kontinu serta melibatkan masyarakat yang lebih luas. Desa Cikidang belum memiliki sarana kesehatan dan lokasi Puskesmas terdekat adalah di Desa Cikole, berjarak 3,5 km. Berdasarkan data dari Puskesmas Cikole periode tahun 2019, tercatat bahwa penyakit hipertensi memiliki angka kejadian tertinggi yaitu 135 kejadian. Kegiatan PPM ini bertujuan untuk meningkatkan pemahaman kader PKK tentang penyakit hipertensi dan juga tentang COVID-19. Kegiatan dilakukan dengan menerapkan metode hybrid luring dan daring (gabungan sinkronus dan asinkronus menggunakan media leaflet dan video). Dari sejumlah enam puluh undangan yang disebarkan, kegiatan PPM dihadiri oleh tiga puluh lima peserta. Hasil pre-test dan post-test menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta, sehingga dapat disimpulkan bahwa pendidikan kesehatan secara hybrid berhasil meningkatkan pengetahuan kader PKK tentang COVID-19 dan Penyakit Hipertensi sebesar 13,56%. 
Pelatihan Online Pembuatan Makanan Fermentasi Wadi Yulistia Budianti Soemarie; Tiana Milanda; Karina Erlianti; Muhammad Fauzi; Didi Susanto; Melisa Intan Barliana
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 5, No 1 (2022): Volume 5 No 1 Januari 2022
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v5i1.5459

Abstract

ABSTRAKSalah satu penerapan proses fermentasi terjadi pada produk perikanan. Wadi merupakan hasil fermentasi ikan yang banyak sekali diminati oleh masyarakat Kalimantan Selatan. Wadi merupakan salah satu proses fermentasi ikan atau daging secara tradisional yang berbentuk ikan utuh semi basah, berwarna agak hitam (mendekati warna ikan segar), bertekstur liat dengan aroma ikan khas fermentasi serta mempunyai cita rasa yang asin. Wadi memiliki waktu simpan yang lama sekitar 6 sampai 12 bulan. Kurangnya keterampilan dalam pengolahan wadi mengakibatkan wadi tidak bisa tahan lama sehingga wadi menjadi cepat busuk. Selain itu, belum ada wadi kemasan yang beredar dipasaran sehingga untuk masyarakat luar Kalimantan Selatan sulit untuk mendapatkan produk wadi ini. Pelatihan ini menggunakan metode ceramah, diskusi, tanya jawab serta demonstrasi atau praktek secara daring/online. Pelatihan ini menghasilkan pengetahuan dan pemahaman yang baik bagi peserta pelatihan. Hal ini dapat dilihat dari antusias peserta pelatihan dalam sesi diskusi dan tanya jawab untuk mencari informasi yang lengkap mengenai teknik fermentasi serta pelatihan dalam pembuatan wadi. Kata kunci: Fermentasi, Wadi, Pelatihan Online ABSTRACTOne of the processes of applying the fermentation process occurs in fishery products. Wadi is a fermented fish product that is in great demand by the people of South Kalimantan. Wadi is one of the traditional fish or meat fermentation processes in the form of semi-wet whole fish, slightly black (close to the color of fresh fish), clay texture with a distinctive fermented fish aroma, and has a salty taste. Wadi has a long shelf life of about 6 to 12 months. Lack of skills in wadi processing resulted in wadi not being able to last long so that the wadi rotted quickly. In addition, there is no packaged wadi on the market so it is difficult for people outside South Kalimantan to get this wadi product. This training uses lecture, discussion, question and answer methods as well as online demonstrations or practice. This training resulted in good knowledge and understanding for the participants of the wadi making training. This can be seen from the enthusiasm of the training participants in the discussion and question and answer sessions to seek complete information about fermentation techniques and training in wadi making. Keywords: Fermentation, Wadi, Online Training
Isolasi Senyawa Aktif Dari Fraksi Etil Asetat Daun Goniothalamus Macrophyllus Viriyanata Wijaya; Supriyatna Supriyatna; Tiana Milanda
Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences Vol. 2 (2015): Proceeding of Mulawarman Pharmaceuticals Conferences (Prosiding Seminar Nasional Kefa
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.522 KB) | DOI: 10.25026/mpc.v2i1.49

