Claim Missing Document
Check
Articles

PENGEMBANGAN UJICEPATMETODE KOAGLUTINASI UNTUK MENDETEKSI ANTIGEN VIBRIO PARAHAEMOLYTICUS PENYEBAB PENYAKIT VIBRIOSIS PADA UDANG VANAME(Litopenaeus vannamei) Yan Evan; Agustin Indrawati; Fachriyan Hasmi Pasaribu
Biodidaktika : Jurnal Biologi dan Pembelajarannya Vol 16, No 1 (2021)
Publisher : Universitas Sultan Ageng Tirtayasa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30870/biodidaktika.v16i1.10784

Abstract

Vibrio parahaemolyticus merupakan salah satu agen penyebab penyakit vibriosis pada udang vaname (Litopenaeus vannamei. Untuk penanganan lebih dini serta mencegah tersebar luasnya penyakit ini, diperlukan metode uji yang cepat dan akurat. Tujuan penelitian adalah untuk membuatkit ujikoaglutinasi yang dapat mendeteksi antigen bakteriV. parahaemolyticus. Antibodi poliklonal V. parahaemolyticus yang digunakan merupakan hasil imunisasi pada kelinci yang disuntikan antigen V. parahaemolyticusdengan dosis 3×108cfu/ml sebanyak 1 mL. Penyuntikan antigen dilakukan sebanyak empat kali pada interval satu minggu melalui vena auricularis.Reagen koaglutinasi dibuat dengan cara melakukan pencampuran antara suspensiS. aureus yang memiliki protein A dan serum IgG V. parahaemolyticushasil purifikasi dengan perbandingan 1:1 (v/v).Reagen koaglutinasi ini selanjutnya dipergunakan untuk pengujian terhadap sampel organ hepatopankreas, usus dan daging udang yang terinfeksi bakteri V. parahaemolyticus dan bakteri lain yaitu V. harveyi dan V. alginolyticus untuk pengujian reaksi silang.Hasil pengujian reaksi koaglutinasi positif hanya terjadi pada sampel organ yang terinfeksi bakteri V. parahaemolyticus, ini ditandai dengan terbentuknya aglutinat. Sedangkan hasil pengujian reaksi silang dengan menggunakan sampel organ yang terinfeksi bakteri V. harveyi dan V. alginolyticus menunjukkan hasil negatif, ditandai dengan suspensi tetap homogen tidak terbentuk aglutinat. Berdasarkan hasil pengujian koaglutinasi membuktikan bahwa reaksi reagen koaglutinasi bersifat spesifik, cepat dan akurat.
PERAN ANTIBODI KUNING TELUR (IgY) SEBAGAI OPSONIN UNTUK PENCEGAHAN SERANGAN MUTAN STREPTOCOCCUS SEROTIPE D (STREPTOCOCCUS SOBRINUS) Okti Nadia Poetri; Retno D. Soejoedono; Agustin Indrawati; I Wayan T. Wibawan
JURNAL PENELITIAN BIOLOGI BERKALA PENELITIAN HAYATI Vol 13 No 2 (2008): June 2008
Publisher : The East Java Biological Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23869/359

Abstract

The aim of this study was to explore the role of serotype d Mutan Streptococcus (Streptococcus sobrinus) spesific immunoglobulin Y (IgY-Ss) as opsonin against the same strain. The eggs were collected from Single Comb Brown Leghorn which has been immunized with Streptococcus sobrinus. Agar gel precipitation test was applied to detect IgY-Ss in serum and egg. Egg containing IgY-Ss was collected and extracted by PEG-Amonium sulphate and purified using fast protein liquid chromatography. The purity of IgY-Ss was determined by UV spectrophotometer. Molecular weight was established by SDS-PAGE (sodium dedocyl sulphate-poly acrilamide gel electrophoresis). Biological activities of IgY-Ss as opsonin was determined by phagocytosis assay. Phagositic activity of macrophages was not increased by preincubation of both S. sobrinus (107 CFU/ml) and 100 μg of IgY-S, however the phagositic capacity was increased from 1.6 bacterial cell/ macrophag to 5.17 bacterial cell/ macrophag. These finding suggest that IgY-Ss obtained from hens immunized with S. sobrinus provide an alternative to prevent S. sobrinus infection.
PATOGENESIS KO-INFEKSI PENYAKIT FISH TUBERCULOSIS DAN MOTILE AEROMONAS SEPTICEMIA PADA IKAN GURAME (Osphronemus gouramy) Uni Purwaningsih; Agustin Indrawati; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 1 (2015): (Maret 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.496 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.1.2015.99-107

