Roni Nugraha
Departemen Teknologi Hasil Perairan Fakultas Perikanan Dan Ilmu Kelautan Institut Pertanian Bogor

Published : 23 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Purifikasi dan karakterisasi parvalbumin patin dan gurami: Purification and characterization of catfish and gourami parvalbumin Nugraha, Roni; Safitri, Novemi Gita; Nurilmala, Mala; Pertiwi, Rizsa Mustika
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 27 No. 12 (2024): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 27(12)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v27i12.52147

Abstract

Parvalbumin merupakan protein penyebab utama alergi ikan. Namun, penderita alergi ikan menunjukkan reaksi yang berbeda terhadap jenis ikan yang berbeda. Oleh karena itu, purifikasi dan karakterisasi parvalbumin pada berbagai spesies ikan penting untuk dilakukan sebagai upaya pengembangan teknologi deteksi alergi ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan saturasi ammonium sulfat terbaik untuk purifikasi parvalbumin dan mengkarakterisasinya secara in silico. Parvalbumin dari ikan patin dan gurami mentah dan hasil pemasakan dimurnikan dan dikarakterisasi. Parvalbumin dimurnikan dengan metode presipitasi amonium sulfat (20-90% saturasi), kemudian diidentifikasi menggunakan metode SDS-PAGE. Sifat alergenisitas parvalbumin dari gurami dan patin dianalisis secara in silico. Identifikasi profil protein menunjukkan adanya 2 pita yang merepresentasikan parvalbumin dengan bobot molekul 11 dan 14 kDa. Pemurnian menggunakan amonium sulfat belum menghasilkan parvalbumin yang murni karena masih ditemukan adanya pita-pita protein lain yang cukup tebal. Namun, amonium sulfat dengan saturasi 80-90% menghasilkan profil yang terbaik pada proses pemurnian parvalbumin dari ikan mentah dan 90-100% untuk ikan yang dimasak. Hasil analisis bioinformatika menunjukkan adanya 7 sekuen parvalbumin untuk ikan patin, tetapi tidak ditemukan adanya sekuen parvalbumin untuk ikan gurami. Sekuen parvalbumin ikan patin dengan kode XP_026772003.1 memiliki kemiripan yang tinggi dengan parvalbumin dari spesies lain misalnya salmon dan tilapia yang terbukti alergenik. Hasil penelitian ini dapat menjadi dasar dalam karakterisasi parvalbumin lebih lanjut untuk mendukung adanya diagnosis yang lebih baik.
Perubahan profil protein dan tekstur rajungan (Portunus pelagicus) kukus selama penyimpanan dingin dan beku: Alterations in protein profile and texture of steamed blue swimming crab (Portunus pelagicus) during chilled and frozen storage Duanassurya, Megana; Nugraha, Roni; Nurilmala, Mala
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 28 No. 11 (2025): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 28(11)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/y8fdxz35

Abstract

Rajungan (Portunus pelagicus), atau dikenal juga sebagai blue swimming crab merupakan sumber protein hewani berkualitas tinggi dengan tekstur yang khas. Proses penyimpanan dapat mengubah profil protein yang berakibat pada perubahan tekstur. Namun, belum ada penelitian yang mengamati perubahan profil protein rajungan selama penyimpanan setelah proses pengukusan. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan menentukan pengaruh pengukusan dan penyimpanan pada suhu dingin dan beku terhadap profil protein serta tekstur rajungan. Daging rajungan segar dan kukus dibagi menjadi tiga bagian untuk analisis, yaitu claw meat (CM), jumbo lump (JL) dan leg meat (LEG). Daging rajungan kukus disimpan pada suhu dingin (4°C) dan suhu beku (-18°C) pada waktu penyimpanan yang berbeda. Ketiga bagian daging rajungan memiliki profil protein dan tekstur yang berbeda. Bagian CM mengandung protein larut air tertinggi, yaitu sebesar 3,837±0,16 mg/mL, diikuti JL dan LEG. Secara umum, proses pengukusan mengubah profil protein dan tekstur ketiga bagian daging rajungan. Kandungan protein larut air mengalami penurunan yang signifikan terutama pada bagian CM, yaitu hampir 50%. Adapun nilai tekstur mengalami peningkatan terutama di bagian LEG. Penyimpanan suhu beku lebih mampu mempertahankan kondisi protein dibandingkan dengan suhu dingin. Kandungan protein larut air yang disimpan pada suhu beku cenderung stabil, namun fluktuatif pada daging yang disimpan pada suhu dingin. Analisis profil protein menggunakan SDS-PAGE memperlihatkan adanya penurunan jumlah pita protein setelah proses pengukusan terutama pita-pita protein berbobot molekul besar >50 kDa. Adapun proses penyimpanan baik suhu dingin maupun beku tidak banyak mengubah profil protein.
Bioprospecting Marine Endophytic Fungi from Buton Island: Antibacterial Activity and Cellulase Production for Sustainable Blue Economy Isti'anah, Ismi -; Tarman, Kustiariyah; Lee, Wen-Chien; Suseno, Sugeng Heri; Nugraha, Roni; Effendi, Irzal; Nurbayasari, Rodiah; Maulana, Riyan
Squalen, Buletin Pascapanen dan Bioteknologi Kelautan dan Perikanan Vol 20, No 3 (2025): December 2025
Publisher : :Agency for Marine and Fisheries Research and Human Resources, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/squalen.1024

Abstract

Marine-derived endophytic fungi represent an underexplored reservoir of biologically active metabolites and enzymes with industrial relevance. This study investigated the fungal diversity associated with seaweed, seagrass, and mangrove leaf tissues collected from Buton Island, Southeast Sulawesi, with particular emphasis on antibacterial properties and cellulolytic activity. Thirty-two fungal isolates were successfully recovered and characterized based on morphological features. Antibacterial assays against Vibrio harveyi showed that several isolates, notably WB 1-2, WB 6-2, and SM 27-2, produced clear inhibition zones ranging from 11 to 13 mm, demonstrating notable antibacterial efficacy. Among all isolates, Aspergillus terreus (WB 1-2) exhibited the highest cellulase activity and was therefore selected for further enzymatic evaluation. The crude cellulase displayed maximum activity at pH 4 and a temperature of 70 °C. Hydrolysis products were qualitatively analyzed using HPLC, confirming the presence of glucose. These results highlight the dual potential of marine endophytic fungi as sources of antibacterial agents and thermostable cellulases. This work lays the groundwork for future development of eco-friendly enzyme production and marine-based antimicrobial resources, supporting sustainable biotechnological innovation within the blue economy framework.