Abstract

Infeksi kulit pada suku dayak Punan diakibatkan kontak langsung dengan alam. Satu bakteri yang paling sering menjadi penyebab infeksi kulit di komunitas yang kurang higienis tersebut yaitu Staphylococcus aureus. Tumbuhan tendani (Goniothalamus macrophyllus) secara empiris digunakan sebagai obat luar untuk infeksi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui senyawa aktif antibakteri yang terkandung dalam isolat dari fraksi etil asetat Daun G. macrophyllus. Ekstrak etanol Daun G. macrophyllus difraksinasi dengan n-heksan dan etil asetat. Fraksi etil asetat adalah fraksi teraktif yang menunjukkan diameter hambat sebesar 19,50 mm dan 22,30 mm untuk masing-masing konsentrasi 20% dan 30%. Proses pemisahan dan pemurnian menggunakan kromatografi kolom dan kromatografi lapis tipis preparatif. Isolat diidentifikasi dengan spektoskopi, dilakukan dengan UV-vis, IR, dan MS memberikan ?maks 202,9 nm, gugus fungsi O-H, C-H alifatis, C=C aromatis, C=O dan C-H aromatis, dan m/z 352,9806. Maka, senyawa aktif disimpulkan sebagai dimetoksi glabranin (C22H24O4).
REVIEW ARTIKEL : AKTIVITAS FARMAKOLOGI ANGKAK (BERAS MERAH FERMENTASI KAPANG MONASCUS PURPUREUS) Fathia Pebriani; Tiana Milanda
Farmaka Vol 20, No 2 (2022): Farmaka (Juli)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v20i2.34541

Abstract

Sejak dahulu kala, manusia telah menggunakan berbagai keanekaragaman hayati untuk dijadikan obat-obatan dalam meringankan dan mengobati penyakit. Indonesia memiliki berbagai spesies tanaman, hewan, dan mikroorganisme yang mampu dikembangkan menjadi obat tradisional yang sangat bermanfaat. Salah satu obat tradisional yang sudah digunakan secara luas adalah angkak. Angkak merupakan makanan fermentasi asal China yang dibuat dengan mengkultivasi kapang Monascus purpureus (ragi merah) pada beras. Beberapa aktivitas farmakologi serta kandungan senyawa tersebut sudah dibuktikan melalui berbagai penelitian. Oleh sebab itu, ditulis review artikel ini untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kandungan metabolit sekunder pada angkak dengan aktivitas farmakologinya. Artikel dibuat berdasarkan data yang diperoleh dari penelusuran melalui Google Scholar dan PubMed dengan kata kunci yang telah ditentukan dan sesuai dengan kriteria inklusi. Hasil menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara kandungan metabolit sekunder pada angkak dengan aktivitas farmakologi yang diteliti. Senyawa yang terkandung memiliki perannya masing-masing terhadap aktivitas yang ditimbulkan.Kata kunci: Aktivitas farmakologi, angkak, Monascus purpureus, monakolin K.
PELATIHAN ONLINE PEMBUATAN MAKANAN FERMENTASI WADI Yulistia Budianti Soemarie; Tiana Milanda; Karina Erlianti; Muhammad Fauzi; Didi Susanto
Jurnal Pengabdian Farmasi Malahayati (JPFM) Vol 5, No 1 (2022)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpfm.v5i1.5155

Abstract

Salah satu penerapan proses fermentasi terjadi pada produk perikanan. Wadi merupakan hasil fermentasi ikan yang banyak sekali diminati oleh masyarakat Kalimantan Selatan. Wadi merupakan salah satu proses fermentasi ikan atau daging secara tradisional yang berbentuk ikan utuh semi basah, berwarna agak hitam (mendekati warna ikan segar), bertekstur liat dengan aroma ikan khas fermentasi serta mempunyai cita rasa yang asin. Wadi memiliki waktu simpan yang lama sekitar 6 sampai 12 bulan. Kurangnya keterampilan dalam pengolahan wadi mengakibatkan wadi tidak bisa tahan lama sehingga wadi menjadi cepat busuk. Selain itu, belum ada wadi kemasan yang beredar dipasaran sehingga untuk masyarakat luar Kalimantan Selatan sulit untuk mendapatkan produk wadi ini. Pelatihan ini menggunakan metode ceramah, diskusi, tanya jawab serta demonstrasi atau praktek secara daring/online. Pelatihan ini menghasilkan pengetahuan dan pemahaman yang baik bagi peserta pelatihan. Hal ini dapat dilihat dari antusias peserta pelatihan dalam sesi diskusi dan tanya jawab untuk mencari informasi yang lengkap mengenai teknik fermentasi serta pelatihan dalam pembuatan wadi.Kata kunci : Fermentasi, Wadi, Pelatihan Online
Defined Daily Doses (DDD) MEROPENEM DAN TINGKAT KEPEKAAN Acinetobacter baumannii TERHADAP MEROPENEM PADA PASIEN INTENSIVE CARE UNIT (ICU) RSUP Dr. HASAN SADIKIN BANDUNG PERIODE AGUSTUS 2017-AGUSTUS 2018 Yuyun Wahyuni; Tiana Milanda; Ida P. Santoso
Farmaka Vol 18, No 4 (2020): Farmaka (Suplemen)
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/farmaka.v18i4.42475