Abstract

Penyakit fish tuberculosis dan Motile Aeromonas Septicemia (MAS) merupakan penyakit potensial pada budidaya ikan gurame. Infeksi kedua penyakit tersebut dimungkinkan terjadi dalam waktu yang bersamaan walaupun etiologi kedua jenis penyakit tersebut memiliki karakteristik yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perjalanan kedua penyakit tersebut dalam waktu yang bersamaan ketika menginfeksi gurame uji dengan melihat perubahan parameter hematologi, pola kematian, dan histopatologi. Gurame uji yangdigunakan berukuran 25-30 g dengan dosis infeksi berdasarkan dosis LD50 bakteri A. hydrophila 108 cfu dan LD50 M. fortuitum 107 cfu. Gejala klinis akibat infeksi M. fortuitum mulai terlihat pada hari ke-14 ditandai dengan penurunan nafsu makan dan hari ke-18 mulai terlihat nodul dalam ukuran 0,1-0,2 mm pada permukaan tubuh. Sedangkan infeksi A. hydrophila menunjukkan gejala klinis luka pada bekas injeksi dan terlihat pembengkakan pada rongga perut mulai 24-48 jam pascainfeksi. Respons fisiologis tubuh ikan gurame terhadap adanya ko-infeksi ditunjukkan dengan nilai hemoglobin, hematokrit, persentase komponen sel darah putih yang berbeda (P<0,05) dengan kontrol. Perubahan histopatologi pada perlakuan koinfeksi menunjukkan adanya kongesti, peradangan, nekrosis, melano macrofag center, dan gramuloma yangbersifat multifocal pada organ hati, ginjal, dan limpa.
PROTEKSI VAKSIN MONOVALEN DAN KOKTAIL SEL UTUH TERHADAP KO-INFEKSI Mycobacterium fortuitum DAN Aeromonas hydrophila PADA IKAN GURAME, Osphronemus gouramy Uni Uni Purwaningsih; Agustin Indrawati; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 9, No 2 (2014): (Agustus 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (126.793 KB) | DOI: 10.15578/jra.9.2.2014.283-294

Abstract

Vaksinasi merupakan salah satu upaya aplikatif untuk melindungi ikan terhadapserangan agen patogen. Pemberian vaksin diharapkan dapat merangsang respons imun spesifik dan non spesifik pada ikan. Keberhasilan vaksinasi dipengaruhi oleh konsentrasi antigen, reaksi silang dan kompetisi di antara antigen yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis level proteksi vaksin monovalen dan koktail sel utuh terhadap ko-infeksi M. fortuitum dan A. hydrophila pada ikan gurame. Respons imun perlakuan vaksin monovalen maupun koktail pada gurame pasca ko-infeksi menunjukkan nilai parameter-parameter yaitu: hematokrit, hemoglobin, indeks fagositik, persentase fagositik, titer antibodi, uji respiratory burst (NBT), aktivitas komplemen, dan diferensial leukosit yang berbeda nyata (P<0,05) dibanding kontrol. Vaksin monovalen A. hydrophila menunjukkan nilai RPS sebesar 92,3% dan monovalen M. fortuitum sebesar 78,6% setelah ditantang dengan infeksi tunggal bakteri homolog namun menunjukkan proteksi yang rendah terhadap ko-infeksi. Vaksin koktail 50Mf :50Ah memberikan proteksi yang lebih baik dari vaksin monovalen pasca uji tantang dengan ko-infeksi bakteri M. fortuitum dan A. hydrophila.
TOKSISITAS DAN IMUNOGENISITAS PRODUK EKSTRASELULER Mycobacterium fortuitum PADA IKAN GURAME (Osphronemus gouramy) Siti Fatimah; Agustin Indrawati; Angela Mariana Lusiastuti
Jurnal Riset Akuakultur Vol 10, No 2 (2015): (Juni 2015)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3808.455 KB) | DOI: 10.15578/jra.10.2.2015.231-241