Abstract

Acinetobacter baumannii resistan karbapenem (Carbapenem resistance Acinetobacter baumannii/CRAB) merupakan salah satu bakteri penyebab resistensi karbapenem yang sudah menyebar hampir di seluruh dunia, termasuk di Indonesia. Karbapenem (terutama imipenem dan meropenem) merupakan golongan antibiotik pilihan utama yang dipakai untuk mengobati pada pasien pneumonia yang disebabkan oleh bakteri A. baumannii. Pemakaian antibiotik meropenem di ICU sangat tinggi karena dibutuhkan untuk pengelolaan infeksi berat. Namun, penggunaan yang tidak bijak memicu peningkatan resistensi. Akhir-akhir ini telah banyak ditemukan A. baumannii yang telah resisten meropenem, terutama pada pasien yang menggunakan alat-alat invasif seperti ventilator, kateter, pasien dengan sistem imunitas yang rendah dan sebagainya. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis kepekaan bakteri A. baumannii terhadap antibiotik meropenem dan mendapatkan data tentang kuantitas antibiotik meropenem dengan menghitung DDD antibiotik meropenem di ruang ICU RSUP. Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Agustus 2017-Agustus 2018. Penelitian dilakukan sejak bulan Januari sampai Mei 2019 di Departemen Patologi Klinik RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Penelitian deskriptif analisis terhadap kuantitas penggunaan meropenem dilakukan secara retrospektif, sampel yang diambil dengan cara total sampling. Hasil penelitian menunjukkan Secara kuantitatif dari 190 catatan medik didapatkan total penggunaan antibiotik meropenem sebesar 10,74 DDD/100 hari rawat. Persentase resistensi dari 208 isolat A. baumannii yang teridentifikasi, didapatkan A. baumannii resisten meropenem sebanyak 84.6% (176 isolat), sedangkan A. baumannii sensitif meropenem sebanyak 15.4% (32 isolat). Simpulan dari penelitian menunjukkan bahwa DDD meropenem di Ruang inap ICU RSUP. Dr. Hasan Sadikin Bandung melebihi standar WHO, dan terdapat kasus-kasus resistensi meropenem yang semakin meningkat.
PELATIHAN PEMBUATAN YOGHURT UNTUK MENINGKATKAN MINAT WIRAUSAHA SISWA SMK FARMASI DAERAH KABUPATEN BANDUNG BARAT TERHADAP PRODUK FERMENTASI Yulistia Budianti Soemarie; Tiana Milanda; Melisa Intan Barliana
JMM (Jurnal Masyarakat Mandiri) Vol 6, No 5 (2022): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jmm.v6i5.10196