Abstract

Mycobacterium fortuitum merupakan bakteri patogen dengan kejadian penyakit bersifat kronis. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi tingkat toksisitas dan imunogenisitas produk ekstraseluler M. fortuitum pada ikan gurame. Pengujian toksisitas dilakukan pada ikan dengan bobot 15 g yang diinjeksi secara intraperitoneal (i.p) dengan konsentrasi ECP berbeda yaitu 7,15 μg/ikan; 14,3 μg/ikan; 28,6 μg/ikan; 57,2 μg/ikan; sedangkan kontrol dengan menggunakan PBS. Pengujian imunogenisitas dilakukan dengan menggunakan ikan seberat 25-30 g. Ikan dibagi dalam tiga perlakuan yaitu: ECP dengan Freund Incomplete Adjuvant (FIA), ECP, dan kontrol (sauthon broth). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa ECP M. fortuitum hingga konsentrasi 57,2 μg/ikan tidak toksik pada ikan gurame. Sementara, tingkat imunogenisitas menunjukkan bahwa ikan yang diinjeksi dengan ECP ditambah FIA dan ECP saja memiliki respons imun non-spesifik dan spesifik yang lebih tinggi dan berbeda nyata (P<0,05) dibandingkan dengan kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa ECP M. fortuitum bersifat imunogenik pada ikan gurame sehingga berpotensi untuk dikembangkan sebagai vaksin guna penanggulangan mycobacteriosis.
Sintesis antigen AFB1-BSA dan konjugasi antibodi anti AFB1-BSA dengan nanopartikel emas sebagai pereaksi imunostrip Ita Krissanti; Agustin Indrawati; Romsyah Maryam
ARSHI Veterinary Letters Vol. 4 No. 4 (2020): ARSHI Veterinary Letters - November 2020
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.4.4.77-78

Abstract

Aflatoksin B1 (AFB1) often contaminates a great variety of foods and animal feeds that will be dangerous if con-sumed by humans or animals. Rapid detection techniques that can be used in the field is really needed to monitor AFB1 contamination. The aims of this study were to perform synthesis of AFB1-BSA antigen and conjugation of antibody against AFB1-BSA to gold nanoparticle as immunostrip-test reagents. The AFB1-CMO was identified on TLC and AFB1-BSA was characterized using SDS PAGE. The AFB1-CMO formation indicated as a blue spot at 0.45 retention factor (Rf) on TLC and the AFB1-BSA antigen revealed as a single band protein at about 72 kDa molecular weight on the SDS PAGE. Conjugation of antibody against AFB1-BSA to gold nanoparticle resulted in the formation of red-dish purple compound which can be used for the detection of AFB1 on immunostrip. The optimum composition achieved in concentration of AFB1-BSA 1-1.5 mg/ml, IgG anti rabbit 0.1 mg/ml, and antibody against AFB1-BSA-gold nanoparticle conjugate in 0.5x0.5 cm² area characterized by the establishment of two reddish purple lines in the test and control zone.
Lobomikosis pada lumba lumba hidung botol Tursiop aduncus Agustin Indrawati; Lee Xia Meen
ARSHI Veterinary Letters Vol. 4 No. 3 (2020): ARSHI Veterinary Letters - Agustus 2020
Publisher : School of Veterinary Medicine and Biomedical Sciences, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avl.4.3.43-44

Abstract

Lobomikosis merupakan penyakit yang menyerang bagian kulit yang disebabkan oleh Lacazia loboi (yeast-like organism) dari ordo Onygenales. Tulisan ini melaporkan seekor lumba-lumba hidung botol Indo Pasifik Tursiop aduncus jantan berumur 14 tahun yang mengalami kelainan pada kulit berupa nodul-nodul ulseratif menyerupai ringworm pada sirip ekor. Gejala yang ditimbulkan dengan cepat menyebar dan gejala pada permukaan kulit mengalami penggabungan nodul yang menyerupai bunga dan disertai adanya perdarahan. Pemeriksaan laboratorium ditemukan bentukan sel khamir dan bentuk unisel. Pengobatan dilakukan dengan menggunakan antifungal ketoconazole 200 mg (mycoral®) dan ketoconazole cream 2% selama 30 hari. Pengobatan lain yang digunakan adalah antihistamin Homochlorcyclizine HCl 20 mg (Homoclomin®) dan antibiotika Quinolone 500 mg (Ciproxin®) untuk mengobati infeksi sekunder akibat bakteri. Lumba-lumba hidung botol Indo Pasifik dinyatakan sembuh dengan menghilangnya nodul ulseratif dari sirip ekor setelah 30 hari pengobatan
Kelimpahan Fungi Kelas Dothideomycetes Pada Lumba-lumba Hidung Botol (Tursiops aduncus) Kurnia Tiara Aulia; Agustin Indrawati; Safika
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.2.148-156

Abstract

Mamalia laut memainkan peran ekologis penting di lautan, dan menjadi prioritas global karena kepekaan terhadap perubahan lingkungan. Lumba-lumba hidung botol (Tursiops aduncus) merupakan salah satu mamalia laut yang tersebar luas di Indonesia. Informasi mengenai mikrobioma masih sangat sedikit diketahui, terutama informasi mengenai mikrobioma fungi. Penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi kelimpahan fungi kelas Dothideomycetes pada saluran pencernaan khususnya usus lumba-lumba hidung botol (Tursiops aduncus) dengan menggunakan Platform Next Generation Sequencing (NGS). Penelitian ini berhasil mengidentifikasi 6 genera dari 4 ordo yang yang meliputi Neodevriesia, Altenaria, Stemphylium, Phaeophleospora, Diplodia dan Venturia. Kelompok Neodevriesia adalah yang paling mendominasi sebesar 62%, diikuti Alternaria 16% dan Phaeophleospora 14%. Fungi yang tidak teridentifikasi mencapai 5%. Kelimpahan fungi pada usus lumba-lumba hidung botol (Tursiops aduncus) diasumsikan memiliki korelasi dengan lingkungan dan makanan lumba-lumba pada pusat konservasi.
Korelasi Virulen gelE dan Pembentukan Biofilm pada Isolat Enterococcus faecalis yang Diisolasi dari Ayam Pedaging Sucitya Purnama; Agustin Indrawati; I Wayan Teguh Wibawan; Rifky Rizkiantino
Acta VETERINARIA Indonesiana Vol. 10 No. 2 (2022): Juli 2022
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/avi.10.2.157-163

Abstract

Enterococcus faecalis merupakan patogen oportunistik yang membentuk biofilm dengan menghasilkan gen virulen seperti gelE. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi keberadaan gelE dan mengkaji korelasinya terhadap pembentukan biofilm pada isolat E. faecalis asal ayam. Sampel yang digunakan sebanyak 60 sampel arsip usap kloaka ayam. Isolasi dan identifikasi bakteri menggunakan media agar selektif diferensial KF Streptococcus. Konfirmasi molekuler menggunakan gen spesifik Efac untuk bakteri E. faecalis dan gen gelE untuk deteksi gen virulen gelatinase. Uji biofilm menggunakan teknik spektrofotometer pada densitas optik 630 nm. Data dianalisis secara kuantitatif menggunakan uji chi-square dengan nilai P < 0,05 dianggap signifikan secara statistik. Hasil isolasi dan identifikasi bakteri terhadap 60 sampel arsip asal ayam pedaging yang digunakan dalam studi sebanyak 21 isolat positif terkonfirmasi secara molekuler sebagai bakteri E. faecalis dan memiliki gen virulen gelE. Pada uji biofilm terdapat sebanyak 20 isolat (95,23%) positif kuat (OD630 > 0,130) dan 1 (4,76%) positif lemah (0,065 < OD630 ≤ 0,130) dengan nilai P < 0,05 atau memiliki korelasi secara statistik antara keberadaan gen gelE dengan pembentukan biofilm. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa gen virulen gelE telah ditemukan pada 21 isolat E. faecalis dan 95,23% mampu membentuk biofilm dengan intensitas positif kuat.
DETEKSI MOLEKULER DAN KERAGAMAN VIRUS NEWCASTLE DISEASE PADA AYAM KAMPUNG DI WILAYAH ACEH Darniati D; Surachmi Setiyaningsih; Agustin Indrawati
Jurnal Kedokteran Hewan Vol 9, No 2 (2015): September
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.562 KB) | DOI: 10.21157/j.ked.hewan.v9i2.2841