Abstract

Abstrak: Yoghurt merupakan salah satu minuman fermentasi yang sangat digemari oleh semua kalangan usia. Yoghurt memiliki banyak manfaat kesehatan terutama untuk pemeliharaan saluran pencernaan. Hal ini dikarenakan yoghurt mengandung banyak vitamin serta bakteri baik seperti Lactobacillus sp. Pelatihan ini dilakukan di SMK Farmasi karena SMK mencetak lulusan siap kerja, sehingga pelatihan ini dapat memotivasi siswa untuk membuka peluang usaha. Tujuan dari pengabdian ini adalah untuk memberikan pelatihan pembuatan yoghurt di lingkungan sekolah menengah kejuruan farmasi agar dapat meningkatkan minat wirausaha siswa terhadap produk fermentasi. Metode yang digunakan pada pengabdian ini yaitu ceramah, demonstrasi/pelatihan dan diskusi. Mitra dari kegiatan adalah Sekolah Menengah Kejuruan Swasta Mitra Dharma yang berjumlah 40 peserta. Evaluasi dilakukan dengan memberikan soal sebelum dan sesudah kegiatan (pra dan post-test). Hasil yang diperoleh bahwa terdapat kenaikan nilai pada peserta yaitu dengan rentang 81 - 90 sebanyak 11 peserta dan rentang nilai 71 - 80 sebanyak 10 peserta. Harapan dari kegiatan ini agar dapat menambah ilmu pengetahuan serta keterampilan dalam pengolahan minuman fermentasi khususnya yoghurt sehingga mampu meningkatkan wirausaha siswa terhadap produk fermentasi.Abstract: Yoghurt is a fermented beverage that is very popular with people of all ages. Yoghurt has many health benefits, especially for the maintenance of the digestive tract. This is because yogurt contains many vitamins and good bacteria such as Lactobacillus sp. This training is carried out in Pharmacy Vocational Schools because Vocational Schools produce graduates who are ready to work, so this training can motivate students to open up business opportunities. The purpose of this service is to provide training in making yogurt in a vocational high school environment to increase students' entrepreneurial interest in fermented drinks. The methods used in this service are lectures, demonstrations, and discussions. Partners of the activity are the Mitra Dharma Private Vocational High School which totals 40 participants. Evaluation is done by giving questions before and after the activity (pre and post-test). The results obtained that there is an increase in the value of the participants with a range of 81 - 90 as many as 11 participants and a value range of 71 - 80 for as many as 10 participants. This activity hopes to increase knowledge and skills in processing fermented drinks, especially yogurt.
Co-Authors Ade Zuhrotun Adha, Syah Akbarul Adila Srebreneca AFINA DWI RACHMAWATI Ahmad Muhtadi Alam Jenuin Dwipratama Alifia Hasna Hamidah Amaliah Ihsani Anis Yohana Chaerunisaa Anis Yohana Chaerunisaa, Anis Yohana Anita Apriliana Arif S.W Kusuma Arif S.W Kusuma ARIF SATRIA WIRA KUSUMA, ARIF SATRIA WIRA ASTININGSIH DIAH PRAVITASARI Belinda, Andhara M. Bonar C. Saragih Dewi, Lisa K. Didi Susanto Dolih Gozali Dwi Indra Purnomo Ellin Febrina Erlianti, Karina Fachry Abda El Rahman FATHIA PEBRIANI Firda Aryanti Widyana Gofarana Wilar Hanny Hafiar Haryanto Dhanutirto Hasriana Hasriana Hasriana Hasriana, Hasriana Hasrianna Hasrianna Hasrianna, Hasrianna Ida P. Santoso Indah Suasani Wahyuni Intan Timur Maisyarah Irma Erika Herawati Irma Erika Herawati Irma Melyani Puspitasari Irma Meylani Puspitasari Ivan S. Pradipta Jutti Levita Karina Erlianti Karina Erlianti Karina Erlianti Keri Lestari Kurniawan Kurniawan Kusuma, Sri A. F. Lia Mardiana Lisa K. Dewi Maisyarah, Intan Timur Mardiana, Lia Marlia Singgih Wibowo Mayang Kusuma Dewi MAYANG KUSUMA DEWI, MAYANG KUSUMA Melisa I. Barliana Melisa Intan Barliana Moelyono Muktiwardojo Mohamad Taufik Ismullah Muchtaridi Muchtaridi Muhaimin Muhaimin Muhaimin Muhaimin Muhammad F. Wardhana Muhammad Fauzi Munir Alinu Mulki Mutakin Mutakin Mutakin Mutakin Nasrul Wathoni Nimas T. I. Tarina NURUL ANNISA Nurul Annisa Pradipta, Ivan S. QONITA ZAHRA FADHILA Raden Maya Febriyanti ragavendra ravee Rani Cyinthia Hani Renny Amelia Rhisanandra, Fathia Richie Agusta Iwan Chandra Riezki Amalia Rizki Rahmadi Pratama Rizky Abdulah Ronny Lesmana Rosidah Rosidah Saragih, Bonar C. Septiyani Mustikawati Sjafril, Astri K. Soemarie, Yulistia Budianti Sofa D. Alfian Sofa D. Alfian, Sofa D. Sri A. F. Kusuma Sri A. F. Kusuma Sri A. Sumiwi Sri Adi Sumiwi Sri Agung Fitri Kusuma, Sri Agung Sriwidodo Sriwidodo Steffi Liem Suharyani, Ine Sukmawati Sukmawati Sukmawati Sukmawati Sulistiyaningsih Sulistiyaningsih Sumiwi, Sri A. Supriyatna Supriyatna Supriyatna Supriyatna Susilawati, Yaswinar Syah Akbarul Adha SYIFA HANIFAH TERESYA PUTERI Tina Rostinawati TUTUS GUSDINAR Uce Lestari Uce Lestari Ulya Nabila Vesara A. Gatera Vesara A. Gathera Wa Ode Ida Fitriah Wardhana, Muhammad F. Wijaya, Viriyanata Yasmiwar Susilawati Yaswinar Susilawati Yuli Andriani Yulistia Budianti Soemarie Yulistia Budianti Soemarie Yulistia Budianti Soemarie Yuni Elsa Hadisaputri Yuyun Wahyuni