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeteksi keberadaan virus Newcastle disease (VND) dan mengkaji keragaman dari virus terisolasi. Sampel penelitian berupa usapan kloaka dan orofaring dari 177 ekor ayam kampung yang diambil dari unggas pekarangan dan pasar unggas di 12 kecamatan dalam wilayah Kabupaten Aceh Besar dan Kota Banda Aceh. Penapisan virus dilakukan pada sampel pool dengan real-time reverse transcriptation-polymerase chain reaction (rRT-PCR) dengan target gen matriks. Inokulasi 309 sampel representasi 157 ayam asal pool positif matriks pada telur ayam berembrio spesifik pathogen free (SPF) menghasilkan 69 isolat yang berasal dari 51 ekor ayam. Sebagian besar (45,09%)ayam mengeluarkan virus melalui orofaring, 25,39% melalui kloaka dan orofaring, serta 19,61% melalui kloaka. Karakterisasi keragaman isolat dilakukan dengan uji hemagglutination inhibition (HI) menggunakan serum Komarov dan Hitchner B1, rRT-PCR gen fusi dan uji elusi. Adanya keragaman epitop permukaan virus ditunjukkan dengan titer HI yang bervariasi antar isolat, perbedaan mencapai 4 log dengan serum Komarov, dan 3 log dengan B1. Sebagian besar isolat mempunyai afinitas yang lebih tinggi terhadap serum Komarov yang mengindikasikan kecenderungan kepada galur virulen. Penentuan patogenisitas menggunakan rRT-PCR menunjukkan 73,95% isolat termasuk ke dalam galur virulen (mesogenik/velogenik), sementara dari uji elusi menunjukkan 72,46% isolat termasuk galur velogenik, 20,29% mesogenik dan 7,25% dari galur lentogenik.
Co-Authors . Darniati Aditya Primawidyawan Afifah Nurhasanah Afiff , Usamah Agus Sjahrurachman Ambar Retnowati Ambar Retnowati Andre, Daniel Latief ANGELA MARIANA LUSIASTUTI ANGELA MARIANA LUSIASTUTI Angela Mariana Lusiastuti Apris Beniawan Ardiana Ardiana Arum, Diah Sekar Bayu Febram Prasetyo Betty Ernawati Damiana Rita Ekastuti Darniati D, Darniati Denny Widaya Lukman Destri Prameswari, Alvira Diah Nugrahani Pristihadi Diah Sekar Arum Dwi Endrawati Edi Purwanto Elmanaviean Elsharkawy, Sara Eni Kusumaningtyas Erdina Pangestika Erin Kurnianingtyas Fachriyan H Pasaribu Fachriyan Hasmi Pasaribu Fachriyan Hasmi Pasaribu Fachriyan Hasmi Pasaribu Fachriyan Hasmi Pasaribu Fachriyan Hasmi Pasaribu Fadlilah, Ulfi Nurul Fera Ibrabim Guntari Titik Mulyani Hadri Latif Hamdika Yenri Handayani Halik Handina Rakhmawati HELGA SEEGER Hendarko, Sriani Hendry, Altaff Herwin Pisestiyani I Wayan T. Wibawan I wayan Teguh Wibawan Idwan Sudirman Ita Krissanti Jefri Naldi Jeni Maharani Julia Rosmaya Riasari Kuntum Khoirani Kurnia Tiara Aulia Lee Xia Meen Leila Nur Aziah Leila Nur Azizah Lila Gardenia Maharani, Jeni Mangaraja Pidoli Tampubolon Mardiastuti Mardiastuti MICHAEL ZSCHÖCK Mira Mawardi Mirnawati Bachrun Sudarwanto Mirnawati Sudarwanto Muh Ramadhan Nabila Swarna Puspa Hermana Nabila Swarna Puspa Hermana Nabila Swarna Puspa Hermana Nafiqoh, Nunak Naldi, Jefri Nauval Firdana, Chorrysa Navasuriya Radha Krisnan Nazmi Zahir B. Mohd Zaini Ni Luh Putu Ika Mayasari Ni Luh Putu Ika Mayasari Nining Arini Novita, Hessy Nurhasanah, Afifah Nurul Fadillah Nurul fadillah, Nurul Oktaviani, Dian Okti Nadia Poetri Penataseputro, Tanjung Permana, Nadine Hanifa Pratitis S Wibowo Pratitis S Wibowo Rahman, Muhammad Luthfi Rahmat Hidayat Rahmat Hidayat Raihan, Muhammad Ammar Ramadhaniah, Vetty Reinilda Alwina Retno D. Soejoedono Retno Damajanti Retno Damayanti Soejoedono Rifky Danial Rifky Rizkiantino Risqika Aqla Velayati Romsyah Maryam Rudramurti, Win Satya Rukmi, M.G. Isworo Ryan Septa Kurnia Safika S, Safika Sapto Andriyono Sartika Juwita Seruni Agistiana Setiadi Setiadi Siti Fatimah Siti Gusti Ningrum, Siti Gusti Siti Nur Jannah Sucitya Purnama Suhartila Suhartila Suherman . Surachmi Setiyaningsih Susan M Noor Susan M Noor Susanti, Wiwik Susanto Nugroho Syahidah, Dewi Teguh Budipitojo Titiek Sunartatie Titis Wulandari Tri Wiyoko Trioso Purnawarman Triwardhani Cahyaningsih Ulfi Nurul Fadlilah Uni Purwaningsih Uni Purwaningsih Upik Kesumawati Hadi Usama Affif Usamah Afif Utami, Dian Maulia Uus Saepuloh Velayati, Risqika Aqla Wattiheluw, Muhammad Subhan Yan Evan Yan, Teo Qin Yenri, Hamdika Yuda Heru Fibrianto